14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Dian Suryantini by Dian Suryantini
October 5, 2025
in Kuliner
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Hidangan ketongkol di Festival ke Uma, di Desa Marga Dauh Puri, Marga, Tabanan | Foto: Dian

SEJAK pukul 16.00 wita, anak-anak di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, telah berkumpul di sawah. Mereka sedang menanti permainan Megandu yang akan dilakukan dalam kegiatan Festival ka Uma. Dengan riang mereka berlarian, berkejaran tanpa khawatir tersandung maupun tersungkur di tengah sawah. Mereka begitu lihai menjejakkan kaki diantara Jerami-jerami sisa panen petani. Mereka menggulung Jerami, mengikatnya, lalu dilempar ke teman lainnya. Tawa renyah membuat sawah setelah dipanen serasa memiliki nyawa. Tidak lagi sunyi dan kosong.

Di sebuah sudut acara Festival ke Uma, saya menemukan makanan yang namanya terdengar unik di telinga. Ketongkol. Nama itu baru pertama kali saya dengar, dan berulang kali saya salah mengucap nama. Kedongkol. Sekilas, bentuknya sederhana. Sebuah bungkusan segitiga dari daun pisang.

“Ini ketongkol, Dik. Biasanya dibuat waktu Galungan dan Nyepi atau pas ada upacara,” kata ibu penjual sambil menata bungkusan ketongkol di atas piring. Ia tersenyum ramah, lalu menambahkan, “Kalau di Pupuan namanya entil, tapi di sini beda bungkusnya.”

Perbandingan itu membuat saya langsung teringat pada entil dari Pupuan dan pesor dari Buleleng — dua makanan serupa yang sering hadir dalam upacara adat. Bedanya, ketongkol menggunakan daun pisang sebagai pembungkus, sementara entil dan pesor memakai daun bambu. Bentuknya pun berbeda. Ketongkol cenderung lebih padat dan segitiga memanjang, sementara entil dan pesor lebih pipih serta tipis.

Namun, dari segi bahan dasar, ketiganya bersaudara dekat. Sama-sama terbuat dari beras yang direbus lama hingga padat dan kenyal. Untuk ketongkol, proses memasaknya bahkan bisa mencapai lima jam. Daun pisang yang membungkusnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung, tapi juga memberi aroma khas yang menyatu dalam nasi ketika matang.

Satu porsi ketongkol di Marga, Tabanan | Foto: Dian

Bagi warga Marga, membuat ketongkol bukan perkara sekejap. Setelah beras dicuci bersih, butiran itu dimasukkan ke dalam bungkus daun pisang yang dilipat segitiga dan diikat kuat. Setelah itu, ketongkol direbus berjam-jam dalam air mendidih hingga teksturnya padat dan tidak mudah hancur.

Setelah matang, bungkusan daun pisang berubah warna menjadi kecokelatan. Saat dibuka, nasi di dalamnya mengilat lembut dan menebar wangi daun pisang yang menggoda. Tapi perjalanan rasa ketongkol tidak berhenti di situ.

Ketongkol baru “hidup” saat ia bertemu dengan teman-temannya di piring. Sayur toge, kacang merah goreng, saur Gerang atau ikan teri yang dicamour serundeng kelapa, kuah berbumbu, dan sambal. Kombinasi itu menciptakan harmoni rasa — gurih, pedas, manis, dan segar — yang melebur di lidah dalam sekali suap.

Satu suap pertama menghadirkan sensasi yang familiar — seperti makan lontong atau entil — tapi tekstur ketongkol lebih kenyal dan padat. Saur yang gurih dan ayam suir yang lembut menambah lapisan rasa yang kaya. Kuahnya hangat, sedikit pedas. Begitu masuk mulut, beeeeuuuhhhh, lezatnya tak tertolong.

Menikmati ketongkol di tengah sawah ternyata memberikan pengalaman tersendiri. Angin bertiup pelan, menebarkan aroma tanah basah dan jerami. Anak-anak berlarian sambil bermain Megandu, permainan tradisional dari jerami kering. Suara tawa mereka berpadu dengan irama jangkrik yang sesekali terdengar di sisi timur sawah.

Semua itu menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan. Sederhana, tapi hangat dan penuh tawa.

Menikmati ketongkol di tengah sawah sambil melihat anak-anak bermain pada Festival ke Uma | Foto: Dian

Harga satu porsi ketongkol di festival itu hanya Rp7.000. Bagi masyarakat Marga, ketongkol bukan sekadar santapan. Makanan itu adalah bagian dari ritual dan kebersamaan. Biasanya, ketongkol dibuat saat hari raya Nyepi dan Galungan atau ketika ada hajatan di rumah warga — entah itu potong gigi, pernikahan, atau upacara adat lainnya.

Meski berkembang di Desa Marga, ketongkol pun tidak selalu ada di desa ini. Tapi beruntung, lewat kegiatan seperti Festival ke Uma, kuliner tradisional ini bisa saya nikmati. Bahkan berkenalan langsung antara rasa dan lidah saya yang cenderung pemilih.

Ketika banyak makanan modern datang dengan kemasan dan nama asing, ketongkol justru tampil sederhana. Tidak ada tambahan pengawet, tidak ada saus instan, hanya beras, daun pisang, dan cinta dari dapur.

Ketongkol dengan pembungkus daun pisang sebelum dibuka | Foto: Dian

Mungkin itulah sebabnya saya tanpa sadar menghabiskan dua porsi sekaligus. Entah karena lapar, atau karena rasanya begitu akrab di lidah. Makan ketongkol seolah saya sedang pulang ke masa kecil di rumah nenek. Makan pesor.

Ternyata untuk mendapatkan rasa lezat dan megledet nganti ke polo, tidak harus mewah. Ketongkol buktinya.

Ketongkol mungkin hanya segitiga kecil dari beras rebus, tapi di tangan masyarakat Marga, makanan ini berubah menjadi simbol cinta pada tanah dan tradisi. Dan bagi siapa pun yang sempat mencicipinya — apalagi sambil duduk di pematang sawah, diiringi tawa anak-anak bermain Megandu — ketongkol akan selalu meninggalkan kesan lezat, jujur, dan membumi. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Marga Dauh PuriFestival ke Umakulinerkuliner tabanankuliner tradisionaltabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengakrabi Bali via Jalanan

Next Post

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  — Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  -- Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co