23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Dian Suryantini by Dian Suryantini
October 5, 2025
in Kuliner
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Hidangan ketongkol di Festival ke Uma, di Desa Marga Dauh Puri, Marga, Tabanan | Foto: Dian

SEJAK pukul 16.00 wita, anak-anak di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, telah berkumpul di sawah. Mereka sedang menanti permainan Megandu yang akan dilakukan dalam kegiatan Festival ka Uma. Dengan riang mereka berlarian, berkejaran tanpa khawatir tersandung maupun tersungkur di tengah sawah. Mereka begitu lihai menjejakkan kaki diantara Jerami-jerami sisa panen petani. Mereka menggulung Jerami, mengikatnya, lalu dilempar ke teman lainnya. Tawa renyah membuat sawah setelah dipanen serasa memiliki nyawa. Tidak lagi sunyi dan kosong.

Di sebuah sudut acara Festival ke Uma, saya menemukan makanan yang namanya terdengar unik di telinga. Ketongkol. Nama itu baru pertama kali saya dengar, dan berulang kali saya salah mengucap nama. Kedongkol. Sekilas, bentuknya sederhana. Sebuah bungkusan segitiga dari daun pisang.

“Ini ketongkol, Dik. Biasanya dibuat waktu Galungan dan Nyepi atau pas ada upacara,” kata ibu penjual sambil menata bungkusan ketongkol di atas piring. Ia tersenyum ramah, lalu menambahkan, “Kalau di Pupuan namanya entil, tapi di sini beda bungkusnya.”

Perbandingan itu membuat saya langsung teringat pada entil dari Pupuan dan pesor dari Buleleng — dua makanan serupa yang sering hadir dalam upacara adat. Bedanya, ketongkol menggunakan daun pisang sebagai pembungkus, sementara entil dan pesor memakai daun bambu. Bentuknya pun berbeda. Ketongkol cenderung lebih padat dan segitiga memanjang, sementara entil dan pesor lebih pipih serta tipis.

Namun, dari segi bahan dasar, ketiganya bersaudara dekat. Sama-sama terbuat dari beras yang direbus lama hingga padat dan kenyal. Untuk ketongkol, proses memasaknya bahkan bisa mencapai lima jam. Daun pisang yang membungkusnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung, tapi juga memberi aroma khas yang menyatu dalam nasi ketika matang.

Satu porsi ketongkol di Marga, Tabanan | Foto: Dian

Bagi warga Marga, membuat ketongkol bukan perkara sekejap. Setelah beras dicuci bersih, butiran itu dimasukkan ke dalam bungkus daun pisang yang dilipat segitiga dan diikat kuat. Setelah itu, ketongkol direbus berjam-jam dalam air mendidih hingga teksturnya padat dan tidak mudah hancur.

Setelah matang, bungkusan daun pisang berubah warna menjadi kecokelatan. Saat dibuka, nasi di dalamnya mengilat lembut dan menebar wangi daun pisang yang menggoda. Tapi perjalanan rasa ketongkol tidak berhenti di situ.

Ketongkol baru “hidup” saat ia bertemu dengan teman-temannya di piring. Sayur toge, kacang merah goreng, saur Gerang atau ikan teri yang dicamour serundeng kelapa, kuah berbumbu, dan sambal. Kombinasi itu menciptakan harmoni rasa — gurih, pedas, manis, dan segar — yang melebur di lidah dalam sekali suap.

Satu suap pertama menghadirkan sensasi yang familiar — seperti makan lontong atau entil — tapi tekstur ketongkol lebih kenyal dan padat. Saur yang gurih dan ayam suir yang lembut menambah lapisan rasa yang kaya. Kuahnya hangat, sedikit pedas. Begitu masuk mulut, beeeeuuuhhhh, lezatnya tak tertolong.

Menikmati ketongkol di tengah sawah ternyata memberikan pengalaman tersendiri. Angin bertiup pelan, menebarkan aroma tanah basah dan jerami. Anak-anak berlarian sambil bermain Megandu, permainan tradisional dari jerami kering. Suara tawa mereka berpadu dengan irama jangkrik yang sesekali terdengar di sisi timur sawah.

Semua itu menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan. Sederhana, tapi hangat dan penuh tawa.

Menikmati ketongkol di tengah sawah sambil melihat anak-anak bermain pada Festival ke Uma | Foto: Dian

Harga satu porsi ketongkol di festival itu hanya Rp7.000. Bagi masyarakat Marga, ketongkol bukan sekadar santapan. Makanan itu adalah bagian dari ritual dan kebersamaan. Biasanya, ketongkol dibuat saat hari raya Nyepi dan Galungan atau ketika ada hajatan di rumah warga — entah itu potong gigi, pernikahan, atau upacara adat lainnya.

Meski berkembang di Desa Marga, ketongkol pun tidak selalu ada di desa ini. Tapi beruntung, lewat kegiatan seperti Festival ke Uma, kuliner tradisional ini bisa saya nikmati. Bahkan berkenalan langsung antara rasa dan lidah saya yang cenderung pemilih.

Ketika banyak makanan modern datang dengan kemasan dan nama asing, ketongkol justru tampil sederhana. Tidak ada tambahan pengawet, tidak ada saus instan, hanya beras, daun pisang, dan cinta dari dapur.

Ketongkol dengan pembungkus daun pisang sebelum dibuka | Foto: Dian

Mungkin itulah sebabnya saya tanpa sadar menghabiskan dua porsi sekaligus. Entah karena lapar, atau karena rasanya begitu akrab di lidah. Makan ketongkol seolah saya sedang pulang ke masa kecil di rumah nenek. Makan pesor.

Ternyata untuk mendapatkan rasa lezat dan megledet nganti ke polo, tidak harus mewah. Ketongkol buktinya.

Ketongkol mungkin hanya segitiga kecil dari beras rebus, tapi di tangan masyarakat Marga, makanan ini berubah menjadi simbol cinta pada tanah dan tradisi. Dan bagi siapa pun yang sempat mencicipinya — apalagi sambil duduk di pematang sawah, diiringi tawa anak-anak bermain Megandu — ketongkol akan selalu meninggalkan kesan lezat, jujur, dan membumi. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Marga Dauh PuriFestival ke Umakulinerkuliner tabanankuliner tradisionaltabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengakrabi Bali via Jalanan

Next Post

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  — Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  -- Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co