2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Dian Suryantini by Dian Suryantini
October 5, 2025
in Kuliner
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Hidangan ketongkol di Festival ke Uma, di Desa Marga Dauh Puri, Marga, Tabanan | Foto: Dian

SEJAK pukul 16.00 wita, anak-anak di Desa Marga Dauh Puri, Kecamatan Marga, Tabanan, telah berkumpul di sawah. Mereka sedang menanti permainan Megandu yang akan dilakukan dalam kegiatan Festival ka Uma. Dengan riang mereka berlarian, berkejaran tanpa khawatir tersandung maupun tersungkur di tengah sawah. Mereka begitu lihai menjejakkan kaki diantara Jerami-jerami sisa panen petani. Mereka menggulung Jerami, mengikatnya, lalu dilempar ke teman lainnya. Tawa renyah membuat sawah setelah dipanen serasa memiliki nyawa. Tidak lagi sunyi dan kosong.

Di sebuah sudut acara Festival ke Uma, saya menemukan makanan yang namanya terdengar unik di telinga. Ketongkol. Nama itu baru pertama kali saya dengar, dan berulang kali saya salah mengucap nama. Kedongkol. Sekilas, bentuknya sederhana. Sebuah bungkusan segitiga dari daun pisang.

“Ini ketongkol, Dik. Biasanya dibuat waktu Galungan dan Nyepi atau pas ada upacara,” kata ibu penjual sambil menata bungkusan ketongkol di atas piring. Ia tersenyum ramah, lalu menambahkan, “Kalau di Pupuan namanya entil, tapi di sini beda bungkusnya.”

Perbandingan itu membuat saya langsung teringat pada entil dari Pupuan dan pesor dari Buleleng — dua makanan serupa yang sering hadir dalam upacara adat. Bedanya, ketongkol menggunakan daun pisang sebagai pembungkus, sementara entil dan pesor memakai daun bambu. Bentuknya pun berbeda. Ketongkol cenderung lebih padat dan segitiga memanjang, sementara entil dan pesor lebih pipih serta tipis.

Namun, dari segi bahan dasar, ketiganya bersaudara dekat. Sama-sama terbuat dari beras yang direbus lama hingga padat dan kenyal. Untuk ketongkol, proses memasaknya bahkan bisa mencapai lima jam. Daun pisang yang membungkusnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung, tapi juga memberi aroma khas yang menyatu dalam nasi ketika matang.

Satu porsi ketongkol di Marga, Tabanan | Foto: Dian

Bagi warga Marga, membuat ketongkol bukan perkara sekejap. Setelah beras dicuci bersih, butiran itu dimasukkan ke dalam bungkus daun pisang yang dilipat segitiga dan diikat kuat. Setelah itu, ketongkol direbus berjam-jam dalam air mendidih hingga teksturnya padat dan tidak mudah hancur.

Setelah matang, bungkusan daun pisang berubah warna menjadi kecokelatan. Saat dibuka, nasi di dalamnya mengilat lembut dan menebar wangi daun pisang yang menggoda. Tapi perjalanan rasa ketongkol tidak berhenti di situ.

Ketongkol baru “hidup” saat ia bertemu dengan teman-temannya di piring. Sayur toge, kacang merah goreng, saur Gerang atau ikan teri yang dicamour serundeng kelapa, kuah berbumbu, dan sambal. Kombinasi itu menciptakan harmoni rasa — gurih, pedas, manis, dan segar — yang melebur di lidah dalam sekali suap.

Satu suap pertama menghadirkan sensasi yang familiar — seperti makan lontong atau entil — tapi tekstur ketongkol lebih kenyal dan padat. Saur yang gurih dan ayam suir yang lembut menambah lapisan rasa yang kaya. Kuahnya hangat, sedikit pedas. Begitu masuk mulut, beeeeuuuhhhh, lezatnya tak tertolong.

Menikmati ketongkol di tengah sawah ternyata memberikan pengalaman tersendiri. Angin bertiup pelan, menebarkan aroma tanah basah dan jerami. Anak-anak berlarian sambil bermain Megandu, permainan tradisional dari jerami kering. Suara tawa mereka berpadu dengan irama jangkrik yang sesekali terdengar di sisi timur sawah.

Semua itu menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan. Sederhana, tapi hangat dan penuh tawa.

Menikmati ketongkol di tengah sawah sambil melihat anak-anak bermain pada Festival ke Uma | Foto: Dian

Harga satu porsi ketongkol di festival itu hanya Rp7.000. Bagi masyarakat Marga, ketongkol bukan sekadar santapan. Makanan itu adalah bagian dari ritual dan kebersamaan. Biasanya, ketongkol dibuat saat hari raya Nyepi dan Galungan atau ketika ada hajatan di rumah warga — entah itu potong gigi, pernikahan, atau upacara adat lainnya.

Meski berkembang di Desa Marga, ketongkol pun tidak selalu ada di desa ini. Tapi beruntung, lewat kegiatan seperti Festival ke Uma, kuliner tradisional ini bisa saya nikmati. Bahkan berkenalan langsung antara rasa dan lidah saya yang cenderung pemilih.

Ketika banyak makanan modern datang dengan kemasan dan nama asing, ketongkol justru tampil sederhana. Tidak ada tambahan pengawet, tidak ada saus instan, hanya beras, daun pisang, dan cinta dari dapur.

Ketongkol dengan pembungkus daun pisang sebelum dibuka | Foto: Dian

Mungkin itulah sebabnya saya tanpa sadar menghabiskan dua porsi sekaligus. Entah karena lapar, atau karena rasanya begitu akrab di lidah. Makan ketongkol seolah saya sedang pulang ke masa kecil di rumah nenek. Makan pesor.

Ternyata untuk mendapatkan rasa lezat dan megledet nganti ke polo, tidak harus mewah. Ketongkol buktinya.

Ketongkol mungkin hanya segitiga kecil dari beras rebus, tapi di tangan masyarakat Marga, makanan ini berubah menjadi simbol cinta pada tanah dan tradisi. Dan bagi siapa pun yang sempat mencicipinya — apalagi sambil duduk di pematang sawah, diiringi tawa anak-anak bermain Megandu — ketongkol akan selalu meninggalkan kesan lezat, jujur, dan membumi. [T]

Penulis: Dian Suryantini
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Marga Dauh PuriFestival ke Umakulinerkuliner tabanankuliner tradisionaltabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengakrabi Bali via Jalanan

Next Post

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  — Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  -- Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co