14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  — Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Isran Kamal by Isran Kamal
October 5, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah belakangan ini memicu perdebatan di ruang publik. Di satu sisi, MBG dianggap sebagai langkah positif untuk membantu anak-anak, khususnya dari keluarga kurang mampu, agar tetap mendapat asupan gizi di sekolah.

Namun di sisi lain, muncul berbagai kontroversi. Mulai dari dugaan adanya “dapur fiktif” yang berpotensi membuka celah korupsi, isu mutu makanan yang kurang layak, hingga kasus keracunan. Alhasil, publik tidak hanya memperdebatkan manfaat program ini, tetapi juga menaruh curiga pada tata kelola dan kualitas pelaksanaannya.

Namun di balik pro dan kontra tersebut, ada aspek lain yang tak kalah penting untuk dibahas, yakni bagaimana program MBG memengaruhi kondisi psikologis anak dan orang tua. Bagi sebagian anak, makanan gratis bisa menjadi bentuk dukungan yang meningkatkan rasa aman dan inklusi di sekolah.

Tetapi bagi yang lain, program ini justru bisa menimbulkan perasaan canggung, malu, atau bahkan gelisah karena stigma sosial maupun pengalaman buruk terkait mutu makanan. Bagi orang tua pun, MBG bisa membawa rasa lega sekaligus khawatir. Dengan demikian, isu MBG tidak hanya persoalan gizi dan kebijakan, melainkan juga menyentuh dimensi psikologis yang akan kita telaah lebih jauh.

Psikologis Anak: Nutrisi, Kesehatan Mental dan Performa Akademik

Pertama, kita perlu mengingat bahwa asupan makanan memiliki kaitan erat dengan kondisi psikologis anak. Nutrisi yang baik tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh pada mood, konsentrasi, dan energi. Anak yang mendapat makanan bergizi cenderung lebih fokus belajar, lebih stabil emosinya, dan memiliki performa akademik yang lebih baik. Sebaliknya, makanan dengan kualitas buruk, baik dari segi kandungan maupun kebersihan, bisa menurunkan energi, memicu rasa kantuk, atau bahkan menimbulkan masalah kesehatan yang berimbas pada absensi dan pencapaian akademik.

Kedua, kontroversi MBG juga berpotensi menimbulkan beban psikologis pada anak. Ketika makanan yang mereka terima sering diragukan kualitasnya, misalnya rasanya tidak enak, penyajian kurang higienis, atau bahkan menimbulkan kasus keracunan, anak akan merasa kecewa dan enggan menyantapnya.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga menciptakan perasaan tidak aman dan menurunkan antusiasme mereka terhadap program sekolah. Dalam jangka panjang, pengalaman negatif semacam ini bisa mengikis kepercayaan anak terhadap lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan mendukung pertumbuhan mereka.

Ketiga, dampak jangka panjang dari kondisi ini tidak bisa diremehkan. Anak-anak yang sering merasa tidak aman atau cemas akibat kualitas makanan yang diragukan dapat kehilangan sense of safety di lingkungan belajar. Hal ini bukan hanya memengaruhi motivasi mereka untuk belajar, tetapi juga membentuk persepsi negatif terhadap kebijakan publik sejak dini. Pada akhirnya, program yang semestinya mendukung tumbuh kembang justru berisiko melahirkan generasi yang skeptis, apatis, atau kurang percaya pada institusi.

Psikologis Orang Tua: Trust, Kecemasan, dan  Proteksi Anak

Jika pada level anak program MBG menimbulkan kekecewaan dan rasa tidak aman, maka dampak psikologis yang lebih luas justru terasa pada orang tua. Bagi banyak orang tua, isu makanan bukan sekadar soal gizi, tetapi menyangkut proteksi terhadap anak. Mereka ingin memastikan buah hati mereka mendapatkan asupan yang layak dan aman. Karena itu, setiap kali muncul berita tentang keracunan, makanan basi, atau dugaan penyimpangan distribusi, reaksi yang muncul hampir selalu keras.

Kondisi ini memicu apa yang bisa disebut parental anxiety, suatu kecemasan yang berlapis, mulai dari rasa takut anak sakit, kecurigaan terhadap kualitas penyelenggaraan, hingga kemarahan pada lembaga yang dianggap lalai. Dalam psikologi perkembangan, rasa cemas orang tua ini seringkali lebih besar daripada risiko objektifnya, karena keterlibatan emosional membuat mereka lebih sensitif terhadap potensi ancaman.

Lebih jauh, posisi orang tua sebagai gatekeeper nutrisi anak membuat kepercayaan (trust) menjadi kunci utama. Bila kepercayaan itu retak, konsekuensinya bukan hanya penolakan terhadap program MBG, tetapi juga resistensi terhadap kebijakan pendidikan secara lebih luas. Pada titik ini, krisis kepercayaan tidak hanya mengganggu implementasi program, tetapi juga memperlemah hubungan antara sekolah, pemerintah, dan keluarga yang merupakan tiga pilar penting dalam ekosistem pendidikan.

Ketika tiga pilar ini tidak lagi berjalan seirama, masalah psikologis yang tadinya bersifat individual atau keluarga bisa berkembang menjadi persoalan kolektif. Rasa tidak percaya menyebar, rumor mudah tumbuh, dan legitimasi kebijakan pun ikut tergerus. Inilah titik di mana persoalan psikologi anak dan orang tua bereskalasi menjadi tantangan psikologis masyarakat luas.

Dampak Psikologis Kolektif: Trust dan  Legitimasi Kebijakan

Ketika anak dan orang tua kehilangan rasa percaya, program secanggih apa pun akan sulit mencapai tujuannya. Trust di sini bukan hanya soal “percaya makanannya aman,” tetapi juga menyangkut legitimasi kebijakan itu sendiri. Jika fondasi kepercayaan rapuh, semua klaim teknis atau jaminan administratif bisa terdengar hambar di telinga publik.

Krisis kepercayaan semacam ini seringkali bereskalasi menjadi gejala psikologis kolektif. Kegelisahan individu berubah menjadi keresahan massal, yang memunculkan resistensi dalam berbagai bentuk seperti, sikap acuh, protes, hingga aksi nyata seperti penolakan atau boikot. Bahkan, rumor kecil atau berita negatif yang tersebar di media sosial bisa mempercepat runtuhnya legitimasi program karena masyarakat sudah berada dalam kondisi waspada dan curiga. Hal ini terlihat dari beberapa waktu lalu melalui munculnya aksi demo dengan membawa panci sebagai simbol protes terhadap maraknya kasus keracunan dari program MBG.

Dalam kondisi seperti itu, dampak psikologis tidak hanya mengenai anak dan orang tua, tetapi juga mencakup persepsi masyarakat luas terhadap negara. Program yang seharusnya menjadi solusi justru bisa dipersepsikan sebagai ancaman. Inilah mengapa dimensi psikologis perlu dipandang sama pentingnya dengan aspek gizi atau logistik. Jika tidak, kebijakan sebesar apa pun berisiko gagal di level implementasi karena kehilangan landasan kepercayaan publik. Dari sinilah kebutuhan akan policy shift menjadi jelas bahwa MBG tidak cukup hanya dijalankan, tetapi harus dikelola dengan dan mempertimbangkan juga faktor psikologis.

Saran Kebijakan dari Perspektif Psikologi

Pertama, transparansi harus menjadi pilar utama. Program MBG tidak cukup hanya diumumkan melalui sosialisasi sepihak, tetapi perlu komunikasi publik yang edukatif. Artinya, masyarakat harus diberi pengetahuan yang jelas mengenai bagaimana makanan diproduksi, siapa yang mengawasi kualitasnya, serta bagaimana mekanisme pengaduan jika terjadi masalah. Transparansi seperti ini dapat menurunkan kecemasan kolektif sekaligus membangun trust yang lebih kokoh.

Kedua, keterlibatan orang tua dan psikolog anak harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan pelengkap. Orang tua berperan sebagai gatekeeper nutrisi anak, sehingga keterlibatan mereka dalam perencanaan MBG akan memperkuat rasa memiliki sekaligus mengurangi resistensi. Sementara itu, psikolog anak dan psikolog pendidikan dapat memberikan masukan mengenai bagaimana program ini berdampak pada well-being, motivasi belajar, hingga kepercayaan diri anak. Tanpa suara dari pihak-pihak ini, kebijakan rawan berjalan hanya dari perspektif administratif.

Ketiga, indikator keberhasilan MBG tidak boleh semata diukur dari jumlah anak yang “kenyang,” tetapi harus mencakup dimensi kesehatan fisik dan psikologis. Anak-anak harus merasa aman, nyaman, dan dihargai dalam proses menerima makanan. Aspek ini sering kali diabaikan, padahal faktor psikologis dapat memengaruhi penerimaan, motivasi belajar, bahkan relasi anak dengan institusi sekolah.

Terakhir, monitoring harus berbasis umpan balik yang komprehensif. Selain indikator gizi, pemerintah perlu mengumpulkan data psikososial melalui survei atau forum partisipatif. Dengan demikian, MBG bisa lebih adaptif terhadap dinamika yang muncul di lapangan. Untuk menjamin hal ini, dibutuhkan kerja sama lintas disiplin: ahli gizi, chef, dokter anak, pakar kesehatan masyarakat, dan yang tak kalah penting, psikolog perkembangan. Hanya dengan kolaborasi multidisipliner, MBG dapat benar-benar menjadi program yang utuh dan berkelanjutan.

MBG sejatinya dirancang sebagai program untuk meningkatkan kualitas anak bangsa. Namun, ketika dijalankan tanpa memperhatikan aspek psikologis, program ini justru berpotensi menambah kecemasan publik. Anak-anak tidak seharusnya tumbuh dengan rasa was-was terhadap makanan yang seharusnya menyehatkan mereka, dan orang tua tidak seharusnya kehilangan kepercayaan pada institusi yang mestinya melindungi generasi muda.

Karena itu, mari kita melihat MBG bukan sekadar proyek logistik, melainkan juga kebijakan manusiawi yang harus dikelola dengan sensitivitas psikologis. Jika pemerintah berani membuka ruang dialog, melibatkan ahli lintas disiplin, dan menempatkan kesejahteraan anak sebagai prioritas utama, maka MBG bisa berubah dari sumber kegelisahan menjadi sumber harapan. Refleksi ini penting bukan hanya untuk MBG, tetapi juga sebagai pelajaran bahwa setiap kebijakan publik pada akhirnya diuji bukan di atas kertas, melainkan di dalam pikiran, hati, dan pengalaman masyarakat yang merasakannya. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakMakan Bergizi Gratismakanan bergiziorang tuaPsikologipsikologi anakpsikologi orang tua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Next Post

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co