3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  — Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Isran Kamal by Isran Kamal
October 5, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah belakangan ini memicu perdebatan di ruang publik. Di satu sisi, MBG dianggap sebagai langkah positif untuk membantu anak-anak, khususnya dari keluarga kurang mampu, agar tetap mendapat asupan gizi di sekolah.

Namun di sisi lain, muncul berbagai kontroversi. Mulai dari dugaan adanya “dapur fiktif” yang berpotensi membuka celah korupsi, isu mutu makanan yang kurang layak, hingga kasus keracunan. Alhasil, publik tidak hanya memperdebatkan manfaat program ini, tetapi juga menaruh curiga pada tata kelola dan kualitas pelaksanaannya.

Namun di balik pro dan kontra tersebut, ada aspek lain yang tak kalah penting untuk dibahas, yakni bagaimana program MBG memengaruhi kondisi psikologis anak dan orang tua. Bagi sebagian anak, makanan gratis bisa menjadi bentuk dukungan yang meningkatkan rasa aman dan inklusi di sekolah.

Tetapi bagi yang lain, program ini justru bisa menimbulkan perasaan canggung, malu, atau bahkan gelisah karena stigma sosial maupun pengalaman buruk terkait mutu makanan. Bagi orang tua pun, MBG bisa membawa rasa lega sekaligus khawatir. Dengan demikian, isu MBG tidak hanya persoalan gizi dan kebijakan, melainkan juga menyentuh dimensi psikologis yang akan kita telaah lebih jauh.

Psikologis Anak: Nutrisi, Kesehatan Mental dan Performa Akademik

Pertama, kita perlu mengingat bahwa asupan makanan memiliki kaitan erat dengan kondisi psikologis anak. Nutrisi yang baik tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh pada mood, konsentrasi, dan energi. Anak yang mendapat makanan bergizi cenderung lebih fokus belajar, lebih stabil emosinya, dan memiliki performa akademik yang lebih baik. Sebaliknya, makanan dengan kualitas buruk, baik dari segi kandungan maupun kebersihan, bisa menurunkan energi, memicu rasa kantuk, atau bahkan menimbulkan masalah kesehatan yang berimbas pada absensi dan pencapaian akademik.

Kedua, kontroversi MBG juga berpotensi menimbulkan beban psikologis pada anak. Ketika makanan yang mereka terima sering diragukan kualitasnya, misalnya rasanya tidak enak, penyajian kurang higienis, atau bahkan menimbulkan kasus keracunan, anak akan merasa kecewa dan enggan menyantapnya.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga menciptakan perasaan tidak aman dan menurunkan antusiasme mereka terhadap program sekolah. Dalam jangka panjang, pengalaman negatif semacam ini bisa mengikis kepercayaan anak terhadap lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan mendukung pertumbuhan mereka.

Ketiga, dampak jangka panjang dari kondisi ini tidak bisa diremehkan. Anak-anak yang sering merasa tidak aman atau cemas akibat kualitas makanan yang diragukan dapat kehilangan sense of safety di lingkungan belajar. Hal ini bukan hanya memengaruhi motivasi mereka untuk belajar, tetapi juga membentuk persepsi negatif terhadap kebijakan publik sejak dini. Pada akhirnya, program yang semestinya mendukung tumbuh kembang justru berisiko melahirkan generasi yang skeptis, apatis, atau kurang percaya pada institusi.

Psikologis Orang Tua: Trust, Kecemasan, dan  Proteksi Anak

Jika pada level anak program MBG menimbulkan kekecewaan dan rasa tidak aman, maka dampak psikologis yang lebih luas justru terasa pada orang tua. Bagi banyak orang tua, isu makanan bukan sekadar soal gizi, tetapi menyangkut proteksi terhadap anak. Mereka ingin memastikan buah hati mereka mendapatkan asupan yang layak dan aman. Karena itu, setiap kali muncul berita tentang keracunan, makanan basi, atau dugaan penyimpangan distribusi, reaksi yang muncul hampir selalu keras.

Kondisi ini memicu apa yang bisa disebut parental anxiety, suatu kecemasan yang berlapis, mulai dari rasa takut anak sakit, kecurigaan terhadap kualitas penyelenggaraan, hingga kemarahan pada lembaga yang dianggap lalai. Dalam psikologi perkembangan, rasa cemas orang tua ini seringkali lebih besar daripada risiko objektifnya, karena keterlibatan emosional membuat mereka lebih sensitif terhadap potensi ancaman.

Lebih jauh, posisi orang tua sebagai gatekeeper nutrisi anak membuat kepercayaan (trust) menjadi kunci utama. Bila kepercayaan itu retak, konsekuensinya bukan hanya penolakan terhadap program MBG, tetapi juga resistensi terhadap kebijakan pendidikan secara lebih luas. Pada titik ini, krisis kepercayaan tidak hanya mengganggu implementasi program, tetapi juga memperlemah hubungan antara sekolah, pemerintah, dan keluarga yang merupakan tiga pilar penting dalam ekosistem pendidikan.

Ketika tiga pilar ini tidak lagi berjalan seirama, masalah psikologis yang tadinya bersifat individual atau keluarga bisa berkembang menjadi persoalan kolektif. Rasa tidak percaya menyebar, rumor mudah tumbuh, dan legitimasi kebijakan pun ikut tergerus. Inilah titik di mana persoalan psikologi anak dan orang tua bereskalasi menjadi tantangan psikologis masyarakat luas.

Dampak Psikologis Kolektif: Trust dan  Legitimasi Kebijakan

Ketika anak dan orang tua kehilangan rasa percaya, program secanggih apa pun akan sulit mencapai tujuannya. Trust di sini bukan hanya soal “percaya makanannya aman,” tetapi juga menyangkut legitimasi kebijakan itu sendiri. Jika fondasi kepercayaan rapuh, semua klaim teknis atau jaminan administratif bisa terdengar hambar di telinga publik.

Krisis kepercayaan semacam ini seringkali bereskalasi menjadi gejala psikologis kolektif. Kegelisahan individu berubah menjadi keresahan massal, yang memunculkan resistensi dalam berbagai bentuk seperti, sikap acuh, protes, hingga aksi nyata seperti penolakan atau boikot. Bahkan, rumor kecil atau berita negatif yang tersebar di media sosial bisa mempercepat runtuhnya legitimasi program karena masyarakat sudah berada dalam kondisi waspada dan curiga. Hal ini terlihat dari beberapa waktu lalu melalui munculnya aksi demo dengan membawa panci sebagai simbol protes terhadap maraknya kasus keracunan dari program MBG.

Dalam kondisi seperti itu, dampak psikologis tidak hanya mengenai anak dan orang tua, tetapi juga mencakup persepsi masyarakat luas terhadap negara. Program yang seharusnya menjadi solusi justru bisa dipersepsikan sebagai ancaman. Inilah mengapa dimensi psikologis perlu dipandang sama pentingnya dengan aspek gizi atau logistik. Jika tidak, kebijakan sebesar apa pun berisiko gagal di level implementasi karena kehilangan landasan kepercayaan publik. Dari sinilah kebutuhan akan policy shift menjadi jelas bahwa MBG tidak cukup hanya dijalankan, tetapi harus dikelola dengan dan mempertimbangkan juga faktor psikologis.

Saran Kebijakan dari Perspektif Psikologi

Pertama, transparansi harus menjadi pilar utama. Program MBG tidak cukup hanya diumumkan melalui sosialisasi sepihak, tetapi perlu komunikasi publik yang edukatif. Artinya, masyarakat harus diberi pengetahuan yang jelas mengenai bagaimana makanan diproduksi, siapa yang mengawasi kualitasnya, serta bagaimana mekanisme pengaduan jika terjadi masalah. Transparansi seperti ini dapat menurunkan kecemasan kolektif sekaligus membangun trust yang lebih kokoh.

Kedua, keterlibatan orang tua dan psikolog anak harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan pelengkap. Orang tua berperan sebagai gatekeeper nutrisi anak, sehingga keterlibatan mereka dalam perencanaan MBG akan memperkuat rasa memiliki sekaligus mengurangi resistensi. Sementara itu, psikolog anak dan psikolog pendidikan dapat memberikan masukan mengenai bagaimana program ini berdampak pada well-being, motivasi belajar, hingga kepercayaan diri anak. Tanpa suara dari pihak-pihak ini, kebijakan rawan berjalan hanya dari perspektif administratif.

Ketiga, indikator keberhasilan MBG tidak boleh semata diukur dari jumlah anak yang “kenyang,” tetapi harus mencakup dimensi kesehatan fisik dan psikologis. Anak-anak harus merasa aman, nyaman, dan dihargai dalam proses menerima makanan. Aspek ini sering kali diabaikan, padahal faktor psikologis dapat memengaruhi penerimaan, motivasi belajar, bahkan relasi anak dengan institusi sekolah.

Terakhir, monitoring harus berbasis umpan balik yang komprehensif. Selain indikator gizi, pemerintah perlu mengumpulkan data psikososial melalui survei atau forum partisipatif. Dengan demikian, MBG bisa lebih adaptif terhadap dinamika yang muncul di lapangan. Untuk menjamin hal ini, dibutuhkan kerja sama lintas disiplin: ahli gizi, chef, dokter anak, pakar kesehatan masyarakat, dan yang tak kalah penting, psikolog perkembangan. Hanya dengan kolaborasi multidisipliner, MBG dapat benar-benar menjadi program yang utuh dan berkelanjutan.

MBG sejatinya dirancang sebagai program untuk meningkatkan kualitas anak bangsa. Namun, ketika dijalankan tanpa memperhatikan aspek psikologis, program ini justru berpotensi menambah kecemasan publik. Anak-anak tidak seharusnya tumbuh dengan rasa was-was terhadap makanan yang seharusnya menyehatkan mereka, dan orang tua tidak seharusnya kehilangan kepercayaan pada institusi yang mestinya melindungi generasi muda.

Karena itu, mari kita melihat MBG bukan sekadar proyek logistik, melainkan juga kebijakan manusiawi yang harus dikelola dengan sensitivitas psikologis. Jika pemerintah berani membuka ruang dialog, melibatkan ahli lintas disiplin, dan menempatkan kesejahteraan anak sebagai prioritas utama, maka MBG bisa berubah dari sumber kegelisahan menjadi sumber harapan. Refleksi ini penting bukan hanya untuk MBG, tetapi juga sebagai pelajaran bahwa setiap kebijakan publik pada akhirnya diuji bukan di atas kertas, melainkan di dalam pikiran, hati, dan pengalaman masyarakat yang merasakannya. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakMakan Bergizi Gratismakanan bergiziorang tuaPsikologipsikologi anakpsikologi orang tua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Next Post

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co