24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  — Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Isran Kamal by Isran Kamal
October 5, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah belakangan ini memicu perdebatan di ruang publik. Di satu sisi, MBG dianggap sebagai langkah positif untuk membantu anak-anak, khususnya dari keluarga kurang mampu, agar tetap mendapat asupan gizi di sekolah.

Namun di sisi lain, muncul berbagai kontroversi. Mulai dari dugaan adanya “dapur fiktif” yang berpotensi membuka celah korupsi, isu mutu makanan yang kurang layak, hingga kasus keracunan. Alhasil, publik tidak hanya memperdebatkan manfaat program ini, tetapi juga menaruh curiga pada tata kelola dan kualitas pelaksanaannya.

Namun di balik pro dan kontra tersebut, ada aspek lain yang tak kalah penting untuk dibahas, yakni bagaimana program MBG memengaruhi kondisi psikologis anak dan orang tua. Bagi sebagian anak, makanan gratis bisa menjadi bentuk dukungan yang meningkatkan rasa aman dan inklusi di sekolah.

Tetapi bagi yang lain, program ini justru bisa menimbulkan perasaan canggung, malu, atau bahkan gelisah karena stigma sosial maupun pengalaman buruk terkait mutu makanan. Bagi orang tua pun, MBG bisa membawa rasa lega sekaligus khawatir. Dengan demikian, isu MBG tidak hanya persoalan gizi dan kebijakan, melainkan juga menyentuh dimensi psikologis yang akan kita telaah lebih jauh.

Psikologis Anak: Nutrisi, Kesehatan Mental dan Performa Akademik

Pertama, kita perlu mengingat bahwa asupan makanan memiliki kaitan erat dengan kondisi psikologis anak. Nutrisi yang baik tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh pada mood, konsentrasi, dan energi. Anak yang mendapat makanan bergizi cenderung lebih fokus belajar, lebih stabil emosinya, dan memiliki performa akademik yang lebih baik. Sebaliknya, makanan dengan kualitas buruk, baik dari segi kandungan maupun kebersihan, bisa menurunkan energi, memicu rasa kantuk, atau bahkan menimbulkan masalah kesehatan yang berimbas pada absensi dan pencapaian akademik.

Kedua, kontroversi MBG juga berpotensi menimbulkan beban psikologis pada anak. Ketika makanan yang mereka terima sering diragukan kualitasnya, misalnya rasanya tidak enak, penyajian kurang higienis, atau bahkan menimbulkan kasus keracunan, anak akan merasa kecewa dan enggan menyantapnya.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga menciptakan perasaan tidak aman dan menurunkan antusiasme mereka terhadap program sekolah. Dalam jangka panjang, pengalaman negatif semacam ini bisa mengikis kepercayaan anak terhadap lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan mendukung pertumbuhan mereka.

Ketiga, dampak jangka panjang dari kondisi ini tidak bisa diremehkan. Anak-anak yang sering merasa tidak aman atau cemas akibat kualitas makanan yang diragukan dapat kehilangan sense of safety di lingkungan belajar. Hal ini bukan hanya memengaruhi motivasi mereka untuk belajar, tetapi juga membentuk persepsi negatif terhadap kebijakan publik sejak dini. Pada akhirnya, program yang semestinya mendukung tumbuh kembang justru berisiko melahirkan generasi yang skeptis, apatis, atau kurang percaya pada institusi.

Psikologis Orang Tua: Trust, Kecemasan, dan  Proteksi Anak

Jika pada level anak program MBG menimbulkan kekecewaan dan rasa tidak aman, maka dampak psikologis yang lebih luas justru terasa pada orang tua. Bagi banyak orang tua, isu makanan bukan sekadar soal gizi, tetapi menyangkut proteksi terhadap anak. Mereka ingin memastikan buah hati mereka mendapatkan asupan yang layak dan aman. Karena itu, setiap kali muncul berita tentang keracunan, makanan basi, atau dugaan penyimpangan distribusi, reaksi yang muncul hampir selalu keras.

Kondisi ini memicu apa yang bisa disebut parental anxiety, suatu kecemasan yang berlapis, mulai dari rasa takut anak sakit, kecurigaan terhadap kualitas penyelenggaraan, hingga kemarahan pada lembaga yang dianggap lalai. Dalam psikologi perkembangan, rasa cemas orang tua ini seringkali lebih besar daripada risiko objektifnya, karena keterlibatan emosional membuat mereka lebih sensitif terhadap potensi ancaman.

Lebih jauh, posisi orang tua sebagai gatekeeper nutrisi anak membuat kepercayaan (trust) menjadi kunci utama. Bila kepercayaan itu retak, konsekuensinya bukan hanya penolakan terhadap program MBG, tetapi juga resistensi terhadap kebijakan pendidikan secara lebih luas. Pada titik ini, krisis kepercayaan tidak hanya mengganggu implementasi program, tetapi juga memperlemah hubungan antara sekolah, pemerintah, dan keluarga yang merupakan tiga pilar penting dalam ekosistem pendidikan.

Ketika tiga pilar ini tidak lagi berjalan seirama, masalah psikologis yang tadinya bersifat individual atau keluarga bisa berkembang menjadi persoalan kolektif. Rasa tidak percaya menyebar, rumor mudah tumbuh, dan legitimasi kebijakan pun ikut tergerus. Inilah titik di mana persoalan psikologi anak dan orang tua bereskalasi menjadi tantangan psikologis masyarakat luas.

Dampak Psikologis Kolektif: Trust dan  Legitimasi Kebijakan

Ketika anak dan orang tua kehilangan rasa percaya, program secanggih apa pun akan sulit mencapai tujuannya. Trust di sini bukan hanya soal “percaya makanannya aman,” tetapi juga menyangkut legitimasi kebijakan itu sendiri. Jika fondasi kepercayaan rapuh, semua klaim teknis atau jaminan administratif bisa terdengar hambar di telinga publik.

Krisis kepercayaan semacam ini seringkali bereskalasi menjadi gejala psikologis kolektif. Kegelisahan individu berubah menjadi keresahan massal, yang memunculkan resistensi dalam berbagai bentuk seperti, sikap acuh, protes, hingga aksi nyata seperti penolakan atau boikot. Bahkan, rumor kecil atau berita negatif yang tersebar di media sosial bisa mempercepat runtuhnya legitimasi program karena masyarakat sudah berada dalam kondisi waspada dan curiga. Hal ini terlihat dari beberapa waktu lalu melalui munculnya aksi demo dengan membawa panci sebagai simbol protes terhadap maraknya kasus keracunan dari program MBG.

Dalam kondisi seperti itu, dampak psikologis tidak hanya mengenai anak dan orang tua, tetapi juga mencakup persepsi masyarakat luas terhadap negara. Program yang seharusnya menjadi solusi justru bisa dipersepsikan sebagai ancaman. Inilah mengapa dimensi psikologis perlu dipandang sama pentingnya dengan aspek gizi atau logistik. Jika tidak, kebijakan sebesar apa pun berisiko gagal di level implementasi karena kehilangan landasan kepercayaan publik. Dari sinilah kebutuhan akan policy shift menjadi jelas bahwa MBG tidak cukup hanya dijalankan, tetapi harus dikelola dengan dan mempertimbangkan juga faktor psikologis.

Saran Kebijakan dari Perspektif Psikologi

Pertama, transparansi harus menjadi pilar utama. Program MBG tidak cukup hanya diumumkan melalui sosialisasi sepihak, tetapi perlu komunikasi publik yang edukatif. Artinya, masyarakat harus diberi pengetahuan yang jelas mengenai bagaimana makanan diproduksi, siapa yang mengawasi kualitasnya, serta bagaimana mekanisme pengaduan jika terjadi masalah. Transparansi seperti ini dapat menurunkan kecemasan kolektif sekaligus membangun trust yang lebih kokoh.

Kedua, keterlibatan orang tua dan psikolog anak harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan pelengkap. Orang tua berperan sebagai gatekeeper nutrisi anak, sehingga keterlibatan mereka dalam perencanaan MBG akan memperkuat rasa memiliki sekaligus mengurangi resistensi. Sementara itu, psikolog anak dan psikolog pendidikan dapat memberikan masukan mengenai bagaimana program ini berdampak pada well-being, motivasi belajar, hingga kepercayaan diri anak. Tanpa suara dari pihak-pihak ini, kebijakan rawan berjalan hanya dari perspektif administratif.

Ketiga, indikator keberhasilan MBG tidak boleh semata diukur dari jumlah anak yang “kenyang,” tetapi harus mencakup dimensi kesehatan fisik dan psikologis. Anak-anak harus merasa aman, nyaman, dan dihargai dalam proses menerima makanan. Aspek ini sering kali diabaikan, padahal faktor psikologis dapat memengaruhi penerimaan, motivasi belajar, bahkan relasi anak dengan institusi sekolah.

Terakhir, monitoring harus berbasis umpan balik yang komprehensif. Selain indikator gizi, pemerintah perlu mengumpulkan data psikososial melalui survei atau forum partisipatif. Dengan demikian, MBG bisa lebih adaptif terhadap dinamika yang muncul di lapangan. Untuk menjamin hal ini, dibutuhkan kerja sama lintas disiplin: ahli gizi, chef, dokter anak, pakar kesehatan masyarakat, dan yang tak kalah penting, psikolog perkembangan. Hanya dengan kolaborasi multidisipliner, MBG dapat benar-benar menjadi program yang utuh dan berkelanjutan.

MBG sejatinya dirancang sebagai program untuk meningkatkan kualitas anak bangsa. Namun, ketika dijalankan tanpa memperhatikan aspek psikologis, program ini justru berpotensi menambah kecemasan publik. Anak-anak tidak seharusnya tumbuh dengan rasa was-was terhadap makanan yang seharusnya menyehatkan mereka, dan orang tua tidak seharusnya kehilangan kepercayaan pada institusi yang mestinya melindungi generasi muda.

Karena itu, mari kita melihat MBG bukan sekadar proyek logistik, melainkan juga kebijakan manusiawi yang harus dikelola dengan sensitivitas psikologis. Jika pemerintah berani membuka ruang dialog, melibatkan ahli lintas disiplin, dan menempatkan kesejahteraan anak sebagai prioritas utama, maka MBG bisa berubah dari sumber kegelisahan menjadi sumber harapan. Refleksi ini penting bukan hanya untuk MBG, tetapi juga sebagai pelajaran bahwa setiap kebijakan publik pada akhirnya diuji bukan di atas kertas, melainkan di dalam pikiran, hati, dan pengalaman masyarakat yang merasakannya. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakMakan Bergizi Gratismakanan bergiziorang tuaPsikologipsikologi anakpsikologi orang tua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Next Post

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co