24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  — Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

Isran Kamal by Isran Kamal
October 5, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah belakangan ini memicu perdebatan di ruang publik. Di satu sisi, MBG dianggap sebagai langkah positif untuk membantu anak-anak, khususnya dari keluarga kurang mampu, agar tetap mendapat asupan gizi di sekolah.

Namun di sisi lain, muncul berbagai kontroversi. Mulai dari dugaan adanya “dapur fiktif” yang berpotensi membuka celah korupsi, isu mutu makanan yang kurang layak, hingga kasus keracunan. Alhasil, publik tidak hanya memperdebatkan manfaat program ini, tetapi juga menaruh curiga pada tata kelola dan kualitas pelaksanaannya.

Namun di balik pro dan kontra tersebut, ada aspek lain yang tak kalah penting untuk dibahas, yakni bagaimana program MBG memengaruhi kondisi psikologis anak dan orang tua. Bagi sebagian anak, makanan gratis bisa menjadi bentuk dukungan yang meningkatkan rasa aman dan inklusi di sekolah.

Tetapi bagi yang lain, program ini justru bisa menimbulkan perasaan canggung, malu, atau bahkan gelisah karena stigma sosial maupun pengalaman buruk terkait mutu makanan. Bagi orang tua pun, MBG bisa membawa rasa lega sekaligus khawatir. Dengan demikian, isu MBG tidak hanya persoalan gizi dan kebijakan, melainkan juga menyentuh dimensi psikologis yang akan kita telaah lebih jauh.

Psikologis Anak: Nutrisi, Kesehatan Mental dan Performa Akademik

Pertama, kita perlu mengingat bahwa asupan makanan memiliki kaitan erat dengan kondisi psikologis anak. Nutrisi yang baik tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh pada mood, konsentrasi, dan energi. Anak yang mendapat makanan bergizi cenderung lebih fokus belajar, lebih stabil emosinya, dan memiliki performa akademik yang lebih baik. Sebaliknya, makanan dengan kualitas buruk, baik dari segi kandungan maupun kebersihan, bisa menurunkan energi, memicu rasa kantuk, atau bahkan menimbulkan masalah kesehatan yang berimbas pada absensi dan pencapaian akademik.

Kedua, kontroversi MBG juga berpotensi menimbulkan beban psikologis pada anak. Ketika makanan yang mereka terima sering diragukan kualitasnya, misalnya rasanya tidak enak, penyajian kurang higienis, atau bahkan menimbulkan kasus keracunan, anak akan merasa kecewa dan enggan menyantapnya.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga menciptakan perasaan tidak aman dan menurunkan antusiasme mereka terhadap program sekolah. Dalam jangka panjang, pengalaman negatif semacam ini bisa mengikis kepercayaan anak terhadap lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan mendukung pertumbuhan mereka.

Ketiga, dampak jangka panjang dari kondisi ini tidak bisa diremehkan. Anak-anak yang sering merasa tidak aman atau cemas akibat kualitas makanan yang diragukan dapat kehilangan sense of safety di lingkungan belajar. Hal ini bukan hanya memengaruhi motivasi mereka untuk belajar, tetapi juga membentuk persepsi negatif terhadap kebijakan publik sejak dini. Pada akhirnya, program yang semestinya mendukung tumbuh kembang justru berisiko melahirkan generasi yang skeptis, apatis, atau kurang percaya pada institusi.

Psikologis Orang Tua: Trust, Kecemasan, dan  Proteksi Anak

Jika pada level anak program MBG menimbulkan kekecewaan dan rasa tidak aman, maka dampak psikologis yang lebih luas justru terasa pada orang tua. Bagi banyak orang tua, isu makanan bukan sekadar soal gizi, tetapi menyangkut proteksi terhadap anak. Mereka ingin memastikan buah hati mereka mendapatkan asupan yang layak dan aman. Karena itu, setiap kali muncul berita tentang keracunan, makanan basi, atau dugaan penyimpangan distribusi, reaksi yang muncul hampir selalu keras.

Kondisi ini memicu apa yang bisa disebut parental anxiety, suatu kecemasan yang berlapis, mulai dari rasa takut anak sakit, kecurigaan terhadap kualitas penyelenggaraan, hingga kemarahan pada lembaga yang dianggap lalai. Dalam psikologi perkembangan, rasa cemas orang tua ini seringkali lebih besar daripada risiko objektifnya, karena keterlibatan emosional membuat mereka lebih sensitif terhadap potensi ancaman.

Lebih jauh, posisi orang tua sebagai gatekeeper nutrisi anak membuat kepercayaan (trust) menjadi kunci utama. Bila kepercayaan itu retak, konsekuensinya bukan hanya penolakan terhadap program MBG, tetapi juga resistensi terhadap kebijakan pendidikan secara lebih luas. Pada titik ini, krisis kepercayaan tidak hanya mengganggu implementasi program, tetapi juga memperlemah hubungan antara sekolah, pemerintah, dan keluarga yang merupakan tiga pilar penting dalam ekosistem pendidikan.

Ketika tiga pilar ini tidak lagi berjalan seirama, masalah psikologis yang tadinya bersifat individual atau keluarga bisa berkembang menjadi persoalan kolektif. Rasa tidak percaya menyebar, rumor mudah tumbuh, dan legitimasi kebijakan pun ikut tergerus. Inilah titik di mana persoalan psikologi anak dan orang tua bereskalasi menjadi tantangan psikologis masyarakat luas.

Dampak Psikologis Kolektif: Trust dan  Legitimasi Kebijakan

Ketika anak dan orang tua kehilangan rasa percaya, program secanggih apa pun akan sulit mencapai tujuannya. Trust di sini bukan hanya soal “percaya makanannya aman,” tetapi juga menyangkut legitimasi kebijakan itu sendiri. Jika fondasi kepercayaan rapuh, semua klaim teknis atau jaminan administratif bisa terdengar hambar di telinga publik.

Krisis kepercayaan semacam ini seringkali bereskalasi menjadi gejala psikologis kolektif. Kegelisahan individu berubah menjadi keresahan massal, yang memunculkan resistensi dalam berbagai bentuk seperti, sikap acuh, protes, hingga aksi nyata seperti penolakan atau boikot. Bahkan, rumor kecil atau berita negatif yang tersebar di media sosial bisa mempercepat runtuhnya legitimasi program karena masyarakat sudah berada dalam kondisi waspada dan curiga. Hal ini terlihat dari beberapa waktu lalu melalui munculnya aksi demo dengan membawa panci sebagai simbol protes terhadap maraknya kasus keracunan dari program MBG.

Dalam kondisi seperti itu, dampak psikologis tidak hanya mengenai anak dan orang tua, tetapi juga mencakup persepsi masyarakat luas terhadap negara. Program yang seharusnya menjadi solusi justru bisa dipersepsikan sebagai ancaman. Inilah mengapa dimensi psikologis perlu dipandang sama pentingnya dengan aspek gizi atau logistik. Jika tidak, kebijakan sebesar apa pun berisiko gagal di level implementasi karena kehilangan landasan kepercayaan publik. Dari sinilah kebutuhan akan policy shift menjadi jelas bahwa MBG tidak cukup hanya dijalankan, tetapi harus dikelola dengan dan mempertimbangkan juga faktor psikologis.

Saran Kebijakan dari Perspektif Psikologi

Pertama, transparansi harus menjadi pilar utama. Program MBG tidak cukup hanya diumumkan melalui sosialisasi sepihak, tetapi perlu komunikasi publik yang edukatif. Artinya, masyarakat harus diberi pengetahuan yang jelas mengenai bagaimana makanan diproduksi, siapa yang mengawasi kualitasnya, serta bagaimana mekanisme pengaduan jika terjadi masalah. Transparansi seperti ini dapat menurunkan kecemasan kolektif sekaligus membangun trust yang lebih kokoh.

Kedua, keterlibatan orang tua dan psikolog anak harus dipandang sebagai kebutuhan, bukan pelengkap. Orang tua berperan sebagai gatekeeper nutrisi anak, sehingga keterlibatan mereka dalam perencanaan MBG akan memperkuat rasa memiliki sekaligus mengurangi resistensi. Sementara itu, psikolog anak dan psikolog pendidikan dapat memberikan masukan mengenai bagaimana program ini berdampak pada well-being, motivasi belajar, hingga kepercayaan diri anak. Tanpa suara dari pihak-pihak ini, kebijakan rawan berjalan hanya dari perspektif administratif.

Ketiga, indikator keberhasilan MBG tidak boleh semata diukur dari jumlah anak yang “kenyang,” tetapi harus mencakup dimensi kesehatan fisik dan psikologis. Anak-anak harus merasa aman, nyaman, dan dihargai dalam proses menerima makanan. Aspek ini sering kali diabaikan, padahal faktor psikologis dapat memengaruhi penerimaan, motivasi belajar, bahkan relasi anak dengan institusi sekolah.

Terakhir, monitoring harus berbasis umpan balik yang komprehensif. Selain indikator gizi, pemerintah perlu mengumpulkan data psikososial melalui survei atau forum partisipatif. Dengan demikian, MBG bisa lebih adaptif terhadap dinamika yang muncul di lapangan. Untuk menjamin hal ini, dibutuhkan kerja sama lintas disiplin: ahli gizi, chef, dokter anak, pakar kesehatan masyarakat, dan yang tak kalah penting, psikolog perkembangan. Hanya dengan kolaborasi multidisipliner, MBG dapat benar-benar menjadi program yang utuh dan berkelanjutan.

MBG sejatinya dirancang sebagai program untuk meningkatkan kualitas anak bangsa. Namun, ketika dijalankan tanpa memperhatikan aspek psikologis, program ini justru berpotensi menambah kecemasan publik. Anak-anak tidak seharusnya tumbuh dengan rasa was-was terhadap makanan yang seharusnya menyehatkan mereka, dan orang tua tidak seharusnya kehilangan kepercayaan pada institusi yang mestinya melindungi generasi muda.

Karena itu, mari kita melihat MBG bukan sekadar proyek logistik, melainkan juga kebijakan manusiawi yang harus dikelola dengan sensitivitas psikologis. Jika pemerintah berani membuka ruang dialog, melibatkan ahli lintas disiplin, dan menempatkan kesejahteraan anak sebagai prioritas utama, maka MBG bisa berubah dari sumber kegelisahan menjadi sumber harapan. Refleksi ini penting bukan hanya untuk MBG, tetapi juga sebagai pelajaran bahwa setiap kebijakan publik pada akhirnya diuji bukan di atas kertas, melainkan di dalam pikiran, hati, dan pengalaman masyarakat yang merasakannya. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakMakan Bergizi Gratismakanan bergiziorang tuaPsikologipsikologi anakpsikologi orang tua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Next Post

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co