23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
October 5, 2025
in Esai
Nama-nama  Orang Hindu Bali Antara Tradisi dan Modernisasi

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

PENAMAAN seseorang tidak hanya berfungsi sebagai identitas formal, melainkan juga merupakan representasi dari sistem nilai, budaya, dan filosofi masyarakat tempat individu tersebut dilahirkan. Dalam konteks masyarakat Hindu Bali, penamaan memiliki kedudukan istimewa karena sarat dengan makna simbolik dan nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Nama bagi masyarakat Hindu Bali bukanlah sekadar rangkaian kata, melainkan manifestasi dari jati diri, status sosial, urutan kelahiran, hingga harapan orang tua terhadap anaknya. Misalnya, penanda urutan kelahiran seperti Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut tidak hanya menunjukkan posisi anak dalam keluarga, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dalam struktur sosial masyarakat Bali. Demikian pula, penggunaan gelar yang berkaitan dengan wangsa atau kasta seperti Ida Bagus, Anak Agung, Gusti, atau Cokorda menjadi penanda kedudukan sosial yang diakui dalam tatanan budaya Bali.

Lebih jauh, penamaan juga erat kaitannya dengan ajaran agama Hindu. Nama sering mengandung unsur doa dan harapan, seperti kata Dharma yang berarti kebenaran atau Sujana yang berarti bijaksana. Dengan demikian, nama menjadi medium untuk menginternalisasi nilai-nilai religius sejak seseorang lahir. Filosofi ini menjadikan penamaan sebagai praktik budaya yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan moral.

Namun, seiring masuknya arus modernisasi dan globalisasi, praktik penamaan di Bali mulai mengalami perubahan yang signifikan. Modernisasi menghadirkan pola pikir baru yang lebih praktis, egaliter, dan berorientasi global, sehingga memengaruhi cara orang tua memilih nama untuk anak-anak mereka. Struktur penamaan yang sebelumnya panjang dan kompleks kini cenderung dipersingkat agar lebih sesuai dengan kebutuhan administrasi modern, seperti penulisan pada akta kelahiran, paspor, atau dokumen resmi lainnya. Selain itu, penggunaan nama modern bernuansa Indonesia atau internasional, seperti keisha, sean, febiola,  sering dipadukan dengan nama tradisional Bali, sehingga melahirkan identitas ganda yaitu identitas lokal sekaligus global.

Di satu sisi, perubahan ini mencerminkan keterbukaan masyarakat Bali terhadap perkembangan zaman dan tuntutan interaksi global. Namun di sisi lain, fenomena tersebut juga mengindikasikan adanya pergeseran makna dalam penamaan. Nama yang dahulu berfungsi sebagai simbol budaya dan spiritual kini kerap dipilih lebih karena faktor estetika, kepraktisan, atau tren modern. Akibatnya, filosofi mendalam yang terkandung dalam penamaan tradisional berpotensi mengalami reduksi.

Saat ini terdapat kecenderungan yang semakin kuat di kalangan masyarakat Hindu Bali untuk menamai anak mereka tanpa mencantumkan identitas urutan kelahiran seperti Putu, Made, Nyoman, atau Ketut. Pergeseran ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan selera atau gaya penamaan, tetapi juga merupakan refleksi dari dinamika sosial dan pengaruh modernisasi yang kian meluas di masyarakat Bali.

Pada masa lalu, penyebutan nama urutan kelahiran berfungsi sebagai penanda sosial dan kultural yang kuat. Dengan hanya mendengar nama seseorang, masyarakat dapat langsung mengenali posisi anak dalam keluarga, bahkan asal budaya dan etnisnya. Misalnya, seseorang bernama Wayan atau Made segera diidentifikasi sebagai orang Bali. Namun, dalam konteks kehidupan modern yang semakin terbuka dan global, sistem penamaan seperti ini mulai dianggap kurang relevan secara praktis. Banyak orang tua kini memilih nama yang lebih universal, modern, atau berkesan internasional agar anak mereka lebih mudah diterima di lingkungan yang lebih luas—baik di bidang pendidikan, pekerjaan, maupun pergaulan lintas budaya.

Selain itu, faktor urbanisasi dan mobilitas sosial turut berpengaruh terhadap pergeseran ini. Di wilayah perkotaan seperti Denpasar, Badung, atau bahkan di luar Bali, banyak keluarga Bali yang hidup di lingkungan heterogen merasa bahwa penggunaan nama tradisional dapat memunculkan stereotip atau perbedaan sosial. Akibatnya, sebagian dari mereka memilih nama yang “netral” atau tidak langsung menunjukkan latar belakang budaya.

Meskipun demikian, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran terhadap lunturnya identitas kebalian. Hilangnya penanda seperti Putu, Made, Nyoman, dan Ketut berpotensi melemahkan sistem simbolik yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Bali. Nama-nama tersebut tidak sekadar identitas linguistik, tetapi juga merupakan representasi nilai-nilai tradisional, seperti hierarki keluarga, harmoni sosial, dan kontinuitas budaya. Ketika unsur-unsur itu mulai dihilangkan, terjadi pergeseran makna dari nama sebagai warisan budaya menjadi nama sebagai ekspresi individual modern.

Dengan demikian, penamaan orang Hindu Bali berada pada titik persinggungan antara tradisi dan modernitas. Praktik penamaan tidak lagi hanya mencerminkan nilai-nilai lokal yang diwariskan leluhur, tetapi juga menjadi arena negosiasi identitas dalam menghadapi modernisasi. Hal ini menimbulkan tantangan baru bagi masyarakat Bali: bagaimana menjaga keseimbangan antara mempertahankan makna filosofis penamaan tradisional dengan kebutuhan adaptasi terhadap perubahan sosial-budaya global.

Urutan Kelahiran

    Salah satu ciri khas yang paling menonjol dalam sistem penamaan orang Hindu Bali adalah adanya penanda urutan kelahiran anak dalam keluarga. Tradisi ini bersifat universal di kalangan masyarakat Hindu Bali, tanpa memandang perbedaan kasta (warna) atau status sosial, sehingga menjadi identitas kultural yang kuat.

    • Anak Pertama

      Anak pertama biasanya diberi nama Wayan, Putu, Gede, atau Luh (untuk perempuan). Wayan berarti yang pertama lahir atau wayahan yang berarti paling matang. Nama urutan Wayan hanya dipakai untuk anak laki-laki saja. Nama urutan wayan saat ini semakin jarang dipakai oleh masyarakat Hindu Bali. Putu memiliki arti “cucu pertama” atau “anak pertama,” menandai posisi istimewa dalam keluarga besar. Penamaan putu digunakan baik untuk anak laki-laki dan perempuan. Gede berarti “besar” atau “tua,” yang mengisyaratkan bahwa ia adalah yang tertua di antara saudara-saudaranya. Urutan penamaan gede digunakan untuk anak laki-laki. Untuk anak perempuan, sering ditambahkan kata Luh sehingga menjadi Ni Luh Putu atau Ni Luh Gede.

      Pemilihan nama untuk anak pertama biasanya sarat makna simbolis karena ia dipandang sebagai penerus harapan keluarga. Pemilihan nama untuk anak pertama dalam tradisi masyarakat Hindu Bali umumnya sarat dengan makna simbolis dan filosofis. Anak pertama sering dipandang sebagai penerus harapan keluarga, baik dalam hal tanggung jawab moral, spiritual, maupun sosial. Dalam pandangan masyarakat Bali, kelahiran anak pertama menandai awal baru bagi siklus kehidupan keluarga, sehingga penamaan terhadapnya tidak dilakukan secara sembarangan.

      • Anak Kedua

      Nama yang lazim dipakai adalah Made, Kadek, atau Nengah. Made berasal dari kata madya yang berarti “tengah,” menandakan posisi anak kedua. Kadek juga berarti “adik” atau “yang lahir setelah kakak,” sehingga menegaskan kedudukan dalam urutan kelahiran. Nengah berarti “tengah,” yang menegaskan posisinya sebagai anak yang berada di antara saudara lainnya.
      Penamaan anak kedua dalam tradisi masyarakat Hindu Bali juga memiliki makna simbolik yang mendalam. Nama-nama seperti Made, Kadek, atau Nengah tidak sekadar menunjukkan urutan kelahiran, tetapi mencerminkan fungsi sosial dan spiritual anak kedua dalam struktur keluarga. Dalam filosofi masyarakat Bali, anak kedua sering dipandang sebagai penjaga keseimbangan—ia berada di tengah antara kakak dan adik, sehingga berperan penting dalam menjaga keharmonisan hubungan antaranggota keluarga.

      • Anak Ketiga

      Nama umum yang digunakan untuk anak ketiga adalah Nyoman atau Komang. Nyoman berasal dari kata anuman yang berarti “hampir terakhir,” menandakan bahwa ia berada mendekati posisi bungsu. Komang merupakan variasi lain dengan makna serupa, lebih populer di beberapa wilayah Bali. Anak ketiga sering dianggap membawa kesejukan dalam keluarga karena berada di antara posisi kakak yang lebih senior dan adik yang lebih muda.

      • Anak Keempat

      Urutan nama kelahiran yang terakhir adalah Ketut. Ketut berarti “ikut” atau “penutup,” menandakan anak terakhir dalam siklus kelahiran. Dalam beberapa tradisi, nama Ketut juga dipandang sebagai lambang keberuntungan karena menutup siklus keluarga. Menariknya, jika keluarga memiliki lebih dari empat anak, maka siklus penamaan ini biasanya diulang kembali. Anak kelima akan kembali dinamai dengan nama urutan anak pertama, seperti Wayan, Gede  atau Putu, dan seterusnya. Dahulu, jika seseorang mempunyai anak lima orang dan anak yang kelima adalah berjenis kelamin laki-laki, anak terebut diberi nama putu, gede atau wayan dan dibelakang  nama urutan kelahiran tersebut ditambahkan kata tagel sehingga anak tersebut menjadi I Wayan Tagel atau I Putu Tagel, atau I Gede Tagel. Tagel artinya pengulangan dan yang diulang adalah urutan kelahirannya.

      Tradisi penamaan berdasarkan urutan kelahiran ini bukan hanya berfungsi sebagai identitas individual, tetapi juga mengandung makna sosial yang dalam. Nama memberikan kejelasan struktur dalam keluarga besar maupun masyarakat. Dalam interaksi sosial, seseorang cukup menyebut nama seperti Wayan atau Ketut untuk langsung mengetahui posisi anak tersebut dalam keluarganya. Hal ini memperkuat ikatan sosial dan mempermudah komunikasi dalam komunitas Bali yang dikenal kolektif.

      Penanda Gender

      Nama juga berfungsi sebagai penanda gender dalam tradisi masyarakat Hindu Bali. Penanda ini tampak jelas dalam penggunaan artikula yang melekat pada nama seseorang sejak lahir. Untuk laki-laki, artikula yang digunakan adalah I, sedangkan untuk perempuan digunakan artikula Ni. Dengan demikian, sejak awal nama seseorang sudah memberikan informasi tidak hanya tentang urutan kelahiran, tetapi juga tentang identitas gendernya.

      Selain artikula  I dan Ni, terdapat pula istilah lain yang khusus menunjukkan identitas perempuan, yakni kata Luh. Kata ini berarti “perempuan” dan biasanya dipadukan dengan nama diri, misalnya Ni Luh Sari atau Ni Luh Gede Ayu. Dalam konteks ini, penanda gender bukan hanya bersifat administratif, tetapi juga mencerminkan sistem nilai dan tatanan sosial yang menekankan kejelasan identitas dalam masyarakat Bali.

      Penggunaan penanda gender dalam nama juga menunjukkan bagaimana masyarakat Bali mengintegrasikan identitas biologis ke dalam struktur budaya melalui bahasa. Penanda tersebut berfungsi untuk menjaga kejelasan relasi sosial. Misalnya, dalam komunikasi sehari-hari, orang akan langsung mengetahui apakah seseorang laki-laki atau perempuan hanya dengan menyebut namanya. Hal ini penting dalam budaya Bali yang sangat menjunjung keteraturan sosial, baik dalam kehidupan keluarga, adat, maupun upacara keagamaan.

      Namun, dalam perkembangan modern, praktik penandaan gender dalam penamaan orang Hindu Bali mulai mengalami pergeseran yang signifikan. Sebagian orang tua kini memilih untuk tidak lagi menggunakan awalan Ni bagi perempuan atau I bagi laki-laki di depan nama anak mereka. Pada tataran praktis, keputusan ini mungkin dianggap sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan sosial dan administratif modern. Akan tetapi, jika ditelaah lebih dalam, fenomena ini dapat dilihat sebagai gejala peluruhan identitas kebalian  yaitu berkurangnya ciri khas yang menjadi penanda ke-Bali-an seseorang dalam tataran simbolik dan linguistik.

      Dalam tradisi masyarakat Bali, awalan Ni dan I bukan sekadar tanda jenis kelamin, tetapi juga merupakan penanda identitas etnolingual yang membedakan masyarakat Bali dari kelompok etnik lain di Indonesia. Penghapusan unsur tersebut berarti menghapus lapisan simbolik yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas budaya Bali. Nama dengan awalan tradisional berfungsi sebagai penanda keanggotaan seseorang dalam komunitas adat, sekaligus menjadi representasi keberlanjutan tradisi Hindu Bali yang unik. Ketika penanda itu dihilangkan, maka hilang pula sebagian bentuk ekspresi jati diri budaya yang diwariskan leluhur.

      Kedudukan sosial

      Aspek kasta (warna)  merupakan salah satu elemen paling kompleks dalam sistem penamaan masyarakat Hindu Bali. Keberadaan sistem kasta tidak hanya mencerminkan struktur sosial masyarakat masa lalu, tetapi juga menjadi representasi identitas budaya dan nilai-nilai religius yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam tradisi Bali, sistem kasta terdiri atas empat golongan utama, yakni Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Masing-masing golongan memiliki karakteristik linguistik dan sosial yang berbeda dalam praktik penamaan. Sistem ini secara historis menunjukkan hierarki sosial dan fungsi religius yang dijalankan masyarakat. Namun, dalam konteks modern, penamaan berbasis kasta mengalami pergeseran makna seiring perubahan struktur sosial, ekonomi, dan kesetaraan identitas dalam masyarakat Bali kontemporer.

      • Brahmana

        Golongan Brahmana merupakan keturunan para pendeta dan pemuka agama pada masa kerajaan. Mereka memiliki tanggung jawab spiritual yang besar, khususnya dalam memimpin upacara keagamaan. Secara linguistik, identitas kasta ini ditandai dengan penggunaan gelar “Ida Bagus” bagi laki-laki dan “Ida Ayu” (sering disingkat Dayu) bagi Perempuan, contohnya: Ida Bagus Gede Wirawan atau Ida Ayu Made Sriantari. Namun, dalam perkembangan zaman, tidak semua keturunan Brahmana menjalankan fungsi keagamaan atau tinggal di griya. Meskipun demikian, penggunaan gelar “Ida Bagus” dan “Ida Ayu” tetap menjadi simbol kehormatan dan pengenal identitas kebrahmanaan dalam masyarakat Bali.

        •  Ksatria

        Golongan Ksatria adalah keturunan bangsawan, raja, dan pejabat tinggi pada masa kerajaan. Mereka dahulu tinggal di lingkungan puri, yang merupakan simbol kekuasaan dan kemuliaan. Dalam sistem penamaan, Ksatria umumnya menggunakan gelar Anak Agung, Cokorda, atau Gusti.
        Selain itu, terdapat gelar lain yang digunakan, seperti Dewa (untuk laki-laki),  Dewa Ayu, Desak, dan Sagung, yang umumnya diberikan kepada perempuan.

        Contoh penamaan: Anak Agung Gede Putra, Cokorda Istri Dewi, atau Gusti Ayu Desak Putri.
        Gelar-gelar tersebut mengandung nilai kebangsawanan dan kehormatan, sekaligus menunjukkan posisi sosial yang terhormat di masyarakat. Dalam masyarakat modern, banyak keturunan Ksatria tidak lagi menempati posisi politik atau aristokrat seperti leluhur mereka. Mereka bekerja di berbagai bidang profesional, dan sebagian memilih tidak lagi menggunakan gelar tradisional dalam penamaan anak-anaknya, dengan alasan kesetaraan dan penyederhanaan identitas.

        • Waisya

        Golongan Waisya pada masa lalu dikenal sebagai pengusaha, pedagang, dan juragan. Dalam sistem tradisional, mereka memiliki gelar khas seperti Ngakan, Kompyang, Sang, dan Si.

        Untuk perempuan, penamaan sering diikuti kata Ayu setelah gelar, misalnya Ngakan Ayu Putri.
        Sementara itu, gelar Si jika digunakan untuk perempuan sering berpadu dengan penanda jenis kelamin Luh, membentuk nama Siluh, seperti Siluh Made Ariani.Seiring perkembangan zaman, penggunaan gelar-gelar tersebut mulai jarang ditemui. Banyak keluarga dari keturunan Waisya kini memilih nama umum berdasarkan urutan kelahiran (seperti Wayan, Made, Nyoman, Ketut) tanpa mencantumkan gelar kasta. Pergeseran ini menandai adanya penyesuaian nilai budaya terhadap modernitas dan kesetaraan sosial, tanpa harus meninggalkan kebanggaan terhadap akar kebaliannya.

        • Sudra

        Golongan Sudra merupakan kelompok terbesar dalam masyarakat Bali. Pada masa lalu, mereka dikenal sebagai pekerja atau buruh, namun kini telah menempati berbagai posisi, mulai dari pejabat pemerintah hingga akademisi. Golongan Sudra tidak memiliki gelar khusus dalam penamaan, melainkan menggunakan urutan kelahiran sebagai sistem penanda utama, seperti Wayan, Made, Nyoman, Ketut.

        Pergeseran Waktu Pemberian Nama pada Bayi dalam Masyarakat Hindu Bali

        Dalam tradisi Hindu Bali, pemberian nama bukan sekadar proses administratif, melainkan ritual sakral yang sarat makna religius dan simbolik. Dahulu, pemberian nama pada bayi tidak dilakukan secara langsung setelah kelahiran. Secara tradisional, nama diberikan dalam upacara yang disebut telu bulanan yaitu ketika bayi berusia sekitar 105 hari (tiga bulan menurut perhitungan kalender Bali). Pada momen ini, bayi dianggap telah siap secara spiritual untuk diperkenalkan kepada masyarakat dan alam semesta. Upacara ini juga menjadi simbol penyatuan antara bayi dengan dunia nyata dan leluhur. Nama yang diberikan pada saat itu mengandung doa, harapan, serta identitas sosial bayi dalam keluarga maupun masyarakat.

        Namun, perkembangan zaman dan pengaruh modernisasi telah membawa perubahan besar dalam praktik ini. Dalam masyarakat Hindu Bali modern, pemberian nama sering dilakukan lebih cepat, bahkan beberapa hari atau minggu setelah kelahiran, terutama karena kebutuhan administratif seperti pencatatan akta kelahiran, layanan kesehatan, dan pendidikan. Pergeseran ini menandakan adanya adaptasi terhadap sistem sosial modern, yang mana aspek legal dan praktis lebih diutamakan dibanding ritual tradisional yang panjang dan kompleks.

        Meski demikian, sebagian keluarga Bali masih berusaha mempertahankan nilai-nilai sakral dalam proses penamaan dengan cara tetap melaksanakan upacara tradisional, meskipun waktunya disesuaikan. Dalam banyak kasus, nama anak sudah ditentukan sejak lahir untuk keperluan administrasi, namun ritual pada saat  tiga bulanan (telu bulanan) sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan ajaran Hindu. Pergeseran ini mencerminkan pertemuan antara nilai tradisi dan tuntutan modernitas. Di satu sisi, modernisasi menuntut legalitas,  di sisi lain masyarakat Hindu Bali berupaya menjaga makna spiritual dan kultural dari ritual penamaan. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana budaya Bali tidak sepenuhnya meninggalkan tradisinya, melainkan beradaptasi secara dinamis dengan perubahan zaman.

        Perubahan waktu pemberian nama pada bayi di masyarakat Hindu Bali bukanlah bentuk hilangnya tradisi, melainkan bentuk evolusi budaya yang menunjukkan kemampuan masyarakat Bali untuk menjaga keseimbangan antara nilai religius, sosial, dan modernitas sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni antara manusia, Tuhan, dan lingkungan dalam setiap aspek kehidupan. [T]

        Penulis: Ketut Suar Adnyana
        Editor: Jaswanto

        • BACA artikel lain dari penulis SUAR ADNYANA
        Kesulitan dalam Pendokumentasian Tradisi Lisan
        Istilah Pertanian yang Hilang: “Slisihan”,  Sistem Gotong Royong dalam Menggarap Tegalan Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng
        Tags: baliNamanama bali
        ShareTweetSendShareSend
        Previous Post

        MBG: Makan Bergizi Gratis atau Makan Bikin Gelisah?  — Perspektif Psikologi Anak dan  Orang Tua

        Next Post

        Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat tidur, Saira

        I Ketut Suar Adnyana

        I Ketut Suar Adnyana

        Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

        Related Posts

        Wajah Indonesia Bopeng

        by Petrus Imam Prawoto Jati
        August 23, 2026
        0
        Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

        SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

        Read moreDetails

        Renungan Meja Makan

        by Angga Wijaya
        August 22, 2026
        0
        Renungan Meja Makan

        DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

        Read moreDetails

        Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

        by I Ketut Suar Adnyana
        August 22, 2026
        0
        Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

        DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

        Read moreDetails

        Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

        by I Ketut Suar Adnyana
        August 21, 2026
        0
        Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

        BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

        Read moreDetails

        Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

        by I Wayan Yudana
        August 21, 2026
        0
        Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

        ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

        Read moreDetails

        Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

        by Tri Nugroho Adi
        August 21, 2026
        0
        Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

        ---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

        Read moreDetails

        JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

        by I Nyoman Gede Maha Putra
        August 21, 2026
        0
        JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

        SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

        Read moreDetails

        Lampu Merah dan Mental Menerabas

        by Angga Wijaya
        August 20, 2026
        0
        Lampu Merah dan Mental Menerabas

        SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

        Read moreDetails

        Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

        by Ahmad Sihabudin
        August 19, 2026
        0
        ’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

        "Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

        Read moreDetails

        Merawat Warisan Budaya Kolonial…

        by Pande Susan
        August 19, 2026
        0
        Merawat Warisan Budaya Kolonial…

        “Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

        Read moreDetails
        Next Post
        Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat tidur, Saira

        Puisi-puisi Yoga Wismantara | Selamat tidur, Saira

        Please login to join discussion

        Ads

        POPULER

        • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

          Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

          22 shares
          Share 22 Tweet 0
        • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

          0 shares
          Share 0 Tweet 0
        • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

          5 shares
          Share 5 Tweet 0
        • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

          0 shares
          Share 0 Tweet 0
        • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

          43 shares
          Share 43 Tweet 0

        ARTIKEL TERKINI

        PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
        Pendidikan

        PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

        SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

        by Dede Putra Wiguna
        August 23, 2026
        Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
        Opini

        Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

        IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

        by I Ketut Suar Adnyana
        August 23, 2026
        Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
        Esai

        Wajah Indonesia Bopeng

        SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

        by Petrus Imam Prawoto Jati
        August 23, 2026
        Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
        Kritik Sastra

        Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

        ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

        by Bagja Wiranandhika Prawira
        August 23, 2026
        Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
        Panggung

        Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

        KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

        by Nyoman Budarsana
        August 23, 2026
        Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
        Kritik Sastra

        Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

        PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

        by Andre Syahreza
        August 22, 2026
        Renungan Meja Makan
        Esai

        Renungan Meja Makan

        DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

        by Angga Wijaya
        August 22, 2026
        Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
        Esai

        Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

        DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

        by I Ketut Suar Adnyana
        August 22, 2026
        Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
        Lingkungan

        Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

        PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

        by tatkala
        August 21, 2026
        Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
        Esai

        Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

        BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

        by I Ketut Suar Adnyana
        August 21, 2026
        Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
        Kritik Sastra

        Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

        SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

        by Andre Syahreza
        August 22, 2026
        Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
        Tualang

        Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

        SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

        by I Nyoman Tingkat
        August 21, 2026

        TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

        • Penulis
        • Tentang & Redaksi
        • Kirim Naskah
        • Pedoman Media Siber
        • Kebijakan Privasi
        • Desclaimer

        Copyright © 2016-2025, tatkala.co

        Welcome Back!

        Login to your account below

        Forgotten Password?

        Retrieve your password

        Please enter your username or email address to reset your password.

        Log In
        No Result
        View All Result
        • Beranda
        • Feature
          • Khas
          • Tualang
          • Persona
          • Historia
          • Milenial
          • Kuliner
          • Pop
          • Gaya
          • Pameran
          • Panggung
        • Berita
          • Ekonomi
          • Pariwisata
          • Pemerintahan
          • Budaya
          • Hiburan
          • Politik
          • Hukum
          • Kesehatan
          • Olahraga
          • Pendidikan
          • Pertanian
          • Lingkungan
          • Liputan Khusus
        • Kritik & Opini
          • Esai
          • Opini
          • Ulas Buku
          • Ulas Film
          • Ulas Rupa
          • Ulas Pentas
          • Kritik Sastra
          • Kritik Seni
          • Bahasa
          • Ulas Musik
        • Fiksi
          • Cerpen
          • Puisi
          • Dongeng
        • English Column
          • Essay
          • Fiction
          • Poetry
          • Features
        • Penulis
        • Buku
          • Buku Mahima
          • Buku Tatkala

        Copyright © 2016-2025, tatkala.co