12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengakrabi Bali via Jalanan

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 5, 2025
in Esai
Mengakrabi Bali via Jalanan

Ilustrasi jalanan di Bali by Imagen

Mengakrabi dinamika Bali dapat dimulai dengan menelusuri jalannya. Petualangan jalanan tanpa target jelas mengenalkan kita pada gerak sosial-ekonomi dari pinggiran aspal. Jalanan yang menghubungkan Gianyar, Badung, dan Denpasar menunjukkan denyut kehidupan, mitos, dan modernitas Bali. Melintasinya seperti ziarah tak sengaja, mengakrabi saksi bisu dari ribuan kisah yang bergerak setiap hari.

Perjalanan dimulai dari persimpangan di Desa Sakah, Gianyar. Di sana, di tengah riuh lalu lintas, duduk bersila sesosok bayi raksasa: Patung Bayi Sakah. Secara resmi bernama Sang Hyang Brahma Lelare, patung yang digagas mantan Bupati Gianyar, Cokorda Darana (1989). Ini titik nol metaforis. Patung ini sebagai pengingat, Gianyar ialah “roh” dan markas seniman Bali. Disini karya cipta seni diawali dengan karya cipta murni, mulai dari kecil kemudian besar dan berkembang.  

Penempatan patung bayi di sebuah persimpangan sibuk bukanlah kebetulan. Inilah intervensi budaya yang disengaja. Patung ini berfungsi sebagai gerbang filosofis bagi para pelancong untuk merenungkan asal-usul kreativitas sebelum mereka mengonsumsi produk-produknya di sepanjang jalan. Sebelum kita melihat kilau perak di Celuk atau detail ukiran di Desa Mas, kita dihadapkan pada sumbernya: kreativitas murni yang belum terbentuk, suci dan rentan seperti seorang bayi. Jalan raya ini dibingkai bukan sebagai jalur transit, melainkan ruang kontemplasi. Perjalanan ini bukan lagi sekadar tur belanja, melainkan partisipasi dalam sebuah siklus kreatif yang lebih besar.

Meninggalkan Sakah, jalanan menyempit dan denyutnya berubah. Rute galeri terbuka yang membentang puluhan kilometer, melewati pusat-pusat kerajinan legendaris: ukiran kayu di Desa Mas, perak di Desa Celuk, dan pasar seni di Sukawati. Di kiri dan kanan, etalase-etalase kaca memantulkan kilau perhiasan perak. Tumpukan topeng kayu menatap ke arah lalu lintas yang tak pernah berhenti. Ada artshop lukisan, ada pula jejeran patung kayu. Aroma dupa yang samar dari pekarangan rumah berbaur dengan asap knalpot, menciptakan sebuah parfum khas yang hanya bisa ditemukan di sini. Inilah permadani kehidupan sehari-hari, yang dilukis dengan kegembiraan sederhana.  

Jalanan juga jadi panggung bagi ekosistem kendaraan di Bali. Skuter matik mendominasi, menjadi pilihan favorit karena praktis, irit, dan mampu menembus kemacetan serta jalan-jalan sempit. Honda Scoopy dengan desain retronya yang lincah menyelinap di antara celah seperti para penari. Yamaha NMAX dan Honda PCX yang lebih besar melaju dengan gagah. Jangan heran jika berpapasan dengan Harley-Davidson. Mobil-mobil wisata bergerak lamban seperti paus di antara kawanan ikan kecil. Terkadang kita dapat menemui mobil mewah melintas. Setiap kendaraan memiliki perannya, mencerminkan struktur sosial dan ekonomi Bali yang terus bergerak.  

Di sepanjang koridor ini, sebuah paradoks yang indah terungkap. Di satu sisi jalan, di dalam sanggar-sanggar seni, para pengrajin bekerja dengan kesabaran yang nyaris meditatif, menciptakan karya yang membutuhkan waktu berhari-hari. Di sisi lain, di atas aspal, berlangsung sebuah tarian kecepatan dan efisiensi di mana setiap detik terasa berharga. Jalan raya ini adalah titik temu antara Bali yang lestari dan Bali yang tergesa-gesa. Pengalaman berkendara di sini, kita dapat merasakan ketegangan produktif antara dua dunia tersebut secara langsung.

Epik di Persimpangan Modernitas

Semakin mendekati Denpasar, jalanan melebar di Jalan Bypass Ngurah Rai. Lanskap berubah menjadi lebih urban. Di sinilah, di tengah sebuah bundaran yang sibuk, sebuah narasi agung berdiri kokoh: Patung Titi Banda. Patung monumental karya I Wayan Winten ini menggambarkan adegan epos Ramayana. Kita saksikan Rama, dibantu oleh pasukan kera pimpinan Hanoman, membangun jembatan untuk menyelamatkan Sinta dari cengkeraman Rahwana. Patung ini merupakan perwujudan nilai kegotongroyongan, kesetiaan, dan kepemimpinan dalam memperjuangkan kebajikan.

Ke selatan, dekat Bandara Ngurah Rai, kita disambut oleh sang pelindung: Patung Satria Gatotkaca. Gatotkaca, ksatria sakti yang mampu terbang, simbol keberanian dan kekuatan. Masyarakat Bali percaya patung ini memberikan perlindungan spiritual bagi para pelancong yang datang dan pergi. Enam kuda yang menarik kereta perangnya bukanlah sekadar hiasan. Kuda itu ialah simbol dari Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia (nafsu, serakah, marah, mabuk, iri, dan bingung) yang harus dikendalikan.  

Rangkaian patung di sepanjang rute ini tanpa sadar membentuk sebuah narasi perjalanan pahlawan. Perjalanan dimulai dengan kelahiran dan potensi murni (Bayi Sakah), dilanjutkan dengan menghadapi tantangan besar yang membutuhkan kerja sama (Titi Banda), dan diakhiri dengan perwujudan kekuatan heroik setelah melewati ujian (Gatotkaca). Pengemudi di jalan ini bukan hanya berpindah dari titik A ke B, tetapi secara simbolis menapaki kembali arketipe mitologis ini. Jalan raya ini telah menjadi sebuah teks mitologis yang terukir dalam lanskap.

Meditasi dalam Kemacetan

Lalu, mesin berhenti. Roda tak lagi berputar. Macet. Penyakit perkotaan yang disebabkan pembangunan masif dan ledakan pariwisata. Macet juga bagian tak terpisahkan dari perjalanan. Awalnya, ada rasa frustrasi. Klakson bersahutan. Namun, jika kita memilih untuk menyerah pada jeda ini, perspektif pun berubah. Kendaraan bukan lagi alat transportasi, melainkan sebuah ruang observasi yang intim.  

Di tengah lautan kendaraan yang tak bergerak, detail-detail kecil yang tadinya luput kini menjadi fokus. Ekspresi lelah di wajah pengendara motor di sebelah. Tetesan keringat supir mobil pickup. Permainan cahaya matahari pada dasbor yang berdebu. Kemacetan, dalam konteks ini, menjadi sebuah upacara modern yang tak terelakkan. Kemacetan pun jadi sebuah ritual penantian kolektif.  

Jalanan pun jadi penyetara agung. Turis di dalam mobil ber-AC, pemandu lokal, pekerja kantoran, dan pengemudi ojek online, semuanya dipaksa masuk ke dalam kondisi yang sama: menunggu. Batasan sosial untuk sementara waktu larut dalam pengalaman bersama yang universal ini. Ini bukan lagi waktu yang terbuang, melainkan waktu yang ditemukan. Kesempatan langka untuk mengamati mikrokosmos warga Bali dalam keadaan diam yang dipaksakan. Ini momen untuk menemui kehidupan secara berbeda.  

Perjalanan di arteri Gianyar-Badung-Denpasar akhirnya berakhir, namun jejaknya menetap. Petualangan mengajarkan sebuah filosofi jalanan. Bahwa di pulau ini, mitos tidak mati, malah hidup dan bernapas di persimpangan jalan. Bahwa kemajuan tidak selalu berarti kecepatan. Terkadang pencerahan ditemukan dalam jeda yang tak terduga. Perjalanan ini menegaskan kembali apa yang dikatakan banyak orang bijak: tujuan akhir dari setiap perjalanan di Bali bukanlah sebuah tempat, melainkan keadaan batin.

Mesin telah dimatikan, namun perjalanan di dalam diri terus berlanjut. Sebab, seperti sebuah pepatah tua, “Kau bisa membersihkan pasir dari sepatumu, tapi Bali tidak akan pernah meninggalkan jiwamu”. Debu jalanan, gema mitos, dan keheningan yang ditemukan di tengah kemacetan itu kini telah menjadi bagian dari jiwa.  [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Gerak-gerik Budaya Bali
Tags: baliJalanjalan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Sampai Masyarakat Batur “Rarud” Akibat Arus Modal

Next Post

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  -- Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co