23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengakrabi Bali via Jalanan

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 5, 2025
in Esai
Mengakrabi Bali via Jalanan

Ilustrasi jalanan di Bali by Imagen

Mengakrabi dinamika Bali dapat dimulai dengan menelusuri jalannya. Petualangan jalanan tanpa target jelas mengenalkan kita pada gerak sosial-ekonomi dari pinggiran aspal. Jalanan yang menghubungkan Gianyar, Badung, dan Denpasar menunjukkan denyut kehidupan, mitos, dan modernitas Bali. Melintasinya seperti ziarah tak sengaja, mengakrabi saksi bisu dari ribuan kisah yang bergerak setiap hari.

Perjalanan dimulai dari persimpangan di Desa Sakah, Gianyar. Di sana, di tengah riuh lalu lintas, duduk bersila sesosok bayi raksasa: Patung Bayi Sakah. Secara resmi bernama Sang Hyang Brahma Lelare, patung yang digagas mantan Bupati Gianyar, Cokorda Darana (1989). Ini titik nol metaforis. Patung ini sebagai pengingat, Gianyar ialah “roh” dan markas seniman Bali. Disini karya cipta seni diawali dengan karya cipta murni, mulai dari kecil kemudian besar dan berkembang.  

Penempatan patung bayi di sebuah persimpangan sibuk bukanlah kebetulan. Inilah intervensi budaya yang disengaja. Patung ini berfungsi sebagai gerbang filosofis bagi para pelancong untuk merenungkan asal-usul kreativitas sebelum mereka mengonsumsi produk-produknya di sepanjang jalan. Sebelum kita melihat kilau perak di Celuk atau detail ukiran di Desa Mas, kita dihadapkan pada sumbernya: kreativitas murni yang belum terbentuk, suci dan rentan seperti seorang bayi. Jalan raya ini dibingkai bukan sebagai jalur transit, melainkan ruang kontemplasi. Perjalanan ini bukan lagi sekadar tur belanja, melainkan partisipasi dalam sebuah siklus kreatif yang lebih besar.

Meninggalkan Sakah, jalanan menyempit dan denyutnya berubah. Rute galeri terbuka yang membentang puluhan kilometer, melewati pusat-pusat kerajinan legendaris: ukiran kayu di Desa Mas, perak di Desa Celuk, dan pasar seni di Sukawati. Di kiri dan kanan, etalase-etalase kaca memantulkan kilau perhiasan perak. Tumpukan topeng kayu menatap ke arah lalu lintas yang tak pernah berhenti. Ada artshop lukisan, ada pula jejeran patung kayu. Aroma dupa yang samar dari pekarangan rumah berbaur dengan asap knalpot, menciptakan sebuah parfum khas yang hanya bisa ditemukan di sini. Inilah permadani kehidupan sehari-hari, yang dilukis dengan kegembiraan sederhana.  

Jalanan juga jadi panggung bagi ekosistem kendaraan di Bali. Skuter matik mendominasi, menjadi pilihan favorit karena praktis, irit, dan mampu menembus kemacetan serta jalan-jalan sempit. Honda Scoopy dengan desain retronya yang lincah menyelinap di antara celah seperti para penari. Yamaha NMAX dan Honda PCX yang lebih besar melaju dengan gagah. Jangan heran jika berpapasan dengan Harley-Davidson. Mobil-mobil wisata bergerak lamban seperti paus di antara kawanan ikan kecil. Terkadang kita dapat menemui mobil mewah melintas. Setiap kendaraan memiliki perannya, mencerminkan struktur sosial dan ekonomi Bali yang terus bergerak.  

Di sepanjang koridor ini, sebuah paradoks yang indah terungkap. Di satu sisi jalan, di dalam sanggar-sanggar seni, para pengrajin bekerja dengan kesabaran yang nyaris meditatif, menciptakan karya yang membutuhkan waktu berhari-hari. Di sisi lain, di atas aspal, berlangsung sebuah tarian kecepatan dan efisiensi di mana setiap detik terasa berharga. Jalan raya ini adalah titik temu antara Bali yang lestari dan Bali yang tergesa-gesa. Pengalaman berkendara di sini, kita dapat merasakan ketegangan produktif antara dua dunia tersebut secara langsung.

Epik di Persimpangan Modernitas

Semakin mendekati Denpasar, jalanan melebar di Jalan Bypass Ngurah Rai. Lanskap berubah menjadi lebih urban. Di sinilah, di tengah sebuah bundaran yang sibuk, sebuah narasi agung berdiri kokoh: Patung Titi Banda. Patung monumental karya I Wayan Winten ini menggambarkan adegan epos Ramayana. Kita saksikan Rama, dibantu oleh pasukan kera pimpinan Hanoman, membangun jembatan untuk menyelamatkan Sinta dari cengkeraman Rahwana. Patung ini merupakan perwujudan nilai kegotongroyongan, kesetiaan, dan kepemimpinan dalam memperjuangkan kebajikan.

Ke selatan, dekat Bandara Ngurah Rai, kita disambut oleh sang pelindung: Patung Satria Gatotkaca. Gatotkaca, ksatria sakti yang mampu terbang, simbol keberanian dan kekuatan. Masyarakat Bali percaya patung ini memberikan perlindungan spiritual bagi para pelancong yang datang dan pergi. Enam kuda yang menarik kereta perangnya bukanlah sekadar hiasan. Kuda itu ialah simbol dari Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia (nafsu, serakah, marah, mabuk, iri, dan bingung) yang harus dikendalikan.  

Rangkaian patung di sepanjang rute ini tanpa sadar membentuk sebuah narasi perjalanan pahlawan. Perjalanan dimulai dengan kelahiran dan potensi murni (Bayi Sakah), dilanjutkan dengan menghadapi tantangan besar yang membutuhkan kerja sama (Titi Banda), dan diakhiri dengan perwujudan kekuatan heroik setelah melewati ujian (Gatotkaca). Pengemudi di jalan ini bukan hanya berpindah dari titik A ke B, tetapi secara simbolis menapaki kembali arketipe mitologis ini. Jalan raya ini telah menjadi sebuah teks mitologis yang terukir dalam lanskap.

Meditasi dalam Kemacetan

Lalu, mesin berhenti. Roda tak lagi berputar. Macet. Penyakit perkotaan yang disebabkan pembangunan masif dan ledakan pariwisata. Macet juga bagian tak terpisahkan dari perjalanan. Awalnya, ada rasa frustrasi. Klakson bersahutan. Namun, jika kita memilih untuk menyerah pada jeda ini, perspektif pun berubah. Kendaraan bukan lagi alat transportasi, melainkan sebuah ruang observasi yang intim.  

Di tengah lautan kendaraan yang tak bergerak, detail-detail kecil yang tadinya luput kini menjadi fokus. Ekspresi lelah di wajah pengendara motor di sebelah. Tetesan keringat supir mobil pickup. Permainan cahaya matahari pada dasbor yang berdebu. Kemacetan, dalam konteks ini, menjadi sebuah upacara modern yang tak terelakkan. Kemacetan pun jadi sebuah ritual penantian kolektif.  

Jalanan pun jadi penyetara agung. Turis di dalam mobil ber-AC, pemandu lokal, pekerja kantoran, dan pengemudi ojek online, semuanya dipaksa masuk ke dalam kondisi yang sama: menunggu. Batasan sosial untuk sementara waktu larut dalam pengalaman bersama yang universal ini. Ini bukan lagi waktu yang terbuang, melainkan waktu yang ditemukan. Kesempatan langka untuk mengamati mikrokosmos warga Bali dalam keadaan diam yang dipaksakan. Ini momen untuk menemui kehidupan secara berbeda.  

Perjalanan di arteri Gianyar-Badung-Denpasar akhirnya berakhir, namun jejaknya menetap. Petualangan mengajarkan sebuah filosofi jalanan. Bahwa di pulau ini, mitos tidak mati, malah hidup dan bernapas di persimpangan jalan. Bahwa kemajuan tidak selalu berarti kecepatan. Terkadang pencerahan ditemukan dalam jeda yang tak terduga. Perjalanan ini menegaskan kembali apa yang dikatakan banyak orang bijak: tujuan akhir dari setiap perjalanan di Bali bukanlah sebuah tempat, melainkan keadaan batin.

Mesin telah dimatikan, namun perjalanan di dalam diri terus berlanjut. Sebab, seperti sebuah pepatah tua, “Kau bisa membersihkan pasir dari sepatumu, tapi Bali tidak akan pernah meninggalkan jiwamu”. Debu jalanan, gema mitos, dan keheningan yang ditemukan di tengah kemacetan itu kini telah menjadi bagian dari jiwa.  [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Gerak-gerik Budaya Bali
Tags: baliJalanjalan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Sampai Masyarakat Batur “Rarud” Akibat Arus Modal

Next Post

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  -- Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co