2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengakrabi Bali via Jalanan

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 5, 2025
in Esai
Mengakrabi Bali via Jalanan

Ilustrasi jalanan di Bali by Imagen

Mengakrabi dinamika Bali dapat dimulai dengan menelusuri jalannya. Petualangan jalanan tanpa target jelas mengenalkan kita pada gerak sosial-ekonomi dari pinggiran aspal. Jalanan yang menghubungkan Gianyar, Badung, dan Denpasar menunjukkan denyut kehidupan, mitos, dan modernitas Bali. Melintasinya seperti ziarah tak sengaja, mengakrabi saksi bisu dari ribuan kisah yang bergerak setiap hari.

Perjalanan dimulai dari persimpangan di Desa Sakah, Gianyar. Di sana, di tengah riuh lalu lintas, duduk bersila sesosok bayi raksasa: Patung Bayi Sakah. Secara resmi bernama Sang Hyang Brahma Lelare, patung yang digagas mantan Bupati Gianyar, Cokorda Darana (1989). Ini titik nol metaforis. Patung ini sebagai pengingat, Gianyar ialah “roh” dan markas seniman Bali. Disini karya cipta seni diawali dengan karya cipta murni, mulai dari kecil kemudian besar dan berkembang.  

Penempatan patung bayi di sebuah persimpangan sibuk bukanlah kebetulan. Inilah intervensi budaya yang disengaja. Patung ini berfungsi sebagai gerbang filosofis bagi para pelancong untuk merenungkan asal-usul kreativitas sebelum mereka mengonsumsi produk-produknya di sepanjang jalan. Sebelum kita melihat kilau perak di Celuk atau detail ukiran di Desa Mas, kita dihadapkan pada sumbernya: kreativitas murni yang belum terbentuk, suci dan rentan seperti seorang bayi. Jalan raya ini dibingkai bukan sebagai jalur transit, melainkan ruang kontemplasi. Perjalanan ini bukan lagi sekadar tur belanja, melainkan partisipasi dalam sebuah siklus kreatif yang lebih besar.

Meninggalkan Sakah, jalanan menyempit dan denyutnya berubah. Rute galeri terbuka yang membentang puluhan kilometer, melewati pusat-pusat kerajinan legendaris: ukiran kayu di Desa Mas, perak di Desa Celuk, dan pasar seni di Sukawati. Di kiri dan kanan, etalase-etalase kaca memantulkan kilau perhiasan perak. Tumpukan topeng kayu menatap ke arah lalu lintas yang tak pernah berhenti. Ada artshop lukisan, ada pula jejeran patung kayu. Aroma dupa yang samar dari pekarangan rumah berbaur dengan asap knalpot, menciptakan sebuah parfum khas yang hanya bisa ditemukan di sini. Inilah permadani kehidupan sehari-hari, yang dilukis dengan kegembiraan sederhana.  

Jalanan juga jadi panggung bagi ekosistem kendaraan di Bali. Skuter matik mendominasi, menjadi pilihan favorit karena praktis, irit, dan mampu menembus kemacetan serta jalan-jalan sempit. Honda Scoopy dengan desain retronya yang lincah menyelinap di antara celah seperti para penari. Yamaha NMAX dan Honda PCX yang lebih besar melaju dengan gagah. Jangan heran jika berpapasan dengan Harley-Davidson. Mobil-mobil wisata bergerak lamban seperti paus di antara kawanan ikan kecil. Terkadang kita dapat menemui mobil mewah melintas. Setiap kendaraan memiliki perannya, mencerminkan struktur sosial dan ekonomi Bali yang terus bergerak.  

Di sepanjang koridor ini, sebuah paradoks yang indah terungkap. Di satu sisi jalan, di dalam sanggar-sanggar seni, para pengrajin bekerja dengan kesabaran yang nyaris meditatif, menciptakan karya yang membutuhkan waktu berhari-hari. Di sisi lain, di atas aspal, berlangsung sebuah tarian kecepatan dan efisiensi di mana setiap detik terasa berharga. Jalan raya ini adalah titik temu antara Bali yang lestari dan Bali yang tergesa-gesa. Pengalaman berkendara di sini, kita dapat merasakan ketegangan produktif antara dua dunia tersebut secara langsung.

Epik di Persimpangan Modernitas

Semakin mendekati Denpasar, jalanan melebar di Jalan Bypass Ngurah Rai. Lanskap berubah menjadi lebih urban. Di sinilah, di tengah sebuah bundaran yang sibuk, sebuah narasi agung berdiri kokoh: Patung Titi Banda. Patung monumental karya I Wayan Winten ini menggambarkan adegan epos Ramayana. Kita saksikan Rama, dibantu oleh pasukan kera pimpinan Hanoman, membangun jembatan untuk menyelamatkan Sinta dari cengkeraman Rahwana. Patung ini merupakan perwujudan nilai kegotongroyongan, kesetiaan, dan kepemimpinan dalam memperjuangkan kebajikan.

Ke selatan, dekat Bandara Ngurah Rai, kita disambut oleh sang pelindung: Patung Satria Gatotkaca. Gatotkaca, ksatria sakti yang mampu terbang, simbol keberanian dan kekuatan. Masyarakat Bali percaya patung ini memberikan perlindungan spiritual bagi para pelancong yang datang dan pergi. Enam kuda yang menarik kereta perangnya bukanlah sekadar hiasan. Kuda itu ialah simbol dari Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia (nafsu, serakah, marah, mabuk, iri, dan bingung) yang harus dikendalikan.  

Rangkaian patung di sepanjang rute ini tanpa sadar membentuk sebuah narasi perjalanan pahlawan. Perjalanan dimulai dengan kelahiran dan potensi murni (Bayi Sakah), dilanjutkan dengan menghadapi tantangan besar yang membutuhkan kerja sama (Titi Banda), dan diakhiri dengan perwujudan kekuatan heroik setelah melewati ujian (Gatotkaca). Pengemudi di jalan ini bukan hanya berpindah dari titik A ke B, tetapi secara simbolis menapaki kembali arketipe mitologis ini. Jalan raya ini telah menjadi sebuah teks mitologis yang terukir dalam lanskap.

Meditasi dalam Kemacetan

Lalu, mesin berhenti. Roda tak lagi berputar. Macet. Penyakit perkotaan yang disebabkan pembangunan masif dan ledakan pariwisata. Macet juga bagian tak terpisahkan dari perjalanan. Awalnya, ada rasa frustrasi. Klakson bersahutan. Namun, jika kita memilih untuk menyerah pada jeda ini, perspektif pun berubah. Kendaraan bukan lagi alat transportasi, melainkan sebuah ruang observasi yang intim.  

Di tengah lautan kendaraan yang tak bergerak, detail-detail kecil yang tadinya luput kini menjadi fokus. Ekspresi lelah di wajah pengendara motor di sebelah. Tetesan keringat supir mobil pickup. Permainan cahaya matahari pada dasbor yang berdebu. Kemacetan, dalam konteks ini, menjadi sebuah upacara modern yang tak terelakkan. Kemacetan pun jadi sebuah ritual penantian kolektif.  

Jalanan pun jadi penyetara agung. Turis di dalam mobil ber-AC, pemandu lokal, pekerja kantoran, dan pengemudi ojek online, semuanya dipaksa masuk ke dalam kondisi yang sama: menunggu. Batasan sosial untuk sementara waktu larut dalam pengalaman bersama yang universal ini. Ini bukan lagi waktu yang terbuang, melainkan waktu yang ditemukan. Kesempatan langka untuk mengamati mikrokosmos warga Bali dalam keadaan diam yang dipaksakan. Ini momen untuk menemui kehidupan secara berbeda.  

Perjalanan di arteri Gianyar-Badung-Denpasar akhirnya berakhir, namun jejaknya menetap. Petualangan mengajarkan sebuah filosofi jalanan. Bahwa di pulau ini, mitos tidak mati, malah hidup dan bernapas di persimpangan jalan. Bahwa kemajuan tidak selalu berarti kecepatan. Terkadang pencerahan ditemukan dalam jeda yang tak terduga. Perjalanan ini menegaskan kembali apa yang dikatakan banyak orang bijak: tujuan akhir dari setiap perjalanan di Bali bukanlah sebuah tempat, melainkan keadaan batin.

Mesin telah dimatikan, namun perjalanan di dalam diri terus berlanjut. Sebab, seperti sebuah pepatah tua, “Kau bisa membersihkan pasir dari sepatumu, tapi Bali tidak akan pernah meninggalkan jiwamu”. Debu jalanan, gema mitos, dan keheningan yang ditemukan di tengah kemacetan itu kini telah menjadi bagian dari jiwa.  [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Gerak-gerik Budaya Bali
Tags: baliJalanjalan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Sampai Masyarakat Batur “Rarud” Akibat Arus Modal

Next Post

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  -- Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co