2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerak-gerik Budaya Bali

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 1, 2025
in Esai
Gerak-gerik Budaya Bali

Dinamika budaya Bali by Imagen

BUDAYA Bali terus bergerak. Selalu dinamis. Bali berada di simpul cair dalam jaringan dunia, tempat arus manusia, modal, citra, dan gagasan bertemu, berbenturan, dan mencipta. Pagi di Pejeng adalah hening canang sari. Di Canggu, pagi adalah pijar layar laptop yang menyala bagi para pengembara digital, denyutnya terhubung ke zona waktu yang lain. Di sinilah Bali menjadi panggung bagi sebuah drama global: pertarungan antara penyeragaman dan perbanyakan budaya.

Banyak yang khawatir globalisasi akan melahirkan dunia yang seragam, sebuah kebosanan global. Namun, Bali menolak ramalan itu. Di sini, yang terjadi bukanlah homogenisasi, melainkan heterogenisasi. Kelahiran bentuk-bentuk budaya hibrida, lahir dari percakapan sengit antara yang global dan yang lokal.

Mari kita tengok pergerakan budaya Bali lewat kacamata Arjun Appadurai. Baginya, arus global terbagi menjadi ethnoscape (manusia), technoscapes (teknologi), financescapes (modal), mediascapes (citra), dan ideoscapes (gagasan). Kuncinya pada diskoneksi, disjuncture. Kelima arus ini tidak bergerak serempak. Arus itu mengalir dengan kecepatan dan arah yang berbeda, sering kali saling bertabrakan. Gesekan inilah mesinnya. Dari benturan lahir denyut budaya Bali: dinamis, berpacu, dan selalu baru.

Peta Manusia yang Berubah

Manusia adalah arus pertama. Ethnoscape. Lanskap manusia yang terus bergerak ini terdiri dari turis, imigran, pekerja, dan para pelintas batas. Di Bali, arus ini pecah menjadi beberapa aliran. Di jantung Gianyar, turis spiritual datang mencari keheningan. Mereka mengejar citra Bali yang dijual oleh media global: surga untuk penyembuhan jiwa. Di pesisir Canggu, nomaden digital berlabuh. Mereka hidup dari koneksi internet, mencari keseimbangan gaya hidup dalam budaya kerja global. Lalu ada ekspatriat dan investor, pemain jangka panjang yang menancapkan akar di lanskap sosial Bali.

Tiga arus manusia ini menempati ruang yang sama namun dengan mimpi yang berbeda. Gesekan pun tak terhindarkan. Di Canggu, modal asing para nomaden menaikkan harga tanah. Sawah menghilang, tergusur vila. Penduduk lokal terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Inilah wujud nyata dari diskoneksi: daya beli global berbenturan dengan tatanan ekonomi lokal.

Benturan juga terjadi dalam adat. Gaya hidup kaum pendatang (pesta, kebisingan, kebebasan individu) menantang norma komunal Bali yang hening dan sakral. Petisi 8.000 warga Canggu yang muak dengan polusi suara adalah bukti perlawanan. Di sini, ideoscapes kebebasan personal dari Barat bertabrakan dengan ideoscapes harmoni komunal Bali.

Kode, Modal, dan Beton

Teknologi dan modal adalah urat nadi kembar globalisasi. Technoscapes dan financescapes mengalir cepat, tak terlihat, sering kali lepas dari kendali manusia. Di Bali, keduanya mengubah wajah pulau secara radikal.

Lihatlah jalanan. Aplikasi seperti Gojek dan Grab datang membawa kode algoritma. Keduanya menawarkan efisiensi dan harga pasti. Namun, teknologi ini menghantam sistem transportasi lokal yang berbasis komunitas dan teritori. “Zona larangan” muncul sebagai benteng pertahanan. Ketegangan muncul. Inilah perang antara teknologi tanpa batas dan ekonomi lokal yang terikat pada ruang. Pada akhirnya, kode menang, mengubah cara orang bergerak dan mencari nafkah.

Lihatlah tanah. Modal global membanjiri pasar properti Bali. Uang bisa melintasi dunia dalam sedetik, buta terhadap hukum dan adat setempat. Undang-undang Indonesia melarang asing memiliki tanah, namun derasnya modal menciptakan pasar gelap “nominee”. Investor asing menumpang nama lokal, sebuah pertaruhan berisiko tinggi.

Teknologi mempercepat proses ini. Platform seperti Airbnb mengubah rumah menjadi mesin uang, mendorong konversi sawah menjadi vila beton. Sawah ikonik Bali pun tergusur. Diskoneksi di sini begitu telanjang: modal dan teknologi yang cair dan tak terbatas melawan tanah yang terikat oleh hukum, adat, dan spiritualitas. Dari gesekan ini lahir ekonomi, tetapi juga konflik dan lanskap yang terluka.

Pertarungan Citra di Pulau Surga

Citra dan gagasan adalah arus yang tak kalah kuat. Mediascapes dan ideoscapes membangun “dunia yang dibayangkan” yang mendorong manusia bergerak. Selama puluhan tahun, media global melukis Bali sebagai surga nan indah. Sebuah fantasi spiritual yang dikukuhkan oleh buku dan film Eat, Pray, Love.

Citra ini melahirkan sebuah ideologi: Bali adalah tempat menemukan diri, menyembuhkan luka. Ideologi ini menarik para turis spiritual ke Ubud. Sementara itu, ideologi lain tentang kebebasan digital dan hidup seimbang mengalir deras di media sosial. Undangan indah bagi para nomaden digital ke Canggu. Bali menjadi layar proyeksi bagi mimpi-mimpi dunia.

Namun, orang Bali tidak diam. Mereka melawan dengan gagasan sendiri: Tri Hita Karana. Filosofi ini jadi perisai. Tiga penyebab kesejahteraan: harmoni dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Dalam dunia modern, Tri Hita Karana bukan lagi sekadar ajaran spiritual. Ia dibingkai ulang sebagai model pariwisata berkelanjutan, sebuah jawaban atas pembangunan yang hanya mengejar laba.

Maka, terjadilah perang imajinasi. Citra Bali yang dibayangkan dunia bertemu dengan dunia yang dibayangkan oleh orang Bali sendiri. Tesis global melahirkan masalah, yang dijawab dengan antitesis lokal.

Mengelola Arus Global, Simfoni yang Tak Usai

Arus global tidak pernah diterima secara pasif. Arus itu selalu “dijinakkan” atau di-indigenisasi: diserap, ditafsir ulang, dan dipadukan dengan logika lokal. Di sinilah heterogenisasi terjadi. Bali ahlinya.

Industri pariwisata wellness di Ubud adalah contoh sempurna. Praktik sakral Hindu-Bali seperti ritual penyucian Melukat atau membuat sesajen canang sari, dikemas ulang menjadi produk yang bisa dibeli turis. Melukat menjadi sesi detoks spiritual. Canang sari menjadi lokakarya budaya. Ini bukan penghapusan, melainkan transformasi. Budaya diadaptasi agar selamat secara ekonomi, melahirkan lanskap spiritual-komersial yang baru.

Di garis depan negosiasi ini berdiri para seniman kontemporer Bali. Mereka tidak menolak dunia. Mereka meminjam bahasa seni global untuk mengkritik perubahan di tanah mereka. Seniman seperti I Wayan Bendi menggunakan kuas dan kanvas untuk membedah disjungsi yang terjadi. Ini bukanlah penyerahan diri pada budaya luar, melainkan artikulasi perlawanan yang cerdas dan dinamis.

Gesekan di antara arus-arus yang tak selaras itu kemudian jadi sumber kehidupan budaya Bali. Konflik antara pendatang dan penduduk lokal, antara aplikasi dan adat, antara beton dan sawah. Semua itu bukanlah tanda kematian. Justru dari sanalah lahir bentuk-bentuk perdebatan dan kesadaran diri yang baru.

Bali tak jadi seragam. Bali telah menjadi ruang di mana begitu banyak “dunia yang dibayangkan” hidup berdampingan, sering kali dalam ketegangan. Ada dunia mimpi para pencari spiritual, para nomaden digital, dan para investor. Dan yang terpenting, ada dunia yang dibayangkan oleh orang Bali sendiri, yang terus-menerus merundingkan masa depannya.

Budaya Bali hari ini membuktikan globalisasi bukanlah jalan satu arah menuju kesamaan. Diskoneksi dan perbedaan justru mampu melahirkan lanskap kreativitas budaya yang dalam, menantang, dan tak pernah usai. [T]

Daftar Pustaka

Ardhana, I Ketut, dkk. 2012. Komodifikasi Identitas Bali Kontemporer. Pustaka Larasan: Denpasar.

Appadurai, Arjun. 1986. The Social Life of Things: Commodities in Cultural Perspective. Cambridge: Cambridge University Press.

Appadurai, Arjun. 1990. “Disjuncture and Difference in the Global Cultural Economy” dalam Theory, Culture, and Society. London, Newbury Park and New Delhi: SAGE Publication.

Tags: BudayaBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahasa Masyarakat Vernakular yang Kian Terpinggirkan

Next Post

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co