22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 2, 2025
in Esai
“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

KOTA Denpasar dini hari. Tak ada kehidupan, orang-orang sudah tertidur lelap. Sebagian besar jalanan sudah sepi. Ditambah lagi dengan situasi ekonomi yang tidak menentu; angka pertumbuhan ekonomi menurun.Banyak orang susah. Bayang-bayang PHK di mana-mana. Masih bekerja saja sudah syukur. Malam kota Denpasar mengingatkan saya pada satu kata, yakni, tenget.

Dalam bahasa Bali tenget artinya angker, keramat, wingit; sesuatu yang membuat kita berhati-hati dan penuh rasa hormat. Bagi masyarakat Bali, kata ini tidak sekadar soal rasa takut, tetapi tentang kesadaran bahwa ada sesuatu yang tak kasatmata, sesuatu yang sakral dan harus dihormati. Tempat-tempat tertentu disebut tenget karena diyakini ada kekuatan spiritual di dalamnya. Ada pura, pohon beringin, atau persimpangan jalan yang dianggap “tenget”. Kita diajarkan untuk permisi, nyelang margi, sebelum melintasinya.

Banyak dari kita menganggap tenget itu identik dengan desa, padahal tidak. Justru di kota, hidup terasa tenget. Di desa, masyarakat sudah terbiasa hidup beriringan dengan tempat-tempat keramat, dengan “niskala” yang menyelimuti keseharian. Di kota, tenget datang bukan dari pohon besar, bukan dari pura tua, bukan dari roh leluhur.

Di kota, tenget lahir dari jiwa manusia; persaingan antar tetangga, saling membicarakan orang lain di belakang, rasa iri dan dengki, tak mau “dikalahkan”, aturan sosial yang mengekang kebebasan individu. Budaya dan cara hidup yang seragam (dan diseragamkan) membuat jiwa-jiwa kreatif dan pemberontak seperti seniman, penulis, penyair merasa hidup di kota kering dan hampa. Tenget

Di jalan-jalan kota, kita melihat wajah-wajah yang jarang tersenyum. Logika dan cara pikir “lu jual, gua beli” menjadikan hubungan antarmanusia begitu transaksional. Kota menjelma pasar raksasa, bukan rumah bagi jiwa. Segalanya dihitung, dinegosiasikan, dinilai dengan uang. Keakraban berubah menjadi modal sosial yang penuh perhitungan.

Sebaliknya, di desa—walau kini makin terkikis—kepolosan dan “kebaikan” masih bisa kita temui. Tak semua hal dimaknai dengan uang. Masih ada rasa gotong-royong dan tolong-menolong yang tulus. Warga datang membantu tetangga tanpa pamrih. Ritual adat masih menjadi perekat sosial, bukan beban semata.

Namun hidup di desa meskipun terasa damai, upah pekerja kecil. Padahal upah minimum kabupaten telah ada dan ditetapkan setiap tahun. Masih banyak pengusaha yang belum mampu membayar pekerja dengan layak sesuai aturan pemerintah. Ada yang mampu, tapi membandel, tak mau menaati peraturan.

Jadi sesungguhnya tak ada yang “tenget” di desa meskipun banyak tempat angker dan sakral. Warga desa telah terbiasa dengan itu. Mereka hidup berdampingan dengan pohon besar, kuburan tua, atau pura kecil di sudut banjar tanpa merasa terancam. “Tenget” bagi mereka adalah bagian alamiah dari hidup. Mereka tahu cara berhubungan dengan yang tak kasatmata dengan hormat, dengan banten, dengan doa.

Di kota, tenget kebanyakan berasal dari manusia yang beragam budaya, cara pikir, dan cara hidup. Pendapatan minim, tapi gaya selangit. Miskin tapi belagu, meminjam ungkapan khas Betawi. Lebih suka mengurusi kehidupan orang lain daripada mengurusi diri dan keluarga. Mulut-mulut yang gemar bergosip dan bergunjing; seakan diri mereka paling suci dan baik. Inilah “roh halus” kota yang sebenarnya—bukan makhluk gaib, melainkan atmosfer sosial yang menyesakkan dada.

Zaman edan? Mungkin saja. Hanya sikap “eling lan waspada” yang akan bisa menyelamatkan manusia dari kegilaan ini, mengutip syair pujangga asal Jawa, Ronggowarsito, berabad-abad lalu. Tenget itu  hidup yang kebanyakan aturan. Manusia sekarang suka merumit-rumitkan sesuatu yang sebenarnya bisa disederhanakan. Akhirnya pusing sendiri, mirip jaring laba-laba yang menyesatkan pembuatnya.

Di kota, tenget hadir juga lewat arsitektur dan tata ruang. Beton dan aspal menutup tanah, pohon-pohon ditebang, ruang hijau menyusut. Kota menjadi panas, bising, dan asing. Tidak ada tempat untuk “napas”. Tidak ada jeda bagi jiwa. Rumah-rumah bersekat tinggi, apartemen-apartemen yang menelan privasi. Bahkan tetangga pun tak saling mengenal. Inilah “angker” baru, keterasingan di tengah keramaian.

Sementara itu, pusat perbelanjaan dibangun megah dengan kaca-kaca mengilap. Tapi di balik kilau itu, ada para pekerja bergaji pas-pasan, buruh kontrak yang mudah di-PHK, pengemudi ojek daring yang berdesakan menunggu order. Mereka adalah arwah-arwah hidup yang gentayangan di malam kota. Mereka pulang larut dengan wajah letih, menanggung hutang dan tuntutan keluarga. Bukankah ini juga tenget?

Bahkan media sosial memperkuat aura tenget di kota. Orang-orang memamerkan gaya hidup, pencapaian, liburan, barang-barang baru. Yang melihat merasa tertinggal, iri, atau tertekan. Kota menjadi panggung besar penuh ilusi, tempat orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik, padahal hatinya rapuh. Senyum palsu tak hanya di wajah, tapi juga di layar ponsel.

Desa memang tidak suci dari masalah. Politik uang merambah banjar, budaya konsumtif menyelinap lewat televisi dan gawai. Tapi ritme hidupnya masih memberi ruang bagi pertemuan yang tulus, untuk bertatap muka tanpa perantara layar. Tenget di desa masih “klasik”; pohon tua, kuburan, pura kecil. Sementara tenget di kota adalah modern; persaingan, kesepian, dan tekanan sosial.

Karena itu, kita perlu mendefinisikan ulang “tenget”. Ia tidak lagi sekadar soal tempat keramat, tetapi atmosfer sosial yang menakutkan. Ia bukan sekadar soal niskala, tetapi soal sekala kebijakan kota yang menyingkirkan ruang publik, sistem ekonomi yang menekan rakyat kecil, gaya hidup yang memuja citra di atas substansi.

Jika di desa tenget membuat orang berdoa dan berperilaku hormat, di kota tenget justru membuat orang keras hati, apatis, dan paranoid. Orang takut ditipu, takut disalip, takut kalah. Orang menutup pintu rumah rapat-rapat, memasang CCTV, mengunci diri. Sementara di desa, orang masih bisa menitip pesan pada tetangga, meninggalkan pintu terbuka.

Apakah kita harus kembali ke desa? Tidak juga. Tapi kita bisa belajar dari desa tentang kesederhanaan, tentang gotong-royong, tentang hidup berdampingan. Kita bisa membawa nilai-nilai itu ke kota, mengikis aura tenget yang kita ciptakan sendiri.

Mungkin kita juga harus mengubah cara pandang menganggap kota bukan sebagai arena perang, tetapi sebagai rumah bersama. Mengembalikan ruang publik, ruang hijau, dan budaya saling menyapa. Membuka diri untuk kejujuran dan solidaritas. Tidak mudah, tetapi tanpa itu, kota hanya akan menjadi tempat berhantu—tenget dalam arti yang paling mencekam.

Dan pada akhirnya, seperti kata leluhur, semua kembali ke sikap batin kita sendiri. Tenget akan tetap ada di mana-mana selama kita memeliharanya dalam hati iri, dengki, serakah, pura-pura baik. Tapi tenget juga bisa sirna bila kita mengisinya dengan ketulusan, kejujuran, dan kesadaran. Kota pun bisa terasa teduh dan suci, meski penuh beton. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: desagaya hidupKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerak-gerik Budaya Bali

Next Post

Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co