12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 2, 2025
in Esai
“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

KOTA Denpasar dini hari. Tak ada kehidupan, orang-orang sudah tertidur lelap. Sebagian besar jalanan sudah sepi. Ditambah lagi dengan situasi ekonomi yang tidak menentu; angka pertumbuhan ekonomi menurun.Banyak orang susah. Bayang-bayang PHK di mana-mana. Masih bekerja saja sudah syukur. Malam kota Denpasar mengingatkan saya pada satu kata, yakni, tenget.

Dalam bahasa Bali tenget artinya angker, keramat, wingit; sesuatu yang membuat kita berhati-hati dan penuh rasa hormat. Bagi masyarakat Bali, kata ini tidak sekadar soal rasa takut, tetapi tentang kesadaran bahwa ada sesuatu yang tak kasatmata, sesuatu yang sakral dan harus dihormati. Tempat-tempat tertentu disebut tenget karena diyakini ada kekuatan spiritual di dalamnya. Ada pura, pohon beringin, atau persimpangan jalan yang dianggap “tenget”. Kita diajarkan untuk permisi, nyelang margi, sebelum melintasinya.

Banyak dari kita menganggap tenget itu identik dengan desa, padahal tidak. Justru di kota, hidup terasa tenget. Di desa, masyarakat sudah terbiasa hidup beriringan dengan tempat-tempat keramat, dengan “niskala” yang menyelimuti keseharian. Di kota, tenget datang bukan dari pohon besar, bukan dari pura tua, bukan dari roh leluhur.

Di kota, tenget lahir dari jiwa manusia; persaingan antar tetangga, saling membicarakan orang lain di belakang, rasa iri dan dengki, tak mau “dikalahkan”, aturan sosial yang mengekang kebebasan individu. Budaya dan cara hidup yang seragam (dan diseragamkan) membuat jiwa-jiwa kreatif dan pemberontak seperti seniman, penulis, penyair merasa hidup di kota kering dan hampa. Tenget

Di jalan-jalan kota, kita melihat wajah-wajah yang jarang tersenyum. Logika dan cara pikir “lu jual, gua beli” menjadikan hubungan antarmanusia begitu transaksional. Kota menjelma pasar raksasa, bukan rumah bagi jiwa. Segalanya dihitung, dinegosiasikan, dinilai dengan uang. Keakraban berubah menjadi modal sosial yang penuh perhitungan.

Sebaliknya, di desa—walau kini makin terkikis—kepolosan dan “kebaikan” masih bisa kita temui. Tak semua hal dimaknai dengan uang. Masih ada rasa gotong-royong dan tolong-menolong yang tulus. Warga datang membantu tetangga tanpa pamrih. Ritual adat masih menjadi perekat sosial, bukan beban semata.

Namun hidup di desa meskipun terasa damai, upah pekerja kecil. Padahal upah minimum kabupaten telah ada dan ditetapkan setiap tahun. Masih banyak pengusaha yang belum mampu membayar pekerja dengan layak sesuai aturan pemerintah. Ada yang mampu, tapi membandel, tak mau menaati peraturan.

Jadi sesungguhnya tak ada yang “tenget” di desa meskipun banyak tempat angker dan sakral. Warga desa telah terbiasa dengan itu. Mereka hidup berdampingan dengan pohon besar, kuburan tua, atau pura kecil di sudut banjar tanpa merasa terancam. “Tenget” bagi mereka adalah bagian alamiah dari hidup. Mereka tahu cara berhubungan dengan yang tak kasatmata dengan hormat, dengan banten, dengan doa.

Di kota, tenget kebanyakan berasal dari manusia yang beragam budaya, cara pikir, dan cara hidup. Pendapatan minim, tapi gaya selangit. Miskin tapi belagu, meminjam ungkapan khas Betawi. Lebih suka mengurusi kehidupan orang lain daripada mengurusi diri dan keluarga. Mulut-mulut yang gemar bergosip dan bergunjing; seakan diri mereka paling suci dan baik. Inilah “roh halus” kota yang sebenarnya—bukan makhluk gaib, melainkan atmosfer sosial yang menyesakkan dada.

Zaman edan? Mungkin saja. Hanya sikap “eling lan waspada” yang akan bisa menyelamatkan manusia dari kegilaan ini, mengutip syair pujangga asal Jawa, Ronggowarsito, berabad-abad lalu. Tenget itu  hidup yang kebanyakan aturan. Manusia sekarang suka merumit-rumitkan sesuatu yang sebenarnya bisa disederhanakan. Akhirnya pusing sendiri, mirip jaring laba-laba yang menyesatkan pembuatnya.

Di kota, tenget hadir juga lewat arsitektur dan tata ruang. Beton dan aspal menutup tanah, pohon-pohon ditebang, ruang hijau menyusut. Kota menjadi panas, bising, dan asing. Tidak ada tempat untuk “napas”. Tidak ada jeda bagi jiwa. Rumah-rumah bersekat tinggi, apartemen-apartemen yang menelan privasi. Bahkan tetangga pun tak saling mengenal. Inilah “angker” baru, keterasingan di tengah keramaian.

Sementara itu, pusat perbelanjaan dibangun megah dengan kaca-kaca mengilap. Tapi di balik kilau itu, ada para pekerja bergaji pas-pasan, buruh kontrak yang mudah di-PHK, pengemudi ojek daring yang berdesakan menunggu order. Mereka adalah arwah-arwah hidup yang gentayangan di malam kota. Mereka pulang larut dengan wajah letih, menanggung hutang dan tuntutan keluarga. Bukankah ini juga tenget?

Bahkan media sosial memperkuat aura tenget di kota. Orang-orang memamerkan gaya hidup, pencapaian, liburan, barang-barang baru. Yang melihat merasa tertinggal, iri, atau tertekan. Kota menjadi panggung besar penuh ilusi, tempat orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik, padahal hatinya rapuh. Senyum palsu tak hanya di wajah, tapi juga di layar ponsel.

Desa memang tidak suci dari masalah. Politik uang merambah banjar, budaya konsumtif menyelinap lewat televisi dan gawai. Tapi ritme hidupnya masih memberi ruang bagi pertemuan yang tulus, untuk bertatap muka tanpa perantara layar. Tenget di desa masih “klasik”; pohon tua, kuburan, pura kecil. Sementara tenget di kota adalah modern; persaingan, kesepian, dan tekanan sosial.

Karena itu, kita perlu mendefinisikan ulang “tenget”. Ia tidak lagi sekadar soal tempat keramat, tetapi atmosfer sosial yang menakutkan. Ia bukan sekadar soal niskala, tetapi soal sekala kebijakan kota yang menyingkirkan ruang publik, sistem ekonomi yang menekan rakyat kecil, gaya hidup yang memuja citra di atas substansi.

Jika di desa tenget membuat orang berdoa dan berperilaku hormat, di kota tenget justru membuat orang keras hati, apatis, dan paranoid. Orang takut ditipu, takut disalip, takut kalah. Orang menutup pintu rumah rapat-rapat, memasang CCTV, mengunci diri. Sementara di desa, orang masih bisa menitip pesan pada tetangga, meninggalkan pintu terbuka.

Apakah kita harus kembali ke desa? Tidak juga. Tapi kita bisa belajar dari desa tentang kesederhanaan, tentang gotong-royong, tentang hidup berdampingan. Kita bisa membawa nilai-nilai itu ke kota, mengikis aura tenget yang kita ciptakan sendiri.

Mungkin kita juga harus mengubah cara pandang menganggap kota bukan sebagai arena perang, tetapi sebagai rumah bersama. Mengembalikan ruang publik, ruang hijau, dan budaya saling menyapa. Membuka diri untuk kejujuran dan solidaritas. Tidak mudah, tetapi tanpa itu, kota hanya akan menjadi tempat berhantu—tenget dalam arti yang paling mencekam.

Dan pada akhirnya, seperti kata leluhur, semua kembali ke sikap batin kita sendiri. Tenget akan tetap ada di mana-mana selama kita memeliharanya dalam hati iri, dengki, serakah, pura-pura baik. Tapi tenget juga bisa sirna bila kita mengisinya dengan ketulusan, kejujuran, dan kesadaran. Kota pun bisa terasa teduh dan suci, meski penuh beton. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: desagaya hidupKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerak-gerik Budaya Bali

Next Post

Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co