3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 2, 2025
in Esai
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK

Ilustrasi tatkala | Dibuat dengan Canva

ADA ungkapan lama yang tetap relevan hingga kini: Vox Populi, Vox Dei — suara rakyat adalah suara Tuhan. Ungkapan ini seolah menemukan momentumnya kembali saat tembok di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali akhirnya berhasil dirobohkan. Bukan karena kekuatan alat berat atau keberanian seorang tokoh tunggal, melainkan karena rakyat bersatu, pejabat pun tak berdaya.

Tembok yang menghalangi akses warga bukan sekadar susunan batu kapur, melainkan simbol dari kesombongan kekuasaan dan kecerobohan birokrasi. Ia berdiri menantang, seakan-akan menegaskan bahwa kepentingan segelintir lebih berharga daripada hak publik. Tetapi sejarah selalu berpihak pada yang berani bersuara. Saat elemen masyarakat Bali bersatu, suara itu menjadi gelombang yang tak tertahan. Pejabat yang semula diam, pura-pura tuli, akhirnya tak punya pilihan selain ikut mendengar. Tembok itu roboh — dan yang roboh bukan hanya fisiknya, tapi juga kesombongan segelintir pihak yang mencoba mengabaikan rakyat.

Nepal: Metafora yang Menakutkan

Kata “Nepal” dalam obrolan publik Bali beberapa waktu belakangan menjadi semacam sindiran politik. Artinya jelas: “NEgara PALing rusuh”. Nepal di sini adalah metafora bagi situasi chaos, sebuah kondisi di mana rakyat tak lagi percaya, lalu turun ke jalan dengan amarah. Mengapa bisa terjadi? Karena pejabat lebih sering nongol di layar kaca daripada hadir di hati rakyat, karena lebih rajin memoles citra ketimbang mendengar aspirasi. Joga sering “memongol” alias tidak mendengar aspirasi rakyat.

Robohnya tembok GWK adalah peringatan dini. Bahwa Bali tidak menginginkan Nepal. Bahwa Bali tidak sudi tanahnya yang suci berubah menjadi arena konflik berkepanjangan antara rakyat dan penguasa. Namun sekaligus menjadi pelajaran: bila pejabat tuli, rakyat bisa memaksa dengan bersatu.

Bali dan Memori Perlawanan

Sejarah Bali menyimpan banyak contoh bagaimana suara rakyat bisa menembus dinding kekuasaan. Satu yang patut dikenang adalah kasus rencana penggusuran Pura Rawamangun di Jakarta pada masa Orde Baru, sekitar tahun 1996. Saya turut serta dalam pertemuan dua hari berturut-turut di Ashram Gandhi Vidyapith milik Ibu Gedong Bagus Oka di Jalan Sudirman untuk merancang langkah perlawanan. Waktu itu, ancaman nyata sudah di depan mata. Namun masyarakat Bali tidak tinggal diam. Seluruh elemen bersatu, bahkan 15 tokoh penting rela terbang ke Jakarta untuk menghadap langsung.

Kehadiran mereka bukan sekadar simbol, tetapi tekad. Di balik tekanan rezim yang terkenal represif, mereka mampu mengetuk hati kekuasaan. Orde Baru, yang saat itu sulit ditaklukkan, bisa luluh. Pura Rawamangun pun selamat.

Itulah kekuatan suara rakyat yang benar-benar bulat. Kekompakan dan solidaritas melampaui rasa takut. Bukan hanya membela tempat suci, tetapi menjaga martabat dan harga diri sebagai umat yang tak bisa ditindas begitu saja.

Rakyat Bersatu, Pejabat Mati Kutu

Robohnya tembok GWK adalah kisah kontemporer dari warisan perlawanan itu. Masyarakat adat, tokoh budaya, aktivis, hingga warga biasa turun menyuarakan keberatan. Media sosial menjadi pengeras suara, opini publik menggema, dan akhirnya pejabat pun “mati kutu”, mau tak mau merspon suara rakyat, tak berani lagi berkelit atau “memongol.”

Ada semacam paradoks: ketika pejabat merasa kuat dengan segala perangkat kekuasaan, justru saat itulah mereka menjadi lemah bila berhadapan dengan rakyat yang bersatu. Tembok GWK tak akan roboh bila hanya satu dua orang yang melawan. Ia roboh karena kekuatan moral kolektif yang menembus dinding ketidakadilan.

Menggugah Kesadaran Pejabat

Kisah ini seharusnya menjadi cermin bagi pejabat di Bali maupun di seluruh Indonesia. Jangan sekali-kali mengabaikan suara rakyat. Jangan pernah menutup telinga. Sebab rakyat bukan sekadar objek pembangunan, mereka adalah subjek yang memiliki hak penuh atas ruang hidupnya. Dan pejabat sesungguhnya para manager yang digaji oleh rakyat untuk kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya.

Di tengah jargon pembangunan pariwisata dan investasi, kerap kali kepentingan masyarakat kecil terpinggirkan. Jalan ditutup, akses terganggu, pura dan tempat suci terancam, semua demi kepentingan segelintir. Bila pejabat terus-menerus tuli, maka rakyat akan mencari jalannya sendiri. Saat itulah “Nepal” yang ditakutkan bisa menjadi kenyataan.

Bali Membutuhkan Kebersamaan, Bukan Tembok

Bali selama ini dikenal bukan hanya karena keindahan alam dan budayanya, tetapi juga karena kekuatan solidaritasnya. Konsep menyama braya bukan slogan kosong, melainkan roh yang hidup dalam keseharian. Maka, pembangunan apa pun yang menyalahi roh itu pasti akan mendapat perlawanan.

Tembok yang berdiri di GWK sejatinya adalah antitesis dari roh Bali. Ia memisahkan, menghalangi, dan memutuskan hubungan. Maka ketika ia roboh, sesungguhnya yang berdiri kembali adalah nilai-nilai asli Bali: keterbukaan, kebersamaan, dan keseimbangan.

Refleksi Akhir: Suara Tuhan dalam Suara Rakyat

Robohnya tembok GWK bukan sekadar kemenangan lokal. Ia adalah pengingat universal bahwa suara rakyat tak boleh diremehkan. Ia adalah gema dari masa lalu, dari perlawanan menyelamatkan Pura Rawamangun hingga penolakan banyak bentuk ketidakadilan lainnya.

Kalau pejabat masih berlagak tuli, rakyat bisa memaksa. Kalau pejabat masih hanya nongol di acara seremonial tanpa menyerap aspirasi, rakyat bisa bersatu dan menunjukkan jalan yang benar. Dan sekali rakyat bersatu, tembok setinggi apa pun akan roboh.

Kita tidak menginginkan Nepal di Bali, apalagi di Indonesia. Yang kita inginkan adalah pejabat yang benar-benar hadir, yang mendengar, dan yang mau berjalan bersama rakyat. Karena sejatinya, dalam suara rakyatlah kita mendengar suara Tuhan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Agama dan Perilaku Korupsi: Sebuah Refleksi tentang Krisis Pendidikan
Tags: Garuda Wisnu Kencanaorang balirakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Next Post

Lupita Sari Dewi dan Andy Sri Wahyudi, Duo Wanara dengan Mahluk-mahluk Lain di Sekitarnya

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Lupita Sari Dewi dan Andy Sri Wahyudi, Duo Wanara dengan Mahluk-mahluk Lain di Sekitarnya

Lupita Sari Dewi dan Andy Sri Wahyudi, Duo Wanara dengan Mahluk-mahluk Lain di Sekitarnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co