12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Anselmus Dore Woho Atasoge by Anselmus Dore Woho Atasoge
August 4, 2025
in Ulas Pentas
Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Pementasan Ibu Tanah oleh Kelompok Nara Teater | Foto: Ist

ESAI ini menyelami pementasan Ibu Tanah oleh Kelompok Nara Teater sebagai peristiwa spiritual yang melampaui batas-batas seni. Teater di sini bukan sekadar medium ekspresi, melainkan ritus kontemplatif yang merawat ingatan kolektif, menyulam ulang relasi sakral antara manusia, tanah, dan mitos. Dalam lanskap sosiologi agama, pementasan ini merepresentasikan proses sakralisasi terhadap ruang profan, menghadirkan tanah sebagai tubuh spiritual yang mengandung hikmat leluhur serta martabat ekologi yang terancam oleh modernitas dan eksploitasi.

Dalam nyala simbol dan bayang mitologi Lamaholot, teater menjelma sebagai altar pembebasan. Di atas panggung, tubuh-tubuh aktor menjadi perpanjangan suara bumi yang terabaikan. Gerak mereka membentuk litani penderitaan dan doa atas lanskap yang dilukai oleh janji-janji kemajuan. Maka, Ibu Tanah bukan sekadar pementasan. Ia adalah refleksi iman ekologis, ruang pemulihan spiritual, dan seruan diam-diam agar manusia kembali bersujud, bukan hanya kepada langit, tapi juga pada tanah yang menopang segala kehidupan.

Di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh modernitas, seni teater lokal muncul sebagai bentuk ketahanan budaya dan spiritual. Kelompok Nara Teater di Flores Timur menampilkan Ibu Tanah sebagai sebuah peristiwa performatif yang melampaui hiburan semata. Ia menjadi ritual kolektif yang memulihkan relasi sakral antara manusia dan tanah.

Perspektif sosiologi agama memungkinkan kita memahami pementasan ini sebagai refleksi iman ekologis dan bentuk lived religion (Ammerman, 2007) yang menjangkau ranah profan. Sejalan dengan gagasan Cook (2018), praktik artistik kontemporer seperti ini dapat menjadi ruang kontemplatif yang membuka kembali relasi transenden manusia terhadap dunia.

Dalam ruang ini, teater tidak hanya menjadi cermin budaya, melainkan lentera spiritual. Ia mengundang ziarah batin yang pelan dan mendalam. Di antara nyala lampu panggung dan suara tubuh yang bergerak, manusia diajak kembali menanyakan hakikat eksistensi: apakah kita masih mampu mendengar suara tanah?

Teater dan Sakralisasi Sosial

Menurut Durkheim (1912), agama adalah sistem simbol yang mempererat solidaritas sosial melalui ritual. Teater dalam hal ini berfungsi sebagai ritus profan yang mengalami sakralisasi melalui cerita dan mitos.

Ibu Tanah menjadi ruang mediasi antara manusia dan yang transenden, di mana tanah tidak sekadar latar geografis, tetapi entitas spiritual yang terluka oleh eksploitasi. Theresa May (2005) menguatkan bahwa panggung teater dapat berfungsi sebagai ruang ekologis spiritual yang menyuarakan ketegangan antara nilai sakral dan ancaman profan terhadap lingkungan hidup.

Ketika lakon berubah menjadi ritus, tubuh aktor menjadi wadah roh komunitas. Dalam ekspresi kolektif itu, sakralitas dilahirkan ulang. Teater memulihkan makna “yang keramat” yang tak lagi bergantung pada dogma, tetapi hidup dalam hubungan, gerak, dan resonansi jiwa bersama.

Personifikasi Tanah dan Teologi Lokal

Dalam mitologi Lamaholot, tanah adalah ibu yang memberi hidup. Pementasan ini merepresentasikan tanah sebagai subjek yang memiliki martabat dan hak sakral untuk dihormati. Dalam konteks teologi pembebasan (Gutierrez, 1988), personifikasi ini menghadirkan narasi keagamaan yang berpihak pada yang tertindas—dalam hal ini, tanah dan komunitas lokal. Hal ini selaras dengan pemikiran Nascimento (ArtReview, 2023), yang menyatakan bahwa spiritualitas dalam seni harus terhubung dengan kebebasan kolektif dan kemerdekaan dari warisan kolonialisme.

Tanah bukan benda. Ia adalah tubuh sejarah. Ia menyimpan luka dan harapan. Dalam perwujudan teatrikal, tubuh tanah berbicara melalui tubuh manusia. Dan tubuh manusia, dalam kepasrahan estetisnya, menjadi bagian dari litani penyembuhan bumi.

Hegemoni Kapital dan Krisis Spiritualitas

Narasi konflik antarsaudara dalam pementasan mengungkap bagaimana janji pembangunan dapat merusak tatanan komunal dan spiritual masyarakat. Bauman (2004) menyebut ini sebagai ekonomi penyingkiran, di mana nilai-nilai ilahi dikorbankan demi kepentingan duniawi.

Teater tampil sebagai suara profetik yang memperingatkan akan bahaya profanisasi ekosistem sosial. Dalam konteks ini, seni berfungsi seperti yang dikemukakan Artsy Editorial (2022): menjadi ekspresi tubuh kolektif yang membebaskan dari standar sempit sistem dominan.

Dalam tubuh yang menari, terdapat luka yang dipikul oleh generasi. Panggung menjadi saksi sunyi atas pergolakan batin antara pembangunan dan penindasan. Teater bukan hanya protes, tetapi doa yang menjerit.

Lived Religion dan Praktik Keberagamaan

Spiritualitas dalam Ibu Tanah tidak terbatas pada ruang ibadah formal. Ia hidup dalam ritual berladang, nyanyian adat, dan praksis keseharian masyarakat Flores Timur. Schleiermacher menyebut pengalaman religius sebagai rasa ketergantungan mutlak terhadap sesuatu yang lebih agung, yang dalam pementasan ini, diartikulasikan melalui ekspresi teatrikal. Cook (2018) menegaskan bahwa seni kontemporer mampu menciptakan ruang spiritual yang otentik, bahkan dalam konteks sekuler, selama ia menyalakan resonansi batin manusia.

Religi tak selalu bersuara lantang. Kadang ia berbisik melalui tanah yang digarap, benih yang ditanam, dan lagu yang diperdengarkan dalam sunyi. Teater menggali kembali dimensi itu. Dimensi yang tak terlihat tapi terasa dalam tiap gerak yang tulus.

Mitologi sebagai Narasi Sakral

Pementasan tidak mereduksi mitos Lamaholot sebagai folklor, melainkan menafsirkan ulang menjadi wahyu naratif. Mitologi berfungsi sebagaimana diuraikan Eliade (1957): membawa manusia kembali pada asal usul yang sakral dan menghadirkan struktur kosmologis dalam kesadaran kontemporer. Di sini, referensi seperti Messias (2024) menunjukkan bahwa dalam berbagai tradisi, mitos dan teologi ekologis saling berkaitan, menghasilkan bentuk ekospiritualitas yang melampaui batas institusional agama.

Mitos adalah cahaya dari masa silam yang menuntun manusia kekinian. Ia tidak selesai sebagai cerita, tetapi hidup sebagai kepercayaan. Dalam pementasan, mitos dihidupkan ulang sebagai suara bumi yang telah lama bungkam.

Teater sebagai Hermeneutika Pembebasan

Ricœur (1973) mengemukakan bahwa hermeneutika adalah seni menafsirkan makna dalam simbol dan cerita. Nara Teater menggunakan teater sebagai alat hermeneutika untuk mengkritisi narasi hegemonik dan membangun alternatif berbasis nilai lokal. Teater menjadi eksposisi etika transendental yang menghadirkan harapan, sebagaimana ditegaskan oleh Nascimento (ArtReview, 2023) bahwa seni seharusnya membuka jalan keadilan spiritual dan sosial.

Teater adalah bacaan tubuh atas kitab penderitaan. Ia membuka kemungkinan baru dalam sejarah yang gelap. Dengan simbol dan suara, ia membentuk tafsir baru tentang dunia yang seharusnya lebih manusiawi dan spiritual.

Ekologi Spiritual dan Identitas Lokal

Teologi ekologis (Berry, 1990) menunjukkan bahwa bumi memiliki dimensi spiritual yang harus dijaga. Ibu Tanah menjadi wujud iman ekologis, mengusulkan bahwa menjaga tanah bukan hanya etis tetapi teologis. Messias (2024) menegaskan bahwa ekospiritualitas menggabungkan kesadaran kosmis dan tindakan etis, menjadikan alam sebagai tempat beribadah yang hakiki. Dalam hal ini, pementasan menjadi jembatan antara teologi lokal dan teologi universal dalam menjaga kehidupan.

Dalam setiap daun dan batu, terkandung doa yang belum sempat dilafalkan. Teater membangunkan doa itu, membawanya naik bersama suara penonton. Maka menjaga tanah adalah menjaga altar kehidupan itu sendiri.

Sekadar Menutup

Kelompok Nara Teater telah menunjukkan bahwa panggung bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan altar penghayatan kolektif di mana tubuh, suara, dan cerita menjadi laku spiritual. Dalam pementasan Ibu Tanah, teater menjelma sebagai liturgi sosial, sebuah ritus yang menyuarakan kedalaman iman lokal, kesedihan ekologis, dan harapan komunitas yang berakar kuat pada tanah leluhur. Di titik inilah seni berbicara bukan hanya dengan keindahan, tetapi dengan kegetiran dan keberanian untuk mengungkap luka yang tersembunyi dalam lanskap sosial.

Melalui perspektif sosiologi agama, kita menyaksikan bagaimana teater dapat menjadi ruang sakral yang lahir di tengah profanitas dunia modern. Di dalamnya, tersimpan spiritualitas yang tak lagi mengandalkan dogma, tetapi bergerak lewat gerak tubuh, resonansi mitos, dan kedalaman budaya. Seni tidak hanya memulihkan yang rusak, tetapi membangkitkan yang terlupakan. Di tengah arus yang meluruhkan makna, Ibu Tanah menjadi seruan sunyi agar manusia kembali menaruh hormat pada yang paling mendasar: tanah sebagai rahim kehidupan.[T]

Daftar Pustaka

ArtReview. (2023, August 21). Abdias Nascimento: Spiritual liberation and social freedom. https://artreview.com/abdias-nascimento-spiritual-liberation-and-social-freedom/

Artsy Editorial. (2022, November 30). Contemporary artists are liberating the body from restrictive ideals. https://www.artsy.net/article/artsy-editorial-contemporary-artists-liberating-body-restrictive-ideals

Bauman, Z. (2004). Wasted lives: Modernity and its outcasts. Polity Press.

Berry, T. (1990). The dream of the earth. Sierra Club Books.

Cook, C. H. (2018). Encountering the spiritual in contemporary art. Yale University Press. https://yalebooks.yale.edu/2018/06/19/encountering-the-spiritual-in-contemporary-art/

Durkheim, É. (1995). The elementary forms of religious life (K. E. Fields, Trans.). Free Press. (Original work published 1912)

Eliade, M. (1957). The sacred and the profane: The nature of religion (W. R. Trask, Trans.). Harcourt.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Gutierrez, G. (1988). A theology of liberation: History, politics, and salvation. Orbis Books.

May, T. J. (2005). Greening the theater: Taking ecocriticism from page to stage. Interdisciplinary Literary Studies, 7(1), 118–130. https://theresajmay.com/files/Greening-the-Theatre-Theresa-J-May-IDLS.pdf

Messias, T. (2024). From ecotheology to ecospirituality in Laudato Sí. Religions, 15(1), 68. https://www.mdpi.com/2077-1444/15/1/68

Ricœur, P. (1973). The model of the text: Meaningful action considered as a text. Social Research, 38(3), 529–562.

Schleiermacher, F. (1996). On religion: Speeches to its cultured despisers (R. Crouter, Trans.). Cambridge University Press. (Original work published 1799)

Penulis: Anselmus Dore Woho Atasoge
Editor: Jaswanto

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan
The Brief History of Dance Bali:  Keutuhan antara Tubuh dan Peristiwa
Sikut Awak : Mengukur Masa Depan Bali
Tags: ekologiIbu TanahKelompok Nara TeatersosiologiTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara yang Merampas Sunyi

Next Post

Menyaksikan Balawan di UVJF 2025: Eksplorasi Jazz di antara Gending dan Tapping

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Lahir di Naikoten II Kupang, NTT, 05 Nop 1977, Studi Filsafat di Ledalero, Studi Magister Teologi Kontekstual di Ledalero, S3 Studi Antar Iman di UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta. Sekarang Dosen Mata kuliah Sosiologi dan Hubungan Antar Iman di Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Menyaksikan Balawan di UVJF 2025: Eksplorasi Jazz di antara Gending dan Tapping

Menyaksikan Balawan di UVJF 2025: Eksplorasi Jazz di antara Gending dan Tapping

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co