14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Anselmus Dore Woho Atasoge by Anselmus Dore Woho Atasoge
August 4, 2025
in Ulas Pentas
Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Pementasan Ibu Tanah oleh Kelompok Nara Teater | Foto: Ist

ESAI ini menyelami pementasan Ibu Tanah oleh Kelompok Nara Teater sebagai peristiwa spiritual yang melampaui batas-batas seni. Teater di sini bukan sekadar medium ekspresi, melainkan ritus kontemplatif yang merawat ingatan kolektif, menyulam ulang relasi sakral antara manusia, tanah, dan mitos. Dalam lanskap sosiologi agama, pementasan ini merepresentasikan proses sakralisasi terhadap ruang profan, menghadirkan tanah sebagai tubuh spiritual yang mengandung hikmat leluhur serta martabat ekologi yang terancam oleh modernitas dan eksploitasi.

Dalam nyala simbol dan bayang mitologi Lamaholot, teater menjelma sebagai altar pembebasan. Di atas panggung, tubuh-tubuh aktor menjadi perpanjangan suara bumi yang terabaikan. Gerak mereka membentuk litani penderitaan dan doa atas lanskap yang dilukai oleh janji-janji kemajuan. Maka, Ibu Tanah bukan sekadar pementasan. Ia adalah refleksi iman ekologis, ruang pemulihan spiritual, dan seruan diam-diam agar manusia kembali bersujud, bukan hanya kepada langit, tapi juga pada tanah yang menopang segala kehidupan.

Di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh modernitas, seni teater lokal muncul sebagai bentuk ketahanan budaya dan spiritual. Kelompok Nara Teater di Flores Timur menampilkan Ibu Tanah sebagai sebuah peristiwa performatif yang melampaui hiburan semata. Ia menjadi ritual kolektif yang memulihkan relasi sakral antara manusia dan tanah.

Perspektif sosiologi agama memungkinkan kita memahami pementasan ini sebagai refleksi iman ekologis dan bentuk lived religion (Ammerman, 2007) yang menjangkau ranah profan. Sejalan dengan gagasan Cook (2018), praktik artistik kontemporer seperti ini dapat menjadi ruang kontemplatif yang membuka kembali relasi transenden manusia terhadap dunia.

Dalam ruang ini, teater tidak hanya menjadi cermin budaya, melainkan lentera spiritual. Ia mengundang ziarah batin yang pelan dan mendalam. Di antara nyala lampu panggung dan suara tubuh yang bergerak, manusia diajak kembali menanyakan hakikat eksistensi: apakah kita masih mampu mendengar suara tanah?

Teater dan Sakralisasi Sosial

Menurut Durkheim (1912), agama adalah sistem simbol yang mempererat solidaritas sosial melalui ritual. Teater dalam hal ini berfungsi sebagai ritus profan yang mengalami sakralisasi melalui cerita dan mitos.

Ibu Tanah menjadi ruang mediasi antara manusia dan yang transenden, di mana tanah tidak sekadar latar geografis, tetapi entitas spiritual yang terluka oleh eksploitasi. Theresa May (2005) menguatkan bahwa panggung teater dapat berfungsi sebagai ruang ekologis spiritual yang menyuarakan ketegangan antara nilai sakral dan ancaman profan terhadap lingkungan hidup.

Ketika lakon berubah menjadi ritus, tubuh aktor menjadi wadah roh komunitas. Dalam ekspresi kolektif itu, sakralitas dilahirkan ulang. Teater memulihkan makna “yang keramat” yang tak lagi bergantung pada dogma, tetapi hidup dalam hubungan, gerak, dan resonansi jiwa bersama.

Personifikasi Tanah dan Teologi Lokal

Dalam mitologi Lamaholot, tanah adalah ibu yang memberi hidup. Pementasan ini merepresentasikan tanah sebagai subjek yang memiliki martabat dan hak sakral untuk dihormati. Dalam konteks teologi pembebasan (Gutierrez, 1988), personifikasi ini menghadirkan narasi keagamaan yang berpihak pada yang tertindas—dalam hal ini, tanah dan komunitas lokal. Hal ini selaras dengan pemikiran Nascimento (ArtReview, 2023), yang menyatakan bahwa spiritualitas dalam seni harus terhubung dengan kebebasan kolektif dan kemerdekaan dari warisan kolonialisme.

Tanah bukan benda. Ia adalah tubuh sejarah. Ia menyimpan luka dan harapan. Dalam perwujudan teatrikal, tubuh tanah berbicara melalui tubuh manusia. Dan tubuh manusia, dalam kepasrahan estetisnya, menjadi bagian dari litani penyembuhan bumi.

Hegemoni Kapital dan Krisis Spiritualitas

Narasi konflik antarsaudara dalam pementasan mengungkap bagaimana janji pembangunan dapat merusak tatanan komunal dan spiritual masyarakat. Bauman (2004) menyebut ini sebagai ekonomi penyingkiran, di mana nilai-nilai ilahi dikorbankan demi kepentingan duniawi.

Teater tampil sebagai suara profetik yang memperingatkan akan bahaya profanisasi ekosistem sosial. Dalam konteks ini, seni berfungsi seperti yang dikemukakan Artsy Editorial (2022): menjadi ekspresi tubuh kolektif yang membebaskan dari standar sempit sistem dominan.

Dalam tubuh yang menari, terdapat luka yang dipikul oleh generasi. Panggung menjadi saksi sunyi atas pergolakan batin antara pembangunan dan penindasan. Teater bukan hanya protes, tetapi doa yang menjerit.

Lived Religion dan Praktik Keberagamaan

Spiritualitas dalam Ibu Tanah tidak terbatas pada ruang ibadah formal. Ia hidup dalam ritual berladang, nyanyian adat, dan praksis keseharian masyarakat Flores Timur. Schleiermacher menyebut pengalaman religius sebagai rasa ketergantungan mutlak terhadap sesuatu yang lebih agung, yang dalam pementasan ini, diartikulasikan melalui ekspresi teatrikal. Cook (2018) menegaskan bahwa seni kontemporer mampu menciptakan ruang spiritual yang otentik, bahkan dalam konteks sekuler, selama ia menyalakan resonansi batin manusia.

Religi tak selalu bersuara lantang. Kadang ia berbisik melalui tanah yang digarap, benih yang ditanam, dan lagu yang diperdengarkan dalam sunyi. Teater menggali kembali dimensi itu. Dimensi yang tak terlihat tapi terasa dalam tiap gerak yang tulus.

Mitologi sebagai Narasi Sakral

Pementasan tidak mereduksi mitos Lamaholot sebagai folklor, melainkan menafsirkan ulang menjadi wahyu naratif. Mitologi berfungsi sebagaimana diuraikan Eliade (1957): membawa manusia kembali pada asal usul yang sakral dan menghadirkan struktur kosmologis dalam kesadaran kontemporer. Di sini, referensi seperti Messias (2024) menunjukkan bahwa dalam berbagai tradisi, mitos dan teologi ekologis saling berkaitan, menghasilkan bentuk ekospiritualitas yang melampaui batas institusional agama.

Mitos adalah cahaya dari masa silam yang menuntun manusia kekinian. Ia tidak selesai sebagai cerita, tetapi hidup sebagai kepercayaan. Dalam pementasan, mitos dihidupkan ulang sebagai suara bumi yang telah lama bungkam.

Teater sebagai Hermeneutika Pembebasan

Ricœur (1973) mengemukakan bahwa hermeneutika adalah seni menafsirkan makna dalam simbol dan cerita. Nara Teater menggunakan teater sebagai alat hermeneutika untuk mengkritisi narasi hegemonik dan membangun alternatif berbasis nilai lokal. Teater menjadi eksposisi etika transendental yang menghadirkan harapan, sebagaimana ditegaskan oleh Nascimento (ArtReview, 2023) bahwa seni seharusnya membuka jalan keadilan spiritual dan sosial.

Teater adalah bacaan tubuh atas kitab penderitaan. Ia membuka kemungkinan baru dalam sejarah yang gelap. Dengan simbol dan suara, ia membentuk tafsir baru tentang dunia yang seharusnya lebih manusiawi dan spiritual.

Ekologi Spiritual dan Identitas Lokal

Teologi ekologis (Berry, 1990) menunjukkan bahwa bumi memiliki dimensi spiritual yang harus dijaga. Ibu Tanah menjadi wujud iman ekologis, mengusulkan bahwa menjaga tanah bukan hanya etis tetapi teologis. Messias (2024) menegaskan bahwa ekospiritualitas menggabungkan kesadaran kosmis dan tindakan etis, menjadikan alam sebagai tempat beribadah yang hakiki. Dalam hal ini, pementasan menjadi jembatan antara teologi lokal dan teologi universal dalam menjaga kehidupan.

Dalam setiap daun dan batu, terkandung doa yang belum sempat dilafalkan. Teater membangunkan doa itu, membawanya naik bersama suara penonton. Maka menjaga tanah adalah menjaga altar kehidupan itu sendiri.

Sekadar Menutup

Kelompok Nara Teater telah menunjukkan bahwa panggung bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan altar penghayatan kolektif di mana tubuh, suara, dan cerita menjadi laku spiritual. Dalam pementasan Ibu Tanah, teater menjelma sebagai liturgi sosial, sebuah ritus yang menyuarakan kedalaman iman lokal, kesedihan ekologis, dan harapan komunitas yang berakar kuat pada tanah leluhur. Di titik inilah seni berbicara bukan hanya dengan keindahan, tetapi dengan kegetiran dan keberanian untuk mengungkap luka yang tersembunyi dalam lanskap sosial.

Melalui perspektif sosiologi agama, kita menyaksikan bagaimana teater dapat menjadi ruang sakral yang lahir di tengah profanitas dunia modern. Di dalamnya, tersimpan spiritualitas yang tak lagi mengandalkan dogma, tetapi bergerak lewat gerak tubuh, resonansi mitos, dan kedalaman budaya. Seni tidak hanya memulihkan yang rusak, tetapi membangkitkan yang terlupakan. Di tengah arus yang meluruhkan makna, Ibu Tanah menjadi seruan sunyi agar manusia kembali menaruh hormat pada yang paling mendasar: tanah sebagai rahim kehidupan.[T]

Daftar Pustaka

ArtReview. (2023, August 21). Abdias Nascimento: Spiritual liberation and social freedom. https://artreview.com/abdias-nascimento-spiritual-liberation-and-social-freedom/

Artsy Editorial. (2022, November 30). Contemporary artists are liberating the body from restrictive ideals. https://www.artsy.net/article/artsy-editorial-contemporary-artists-liberating-body-restrictive-ideals

Bauman, Z. (2004). Wasted lives: Modernity and its outcasts. Polity Press.

Berry, T. (1990). The dream of the earth. Sierra Club Books.

Cook, C. H. (2018). Encountering the spiritual in contemporary art. Yale University Press. https://yalebooks.yale.edu/2018/06/19/encountering-the-spiritual-in-contemporary-art/

Durkheim, É. (1995). The elementary forms of religious life (K. E. Fields, Trans.). Free Press. (Original work published 1912)

Eliade, M. (1957). The sacred and the profane: The nature of religion (W. R. Trask, Trans.). Harcourt.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.

Gutierrez, G. (1988). A theology of liberation: History, politics, and salvation. Orbis Books.

May, T. J. (2005). Greening the theater: Taking ecocriticism from page to stage. Interdisciplinary Literary Studies, 7(1), 118–130. https://theresajmay.com/files/Greening-the-Theatre-Theresa-J-May-IDLS.pdf

Messias, T. (2024). From ecotheology to ecospirituality in Laudato Sí. Religions, 15(1), 68. https://www.mdpi.com/2077-1444/15/1/68

Ricœur, P. (1973). The model of the text: Meaningful action considered as a text. Social Research, 38(3), 529–562.

Schleiermacher, F. (1996). On religion: Speeches to its cultured despisers (R. Crouter, Trans.). Cambridge University Press. (Original work published 1799)

Penulis: Anselmus Dore Woho Atasoge
Editor: Jaswanto

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
Repertoar “Torso”: Diskursus Kebebasan dan Keterbatasan Perempuan
The Brief History of Dance Bali:  Keutuhan antara Tubuh dan Peristiwa
Sikut Awak : Mengukur Masa Depan Bali
Tags: ekologiIbu TanahKelompok Nara TeatersosiologiTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara yang Merampas Sunyi

Next Post

Menyaksikan Balawan di UVJF 2025: Eksplorasi Jazz di antara Gending dan Tapping

Anselmus Dore Woho Atasoge

Anselmus Dore Woho Atasoge

Lahir di Naikoten II Kupang, NTT, 05 Nop 1977, Studi Filsafat di Ledalero, Studi Magister Teologi Kontekstual di Ledalero, S3 Studi Antar Iman di UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta. Sekarang Dosen Mata kuliah Sosiologi dan Hubungan Antar Iman di Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende

Related Posts

Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

by Helvi Carnelis
April 14, 2026
0
Durhaka Sebagai Bahasa Kuasa: Narasi Tubuh Perempuan Melalui Pertunjukan Malin Kundang Lirih

SAYA merasakan dengan kuat budaya rantau hari ini, sebuah beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam kebudayaan Minangkabau. Pengalaman itu...

Read moreDetails

Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

by Radha Dwi Pradnyani
March 30, 2026
0
Bertolak dari Ruang, Proses dan Improvisasi —Catatan Pementasan ‘Aduh” Teater Mahima

PEMAIN masuk arena secara bergiliran. Dengan gerakan berbeda-beda mereka berjalan tergesa, dinamis, kadang saling silang, kadang sejajar. Mereka bersuara meniru...

Read moreDetails

Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

by I Putu Ardiyasa
March 22, 2026
0
Seni sebagai Metode Rekonsiliasi Warga Desa Tembok

MENYAKSIKAN perjalanan kultural di Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, selama empat tahun terakhir adalah pelajaran berharga tentang bagaimana estetika mampu...

Read moreDetails

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails
Next Post
Menyaksikan Balawan di UVJF 2025: Eksplorasi Jazz di antara Gending dan Tapping

Menyaksikan Balawan di UVJF 2025: Eksplorasi Jazz di antara Gending dan Tapping

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co