2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suara yang Merampas Sunyi

Emi Suy by Emi Suy
August 4, 2025
in Esai
Suara yang Merampas Sunyi

“Kadang, bentuk tertinggi dari kasih kepada sesama adalah: tidak membuat mereka terjaga tanpa alasan.”

Malam mestinya menjadi ruang pulang. Tempat tubuh yang lelah merebahkan seluruh kepenatannya, tempat pikiran yang riuh perlahan menyusut ke dalam doa atau tidur yang bersahaja. Tapi di banyak sudut kampung, di tengah kota, bahkan di desa-desa yang dulu akrab dengan suara jangkrik dan desir angin, malam kini tak lagi suci. Ia ditikam oleh suara-suara yang tak tahu malu terhadap batas suara dari pengeras-pengeras raksasa yang bukan hanya mengguncang genting rumah, tapi juga mengguncang ketenteraman batin.

Fenomena ini populer dengan sebutan sound horek. Sebuah istilah khas Indonesia, terutama di Jawa, untuk menyebut sistem suara berdaya tinggi yang biasa dipakai dalam hajatan, pertunjukan rakyat, atau acara hiburan. Bunyinya bukan sekadar keras. Tapi merangsek. Menyerbu. Memaksa siapa pun yang ada di radiusnya untuk mendengarkan, meski tidak menghendaki.

Ketika Pesta Menjadi Pemaksaan

Sound horek sering dibanggakan sebagai penanda kemeriahan, bentuk syukur, atau bahkan simbol status sosial. Tak jarang, dalam pesta pernikahan, sunatan, atau ulang tahun, pengeras suara disetel sedemikian tinggi, seperti hendak memberi tahu seluruh desa bahwa kebahagiaan sedang dirayakan. Tapi di balik itu, ada orang-orang yang tidur dengan gumpalan tisu di telinga. Anak-anak yang gagal menghafal pelajaran karena jendela kamarnya bergetar. Seorang perempuan yang baru saja ditinggal ibunya ingin menangis dalam diam tapi tangisnya kalah oleh remix dangdut dan suara MC yang menyebut nama sponsor berkali-kali.

Di sinilah ironi itu lahir: suara yang dimaksudkan sebagai hiburan, berubah menjadi perampasan. Suara yang awalnya ditujukan bagi tamu, justru menyakiti mereka yang tidak hadir dalam pesta. Suara yang dimaksudkan sebagai kasih, berubah menjadi abai.

Kita perlu bertanya ulang: sejak kapan kegembiraan boleh bersuara sekeras itu, hingga menusuk dada tetangga? Sejak kapan kita menyamakan “meriah” dengan “memekakkan”?

Hak yang Dirampas Diam-diam

Dalam kacamata hak asasi manusia (HAM), sound horek bukan sekadar gangguan. Ia bisa tergolong pelanggaran. Pasal 28G Undang-Undang Dasar 1945 menjamin bahwa setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram dalam hidup. Ketenteraman ini bukan hanya soal fisik, tapi juga psikis. Bukan hanya soal tidak dianiaya, tapi juga tentang tidak dipaksa hidup dalam kebisingan yang menyesakkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama memasukkan kebisingan berlebih sebagai bentuk polusi yang berdampak buruk pada kesehatan. Polusi suara bisa menyebabkan gangguan tidur, stres, gangguan kognitif, tekanan darah tinggi, bahkan depresi. Anak-anak, lansia, orang sakit, penyandang disabilitas mental semuanya adalah kelompok rentan yang paling terdampak. Tapi karena suara tak meninggalkan luka fisik, penderitaan itu sering tak terlihat, dan akhirnya tidak dianggap penting.

Hak atas ketenangan, hak atas tidur yang layak, hak atas lingkungan hidup yang sehat—semuanya termasuk dalam jangkauan HAM. Tapi sound horek nyaris selalu lolos dari perbincangan ini. Seolah suara hanya soal selera, bukan soal keadilan.

Teror Akustik dan Kebudayaan yang Membisu

Yang membuat perkara ini semakin pelik adalah pembungkusnya: kebudayaan. Di banyak tempat, sound horek dibenarkan atas nama tradisi. Hajatan adalah bagian dari budaya. Musik adalah bagian dari kegembiraan kolektif. Menyuarakan kebahagiaan dipahami sebagai bentuk silaturahmi.

Tapi benarkah budaya harus menindas yang lain untuk bisa hidup? Bukankah adat yang baik justru menjaga keseimbangan antara hak pribadi dan hak bersama?

Kita hidup di tengah masyarakat yang masih mengagungkan solidaritas, tapi kadang gagal memahami batas. Menegur tetangga yang terlalu keras dianggap “tidak tahu adat”. Protes kepada panitia pesta bisa dicap “tidak punya tenggang rasa”. Akibatnya, banyak orang memilih diam menahan marah sambil mengatur napas, atau pindah ke kamar yang lebih jauh dari sumber suara. Tapi diam itu bukan tanda setuju. Ia tanda kelelahan.

Lebih dari itu, sound horek juga memicu konflik sosial yang nyata. Perselisihan antartetangga, aduan ke pihak berwenang, bahkan kekerasan fisik pernah terjadi hanya karena speaker dan mixer. Semua berawal dari suaratapi membuahkan jarak, ketegangan, dan trauma.

Kesadaran: Interval antara Pikiran dan Perasaan

Di titik ini, kita butuh lebih dari sekadar aturan. Kita butuh kesadaran.

Kesadaran ialah gunung, ialah angin, ialah hutan, ialah hujan, ialah badai, ialah matahari. Kesadaran ialah kita yang mesti terus tumbuh di tengah kerasnya hidup dan terjalnya kehidupan. Kesadaran adalah kita yang menambal lubang di sana-sini di baju yang kita kenakan untuk kepantasan. Kesadaran ialah pendewasaan. Kembalinya kita pada titik selesai. Kesadaran ialah interval jarak antara hati, pikiran, perasaan dan emosi.

Kesadaran bukan berarti membungkam kegembiraan, melainkan memahami bahwa kebahagiaan tak harus memekakkan. Ia adalah ombak, banjir, gelombang pasang air laut yang menggenangi pikir, merendam perasaan. Kesadaran adalah kemampuan untuk meredam gaduh alam pikir di kedalaman permenungan. Ia bukan larangan, melainkan perubahan.

Dalam kesadaran itulah kita bisa menciptakan ruang sosial yang lebih manusiawi. Bukan dengan melarang suara, tapi mengajarkan batas. Bukan dengan melumpuhkan hiburan, tapi menyaringnya lewat welas.

Ekologi Bunyi: Antara Suara dan Sunyi

Kita jarang membicarakan ekologi bunyi. Tapi sebagaimana udara, tanah, dan air-suara juga bagian dari lingkungan hidup. Ekologi bunyi bicara tentang keseimbangan antara suara manusia, suara alam, dan ruang diam yang menopang hidup.

Dalam masyarakat yang adil, suara bukan tentang siapa yang paling keras, tapi siapa yang tahu kapan harus bersuara dan kapan harus diam. Kita perlu membayangkan bentuk hiburan baru yang lebih selaras dengan kehidupan. Bukan yang memekakkan, tapi menyentuh. Bukan yang menaklukkan ruang, tapi yang mengisi ruang dengan hormat.

Kita juga perlu kebijakan yang berpihak. Peraturan daerah tentang batas jam dan volume pengeras suara harus ditegakkan. Edukasi warga tentang dampak polusi suara harus terus dilakukan. Pihak desa, RT/RW, hingga tokoh masyarakat, bisa menjadi penjaga sunyi bersama.

SUARA YANG TAK PUNYA TUBUH, TAPI MENGGORES MALAM

Suara itu datang seperti peluru nyasar,
melayang di atas genting rumah,
menusuk telinga yang sedang bersujud dalam sunyi.

Ia bukan musik, bukan pula doa,
melainkan ledakan ego
yang dibungkus dentuman beat tanpa belas kasih.

Anak-anak kecil menggeliat dalam tidur,
orangtua menahan nafas,
sementara yang sedang belajar
menghapus huruf demi huruf dari buku,
karena tak satu pun bisa dipahami
di tengah gaduh yang tak diundang.

Sound horek:
bukan suara yang ingin didengar,
melainkan paksaan yang menusuk kampung
seperti truk yang melintas di lorong sempit
tak peduli ada bayi baru lahir
atau nenek yang sedang merapal dzikir.

Ia tak hadir untuk merayakan,
tapi untuk membungkam keheningan
yang dibangun susah payah oleh banyak kepala,
yang menjahit malam demi malam
agar damai bisa pulang.

2025

Hak untuk Kembali Diam

Apa gunanya rumah, jika malam tak lagi menjadi tempat kita pulang? Apa gunanya tradisi, jika ia melukai sesama? Dan apa gunanya pesta, jika ia membuat tetangga kehilangan haknya untuk tidur?

Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin yang paling kita butuhkan bukan pengeras suara, tapi kepekaan. Bukan volume tinggi, tapi kesadaran. Karena ada saat-saat dalam hidup ini, ketika satu-satunya yang kita butuhkan hanyalah ketenangan yang tak bisa dibeli di toko elektronik, tak bisa diputar lewat speaker.

Sunyi adalah hak. Dan seperti semua hak lainnya, ia layak diperjuangkan. [T]

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan
Tags: lingkunganpolusi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Napi Teroris sebagai Pendidik Pendidikan Perdamaian

Next Post

Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co