3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suara yang Merampas Sunyi

Emi Suy by Emi Suy
August 4, 2025
in Esai
Suara yang Merampas Sunyi

“Kadang, bentuk tertinggi dari kasih kepada sesama adalah: tidak membuat mereka terjaga tanpa alasan.”

Malam mestinya menjadi ruang pulang. Tempat tubuh yang lelah merebahkan seluruh kepenatannya, tempat pikiran yang riuh perlahan menyusut ke dalam doa atau tidur yang bersahaja. Tapi di banyak sudut kampung, di tengah kota, bahkan di desa-desa yang dulu akrab dengan suara jangkrik dan desir angin, malam kini tak lagi suci. Ia ditikam oleh suara-suara yang tak tahu malu terhadap batas suara dari pengeras-pengeras raksasa yang bukan hanya mengguncang genting rumah, tapi juga mengguncang ketenteraman batin.

Fenomena ini populer dengan sebutan sound horek. Sebuah istilah khas Indonesia, terutama di Jawa, untuk menyebut sistem suara berdaya tinggi yang biasa dipakai dalam hajatan, pertunjukan rakyat, atau acara hiburan. Bunyinya bukan sekadar keras. Tapi merangsek. Menyerbu. Memaksa siapa pun yang ada di radiusnya untuk mendengarkan, meski tidak menghendaki.

Ketika Pesta Menjadi Pemaksaan

Sound horek sering dibanggakan sebagai penanda kemeriahan, bentuk syukur, atau bahkan simbol status sosial. Tak jarang, dalam pesta pernikahan, sunatan, atau ulang tahun, pengeras suara disetel sedemikian tinggi, seperti hendak memberi tahu seluruh desa bahwa kebahagiaan sedang dirayakan. Tapi di balik itu, ada orang-orang yang tidur dengan gumpalan tisu di telinga. Anak-anak yang gagal menghafal pelajaran karena jendela kamarnya bergetar. Seorang perempuan yang baru saja ditinggal ibunya ingin menangis dalam diam tapi tangisnya kalah oleh remix dangdut dan suara MC yang menyebut nama sponsor berkali-kali.

Di sinilah ironi itu lahir: suara yang dimaksudkan sebagai hiburan, berubah menjadi perampasan. Suara yang awalnya ditujukan bagi tamu, justru menyakiti mereka yang tidak hadir dalam pesta. Suara yang dimaksudkan sebagai kasih, berubah menjadi abai.

Kita perlu bertanya ulang: sejak kapan kegembiraan boleh bersuara sekeras itu, hingga menusuk dada tetangga? Sejak kapan kita menyamakan “meriah” dengan “memekakkan”?

Hak yang Dirampas Diam-diam

Dalam kacamata hak asasi manusia (HAM), sound horek bukan sekadar gangguan. Ia bisa tergolong pelanggaran. Pasal 28G Undang-Undang Dasar 1945 menjamin bahwa setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram dalam hidup. Ketenteraman ini bukan hanya soal fisik, tapi juga psikis. Bukan hanya soal tidak dianiaya, tapi juga tentang tidak dipaksa hidup dalam kebisingan yang menyesakkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama memasukkan kebisingan berlebih sebagai bentuk polusi yang berdampak buruk pada kesehatan. Polusi suara bisa menyebabkan gangguan tidur, stres, gangguan kognitif, tekanan darah tinggi, bahkan depresi. Anak-anak, lansia, orang sakit, penyandang disabilitas mental semuanya adalah kelompok rentan yang paling terdampak. Tapi karena suara tak meninggalkan luka fisik, penderitaan itu sering tak terlihat, dan akhirnya tidak dianggap penting.

Hak atas ketenangan, hak atas tidur yang layak, hak atas lingkungan hidup yang sehat—semuanya termasuk dalam jangkauan HAM. Tapi sound horek nyaris selalu lolos dari perbincangan ini. Seolah suara hanya soal selera, bukan soal keadilan.

Teror Akustik dan Kebudayaan yang Membisu

Yang membuat perkara ini semakin pelik adalah pembungkusnya: kebudayaan. Di banyak tempat, sound horek dibenarkan atas nama tradisi. Hajatan adalah bagian dari budaya. Musik adalah bagian dari kegembiraan kolektif. Menyuarakan kebahagiaan dipahami sebagai bentuk silaturahmi.

Tapi benarkah budaya harus menindas yang lain untuk bisa hidup? Bukankah adat yang baik justru menjaga keseimbangan antara hak pribadi dan hak bersama?

Kita hidup di tengah masyarakat yang masih mengagungkan solidaritas, tapi kadang gagal memahami batas. Menegur tetangga yang terlalu keras dianggap “tidak tahu adat”. Protes kepada panitia pesta bisa dicap “tidak punya tenggang rasa”. Akibatnya, banyak orang memilih diam menahan marah sambil mengatur napas, atau pindah ke kamar yang lebih jauh dari sumber suara. Tapi diam itu bukan tanda setuju. Ia tanda kelelahan.

Lebih dari itu, sound horek juga memicu konflik sosial yang nyata. Perselisihan antartetangga, aduan ke pihak berwenang, bahkan kekerasan fisik pernah terjadi hanya karena speaker dan mixer. Semua berawal dari suaratapi membuahkan jarak, ketegangan, dan trauma.

Kesadaran: Interval antara Pikiran dan Perasaan

Di titik ini, kita butuh lebih dari sekadar aturan. Kita butuh kesadaran.

Kesadaran ialah gunung, ialah angin, ialah hutan, ialah hujan, ialah badai, ialah matahari. Kesadaran ialah kita yang mesti terus tumbuh di tengah kerasnya hidup dan terjalnya kehidupan. Kesadaran adalah kita yang menambal lubang di sana-sini di baju yang kita kenakan untuk kepantasan. Kesadaran ialah pendewasaan. Kembalinya kita pada titik selesai. Kesadaran ialah interval jarak antara hati, pikiran, perasaan dan emosi.

Kesadaran bukan berarti membungkam kegembiraan, melainkan memahami bahwa kebahagiaan tak harus memekakkan. Ia adalah ombak, banjir, gelombang pasang air laut yang menggenangi pikir, merendam perasaan. Kesadaran adalah kemampuan untuk meredam gaduh alam pikir di kedalaman permenungan. Ia bukan larangan, melainkan perubahan.

Dalam kesadaran itulah kita bisa menciptakan ruang sosial yang lebih manusiawi. Bukan dengan melarang suara, tapi mengajarkan batas. Bukan dengan melumpuhkan hiburan, tapi menyaringnya lewat welas.

Ekologi Bunyi: Antara Suara dan Sunyi

Kita jarang membicarakan ekologi bunyi. Tapi sebagaimana udara, tanah, dan air-suara juga bagian dari lingkungan hidup. Ekologi bunyi bicara tentang keseimbangan antara suara manusia, suara alam, dan ruang diam yang menopang hidup.

Dalam masyarakat yang adil, suara bukan tentang siapa yang paling keras, tapi siapa yang tahu kapan harus bersuara dan kapan harus diam. Kita perlu membayangkan bentuk hiburan baru yang lebih selaras dengan kehidupan. Bukan yang memekakkan, tapi menyentuh. Bukan yang menaklukkan ruang, tapi yang mengisi ruang dengan hormat.

Kita juga perlu kebijakan yang berpihak. Peraturan daerah tentang batas jam dan volume pengeras suara harus ditegakkan. Edukasi warga tentang dampak polusi suara harus terus dilakukan. Pihak desa, RT/RW, hingga tokoh masyarakat, bisa menjadi penjaga sunyi bersama.

SUARA YANG TAK PUNYA TUBUH, TAPI MENGGORES MALAM

Suara itu datang seperti peluru nyasar,
melayang di atas genting rumah,
menusuk telinga yang sedang bersujud dalam sunyi.

Ia bukan musik, bukan pula doa,
melainkan ledakan ego
yang dibungkus dentuman beat tanpa belas kasih.

Anak-anak kecil menggeliat dalam tidur,
orangtua menahan nafas,
sementara yang sedang belajar
menghapus huruf demi huruf dari buku,
karena tak satu pun bisa dipahami
di tengah gaduh yang tak diundang.

Sound horek:
bukan suara yang ingin didengar,
melainkan paksaan yang menusuk kampung
seperti truk yang melintas di lorong sempit
tak peduli ada bayi baru lahir
atau nenek yang sedang merapal dzikir.

Ia tak hadir untuk merayakan,
tapi untuk membungkam keheningan
yang dibangun susah payah oleh banyak kepala,
yang menjahit malam demi malam
agar damai bisa pulang.

2025

Hak untuk Kembali Diam

Apa gunanya rumah, jika malam tak lagi menjadi tempat kita pulang? Apa gunanya tradisi, jika ia melukai sesama? Dan apa gunanya pesta, jika ia membuat tetangga kehilangan haknya untuk tidur?

Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin yang paling kita butuhkan bukan pengeras suara, tapi kepekaan. Bukan volume tinggi, tapi kesadaran. Karena ada saat-saat dalam hidup ini, ketika satu-satunya yang kita butuhkan hanyalah ketenangan yang tak bisa dibeli di toko elektronik, tak bisa diputar lewat speaker.

Sunyi adalah hak. Dan seperti semua hak lainnya, ia layak diperjuangkan. [T]

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar
Musik Klasik dan Sastra Semakin Mesra di Kompetisi Piano Nusantara Plus
Yang Kecil, Yang Tak Selesai Dirasakan
Tags: lingkunganpolusi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Napi Teroris sebagai Pendidik Pendidikan Perdamaian

Next Post

Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Teater sebagai Liturgi Sosial (Perspektif Sosiologis-Filosofis)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co