2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Napi Teroris sebagai Pendidik Pendidikan Perdamaian

Jerry Indrawan by Jerry Indrawan
August 4, 2025
in Esai
Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan

TEROR bom memang masih kerap terjadi di bumi nusantara, yang sayangnya banyak dilakukan oleh para mantan napi teroris. Pertanyaan besar muncul, mengapa seorang mantan napi teroris yang pernah dipenjara, setelah keluar malah kembali menjadi pelaku aksi teror? Apakah ada masalah dalam program deradikalisasi yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BPNT). Padahal, deradikalisasi bertujuan untuk mengubah pola pikir teroris untuk tidak lagi menyimpang dari ajaran yang benar dan menghilangkan budaya kekerasan yang dianutnya.

Karena itulah, program deradikalisasi tidak akan efektif jika hanya sekedar mengubah pola pikir napi teroris di penjara. Pasca penahanan, mereka harus diberdayakan. Jika tidak, kasus teror bom akan terus berulang. Untuk itulah, dalam tulisan ini penulis mengusulkan agar para mantan napi teroris diberdayakan sebagai pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat setelah bebas nanti.

Pendidik Pendidikan Perdamaian

 Sebelumnya, mari kita mengenal tentang pendidikan perdamaian. Pendidikan perdamaian adalah proses pembentukan ketrampilan untuk menyelesaikan sebuah konflik, termasuk bagaimana hidup dalam harmoni dengan diri sendiri dan juga orang lain. Pendidikan perdamaian bertujuan untuk mencari cara-cara menciptakan masa depan yang adil dan berkelanjutan (Castro & Galace, 2010).

Untuk itu, pendidikan perdamaian akan lebih efektif dan bermanfaat bagi para pelaku tindakan terorisme yang sekarang sedang menjalani program deradikalisasi. Ini karena mereka akan berpartisipasi untuk mengekspresikan pemikiran mereka, termasuk bekerja sama antarsesama mereka, untuk menghilangkan kekerasan dalam kehidupan individu, komunitas, maupun masyarakat. Tentunya setelah mendapat kurikulum pendidikan perdamaian selama program deradikalisasi, keluaran yang dihasilkan haruslah terus dirasa kegunaannya. Program deradikalisasi tidak boleh hanya selesai ketika si napi keluar dari tahanan, melainkan harus terus dibina secara kontinu.

Pendidikan perdamaian akan membantu program deradikalisasi, khususnya jika para mantan napi tersebut sudah menjalani masa tahanannya, sehingga dapat diintegrasikan kembali ke dalam masyarakat umum. Nuansa pendidikan perdamaian dalam program deradikalisasi akan membantu para mantan napi yang sudah bebas untuk membangun apa yang disebut Education for Sustainable Development.

Kemudian, apa maksudnya Education for Sustainable Development dan apa hubungannya dengan para mantan pelaku terorisme? Penulis di sini ingin menciptakan sebuah kondisi di mana setelah mantan napi bebas dan kembali di masyarakat, mereka tidak akan mengalami disorientasi sosial karena dijauhi masyarakat atau tidak bisa menemukan pekerjaan, dikarenakan masa lalunya sebagai mantan napi. Sang mantan napi akan menjadi pendidik-pendidik gerakan pendidikan bagi perkembangan berkelanjutan. Ini artinya mereka akan dibekali kemampuan-kemampuan pedagogi, terutama untuk menjadi seorang pendidik pendidikan perdamaian.

Dalam kurikulum pendidikan perdamaian yang sudah dimasukkan ke dalam program deradikalisasi, salah satu kurikulumnya adalah bagaimana mempersiapkan para mantan napi ini sebagai seorang tenaga pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat nantinya. Mengapa hal ini penting? Menurut penulis, setiap ada mantan napi yang bebas dan kembali ke masyarakat, mereka mengalami disorientasi sosial. Dengan stigma sebagai mantan napi teroris, sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan untuk sekedar mendapatkan pengakuan dari sesama anggota masyarakat.

Atas dasar inilah, penulis merasa tugas pemerintah, dan BNPT juga tentunya, tidak selesai hanya sampai program deradikalisasi usai dan mantan napi teroris dibebaskan. Negara mempunyai kewajiban membina dan mengurus mereka agar bisa kembali berintegrasi secara positif di masyarakat. Jika tidak, sang mantan tahanan ini bisa saja kembali ke “profesi” lamanya sebagai teroris. Ketika tidak ada pengakuan dan penerimaan kembali dari lingkungan masyarakat, para mantan napi ini sangat rentan untuk kembali ke kehidupan lamanya. Apalagi, tidak ada aturan hukum tentang post-release monitoring seorang napi teroris setelah mereka keluar penjara.

Penerimaan di masyarakat saja tidak cukup bagi mereka. Mereka harus diberdayakan seperti halnya anggota masyarakat lain. Program deradikalisasi harus membuat kurikulum yang berguna bagi pengembangan soft maupun hard skill mereka, yang dapat mereka gunakan jika sudah bebas nanti. Di sini pengembangan kurikulum pendidikan perdamaian dalam program deradikalisasi menjadi penting. Program deradikalisasi akan mengajarkan bagaimana cara untuk menjadi pendidik-pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat yang berguna bagi Education for Sustainable Development.

Berperan di Masyarakat

Sekarang adalah bagian yang menarik. Apakah mantan napi teroris dapat berubah 180 derajat dari penyebar kebencian dan kematian, menjadi pendidik tentang kedamaian dan cinta kasih di masyarakat? Jawabannya ada di seberapa efektifnya kurikulum pendidikan perdamaian yang akan diintegrasikan ke dalam program deradikalisasi.

Di akhir pendidikan tentang kurikulum pendidikan perdamaian, setiap peserta akan diajarkan untuk bagaimana mengaplikasikan pendidikan yang sudah diajarkan ke dalam lingkungan masyarakatnya nanti. Mereka akan belajar ilmu tentang mengajar sehingga akan menjadi efektif nanti ketika mereka sudah bebas dan menjadi pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat.

Ketika para mantan napi teroris sudah bebas, pemerintah harus dengan cepat menginstruksikan Kementerian Sosial atau lembaga terkait lainnya, untuk mempekerjakan mereka sebagai tenaga pendidik kurikulum pendidikan perdamaian yang mereka sudah kuasai saat menjalani program deradikalisasi. Kementerian Sosial dapat membantu program ini karena kementerian ini pun memiliki tugas memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang sifatnya non-pendidikan formal.

Untuk sementara, para pendidik ini akan ditampung di kementerian ini untuk nantinya diterjunkan langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi tentang perdamaian. Selain itu, para pendidik ini juga dapat disebarluaskan ke daerah melalui dinas sosial daerah, untuk nantinya ikut terlibat dalam program-program sosial dinas tersebut. Hal yang sama juga berlaku bagi kementerian atau lembaga pemerintah lainnya yang memiliki program serupa.

Penulis melihat bahwa upaya memberdayakan para mantan napi terorisme seperti ini akan sangat berguna dalam menyelesaikan polemik tentang bagaimana nasib mereka setelah bebas. Dana yang dibutuhkan pun tidak banyak karena dasarnya mereka hanya “nebeng” pada program-program kementerian yang sudah ada.

Dampak positifnya pun akan semakin banyak, terutama citra pemerintah di mata masyarakat bahwa ternyata program deradikalisasi sangat berhasil, tidak hanya dengan menghilangkan paham kekerasan dan teror yang ada pada pelaku, tetapi juga sampai menjadikan mereka berbalik 180 derajat menjadi orang-orang yang mengajarkan budaya damai dan perilaku yang baik kepada masyarakat.

Selain itu, salah satu tahap pelaksanaan deradikalisasi adalah mengimplementasikan salah satu dari desain komponen deradikalisasi, yaitu resosialisasi. Dalam tahap resosialisasi inilah pendidikan perdamaian dapat berperan sebagai kurikulum yang mempersiapkan para mantan napi teroris sebagai tenaga-tenaga pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat.

Secara khusus, resosialisasi adalah upaya pembinaan kepribadian dan kemandirian yang integratif untuk mengembalikan mereka sebagai warga masyarakat yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembinaan kepribadian meliputi pembinaan psikologis, yaitu untuk membangun rasa percaya diri, bergaul, dan berinteraksi dengan masyarakat secara keseluruhan.

Pembinaan keagamaan untuk memperkuat pemahaman dan pengalaman ajaran agama yang moderat, damai, dan menghargai perbedaan. Sedangkan pembinaan kemandirian memberikan pelatihan-pelatihan keahlian sesuai dengan minat dan bakat para napi agar dapat dipergunakan untuk melanjutkan kehidupan mereka selepas penjara nanti (Surya Bakti, 2014).

Pembinaan kemandirian adalah tempat di mana pendidikan perdamaian dapat masuk, terutama konten tentang bagaimana memasukkan muatan-muatan pendidikan yang optimal bagi para napi. Seorang pendidik pendidikan perdamaian harus mampu mengembangkan ketrampilan dan kualitas mereka yang diajarnya dalam sebuah lingkungan pendidikan yang damai. Untuk itu, para pendidik harus mengalami transformasi personal terlebih dahulu agar mereka mampu menjadi agen-agen pembawa pesan damai yang kredibel (Castro & Galace, 2010).

Dalam program deradikalisasi, transformasi personal adalah saat para mantan napi, dari yang sebelumnya didoktrin untuk kejam, tak berperasaan, dan penuh kekerasan, sudah mengalami proses indoktrinasi ulang. Setelah belajar toleransi dan saling menghargai sesama manusia, mereka berubah menjadi orang yang cinta damai. Kondisi ini dapat dimanfaatkan sebagai cikal bakal pendidikan perdamaian, khususnya untuk kelak menjadi tenaga pendidiknya di masyarakat. Bagaimanapun, para mantan napi adalah warga kita juga. Sebagai anggota masyarakat yang baik, sudah seharusnya kita menerima mereka kembali dengan tangan terbuka. [T]

Penulis: Jerry Indrawan
Editor: Adnyana Ole

Mungkinkah Korut Serang AS?
Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Tags: Pendidikanperdamaianterorterorisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Next Post

Suara yang Merampas Sunyi

Jerry Indrawan

Jerry Indrawan

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Suara yang Merampas Sunyi

Suara yang Merampas Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co