22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Napi Teroris sebagai Pendidik Pendidikan Perdamaian

Jerry Indrawan by Jerry Indrawan
August 4, 2025
in Esai
Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan

TEROR bom memang masih kerap terjadi di bumi nusantara, yang sayangnya banyak dilakukan oleh para mantan napi teroris. Pertanyaan besar muncul, mengapa seorang mantan napi teroris yang pernah dipenjara, setelah keluar malah kembali menjadi pelaku aksi teror? Apakah ada masalah dalam program deradikalisasi yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BPNT). Padahal, deradikalisasi bertujuan untuk mengubah pola pikir teroris untuk tidak lagi menyimpang dari ajaran yang benar dan menghilangkan budaya kekerasan yang dianutnya.

Karena itulah, program deradikalisasi tidak akan efektif jika hanya sekedar mengubah pola pikir napi teroris di penjara. Pasca penahanan, mereka harus diberdayakan. Jika tidak, kasus teror bom akan terus berulang. Untuk itulah, dalam tulisan ini penulis mengusulkan agar para mantan napi teroris diberdayakan sebagai pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat setelah bebas nanti.

Pendidik Pendidikan Perdamaian

 Sebelumnya, mari kita mengenal tentang pendidikan perdamaian. Pendidikan perdamaian adalah proses pembentukan ketrampilan untuk menyelesaikan sebuah konflik, termasuk bagaimana hidup dalam harmoni dengan diri sendiri dan juga orang lain. Pendidikan perdamaian bertujuan untuk mencari cara-cara menciptakan masa depan yang adil dan berkelanjutan (Castro & Galace, 2010).

Untuk itu, pendidikan perdamaian akan lebih efektif dan bermanfaat bagi para pelaku tindakan terorisme yang sekarang sedang menjalani program deradikalisasi. Ini karena mereka akan berpartisipasi untuk mengekspresikan pemikiran mereka, termasuk bekerja sama antarsesama mereka, untuk menghilangkan kekerasan dalam kehidupan individu, komunitas, maupun masyarakat. Tentunya setelah mendapat kurikulum pendidikan perdamaian selama program deradikalisasi, keluaran yang dihasilkan haruslah terus dirasa kegunaannya. Program deradikalisasi tidak boleh hanya selesai ketika si napi keluar dari tahanan, melainkan harus terus dibina secara kontinu.

Pendidikan perdamaian akan membantu program deradikalisasi, khususnya jika para mantan napi tersebut sudah menjalani masa tahanannya, sehingga dapat diintegrasikan kembali ke dalam masyarakat umum. Nuansa pendidikan perdamaian dalam program deradikalisasi akan membantu para mantan napi yang sudah bebas untuk membangun apa yang disebut Education for Sustainable Development.

Kemudian, apa maksudnya Education for Sustainable Development dan apa hubungannya dengan para mantan pelaku terorisme? Penulis di sini ingin menciptakan sebuah kondisi di mana setelah mantan napi bebas dan kembali di masyarakat, mereka tidak akan mengalami disorientasi sosial karena dijauhi masyarakat atau tidak bisa menemukan pekerjaan, dikarenakan masa lalunya sebagai mantan napi. Sang mantan napi akan menjadi pendidik-pendidik gerakan pendidikan bagi perkembangan berkelanjutan. Ini artinya mereka akan dibekali kemampuan-kemampuan pedagogi, terutama untuk menjadi seorang pendidik pendidikan perdamaian.

Dalam kurikulum pendidikan perdamaian yang sudah dimasukkan ke dalam program deradikalisasi, salah satu kurikulumnya adalah bagaimana mempersiapkan para mantan napi ini sebagai seorang tenaga pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat nantinya. Mengapa hal ini penting? Menurut penulis, setiap ada mantan napi yang bebas dan kembali ke masyarakat, mereka mengalami disorientasi sosial. Dengan stigma sebagai mantan napi teroris, sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan, bahkan untuk sekedar mendapatkan pengakuan dari sesama anggota masyarakat.

Atas dasar inilah, penulis merasa tugas pemerintah, dan BNPT juga tentunya, tidak selesai hanya sampai program deradikalisasi usai dan mantan napi teroris dibebaskan. Negara mempunyai kewajiban membina dan mengurus mereka agar bisa kembali berintegrasi secara positif di masyarakat. Jika tidak, sang mantan tahanan ini bisa saja kembali ke “profesi” lamanya sebagai teroris. Ketika tidak ada pengakuan dan penerimaan kembali dari lingkungan masyarakat, para mantan napi ini sangat rentan untuk kembali ke kehidupan lamanya. Apalagi, tidak ada aturan hukum tentang post-release monitoring seorang napi teroris setelah mereka keluar penjara.

Penerimaan di masyarakat saja tidak cukup bagi mereka. Mereka harus diberdayakan seperti halnya anggota masyarakat lain. Program deradikalisasi harus membuat kurikulum yang berguna bagi pengembangan soft maupun hard skill mereka, yang dapat mereka gunakan jika sudah bebas nanti. Di sini pengembangan kurikulum pendidikan perdamaian dalam program deradikalisasi menjadi penting. Program deradikalisasi akan mengajarkan bagaimana cara untuk menjadi pendidik-pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat yang berguna bagi Education for Sustainable Development.

Berperan di Masyarakat

Sekarang adalah bagian yang menarik. Apakah mantan napi teroris dapat berubah 180 derajat dari penyebar kebencian dan kematian, menjadi pendidik tentang kedamaian dan cinta kasih di masyarakat? Jawabannya ada di seberapa efektifnya kurikulum pendidikan perdamaian yang akan diintegrasikan ke dalam program deradikalisasi.

Di akhir pendidikan tentang kurikulum pendidikan perdamaian, setiap peserta akan diajarkan untuk bagaimana mengaplikasikan pendidikan yang sudah diajarkan ke dalam lingkungan masyarakatnya nanti. Mereka akan belajar ilmu tentang mengajar sehingga akan menjadi efektif nanti ketika mereka sudah bebas dan menjadi pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat.

Ketika para mantan napi teroris sudah bebas, pemerintah harus dengan cepat menginstruksikan Kementerian Sosial atau lembaga terkait lainnya, untuk mempekerjakan mereka sebagai tenaga pendidik kurikulum pendidikan perdamaian yang mereka sudah kuasai saat menjalani program deradikalisasi. Kementerian Sosial dapat membantu program ini karena kementerian ini pun memiliki tugas memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang sifatnya non-pendidikan formal.

Untuk sementara, para pendidik ini akan ditampung di kementerian ini untuk nantinya diterjunkan langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi tentang perdamaian. Selain itu, para pendidik ini juga dapat disebarluaskan ke daerah melalui dinas sosial daerah, untuk nantinya ikut terlibat dalam program-program sosial dinas tersebut. Hal yang sama juga berlaku bagi kementerian atau lembaga pemerintah lainnya yang memiliki program serupa.

Penulis melihat bahwa upaya memberdayakan para mantan napi terorisme seperti ini akan sangat berguna dalam menyelesaikan polemik tentang bagaimana nasib mereka setelah bebas. Dana yang dibutuhkan pun tidak banyak karena dasarnya mereka hanya “nebeng” pada program-program kementerian yang sudah ada.

Dampak positifnya pun akan semakin banyak, terutama citra pemerintah di mata masyarakat bahwa ternyata program deradikalisasi sangat berhasil, tidak hanya dengan menghilangkan paham kekerasan dan teror yang ada pada pelaku, tetapi juga sampai menjadikan mereka berbalik 180 derajat menjadi orang-orang yang mengajarkan budaya damai dan perilaku yang baik kepada masyarakat.

Selain itu, salah satu tahap pelaksanaan deradikalisasi adalah mengimplementasikan salah satu dari desain komponen deradikalisasi, yaitu resosialisasi. Dalam tahap resosialisasi inilah pendidikan perdamaian dapat berperan sebagai kurikulum yang mempersiapkan para mantan napi teroris sebagai tenaga-tenaga pendidik pendidikan perdamaian di masyarakat.

Secara khusus, resosialisasi adalah upaya pembinaan kepribadian dan kemandirian yang integratif untuk mengembalikan mereka sebagai warga masyarakat yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembinaan kepribadian meliputi pembinaan psikologis, yaitu untuk membangun rasa percaya diri, bergaul, dan berinteraksi dengan masyarakat secara keseluruhan.

Pembinaan keagamaan untuk memperkuat pemahaman dan pengalaman ajaran agama yang moderat, damai, dan menghargai perbedaan. Sedangkan pembinaan kemandirian memberikan pelatihan-pelatihan keahlian sesuai dengan minat dan bakat para napi agar dapat dipergunakan untuk melanjutkan kehidupan mereka selepas penjara nanti (Surya Bakti, 2014).

Pembinaan kemandirian adalah tempat di mana pendidikan perdamaian dapat masuk, terutama konten tentang bagaimana memasukkan muatan-muatan pendidikan yang optimal bagi para napi. Seorang pendidik pendidikan perdamaian harus mampu mengembangkan ketrampilan dan kualitas mereka yang diajarnya dalam sebuah lingkungan pendidikan yang damai. Untuk itu, para pendidik harus mengalami transformasi personal terlebih dahulu agar mereka mampu menjadi agen-agen pembawa pesan damai yang kredibel (Castro & Galace, 2010).

Dalam program deradikalisasi, transformasi personal adalah saat para mantan napi, dari yang sebelumnya didoktrin untuk kejam, tak berperasaan, dan penuh kekerasan, sudah mengalami proses indoktrinasi ulang. Setelah belajar toleransi dan saling menghargai sesama manusia, mereka berubah menjadi orang yang cinta damai. Kondisi ini dapat dimanfaatkan sebagai cikal bakal pendidikan perdamaian, khususnya untuk kelak menjadi tenaga pendidiknya di masyarakat. Bagaimanapun, para mantan napi adalah warga kita juga. Sebagai anggota masyarakat yang baik, sudah seharusnya kita menerima mereka kembali dengan tangan terbuka. [T]

Penulis: Jerry Indrawan
Editor: Adnyana Ole

Mungkinkah Korut Serang AS?
Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir
Tags: Pendidikanperdamaianterorterorisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

ISI Bali Tebarkan Ragam Kesenian di Taman Bali Indah, Dolina Charlotty, Polandia

Next Post

Suara yang Merampas Sunyi

Jerry Indrawan

Jerry Indrawan

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Suara yang Merampas Sunyi

Suara yang Merampas Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co