16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan by Jerry Indrawan
July 24, 2025
in Esai
Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan

Sejak tahun 2006 Korea Utara (Korut) mulai berani mengadakan uji coba rudal nuklir ICBM (Intercontinental Ballistic Missile). Keadaan ini membuat politik internasional seakan berada di titik nadir. Mengapa?

Sebagai sebuah negara yang dikenal berada di bawah rezim diktator militer bernama Kim Jong-un, keberanian melakukan uji coba nuklir bisa jadi dianggap sebagai awalan untuk memulai perang (prelude to war). Ditambah lagi keterlibatan Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea, dan Asia Timur secara luas, bisa jadi membuat Kim Jong-un terasa makin terancam. Diinisiasi perang Ukraina-Rusia dan Iran-Israel yang belum juga usai, apakah rezim Kim akan memulai perang dengan AS, untuk kemudian melecut terjadinya perang dalam skala besar?

Konflik Dua Korea

Sebelumnya membahas hal di atas, marilah kita amati dulu sejarah antara Korut dengan Korea Selatan (Korsel). Korut adalah sebuah negara yang terbentuk pasca berakhirnya Perang Dunia II oleh pasukan Sekutu yang membagi dua Korea pada paralel utara ke-38, yaitu Korut (di bawah kendali Uni Soviet) dan Korsel (kendali AS). Pasca gencatan senjata, dua negara ini melakukan provokasi dan propaganda yang tak ada hentinya antara satu sama lain. Di era perang dingin, Uni Soviet dan China “membekingi” tindakan Korut, sedangkan AS selalu berada di belakang Korsel.

Menariknya, sekalipun masih dalam keadaan perang, karena tidak pernah ada perjanjian damai antar-keduanya yang mengakhiri perang, hinggi kini perang tidak pernah dilanjutkan. Keadaan di kedua Korea bisa dikatakan berada dalam fase perang dingin, mirip yang terjadi antara Uni Soviet dengan AS dahulu. Ancaman terus terjadi, bahkan sampai ancaman nuklir, tetapi tidak pernah terjadi perang kembali.

Security Dilemma dan Offensive-Defensive Realism

Kondisi tersebut sangat terkait dengan konsep security dilemma-nya John Herz. Security dilemma adalah tindakan yang diambil sebuah negara untuk menjaga kebutuhan keamanannya sendiri, tetapi memiliki kecenderungan untuk memicu ketidaknyamanan negara lainnya. Ketidaknyamanan terjadi karena setiap negara selalu menganggap tindakan yang diambil bersifat defensif, sebaliknya tindakan yang dilakukan negara lain mengancam.

Dalam perspektif realis, terutama pemikiran Rober Jervis tentang offensive-defensive realism, kondisi keamanan yang menegang antara dua Korea sebenarnya sudah diprediksi. Menurut Jervis, saat perilaku ofensif dan defensif sebuah negara dapat dibedakan, keadaan security dilemma tidak kuat (not intense), sekalipun isu keamanan tetap ada. Lingkungan politik internasional aman, karena ancaman keamanan tidak akan mengarah pada perang, tetapi hanya perlombaan senjata dan pembentukan aliansi pertahanan.

Perilaku ofensif  Korut terlihat dari semakin seringnya negara itu menguji coba rudal ICBM dan secara konstan menebar ancaman kepada pihak-pihak yang menentang tindakan Korut tersebut. Sebagai catatan, rudal terbaru dan terkuat Korut adalah Hwasong-19. Hwasong-19 diperkirakan memiliki panjang setidaknya 28 meter, sementara ICBM canggih AS dan Rusia panjangnya kurang dari 20 meter. Sebaliknya, perilaku defensif Korsel terlihat dari kehadiran pangkalan militer AS di Korsel sejak perang Korea berakhir, serta pemasangan sistem pertahanan rudak THAAD yang diproyeksikan mampu mencegat rudal Korut di udara (surface to air missile defense).

Peristiwa yang sama sudah disaksikan dunia ketika era perang dingin, yang berakhir tanpa ada perang antara blok Barat dan blok Timur. Dunia mengalami keadaan security dilemma yang jauh lebih dahsyat dibandingkan keadaan di Korea saat ini, karena yang bersaing kala itu adalah dua raksasa besar yang sama-sama mengembangkan persenjataan nuklir. Jika satu saja ditembakkan, maka dunia dipastikan akan mengalami perang nuklir untuk pertama kalinya. Ternyata, Uni Soviet akhirnya “kalah” tanpa ada satu nuklir pun ditembakkan. Demokratisasi-lah yang membawa akhir pada perang dingin yang mencekam dunia selama puluhan tahun.

Walaupun begitu, penulis yakin tidak ada rezim apa pun, baik komunis, kapitalis, sosialis, teologis, dll, yang ingin menggunakan senjata nuklir hanya untuk ambisi kekuasaan atau perspektif pertahanan, seperti pre-emptive strike. Kekuatan nuklir hanya akan menjadi bagian dari diplomasi keras (hard diplomacy) agar sebuah negara yang memilikinya mendapatkan high profile di mata dunia internasional.

Menurut paham realisme, setiap negara pasti membutuhkan power agar negara tersebut memiliki bargaining position yang tinggi dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Kemudian, salah satu cara meningkatkan profil negaranya adalah dengan memiliki power, yang ke depannya akan mengarah pada hegemoni. Dominasi hegemoni menurut Gramsci adalah di saat krisis otoritas terjadi, fist of force-lah yang akan muncul. Fist of force disini adalah kekuatan militer, yang dalam kasus ini terwujud dalam bentuk senjata nuklir.

Krisis otoritas terjadi di era perang dingin, maupun era saat ini. Akan tetapi, krisis ini hanya akan membawa pada kontestasi senjata (arms race), bukan perang skala global. Rivalitas Uni Soviet dan AS dulu menunjukkan dunia bahwa toh perang nuklir tetap tidak terjadi, sekalipun ribuan rudal nuklir sudah disiapkan di piring masing-masing negara. Tinggal disajikan saja.

Tidak Akan Ada Perang

Diskursus kita adalah, apakah skenario di atas akan dicoba dimainkan oleh para sutradara-sutradara hegemoni, dalam hal ini Kim dan Trump? Jangan-jangan skenario ini tidak pernah sampai ke tingkat produser sehingga hanya tercatat sebagai naskah skenario bekas yang tidak pernah mendapat dana untuk difilm-kan.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya jarang ditanyakan atau dibahas dalam diskursus-diskursus internasional adalah tentang alasan (the why) Korut memiliki senjata pemusnah massal (WMD) sekelas dan sekuat Hwasong-19. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bagi Korut, kepemilikan nuklir mereka hanyalah bagian dari hard diplomacy negara tersebut dalam percaturan politik internasional. Untuk menjaga negaranya dari serangan asing, “Korut butuh pelindung”. WMD itulah pelindung Korut (safeguard).

Pasca Uni Soviet runtuh, praktis hanya Beijing “teman” aliansi Pyongyang yang terkuat. Sebuah kondisi yang dari kacamata pertahanan cukup rapuh, apalagi Korut dikelilingi oleh negara-negara yang menjadi bagian dari aliansi pertahanan tandingan, yang dipimpin AS. Untuk itu, wajar saja Korut mengembangkan senjata nuklir sebagai bagian dari upaya survival negara tersebut, di samping tetap mencari peluang hegemoni.

Walaupun sulit mendapatkan hegemoni militer dan politik dalam level dunia, paling tidak Kim sudah mendapatkan porsinya sendiri di mata penduduk dunia dengan strategi uji coba nuklir ini. Sebuah strategi yang mungkin tidak akan dilakukan ayah dan kakeknya dahulu. Penulis menilai Kim bukanlah madman with a nuclear weapon, seperti yang pernah dituduhkan Donald Trump. Ia hanyalah seorang pemimpin yang ingin membawa bangsanya disegani di dunia internasional, dengan caranya sendiri. Bahasa penulis, Korut membentuk hegemoni ala Kim.

Lalu, apakah membentuk hegemoni harus dengan perang? Sejarah mencatat, selama lebih dari setengah abab sejak perang Korea berakhir, perang antar-keduanya tidak pernah terjadi, sekalipun peluang untuk Korut menyerang duluan tetap terbuka lebar. Hal ini menunjukkan bahwa rivalitas kedua Korea hanya berada dalam tataran perang dingin, bukan perang nuklir. Bahkan, sejak tahun 2006 Korut dengan pemimpinnya Kim Jong-il, sudah melakukan nuclear testing tanpa sekali pun pernah menembakkannya hingga detik ini.

Anaknya, Kim Jong-un, juga bukanlah pemimpin yang tidak paham strategi militer. Jika skenario menembakkan ICBM ke Korsel terlaksana, efek radio aktifnya pasti akan sampai ke Korut juga. Apalagi, jika mereka menyerang Guam, atau bahkan AS sekalipun dengan Hwasong-19 misalnya, tidak mungkin AS dan sekutunya tidak akan membalas. Lalu, apabila AS menyerang Korut dengan ICBM, dampaknya akan dirasakan juga oleh China sebagai tetangga Korut. China pasti akan melakukan retaliation. Rusia sebagai sekutu terdekatnya tidak mungkin tinggal diam. Begitu pula Iran.

Sebuah skenario yang pemimpin mana pun pasti tidak inginkan karena sudah pasti tidak akan ada negara yang mendapat hegemoni, wong dunianya sudah luluh-lantak dihabisi oleh senjata nuklir. Jadi, jawaban dari judul tulisan ini adalah tidak mungkin. Pemimpin yang waras pasti akan berkata tidak! Namun, jika skenario perang ini dibuat film seperti “Avenger: Endgame” misalnya, pasti akan laku keras ditonton orang AS dan juga orang Korut, termasuk Kim dan Trump. [T]

Penulis: Jerry Indrawan
Editor: Adnyana Ole

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buka Festival Lovina, Bupati Sutjidra Akan Tata Kembali Kawasan Lovina Lebih Representatif

Next Post

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Jerry Indrawan

Jerry Indrawan

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co