5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan by Jerry Indrawan
July 24, 2025
in Esai
Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan

Sejak tahun 2006 Korea Utara (Korut) mulai berani mengadakan uji coba rudal nuklir ICBM (Intercontinental Ballistic Missile). Keadaan ini membuat politik internasional seakan berada di titik nadir. Mengapa?

Sebagai sebuah negara yang dikenal berada di bawah rezim diktator militer bernama Kim Jong-un, keberanian melakukan uji coba nuklir bisa jadi dianggap sebagai awalan untuk memulai perang (prelude to war). Ditambah lagi keterlibatan Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea, dan Asia Timur secara luas, bisa jadi membuat Kim Jong-un terasa makin terancam. Diinisiasi perang Ukraina-Rusia dan Iran-Israel yang belum juga usai, apakah rezim Kim akan memulai perang dengan AS, untuk kemudian melecut terjadinya perang dalam skala besar?

Konflik Dua Korea

Sebelumnya membahas hal di atas, marilah kita amati dulu sejarah antara Korut dengan Korea Selatan (Korsel). Korut adalah sebuah negara yang terbentuk pasca berakhirnya Perang Dunia II oleh pasukan Sekutu yang membagi dua Korea pada paralel utara ke-38, yaitu Korut (di bawah kendali Uni Soviet) dan Korsel (kendali AS). Pasca gencatan senjata, dua negara ini melakukan provokasi dan propaganda yang tak ada hentinya antara satu sama lain. Di era perang dingin, Uni Soviet dan China “membekingi” tindakan Korut, sedangkan AS selalu berada di belakang Korsel.

Menariknya, sekalipun masih dalam keadaan perang, karena tidak pernah ada perjanjian damai antar-keduanya yang mengakhiri perang, hinggi kini perang tidak pernah dilanjutkan. Keadaan di kedua Korea bisa dikatakan berada dalam fase perang dingin, mirip yang terjadi antara Uni Soviet dengan AS dahulu. Ancaman terus terjadi, bahkan sampai ancaman nuklir, tetapi tidak pernah terjadi perang kembali.

Security Dilemma dan Offensive-Defensive Realism

Kondisi tersebut sangat terkait dengan konsep security dilemma-nya John Herz. Security dilemma adalah tindakan yang diambil sebuah negara untuk menjaga kebutuhan keamanannya sendiri, tetapi memiliki kecenderungan untuk memicu ketidaknyamanan negara lainnya. Ketidaknyamanan terjadi karena setiap negara selalu menganggap tindakan yang diambil bersifat defensif, sebaliknya tindakan yang dilakukan negara lain mengancam.

Dalam perspektif realis, terutama pemikiran Rober Jervis tentang offensive-defensive realism, kondisi keamanan yang menegang antara dua Korea sebenarnya sudah diprediksi. Menurut Jervis, saat perilaku ofensif dan defensif sebuah negara dapat dibedakan, keadaan security dilemma tidak kuat (not intense), sekalipun isu keamanan tetap ada. Lingkungan politik internasional aman, karena ancaman keamanan tidak akan mengarah pada perang, tetapi hanya perlombaan senjata dan pembentukan aliansi pertahanan.

Perilaku ofensif  Korut terlihat dari semakin seringnya negara itu menguji coba rudal ICBM dan secara konstan menebar ancaman kepada pihak-pihak yang menentang tindakan Korut tersebut. Sebagai catatan, rudal terbaru dan terkuat Korut adalah Hwasong-19. Hwasong-19 diperkirakan memiliki panjang setidaknya 28 meter, sementara ICBM canggih AS dan Rusia panjangnya kurang dari 20 meter. Sebaliknya, perilaku defensif Korsel terlihat dari kehadiran pangkalan militer AS di Korsel sejak perang Korea berakhir, serta pemasangan sistem pertahanan rudak THAAD yang diproyeksikan mampu mencegat rudal Korut di udara (surface to air missile defense).

Peristiwa yang sama sudah disaksikan dunia ketika era perang dingin, yang berakhir tanpa ada perang antara blok Barat dan blok Timur. Dunia mengalami keadaan security dilemma yang jauh lebih dahsyat dibandingkan keadaan di Korea saat ini, karena yang bersaing kala itu adalah dua raksasa besar yang sama-sama mengembangkan persenjataan nuklir. Jika satu saja ditembakkan, maka dunia dipastikan akan mengalami perang nuklir untuk pertama kalinya. Ternyata, Uni Soviet akhirnya “kalah” tanpa ada satu nuklir pun ditembakkan. Demokratisasi-lah yang membawa akhir pada perang dingin yang mencekam dunia selama puluhan tahun.

Walaupun begitu, penulis yakin tidak ada rezim apa pun, baik komunis, kapitalis, sosialis, teologis, dll, yang ingin menggunakan senjata nuklir hanya untuk ambisi kekuasaan atau perspektif pertahanan, seperti pre-emptive strike. Kekuatan nuklir hanya akan menjadi bagian dari diplomasi keras (hard diplomacy) agar sebuah negara yang memilikinya mendapatkan high profile di mata dunia internasional.

Menurut paham realisme, setiap negara pasti membutuhkan power agar negara tersebut memiliki bargaining position yang tinggi dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Kemudian, salah satu cara meningkatkan profil negaranya adalah dengan memiliki power, yang ke depannya akan mengarah pada hegemoni. Dominasi hegemoni menurut Gramsci adalah di saat krisis otoritas terjadi, fist of force-lah yang akan muncul. Fist of force disini adalah kekuatan militer, yang dalam kasus ini terwujud dalam bentuk senjata nuklir.

Krisis otoritas terjadi di era perang dingin, maupun era saat ini. Akan tetapi, krisis ini hanya akan membawa pada kontestasi senjata (arms race), bukan perang skala global. Rivalitas Uni Soviet dan AS dulu menunjukkan dunia bahwa toh perang nuklir tetap tidak terjadi, sekalipun ribuan rudal nuklir sudah disiapkan di piring masing-masing negara. Tinggal disajikan saja.

Tidak Akan Ada Perang

Diskursus kita adalah, apakah skenario di atas akan dicoba dimainkan oleh para sutradara-sutradara hegemoni, dalam hal ini Kim dan Trump? Jangan-jangan skenario ini tidak pernah sampai ke tingkat produser sehingga hanya tercatat sebagai naskah skenario bekas yang tidak pernah mendapat dana untuk difilm-kan.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya jarang ditanyakan atau dibahas dalam diskursus-diskursus internasional adalah tentang alasan (the why) Korut memiliki senjata pemusnah massal (WMD) sekelas dan sekuat Hwasong-19. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bagi Korut, kepemilikan nuklir mereka hanyalah bagian dari hard diplomacy negara tersebut dalam percaturan politik internasional. Untuk menjaga negaranya dari serangan asing, “Korut butuh pelindung”. WMD itulah pelindung Korut (safeguard).

Pasca Uni Soviet runtuh, praktis hanya Beijing “teman” aliansi Pyongyang yang terkuat. Sebuah kondisi yang dari kacamata pertahanan cukup rapuh, apalagi Korut dikelilingi oleh negara-negara yang menjadi bagian dari aliansi pertahanan tandingan, yang dipimpin AS. Untuk itu, wajar saja Korut mengembangkan senjata nuklir sebagai bagian dari upaya survival negara tersebut, di samping tetap mencari peluang hegemoni.

Walaupun sulit mendapatkan hegemoni militer dan politik dalam level dunia, paling tidak Kim sudah mendapatkan porsinya sendiri di mata penduduk dunia dengan strategi uji coba nuklir ini. Sebuah strategi yang mungkin tidak akan dilakukan ayah dan kakeknya dahulu. Penulis menilai Kim bukanlah madman with a nuclear weapon, seperti yang pernah dituduhkan Donald Trump. Ia hanyalah seorang pemimpin yang ingin membawa bangsanya disegani di dunia internasional, dengan caranya sendiri. Bahasa penulis, Korut membentuk hegemoni ala Kim.

Lalu, apakah membentuk hegemoni harus dengan perang? Sejarah mencatat, selama lebih dari setengah abab sejak perang Korea berakhir, perang antar-keduanya tidak pernah terjadi, sekalipun peluang untuk Korut menyerang duluan tetap terbuka lebar. Hal ini menunjukkan bahwa rivalitas kedua Korea hanya berada dalam tataran perang dingin, bukan perang nuklir. Bahkan, sejak tahun 2006 Korut dengan pemimpinnya Kim Jong-il, sudah melakukan nuclear testing tanpa sekali pun pernah menembakkannya hingga detik ini.

Anaknya, Kim Jong-un, juga bukanlah pemimpin yang tidak paham strategi militer. Jika skenario menembakkan ICBM ke Korsel terlaksana, efek radio aktifnya pasti akan sampai ke Korut juga. Apalagi, jika mereka menyerang Guam, atau bahkan AS sekalipun dengan Hwasong-19 misalnya, tidak mungkin AS dan sekutunya tidak akan membalas. Lalu, apabila AS menyerang Korut dengan ICBM, dampaknya akan dirasakan juga oleh China sebagai tetangga Korut. China pasti akan melakukan retaliation. Rusia sebagai sekutu terdekatnya tidak mungkin tinggal diam. Begitu pula Iran.

Sebuah skenario yang pemimpin mana pun pasti tidak inginkan karena sudah pasti tidak akan ada negara yang mendapat hegemoni, wong dunianya sudah luluh-lantak dihabisi oleh senjata nuklir. Jadi, jawaban dari judul tulisan ini adalah tidak mungkin. Pemimpin yang waras pasti akan berkata tidak! Namun, jika skenario perang ini dibuat film seperti “Avenger: Endgame” misalnya, pasti akan laku keras ditonton orang AS dan juga orang Korut, termasuk Kim dan Trump. [T]

Penulis: Jerry Indrawan
Editor: Adnyana Ole

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buka Festival Lovina, Bupati Sutjidra Akan Tata Kembali Kawasan Lovina Lebih Representatif

Next Post

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Jerry Indrawan

Jerry Indrawan

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails
Next Post
Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co