14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan by Jerry Indrawan
July 24, 2025
in Esai
Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan

Sejak tahun 2006 Korea Utara (Korut) mulai berani mengadakan uji coba rudal nuklir ICBM (Intercontinental Ballistic Missile). Keadaan ini membuat politik internasional seakan berada di titik nadir. Mengapa?

Sebagai sebuah negara yang dikenal berada di bawah rezim diktator militer bernama Kim Jong-un, keberanian melakukan uji coba nuklir bisa jadi dianggap sebagai awalan untuk memulai perang (prelude to war). Ditambah lagi keterlibatan Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea, dan Asia Timur secara luas, bisa jadi membuat Kim Jong-un terasa makin terancam. Diinisiasi perang Ukraina-Rusia dan Iran-Israel yang belum juga usai, apakah rezim Kim akan memulai perang dengan AS, untuk kemudian melecut terjadinya perang dalam skala besar?

Konflik Dua Korea

Sebelumnya membahas hal di atas, marilah kita amati dulu sejarah antara Korut dengan Korea Selatan (Korsel). Korut adalah sebuah negara yang terbentuk pasca berakhirnya Perang Dunia II oleh pasukan Sekutu yang membagi dua Korea pada paralel utara ke-38, yaitu Korut (di bawah kendali Uni Soviet) dan Korsel (kendali AS). Pasca gencatan senjata, dua negara ini melakukan provokasi dan propaganda yang tak ada hentinya antara satu sama lain. Di era perang dingin, Uni Soviet dan China “membekingi” tindakan Korut, sedangkan AS selalu berada di belakang Korsel.

Menariknya, sekalipun masih dalam keadaan perang, karena tidak pernah ada perjanjian damai antar-keduanya yang mengakhiri perang, hinggi kini perang tidak pernah dilanjutkan. Keadaan di kedua Korea bisa dikatakan berada dalam fase perang dingin, mirip yang terjadi antara Uni Soviet dengan AS dahulu. Ancaman terus terjadi, bahkan sampai ancaman nuklir, tetapi tidak pernah terjadi perang kembali.

Security Dilemma dan Offensive-Defensive Realism

Kondisi tersebut sangat terkait dengan konsep security dilemma-nya John Herz. Security dilemma adalah tindakan yang diambil sebuah negara untuk menjaga kebutuhan keamanannya sendiri, tetapi memiliki kecenderungan untuk memicu ketidaknyamanan negara lainnya. Ketidaknyamanan terjadi karena setiap negara selalu menganggap tindakan yang diambil bersifat defensif, sebaliknya tindakan yang dilakukan negara lain mengancam.

Dalam perspektif realis, terutama pemikiran Rober Jervis tentang offensive-defensive realism, kondisi keamanan yang menegang antara dua Korea sebenarnya sudah diprediksi. Menurut Jervis, saat perilaku ofensif dan defensif sebuah negara dapat dibedakan, keadaan security dilemma tidak kuat (not intense), sekalipun isu keamanan tetap ada. Lingkungan politik internasional aman, karena ancaman keamanan tidak akan mengarah pada perang, tetapi hanya perlombaan senjata dan pembentukan aliansi pertahanan.

Perilaku ofensif  Korut terlihat dari semakin seringnya negara itu menguji coba rudal ICBM dan secara konstan menebar ancaman kepada pihak-pihak yang menentang tindakan Korut tersebut. Sebagai catatan, rudal terbaru dan terkuat Korut adalah Hwasong-19. Hwasong-19 diperkirakan memiliki panjang setidaknya 28 meter, sementara ICBM canggih AS dan Rusia panjangnya kurang dari 20 meter. Sebaliknya, perilaku defensif Korsel terlihat dari kehadiran pangkalan militer AS di Korsel sejak perang Korea berakhir, serta pemasangan sistem pertahanan rudak THAAD yang diproyeksikan mampu mencegat rudal Korut di udara (surface to air missile defense).

Peristiwa yang sama sudah disaksikan dunia ketika era perang dingin, yang berakhir tanpa ada perang antara blok Barat dan blok Timur. Dunia mengalami keadaan security dilemma yang jauh lebih dahsyat dibandingkan keadaan di Korea saat ini, karena yang bersaing kala itu adalah dua raksasa besar yang sama-sama mengembangkan persenjataan nuklir. Jika satu saja ditembakkan, maka dunia dipastikan akan mengalami perang nuklir untuk pertama kalinya. Ternyata, Uni Soviet akhirnya “kalah” tanpa ada satu nuklir pun ditembakkan. Demokratisasi-lah yang membawa akhir pada perang dingin yang mencekam dunia selama puluhan tahun.

Walaupun begitu, penulis yakin tidak ada rezim apa pun, baik komunis, kapitalis, sosialis, teologis, dll, yang ingin menggunakan senjata nuklir hanya untuk ambisi kekuasaan atau perspektif pertahanan, seperti pre-emptive strike. Kekuatan nuklir hanya akan menjadi bagian dari diplomasi keras (hard diplomacy) agar sebuah negara yang memilikinya mendapatkan high profile di mata dunia internasional.

Menurut paham realisme, setiap negara pasti membutuhkan power agar negara tersebut memiliki bargaining position yang tinggi dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Kemudian, salah satu cara meningkatkan profil negaranya adalah dengan memiliki power, yang ke depannya akan mengarah pada hegemoni. Dominasi hegemoni menurut Gramsci adalah di saat krisis otoritas terjadi, fist of force-lah yang akan muncul. Fist of force disini adalah kekuatan militer, yang dalam kasus ini terwujud dalam bentuk senjata nuklir.

Krisis otoritas terjadi di era perang dingin, maupun era saat ini. Akan tetapi, krisis ini hanya akan membawa pada kontestasi senjata (arms race), bukan perang skala global. Rivalitas Uni Soviet dan AS dulu menunjukkan dunia bahwa toh perang nuklir tetap tidak terjadi, sekalipun ribuan rudal nuklir sudah disiapkan di piring masing-masing negara. Tinggal disajikan saja.

Tidak Akan Ada Perang

Diskursus kita adalah, apakah skenario di atas akan dicoba dimainkan oleh para sutradara-sutradara hegemoni, dalam hal ini Kim dan Trump? Jangan-jangan skenario ini tidak pernah sampai ke tingkat produser sehingga hanya tercatat sebagai naskah skenario bekas yang tidak pernah mendapat dana untuk difilm-kan.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya jarang ditanyakan atau dibahas dalam diskursus-diskursus internasional adalah tentang alasan (the why) Korut memiliki senjata pemusnah massal (WMD) sekelas dan sekuat Hwasong-19. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bagi Korut, kepemilikan nuklir mereka hanyalah bagian dari hard diplomacy negara tersebut dalam percaturan politik internasional. Untuk menjaga negaranya dari serangan asing, “Korut butuh pelindung”. WMD itulah pelindung Korut (safeguard).

Pasca Uni Soviet runtuh, praktis hanya Beijing “teman” aliansi Pyongyang yang terkuat. Sebuah kondisi yang dari kacamata pertahanan cukup rapuh, apalagi Korut dikelilingi oleh negara-negara yang menjadi bagian dari aliansi pertahanan tandingan, yang dipimpin AS. Untuk itu, wajar saja Korut mengembangkan senjata nuklir sebagai bagian dari upaya survival negara tersebut, di samping tetap mencari peluang hegemoni.

Walaupun sulit mendapatkan hegemoni militer dan politik dalam level dunia, paling tidak Kim sudah mendapatkan porsinya sendiri di mata penduduk dunia dengan strategi uji coba nuklir ini. Sebuah strategi yang mungkin tidak akan dilakukan ayah dan kakeknya dahulu. Penulis menilai Kim bukanlah madman with a nuclear weapon, seperti yang pernah dituduhkan Donald Trump. Ia hanyalah seorang pemimpin yang ingin membawa bangsanya disegani di dunia internasional, dengan caranya sendiri. Bahasa penulis, Korut membentuk hegemoni ala Kim.

Lalu, apakah membentuk hegemoni harus dengan perang? Sejarah mencatat, selama lebih dari setengah abab sejak perang Korea berakhir, perang antar-keduanya tidak pernah terjadi, sekalipun peluang untuk Korut menyerang duluan tetap terbuka lebar. Hal ini menunjukkan bahwa rivalitas kedua Korea hanya berada dalam tataran perang dingin, bukan perang nuklir. Bahkan, sejak tahun 2006 Korut dengan pemimpinnya Kim Jong-il, sudah melakukan nuclear testing tanpa sekali pun pernah menembakkannya hingga detik ini.

Anaknya, Kim Jong-un, juga bukanlah pemimpin yang tidak paham strategi militer. Jika skenario menembakkan ICBM ke Korsel terlaksana, efek radio aktifnya pasti akan sampai ke Korut juga. Apalagi, jika mereka menyerang Guam, atau bahkan AS sekalipun dengan Hwasong-19 misalnya, tidak mungkin AS dan sekutunya tidak akan membalas. Lalu, apabila AS menyerang Korut dengan ICBM, dampaknya akan dirasakan juga oleh China sebagai tetangga Korut. China pasti akan melakukan retaliation. Rusia sebagai sekutu terdekatnya tidak mungkin tinggal diam. Begitu pula Iran.

Sebuah skenario yang pemimpin mana pun pasti tidak inginkan karena sudah pasti tidak akan ada negara yang mendapat hegemoni, wong dunianya sudah luluh-lantak dihabisi oleh senjata nuklir. Jadi, jawaban dari judul tulisan ini adalah tidak mungkin. Pemimpin yang waras pasti akan berkata tidak! Namun, jika skenario perang ini dibuat film seperti “Avenger: Endgame” misalnya, pasti akan laku keras ditonton orang AS dan juga orang Korut, termasuk Kim dan Trump. [T]

Penulis: Jerry Indrawan
Editor: Adnyana Ole

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buka Festival Lovina, Bupati Sutjidra Akan Tata Kembali Kawasan Lovina Lebih Representatif

Next Post

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Jerry Indrawan

Jerry Indrawan

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co