5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan by Jerry Indrawan
July 24, 2025
in Esai
Mungkinkah Korut Serang AS?

Jerry Indrawan

Sejak tahun 2006 Korea Utara (Korut) mulai berani mengadakan uji coba rudal nuklir ICBM (Intercontinental Ballistic Missile). Keadaan ini membuat politik internasional seakan berada di titik nadir. Mengapa?

Sebagai sebuah negara yang dikenal berada di bawah rezim diktator militer bernama Kim Jong-un, keberanian melakukan uji coba nuklir bisa jadi dianggap sebagai awalan untuk memulai perang (prelude to war). Ditambah lagi keterlibatan Amerika Serikat (AS) di Semenanjung Korea, dan Asia Timur secara luas, bisa jadi membuat Kim Jong-un terasa makin terancam. Diinisiasi perang Ukraina-Rusia dan Iran-Israel yang belum juga usai, apakah rezim Kim akan memulai perang dengan AS, untuk kemudian melecut terjadinya perang dalam skala besar?

Konflik Dua Korea

Sebelumnya membahas hal di atas, marilah kita amati dulu sejarah antara Korut dengan Korea Selatan (Korsel). Korut adalah sebuah negara yang terbentuk pasca berakhirnya Perang Dunia II oleh pasukan Sekutu yang membagi dua Korea pada paralel utara ke-38, yaitu Korut (di bawah kendali Uni Soviet) dan Korsel (kendali AS). Pasca gencatan senjata, dua negara ini melakukan provokasi dan propaganda yang tak ada hentinya antara satu sama lain. Di era perang dingin, Uni Soviet dan China “membekingi” tindakan Korut, sedangkan AS selalu berada di belakang Korsel.

Menariknya, sekalipun masih dalam keadaan perang, karena tidak pernah ada perjanjian damai antar-keduanya yang mengakhiri perang, hinggi kini perang tidak pernah dilanjutkan. Keadaan di kedua Korea bisa dikatakan berada dalam fase perang dingin, mirip yang terjadi antara Uni Soviet dengan AS dahulu. Ancaman terus terjadi, bahkan sampai ancaman nuklir, tetapi tidak pernah terjadi perang kembali.

Security Dilemma dan Offensive-Defensive Realism

Kondisi tersebut sangat terkait dengan konsep security dilemma-nya John Herz. Security dilemma adalah tindakan yang diambil sebuah negara untuk menjaga kebutuhan keamanannya sendiri, tetapi memiliki kecenderungan untuk memicu ketidaknyamanan negara lainnya. Ketidaknyamanan terjadi karena setiap negara selalu menganggap tindakan yang diambil bersifat defensif, sebaliknya tindakan yang dilakukan negara lain mengancam.

Dalam perspektif realis, terutama pemikiran Rober Jervis tentang offensive-defensive realism, kondisi keamanan yang menegang antara dua Korea sebenarnya sudah diprediksi. Menurut Jervis, saat perilaku ofensif dan defensif sebuah negara dapat dibedakan, keadaan security dilemma tidak kuat (not intense), sekalipun isu keamanan tetap ada. Lingkungan politik internasional aman, karena ancaman keamanan tidak akan mengarah pada perang, tetapi hanya perlombaan senjata dan pembentukan aliansi pertahanan.

Perilaku ofensif  Korut terlihat dari semakin seringnya negara itu menguji coba rudal ICBM dan secara konstan menebar ancaman kepada pihak-pihak yang menentang tindakan Korut tersebut. Sebagai catatan, rudal terbaru dan terkuat Korut adalah Hwasong-19. Hwasong-19 diperkirakan memiliki panjang setidaknya 28 meter, sementara ICBM canggih AS dan Rusia panjangnya kurang dari 20 meter. Sebaliknya, perilaku defensif Korsel terlihat dari kehadiran pangkalan militer AS di Korsel sejak perang Korea berakhir, serta pemasangan sistem pertahanan rudak THAAD yang diproyeksikan mampu mencegat rudal Korut di udara (surface to air missile defense).

Peristiwa yang sama sudah disaksikan dunia ketika era perang dingin, yang berakhir tanpa ada perang antara blok Barat dan blok Timur. Dunia mengalami keadaan security dilemma yang jauh lebih dahsyat dibandingkan keadaan di Korea saat ini, karena yang bersaing kala itu adalah dua raksasa besar yang sama-sama mengembangkan persenjataan nuklir. Jika satu saja ditembakkan, maka dunia dipastikan akan mengalami perang nuklir untuk pertama kalinya. Ternyata, Uni Soviet akhirnya “kalah” tanpa ada satu nuklir pun ditembakkan. Demokratisasi-lah yang membawa akhir pada perang dingin yang mencekam dunia selama puluhan tahun.

Walaupun begitu, penulis yakin tidak ada rezim apa pun, baik komunis, kapitalis, sosialis, teologis, dll, yang ingin menggunakan senjata nuklir hanya untuk ambisi kekuasaan atau perspektif pertahanan, seperti pre-emptive strike. Kekuatan nuklir hanya akan menjadi bagian dari diplomasi keras (hard diplomacy) agar sebuah negara yang memilikinya mendapatkan high profile di mata dunia internasional.

Menurut paham realisme, setiap negara pasti membutuhkan power agar negara tersebut memiliki bargaining position yang tinggi dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Kemudian, salah satu cara meningkatkan profil negaranya adalah dengan memiliki power, yang ke depannya akan mengarah pada hegemoni. Dominasi hegemoni menurut Gramsci adalah di saat krisis otoritas terjadi, fist of force-lah yang akan muncul. Fist of force disini adalah kekuatan militer, yang dalam kasus ini terwujud dalam bentuk senjata nuklir.

Krisis otoritas terjadi di era perang dingin, maupun era saat ini. Akan tetapi, krisis ini hanya akan membawa pada kontestasi senjata (arms race), bukan perang skala global. Rivalitas Uni Soviet dan AS dulu menunjukkan dunia bahwa toh perang nuklir tetap tidak terjadi, sekalipun ribuan rudal nuklir sudah disiapkan di piring masing-masing negara. Tinggal disajikan saja.

Tidak Akan Ada Perang

Diskursus kita adalah, apakah skenario di atas akan dicoba dimainkan oleh para sutradara-sutradara hegemoni, dalam hal ini Kim dan Trump? Jangan-jangan skenario ini tidak pernah sampai ke tingkat produser sehingga hanya tercatat sebagai naskah skenario bekas yang tidak pernah mendapat dana untuk difilm-kan.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya jarang ditanyakan atau dibahas dalam diskursus-diskursus internasional adalah tentang alasan (the why) Korut memiliki senjata pemusnah massal (WMD) sekelas dan sekuat Hwasong-19. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bagi Korut, kepemilikan nuklir mereka hanyalah bagian dari hard diplomacy negara tersebut dalam percaturan politik internasional. Untuk menjaga negaranya dari serangan asing, “Korut butuh pelindung”. WMD itulah pelindung Korut (safeguard).

Pasca Uni Soviet runtuh, praktis hanya Beijing “teman” aliansi Pyongyang yang terkuat. Sebuah kondisi yang dari kacamata pertahanan cukup rapuh, apalagi Korut dikelilingi oleh negara-negara yang menjadi bagian dari aliansi pertahanan tandingan, yang dipimpin AS. Untuk itu, wajar saja Korut mengembangkan senjata nuklir sebagai bagian dari upaya survival negara tersebut, di samping tetap mencari peluang hegemoni.

Walaupun sulit mendapatkan hegemoni militer dan politik dalam level dunia, paling tidak Kim sudah mendapatkan porsinya sendiri di mata penduduk dunia dengan strategi uji coba nuklir ini. Sebuah strategi yang mungkin tidak akan dilakukan ayah dan kakeknya dahulu. Penulis menilai Kim bukanlah madman with a nuclear weapon, seperti yang pernah dituduhkan Donald Trump. Ia hanyalah seorang pemimpin yang ingin membawa bangsanya disegani di dunia internasional, dengan caranya sendiri. Bahasa penulis, Korut membentuk hegemoni ala Kim.

Lalu, apakah membentuk hegemoni harus dengan perang? Sejarah mencatat, selama lebih dari setengah abab sejak perang Korea berakhir, perang antar-keduanya tidak pernah terjadi, sekalipun peluang untuk Korut menyerang duluan tetap terbuka lebar. Hal ini menunjukkan bahwa rivalitas kedua Korea hanya berada dalam tataran perang dingin, bukan perang nuklir. Bahkan, sejak tahun 2006 Korut dengan pemimpinnya Kim Jong-il, sudah melakukan nuclear testing tanpa sekali pun pernah menembakkannya hingga detik ini.

Anaknya, Kim Jong-un, juga bukanlah pemimpin yang tidak paham strategi militer. Jika skenario menembakkan ICBM ke Korsel terlaksana, efek radio aktifnya pasti akan sampai ke Korut juga. Apalagi, jika mereka menyerang Guam, atau bahkan AS sekalipun dengan Hwasong-19 misalnya, tidak mungkin AS dan sekutunya tidak akan membalas. Lalu, apabila AS menyerang Korut dengan ICBM, dampaknya akan dirasakan juga oleh China sebagai tetangga Korut. China pasti akan melakukan retaliation. Rusia sebagai sekutu terdekatnya tidak mungkin tinggal diam. Begitu pula Iran.

Sebuah skenario yang pemimpin mana pun pasti tidak inginkan karena sudah pasti tidak akan ada negara yang mendapat hegemoni, wong dunianya sudah luluh-lantak dihabisi oleh senjata nuklir. Jadi, jawaban dari judul tulisan ini adalah tidak mungkin. Pemimpin yang waras pasti akan berkata tidak! Namun, jika skenario perang ini dibuat film seperti “Avenger: Endgame” misalnya, pasti akan laku keras ditonton orang AS dan juga orang Korut, termasuk Kim dan Trump. [T]

Penulis: Jerry Indrawan
Editor: Adnyana Ole

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buka Festival Lovina, Bupati Sutjidra Akan Tata Kembali Kawasan Lovina Lebih Representatif

Next Post

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Jerry Indrawan

Jerry Indrawan

Dosen Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Global Youth Forum Ikut Belajar di Sekolah Adat Manik Empul Pedawa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co