23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Emi Suy by Emi Suy
July 7, 2025
in Esai
Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Foto ilustrasi: Emi Suy

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Diperjuangkan Diam-Diam

SETIAP pagi, jalan-jalan ramai oleh langkah-langkah tergesa. Wajah-wajah yang sama, rute yang sama, ritme yang tak berubah: bangun, bekerja, pulang, tidur, dan ulangi. Rutinitas, selimut hangat yang perlahan mencekik, sering kita terima sebagai tanda tanggung jawab. Namun ketika manusia berhenti bertanya, ia tidak benar-benar hidup; ia sekadar bertahan.

Kita memburu target, menyusun daftar to-do, mengejar angka, tetapi jarang menghitung apa yang diam-diam hilang: waktu bersama diri, keberanian mencoba hal baru, rasa ingin tahu yang perlahan padam. Rutinitas yang awalnya menopang dapat berubah menjadi borgol halus yang mempersempit pandang. Yang paling menakutkan bukanlah gagal, melainkan merasa aman dalam hidup yang tak lagi bernyawa.

Ada yang hidup, tapi jiwanya tak turut serta. Itu catatan kecil dalam jeda pagi yang tak sempat dibaca banyak orang.

Hidup yang utuh bukan tentang sibuk yang tak selesai. Ia tentang hadir dengan makna. Bukan hanya gerak, melainkan diam yang mendalam. Bukan sekadar selamat, melainkan merasa utuh sebagai manusia. Untuk itu, kita perlu menjeda. Berani berhenti, berani bertanya: masihkah aku hidup atau hanya bernapas dalam keterbiasaan?

Jeda dan Jarum: Cara Perempuan Menyelamatkan Hidupnya

Di tengah riuh rutinitas, ada sosok yang bahkan tak diberi waktu mengeluh: perempuan. Mereka tidak sekadar bergerak; mereka menjahit hidup yang nyaris koyak sambil tetap menghidangkan sarapan, menyeka air mata, dan menyusun ulang sisa harapan. Jarum itu kecil, tetapi di tangan perempuan ia menjelma senjata sunyi. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menyatukan serpihan diri.

“Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri.”

Kalimat itu lahir dari tubuh lelah dan hati nyaris habis. Perempuan tidak selalu menang, tetapi mereka terus menjahit agar tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti jiwa. Mereka diajarkan memberi bahkan saat diri sendiri kekurangan. Menampung air mata, menyimpan kecewa, namun tetap memasak dengan cinta. Di balik semua itu ada jarum tak terlihat, digenggam setiap malam untuk menambal harga diri, merajut keberanian, menyulam kembali napas esok hari.

Kadang hasil jahitan tak rapi, tetapi cukup. Cukup menahan luka agar tak menganga, cukup agar esok pagi mereka bisa berbisik, “Aku masih di sini.”

benang-benang luka
perempuan menyulam sunyi
dari ujung air mata yang sembunyi
ia bukan sedang memperbaiki masa lalu
tapi sedang merajut harapan yang baru
meski benangnya tipis dan jarumnya tumpul
perempuan tetap menjahit dirinya penuh

Hidup yang Dijahit Ulang: Dari Sunyi ke Sadar

Tak semua luka bisa disembuhkan. Beberapa hanya bisa dijahit, meski dengan tangan gemetar dan benang hampir putus. Perempuan tidak dilahirkan kuat. Mereka dibentuk oleh kehilangan, ditempa oleh pengkhianatan, diasah oleh kesunyian. Dunia melaju terlampau cepat, menuntut mereka mengejar dengan napas nyaris habis. Ketika tak ada lagi yang bisa digenggam, mereka memungut sisa-sisa diri, menjahitnya satu per satu dengan doa sumbang dan air mata diam-diam.

Mereka hidup dalam sunyi yang penuh kerja tersembunyi. Sunyi itulah ruang kesadaran perlahan tumbuh. Menyadari tak apa-apa bila belum pulih sepenuhnya. Cukup bila hari ini bisa bertahan. Menjahit hidup bukanlah mengulang masa lalu, melainkan memberi bentuk baru pada diri yang sempat hancur. Dari sunyi ke sadar, dari luka ke makna, itulah hidup yang dijahit ulang.

Perempuan tidak selalu ingin menang. Ia hanya ingin tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti tubuhnya sendiri.

Tidak apa-apa kalau hari ini hanya bisa berdiri sebentar. Kau telah cukup kuat menjahit hidupmu kembali tanpa harus membuktikannya kepada siapa pun.

Perempuan dan Peran: Menjahit Diri dalam Banyak Nama

Perempuan tak hidup dalam satu nama. Ia adalah pribadi, istri, ibu, anak, pekerja, sahabat–dan dalam setiap peran itu, ia diminta hadir sepenuhnya. Ia bukan hanya menjalani, tapi juga merawat, menyambung, merapikan, dan seringkali menyembunyikan lukanya agar tak membebani orang lain. Bukan karena ingin tampak kuat, tetapi karena tahu kapan harus menjadi pelindung, dan kapan harus melindungi dirinya sendiri.

Sebagai individu, ia butuh ruang untuk merasa cukup menjadi dirinya sendiri. Sebagai ibu, ia harus sanggup membelah waktu untuk cinta yang tak kenal lelah. Sebagai istri, ia belajar menautkan dua jiwa tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sebagai pekerja, ia mendisiplinkan lelah, mengemas marah, menyusun mimpi dalam hitungan hari.

Namun perempuan tidak selalu bisa memilih kapan ia menjadi siapa. Dunia kadang menariknya ke segala arah secara bersamaan, dan ia harus menjahit semua itu dalam satu tubuh. Ia meramu kekuatan dari keterbatasan. Ia menyulam peran-peran itu dengan benang yang tak selalu terlihat, tetapi terasa pada kehadiran yang utuh: dalam dekapan, dalam senyum, dalam diam yang mengerti.

Peran-peran itu tidak saling menghapus. Justru di sanalah letak keindahannya. Ia bukan satu, bukan seribu, tapi satu tubuh dengan seribu wajah. Dan yang paling menakjubkan: semua ia jalani, bukan karena bisa segalanya, tapi karena tak punya pilihan untuk berhenti–selain tetap hidup, dan mencintai hidup itu sendiri, seutuh dan serapuh apapun bentuknya.

Menjeda bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan agar kita tidak mati di tengah hidup. Jarum di tangan perempuan mengingatkan bahwa pemulihan kerap berlangsung dalam diam: benang demi benang, hari demi hari. Jika hari ini kau lelah tanpa tahu sebab, mungkin yang kau perlukan bukan sekadar libur, melainkan keberanian menengok ke dalam. Menjeda, meraba luka, lalu perlahan menjahitnya.

Jangan hanya hidup untuk bertahan. Hiduplah untuk menjelajah, walau hanya sejauh keheningan batinmu sendiri. Sebab yang benar-benar hidup bukan yang paling sibuk, melainkan yang paling sanggup berhenti dan bertanya, masihkah aku hidup, atau hanya menjalani hari-hari yang tak kupahami artinya?

Ada hari-hari di mana hidup terasa terlalu panjang untuk dijalani, tapi terlalu singkat untuk dimengerti. Di sanalah kita belajar menjahit bukan hanya luka, tapi juga makna. Kita tak selalu butuh kata bijak. Cukup jeda yang jujur. Cukup keberanian untuk duduk diam dan mendengar detak hati sendiri.

Karena tidak semua luka harus diumumkan, dan tidak semua perjuangan harus disaksikan. Ada yang cukup diketahui langit dan disimpan dalam dada yang tak pernah benar-benar sembuh, tapi tetap memilih hidup.

Jika hari ini kau merasa lelah tanpa nama, dan tubuhmu seperti tak lagi cukup kuat, ingatlah ini. Kau bukan gagal. Kau sedang menjahit ulang dirimu perlahan, tapi sungguh.

Dan itu pun sudah sebuah kemenangan. Dapat merefleksikan ini semua di sela waktu kerja. [T]

Kayu Besar, 7-7-2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Di Tangga Sekolah, Aku Melihatmu Tumbuh
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Tags: filosofirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung Budaya untuk Mengingat Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co