2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Emi Suy by Emi Suy
July 7, 2025
in Esai
Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Foto ilustrasi: Emi Suy

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Diperjuangkan Diam-Diam

SETIAP pagi, jalan-jalan ramai oleh langkah-langkah tergesa. Wajah-wajah yang sama, rute yang sama, ritme yang tak berubah: bangun, bekerja, pulang, tidur, dan ulangi. Rutinitas, selimut hangat yang perlahan mencekik, sering kita terima sebagai tanda tanggung jawab. Namun ketika manusia berhenti bertanya, ia tidak benar-benar hidup; ia sekadar bertahan.

Kita memburu target, menyusun daftar to-do, mengejar angka, tetapi jarang menghitung apa yang diam-diam hilang: waktu bersama diri, keberanian mencoba hal baru, rasa ingin tahu yang perlahan padam. Rutinitas yang awalnya menopang dapat berubah menjadi borgol halus yang mempersempit pandang. Yang paling menakutkan bukanlah gagal, melainkan merasa aman dalam hidup yang tak lagi bernyawa.

Ada yang hidup, tapi jiwanya tak turut serta. Itu catatan kecil dalam jeda pagi yang tak sempat dibaca banyak orang.

Hidup yang utuh bukan tentang sibuk yang tak selesai. Ia tentang hadir dengan makna. Bukan hanya gerak, melainkan diam yang mendalam. Bukan sekadar selamat, melainkan merasa utuh sebagai manusia. Untuk itu, kita perlu menjeda. Berani berhenti, berani bertanya: masihkah aku hidup atau hanya bernapas dalam keterbiasaan?

Jeda dan Jarum: Cara Perempuan Menyelamatkan Hidupnya

Di tengah riuh rutinitas, ada sosok yang bahkan tak diberi waktu mengeluh: perempuan. Mereka tidak sekadar bergerak; mereka menjahit hidup yang nyaris koyak sambil tetap menghidangkan sarapan, menyeka air mata, dan menyusun ulang sisa harapan. Jarum itu kecil, tetapi di tangan perempuan ia menjelma senjata sunyi. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menyatukan serpihan diri.

“Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri.”

Kalimat itu lahir dari tubuh lelah dan hati nyaris habis. Perempuan tidak selalu menang, tetapi mereka terus menjahit agar tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti jiwa. Mereka diajarkan memberi bahkan saat diri sendiri kekurangan. Menampung air mata, menyimpan kecewa, namun tetap memasak dengan cinta. Di balik semua itu ada jarum tak terlihat, digenggam setiap malam untuk menambal harga diri, merajut keberanian, menyulam kembali napas esok hari.

Kadang hasil jahitan tak rapi, tetapi cukup. Cukup menahan luka agar tak menganga, cukup agar esok pagi mereka bisa berbisik, “Aku masih di sini.”

benang-benang luka
perempuan menyulam sunyi
dari ujung air mata yang sembunyi
ia bukan sedang memperbaiki masa lalu
tapi sedang merajut harapan yang baru
meski benangnya tipis dan jarumnya tumpul
perempuan tetap menjahit dirinya penuh

Hidup yang Dijahit Ulang: Dari Sunyi ke Sadar

Tak semua luka bisa disembuhkan. Beberapa hanya bisa dijahit, meski dengan tangan gemetar dan benang hampir putus. Perempuan tidak dilahirkan kuat. Mereka dibentuk oleh kehilangan, ditempa oleh pengkhianatan, diasah oleh kesunyian. Dunia melaju terlampau cepat, menuntut mereka mengejar dengan napas nyaris habis. Ketika tak ada lagi yang bisa digenggam, mereka memungut sisa-sisa diri, menjahitnya satu per satu dengan doa sumbang dan air mata diam-diam.

Mereka hidup dalam sunyi yang penuh kerja tersembunyi. Sunyi itulah ruang kesadaran perlahan tumbuh. Menyadari tak apa-apa bila belum pulih sepenuhnya. Cukup bila hari ini bisa bertahan. Menjahit hidup bukanlah mengulang masa lalu, melainkan memberi bentuk baru pada diri yang sempat hancur. Dari sunyi ke sadar, dari luka ke makna, itulah hidup yang dijahit ulang.

Perempuan tidak selalu ingin menang. Ia hanya ingin tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti tubuhnya sendiri.

Tidak apa-apa kalau hari ini hanya bisa berdiri sebentar. Kau telah cukup kuat menjahit hidupmu kembali tanpa harus membuktikannya kepada siapa pun.

Perempuan dan Peran: Menjahit Diri dalam Banyak Nama

Perempuan tak hidup dalam satu nama. Ia adalah pribadi, istri, ibu, anak, pekerja, sahabat–dan dalam setiap peran itu, ia diminta hadir sepenuhnya. Ia bukan hanya menjalani, tapi juga merawat, menyambung, merapikan, dan seringkali menyembunyikan lukanya agar tak membebani orang lain. Bukan karena ingin tampak kuat, tetapi karena tahu kapan harus menjadi pelindung, dan kapan harus melindungi dirinya sendiri.

Sebagai individu, ia butuh ruang untuk merasa cukup menjadi dirinya sendiri. Sebagai ibu, ia harus sanggup membelah waktu untuk cinta yang tak kenal lelah. Sebagai istri, ia belajar menautkan dua jiwa tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sebagai pekerja, ia mendisiplinkan lelah, mengemas marah, menyusun mimpi dalam hitungan hari.

Namun perempuan tidak selalu bisa memilih kapan ia menjadi siapa. Dunia kadang menariknya ke segala arah secara bersamaan, dan ia harus menjahit semua itu dalam satu tubuh. Ia meramu kekuatan dari keterbatasan. Ia menyulam peran-peran itu dengan benang yang tak selalu terlihat, tetapi terasa pada kehadiran yang utuh: dalam dekapan, dalam senyum, dalam diam yang mengerti.

Peran-peran itu tidak saling menghapus. Justru di sanalah letak keindahannya. Ia bukan satu, bukan seribu, tapi satu tubuh dengan seribu wajah. Dan yang paling menakjubkan: semua ia jalani, bukan karena bisa segalanya, tapi karena tak punya pilihan untuk berhenti–selain tetap hidup, dan mencintai hidup itu sendiri, seutuh dan serapuh apapun bentuknya.

Menjeda bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan agar kita tidak mati di tengah hidup. Jarum di tangan perempuan mengingatkan bahwa pemulihan kerap berlangsung dalam diam: benang demi benang, hari demi hari. Jika hari ini kau lelah tanpa tahu sebab, mungkin yang kau perlukan bukan sekadar libur, melainkan keberanian menengok ke dalam. Menjeda, meraba luka, lalu perlahan menjahitnya.

Jangan hanya hidup untuk bertahan. Hiduplah untuk menjelajah, walau hanya sejauh keheningan batinmu sendiri. Sebab yang benar-benar hidup bukan yang paling sibuk, melainkan yang paling sanggup berhenti dan bertanya, masihkah aku hidup, atau hanya menjalani hari-hari yang tak kupahami artinya?

Ada hari-hari di mana hidup terasa terlalu panjang untuk dijalani, tapi terlalu singkat untuk dimengerti. Di sanalah kita belajar menjahit bukan hanya luka, tapi juga makna. Kita tak selalu butuh kata bijak. Cukup jeda yang jujur. Cukup keberanian untuk duduk diam dan mendengar detak hati sendiri.

Karena tidak semua luka harus diumumkan, dan tidak semua perjuangan harus disaksikan. Ada yang cukup diketahui langit dan disimpan dalam dada yang tak pernah benar-benar sembuh, tapi tetap memilih hidup.

Jika hari ini kau merasa lelah tanpa nama, dan tubuhmu seperti tak lagi cukup kuat, ingatlah ini. Kau bukan gagal. Kau sedang menjahit ulang dirimu perlahan, tapi sungguh.

Dan itu pun sudah sebuah kemenangan. Dapat merefleksikan ini semua di sela waktu kerja. [T]

Kayu Besar, 7-7-2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Di Tangga Sekolah, Aku Melihatmu Tumbuh
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Tags: filosofirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung Budaya untuk Mengingat Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co