23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Emi Suy by Emi Suy
July 7, 2025
in Esai
Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Foto ilustrasi: Emi Suy

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Diperjuangkan Diam-Diam

SETIAP pagi, jalan-jalan ramai oleh langkah-langkah tergesa. Wajah-wajah yang sama, rute yang sama, ritme yang tak berubah: bangun, bekerja, pulang, tidur, dan ulangi. Rutinitas, selimut hangat yang perlahan mencekik, sering kita terima sebagai tanda tanggung jawab. Namun ketika manusia berhenti bertanya, ia tidak benar-benar hidup; ia sekadar bertahan.

Kita memburu target, menyusun daftar to-do, mengejar angka, tetapi jarang menghitung apa yang diam-diam hilang: waktu bersama diri, keberanian mencoba hal baru, rasa ingin tahu yang perlahan padam. Rutinitas yang awalnya menopang dapat berubah menjadi borgol halus yang mempersempit pandang. Yang paling menakutkan bukanlah gagal, melainkan merasa aman dalam hidup yang tak lagi bernyawa.

Ada yang hidup, tapi jiwanya tak turut serta. Itu catatan kecil dalam jeda pagi yang tak sempat dibaca banyak orang.

Hidup yang utuh bukan tentang sibuk yang tak selesai. Ia tentang hadir dengan makna. Bukan hanya gerak, melainkan diam yang mendalam. Bukan sekadar selamat, melainkan merasa utuh sebagai manusia. Untuk itu, kita perlu menjeda. Berani berhenti, berani bertanya: masihkah aku hidup atau hanya bernapas dalam keterbiasaan?

Jeda dan Jarum: Cara Perempuan Menyelamatkan Hidupnya

Di tengah riuh rutinitas, ada sosok yang bahkan tak diberi waktu mengeluh: perempuan. Mereka tidak sekadar bergerak; mereka menjahit hidup yang nyaris koyak sambil tetap menghidangkan sarapan, menyeka air mata, dan menyusun ulang sisa harapan. Jarum itu kecil, tetapi di tangan perempuan ia menjelma senjata sunyi. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menyatukan serpihan diri.

“Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri.”

Kalimat itu lahir dari tubuh lelah dan hati nyaris habis. Perempuan tidak selalu menang, tetapi mereka terus menjahit agar tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti jiwa. Mereka diajarkan memberi bahkan saat diri sendiri kekurangan. Menampung air mata, menyimpan kecewa, namun tetap memasak dengan cinta. Di balik semua itu ada jarum tak terlihat, digenggam setiap malam untuk menambal harga diri, merajut keberanian, menyulam kembali napas esok hari.

Kadang hasil jahitan tak rapi, tetapi cukup. Cukup menahan luka agar tak menganga, cukup agar esok pagi mereka bisa berbisik, “Aku masih di sini.”

benang-benang luka
perempuan menyulam sunyi
dari ujung air mata yang sembunyi
ia bukan sedang memperbaiki masa lalu
tapi sedang merajut harapan yang baru
meski benangnya tipis dan jarumnya tumpul
perempuan tetap menjahit dirinya penuh

Hidup yang Dijahit Ulang: Dari Sunyi ke Sadar

Tak semua luka bisa disembuhkan. Beberapa hanya bisa dijahit, meski dengan tangan gemetar dan benang hampir putus. Perempuan tidak dilahirkan kuat. Mereka dibentuk oleh kehilangan, ditempa oleh pengkhianatan, diasah oleh kesunyian. Dunia melaju terlampau cepat, menuntut mereka mengejar dengan napas nyaris habis. Ketika tak ada lagi yang bisa digenggam, mereka memungut sisa-sisa diri, menjahitnya satu per satu dengan doa sumbang dan air mata diam-diam.

Mereka hidup dalam sunyi yang penuh kerja tersembunyi. Sunyi itulah ruang kesadaran perlahan tumbuh. Menyadari tak apa-apa bila belum pulih sepenuhnya. Cukup bila hari ini bisa bertahan. Menjahit hidup bukanlah mengulang masa lalu, melainkan memberi bentuk baru pada diri yang sempat hancur. Dari sunyi ke sadar, dari luka ke makna, itulah hidup yang dijahit ulang.

Perempuan tidak selalu ingin menang. Ia hanya ingin tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti tubuhnya sendiri.

Tidak apa-apa kalau hari ini hanya bisa berdiri sebentar. Kau telah cukup kuat menjahit hidupmu kembali tanpa harus membuktikannya kepada siapa pun.

Perempuan dan Peran: Menjahit Diri dalam Banyak Nama

Perempuan tak hidup dalam satu nama. Ia adalah pribadi, istri, ibu, anak, pekerja, sahabat–dan dalam setiap peran itu, ia diminta hadir sepenuhnya. Ia bukan hanya menjalani, tapi juga merawat, menyambung, merapikan, dan seringkali menyembunyikan lukanya agar tak membebani orang lain. Bukan karena ingin tampak kuat, tetapi karena tahu kapan harus menjadi pelindung, dan kapan harus melindungi dirinya sendiri.

Sebagai individu, ia butuh ruang untuk merasa cukup menjadi dirinya sendiri. Sebagai ibu, ia harus sanggup membelah waktu untuk cinta yang tak kenal lelah. Sebagai istri, ia belajar menautkan dua jiwa tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sebagai pekerja, ia mendisiplinkan lelah, mengemas marah, menyusun mimpi dalam hitungan hari.

Namun perempuan tidak selalu bisa memilih kapan ia menjadi siapa. Dunia kadang menariknya ke segala arah secara bersamaan, dan ia harus menjahit semua itu dalam satu tubuh. Ia meramu kekuatan dari keterbatasan. Ia menyulam peran-peran itu dengan benang yang tak selalu terlihat, tetapi terasa pada kehadiran yang utuh: dalam dekapan, dalam senyum, dalam diam yang mengerti.

Peran-peran itu tidak saling menghapus. Justru di sanalah letak keindahannya. Ia bukan satu, bukan seribu, tapi satu tubuh dengan seribu wajah. Dan yang paling menakjubkan: semua ia jalani, bukan karena bisa segalanya, tapi karena tak punya pilihan untuk berhenti–selain tetap hidup, dan mencintai hidup itu sendiri, seutuh dan serapuh apapun bentuknya.

Menjeda bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan agar kita tidak mati di tengah hidup. Jarum di tangan perempuan mengingatkan bahwa pemulihan kerap berlangsung dalam diam: benang demi benang, hari demi hari. Jika hari ini kau lelah tanpa tahu sebab, mungkin yang kau perlukan bukan sekadar libur, melainkan keberanian menengok ke dalam. Menjeda, meraba luka, lalu perlahan menjahitnya.

Jangan hanya hidup untuk bertahan. Hiduplah untuk menjelajah, walau hanya sejauh keheningan batinmu sendiri. Sebab yang benar-benar hidup bukan yang paling sibuk, melainkan yang paling sanggup berhenti dan bertanya, masihkah aku hidup, atau hanya menjalani hari-hari yang tak kupahami artinya?

Ada hari-hari di mana hidup terasa terlalu panjang untuk dijalani, tapi terlalu singkat untuk dimengerti. Di sanalah kita belajar menjahit bukan hanya luka, tapi juga makna. Kita tak selalu butuh kata bijak. Cukup jeda yang jujur. Cukup keberanian untuk duduk diam dan mendengar detak hati sendiri.

Karena tidak semua luka harus diumumkan, dan tidak semua perjuangan harus disaksikan. Ada yang cukup diketahui langit dan disimpan dalam dada yang tak pernah benar-benar sembuh, tapi tetap memilih hidup.

Jika hari ini kau merasa lelah tanpa nama, dan tubuhmu seperti tak lagi cukup kuat, ingatlah ini. Kau bukan gagal. Kau sedang menjahit ulang dirimu perlahan, tapi sungguh.

Dan itu pun sudah sebuah kemenangan. Dapat merefleksikan ini semua di sela waktu kerja. [T]

Kayu Besar, 7-7-2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Di Tangga Sekolah, Aku Melihatmu Tumbuh
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Tags: filosofirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung Budaya untuk Mengingat Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co