3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Emi Suy by Emi Suy
July 7, 2025
in Esai
Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Dijahit Ulang dari Sunyi ke Sadar

Foto ilustrasi: Emi Suy

Menjeda dan Menjahit: Hidup yang Diperjuangkan Diam-Diam

SETIAP pagi, jalan-jalan ramai oleh langkah-langkah tergesa. Wajah-wajah yang sama, rute yang sama, ritme yang tak berubah: bangun, bekerja, pulang, tidur, dan ulangi. Rutinitas, selimut hangat yang perlahan mencekik, sering kita terima sebagai tanda tanggung jawab. Namun ketika manusia berhenti bertanya, ia tidak benar-benar hidup; ia sekadar bertahan.

Kita memburu target, menyusun daftar to-do, mengejar angka, tetapi jarang menghitung apa yang diam-diam hilang: waktu bersama diri, keberanian mencoba hal baru, rasa ingin tahu yang perlahan padam. Rutinitas yang awalnya menopang dapat berubah menjadi borgol halus yang mempersempit pandang. Yang paling menakutkan bukanlah gagal, melainkan merasa aman dalam hidup yang tak lagi bernyawa.

Ada yang hidup, tapi jiwanya tak turut serta. Itu catatan kecil dalam jeda pagi yang tak sempat dibaca banyak orang.

Hidup yang utuh bukan tentang sibuk yang tak selesai. Ia tentang hadir dengan makna. Bukan hanya gerak, melainkan diam yang mendalam. Bukan sekadar selamat, melainkan merasa utuh sebagai manusia. Untuk itu, kita perlu menjeda. Berani berhenti, berani bertanya: masihkah aku hidup atau hanya bernapas dalam keterbiasaan?

Jeda dan Jarum: Cara Perempuan Menyelamatkan Hidupnya

Di tengah riuh rutinitas, ada sosok yang bahkan tak diberi waktu mengeluh: perempuan. Mereka tidak sekadar bergerak; mereka menjahit hidup yang nyaris koyak sambil tetap menghidangkan sarapan, menyeka air mata, dan menyusun ulang sisa harapan. Jarum itu kecil, tetapi di tangan perempuan ia menjelma senjata sunyi. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menyatukan serpihan diri.

“Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri.”

Kalimat itu lahir dari tubuh lelah dan hati nyaris habis. Perempuan tidak selalu menang, tetapi mereka terus menjahit agar tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti jiwa. Mereka diajarkan memberi bahkan saat diri sendiri kekurangan. Menampung air mata, menyimpan kecewa, namun tetap memasak dengan cinta. Di balik semua itu ada jarum tak terlihat, digenggam setiap malam untuk menambal harga diri, merajut keberanian, menyulam kembali napas esok hari.

Kadang hasil jahitan tak rapi, tetapi cukup. Cukup menahan luka agar tak menganga, cukup agar esok pagi mereka bisa berbisik, “Aku masih di sini.”

benang-benang luka
perempuan menyulam sunyi
dari ujung air mata yang sembunyi
ia bukan sedang memperbaiki masa lalu
tapi sedang merajut harapan yang baru
meski benangnya tipis dan jarumnya tumpul
perempuan tetap menjahit dirinya penuh

Hidup yang Dijahit Ulang: Dari Sunyi ke Sadar

Tak semua luka bisa disembuhkan. Beberapa hanya bisa dijahit, meski dengan tangan gemetar dan benang hampir putus. Perempuan tidak dilahirkan kuat. Mereka dibentuk oleh kehilangan, ditempa oleh pengkhianatan, diasah oleh kesunyian. Dunia melaju terlampau cepat, menuntut mereka mengejar dengan napas nyaris habis. Ketika tak ada lagi yang bisa digenggam, mereka memungut sisa-sisa diri, menjahitnya satu per satu dengan doa sumbang dan air mata diam-diam.

Mereka hidup dalam sunyi yang penuh kerja tersembunyi. Sunyi itulah ruang kesadaran perlahan tumbuh. Menyadari tak apa-apa bila belum pulih sepenuhnya. Cukup bila hari ini bisa bertahan. Menjahit hidup bukanlah mengulang masa lalu, melainkan memberi bentuk baru pada diri yang sempat hancur. Dari sunyi ke sadar, dari luka ke makna, itulah hidup yang dijahit ulang.

Perempuan tidak selalu ingin menang. Ia hanya ingin tidak terus kalah oleh luka yang diam-diam menggerogoti tubuhnya sendiri.

Tidak apa-apa kalau hari ini hanya bisa berdiri sebentar. Kau telah cukup kuat menjahit hidupmu kembali tanpa harus membuktikannya kepada siapa pun.

Perempuan dan Peran: Menjahit Diri dalam Banyak Nama

Perempuan tak hidup dalam satu nama. Ia adalah pribadi, istri, ibu, anak, pekerja, sahabat–dan dalam setiap peran itu, ia diminta hadir sepenuhnya. Ia bukan hanya menjalani, tapi juga merawat, menyambung, merapikan, dan seringkali menyembunyikan lukanya agar tak membebani orang lain. Bukan karena ingin tampak kuat, tetapi karena tahu kapan harus menjadi pelindung, dan kapan harus melindungi dirinya sendiri.

Sebagai individu, ia butuh ruang untuk merasa cukup menjadi dirinya sendiri. Sebagai ibu, ia harus sanggup membelah waktu untuk cinta yang tak kenal lelah. Sebagai istri, ia belajar menautkan dua jiwa tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sebagai pekerja, ia mendisiplinkan lelah, mengemas marah, menyusun mimpi dalam hitungan hari.

Namun perempuan tidak selalu bisa memilih kapan ia menjadi siapa. Dunia kadang menariknya ke segala arah secara bersamaan, dan ia harus menjahit semua itu dalam satu tubuh. Ia meramu kekuatan dari keterbatasan. Ia menyulam peran-peran itu dengan benang yang tak selalu terlihat, tetapi terasa pada kehadiran yang utuh: dalam dekapan, dalam senyum, dalam diam yang mengerti.

Peran-peran itu tidak saling menghapus. Justru di sanalah letak keindahannya. Ia bukan satu, bukan seribu, tapi satu tubuh dengan seribu wajah. Dan yang paling menakjubkan: semua ia jalani, bukan karena bisa segalanya, tapi karena tak punya pilihan untuk berhenti–selain tetap hidup, dan mencintai hidup itu sendiri, seutuh dan serapuh apapun bentuknya.

Menjeda bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan agar kita tidak mati di tengah hidup. Jarum di tangan perempuan mengingatkan bahwa pemulihan kerap berlangsung dalam diam: benang demi benang, hari demi hari. Jika hari ini kau lelah tanpa tahu sebab, mungkin yang kau perlukan bukan sekadar libur, melainkan keberanian menengok ke dalam. Menjeda, meraba luka, lalu perlahan menjahitnya.

Jangan hanya hidup untuk bertahan. Hiduplah untuk menjelajah, walau hanya sejauh keheningan batinmu sendiri. Sebab yang benar-benar hidup bukan yang paling sibuk, melainkan yang paling sanggup berhenti dan bertanya, masihkah aku hidup, atau hanya menjalani hari-hari yang tak kupahami artinya?

Ada hari-hari di mana hidup terasa terlalu panjang untuk dijalani, tapi terlalu singkat untuk dimengerti. Di sanalah kita belajar menjahit bukan hanya luka, tapi juga makna. Kita tak selalu butuh kata bijak. Cukup jeda yang jujur. Cukup keberanian untuk duduk diam dan mendengar detak hati sendiri.

Karena tidak semua luka harus diumumkan, dan tidak semua perjuangan harus disaksikan. Ada yang cukup diketahui langit dan disimpan dalam dada yang tak pernah benar-benar sembuh, tapi tetap memilih hidup.

Jika hari ini kau merasa lelah tanpa nama, dan tubuhmu seperti tak lagi cukup kuat, ingatlah ini. Kau bukan gagal. Kau sedang menjahit ulang dirimu perlahan, tapi sungguh.

Dan itu pun sudah sebuah kemenangan. Dapat merefleksikan ini semua di sela waktu kerja. [T]

Kayu Besar, 7-7-2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Di Tangga Sekolah, Aku Melihatmu Tumbuh
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Tags: filosofirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung Budaya untuk Mengingat Seratus Tahun Rarud Batur

Next Post

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Manis dan Anggun, Legong Bhima Sakti dari Sanggar Seni Cakup Kaler, Petang-Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co