22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy by Emi Suy
September 10, 2024
in Opini
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy

SAYA tidak tahu bagaimana menulis hal-hal yang kasatmata untuk disematkan pada kata “pria” yang mewakili sosok manusia laki-laki dewasa, maksudnya satu pandangan ideal, misalnya seperti feminisme, yang memandang lelaki sebagai oposisi dalam bingkai perjuangan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Laki-laki dijadikan sebagai simbol penindasan, istilah seperti maskulinitas (kelelakian dalam konteks psikoanalisa) dan patriarki (sistem yang menindas perempuan dalam konteks teori budaya, misalnya) sebagai suatu konsep yang menandai adanya praktik kekerasan dan kejahatan atas keperempuanan dan kaum minoritias lainnya (di dalam sejarah) sehingga diperlukan alat perjuangan untuk menciptakan apa yang dinamakan keadilan dan kesejahteraan bersama (menciptakan sejarah baru).

Saya tidak sedang membicarakan hal tersebut atau menjadi seperti seorang feminis, misalnya, yang menuliskan pemikiran yang berlaku universal semacam itu. Saya hanya akan melihat pria secara konkret, dalam arti pria yang saya benar-benar kenal dalam kehidupan nyata saya, bukan pria secara teoritis seperti yang dibicarakan dalam konteks feminisme tadi. Bukan saya tidak setuju dengan pemikiran feminisme, tentu saja ada aspek-aspek penting di sana yang bisa dijadikan rujukan kita untuk memahami konteks yang lebih luas, tetapi itu bukan topik yang akan saya bahas dalam tulisan kecil saya ini.

Berbicara pria dari sudut pandang wanita (saya lebih suka menggunakan kata “perempuan”) memang rawan, terutama jika berhadapan dengan akal feminis tadi. Jika saya memuji lelaki, misalnya, tentu saja saya akan dianggap kurang kritis. Padahal pujian terhadap lelaki (katakanlah suami) adalah suatu yang lahir dari rasa bukan nalar. Sedangkan para feminis terus menggunakan akal untuk menilai term “lelaki” tadi. Saya hanya akan bicara tentang seorang pria yang saya kenal baik sejauh ini, ia adalah suami saya.

Satu-satunya pria yang pernah saya kenal begitu akrab setelah ayah saya hanyalah suami saya. Bagi saya apa yang menurut banyak orang tidak konkret, seperti rindu, kasih sayang, peduli, saya mengalami semua itu dengan konret bersama suami saya. Sebagai wanita atau lebih tepat sebagai seorang istri sekaligus ibu, pandangan saya tentang suami tentu saja adalah pandangan yang sangat subjektif sekaligus personal, tidak bisa digeneralisasi untuk semua pria dan tidak berlaku bagi semua wanita.

Bahwa, misalnya wanita hanya dapat bahagia ketika dia menikah dengan seorang pria, tidak demikian yang saya maksud. Ya, mungkin perempuan bisa bahagia ketika menikah dengan pria yang tepat, jika tidak tentu saja tidak akan bahagia. Sebab banyak sekali pria yang tidak mampu membahagiakan wanita, alih-alih membahagiakan malah membikin kecewa dan trauma. Dan banyak sekali perempuan sekarang yang memilih tidak menikah atau menunda pernikahan, karena berbagai alasan. Menurut saya itu sah, sebab kebahagiaan tiap perempuan yang mengetahui adalah masing-masing, dan satu pandangan perempuan tidak bisa sama untuk sesama perempuan. Saya mungkin orang yang beruntung karena pernikahan saya berjalan baik, suami saya juga memahami saya dan menerima saya dengan tulus penuh cinta.

Ada satu hal yang saya kira sangat penting untuk dibicarakan di sini, yaitu tentang kebahagiaan seorang istri. Menurut saya kebahagiaan itu tidak memiliki ukuran standar yang baku, mengapa? Sebab ukuran kebahagiaan setiap orang berbeda-beda — tidak selalu sama dan tidak pernah akan sama. Salah satu definisi kebahagiaan menurut KBBI, yaitu suatu keadaan pikiran atau perasaan kesenangan, ketentraman hidup secara lahir dan batin. Saya beruntung karena menemukan hal itu di dalam kehidupan rumah tangga, itulah yang membuat saya sering mengatakan bahwa kebahagiaan saya terletak di tangan suami saya.

Mengapa meraih kebahagiaan dalam hidup itu penting? Sebab kebahagiaanlah yang dicari oleh setiap orang. Kebahagiaan membuat mindset seseorang jadi positif. Orang yang tidak bahagia adalah orang yang cenderung negatif dan hanya akan memandang masalah sebagai kesulitan, sedangkan orang yang bahagia akan selalu bersikap positif dan selalu optimis menghadapi dinamika kehidupan.

Lalu apa yang menjadi sumber kebahagiaan utama bagi manusia? Erbe Sentanu, dalam bukunya Quantum Ikhlas, menyarankan agar setiap orang bersyukur atas semua yang didapatkannya setiap saat dan merasakan kenikmatan memiliki apa yang telah diraihnya selama ini. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sumber dari segala kebahagiaan yang diraih setiap orang berasal dari hatinya.

Dari mana kebahagiaan berasal? Sumber kebahagiaan berasal dari dalam diri manusia. Karena yang bisa merasakan kebahagiaan ada di dalam diri, yaitu di hati, maka yang harus dicari adalah bagaimana hati manusia itu mampu merasakan kebahagiaan. Sebab hati adalah kunci untuk memasuki pintu-pintu kebahagiaan. Hati yang bersih dan tenang akan mudah merasakan kebahagiaan dan menularkan kebahagiaan kepada orang lain.

Menurut saya kebahagiaan atau ketenangan bisa diraih bersama keluarga, jika kita hidup sebagai istri, misalnya, kita bisa meraih kebahagiaan bersama dengan suami kita. Alangkah bahagianya hidup dalam naungan kasih sayang dan cinta. Rasa syukur sebagai pondasi dalam membina rumah tangga akan mendatangkan ketentraman, dalam bahasa Jawa, menjadi rumah tangga yang adem ayem tentrem. Pasangan yang harmonis akan saling memberikan support dan dukungan dengan pondasi kepercayaan, kejujuran, dan saling memahami satu sama lain adalah aspek yang sangat penting dalam menciptakan kebahagiaan di dalam rumah.

Seorang suami adalah imam bagi istri dan anak-anak. Kebahagiaan istri juga dipengaruhi oleh bagaimana suami memperlakukan istri dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun sikap suami dari hal-hal kecil, kepedulian dan kasih sayang sangat berdampak pada psikis istri. Saya sepakat bahwa di balik kebahagiaan istri ada peran besar seorang suami. Namun, sejatinya kebahagiaan itu diupayakan berdua bukan hanya oleh suami saja atau sebaliknya oleh istri saja. Menciptakan kebahagiaan dimulai dari hal terkecil setiap harinya di dalam rumah, sebab rumah adalah surga kecil yang harus kita ciptakan sendiri, terutama kesadaran suami bahwa membahagiakan istri juga memperlancar rezeki suami.

Setiap pasangan tentu memiliki bahasa cinta dan cara-cara menjaga keutuhan rumah tangga serta keharmonisan dalam rumah tangga masing-masing. Setiap orang tentu memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa cinta kepada pasangannya. Umumnya banyak orang yang menganggap menunjukkan rasa cinta harus ditunjukkan melalui ucapan. Namun, ada juga rasa cinta istri atau suami yang disampaikan melalui cara lain, misalnya, menulis surat cinta, membuat puisi, memberikan hadiah-haidah kecil atau menunjukkan sikap yang membuat pasangan bahagia. Cara-cara itu tidak harus selalu muluk, sederhana pun bisa.

Sebagai istri kebetulan saya pernah menulis surat cinta yang saya ikut sertakan dalam event Lomba Menulis Surat Cinta yang diselenggarakan kerja sama Pos Bloc, Pos Indonesia, Indonesia Hidden Heritage dan History Consultation Agency. Dan Surat Cinta saya terpilih panitia masuk juara 2 dari 10 besar surat terbaik. Sebuah upaya merawat sebuah rumah (surga kecil) yang kami bangun sejak menikah. Bangunan itu bernama CINTA.

Kertas suratnya saya desain sendiri dan hanya cetak dua lembar saja. Di atas kertas yang bergambar wajah suami — semalaman saya menuliskan surat cinta itu hingga dini hari. Surat cinta yang saya tulis dengan rasa yang utuh hati yang penuh berlatar wajah sumia saya — setidaknya membuatnya bahagia, ada hal-hal kecil yang romantis sengaja saya bangun di tengah perjalanan — tapi percayalah rasa yang sebenarnya lebih dari yang saya tulis itu. Saya ingin menua bersama hingga habis usia.

Cinta yang yang saya ekspresikan lewat surat rasanya tidak cukup mewakili seluruh perasaan saya. Saya juga menulis puisi dan beberapa catatan yang saya persembahkan untuk suami saya. Saya merasa tidak mungkin dapat mengungkapkan atau mengekspresikan semua itu tanpa adanya rasa bahagia di dalam diri saya. Artinya, saya mengamini bahwa kreativitas saya adalah suatu berkah sebab saya mendapat anugerah berupa suami yang dengannya saya merasa begitu bahagia.

Saya melihat kebahagiaan begitu kasatmata ada terletak di tangan suami saya, dan saya berharap wanita yang berniat hendak menikah dapat menemukan suami yang membuatnya begitu bahagia dan dengan kebahagiaan itu mereka dapat mengekspresikannya secara kreatif seperti saya.

Dengan begini saya telah membuktikan bahwa cinta yang tulus membuat kita terbebas dari belenggu maskulinitas dan patriarki, dan begitulah saya berharap seorang pria dapat menjadi sumber kebahagiaan wanita, tentu itu adalah suatu harapan yang semoga menjadi kenyataan perempuan-perempuan di luar sana.

Ketika wanita menemukan pria yang tepat dalam hidupnya, ia akan mengalami kebahagiaan bukan sebagai suatu ilusi tetapi sebagai kenyataan yang benar-benar konret, bukan hanya kasatmata tetapi dirasakan sedalam-dalamnya.

Menikah bukanlah suatu relasi yang timpang, tetapi setara. Begitulah saya bahagia dan merasakan bahwa suami saya adalah teman hidup saya, semoga hingga akhir nanti dan kelak berlanjut di akhirat. Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip puisi yang menggambarkan betapa suami saya adalah teman hidup saya yang sejati, mata air kebahagiaan saya yang terus mengalir tiap hembus napas yang keluar dari dada saya.

TEMAN HIDUP

di waktu tidur
kita saling bertukar
suara dengkur
yang tak teratur
tapi
jika kita bertengkar
cepat-cepat melingkar
enggan menakar sabar

hingga hari-hari tumbuh tua
udara jadi dingin
kita akan terus bersama
menimba mata air
dari air mata kita
menimba bahagia
sedalam sumur
umur sedalam rasa

2024

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Seni Melepaskan dan Memaafkan
Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Tags: feminismeistrikebahagiaanPerempuansuamisuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Prestasi, Masih Ada PR — Catatan HUT ke-38 Perumda Tirta Hita Buleleng

Next Post

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co