23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy by Emi Suy
September 10, 2024
in Opini
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy

SAYA tidak tahu bagaimana menulis hal-hal yang kasatmata untuk disematkan pada kata “pria” yang mewakili sosok manusia laki-laki dewasa, maksudnya satu pandangan ideal, misalnya seperti feminisme, yang memandang lelaki sebagai oposisi dalam bingkai perjuangan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Laki-laki dijadikan sebagai simbol penindasan, istilah seperti maskulinitas (kelelakian dalam konteks psikoanalisa) dan patriarki (sistem yang menindas perempuan dalam konteks teori budaya, misalnya) sebagai suatu konsep yang menandai adanya praktik kekerasan dan kejahatan atas keperempuanan dan kaum minoritias lainnya (di dalam sejarah) sehingga diperlukan alat perjuangan untuk menciptakan apa yang dinamakan keadilan dan kesejahteraan bersama (menciptakan sejarah baru).

Saya tidak sedang membicarakan hal tersebut atau menjadi seperti seorang feminis, misalnya, yang menuliskan pemikiran yang berlaku universal semacam itu. Saya hanya akan melihat pria secara konkret, dalam arti pria yang saya benar-benar kenal dalam kehidupan nyata saya, bukan pria secara teoritis seperti yang dibicarakan dalam konteks feminisme tadi. Bukan saya tidak setuju dengan pemikiran feminisme, tentu saja ada aspek-aspek penting di sana yang bisa dijadikan rujukan kita untuk memahami konteks yang lebih luas, tetapi itu bukan topik yang akan saya bahas dalam tulisan kecil saya ini.

Berbicara pria dari sudut pandang wanita (saya lebih suka menggunakan kata “perempuan”) memang rawan, terutama jika berhadapan dengan akal feminis tadi. Jika saya memuji lelaki, misalnya, tentu saja saya akan dianggap kurang kritis. Padahal pujian terhadap lelaki (katakanlah suami) adalah suatu yang lahir dari rasa bukan nalar. Sedangkan para feminis terus menggunakan akal untuk menilai term “lelaki” tadi. Saya hanya akan bicara tentang seorang pria yang saya kenal baik sejauh ini, ia adalah suami saya.

Satu-satunya pria yang pernah saya kenal begitu akrab setelah ayah saya hanyalah suami saya. Bagi saya apa yang menurut banyak orang tidak konkret, seperti rindu, kasih sayang, peduli, saya mengalami semua itu dengan konret bersama suami saya. Sebagai wanita atau lebih tepat sebagai seorang istri sekaligus ibu, pandangan saya tentang suami tentu saja adalah pandangan yang sangat subjektif sekaligus personal, tidak bisa digeneralisasi untuk semua pria dan tidak berlaku bagi semua wanita.

Bahwa, misalnya wanita hanya dapat bahagia ketika dia menikah dengan seorang pria, tidak demikian yang saya maksud. Ya, mungkin perempuan bisa bahagia ketika menikah dengan pria yang tepat, jika tidak tentu saja tidak akan bahagia. Sebab banyak sekali pria yang tidak mampu membahagiakan wanita, alih-alih membahagiakan malah membikin kecewa dan trauma. Dan banyak sekali perempuan sekarang yang memilih tidak menikah atau menunda pernikahan, karena berbagai alasan. Menurut saya itu sah, sebab kebahagiaan tiap perempuan yang mengetahui adalah masing-masing, dan satu pandangan perempuan tidak bisa sama untuk sesama perempuan. Saya mungkin orang yang beruntung karena pernikahan saya berjalan baik, suami saya juga memahami saya dan menerima saya dengan tulus penuh cinta.

Ada satu hal yang saya kira sangat penting untuk dibicarakan di sini, yaitu tentang kebahagiaan seorang istri. Menurut saya kebahagiaan itu tidak memiliki ukuran standar yang baku, mengapa? Sebab ukuran kebahagiaan setiap orang berbeda-beda — tidak selalu sama dan tidak pernah akan sama. Salah satu definisi kebahagiaan menurut KBBI, yaitu suatu keadaan pikiran atau perasaan kesenangan, ketentraman hidup secara lahir dan batin. Saya beruntung karena menemukan hal itu di dalam kehidupan rumah tangga, itulah yang membuat saya sering mengatakan bahwa kebahagiaan saya terletak di tangan suami saya.

Mengapa meraih kebahagiaan dalam hidup itu penting? Sebab kebahagiaanlah yang dicari oleh setiap orang. Kebahagiaan membuat mindset seseorang jadi positif. Orang yang tidak bahagia adalah orang yang cenderung negatif dan hanya akan memandang masalah sebagai kesulitan, sedangkan orang yang bahagia akan selalu bersikap positif dan selalu optimis menghadapi dinamika kehidupan.

Lalu apa yang menjadi sumber kebahagiaan utama bagi manusia? Erbe Sentanu, dalam bukunya Quantum Ikhlas, menyarankan agar setiap orang bersyukur atas semua yang didapatkannya setiap saat dan merasakan kenikmatan memiliki apa yang telah diraihnya selama ini. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sumber dari segala kebahagiaan yang diraih setiap orang berasal dari hatinya.

Dari mana kebahagiaan berasal? Sumber kebahagiaan berasal dari dalam diri manusia. Karena yang bisa merasakan kebahagiaan ada di dalam diri, yaitu di hati, maka yang harus dicari adalah bagaimana hati manusia itu mampu merasakan kebahagiaan. Sebab hati adalah kunci untuk memasuki pintu-pintu kebahagiaan. Hati yang bersih dan tenang akan mudah merasakan kebahagiaan dan menularkan kebahagiaan kepada orang lain.

Menurut saya kebahagiaan atau ketenangan bisa diraih bersama keluarga, jika kita hidup sebagai istri, misalnya, kita bisa meraih kebahagiaan bersama dengan suami kita. Alangkah bahagianya hidup dalam naungan kasih sayang dan cinta. Rasa syukur sebagai pondasi dalam membina rumah tangga akan mendatangkan ketentraman, dalam bahasa Jawa, menjadi rumah tangga yang adem ayem tentrem. Pasangan yang harmonis akan saling memberikan support dan dukungan dengan pondasi kepercayaan, kejujuran, dan saling memahami satu sama lain adalah aspek yang sangat penting dalam menciptakan kebahagiaan di dalam rumah.

Seorang suami adalah imam bagi istri dan anak-anak. Kebahagiaan istri juga dipengaruhi oleh bagaimana suami memperlakukan istri dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun sikap suami dari hal-hal kecil, kepedulian dan kasih sayang sangat berdampak pada psikis istri. Saya sepakat bahwa di balik kebahagiaan istri ada peran besar seorang suami. Namun, sejatinya kebahagiaan itu diupayakan berdua bukan hanya oleh suami saja atau sebaliknya oleh istri saja. Menciptakan kebahagiaan dimulai dari hal terkecil setiap harinya di dalam rumah, sebab rumah adalah surga kecil yang harus kita ciptakan sendiri, terutama kesadaran suami bahwa membahagiakan istri juga memperlancar rezeki suami.

Setiap pasangan tentu memiliki bahasa cinta dan cara-cara menjaga keutuhan rumah tangga serta keharmonisan dalam rumah tangga masing-masing. Setiap orang tentu memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa cinta kepada pasangannya. Umumnya banyak orang yang menganggap menunjukkan rasa cinta harus ditunjukkan melalui ucapan. Namun, ada juga rasa cinta istri atau suami yang disampaikan melalui cara lain, misalnya, menulis surat cinta, membuat puisi, memberikan hadiah-haidah kecil atau menunjukkan sikap yang membuat pasangan bahagia. Cara-cara itu tidak harus selalu muluk, sederhana pun bisa.

Sebagai istri kebetulan saya pernah menulis surat cinta yang saya ikut sertakan dalam event Lomba Menulis Surat Cinta yang diselenggarakan kerja sama Pos Bloc, Pos Indonesia, Indonesia Hidden Heritage dan History Consultation Agency. Dan Surat Cinta saya terpilih panitia masuk juara 2 dari 10 besar surat terbaik. Sebuah upaya merawat sebuah rumah (surga kecil) yang kami bangun sejak menikah. Bangunan itu bernama CINTA.

Kertas suratnya saya desain sendiri dan hanya cetak dua lembar saja. Di atas kertas yang bergambar wajah suami — semalaman saya menuliskan surat cinta itu hingga dini hari. Surat cinta yang saya tulis dengan rasa yang utuh hati yang penuh berlatar wajah sumia saya — setidaknya membuatnya bahagia, ada hal-hal kecil yang romantis sengaja saya bangun di tengah perjalanan — tapi percayalah rasa yang sebenarnya lebih dari yang saya tulis itu. Saya ingin menua bersama hingga habis usia.

Cinta yang yang saya ekspresikan lewat surat rasanya tidak cukup mewakili seluruh perasaan saya. Saya juga menulis puisi dan beberapa catatan yang saya persembahkan untuk suami saya. Saya merasa tidak mungkin dapat mengungkapkan atau mengekspresikan semua itu tanpa adanya rasa bahagia di dalam diri saya. Artinya, saya mengamini bahwa kreativitas saya adalah suatu berkah sebab saya mendapat anugerah berupa suami yang dengannya saya merasa begitu bahagia.

Saya melihat kebahagiaan begitu kasatmata ada terletak di tangan suami saya, dan saya berharap wanita yang berniat hendak menikah dapat menemukan suami yang membuatnya begitu bahagia dan dengan kebahagiaan itu mereka dapat mengekspresikannya secara kreatif seperti saya.

Dengan begini saya telah membuktikan bahwa cinta yang tulus membuat kita terbebas dari belenggu maskulinitas dan patriarki, dan begitulah saya berharap seorang pria dapat menjadi sumber kebahagiaan wanita, tentu itu adalah suatu harapan yang semoga menjadi kenyataan perempuan-perempuan di luar sana.

Ketika wanita menemukan pria yang tepat dalam hidupnya, ia akan mengalami kebahagiaan bukan sebagai suatu ilusi tetapi sebagai kenyataan yang benar-benar konret, bukan hanya kasatmata tetapi dirasakan sedalam-dalamnya.

Menikah bukanlah suatu relasi yang timpang, tetapi setara. Begitulah saya bahagia dan merasakan bahwa suami saya adalah teman hidup saya, semoga hingga akhir nanti dan kelak berlanjut di akhirat. Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip puisi yang menggambarkan betapa suami saya adalah teman hidup saya yang sejati, mata air kebahagiaan saya yang terus mengalir tiap hembus napas yang keluar dari dada saya.

TEMAN HIDUP

di waktu tidur
kita saling bertukar
suara dengkur
yang tak teratur
tapi
jika kita bertengkar
cepat-cepat melingkar
enggan menakar sabar

hingga hari-hari tumbuh tua
udara jadi dingin
kita akan terus bersama
menimba mata air
dari air mata kita
menimba bahagia
sedalam sumur
umur sedalam rasa

2024

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Seni Melepaskan dan Memaafkan
Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Tags: feminismeistrikebahagiaanPerempuansuamisuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Prestasi, Masih Ada PR — Catatan HUT ke-38 Perumda Tirta Hita Buleleng

Next Post

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post
The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co