2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy by Emi Suy
September 10, 2024
in Opini
Kebahagiaan Istri Terletak di Tangan Suami

Emi Suy

SAYA tidak tahu bagaimana menulis hal-hal yang kasatmata untuk disematkan pada kata “pria” yang mewakili sosok manusia laki-laki dewasa, maksudnya satu pandangan ideal, misalnya seperti feminisme, yang memandang lelaki sebagai oposisi dalam bingkai perjuangan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Laki-laki dijadikan sebagai simbol penindasan, istilah seperti maskulinitas (kelelakian dalam konteks psikoanalisa) dan patriarki (sistem yang menindas perempuan dalam konteks teori budaya, misalnya) sebagai suatu konsep yang menandai adanya praktik kekerasan dan kejahatan atas keperempuanan dan kaum minoritias lainnya (di dalam sejarah) sehingga diperlukan alat perjuangan untuk menciptakan apa yang dinamakan keadilan dan kesejahteraan bersama (menciptakan sejarah baru).

Saya tidak sedang membicarakan hal tersebut atau menjadi seperti seorang feminis, misalnya, yang menuliskan pemikiran yang berlaku universal semacam itu. Saya hanya akan melihat pria secara konkret, dalam arti pria yang saya benar-benar kenal dalam kehidupan nyata saya, bukan pria secara teoritis seperti yang dibicarakan dalam konteks feminisme tadi. Bukan saya tidak setuju dengan pemikiran feminisme, tentu saja ada aspek-aspek penting di sana yang bisa dijadikan rujukan kita untuk memahami konteks yang lebih luas, tetapi itu bukan topik yang akan saya bahas dalam tulisan kecil saya ini.

Berbicara pria dari sudut pandang wanita (saya lebih suka menggunakan kata “perempuan”) memang rawan, terutama jika berhadapan dengan akal feminis tadi. Jika saya memuji lelaki, misalnya, tentu saja saya akan dianggap kurang kritis. Padahal pujian terhadap lelaki (katakanlah suami) adalah suatu yang lahir dari rasa bukan nalar. Sedangkan para feminis terus menggunakan akal untuk menilai term “lelaki” tadi. Saya hanya akan bicara tentang seorang pria yang saya kenal baik sejauh ini, ia adalah suami saya.

Satu-satunya pria yang pernah saya kenal begitu akrab setelah ayah saya hanyalah suami saya. Bagi saya apa yang menurut banyak orang tidak konkret, seperti rindu, kasih sayang, peduli, saya mengalami semua itu dengan konret bersama suami saya. Sebagai wanita atau lebih tepat sebagai seorang istri sekaligus ibu, pandangan saya tentang suami tentu saja adalah pandangan yang sangat subjektif sekaligus personal, tidak bisa digeneralisasi untuk semua pria dan tidak berlaku bagi semua wanita.

Bahwa, misalnya wanita hanya dapat bahagia ketika dia menikah dengan seorang pria, tidak demikian yang saya maksud. Ya, mungkin perempuan bisa bahagia ketika menikah dengan pria yang tepat, jika tidak tentu saja tidak akan bahagia. Sebab banyak sekali pria yang tidak mampu membahagiakan wanita, alih-alih membahagiakan malah membikin kecewa dan trauma. Dan banyak sekali perempuan sekarang yang memilih tidak menikah atau menunda pernikahan, karena berbagai alasan. Menurut saya itu sah, sebab kebahagiaan tiap perempuan yang mengetahui adalah masing-masing, dan satu pandangan perempuan tidak bisa sama untuk sesama perempuan. Saya mungkin orang yang beruntung karena pernikahan saya berjalan baik, suami saya juga memahami saya dan menerima saya dengan tulus penuh cinta.

Ada satu hal yang saya kira sangat penting untuk dibicarakan di sini, yaitu tentang kebahagiaan seorang istri. Menurut saya kebahagiaan itu tidak memiliki ukuran standar yang baku, mengapa? Sebab ukuran kebahagiaan setiap orang berbeda-beda — tidak selalu sama dan tidak pernah akan sama. Salah satu definisi kebahagiaan menurut KBBI, yaitu suatu keadaan pikiran atau perasaan kesenangan, ketentraman hidup secara lahir dan batin. Saya beruntung karena menemukan hal itu di dalam kehidupan rumah tangga, itulah yang membuat saya sering mengatakan bahwa kebahagiaan saya terletak di tangan suami saya.

Mengapa meraih kebahagiaan dalam hidup itu penting? Sebab kebahagiaanlah yang dicari oleh setiap orang. Kebahagiaan membuat mindset seseorang jadi positif. Orang yang tidak bahagia adalah orang yang cenderung negatif dan hanya akan memandang masalah sebagai kesulitan, sedangkan orang yang bahagia akan selalu bersikap positif dan selalu optimis menghadapi dinamika kehidupan.

Lalu apa yang menjadi sumber kebahagiaan utama bagi manusia? Erbe Sentanu, dalam bukunya Quantum Ikhlas, menyarankan agar setiap orang bersyukur atas semua yang didapatkannya setiap saat dan merasakan kenikmatan memiliki apa yang telah diraihnya selama ini. Lebih lanjut dijelaskan bahwa sumber dari segala kebahagiaan yang diraih setiap orang berasal dari hatinya.

Dari mana kebahagiaan berasal? Sumber kebahagiaan berasal dari dalam diri manusia. Karena yang bisa merasakan kebahagiaan ada di dalam diri, yaitu di hati, maka yang harus dicari adalah bagaimana hati manusia itu mampu merasakan kebahagiaan. Sebab hati adalah kunci untuk memasuki pintu-pintu kebahagiaan. Hati yang bersih dan tenang akan mudah merasakan kebahagiaan dan menularkan kebahagiaan kepada orang lain.

Menurut saya kebahagiaan atau ketenangan bisa diraih bersama keluarga, jika kita hidup sebagai istri, misalnya, kita bisa meraih kebahagiaan bersama dengan suami kita. Alangkah bahagianya hidup dalam naungan kasih sayang dan cinta. Rasa syukur sebagai pondasi dalam membina rumah tangga akan mendatangkan ketentraman, dalam bahasa Jawa, menjadi rumah tangga yang adem ayem tentrem. Pasangan yang harmonis akan saling memberikan support dan dukungan dengan pondasi kepercayaan, kejujuran, dan saling memahami satu sama lain adalah aspek yang sangat penting dalam menciptakan kebahagiaan di dalam rumah.

Seorang suami adalah imam bagi istri dan anak-anak. Kebahagiaan istri juga dipengaruhi oleh bagaimana suami memperlakukan istri dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun sikap suami dari hal-hal kecil, kepedulian dan kasih sayang sangat berdampak pada psikis istri. Saya sepakat bahwa di balik kebahagiaan istri ada peran besar seorang suami. Namun, sejatinya kebahagiaan itu diupayakan berdua bukan hanya oleh suami saja atau sebaliknya oleh istri saja. Menciptakan kebahagiaan dimulai dari hal terkecil setiap harinya di dalam rumah, sebab rumah adalah surga kecil yang harus kita ciptakan sendiri, terutama kesadaran suami bahwa membahagiakan istri juga memperlancar rezeki suami.

Setiap pasangan tentu memiliki bahasa cinta dan cara-cara menjaga keutuhan rumah tangga serta keharmonisan dalam rumah tangga masing-masing. Setiap orang tentu memiliki cara berbeda dalam menunjukkan rasa cinta kepada pasangannya. Umumnya banyak orang yang menganggap menunjukkan rasa cinta harus ditunjukkan melalui ucapan. Namun, ada juga rasa cinta istri atau suami yang disampaikan melalui cara lain, misalnya, menulis surat cinta, membuat puisi, memberikan hadiah-haidah kecil atau menunjukkan sikap yang membuat pasangan bahagia. Cara-cara itu tidak harus selalu muluk, sederhana pun bisa.

Sebagai istri kebetulan saya pernah menulis surat cinta yang saya ikut sertakan dalam event Lomba Menulis Surat Cinta yang diselenggarakan kerja sama Pos Bloc, Pos Indonesia, Indonesia Hidden Heritage dan History Consultation Agency. Dan Surat Cinta saya terpilih panitia masuk juara 2 dari 10 besar surat terbaik. Sebuah upaya merawat sebuah rumah (surga kecil) yang kami bangun sejak menikah. Bangunan itu bernama CINTA.

Kertas suratnya saya desain sendiri dan hanya cetak dua lembar saja. Di atas kertas yang bergambar wajah suami — semalaman saya menuliskan surat cinta itu hingga dini hari. Surat cinta yang saya tulis dengan rasa yang utuh hati yang penuh berlatar wajah sumia saya — setidaknya membuatnya bahagia, ada hal-hal kecil yang romantis sengaja saya bangun di tengah perjalanan — tapi percayalah rasa yang sebenarnya lebih dari yang saya tulis itu. Saya ingin menua bersama hingga habis usia.

Cinta yang yang saya ekspresikan lewat surat rasanya tidak cukup mewakili seluruh perasaan saya. Saya juga menulis puisi dan beberapa catatan yang saya persembahkan untuk suami saya. Saya merasa tidak mungkin dapat mengungkapkan atau mengekspresikan semua itu tanpa adanya rasa bahagia di dalam diri saya. Artinya, saya mengamini bahwa kreativitas saya adalah suatu berkah sebab saya mendapat anugerah berupa suami yang dengannya saya merasa begitu bahagia.

Saya melihat kebahagiaan begitu kasatmata ada terletak di tangan suami saya, dan saya berharap wanita yang berniat hendak menikah dapat menemukan suami yang membuatnya begitu bahagia dan dengan kebahagiaan itu mereka dapat mengekspresikannya secara kreatif seperti saya.

Dengan begini saya telah membuktikan bahwa cinta yang tulus membuat kita terbebas dari belenggu maskulinitas dan patriarki, dan begitulah saya berharap seorang pria dapat menjadi sumber kebahagiaan wanita, tentu itu adalah suatu harapan yang semoga menjadi kenyataan perempuan-perempuan di luar sana.

Ketika wanita menemukan pria yang tepat dalam hidupnya, ia akan mengalami kebahagiaan bukan sebagai suatu ilusi tetapi sebagai kenyataan yang benar-benar konret, bukan hanya kasatmata tetapi dirasakan sedalam-dalamnya.

Menikah bukanlah suatu relasi yang timpang, tetapi setara. Begitulah saya bahagia dan merasakan bahwa suami saya adalah teman hidup saya, semoga hingga akhir nanti dan kelak berlanjut di akhirat. Untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengutip puisi yang menggambarkan betapa suami saya adalah teman hidup saya yang sejati, mata air kebahagiaan saya yang terus mengalir tiap hembus napas yang keluar dari dada saya.

TEMAN HIDUP

di waktu tidur
kita saling bertukar
suara dengkur
yang tak teratur
tapi
jika kita bertengkar
cepat-cepat melingkar
enggan menakar sabar

hingga hari-hari tumbuh tua
udara jadi dingin
kita akan terus bersama
menimba mata air
dari air mata kita
menimba bahagia
sedalam sumur
umur sedalam rasa

2024

BACA artikel lain dari penulis EMI SUY

Seni Melepaskan dan Memaafkan
Sunyi Sebagai Sumber Penciptaan Puisi
Puisi-puisi Emi Suy | Kepada Capres
Apakah “Puisi Mesin” Adalah Puisi?
Tags: feminismeistrikebahagiaanPerempuansuamisuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Prestasi, Masih Ada PR — Catatan HUT ke-38 Perumda Tirta Hita Buleleng

Next Post

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

The Singaraja Literary Festival wakes Bali up with a roar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co