4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembang Eleh dan Beban yang Tak Siap Ditanggung — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Kadek Wisnu Oktaditya by Kadek Wisnu Oktaditya
July 29, 2025
in Ulas Film
Film ”Kembang Eleh”: Ketika Ranjang Pengantin Terasa Lebih Sempit dari Penjara  — Catatan Layar Kolekstif Bali Utara di Seririt

Film "Kembang Eleh" | Foto: Dok. Singaraja Menonton

Di halaman Kedai Cana, Senin 23 Juni 2025, sebuah layar tancap berdiri gagah menyambut penonton yang mulai berdatangan. Saya ikut menumpang salah satu mobil tim Singaraja Menonton, komunitas yang rutin memutar film-film pendek yang kerap memantik diskusi. Malam itu, giliran lima film pendek lokal diputar dalam sesi layar kolektif: Osmosia (eksperimental) karya Fioretti Vera, Rita Coba Rokok (dokumenter) oleh Natania Marcella, Kembang Eleh (fiksi) garapan Candra Aulia Safitri, Nyat: Perempuan dan Krisis Air di Kintamani (dokumenter) oleh Dewa Kresnanta, serta Purusa: Wedding Sacred (fiksi) dari I Made Suniartika.

Namun di antara kelimanya, satu judul menancap kuat dalam benak saya, Kembang Eleh. Sebuah kisah fiksi yang tak sekadar bercerita, tapi mengguncang kesadaran. Kembang Eleh membuka lembaran kisah dua remaja SMA yang mendadak harus menjalani peran sebagai orang tua. Mereka memiliki seorang bayi, bukan karena cinta yang dewasa, tetapi karena pergaulan yang sembrono dan pilihan yang terburu-buru. Tidak ada kemewahan, tidak ada euforia menjadi orang tua muda. Yang ada justru keterkejutan, kebingungan, dan realita pahit yang terus membelit.

Sutradara Candra Aulia Safitri secara tajam menyodorkan potret hubungan yang dibangun bukan atas kesiapan, melainkan atas rasa ingin tahu, pengaruh lingkungan, dan minimnya edukasi. Alih-alih romantis, hubungan dua tokoh utamanya berubah menjadi pertikaian, saling menyalahkan, dan saling melukai. Mereka tidak tahu cara memberi makan bayi, tidak punya pendapatan tetap, dan yang paling menyedihkan: tak ada orang dewasa yang benar-benar hadir mendampingi mereka.

Film ini bukan sekadar fiksi. Film itu menggambarkan kenyataan sosial yang sedang kita hadapi. Banyak remaja hari ini yang larut dalam hubungan tanpa memikirkan konsekuensinya. Mereka terlalu fokus pada pasangan, tapi abai pada masa depan. Tugas sekolah diabaikan, peraturan dilanggar, bahkan sekolah pun ditinggalkan.

Kembang Eleh adalah pengingat bahwa memilih pasangan hidup bukan perkara sederhana. Butuh kedewasaan, bukan sekadar rasa suka. Karena pasangan yang salah bisa menjadi awal dari hidup yang kacau. Seperti pepatah bijak yang mengatakan, “Berteman dengan pencuri, bisa menjadikanmu pencuri. Berteman dengan pengusaha, bisa menjadikanmu sukses.” Lingkungan membentuk kita, begitu pula pasangan yang kita pilih.

Yang menarik, film ini tidak hanya menyoroti problem eksternal seperti kemiskinan atau tekanan sosial, tapi juga konflik batin yang muncul dari dalam. Ada rasa malu, ada kemarahan yang terpendam, hingga perasaan muak karena hidup seolah tidak memberi pilihan.

Pertengkaran demi pertengkaran antara tokoh utama memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan mereka. Mereka tidak memiliki cukup bekal emosional maupun ekonomi untuk menghadapi kenyataan. Adegan-adegan ini diperkuat dengan penggambaran situasi yang detail—mulai dari rumah sewa yang sempit, uang yang kian menipis, hingga kesulitan mencari pekerjaan. Semua itu menghadirkan empati, sekaligus peringatan.

  • BACA JUGA:
 “Ai’r”: Suara Kecil dari Sawah yang Mulai Sepi — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Salah satu kekuatan film ini terletak pada bahasa visual dan alur cerita yang mudah dipahami. Candra Aulia tidak mencoba membuat cerita yang rumit atau simbolis berlebihan. Justru dalam kesederhanaan narasinya, pesan sosial yang dibawa terasa begitu menusuk.

Namun, tentu tidak ada karya yang sempurna. Kembang Eleh pun demikian. Dua catatan penting yang perlu menjadi perhatian adalah ekspresi pemain dan kualitas subtitle. Beberapa adegan emosional—seperti saat pertengkaran atau saat tokoh menangis—kurang tersampaikan maksimal karena ekspresi wajah yang terlalu datar. Padahal, dalam dunia film, ekspresi adalah jantung dari akting. Tanpa ekspresi yang tepat, emosi tidak akan sampai ke penonton.

Masalah lain terletak pada subtitle. Beberapa bagian sulit dibaca karena warnanya menyatu dengan visual film. Ini cukup mengganggu, apalagi saat dialog menggunakan bahasa daerah yang tidak semua penonton pahami. Sebuah catatan teknis yang sebaiknya segera diperbaiki bila ingin film ini menjangkau audiens yang lebih luas.

Meski demikian, kekuatan utama film ini tetap tak terbantahkan. Film ini berhasil membuat penonton berpikir. Ya, selain berpikir karena subtitle yang kurang jelas, juga membuat kita bertanya ulang—apakah kita benar-benar bijak dalam memilih orang yang kelak akan hidup bersama kita? Apakah cukup menilai seseorang dari kata-kata manisnya atau dari tampilannya saja?

  • BACA JUGA:
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt

Film ini mengajak kita untuk lebih kritis dan introspektif. Karena seringkali, sifat asli seseorang tidak muncul saat awal perkenalan. Ia baru terlihat saat kita sudah dekat, saat konflik mulai datang, saat beban hidup mulai menekan.

Saya pribadi merasa tersentuh. Tidak hanya karena kisahnya yang kuat, tapi karena relevansinya yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Film ini tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya menunjukkan bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi, dan setiap keputusan yang terburu-buru bisa mengubah masa depan secara drastis.

Sesi Singaraja Menonton malam itu berakhir, tapi cerita Kembang Eleh terus bergema dalam kepala saya. Lima film pendek yang diputar malam itu memang luar biasa, namun Kembang Eleh adalah yang paling membekas. Sebuah film yang berani, tajam, dan menyadarkan.

Di tengah hiburan yang seringkali hanya memanjakan, film ini hadir sebagai pengingat yang menyentil, bahwa cinta butuh lebih dari sekadar perasaan. Ia butuh kesiapan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Karena hidup bukan hanya tentang jatuh cinta, tapi tentang bertahan dan tumbuh bersama—dengan orang yang tepat. [T]

Penulis: Kadek Wisnu Oktaditya
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa
Tags: filmfilm pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Ai’r”: Suara Kecil dari Sawah yang Mulai Sepi — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Next Post

Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025

Kadek Wisnu Oktaditya

Kadek Wisnu Oktaditya

Siswa SMK Negeri 3 Singaraja, Anggota dari komunitas pembaca, berbagi ide, dan kegiatan kepenulisan lainnya—Komunitas Jnana.

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025

Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co