31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 “Ai’r”: Suara Kecil dari Sawah yang Mulai Sepi — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Ni Made Yuli Susilawati by Ni Made Yuli Susilawati
July 29, 2025
in Ulas Film
 “Ai’r”: Suara Kecil dari Sawah yang Mulai Sepi — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Satu adegan dalam film AI'r

“Perlu usaha dan kerja keras untuk jadi petani seperti kakek.” Kalimat polos ini keluar dari mulut seorang anak kecil dalam film pendek Ai’r. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi justru menyimpan kegelisahan tentang masa depan profesi petani. Sekilas terasa lucu dan jujur, tapi kalau dipikir lebih jauh, ini adalah sinyal betapa bertaninya hari ini bukan lagi mimpi, melainkan beban yang diwariskan.

Film Ai’r disutradarai oleh Dian Suryantini dalam program “Begadang” dari Minikino. Dalam tantangan ini, para peserta hanya diberi waktu 36 jam untuk membuat film pendek dari nol. Hasilnya? Sebuah karya berdurasi 3 menit 43 detik yang terasa segar, kritis, dan menyentuh. Film ini sudah diputar dalam program Layar Kolektif Bali Utara di beberapa titik, seperti Kedai Kopi deKaking, Agrowisata Sawan, dan LPK Tejakula lewat inisiatif komunitas Singaraja Menonton yang didanai oleh Dana Indonesiana, LPDP.

Film Ai’r bercerita tentang seorang anak kecil yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kakeknya di sawah. Ia tak bertanya langsung ke kakeknya, melainkan memilih cara yang lebih sesuai dengan zamannya—bertanya ke ChatGPT. Ini saja sudah jadi satu gebrakan menarik. Sebuah jembatan antara masa lalu (petani) dan masa kini (teknologi AI). Gagasan ini tidak hanya segar, tapi juga relevan di tengah generasi yang lebih sering mengandalkan gawai daripada berdiskusi langsung dengan orang tuanya.

Dengan satu pemeran tunggal, film ini menunjukkan betapa minim interaksi tidak lantas membuat film kehilangan daya hidup. Justru sebaliknya, akting anak kecil yang masih terbata-bata membaca dan menyampaikan dialog malah memperkuat kesan natural dan polos. Ekspresinya tajam, geraknya spontan, monolognya jujur. Semua ini berhasil membangun suasana emosional yang naik-turun, dari penasaran, bersemangat, hingga mulai ragu dan kecewa terhadap kenyataan tentang dunia pertanian.

Satu adegan dalam film AI’r

Salah satu daya tarik film ini adalah cara penyampaian yang cerdas dalam menggabungkan teknologi dengan tradisi. Interaksi anak dengan ChatGPT bukan sekadar gimmick, tapi sekaligus jadi simbol realitas baru. Generasi muda kini hidup di dua dunia, dunia nyata yang semakin keras dan dunia digital yang serba cepat dan instan. Mereka tahu lebih dulu apa itu drone atau AI, tapi belum tentu tahu bagaimana menanam padi.

Film ini berhasil menjadikan teknologi bukan sebagai “musuh”, tetapi sebagai alat refleksi. Bahkan bisa jadi teknologi membantu generasi sekarang menyadari betapa pentingnya mempertahankan nilai-nilai lama, termasuk soal bertani. Tapi, apakah hanya dengan tahu lewat AI, mereka akan tertarik jadi petani seperti kakeknya? Di sinilah pertanyaan tajam film ini muncul secara halus.

Walau durasinya pendek, Ai’r dipenuhi simbol-simbol kuat. Salah satunya ketika si anak membuang cangkul dan sabit. Aksi ini terasa sederhana, tapi punya makna dalam. Membuang alat bertani bisa dibaca sebagai bentuk penolakan. Anak itu, atau mungkin generasi kita saat ini, merasa bertani bukan lagi pilihan masa depan. Dunia mengarahkan anak-anak untuk memilih profesi “modern” dan menghindari pekerjaan fisik yang kotor dan berat seperti bertani.

Tapi bukan berarti film ini pesimis. Justru sebaliknya, ia mengajak kita berpikir ulang. Ada nilai, ada warisan, ada kebutuhan dasar yang tetap harus dipenuhi—dan semua itu masih berpijak pada tanah.

Satu kekuatan besar lainnya dari Ai’r adalah caranya menyampaikan isu lingkungan. Tidak dengan narasi berat, melainkan lewat suara dan gambar. Alunan suara dari ketukan cangkul, dentingan sabit, bahkan musik klasik yang terdengar seperti datang dari tanaman Cajanus cajan (tanaman undis) menjadi latar suara yang hidup dan bermakna. Benda-benda sekitar yang menghasilkan suara alami ini menjadi bagian penting dalam membangun suasana.

Tanaman undis sendiri bukan sekadar hiasan latar. Ia mewakili strategi pertanian tradisional, ditanam saat kemarau, untuk memberi waktu istirahat bagi tanah, dan tak perlu genangan air seperti padi. Tapi di film ini, tanaman undis ditampilkan dalam kondisi kering dan nyaris mati. Ini bukan sekadar visual, tapi peringatan. Bahwa tanah mulai kelelahan, air mulai sulit ditemukan, dan lahan pertanian sedang menghadapi tekanan besar.

Film ini mengandalkan pencahayaan alami sepanjang tayangan, membuatnya terasa seperti potret kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika ada satu adegan yang tampak terlalu cerah—di tanah lapang dengan pohon bambu—kekurangan itu justru memberi warna lain. Bisa jadi ini adalah cara sang sutradara memperluas perspektif penonton, bahwa persoalan petani bukan hanya soal sawah, tapi soal alam secara keseluruhan.

Pohon bambu yang ditampilkan pun bukan sekadar elemen estetis. Bambu dikenal sebagai tanaman konservatif yang mampu menyimpan air dan menjaga kestabilan tanah. Kehadirannya yang mulai merenggang dalam film bisa dibaca sebagai alarm, bahwa lingkungan pun sedang “menjauh” dari keseimbangannya.

Ai’r adalah film kecil dengan pesan yang besar. Ia tidak muluk-muluk, tidak ribet, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Film ini berhasil membungkus keresahan soal profesi petani, perubahan zaman, serta krisis lingkungan dalam durasi yang sangat singkat. Semua disampaikan dengan jujur, segar, dan penuh perasaan.

Dian Suryantini sebagai sutradara telah menghadirkan karya yang relevan, ringan. Tak heran jika film ini berhasil masuk 10 besar kompetisi Begadang. Lebih dari sekadar cerita anak kecil yang penasaran dengan kakeknya, Ai’r adalah pengingat lembut—bahwa jika kita terus lupa siapa yang menanam, jangan heran kalau suatu saat tak ada lagi yang bisa dipanen. [T]

Penulis: Ni Made Yuli Susilawati
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa

Tags: film pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Kembang Eleh dan Beban yang Tak Siap Ditanggung — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Ni Made Yuli Susilawati

Ni Made Yuli Susilawati

Mahasiswa Universitas Udayana Jurusan Arsitektur Lansekap

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Film ”Kembang Eleh”: Ketika Ranjang Pengantin Terasa Lebih Sempit dari Penjara  — Catatan Layar Kolekstif Bali Utara di Seririt

Kembang Eleh dan Beban yang Tak Siap Ditanggung -- Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co