2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 “Ai’r”: Suara Kecil dari Sawah yang Mulai Sepi — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Ni Made Yuli Susilawati by Ni Made Yuli Susilawati
July 29, 2025
in Ulas Film
 “Ai’r”: Suara Kecil dari Sawah yang Mulai Sepi — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Satu adegan dalam film AI'r

“Perlu usaha dan kerja keras untuk jadi petani seperti kakek.” Kalimat polos ini keluar dari mulut seorang anak kecil dalam film pendek Ai’r. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi justru menyimpan kegelisahan tentang masa depan profesi petani. Sekilas terasa lucu dan jujur, tapi kalau dipikir lebih jauh, ini adalah sinyal betapa bertaninya hari ini bukan lagi mimpi, melainkan beban yang diwariskan.

Film Ai’r disutradarai oleh Dian Suryantini dalam program “Begadang” dari Minikino. Dalam tantangan ini, para peserta hanya diberi waktu 36 jam untuk membuat film pendek dari nol. Hasilnya? Sebuah karya berdurasi 3 menit 43 detik yang terasa segar, kritis, dan menyentuh. Film ini sudah diputar dalam program Layar Kolektif Bali Utara di beberapa titik, seperti Kedai Kopi deKaking, Agrowisata Sawan, dan LPK Tejakula lewat inisiatif komunitas Singaraja Menonton yang didanai oleh Dana Indonesiana, LPDP.

Film Ai’r bercerita tentang seorang anak kecil yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kakeknya di sawah. Ia tak bertanya langsung ke kakeknya, melainkan memilih cara yang lebih sesuai dengan zamannya—bertanya ke ChatGPT. Ini saja sudah jadi satu gebrakan menarik. Sebuah jembatan antara masa lalu (petani) dan masa kini (teknologi AI). Gagasan ini tidak hanya segar, tapi juga relevan di tengah generasi yang lebih sering mengandalkan gawai daripada berdiskusi langsung dengan orang tuanya.

Dengan satu pemeran tunggal, film ini menunjukkan betapa minim interaksi tidak lantas membuat film kehilangan daya hidup. Justru sebaliknya, akting anak kecil yang masih terbata-bata membaca dan menyampaikan dialog malah memperkuat kesan natural dan polos. Ekspresinya tajam, geraknya spontan, monolognya jujur. Semua ini berhasil membangun suasana emosional yang naik-turun, dari penasaran, bersemangat, hingga mulai ragu dan kecewa terhadap kenyataan tentang dunia pertanian.

Satu adegan dalam film AI’r

Salah satu daya tarik film ini adalah cara penyampaian yang cerdas dalam menggabungkan teknologi dengan tradisi. Interaksi anak dengan ChatGPT bukan sekadar gimmick, tapi sekaligus jadi simbol realitas baru. Generasi muda kini hidup di dua dunia, dunia nyata yang semakin keras dan dunia digital yang serba cepat dan instan. Mereka tahu lebih dulu apa itu drone atau AI, tapi belum tentu tahu bagaimana menanam padi.

Film ini berhasil menjadikan teknologi bukan sebagai “musuh”, tetapi sebagai alat refleksi. Bahkan bisa jadi teknologi membantu generasi sekarang menyadari betapa pentingnya mempertahankan nilai-nilai lama, termasuk soal bertani. Tapi, apakah hanya dengan tahu lewat AI, mereka akan tertarik jadi petani seperti kakeknya? Di sinilah pertanyaan tajam film ini muncul secara halus.

Walau durasinya pendek, Ai’r dipenuhi simbol-simbol kuat. Salah satunya ketika si anak membuang cangkul dan sabit. Aksi ini terasa sederhana, tapi punya makna dalam. Membuang alat bertani bisa dibaca sebagai bentuk penolakan. Anak itu, atau mungkin generasi kita saat ini, merasa bertani bukan lagi pilihan masa depan. Dunia mengarahkan anak-anak untuk memilih profesi “modern” dan menghindari pekerjaan fisik yang kotor dan berat seperti bertani.

Tapi bukan berarti film ini pesimis. Justru sebaliknya, ia mengajak kita berpikir ulang. Ada nilai, ada warisan, ada kebutuhan dasar yang tetap harus dipenuhi—dan semua itu masih berpijak pada tanah.

Satu kekuatan besar lainnya dari Ai’r adalah caranya menyampaikan isu lingkungan. Tidak dengan narasi berat, melainkan lewat suara dan gambar. Alunan suara dari ketukan cangkul, dentingan sabit, bahkan musik klasik yang terdengar seperti datang dari tanaman Cajanus cajan (tanaman undis) menjadi latar suara yang hidup dan bermakna. Benda-benda sekitar yang menghasilkan suara alami ini menjadi bagian penting dalam membangun suasana.

Tanaman undis sendiri bukan sekadar hiasan latar. Ia mewakili strategi pertanian tradisional, ditanam saat kemarau, untuk memberi waktu istirahat bagi tanah, dan tak perlu genangan air seperti padi. Tapi di film ini, tanaman undis ditampilkan dalam kondisi kering dan nyaris mati. Ini bukan sekadar visual, tapi peringatan. Bahwa tanah mulai kelelahan, air mulai sulit ditemukan, dan lahan pertanian sedang menghadapi tekanan besar.

Film ini mengandalkan pencahayaan alami sepanjang tayangan, membuatnya terasa seperti potret kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika ada satu adegan yang tampak terlalu cerah—di tanah lapang dengan pohon bambu—kekurangan itu justru memberi warna lain. Bisa jadi ini adalah cara sang sutradara memperluas perspektif penonton, bahwa persoalan petani bukan hanya soal sawah, tapi soal alam secara keseluruhan.

Pohon bambu yang ditampilkan pun bukan sekadar elemen estetis. Bambu dikenal sebagai tanaman konservatif yang mampu menyimpan air dan menjaga kestabilan tanah. Kehadirannya yang mulai merenggang dalam film bisa dibaca sebagai alarm, bahwa lingkungan pun sedang “menjauh” dari keseimbangannya.

Ai’r adalah film kecil dengan pesan yang besar. Ia tidak muluk-muluk, tidak ribet, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Film ini berhasil membungkus keresahan soal profesi petani, perubahan zaman, serta krisis lingkungan dalam durasi yang sangat singkat. Semua disampaikan dengan jujur, segar, dan penuh perasaan.

Dian Suryantini sebagai sutradara telah menghadirkan karya yang relevan, ringan. Tak heran jika film ini berhasil masuk 10 besar kompetisi Begadang. Lebih dari sekadar cerita anak kecil yang penasaran dengan kakeknya, Ai’r adalah pengingat lembut—bahwa jika kita terus lupa siapa yang menanam, jangan heran kalau suatu saat tak ada lagi yang bisa dipanen. [T]

Penulis: Ni Made Yuli Susilawati
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa

Tags: film pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Kembang Eleh dan Beban yang Tak Siap Ditanggung — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Ni Made Yuli Susilawati

Ni Made Yuli Susilawati

Mahasiswa Universitas Udayana Jurusan Arsitektur Lansekap

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Film ”Kembang Eleh”: Ketika Ranjang Pengantin Terasa Lebih Sempit dari Penjara  — Catatan Layar Kolekstif Bali Utara di Seririt

Kembang Eleh dan Beban yang Tak Siap Ditanggung -- Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co