18 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 “Ai’r”: Suara Kecil dari Sawah yang Mulai Sepi — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Ni Made Yuli Susilawati by Ni Made Yuli Susilawati
July 29, 2025
in Ulas Film
 “Ai’r”: Suara Kecil dari Sawah yang Mulai Sepi — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Satu adegan dalam film AI'r

“Perlu usaha dan kerja keras untuk jadi petani seperti kakek.” Kalimat polos ini keluar dari mulut seorang anak kecil dalam film pendek Ai’r. Kalimat yang terdengar sederhana, tapi justru menyimpan kegelisahan tentang masa depan profesi petani. Sekilas terasa lucu dan jujur, tapi kalau dipikir lebih jauh, ini adalah sinyal betapa bertaninya hari ini bukan lagi mimpi, melainkan beban yang diwariskan.

Film Ai’r disutradarai oleh Dian Suryantini dalam program “Begadang” dari Minikino. Dalam tantangan ini, para peserta hanya diberi waktu 36 jam untuk membuat film pendek dari nol. Hasilnya? Sebuah karya berdurasi 3 menit 43 detik yang terasa segar, kritis, dan menyentuh. Film ini sudah diputar dalam program Layar Kolektif Bali Utara di beberapa titik, seperti Kedai Kopi deKaking, Agrowisata Sawan, dan LPK Tejakula lewat inisiatif komunitas Singaraja Menonton yang didanai oleh Dana Indonesiana, LPDP.

Film Ai’r bercerita tentang seorang anak kecil yang penasaran dengan apa yang dilakukan oleh kakeknya di sawah. Ia tak bertanya langsung ke kakeknya, melainkan memilih cara yang lebih sesuai dengan zamannya—bertanya ke ChatGPT. Ini saja sudah jadi satu gebrakan menarik. Sebuah jembatan antara masa lalu (petani) dan masa kini (teknologi AI). Gagasan ini tidak hanya segar, tapi juga relevan di tengah generasi yang lebih sering mengandalkan gawai daripada berdiskusi langsung dengan orang tuanya.

Dengan satu pemeran tunggal, film ini menunjukkan betapa minim interaksi tidak lantas membuat film kehilangan daya hidup. Justru sebaliknya, akting anak kecil yang masih terbata-bata membaca dan menyampaikan dialog malah memperkuat kesan natural dan polos. Ekspresinya tajam, geraknya spontan, monolognya jujur. Semua ini berhasil membangun suasana emosional yang naik-turun, dari penasaran, bersemangat, hingga mulai ragu dan kecewa terhadap kenyataan tentang dunia pertanian.

Satu adegan dalam film AI’r

Salah satu daya tarik film ini adalah cara penyampaian yang cerdas dalam menggabungkan teknologi dengan tradisi. Interaksi anak dengan ChatGPT bukan sekadar gimmick, tapi sekaligus jadi simbol realitas baru. Generasi muda kini hidup di dua dunia, dunia nyata yang semakin keras dan dunia digital yang serba cepat dan instan. Mereka tahu lebih dulu apa itu drone atau AI, tapi belum tentu tahu bagaimana menanam padi.

Film ini berhasil menjadikan teknologi bukan sebagai “musuh”, tetapi sebagai alat refleksi. Bahkan bisa jadi teknologi membantu generasi sekarang menyadari betapa pentingnya mempertahankan nilai-nilai lama, termasuk soal bertani. Tapi, apakah hanya dengan tahu lewat AI, mereka akan tertarik jadi petani seperti kakeknya? Di sinilah pertanyaan tajam film ini muncul secara halus.

Walau durasinya pendek, Ai’r dipenuhi simbol-simbol kuat. Salah satunya ketika si anak membuang cangkul dan sabit. Aksi ini terasa sederhana, tapi punya makna dalam. Membuang alat bertani bisa dibaca sebagai bentuk penolakan. Anak itu, atau mungkin generasi kita saat ini, merasa bertani bukan lagi pilihan masa depan. Dunia mengarahkan anak-anak untuk memilih profesi “modern” dan menghindari pekerjaan fisik yang kotor dan berat seperti bertani.

Tapi bukan berarti film ini pesimis. Justru sebaliknya, ia mengajak kita berpikir ulang. Ada nilai, ada warisan, ada kebutuhan dasar yang tetap harus dipenuhi—dan semua itu masih berpijak pada tanah.

Satu kekuatan besar lainnya dari Ai’r adalah caranya menyampaikan isu lingkungan. Tidak dengan narasi berat, melainkan lewat suara dan gambar. Alunan suara dari ketukan cangkul, dentingan sabit, bahkan musik klasik yang terdengar seperti datang dari tanaman Cajanus cajan (tanaman undis) menjadi latar suara yang hidup dan bermakna. Benda-benda sekitar yang menghasilkan suara alami ini menjadi bagian penting dalam membangun suasana.

Tanaman undis sendiri bukan sekadar hiasan latar. Ia mewakili strategi pertanian tradisional, ditanam saat kemarau, untuk memberi waktu istirahat bagi tanah, dan tak perlu genangan air seperti padi. Tapi di film ini, tanaman undis ditampilkan dalam kondisi kering dan nyaris mati. Ini bukan sekadar visual, tapi peringatan. Bahwa tanah mulai kelelahan, air mulai sulit ditemukan, dan lahan pertanian sedang menghadapi tekanan besar.

Film ini mengandalkan pencahayaan alami sepanjang tayangan, membuatnya terasa seperti potret kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika ada satu adegan yang tampak terlalu cerah—di tanah lapang dengan pohon bambu—kekurangan itu justru memberi warna lain. Bisa jadi ini adalah cara sang sutradara memperluas perspektif penonton, bahwa persoalan petani bukan hanya soal sawah, tapi soal alam secara keseluruhan.

Pohon bambu yang ditampilkan pun bukan sekadar elemen estetis. Bambu dikenal sebagai tanaman konservatif yang mampu menyimpan air dan menjaga kestabilan tanah. Kehadirannya yang mulai merenggang dalam film bisa dibaca sebagai alarm, bahwa lingkungan pun sedang “menjauh” dari keseimbangannya.

Ai’r adalah film kecil dengan pesan yang besar. Ia tidak muluk-muluk, tidak ribet, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Film ini berhasil membungkus keresahan soal profesi petani, perubahan zaman, serta krisis lingkungan dalam durasi yang sangat singkat. Semua disampaikan dengan jujur, segar, dan penuh perasaan.

Dian Suryantini sebagai sutradara telah menghadirkan karya yang relevan, ringan. Tak heran jika film ini berhasil masuk 10 besar kompetisi Begadang. Lebih dari sekadar cerita anak kecil yang penasaran dengan kakeknya, Ai’r adalah pengingat lembut—bahwa jika kita terus lupa siapa yang menanam, jangan heran kalau suatu saat tak ada lagi yang bisa dipanen. [T]

Penulis: Ni Made Yuli Susilawati
Editor: Adnyana Ole

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan pada Workshop Menulis Ulasan & Kritik Film yang diselenggarakan Singaraja Menonton, dan artikel ini ditayangkan atas kerjasama Singaraja Menonton dan tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Mengutuk Pernikahan Usia Dini pada Film “Kembang Eleh” — Catatan Layar Kolektif Bali Utara di Seririt
Sedih-Tegang dalam Instrumen Film “Metuun” dan “Nyambutin” — Dari Layar Kolektif Bali Utara di Tejakula
Film “Story” dan “AI’r”: Tekhnologi dan Lain-lain | Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara
Menonton Seperti Membaca:  Strategi Membaca Film di Kelas Bahasa

Tags: film pendekSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025

Next Post

Kembang Eleh dan Beban yang Tak Siap Ditanggung — Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Ni Made Yuli Susilawati

Ni Made Yuli Susilawati

Mahasiswa Universitas Udayana Jurusan Arsitektur Lansekap

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Film ”Kembang Eleh”: Ketika Ranjang Pengantin Terasa Lebih Sempit dari Penjara  — Catatan Layar Kolekstif Bali Utara di Seririt

Kembang Eleh dan Beban yang Tak Siap Ditanggung -- Catatan dari Layar Kolektif Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co