14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Animal Farm dalam Interpretasi Pemalsuan Kepercayaan

Karisma Nur Fitria by Karisma Nur Fitria
May 11, 2025
in Ulas Buku
Animal Farm dalam Interpretasi Pemalsuan Kepercayaan

Buku Animan Farm | Foto: Karisma Nur Fitria

PEMALSUAN kepercayaan sekurangnya tidak asing di telinga pembaca. Tindakan yang dengan sengaja menciptakan atau menyebarkan informasi tidak valid kepada khalayak. Hal semacam ini bukan tidak mungkin terjadi di kawanan binatang. Terkhusus pada para binatang yang merdeka di Peternakan Binatang atau harus disebut kembali sebagai Peternakan Manor. Begitulah sekiranya yang dapat dimaknai dari prosa berjudul Animal Farm.

Ada kalanya manusia berpikir ia adalah satu-satunya makhluk yang dapat berkuasa. Hanya manusia yang dapat memegang kendali penuh atas segala hal di dunia ini. Akan tetapi, pernahkah terpikirkan bagaimana jika makhluk lain mulai memberontak atas pemerintahan manusia? Animal Farm adalah sebuah novel karya George Orwell. Novel ini menceritakan tentang para binatang peternakan yang akirnya “merdeka” dan berhasil menggulingkan kekuasaan peternakan dari tuan Jones. Peternakan Manor yang menjajah sumber daya bianatang-binatang itu berhasil mengambil alih dengan kaki-kaki mereka sendiri.

Peternakan Binatang telah lahir.  Mereka memegang erat Tujuh Perintah yang wajib dipatuhi semua binatang -sekiranya sampai beberapa binatang merasa lebih sederajat daripada yang lainnya. Mereka menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Makanan berlimpah, tidak ada tragedi penyembelihan, tidak ada paksaan dalam bekerja, mereka semua berjuang bersama-sama, sama rata. Sekali lagi, hal ini berlangsung sekiranya sampai beberapa binatang mengganggap dirinya lebih layak daripada yang lainnya.

Tidak ada pemimpin yang dipilih secara tetap di peternakan itu. Inilah yang kerap menimbulkan selisih diantara yang setara dalam rapat mingguan. Mereka yang tidak berselisih hanya akan mendengarkan dan menyetujui pihak yang dirasa benar. Begitulah Napoleon dan Snowball setiap kali diadakannya rapat mingguan. Keinginan dua babi itu berbeda dalam menjalankan peternakan. Sampai akhirnya, entah bagaimana maklumat yang ada Napoleon adalah pemimpin mereka. Snowball telah terusir dan dijatuhi tuduhan pengkhianat.

Pemalsuan Kepercayaan dalam Ingatan Para Binatang

Semua binatang melalukan pekerjaan dengan sukarela karena hasilnya kembali hanya untuk mereka dan tidak perlu berbagi kepada manusia. Para binatang diajarkan untuk bisa membaca, hal ini sangat mudah bagi kawanan babi. Para anjing tidak begitu lancar membaca dibandingkan Muriel si kambing dan Benjamin si keledai. Boxer sebagai salah satu kuda yang paling disegani karena kekuatannya bahkan tidak bisa mengeja melebihi huruf D. Begitu pula binatang-binatang lainnya. Babi menjadi kawanan binatang yang paling cerdas sehingga mereka menggunakan akalnya untuk memikirkan peternakan. Para babi tidak ikut bekerja di lapangan dan binatang lainnya memaklumi bahwa hanya mereka yang dapat berpikir benar.

Pemalsuan kepercayaan mulai dilahirkan dalam lingkungan Peternakan Binatang, terlebih sejak Snowball terusir. Penambahan pada Tujuh Perintah ditulis bagi siapa saja yang bisa membaca dan mengganti ingataan para binatang yang tidak bisa mengeja.

“Muriel,” ucapnya, “bacakan untukku Tujuh Perintah itu. Apa tidak ada yang menyebut tentang larangan tidur di ranjang?”
Dengan agak susah payah Muriel membacakannya.
“Katanya, ‘Tak ada binatang boleh tidur di ranjang berbungkus seprai,” ia akhirnya bisa memberitahukannya.
Cukup janggal. Clover tidak ingat bahwa perintah Keempat menyebut-nyebut soal seprai: tetapi karena sudah tertulis di dinding itu harus dilaksanakan. (
halaman 64)

Kutipan di atas menyinggung soal para babi yang melanggar perintah –atau sebenarnya tidak. Mereka menempati rumah tuan Jones yang sejak awal pemberontakan disepakati agar tidak ada binatang yang boleh menempati rumah itu. Perintah ini tertulis jelas di dinding dan ingatan para binatang bahwa “Tak ada binatang boleh tidur di ranjang”, dulunya. Pemalsuan kepercayaan satu demi satu muncul di Peternakan Binatang. Clover merasa ingat semuanya, bahkan binatang lainnya yakin mengingat hal serupa. Akan tetapi, mereka yakin bahwa yang tertulis di dinding jauh lebih benar.

Kesetaraan antar binatang di peternakan itu mulai diabaikan atas dasar Tujuh Perintah yang telah berubah dari awal dirumuskannya. Para binatang tentu tidak menyadari hal itu atau ada yang pura-pura tidak tahu. Pemalsuan kepercayaan atas Tujuh Perintah perlahan merupah tatanan yang ada. Tidak ada lagi kesetaraan yang sebenarnya. Para babi mulai meraup semua yang diinginkan dan mengelabui para binatang tulus penuh abdi.

Tidak cukup sampai di sana. Bagian lain dalam cerita ini membawa puncak emosi. Para binatang berpikir tidak akan ada lagi pembantaian saudara lain di hadapan mereka.

…Clover meminta Benjamin membacakan Perintah Keenam dan ketika Benjamin, seperti biasa, mengatakan bahwa ia tidak mau ikut campur dalam masalah seperti itu, Clover mendatangi Muriel. Muriel membacakan perintah itu untuknya. Bunyinya: “Tak ada binatang yang boleh membunuh binatang lain tanpa sebab.” Entah bagaimana, dua kata terakhir itu terlupakan dalam ingatan para binatang. (halaman 85)

Sudah dipastikan bahwa Perintah Keenam tidak semestinya demikian. Pembantaian terhadap binatang-binatang yang dianggap bersekutu dengan Snowball ditegaskan oleh Napoleon. Para binatang ingat betul dan yakin bahwa seharusnya tidak ada pembunuhan terhadap sesamanya. Namun, tidak. Perintah Keenam telah berubah. Pemalsuan kepercayaan terhadap ingatan para binatang berjalan seterusnya.

Animal Farm menjadi salah satu novel yang menginterpretasikan pemalsuan kepercayaan yang tidak jarang terjadi dalam kehidupan manusia. Tidak jarang sejarah terlupakan, tergantikan dengan cerita-cerita baru yang lahir dari  kekuasaan. Banyak kepercayaan dan keyakinan akan ingatan suatu peristiwa tergantikan dengan pemalsuan yang handal. Semua yakin betul bahwa apa yang terjadi pernah dilihat dan ada dalam ingatan. Akan tetapi, mengingat saja tidak cukup. Kecerdasan, kemampuan berpikir, membaca dan menulis, menjadikan sekelompok golongan lebih sederajat di bawah golongan lainnya.

Sama halnya Tujuh Perintah dalam ingatan para binatang berganti menjadi satu perintah. Perintah yang menguasai dan dikuasai oleh pembuatnya. Tidak ada lagi ungkapan “Kaki empat baik, kaki dua jahat” di peternakan itu. Para babi telah berjalan dengan dua kaki dan mengendalikan semuanya. Pemalsuan kepercayaan terhadap ingatan-ingatan para binatang berhasil merobohkan kemerdekaan para binatang.

Pengalaman membaca novel ini membawa saya kepada ekspektasi yang tidak tercipta sebelumnya. Membaca lembar dengan taburan bumbu emosi atas tindak laku para babi, anjing, dan sekelompok kambing membuat saya semakin sadar. Pemalsuan kepercayaan dapat dimaknai lebih luas dari pendefinisiannya sendiri. Tidak terbatas pada pemalsuan dokumen, surat kuasa, atau lainnya. Pemalsuan kepercayaan juga dilakukan di atas hal-hal yang tidak terduga.

George Orwell melancarkan pemaknaan relevansi karyanya dalam interpretasi pemalsuan kepercayaan. Dampak dari pemalsuan kepercayaan ini tidak semata-mata kebijakan yang dapat berubah atas dasar ingatan saja. Beberapa hal menjadi terperdaya karenanya. Tidak ada lagi yang mengingat kebenaran sejarah yang terjadi bahkan ketika saksi peristiwa masih hidup. Tidak ada lagi yang perduli benar dan salah suatu tindakan atas dasar perintah tertulis yang tidak bisa mereka baca. Pembungkaman yang hanya menguntungkan golongan dengan derajat lebih tinggi dari golongan lainnya.

Animal Farm berhasil memberikan interpretasi pemalsuan kepercayaan yang dapat dimakani pembaca di samping maksud dan tujuan lain karya ini. Karya ini dapat dibaca dengan santai. Pemilihan binatang sebagai tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita ini menunjukkan pemberontakan dapat datang dari mana saja. Kesewenangan para babi dengan memanfaatkan kebodohan para binatang memberi pelajaran lain yang harus dipahami pembaca. [T]

*Animal Farm (edisi terjemahan Indonesia) oleh Immortal Publishing. Cetakan VIII, April 2025.

Penulis: Karisma Nur Fitria
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KARISMA NUR FITRIA

Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri
Angkatan Baru, Polemik Makna Berpendidikan
Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian
Nyanyian Kehilangan dari Sonia | Ulasan Buku Puisi “Prihentemen”
“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala
Tags: novelsastrasastra terjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enggan Jadi Wartawan

Next Post

Krisis Literasi di Buleleng: Mengapa Ratusan Siswa SMP Tak Bisa Membaca?

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Mahasiswi berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan berbagai genre baik fiksi maupun non fiksi. Tengah berusaha mengembangkan project humanity @katabantu_ dengan konsep menjual e-book karya sastra dan 100% hasil penjualannya akan didonasikan untuk aksi kemanusiaan.

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Krisis Literasi di Buleleng: Mengapa Ratusan Siswa SMP Tak Bisa Membaca?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co