4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Animal Farm dalam Interpretasi Pemalsuan Kepercayaan

Karisma Nur Fitria by Karisma Nur Fitria
May 11, 2025
in Ulas Buku
Animal Farm dalam Interpretasi Pemalsuan Kepercayaan

Buku Animan Farm | Foto: Karisma Nur Fitria

PEMALSUAN kepercayaan sekurangnya tidak asing di telinga pembaca. Tindakan yang dengan sengaja menciptakan atau menyebarkan informasi tidak valid kepada khalayak. Hal semacam ini bukan tidak mungkin terjadi di kawanan binatang. Terkhusus pada para binatang yang merdeka di Peternakan Binatang atau harus disebut kembali sebagai Peternakan Manor. Begitulah sekiranya yang dapat dimaknai dari prosa berjudul Animal Farm.

Ada kalanya manusia berpikir ia adalah satu-satunya makhluk yang dapat berkuasa. Hanya manusia yang dapat memegang kendali penuh atas segala hal di dunia ini. Akan tetapi, pernahkah terpikirkan bagaimana jika makhluk lain mulai memberontak atas pemerintahan manusia? Animal Farm adalah sebuah novel karya George Orwell. Novel ini menceritakan tentang para binatang peternakan yang akirnya “merdeka” dan berhasil menggulingkan kekuasaan peternakan dari tuan Jones. Peternakan Manor yang menjajah sumber daya bianatang-binatang itu berhasil mengambil alih dengan kaki-kaki mereka sendiri.

Peternakan Binatang telah lahir.  Mereka memegang erat Tujuh Perintah yang wajib dipatuhi semua binatang -sekiranya sampai beberapa binatang merasa lebih sederajat daripada yang lainnya. Mereka menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Makanan berlimpah, tidak ada tragedi penyembelihan, tidak ada paksaan dalam bekerja, mereka semua berjuang bersama-sama, sama rata. Sekali lagi, hal ini berlangsung sekiranya sampai beberapa binatang mengganggap dirinya lebih layak daripada yang lainnya.

Tidak ada pemimpin yang dipilih secara tetap di peternakan itu. Inilah yang kerap menimbulkan selisih diantara yang setara dalam rapat mingguan. Mereka yang tidak berselisih hanya akan mendengarkan dan menyetujui pihak yang dirasa benar. Begitulah Napoleon dan Snowball setiap kali diadakannya rapat mingguan. Keinginan dua babi itu berbeda dalam menjalankan peternakan. Sampai akhirnya, entah bagaimana maklumat yang ada Napoleon adalah pemimpin mereka. Snowball telah terusir dan dijatuhi tuduhan pengkhianat.

Pemalsuan Kepercayaan dalam Ingatan Para Binatang

Semua binatang melalukan pekerjaan dengan sukarela karena hasilnya kembali hanya untuk mereka dan tidak perlu berbagi kepada manusia. Para binatang diajarkan untuk bisa membaca, hal ini sangat mudah bagi kawanan babi. Para anjing tidak begitu lancar membaca dibandingkan Muriel si kambing dan Benjamin si keledai. Boxer sebagai salah satu kuda yang paling disegani karena kekuatannya bahkan tidak bisa mengeja melebihi huruf D. Begitu pula binatang-binatang lainnya. Babi menjadi kawanan binatang yang paling cerdas sehingga mereka menggunakan akalnya untuk memikirkan peternakan. Para babi tidak ikut bekerja di lapangan dan binatang lainnya memaklumi bahwa hanya mereka yang dapat berpikir benar.

Pemalsuan kepercayaan mulai dilahirkan dalam lingkungan Peternakan Binatang, terlebih sejak Snowball terusir. Penambahan pada Tujuh Perintah ditulis bagi siapa saja yang bisa membaca dan mengganti ingataan para binatang yang tidak bisa mengeja.

“Muriel,” ucapnya, “bacakan untukku Tujuh Perintah itu. Apa tidak ada yang menyebut tentang larangan tidur di ranjang?”
Dengan agak susah payah Muriel membacakannya.
“Katanya, ‘Tak ada binatang boleh tidur di ranjang berbungkus seprai,” ia akhirnya bisa memberitahukannya.
Cukup janggal. Clover tidak ingat bahwa perintah Keempat menyebut-nyebut soal seprai: tetapi karena sudah tertulis di dinding itu harus dilaksanakan. (
halaman 64)

Kutipan di atas menyinggung soal para babi yang melanggar perintah –atau sebenarnya tidak. Mereka menempati rumah tuan Jones yang sejak awal pemberontakan disepakati agar tidak ada binatang yang boleh menempati rumah itu. Perintah ini tertulis jelas di dinding dan ingatan para binatang bahwa “Tak ada binatang boleh tidur di ranjang”, dulunya. Pemalsuan kepercayaan satu demi satu muncul di Peternakan Binatang. Clover merasa ingat semuanya, bahkan binatang lainnya yakin mengingat hal serupa. Akan tetapi, mereka yakin bahwa yang tertulis di dinding jauh lebih benar.

Kesetaraan antar binatang di peternakan itu mulai diabaikan atas dasar Tujuh Perintah yang telah berubah dari awal dirumuskannya. Para binatang tentu tidak menyadari hal itu atau ada yang pura-pura tidak tahu. Pemalsuan kepercayaan atas Tujuh Perintah perlahan merupah tatanan yang ada. Tidak ada lagi kesetaraan yang sebenarnya. Para babi mulai meraup semua yang diinginkan dan mengelabui para binatang tulus penuh abdi.

Tidak cukup sampai di sana. Bagian lain dalam cerita ini membawa puncak emosi. Para binatang berpikir tidak akan ada lagi pembantaian saudara lain di hadapan mereka.

…Clover meminta Benjamin membacakan Perintah Keenam dan ketika Benjamin, seperti biasa, mengatakan bahwa ia tidak mau ikut campur dalam masalah seperti itu, Clover mendatangi Muriel. Muriel membacakan perintah itu untuknya. Bunyinya: “Tak ada binatang yang boleh membunuh binatang lain tanpa sebab.” Entah bagaimana, dua kata terakhir itu terlupakan dalam ingatan para binatang. (halaman 85)

Sudah dipastikan bahwa Perintah Keenam tidak semestinya demikian. Pembantaian terhadap binatang-binatang yang dianggap bersekutu dengan Snowball ditegaskan oleh Napoleon. Para binatang ingat betul dan yakin bahwa seharusnya tidak ada pembunuhan terhadap sesamanya. Namun, tidak. Perintah Keenam telah berubah. Pemalsuan kepercayaan terhadap ingatan para binatang berjalan seterusnya.

Animal Farm menjadi salah satu novel yang menginterpretasikan pemalsuan kepercayaan yang tidak jarang terjadi dalam kehidupan manusia. Tidak jarang sejarah terlupakan, tergantikan dengan cerita-cerita baru yang lahir dari  kekuasaan. Banyak kepercayaan dan keyakinan akan ingatan suatu peristiwa tergantikan dengan pemalsuan yang handal. Semua yakin betul bahwa apa yang terjadi pernah dilihat dan ada dalam ingatan. Akan tetapi, mengingat saja tidak cukup. Kecerdasan, kemampuan berpikir, membaca dan menulis, menjadikan sekelompok golongan lebih sederajat di bawah golongan lainnya.

Sama halnya Tujuh Perintah dalam ingatan para binatang berganti menjadi satu perintah. Perintah yang menguasai dan dikuasai oleh pembuatnya. Tidak ada lagi ungkapan “Kaki empat baik, kaki dua jahat” di peternakan itu. Para babi telah berjalan dengan dua kaki dan mengendalikan semuanya. Pemalsuan kepercayaan terhadap ingatan-ingatan para binatang berhasil merobohkan kemerdekaan para binatang.

Pengalaman membaca novel ini membawa saya kepada ekspektasi yang tidak tercipta sebelumnya. Membaca lembar dengan taburan bumbu emosi atas tindak laku para babi, anjing, dan sekelompok kambing membuat saya semakin sadar. Pemalsuan kepercayaan dapat dimaknai lebih luas dari pendefinisiannya sendiri. Tidak terbatas pada pemalsuan dokumen, surat kuasa, atau lainnya. Pemalsuan kepercayaan juga dilakukan di atas hal-hal yang tidak terduga.

George Orwell melancarkan pemaknaan relevansi karyanya dalam interpretasi pemalsuan kepercayaan. Dampak dari pemalsuan kepercayaan ini tidak semata-mata kebijakan yang dapat berubah atas dasar ingatan saja. Beberapa hal menjadi terperdaya karenanya. Tidak ada lagi yang mengingat kebenaran sejarah yang terjadi bahkan ketika saksi peristiwa masih hidup. Tidak ada lagi yang perduli benar dan salah suatu tindakan atas dasar perintah tertulis yang tidak bisa mereka baca. Pembungkaman yang hanya menguntungkan golongan dengan derajat lebih tinggi dari golongan lainnya.

Animal Farm berhasil memberikan interpretasi pemalsuan kepercayaan yang dapat dimakani pembaca di samping maksud dan tujuan lain karya ini. Karya ini dapat dibaca dengan santai. Pemilihan binatang sebagai tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita ini menunjukkan pemberontakan dapat datang dari mana saja. Kesewenangan para babi dengan memanfaatkan kebodohan para binatang memberi pelajaran lain yang harus dipahami pembaca. [T]

*Animal Farm (edisi terjemahan Indonesia) oleh Immortal Publishing. Cetakan VIII, April 2025.

Penulis: Karisma Nur Fitria
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KARISMA NUR FITRIA

Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri
Angkatan Baru, Polemik Makna Berpendidikan
Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian
Nyanyian Kehilangan dari Sonia | Ulasan Buku Puisi “Prihentemen”
“Matinya Seorang Buruh Kecil”, Kumpulan Cerpen Anton Chekhov yang Membuat Saya Geleng-Geleng Kepala
Tags: novelsastrasastra terjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enggan Jadi Wartawan

Next Post

Krisis Literasi di Buleleng: Mengapa Ratusan Siswa SMP Tak Bisa Membaca?

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Mahasiswi berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan berbagai genre baik fiksi maupun non fiksi. Tengah berusaha mengembangkan project humanity @katabantu_ dengan konsep menjual e-book karya sastra dan 100% hasil penjualannya akan didonasikan untuk aksi kemanusiaan.

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Masa Depan Pendidikan di Era AI: ChatGPT dan Perplexity, Alat Bantu atau Tantangan Baru?

Krisis Literasi di Buleleng: Mengapa Ratusan Siswa SMP Tak Bisa Membaca?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co