14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung Kajanan Singaraja, Tradisi Mekila, dan Cerita-cerita Khas di Dalamnya

Yahya Umar by Yahya Umar
April 4, 2025
in Khas
Kampung Kajanan Singaraja, Tradisi Mekila, dan Cerita-cerita Khas di Dalamnya

Tradisi mekila di Kampung Kajanan Singaraja | Foto: Yum

MEKILA adalah tradisi menarik yang sejak beberapa tahun belakangan ini kembali dihidupkan di Kampung Kajanan–sebuah perkampungan yang dihuni warga Muslim dan warga dari berbagai ertnis di Singaraja, Bali.  Mekila adalah bentuk silaturahmi usai Idulfitri dengan tradisi berkunjung dari rumah ke rumah.

Zaman dulu, mekila dilakukan warga, bahkan dipimpin Lurah/Perbekel Kampung Kajanan. Usai sholat Idul Fitri, perbekel langsung berkunjung ke rumah-rumah warga, diikuti oleh warga lainnya.

Tradisi mekila di Kampung Kajanan Singaraja | Foto: Yum

Dalam mekila itu dibacakan dzikir Alhamduliman, dan diiringi rebana (hadrah). Setelah dikunjungi, warga tersebut ikut mekila mengunjungi warga lainnya. Demikian seterusnya. Tradisi tersebut sempat menghilang selama puluhan tahun, dan kini mulai dilakukan lagi dengan penuh sukacita.

Dari Rumah ke Rumah, Dari Hidangan ke Hidangan

Tahun 2025 atau 1446 H ini, mekila dilaksanakan selama dua hari, Rabu-Kamis, 2-3 April 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mekila dilaksanakan oleh pengurus Badan Kemakmuran Masjid Kuna Keramat Singaraja.

Selama dua hari, penulis mengikuti mekila tersebut. Berikut sejumlah catatan menarik dari kegiatan tersebut.

Titik awal mekila adalah Masjid Kuna Keramat di Jl. Hasanuddin Singaraja. Pukul 08.00 Wita, para pengurus BKM Masjid Kuna Keramat berkumpul dan melantunkan syair atau dzikir Alhamduliman. Setelah berdoa, mereka berangkat menuju ke rumah warga. Pertama rumah warga di Jl. Salak, tak jauh dari Masjid Kuna Keramat.

Dengan berjalan kaki, diiringi rebana, para pengurus BKM Masjid Kuna Keramat masuk ke rumah warga. Seorang ibu yang sudah sepuh tampak menunggu di ruang tamu. Dzikir Alhamduliman lalu dilantunkan, ditutup dengan doa.

Tradisi mekila di Kampung Kajanan Singaraja | Foto: Yum

Tuan rumah tampak menyediakan jajanan Lebaran, dan minuman. Usai bersalaman dengan tuan rumah, mekila dilanjutkan ke rumah warga berikutnya. Tak jauh dari rumah warga yang pertama. Prosesinya sama, membaca dzikir Alhamduliman dan doa, lantas menikmati sajian jajan atau kue dari tuan rumah.

Dalam mekila, warga yang dikunjungi tak diwajibkan menyiapkan hidangan atau sajian khusus. Apa yang ada, itulah yang disajikan. Namun, beberapa warga memang menyiapkan sajian khusus, bahkan sajian makan berat.

Di rumah Ustadz H. Abdurahman Said, Lc., misalnya, peserta mekila disiapkan nasi rawon. Tentu saja rawonnya ya rawon pangi. Kuliner yang banyak dijual dan dijumpai di Kampung Kajanan.

Dari rumah ustadz yang mantan Ketua MUI Buleleng ini, mekila berlanjut ke rumah pengurus BKM Masjid Kuna Keramat, Agus Darmawan. Rumah Agus Darmawan tak berjarak jauh, masih di Jl. Nangka.

Tak sampai 20 menit, peserta mekila kembali harus menyantap makanan berat. Tuan rumah menyiapkan lontong bumbu pecel. Ya Allah, baru saja disajikan nasi rawon, sekarang harus kembali makan lontong pecel. Beberapa peserta mekila meraba perutnya, seakan ingin memastikan masih adakah ruang untuk diisi lagi.

“Sikat saja. Bismillah,” teriak seorang peserta mekila, disambut tawa dari yang lainnya. Begitulah, peserta mekila harus siap-siap kekenyangan selama mengikuti tradisi tersebut.

Tradisi mekila di Kampung Kajanan Singaraja | Foto: Yum

Konon orang-orang tua dulu, biasanya memakai baju dengan kantong yang banyak dan besar jika mengikuti mekila. Jika sudah kenyang, dan perut sudah penuh, maka makanan atau terutama jajan yang disajikan tuan rumah dimasukkan kantong untuk dibawa pulang. Saat itu, belum ada tas kresek. Atau kalau tidak, jajan dibungkus dengan sapu tangan yang dibawanya.

Setelah dari rumah Agus Darmawan, peserta mekila menuju rumah-rumah warga di gang-gang belakang Masjid Agung Jami’ Singaraja. Beberapa orang juga ikut bergabung, sehingga peserta mekila semakin banyak. Pada rumah-rumah warga berikutnya, beberapa peserta sudah tak sanggup lagi menyentuh sajian. Tak ada makan besar, memang, namun toh sekadar mencicipi kue atau jajan ringan sudah tak sanggup lagi.

Makan berat berikutnya yakni saat mekila ke rumah Ketua BKM Masjid Kuna Keramat Singaraja, Muhammad Mujib, di Jalan Salak. Tentu saja, perut sudah longgar karena mekila di rumah Muhammad Mujib dilaksanakan malam hari, usai sholat maghrib. Peserta mekila menikmati nasi soto yang disajikan tuan rumah.

Hari kedua, Kamis, 3 April, mekila pertama ke rumah Ketua Yayasan Al Karomah Masjid Kuna Keramat, Muhammad Hisam. Dadar gule, kuliner khas Ramadhan disajikan. Dilanjutkan ke rumah Ustadz Suryawan. Dan kembali disajikan makan berat, nasi soto.

Peserta mekila pun harus periksa perut. Baru saja menyantap dadar gule, kini harus ‘menyelesaikan’ nasi soto. “Dikitin minum,” seorang memberikan tips. Maksudnya biar tidak cepat perut kenyang alias kembung.

Bisa dibayangkan mekila ke rumah warga berikutnya. Beberapa peserta hanya mencicipi jajan atau kue yang disajikan tuan rumah sekadarnya. Dan, bahkan ada yang memasukkan ke tas kresek untuk dibawa pulang.

Menyusuri Gang-gang Kecil yang Eksostis

Sebenarnya cerita sajian kuliner dan pernak-perniknya tersebut bukanlah hal paling menarik dalam rangkaian mekila. Yang lebih menarik adalah menyusuri gang-gang kecil di setiap sudut Kampung Kajanan. Penyusuran itu ternyata memberikan sensasi tersendiri. Ada getar perasaan yang tak bisa dilukiskan wujudnya.

Gang-gang tersebut seperti menyajikan eksotisme yang khas. Tempat tinggal warga yang berdiri di gang-gang tersebut khas arsitektur dan lingkungan perumahan masyarakat urban, dengan segala riuh penghuninya.

Dan, betapa padat penduduk di kawasan tersebut. Betapa beragam warganya. Mereka datang dari berbagai budaya atau etnis yang berbeda. Ada yang dari etnis Cina, Bali, Jawa, Melayu, Bugis, Madura, Lombok, Arab, dan entah apa lagi.

Komunitas Multikultur

Komunitas multikultur tersebut kini membentuk apa yang bisa disebut sebagai kultur Kampung Kajanan. Bahasa yang digunakan masyarakat Kampung Kajanan adalah ‘bahasa Kajanan’, yang unik dan khas, serapan dari berbagai bahasa asing atau daerah. Yang terbanyak dari bahasa Bali, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Kata ‘ente’, ‘ana’, ‘jahanem’, atau ‘fulus’ (Arab) bercampur dengan bahasa Bali ‘sing’, ‘tawang’, maka muncul sebagai bahasa Kampung Kajanan; “ana sing tawang”, dan seterusnya.

Tradisi mekila di Kampung Kajanan Singaraja | Foto: Yum

Atau coba simak kosa kata Kampung Kajanan ini yang sering digunakan untuk joke. Biasanya jika ada tawaran untuk mengambil sesuatu. “De malu-malu, maluin gen” (Jangan malu-malu, duluan saja), dan tentu dengan dialek khas Kajanan.

“Ente be man tape uli?”, “Ping dase ana nelpon mi, dak diangkat-angkat”, “Ni klepon, senengannya ia kali ni”, “Dilewati ma dia, jaharuk kali”, “Amak harusnya mimpin, ya Allah terlambat. Sungguhan. Amak dapat nanya, ada tak gitui ma ana”, dan seterusnya.

Kalimat-kalimat khas semacam itulah yang sering terlontar dari peserta mekila. Campuran dari bahasa Bali, Arab dan bahasa Indonesia. Bahasa Kajanan. [T]

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ini diterbitkan pertama kali di balisharing.com
Ritual Suci 10 Muharram: Tradisi Penguat Identitas dan Rasa Kekeluargaan Umat Muslim Batu Gambir Tejakula
Tradisi Menyalakan Colok di Penghujung Ramadan: Menerangi Arwah Leluhur dengan Doa-doa
Berjuang Bangun di Pagi Buta, Mahasiswa Muslim Singaraja Sahur Enak di Masjid Kuno Keramat
Tags: Idul FitriIdulfitriKampung KajananLebaranmuslim balimuslim bulelengTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Kasih Sisa Nasi di Malam Hari

Next Post

In Memoriam | Gagasan Terbaru Dede Nyana: Membukukan Karya Sastra Penyuluh Bahasa Bali Gianyar

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
In Memoriam | Gagasan Terbaru Dede Nyana: Membukukan Karya Sastra Penyuluh Bahasa Bali Gianyar

In Memoriam | Gagasan Terbaru Dede Nyana: Membukukan Karya Sastra Penyuluh Bahasa Bali Gianyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co