3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Obrolan Serombotan: “Sirna atau Bertahan”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
January 5, 2025
in Esai
Obrolan Serombotan: “Sirna atau Bertahan”

Foto ilustrasi: Darma Permana

SETELAH lama berdinamika di Kota Denpasar, diri ini akhirnya dapat menikmati suasana pulang kampung ke Klungkung.

Bermodalkan tekad untuk healing awal tahun, sarira langsung menuju ke warung lokal bertagline “Mek Man”. Berdiameter kecil berlokasi dekat bencingah, warung ini ternyata masih berdiri kokoh dengan kesetiaannya menjajakan makanan-makanan tradisional. Salah satunya adalah makanan khas Klungkung yang bernama “serombotan”.

Daya tarik cita rasa serombotan khas Klungkung memang tiada tandingan. Dengan isi berupa campuran berbagai macam sayuran, ditimpali bumbu parutan kelapa serta kacang-kacangan, membuat lidah bergoyang-goyang tak tertahankan. Tanpa berpikir panjang, diri langsung memesan satu porsi tipat serombotan. Tak lupa juga ditimpali es rujak khas Klungkungsebagai teman minuman yang rasanya sangat menyegarkan. 

“Sabar dulu nggih, Dik, niki Mek Man masih menyiapkan pesanan bapak-bapak disana,” ujar Mek Man sambil mengulek bumbu makanan.

Ternyata benar, di bangku warung sudah terdapat 4 orang bapak yang sedang menunggu pesanannya datang. Dengan kopi serta bungkusan rempeyek di tangan, mereka imbangi dengan berdialog satu sama lain. Saking asiknya obrolan bapak-bapak tersebut, turut menarik diri ini juga hanyut di dalamnya.

1. Petani akan Sirna atau Bertahan?

Bapak 1: “Aduhhh semakin lacur (miskin) saja jadi petani di zaman sekarang.”

Bapak 2: “Ya mau gimana lagi, Pak, lahan persawahan semakin sempit, harga barang pokok kian menjepit, ya petani jadi makin terhimpit.”  

Bapak 3: “Belum lagi anak muda zaman sekarang ga ada yang mau jadi petani, Pak. Dibandingkan bertani, tentu mereka akan lebih memilih pekerjaan pasti.”

Bapak 4: “Jika dipikir-pikir, akan masih bertahan je ya pekerjaan petani di masa yang akan datang?”

Dari sisi data faktual dan aktual, apa yang menjadi topik obrolan dari bapak-bapak tersebut memang benar adanya.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2011, jumlah anak muda yang bergelut di bidang pertanian mencapai angka 29,18%. Angka tersebut kemudian merosot tajam di angka 19,18% pada tahun 2021. Penurunan angka tersebut menjadi refleksi rendahnya minat anak muda untuk bekerja sebagai petani.

Alasan yang dikemukakan oleh bapak- bapak tersebut juga dapat diterima. Jurnal Manajemen Agribisnis di tahun 2023 pernah mencatat bahwa salah satu faktor penentu menurunnya minat anak muda bergelut di sektor pertanian adalah citra penghasilan yang belum positif. Pertanian dianggap sebagai ladang yang tidak prestisius untuk menjamin kompensasi kehidupan di hari tua. Terlebih dengan era disrupsi saat ini, anak muda akan lebih memilih bekerja di subkultur teknologi dan informasi yang dianggap lebih menjanjikan. Tanpa kepedulian akan nasib kesejahteraan petani, hal ini bisa saja menjadi ancaman timbulnya krisis petani. Dari semua penjelasan tersebut, apakah mungkin suatu saat petani akan hilang?

***

2. Keasrian Bali akan Sirna atau Bertahan?

Bapak 1: “Prediksi tiang (saya) kayakne bakal hilang. Orang tanah-tanah persawahan liunan adepe (kebanyakan dijual). Gimana penerus mau ada jadi petani?”

Bapak 2: “Betul, Pak, dini-ditu (dimana-mana) pembangunan masif. Dibandingkan menanam padi, zaman jani (sekarang) liunan anak lebih memilih (kebanyakan) menanam beton.”

Bapak 3: “Sesungguhnya itu pertanda keasrian Bali sudah mekere (akan) hilang, Pak. Gumatap– gumatip (binatang kecil-kecil) sudah tidak terdengar, bumi semakin panas, punyan-punyanan (pohon-pohonan) kena enteb (ditebang).”

Bapak 4: “Mimih Dewa Ratu, apa je kar jadine (akan jadinya) jak (dengan) Bumi Bali ke depannya nah.”

Berdasarkan sisi empiris, apa yang dikemukakan oleh bapak-bapak tersebut juga benar adanya. Lahan-lahan hijau di daerah persawahan maupun perbukitan yang menghiasi Bali kian menipis dari hari ke hari. Giatnya pembangunan serta alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini pun pada akhirnya berimbas pada banyaknya pohon-pohon serta kawasan hijau yang bertransformasi menjadi bangunan-bangunan.

Sejak saat itu, tidak terlihat lagi capung, bunyi enggung (kodok), serta kelap-kelipnya kunang-kunang di malam hari. Di samping habitatnya dirampas, suara mereka juga kalah oleh suara musik DJ dan suara bising lainnya yang ditimbulkan oleh manusia. Apabila semua ini terus dibiarkan, tanpa regulasi dan perhatian serius kepada alam, apakah benar keasrian Bali akan jadi tinggal kenangan?

***

3. Pariwisata Bali akan Hilang?

Bapak 1: “Lah Bapak tidak mendengar berita? Bali bahkan masuk ke dalam destinasi wisata yang tidak layak dikunjungi. Itu dah akibat keasrian dan kenyamanan Bali dipertanyakan.”

Bapak 2: “Betul Pak, apalagi keamanan Bali juga semakin memprihatinkan. Berita motor pisage (teman) hilang, rampok, begal, saling antem (pukul) di jalanan, seperti jadi makanan sehari-hari.”

Bapak 3: “Ah itu baru seberapa, Pak, masalah sampah juga sing pragat–pragat (tidak selesai-selesai). Belum lagi di kota sekarang, jalanane macet sing kodag-kodag (tidak tertahankan).”

Bapak 4: “Jika dipikir-pikir lagi dengan semua keadaan itu, masih seken-seken (baik-baik) je ya dikelola Pariwisata Bali? Pariwisata yang katanya berbasis budaya, ditimpali alam Bali yang indah dan juga asri”

Berdasarkan obrolan tersebut, bisa tercermin skeptisme bapak-bapak terkait hilangnya Taksu Bali yang aman, tentram, dan nyaman. Sebagai penguat, data dari BPS pernah mencatat kenaikan tingkat kriminalitas dalam beberapa tahun terakhir di Pulau Bali. Lonjakan terjadi pada tahun 2023, dimana BPS mencatat ada 10.889 kasus, dibandingkan tahun 2022 yang mencatat 3.945 kasus.

Lebih lanjut, permasalahan sampah juga menjadi tantangan pelik yang mesti dihadapi oleh Pulau Bali. Terbakarnya beberapa TPA/TPS, serta mulai masifnya timbul banjir di beberapa titik menjadi refleksi nyata dari dampak permasalahan sampah yang belum usai. Isu kenyamanan juga diperparah dengan timbulnya kemacetan di beberapa titik yang disinyalir akibat over tourism. Jadi apakah mungkin kriteria Bali sebagai destinasi wisata yang tak layak dikunjungi itu sesuatu yang layak?

***

Bapak 1: “Jika berkaitan dengan Pariwisata, ya sudah pasti itu akan….”

“Beh jaen sajan (enak sekali) bapak-bapak niki ngorte (ngobrol). Sudahi dumun (dulu), niki ajengannya (makanannya) sudah tiba,”potong Mek Man sambil membawakan pesanan.

Kedatangan Mek Man dengan membawa pesanan menjadi penutup obrolan intens bapak-bapak tersebut. Topik obrolan yang dilihat dari kulit luar semacam tercampur-campur dari berbagai macam bahan, namun sesungguhnya teraduk dan menyatu menjadi satu kesatuan keresahan. Obrolan yang diri ini ibaratkan bak adonan tipat serombotan dari Mek Man yang sedang diulek. Memiliki cita rasa khas yang pedas, namun tetap bisa dinikmati dengan penuh kenikmatan. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?
Kepemimpinan “Punyan”
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tags: balipariwisata baliSerombotan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan

Next Post

Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co