3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Obrolan Serombotan: “Sirna atau Bertahan”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
January 5, 2025
in Esai
Obrolan Serombotan: “Sirna atau Bertahan”

Foto ilustrasi: Darma Permana

SETELAH lama berdinamika di Kota Denpasar, diri ini akhirnya dapat menikmati suasana pulang kampung ke Klungkung.

Bermodalkan tekad untuk healing awal tahun, sarira langsung menuju ke warung lokal bertagline “Mek Man”. Berdiameter kecil berlokasi dekat bencingah, warung ini ternyata masih berdiri kokoh dengan kesetiaannya menjajakan makanan-makanan tradisional. Salah satunya adalah makanan khas Klungkung yang bernama “serombotan”.

Daya tarik cita rasa serombotan khas Klungkung memang tiada tandingan. Dengan isi berupa campuran berbagai macam sayuran, ditimpali bumbu parutan kelapa serta kacang-kacangan, membuat lidah bergoyang-goyang tak tertahankan. Tanpa berpikir panjang, diri langsung memesan satu porsi tipat serombotan. Tak lupa juga ditimpali es rujak khas Klungkungsebagai teman minuman yang rasanya sangat menyegarkan. 

“Sabar dulu nggih, Dik, niki Mek Man masih menyiapkan pesanan bapak-bapak disana,” ujar Mek Man sambil mengulek bumbu makanan.

Ternyata benar, di bangku warung sudah terdapat 4 orang bapak yang sedang menunggu pesanannya datang. Dengan kopi serta bungkusan rempeyek di tangan, mereka imbangi dengan berdialog satu sama lain. Saking asiknya obrolan bapak-bapak tersebut, turut menarik diri ini juga hanyut di dalamnya.

1. Petani akan Sirna atau Bertahan?

Bapak 1: “Aduhhh semakin lacur (miskin) saja jadi petani di zaman sekarang.”

Bapak 2: “Ya mau gimana lagi, Pak, lahan persawahan semakin sempit, harga barang pokok kian menjepit, ya petani jadi makin terhimpit.”  

Bapak 3: “Belum lagi anak muda zaman sekarang ga ada yang mau jadi petani, Pak. Dibandingkan bertani, tentu mereka akan lebih memilih pekerjaan pasti.”

Bapak 4: “Jika dipikir-pikir, akan masih bertahan je ya pekerjaan petani di masa yang akan datang?”

Dari sisi data faktual dan aktual, apa yang menjadi topik obrolan dari bapak-bapak tersebut memang benar adanya.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2011, jumlah anak muda yang bergelut di bidang pertanian mencapai angka 29,18%. Angka tersebut kemudian merosot tajam di angka 19,18% pada tahun 2021. Penurunan angka tersebut menjadi refleksi rendahnya minat anak muda untuk bekerja sebagai petani.

Alasan yang dikemukakan oleh bapak- bapak tersebut juga dapat diterima. Jurnal Manajemen Agribisnis di tahun 2023 pernah mencatat bahwa salah satu faktor penentu menurunnya minat anak muda bergelut di sektor pertanian adalah citra penghasilan yang belum positif. Pertanian dianggap sebagai ladang yang tidak prestisius untuk menjamin kompensasi kehidupan di hari tua. Terlebih dengan era disrupsi saat ini, anak muda akan lebih memilih bekerja di subkultur teknologi dan informasi yang dianggap lebih menjanjikan. Tanpa kepedulian akan nasib kesejahteraan petani, hal ini bisa saja menjadi ancaman timbulnya krisis petani. Dari semua penjelasan tersebut, apakah mungkin suatu saat petani akan hilang?

***

2. Keasrian Bali akan Sirna atau Bertahan?

Bapak 1: “Prediksi tiang (saya) kayakne bakal hilang. Orang tanah-tanah persawahan liunan adepe (kebanyakan dijual). Gimana penerus mau ada jadi petani?”

Bapak 2: “Betul, Pak, dini-ditu (dimana-mana) pembangunan masif. Dibandingkan menanam padi, zaman jani (sekarang) liunan anak lebih memilih (kebanyakan) menanam beton.”

Bapak 3: “Sesungguhnya itu pertanda keasrian Bali sudah mekere (akan) hilang, Pak. Gumatap– gumatip (binatang kecil-kecil) sudah tidak terdengar, bumi semakin panas, punyan-punyanan (pohon-pohonan) kena enteb (ditebang).”

Bapak 4: “Mimih Dewa Ratu, apa je kar jadine (akan jadinya) jak (dengan) Bumi Bali ke depannya nah.”

Berdasarkan sisi empiris, apa yang dikemukakan oleh bapak-bapak tersebut juga benar adanya. Lahan-lahan hijau di daerah persawahan maupun perbukitan yang menghiasi Bali kian menipis dari hari ke hari. Giatnya pembangunan serta alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini pun pada akhirnya berimbas pada banyaknya pohon-pohon serta kawasan hijau yang bertransformasi menjadi bangunan-bangunan.

Sejak saat itu, tidak terlihat lagi capung, bunyi enggung (kodok), serta kelap-kelipnya kunang-kunang di malam hari. Di samping habitatnya dirampas, suara mereka juga kalah oleh suara musik DJ dan suara bising lainnya yang ditimbulkan oleh manusia. Apabila semua ini terus dibiarkan, tanpa regulasi dan perhatian serius kepada alam, apakah benar keasrian Bali akan jadi tinggal kenangan?

***

3. Pariwisata Bali akan Hilang?

Bapak 1: “Lah Bapak tidak mendengar berita? Bali bahkan masuk ke dalam destinasi wisata yang tidak layak dikunjungi. Itu dah akibat keasrian dan kenyamanan Bali dipertanyakan.”

Bapak 2: “Betul Pak, apalagi keamanan Bali juga semakin memprihatinkan. Berita motor pisage (teman) hilang, rampok, begal, saling antem (pukul) di jalanan, seperti jadi makanan sehari-hari.”

Bapak 3: “Ah itu baru seberapa, Pak, masalah sampah juga sing pragat–pragat (tidak selesai-selesai). Belum lagi di kota sekarang, jalanane macet sing kodag-kodag (tidak tertahankan).”

Bapak 4: “Jika dipikir-pikir lagi dengan semua keadaan itu, masih seken-seken (baik-baik) je ya dikelola Pariwisata Bali? Pariwisata yang katanya berbasis budaya, ditimpali alam Bali yang indah dan juga asri”

Berdasarkan obrolan tersebut, bisa tercermin skeptisme bapak-bapak terkait hilangnya Taksu Bali yang aman, tentram, dan nyaman. Sebagai penguat, data dari BPS pernah mencatat kenaikan tingkat kriminalitas dalam beberapa tahun terakhir di Pulau Bali. Lonjakan terjadi pada tahun 2023, dimana BPS mencatat ada 10.889 kasus, dibandingkan tahun 2022 yang mencatat 3.945 kasus.

Lebih lanjut, permasalahan sampah juga menjadi tantangan pelik yang mesti dihadapi oleh Pulau Bali. Terbakarnya beberapa TPA/TPS, serta mulai masifnya timbul banjir di beberapa titik menjadi refleksi nyata dari dampak permasalahan sampah yang belum usai. Isu kenyamanan juga diperparah dengan timbulnya kemacetan di beberapa titik yang disinyalir akibat over tourism. Jadi apakah mungkin kriteria Bali sebagai destinasi wisata yang tak layak dikunjungi itu sesuatu yang layak?

***

Bapak 1: “Jika berkaitan dengan Pariwisata, ya sudah pasti itu akan….”

“Beh jaen sajan (enak sekali) bapak-bapak niki ngorte (ngobrol). Sudahi dumun (dulu), niki ajengannya (makanannya) sudah tiba,”potong Mek Man sambil membawakan pesanan.

Kedatangan Mek Man dengan membawa pesanan menjadi penutup obrolan intens bapak-bapak tersebut. Topik obrolan yang dilihat dari kulit luar semacam tercampur-campur dari berbagai macam bahan, namun sesungguhnya teraduk dan menyatu menjadi satu kesatuan keresahan. Obrolan yang diri ini ibaratkan bak adonan tipat serombotan dari Mek Man yang sedang diulek. Memiliki cita rasa khas yang pedas, namun tetap bisa dinikmati dengan penuh kenikmatan. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?
Kepemimpinan “Punyan”
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tags: balipariwisata baliSerombotan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Silent Tourism”: Berwisata dalam Kesenyapan

Next Post

Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co