12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

I Wayan Artika by I Wayan Artika
January 5, 2025
in Kritik Sastra
Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

TEORI struktur naratif menjelaskan susunan cerita dalam novel atau puisi yang panjang. Teori ini penting bagi pembaca ketika ia harus memahami bagian-bagian suatu cerita yang bersambung atau sangat panjang. Demikian pula bagi penulis, struktur naratif akan menjadi “denah” atau “peta perjalanan” ceritanya sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau pengulangan yang tidak disengaja.

Struktur naratif yang paling umum berupa bagian-bagian dalam cerita seperti dikenal istilah episode, bab, bagian, babak, atau apapun namanya yang digunakan dengan pertimbangan tertentu oleh pengarang. Epos Mahabharata misalnya dibagi menjadi 18 parwa dan epos Ramayana dibagi menjadi 7 kanda. Pada sastra cetak tanda-tanda susunan cerita sangat banyak variannya, misalnya pergantian bab menggunakan ilustrasi, judul bab dan sub bab. Ada yang menggunakan angka romawi atau angka arab. Umum pula menggunakan tanda * (bintang).

Yang dibicarakan dalam esai ini adalah tanda struktur naratif dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Di samping menggunakan “Bagian Pertama’, “Bagian Kedua”, “Bagian Ketiga’, “Bagian Keempat”, dan “Bagian Kelima” Ronggeng Dukuh Paruk juga menggunakan tanda *.

Ahmad Tohari menggunaka dua varian *, yaitu * (bintang 1) dan *** (Bintang 3). Kalau tidak dibaca dengan cermat tanda Bintang tersebut tidak bermakna apa-apa karena pembaca tetap berada di dalam suasana cerita atau alam Dukuh Paruk (kemiskinan, kebodohan, daya tahan, kemelaratan, prostitusi, kekayaan alam, kendali kekuatan roh Ki Secamenggala, perubahan sosial, dan pembangunan instalasi irigasi yang mangkrak sejak zaman Jepang oleh Orde Baru).

Setelah dicermati ternyata kedua jenis tanda * dalam Robggeng Dukuh Paruk  yaitu * dan bintang *** memiliki fungsi yang sangat jelas. Memang Ahmad Tohari tidak hanya mengandalkan *. Untuk menyusun cerita novel Ronggeng Dukuh Paruk ternyata Ahmad Tohari juga menggunakan penanda struktur naratif berupa “bagian”.  Ronggeng Dukuh Paruk jilid pertama pertama adalah  Ronggeng Dukuh Paruk dengan judul tambahan yaitu Catatan buat Emak terdiri atas empat bagian,  lalu Lintang Kemukus Dini Hari terdiri atas lima bagian, dan Jantera Bianglala terdiri atas empat bagian. Seluruh trilogi terdiri atas 13 bagian.

Teori naratif juga menjelaskan teknik pengarang dalam menyampaikan kisahnya. Secara umum ada dua, teknik aku dan teknik orang ketiga. Ahmad Tohari menggunakan teknik orang ketiga.  Namun karena sesuatu pertimbangan, yaitu pertimbangan keintiman atau kedekatan secara batin dengan tokoh (dalam hal ini Rasus), Ahmad Tohari juga menggunakan penceritaan aku. Campuran teknik cerita Ayu Utami dalam novel Saman telah dilakukan oleh Ahmad Tohari dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Penceritaan aku dilakukan oleh Rasus.

Rasus adalah tokoh penting dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Ia adalah laki-laki desa yang gagah, korban yang selamat dari musibah keracunan tempe bongkrek, senasib dengan Srintil, dan berobsesi menemukan kuburan emaknya.  Lalu karena peran penting itulah Ahmad Tohari memberikan ruang khusus bagi Rasus untuk bercerita dengan menggunakan teknik aku. Pada bagian itu Ahmad Tohari menggunakan tanda ***. Namun maksud yang sama juga ditandai dengan * (Jantera Bianglala, halaman 205). Padahal tanda yang sama digunakan menyajikan cerita sisipan yang cukup panjang pada Lintang Kemukus Dini Hari  dan Jantera Bianglala.  

Cerita sisipan adalah cerita yang melebar atau berkembang jauh dari persoalan inti. Namun demikian, masih terasa berhubungan.  Dan, pada kondisi naratif seperti ini, Ahmad Tohari (atau editor) merasa perlu memberi tanda bagi pembaca.

Penggunaan teknik bercita aku dalam hal ini yang bercerita adalah Rasus muncul di dalam bagian pertama trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yaitu bagian yang paling banyak dan mendalam menceritakan obsesi Rasus dalam menemukan di mana makam emaknya. Tanda bercerita aku pada jilid pertama ini adalah ***. Ketika membaca trilogi Ronggeng Dukuh Paruk jilid 1 pembaca menemukan *** yang menunjukkan peralihan (atau sisipan) teknik naratif dari teknik orang ketiga ke teknik orang pertama. Mengapa pengarang beralih teknik naratif?

Jilid pertama Ronggeng Dukuh Paruk mengungkapkan bahwa pada bagian-bagian pengarang menggunakan teknik narasi aku adalah bagian yang paling intim dari pengalaman batin Rasus ketika ia harus menghadapi kenyataan yang berbeda dari obsesinya, yang semula ia ingin menemukan tokoh emak pada Srintil. Tetapi kenyataan Dukuh Paruk mengatakan bahwa Srintil adalah ronggeng. Ia milik orang-orang Dukuh Paruk dan milik para laki-laki hidung belang. Jelas Rasus tidak bisa menerima kenyataan ini.

Pada bagian atau tahapan yang paling penting metamorfose seorang ronggeng yaitu pada saat seorang calon ronggeng diwisuda dengan cara melepaskan keperawanannya kepada laki-laki yang memenangkan lelang, yaitu pada acara malam buka kelambu; Rasus mendapatkan keperawanan secara sukarela dari Srintil sendiri. Dengan setengah hati karena Rasus harus menghapus bayangan emaknya pada diri Srintil; bagi Srintil adalah pemberian atau persembahan seorang perempuan kepada laki-laki yang dicintainya; atau Rasus telah membayarnya dengan sebilah keris ronggeng; untuk kali ini Rasus-lah yang memerawani Srintil. Jadi malam buka klambu adalah omong kosong. Pasangan dukun ronggeng Ki dan Nyai Kertareja telah ditipu oleh Srintil dan Rasus.

Penggunaan *** untuk menandai narasi aku Rasus atau teknik bercerita aku yang dilakukan oleh Rasus terjadi tiga kali pada jilid pertama novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu pada halaman 64, 110, dan 160. Tiga kali penggunaan teknik bercerita aku lebih mendekatkan pengalaman batin Rasus secara khusus, untuk menegaskan dilema dan obsesi Rasus dalam menemukan dimana makam emaknya setelah peristiwa keracunan tempe bongkrek. Narasi orang ketiga yang mendominasi trilogi ini menghadirkan konstelasi Srintil, Rasus, dan tradisi ronggeng di Dukuh Paruk.

Lewat narasi orang ketiga, Rasus memeram relasi batin yang bertolak belakang dalam batinnya. Pada satu sisi adalah Srintil sebagai bayangan emaknya dan pada sisi yang berlawanan Srintil adalah calon ronggeng. Pada diri Srintil terungkap bahwa ia ada dalam relasi yang juga bertolak belakang antara menjadi ronggeng dan mencintai Rasus. Rasus memang melakukan hubungan badan di luar pengetahuan Ki dan Nyai Kertareja setelah ia berjuang untuk menghapus bayangan emaknya pada Srintil yang sejak malam itu, Srintil resmi menjadi ronggeng.

Hubungan ini pernah gagal di areal makam Ki Secamenggala tadi siangnya sebelum malam buka kelambu; diulangi secara lebih leluasa pada bagian akhir Catatan buat Emak, ketika Rasus untuk waktu yang lama akan meninggalkan Dukuh Paruk karena masuk tentara. Melalui hubungan ini Srintil mengira akan menjadi istri Rasus dan mendapatkan anak. Rasus tegas menolak karena ia meniduri Srintil seperti laki-laki pelanggan ronggeng. Tidak ada lagi bayangan emak pada Srintil. Perempuan seperti Srintil pun di mata Rasus adalah pemuas birahi.

Pada trilogi Ronggeng Dukuh Paruk jilid kedua yaitu Lintang Kemukus Dini Hari Ahmad Tohari ternyata sama sekali tidak menggunakan teknik bercerita orang pertama seperti dalam jilid pertama.  Artinya, pada bagian Lintang Kemukus Dini Hari Rasus tidak dihadirkan. Dengan konsep teknis ”dihadirkan” ini ternyata teknik bercerita aku untuk Rasus tidak hanya digunakan untuk menunjukkan dan memebri pembaca pengalaman batin yang intim dan mendalam karena tokoh bercerita sendiri dari dalam pikiran dan batinnya serta pengalamannya, teknik bercerita aku khusus untuk Rasus digunakan oleh pengarang juga untuk menunjukkan kehadiran tokoh ini. 

Munculnya tanda * untuk menandai teknik bercerita aku Rasus muncul dalam bagian akhir Jantera Bianglala  menimbulkan pertanyaan. Mengapa novel ini menggunakan tanda naratif untuk menandai penggunaan teknik narasi aku (Rasus) dengan dua tanda yang berbeda? Untuk tujuan yang sama digunakan tanda *** (Catatan buat Emak) dan * (Jantera Bianglala).  Apakah ini kealpaan, edior, pengarang?

Dalam Lintang Kemukus Dini Hari (halaman 93, 110, 160) dan Jantera Bianglala  (hal 56, 120, dan 170) pengarang menggunakan * untuk menandai cerita-cerita sisipan yang panjang dan membawa perubahan suasana cerita yang dirasakan oleh pembaca. Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa bagian cerita yang diberi * mulai menjauhi cerita inti namun tetap terasa memiliki hubungan. Karena pengarang/editor sangat cermat maka dipandang perlu menggunakan tanda struktur naratif * untuk menyampaikan cerita-cerita sisipan.

Tanda * mulai digunakan pada trilogi Ronggeng Dukuh Paruk jilid kedua yaitu Lintang Kemukus Dini Hari. Di dalam jilid ini * digunakan untuk menandai tiga cerita siispan. Tanda * (halaman 32) menceritakan kehadiran pertemuan Srintil dengan sepasang suami istri pengamen kecapi, Wirsiter dan Ciplak. Materi yang disampaikan di dalam cerita sisipan ini adalah suka duka kehidupan pengamen pasar dan pengetahuan tentang musik, serta teknologi kecapai sebagai kekayaan budaya bangsa.

Cerita sisipan ini tetap terasa berhubungan dengan cerita inti karena Srintil berada di dalam cerita sisipan tersebut. Hubungan antara cerita sisipan dengan cerita inti terasa longgar. Inilah yang menjadi alasan mengapa Ahmad Tohari atau editor memberi tanda *. Jika tidak bisa dikatakan teknik mengembangkan materi novel, untuk menambah jumlah halaman, cerita sisipan berfungsi untuk memperkaya pengetahuan. Karena pengetahuan itu sangat penting pada banyak prosa atau puisi, pembaca pun menilai kualitas sastra dari khazanah pengetahuan yang disertakan.

Cerita sisipan kedua (hal. 93) adalah pertemuan Dilam dan Marsusi. Dilam bukanlah tokoh penting seperti Marsusi (kepala perkebunan karet, orang kaya, lelaki hidung belang, pelanggan Srintil dengan berani membayar paling mahal, dan pada Jantera Bianglala bermaksud menikahi Srintil) dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Cerita sisipan ini tidak berpusat pada tokoh cerita tetapi pada materi.  Keduanya pergi ke kakek Tarim, dukun santet yang sakti, di Kalipucang. Tujuan mereka sama, meminta bantuan dukun ngelmu Tarim untuk membunuh seteru mereka masing-masing. Marsusi ingin membunuh Srintil karena ronggeng ini telah membuatnya malu dengan menolak tawaran menari kembali di acara Agustusan di Dawuan.

Dilam mencari dukun pembunuh karena ada orang yang meracuni kerbaunya sekaligus dua ekor dalam satu malam, gara-gara kerbaunya masuk ke perkebunan seseorang dan permohonan maaf dan pengajuan ganti ruginya ditolak. Sebagai imbalan, pada malam harinya, dua ekor kerbaunya mati. Setelah disembelih, perutnya dikeluarkan lalu dibuang ke kolam dan ikan-ikan di kolam itu mati, sebagai pertanda kerbau itu makan racun.

Untuk membalas sakit hatinya Dilam ke Kalipucang. Cerita ini menunjukkan bahwa tidak setiap permintaan dipenuhi oleh dukun ngelmu. Marsusi urung meminta bantuan untuk membunuh Srintil setelah melewati dialog antara dirinya dan kakek Tarim. Setelah kakek Tarim berhasil menjalankan aksinya, tinggal sekarang Dilam berjuang untuk menenangkan dan meyakinkan dirinya bahwa tindakannya itu benar. Perasaan lega justru ada pada diri Marsusi.

Cerita sisipan kedua (hal. 110) mengenai kegembiraan melanda Dukuh Paruk karena Srintil kembali menari pada malam Agustusan. Cerita sisipan ini mengingatkan peristiwa terdahulu ketika untuk pertama kalinya Srintil menjadi ronggeng. Ki dan Nyai Kertareja sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Masih berhubungan dengan Srintil dan ronggeng, cerita sisipan ketiga (hal. 160) terjadi di Alaswangkal, di rumah Sentika. Kali ini pentas ronggeng Srintil dalam rangka pembayaran hajat atau kaul menanggap ronggeng. Keluarga Sentika memiliki lima anak dan empat orang perempuan. Satu-satunya laki-laki, Waras, adalah anak bungsu. Ia mengalami masalah seksual, tidak memiliki naluri birahi. Tugas Srintil kali ini adalah mengembalikan Waras sebagai laki-laki, seperti harapan kedua orang tuanya.  

Kajian terhadap struktur naratif dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan melihat bahwa ditemukan penggunaan* baik * maupun *** maka dapat ditarik suatu simpulan sebagai berikut. Tanda *  (satu) digunakan oleh pengarang untuk menyajikan cerita-cerita sisipan yang panjang dan hubungan materialnya dengan materi inti sudah terasa longgar. Namun demikian, pembaca tetap merasakan ada ikatan dengan cerita inti.  

Di samping menggunakan *, pengarang juga menggunakan*** untuk melakukan peralihan sudut pandang atau teknik bercerita, dari teknik cerita orang ketiga yang digunakan untuk seluruh trilogi, pada bagian tertentu, ketika pengarang menghadirkan tokoh Rasus secara intim, mendalam, dan lebih batiniah. Maka pengarang mengubah teknik cerita orang ketiga menjadi teknik cerita aku (orang pertama).  

Cerita yang dimulai dengan *** adalah sudut pandang Rasus. Tokoh ini  dihadirkan secara khusus melalui struktur naratif yang ditandai dengan bintang ***. Perlu diberi catatan kecil bahwa terjadi kekeliruan atau ketidakkonsistenan dalam penggunaan *** karena pada Jantera Bianglala  tanda  * (satu)  sama fungsinya dengan*** (tiga).  Seharusnya pada bagian cerita tersebut dimulai dengan ***. Padahal di sini yang bercerita adalah Rasus.

Ketika masih kecil aku sering keluar dari Dukuh Paruk malam hari bersama teman-teman untuk melihat pagelaran wayang kulit.  Wayang kulit itu. Dunia kecil berbumi batang pisang bermatahari lampu blencong telah berjasa besar meletakkan dasar-dasar wawasan pada diriku tentang kehidupan ini. Para dalang telah menanamkan pada diriku yang masih anak-anak nilai-nilai dasar yang waktu itu ku yakini sebagai kebenaran sejati [….] (Jantera Bianglala, hal. 205)

Struktur naratif memang telah menjadi suatu kajian ilmiah dalam berbagai studi teks sastra. demikian pula halnya dalam film, music, lukisan,, arsitektur, dan desain.  Struktur naratif tidak hanya identik dengan sastra.  Struktur naratif terkait dengan susunan elemen-elemen pembangun karya seni.  Dalam teori teks struktur naratif adalah bangunan sebuah teks. Studi terhadap struktur naratif novel kurang berkembang karena dianggap kering ketimbang studi sastra secara ekstrinsik. Jangan lupa bahwa struktur naratif sebagai kajian kritik atau studi ilmiah telah cukup lama berkembang dan telah menghasilkan satu genre cerita. Hal ini tampak pada cerita berbingkai.

Istilah cerita berbingkai lahir dari sumbangan kajian struktur naratif.  Kajian-kajian tentang morfologi cerita yang berkembang di Rusia itu juga sumbangan kajian struktur naratif. Bahwa dongeng-dongeng Rusia dibangun oleh struktur naratif yang tetap. Apapun judulnya, sebuah dongeng selalu disusun dalam pola tertentu atau dalam morfologi tertentu. Teori teks memang lebih menegaskan bahwa struktur naratif teks adalah pilihan hadirnya sebuah teks dan menjembatani kepentingan penulis dan pembaca. [T]

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Membaca Ulang “Ronggeng Dukuh Paruk, Catatan Buat Emak”, Pergulatan Batin Rasus Dalam Menemukan Ibunya
Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival
Tulisan Ilmiah dan Esai
Gagal Menulis Esai
Tags: Ahmad ToharinovelNovel Ronggeng Dukuh Paruksastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Obrolan Serombotan: “Sirna atau Bertahan”

Next Post

Atmakusumah Astraatmadja dan Jurnalisme Berkualitas

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Atmakusumah Astraatmadja dan Jurnalisme Berkualitas

Atmakusumah Astraatmadja dan Jurnalisme Berkualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co