2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gagal Menulis Esai

I Wayan Artika by I Wayan Artika
December 20, 2022
in Esai, Pilihan Editor
Gagal Menulis Esai

Tradisi menulis di universitas masih terbelenggu oleh dominasi besar teks ilmiah. Ragam tulisan personal, yang subjektif, dan emosional nyaris tidak dikenal. Bacaan mahasiswa seperti buku ajar, diktat, skripsi, tesis, laporan penelitian, atau jurnal, menjadi satu-satunya ekosistem teks. Tulisan-tulisan emosional, interpretatife, puitis, kaya metafora seperti surat pendek Einstein (1938), dan imajinatif yang sering “liar” hampir jadi barang haram.

Namun demikian, di samping kompetisi dan klinik menulis ilmiah yang berupa makalah atau laporan penelitian dengan turunannya berupa artikel ilmiah untuk publikasi jurnal; masih sering muncul lomba menulis esai (artikel populer dan personal). Biasanya jumlah peserta mencapai ratusan. Kampus-kampus melalui organisasi mahasiswa sering menyelenggarakan kompetisi esai tingkat nasional.

Pengalaman sebagai juri lomba esai mahasiswa, menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Panitia penyelenggara tidak memahami esensi, genre, dan format esai. Bagi mereka esai adalah karya tulis berupa artikel ilmiah yang strukturnya baku, beku, dan kaku, sebagaimana artikel-artikel di jurnal. Dalam brosur yang salah konsep itu atau pengumuman lomba tertera aturan struktur karya tulis seperti judul, abstrak (Indonesia, Inggris), latar belakang, landasan teori, metode, hasil dan pembahasan, simpulan dan saran, dan daftar pustaka yang diacu atau digunakan.

Padahal pada praktiknya yang benar, struktur ini tidak dikenal. Lihat saja program NHK “At Home With Venetia in Kyoto”. Venitia adalah wanita Inggris yang jatuh cinta mati kepada budaya Jepang, menikah dengan pria setempat, bermukim di rumah tradisional yang menyatu alam Desa Ohara. Dalam program ini, Venetia dihadirkan dalam salah satu segmen “esai”. Pemirsa menikmati keindahan esainya yang dinarasikan oleh Venetia sendiri, misalnya ketika ia berada di kebun dan menulis tentang sekuntum bunga yang mekar indah.

Panitia pun mendapat kiriman karya tulis “esai” peserta yang sama sekali bukan esai tetapi karya ilmiah jurnal. Persoalan kedua yang dihadapi oleh lomba esai mahasiswa adalah menyangkut juri. Juri dipilih atau diundang adalah para dosen yang sudah barang tentu pada umumnya mereka terlalu terbiasa dengan ragam tulisan ilmiah jurnal. Sementara itu, para dosen juri lomba bukanlah penulis esai atau pasti juga sangat jarang membaca esai namun sudah terbiasa hidup dan berkembang tumbuh dalam tradisi jurnal. Keadaan ini tidak menghalangi mereka menerima undangan untuk menjadi juri. Maka lomba esai tinggal nama. Keadaan ini menunjukkan terjadinya salah konsep mengenai esai.

Para esais adalah penulis yang kesehariannya menulis dan mereka bukanlah dosen pengajar peneliti atau pengabdi. Namun memang ada sedikit saja dosen yang sangat hebat menulis esai. Tulisan-tulisan dosen esesis ini memang berbeda jauh dengan tulisan yang mereka susun untuk seminar atau jurnal. Bagi dosen-esais ini, sangat jauh beda roh tulisan artikel jurnal dengan esai itu sendiri. Dirinya dapat membedakannya dengan jelas.

Karena yang menjadi juri lomba esai dengan karya tulis yang dinilai adalah artikel ilmiah jurnal yang kaku dan formal atau telah dibakukan dalam suatu format struktur, adalah para dosen; maka yang mereka nilai sama sekali bukan esai tetapi jurnal ilmiah. Keadaan ini lazim terjadi. Lomba esai tetapi sejatinya lomba artikel jurnal ilmiah dan formal.

Esai adalah karangan bebas, personal dari segi struktur, gaya bahasa, sudut pandang. Esai tidak memiliki patokan apa-apa atau syarat dan ketentuan. Esai adalah kemerdekaan berekspresi dan bernalar mengenai apa saja (lihat esai-esai Vanetia). Aspek personalitas atau kebebasan adalah hal yang sangat mendasar dalam esai. Tidak ada kriteria baku untuk menilai sebuah esai. Esai yang bagus akan menarik setiap pembaca ke dalam ruang imajinasi, nalar, narasi, dan emosional penulisnya.

Yang terdepan dalam esai adalah ekspresi atau narasi yang kuat, tajam, dan menarik atau bahkan puitis. Informasi dalam esai atau hal apa yang ditulis atau hendak diungkap oleh si penulis; tidak terlalu penting. Yang terdepan adalah daya tarik tulisan sehingga pembaca masuk jauh ke dalam ruang-ruang tulisan yang sedang dibacanya. Karena kuatnya daya tarik, maka esai ada di antara puisi dan novel. Walaupun esai ditolah setengahnya sebagai karya sastra namun esai adalah karya sastra yang tidak hanya ditulis oleh sastrawan. Esai tidak menjual informasi kognitif tetapi esai adalah teks cahaya yang menerangi pembaca. Menulis esai adalah menyalakan lilin.

Data atau fakta dalam esai tidak harus tersurat tetapi hanya sekadar pijakan atau wawasan penulis yang memayunginya. Data, fakta, atau fenomena itu oleh esais diperlakukan sesuai dengan pandangan, imajinasi, atau paradigma yang dianutnya. Di luar esai data mendikte penulis. Dalam esai data tunduk pada penulis. Jika dalam karya ilmiah, teori yang dijadikan paradigma pemecahan masalah sering berubah sesuai dengan persoalan yang dipilih; maka dalam esai, seorang esais menggunakan paradigma atau teori sebagai ideologi kepenulisan yang konsisten. Hal ini memberi ciri personal seorang penulis esai sebagaimana dikenali secara ajeg.

Berpijak pada pengertian esai yang sudah sangat jelas; bisa dikatakan bertolak belakang dengan tradisi teks ilmiah formal di kampus; mahasiswa memang belum mengenal ekosistem esai. Karena itulah mereka gagal menulis esai. Sementara itu, esai jarang sekali dikenalkan kepada mahasiswa. Karena itu, jika terjadi lomba esai maka dapat dimaklumi jika karya tulis yang sampai di meja dewan juri adalah artikel ilmiah formal baku untuk jurnal. Juri yang setali tiga uang dengan panitia dan peserta; karangan yang masuk dibaca dan dinilai lalu diumumkan sebagai karya esai. Padahal yang terjadi adalah karya ilmiah artikel jurnal.

Energi menulis mahasiswa memang sangat mengagumkan. Setiap ada undangan lomba,  mereka tidak peduli dengan esensi teks atau genre tulisan yang dilombakan; pun ragam tulisan artikel ilimah yang mereka tahu dijadikan format untuk menampung gagasan. Di dalam karangan-karangan ilmiah mereka, para mahasiswa sangat gemar dan getol mengutip data, fakta, fenomena, kebijakan, dll. yang sedang hangat dan mengambang dalam pemahaman umum masyarakat.  

Tapi sayang data, fakta, fenomena, hukum dan undang-undang, dan kebijakan itu hanya mampu mereka deskripsikan dalam tulisan artikel mereka. Karangan ilmiah pun dipenuhi dengan kutipan mutakhir dengan deskripsi seadanya. Tampak nyata sikap epigon mereka yang sangat fasih mengutip. Mereka sepertinya sangat puas melakukannya. Pun artikel ini penuh dengan kutipan-kutipan yang sangat kuat. Memang ada kalanya ditemukan deskripsi namun terasa sangat minim, dangkal, dan normatif. Berhadapan dengan perlakukan data, fakta, kebijakan, dan fenomena seperti itu, mahasiswa, baru sampai pada tahap melakukan deskripsi-deskripsi formal.

Mereka gagal melakukan pembahasan fakta, data, fenomena, atau kebijakan yang mereka kutip. Mereka tidak sanggup melakukan dialog. Mereka tidak pernah sampai kepada kontemplasi atas data, fakta, fenomena, dan berbagai kebijakan sosial. Di atas semua kekagalan ini, mahasiswa menangkup kegagalan terbesarnya, yakni dalam berimajinasi dan berinterpretasi.

Karena itulah, segala fakta, data, fenomena, kebijakan telanjur diterima sebagai kebenaran dan ini hitam putih. Mereka gagal mengembangkan paradigma filosofis yang penuh skeptisisme untuk mempertanyakan ulang “kebenaran” dan mereposisikan apapun itu data, fakta, fenomena, dan kebijakan pada garis ulang alik. [T]

[][][]

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Geo, Cokelat dan Puisi
Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe
[Esai Teori Sastra] “New Historicism”: Dari Konteks ke Ko-Teks
Tags: artikel ilmiahesaikampusLiterasimahasiswaPerguruan Tinggisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Desa Gobleg ke Taman Yowana Asri Singaraja, Permainan Gangsing Terus Berputar

Next Post

Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co