14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gagal Menulis Esai

I Wayan Artika by I Wayan Artika
December 20, 2022
in Esai, Pilihan Editor
Gagal Menulis Esai

Tradisi menulis di universitas masih terbelenggu oleh dominasi besar teks ilmiah. Ragam tulisan personal, yang subjektif, dan emosional nyaris tidak dikenal. Bacaan mahasiswa seperti buku ajar, diktat, skripsi, tesis, laporan penelitian, atau jurnal, menjadi satu-satunya ekosistem teks. Tulisan-tulisan emosional, interpretatife, puitis, kaya metafora seperti surat pendek Einstein (1938), dan imajinatif yang sering “liar” hampir jadi barang haram.

Namun demikian, di samping kompetisi dan klinik menulis ilmiah yang berupa makalah atau laporan penelitian dengan turunannya berupa artikel ilmiah untuk publikasi jurnal; masih sering muncul lomba menulis esai (artikel populer dan personal). Biasanya jumlah peserta mencapai ratusan. Kampus-kampus melalui organisasi mahasiswa sering menyelenggarakan kompetisi esai tingkat nasional.

Pengalaman sebagai juri lomba esai mahasiswa, menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Panitia penyelenggara tidak memahami esensi, genre, dan format esai. Bagi mereka esai adalah karya tulis berupa artikel ilmiah yang strukturnya baku, beku, dan kaku, sebagaimana artikel-artikel di jurnal. Dalam brosur yang salah konsep itu atau pengumuman lomba tertera aturan struktur karya tulis seperti judul, abstrak (Indonesia, Inggris), latar belakang, landasan teori, metode, hasil dan pembahasan, simpulan dan saran, dan daftar pustaka yang diacu atau digunakan.

Padahal pada praktiknya yang benar, struktur ini tidak dikenal. Lihat saja program NHK “At Home With Venetia in Kyoto”. Venitia adalah wanita Inggris yang jatuh cinta mati kepada budaya Jepang, menikah dengan pria setempat, bermukim di rumah tradisional yang menyatu alam Desa Ohara. Dalam program ini, Venetia dihadirkan dalam salah satu segmen “esai”. Pemirsa menikmati keindahan esainya yang dinarasikan oleh Venetia sendiri, misalnya ketika ia berada di kebun dan menulis tentang sekuntum bunga yang mekar indah.

Panitia pun mendapat kiriman karya tulis “esai” peserta yang sama sekali bukan esai tetapi karya ilmiah jurnal. Persoalan kedua yang dihadapi oleh lomba esai mahasiswa adalah menyangkut juri. Juri dipilih atau diundang adalah para dosen yang sudah barang tentu pada umumnya mereka terlalu terbiasa dengan ragam tulisan ilmiah jurnal. Sementara itu, para dosen juri lomba bukanlah penulis esai atau pasti juga sangat jarang membaca esai namun sudah terbiasa hidup dan berkembang tumbuh dalam tradisi jurnal. Keadaan ini tidak menghalangi mereka menerima undangan untuk menjadi juri. Maka lomba esai tinggal nama. Keadaan ini menunjukkan terjadinya salah konsep mengenai esai.

Para esais adalah penulis yang kesehariannya menulis dan mereka bukanlah dosen pengajar peneliti atau pengabdi. Namun memang ada sedikit saja dosen yang sangat hebat menulis esai. Tulisan-tulisan dosen esesis ini memang berbeda jauh dengan tulisan yang mereka susun untuk seminar atau jurnal. Bagi dosen-esais ini, sangat jauh beda roh tulisan artikel jurnal dengan esai itu sendiri. Dirinya dapat membedakannya dengan jelas.

Karena yang menjadi juri lomba esai dengan karya tulis yang dinilai adalah artikel ilmiah jurnal yang kaku dan formal atau telah dibakukan dalam suatu format struktur, adalah para dosen; maka yang mereka nilai sama sekali bukan esai tetapi jurnal ilmiah. Keadaan ini lazim terjadi. Lomba esai tetapi sejatinya lomba artikel jurnal ilmiah dan formal.

Esai adalah karangan bebas, personal dari segi struktur, gaya bahasa, sudut pandang. Esai tidak memiliki patokan apa-apa atau syarat dan ketentuan. Esai adalah kemerdekaan berekspresi dan bernalar mengenai apa saja (lihat esai-esai Vanetia). Aspek personalitas atau kebebasan adalah hal yang sangat mendasar dalam esai. Tidak ada kriteria baku untuk menilai sebuah esai. Esai yang bagus akan menarik setiap pembaca ke dalam ruang imajinasi, nalar, narasi, dan emosional penulisnya.

Yang terdepan dalam esai adalah ekspresi atau narasi yang kuat, tajam, dan menarik atau bahkan puitis. Informasi dalam esai atau hal apa yang ditulis atau hendak diungkap oleh si penulis; tidak terlalu penting. Yang terdepan adalah daya tarik tulisan sehingga pembaca masuk jauh ke dalam ruang-ruang tulisan yang sedang dibacanya. Karena kuatnya daya tarik, maka esai ada di antara puisi dan novel. Walaupun esai ditolah setengahnya sebagai karya sastra namun esai adalah karya sastra yang tidak hanya ditulis oleh sastrawan. Esai tidak menjual informasi kognitif tetapi esai adalah teks cahaya yang menerangi pembaca. Menulis esai adalah menyalakan lilin.

Data atau fakta dalam esai tidak harus tersurat tetapi hanya sekadar pijakan atau wawasan penulis yang memayunginya. Data, fakta, atau fenomena itu oleh esais diperlakukan sesuai dengan pandangan, imajinasi, atau paradigma yang dianutnya. Di luar esai data mendikte penulis. Dalam esai data tunduk pada penulis. Jika dalam karya ilmiah, teori yang dijadikan paradigma pemecahan masalah sering berubah sesuai dengan persoalan yang dipilih; maka dalam esai, seorang esais menggunakan paradigma atau teori sebagai ideologi kepenulisan yang konsisten. Hal ini memberi ciri personal seorang penulis esai sebagaimana dikenali secara ajeg.

Berpijak pada pengertian esai yang sudah sangat jelas; bisa dikatakan bertolak belakang dengan tradisi teks ilmiah formal di kampus; mahasiswa memang belum mengenal ekosistem esai. Karena itulah mereka gagal menulis esai. Sementara itu, esai jarang sekali dikenalkan kepada mahasiswa. Karena itu, jika terjadi lomba esai maka dapat dimaklumi jika karya tulis yang sampai di meja dewan juri adalah artikel ilmiah formal baku untuk jurnal. Juri yang setali tiga uang dengan panitia dan peserta; karangan yang masuk dibaca dan dinilai lalu diumumkan sebagai karya esai. Padahal yang terjadi adalah karya ilmiah artikel jurnal.

Energi menulis mahasiswa memang sangat mengagumkan. Setiap ada undangan lomba,  mereka tidak peduli dengan esensi teks atau genre tulisan yang dilombakan; pun ragam tulisan artikel ilimah yang mereka tahu dijadikan format untuk menampung gagasan. Di dalam karangan-karangan ilmiah mereka, para mahasiswa sangat gemar dan getol mengutip data, fakta, fenomena, kebijakan, dll. yang sedang hangat dan mengambang dalam pemahaman umum masyarakat.  

Tapi sayang data, fakta, fenomena, hukum dan undang-undang, dan kebijakan itu hanya mampu mereka deskripsikan dalam tulisan artikel mereka. Karangan ilmiah pun dipenuhi dengan kutipan mutakhir dengan deskripsi seadanya. Tampak nyata sikap epigon mereka yang sangat fasih mengutip. Mereka sepertinya sangat puas melakukannya. Pun artikel ini penuh dengan kutipan-kutipan yang sangat kuat. Memang ada kalanya ditemukan deskripsi namun terasa sangat minim, dangkal, dan normatif. Berhadapan dengan perlakukan data, fakta, kebijakan, dan fenomena seperti itu, mahasiswa, baru sampai pada tahap melakukan deskripsi-deskripsi formal.

Mereka gagal melakukan pembahasan fakta, data, fenomena, atau kebijakan yang mereka kutip. Mereka tidak sanggup melakukan dialog. Mereka tidak pernah sampai kepada kontemplasi atas data, fakta, fenomena, dan berbagai kebijakan sosial. Di atas semua kekagalan ini, mahasiswa menangkup kegagalan terbesarnya, yakni dalam berimajinasi dan berinterpretasi.

Karena itulah, segala fakta, data, fenomena, kebijakan telanjur diterima sebagai kebenaran dan ini hitam putih. Mereka gagal mengembangkan paradigma filosofis yang penuh skeptisisme untuk mempertanyakan ulang “kebenaran” dan mereposisikan apapun itu data, fakta, fenomena, dan kebijakan pada garis ulang alik. [T]

[][][]

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Geo, Cokelat dan Puisi
Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe
[Esai Teori Sastra] “New Historicism”: Dari Konteks ke Ko-Teks
Tags: artikel ilmiahesaikampusLiterasimahasiswaPerguruan Tinggisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Desa Gobleg ke Taman Yowana Asri Singaraja, Permainan Gangsing Terus Berputar

Next Post

Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co