14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gagal Menulis Esai

I Wayan Artika by I Wayan Artika
December 20, 2022
in Esai, Pilihan Editor
Gagal Menulis Esai

Tradisi menulis di universitas masih terbelenggu oleh dominasi besar teks ilmiah. Ragam tulisan personal, yang subjektif, dan emosional nyaris tidak dikenal. Bacaan mahasiswa seperti buku ajar, diktat, skripsi, tesis, laporan penelitian, atau jurnal, menjadi satu-satunya ekosistem teks. Tulisan-tulisan emosional, interpretatife, puitis, kaya metafora seperti surat pendek Einstein (1938), dan imajinatif yang sering “liar” hampir jadi barang haram.

Namun demikian, di samping kompetisi dan klinik menulis ilmiah yang berupa makalah atau laporan penelitian dengan turunannya berupa artikel ilmiah untuk publikasi jurnal; masih sering muncul lomba menulis esai (artikel populer dan personal). Biasanya jumlah peserta mencapai ratusan. Kampus-kampus melalui organisasi mahasiswa sering menyelenggarakan kompetisi esai tingkat nasional.

Pengalaman sebagai juri lomba esai mahasiswa, menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Panitia penyelenggara tidak memahami esensi, genre, dan format esai. Bagi mereka esai adalah karya tulis berupa artikel ilmiah yang strukturnya baku, beku, dan kaku, sebagaimana artikel-artikel di jurnal. Dalam brosur yang salah konsep itu atau pengumuman lomba tertera aturan struktur karya tulis seperti judul, abstrak (Indonesia, Inggris), latar belakang, landasan teori, metode, hasil dan pembahasan, simpulan dan saran, dan daftar pustaka yang diacu atau digunakan.

Padahal pada praktiknya yang benar, struktur ini tidak dikenal. Lihat saja program NHK “At Home With Venetia in Kyoto”. Venitia adalah wanita Inggris yang jatuh cinta mati kepada budaya Jepang, menikah dengan pria setempat, bermukim di rumah tradisional yang menyatu alam Desa Ohara. Dalam program ini, Venetia dihadirkan dalam salah satu segmen “esai”. Pemirsa menikmati keindahan esainya yang dinarasikan oleh Venetia sendiri, misalnya ketika ia berada di kebun dan menulis tentang sekuntum bunga yang mekar indah.

Panitia pun mendapat kiriman karya tulis “esai” peserta yang sama sekali bukan esai tetapi karya ilmiah jurnal. Persoalan kedua yang dihadapi oleh lomba esai mahasiswa adalah menyangkut juri. Juri dipilih atau diundang adalah para dosen yang sudah barang tentu pada umumnya mereka terlalu terbiasa dengan ragam tulisan ilmiah jurnal. Sementara itu, para dosen juri lomba bukanlah penulis esai atau pasti juga sangat jarang membaca esai namun sudah terbiasa hidup dan berkembang tumbuh dalam tradisi jurnal. Keadaan ini tidak menghalangi mereka menerima undangan untuk menjadi juri. Maka lomba esai tinggal nama. Keadaan ini menunjukkan terjadinya salah konsep mengenai esai.

Para esais adalah penulis yang kesehariannya menulis dan mereka bukanlah dosen pengajar peneliti atau pengabdi. Namun memang ada sedikit saja dosen yang sangat hebat menulis esai. Tulisan-tulisan dosen esesis ini memang berbeda jauh dengan tulisan yang mereka susun untuk seminar atau jurnal. Bagi dosen-esais ini, sangat jauh beda roh tulisan artikel jurnal dengan esai itu sendiri. Dirinya dapat membedakannya dengan jelas.

Karena yang menjadi juri lomba esai dengan karya tulis yang dinilai adalah artikel ilmiah jurnal yang kaku dan formal atau telah dibakukan dalam suatu format struktur, adalah para dosen; maka yang mereka nilai sama sekali bukan esai tetapi jurnal ilmiah. Keadaan ini lazim terjadi. Lomba esai tetapi sejatinya lomba artikel jurnal ilmiah dan formal.

Esai adalah karangan bebas, personal dari segi struktur, gaya bahasa, sudut pandang. Esai tidak memiliki patokan apa-apa atau syarat dan ketentuan. Esai adalah kemerdekaan berekspresi dan bernalar mengenai apa saja (lihat esai-esai Vanetia). Aspek personalitas atau kebebasan adalah hal yang sangat mendasar dalam esai. Tidak ada kriteria baku untuk menilai sebuah esai. Esai yang bagus akan menarik setiap pembaca ke dalam ruang imajinasi, nalar, narasi, dan emosional penulisnya.

Yang terdepan dalam esai adalah ekspresi atau narasi yang kuat, tajam, dan menarik atau bahkan puitis. Informasi dalam esai atau hal apa yang ditulis atau hendak diungkap oleh si penulis; tidak terlalu penting. Yang terdepan adalah daya tarik tulisan sehingga pembaca masuk jauh ke dalam ruang-ruang tulisan yang sedang dibacanya. Karena kuatnya daya tarik, maka esai ada di antara puisi dan novel. Walaupun esai ditolah setengahnya sebagai karya sastra namun esai adalah karya sastra yang tidak hanya ditulis oleh sastrawan. Esai tidak menjual informasi kognitif tetapi esai adalah teks cahaya yang menerangi pembaca. Menulis esai adalah menyalakan lilin.

Data atau fakta dalam esai tidak harus tersurat tetapi hanya sekadar pijakan atau wawasan penulis yang memayunginya. Data, fakta, atau fenomena itu oleh esais diperlakukan sesuai dengan pandangan, imajinasi, atau paradigma yang dianutnya. Di luar esai data mendikte penulis. Dalam esai data tunduk pada penulis. Jika dalam karya ilmiah, teori yang dijadikan paradigma pemecahan masalah sering berubah sesuai dengan persoalan yang dipilih; maka dalam esai, seorang esais menggunakan paradigma atau teori sebagai ideologi kepenulisan yang konsisten. Hal ini memberi ciri personal seorang penulis esai sebagaimana dikenali secara ajeg.

Berpijak pada pengertian esai yang sudah sangat jelas; bisa dikatakan bertolak belakang dengan tradisi teks ilmiah formal di kampus; mahasiswa memang belum mengenal ekosistem esai. Karena itulah mereka gagal menulis esai. Sementara itu, esai jarang sekali dikenalkan kepada mahasiswa. Karena itu, jika terjadi lomba esai maka dapat dimaklumi jika karya tulis yang sampai di meja dewan juri adalah artikel ilmiah formal baku untuk jurnal. Juri yang setali tiga uang dengan panitia dan peserta; karangan yang masuk dibaca dan dinilai lalu diumumkan sebagai karya esai. Padahal yang terjadi adalah karya ilmiah artikel jurnal.

Energi menulis mahasiswa memang sangat mengagumkan. Setiap ada undangan lomba,  mereka tidak peduli dengan esensi teks atau genre tulisan yang dilombakan; pun ragam tulisan artikel ilimah yang mereka tahu dijadikan format untuk menampung gagasan. Di dalam karangan-karangan ilmiah mereka, para mahasiswa sangat gemar dan getol mengutip data, fakta, fenomena, kebijakan, dll. yang sedang hangat dan mengambang dalam pemahaman umum masyarakat.  

Tapi sayang data, fakta, fenomena, hukum dan undang-undang, dan kebijakan itu hanya mampu mereka deskripsikan dalam tulisan artikel mereka. Karangan ilmiah pun dipenuhi dengan kutipan mutakhir dengan deskripsi seadanya. Tampak nyata sikap epigon mereka yang sangat fasih mengutip. Mereka sepertinya sangat puas melakukannya. Pun artikel ini penuh dengan kutipan-kutipan yang sangat kuat. Memang ada kalanya ditemukan deskripsi namun terasa sangat minim, dangkal, dan normatif. Berhadapan dengan perlakukan data, fakta, kebijakan, dan fenomena seperti itu, mahasiswa, baru sampai pada tahap melakukan deskripsi-deskripsi formal.

Mereka gagal melakukan pembahasan fakta, data, fenomena, atau kebijakan yang mereka kutip. Mereka tidak sanggup melakukan dialog. Mereka tidak pernah sampai kepada kontemplasi atas data, fakta, fenomena, dan berbagai kebijakan sosial. Di atas semua kekagalan ini, mahasiswa menangkup kegagalan terbesarnya, yakni dalam berimajinasi dan berinterpretasi.

Karena itulah, segala fakta, data, fenomena, kebijakan telanjur diterima sebagai kebenaran dan ini hitam putih. Mereka gagal mengembangkan paradigma filosofis yang penuh skeptisisme untuk mempertanyakan ulang “kebenaran” dan mereposisikan apapun itu data, fakta, fenomena, dan kebijakan pada garis ulang alik. [T]

[][][]

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Geo, Cokelat dan Puisi
Literasi Mahasiswa dan Ideologi Wirausaha: Meretas Jalan dari Ontologi ke Aksiologi, Ketika Teori dan Teorema Menjadi Prototipe
[Esai Teori Sastra] “New Historicism”: Dari Konteks ke Ko-Teks
Tags: artikel ilmiahesaikampusLiterasimahasiswaPerguruan Tinggisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Desa Gobleg ke Taman Yowana Asri Singaraja, Permainan Gangsing Terus Berputar

Next Post

Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co