2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geo, Cokelat dan Puisi

I Wayan Artika by I Wayan Artika
November 25, 2022
in Esai
Geo, Cokelat dan Puisi

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Hari ini, 25 November, adalah momen bahagia para guru. Sebenarnya peringatan PGRI, organisasi guru tertua dan terbesar di Indonesia. Organisasi ini lahir untuk menjalankan amanat UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sejak media sosial semarak, perayaan Hari Guru lebih beragam. Tak cuma upacara, apel di halaman sekolah, sepotong ode “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang mendayu; tetapi dari siswa datang persembahan buket bunga segar, beberapa potongan cokelat, kue ulang tahun, dan puisi.

I Putu Gede Geo Anugerah adalah salah seorang dari jutaan siswa di Indonesia yang menyiapkan tiga potong silver queen dan ia merangkai kata jadi persembahan kepada gurunya, “Puisi untuk Bu Sukma”.

Pada hari ini, secara khusus Geo mengekspresikan rasa hormat kepada gurunya. Lantas, media sosial pasti luber oleh perayaan dan ucapan “tribute to guru”. Wajah-wajah jemawa memenuhi layar HP. Di sana ada kebahagiaan yang mendalam dan juga ruang bagi para guru untuk merenung.

Geo tidak tahu, apakah guru-gurunya sayang pada dirinya? Atau mereka mengajar karena tugas dan honor atau gaji dari yayasan sekolah.

Tapi Geo tahu, salah seorang gurunya galak. Geo sering mengalami kalau gurunya bicara terlalu cepat. Gurunya yang satu ini tidak pernah peduli. Ia mengajar dengan bahasa orang dewasa. Dikiranya Geo sebaya diri gurunya.

Padahal Geo masih butuh dongeng. Tapi tak banyak yang Geo bisa lakukan. Guru ini rupanya berprinsip “The show mast be go on”. Materi habis lebih penting ketimbang Geo paham dan bisa sedikit bicara dalam pelajaran bahasa Inggris.

Begitupun guru lain di sekolahnya, yang mengajar bahasa Bali. Geo dibuat bingung. Kok belajar bahasa Bali bagi Geo jadi pelajaran bahasa asing. Geo diceramahi dengan teori-teori linguistik. Geo sebenarnya ingin dalam pelajaran bahasa Bali bisa berbahasa Bali.

Geo ingin dongeng-dongeng indah yang dituturkan Ni Diah Tantri dalam Canda Pinggala  atau Tanri Kamndaka. Bagi Geo, pelajaran bahasa Bali ini aneh. Guru bahasa Balinya tidak memberinya satua, permainan rakyat, atau gending rare. Sebaliknya Geo jadi bingung, kok diminta menghafal bahasa kasar dan bahasa alus.

Tapi di kelas gurunya hanya cermah teori bahasa, misalnya tentang berapa jumlah konsonan dan vokal dalam sistem abjad atau alfabet Bali. Gurunya juga berteori mengenai jenis-jenis kata. Tapi Geo tak pernah dilatih untuk menggunakan kata-kata itu. Geo juga tidak pernah dapat pengalaman yang penuh petualangan betapa asiknya metode nulis aksara Bali bagi pemula. Bagi Geo, semuanya formal!

Namun demikian, pada Hari Guru ini, I Putu Gede Geo Anugerah, harus melupakan pengalaman buruknya jadi siswa dalam pelajaran. Geo harus tersenyum dan mempersembahkan rasa hormat terbesarnya kepada semua gurunya di sekolah. Tanpa kecuali; termasuk juga guru agamanya dan guru-gurunya yang galak atau biacara bahasa Inggris yang sulit diikutinya.

Tentu masih ada cerita lain dalam pelajaran agama.

Dalam pelajaran agama, Geo dijejali dengan hafalan filsafat Hindu dan nama dewa-dewa yang diimpor. Epos India yang diajarkan di kelas sama sekali tidak menggunakan bahasa dan dunia anak-anak SD. Epos mestinya dicerna dengan riang dan menarik dalam aneka rupa cerita-cerita bikinan guru agama. Eh, malah jadi teori sastra. Geo harus menyebutkan sifat-sifat buruk Rahwana, misalnya.

Atau pada hari lain, Geo harus menyebutkan silsialah keluarga Rama Dewa. Sementara itu di rumah, Geo menikmati film Herry Potter atau YouTube dongeng-dongeng Nusantara dan Dunia. Terkadang baca buku puisi di perpustakaan bapaknya. Di sini ia tak perlu menghafal dan memojokkan tokoh tokoh cerita mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi hitam dan putih! Belajar sastra dalam pelajaran agama bagi Geo hanyalah teori dan hafalan. Tapi Geo tak dapat tahu, mengapa itu terjadi.

Dalam pelajaran matematika, Geo juga sakit hati. Tapi Geo cuek. Tidak memasalahkan perasaan ini. Geo tidak tahu, untuk apa belajar matematika. Gurunya tidak pernah menjelaskan aspek aksiologisnya. Geo juga tidak mendapat bimbingan dari gurunya.

Pelajaran-pelajaran yang diterima Geo sama sekali tak memberi dirinya kemerdekaan belajar. Guru masih jadi pusat. Tapi Geo tak tahu kalau guru-gurunya adalah bemper baja perubahan dan inovasi pendidikan. Namun apapun itu, Geo hanya harus mempersembahkan dua potong silver queen-nya kepada guru-guru di sekolahnya hari ini. Mereka terlalu jemawa untuk bahagia dan merasa terhormat. Tapi, bagi Geo mungkin, masih ada banyak hal yang diabaikan. Hal-hal kecil, tapi sarat makna dan penting bagi Geo!

Geo tetap saja menerima gaya mengajar dengan pendekatan berpusat pada guru. Ia belum sepenuhnya merdeka karena masih menjadi objek. Guru-gurunya tetap sibuk pada perkara instruksional. Tapi Geo tak paham karena ia siswa belaka. Guru-gurunya mengira bahwa inovasi pembelajaran hanya soal metode. Sejatinya tidak. Inovasi menyangkut banyak hal dan harusnya holistik bukan parsial.

Lantas apa yang bisa disumbangkan atau dibentuk oleh guru-guru; ketika Geo masih harus ikut les di kelompok-kelompok privat yang diselenggarakan oleh gurunya sendiri? Geo masih harus bikin PR di rumah. Kok sepertinya guru-guru Geo hanya bisa kasi tugas tanpa harus membimbing agar dapat melakukan sesuatu sendiri.

Geo sebenarnya ingin sekali minta bimbingan khusus di kelas. Tapi guru-gurunya tak pernah ada waktu. Yang jadi target hanya materi cepat habis. Ini target guru! Tapi penguasaan esensial Geo, bisa dipastikan diabaikan.

Geo memang menikmati pendidikan yang tidak mengasikkan. Namun di rumah ia melakukan banyak hal untuk pengembangan dirinya sesuai dengan dunia anak-anaknya. Ia melukis di kanvas dengan cat poster. Ia menggunakan arang sisa bakar ikan untuk menggabar “grafity” di tembok kamar mandinya.

Ia membeli aneka ikan cupang dan “beternak” dengan mengikuti video-video pemijahan di YouTube. Geo memelihara ibu anjing (Lisa)  dan seekor anaknya (Niko). Geo juga pelihara ayam. Tidak lupa Geo menikmati tiktok atau anime Jepang. Sampai-sampai membeli kostumnya. Di samping itu, sekali waktu juga diajak bapaknya ke kebun kopinya di kaki Gunung Batukaru. Ia menemukan beberapa jenis jamur liar atau sehelai bulu yang lepas dari sayap ketengkek atau tengkek (king fisher atau raja udang), yang berwarna biru toska.

Tentu pengalaman di rumah beda jurngkir balik dengan di sekolah. Setiap pagi tasnya penuh buku harus digendong naik tangga sekolahnya di lantai dua. Kenapa tidak ada rak di sekolah dan siswa aman menyimpan barang-barangnya di kelas?

Geo datang selalu pagi ketika petugas sekolah dan apalagi guru belum tiba. Tak sekalipun Geo disambut dan disapa gurunya. Ketika guru dan petugas sekolah tahu, anak-anak datang sangat pagi, mestinya ada ikhtiar baik sekolah agar ada guru yang datang jauh lebih pagi dari siswa. Tidak mendidik jua kiranya kalau hormat itu datang dari siswa atas nama pembiasaan. Hormat itu juga harus datang dari guru kepada para siswa.

Apapun itu, inilah cokelat dan selembar puisi untuk gurunya! [T]

Nasib Bangsa di Tangan Orang “Nomor Sekian” – Catatan Tercecer dari Hari Guru
Siti Noviali, Ia Muslim, Ia Guru Bahasa Bali, Ia Penulis Kritik Sastra Bali
Adi Gacon dari Mengening: Dulu Dikirim Guru SD Karena Paling Besar, Kini Raih Emas-Perak untuk Buleleng
Tags: guru SDHari GuruHari Guru NasionalPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman

Next Post

Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co