23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geo, Cokelat dan Puisi

I Wayan Artika by I Wayan Artika
November 25, 2022
in Esai
Geo, Cokelat dan Puisi

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Hari ini, 25 November, adalah momen bahagia para guru. Sebenarnya peringatan PGRI, organisasi guru tertua dan terbesar di Indonesia. Organisasi ini lahir untuk menjalankan amanat UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sejak media sosial semarak, perayaan Hari Guru lebih beragam. Tak cuma upacara, apel di halaman sekolah, sepotong ode “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang mendayu; tetapi dari siswa datang persembahan buket bunga segar, beberapa potongan cokelat, kue ulang tahun, dan puisi.

I Putu Gede Geo Anugerah adalah salah seorang dari jutaan siswa di Indonesia yang menyiapkan tiga potong silver queen dan ia merangkai kata jadi persembahan kepada gurunya, “Puisi untuk Bu Sukma”.

Pada hari ini, secara khusus Geo mengekspresikan rasa hormat kepada gurunya. Lantas, media sosial pasti luber oleh perayaan dan ucapan “tribute to guru”. Wajah-wajah jemawa memenuhi layar HP. Di sana ada kebahagiaan yang mendalam dan juga ruang bagi para guru untuk merenung.

Geo tidak tahu, apakah guru-gurunya sayang pada dirinya? Atau mereka mengajar karena tugas dan honor atau gaji dari yayasan sekolah.

Tapi Geo tahu, salah seorang gurunya galak. Geo sering mengalami kalau gurunya bicara terlalu cepat. Gurunya yang satu ini tidak pernah peduli. Ia mengajar dengan bahasa orang dewasa. Dikiranya Geo sebaya diri gurunya.

Padahal Geo masih butuh dongeng. Tapi tak banyak yang Geo bisa lakukan. Guru ini rupanya berprinsip “The show mast be go on”. Materi habis lebih penting ketimbang Geo paham dan bisa sedikit bicara dalam pelajaran bahasa Inggris.

Begitupun guru lain di sekolahnya, yang mengajar bahasa Bali. Geo dibuat bingung. Kok belajar bahasa Bali bagi Geo jadi pelajaran bahasa asing. Geo diceramahi dengan teori-teori linguistik. Geo sebenarnya ingin dalam pelajaran bahasa Bali bisa berbahasa Bali.

Geo ingin dongeng-dongeng indah yang dituturkan Ni Diah Tantri dalam Canda Pinggala  atau Tanri Kamndaka. Bagi Geo, pelajaran bahasa Bali ini aneh. Guru bahasa Balinya tidak memberinya satua, permainan rakyat, atau gending rare. Sebaliknya Geo jadi bingung, kok diminta menghafal bahasa kasar dan bahasa alus.

Tapi di kelas gurunya hanya cermah teori bahasa, misalnya tentang berapa jumlah konsonan dan vokal dalam sistem abjad atau alfabet Bali. Gurunya juga berteori mengenai jenis-jenis kata. Tapi Geo tak pernah dilatih untuk menggunakan kata-kata itu. Geo juga tidak pernah dapat pengalaman yang penuh petualangan betapa asiknya metode nulis aksara Bali bagi pemula. Bagi Geo, semuanya formal!

Namun demikian, pada Hari Guru ini, I Putu Gede Geo Anugerah, harus melupakan pengalaman buruknya jadi siswa dalam pelajaran. Geo harus tersenyum dan mempersembahkan rasa hormat terbesarnya kepada semua gurunya di sekolah. Tanpa kecuali; termasuk juga guru agamanya dan guru-gurunya yang galak atau biacara bahasa Inggris yang sulit diikutinya.

Tentu masih ada cerita lain dalam pelajaran agama.

Dalam pelajaran agama, Geo dijejali dengan hafalan filsafat Hindu dan nama dewa-dewa yang diimpor. Epos India yang diajarkan di kelas sama sekali tidak menggunakan bahasa dan dunia anak-anak SD. Epos mestinya dicerna dengan riang dan menarik dalam aneka rupa cerita-cerita bikinan guru agama. Eh, malah jadi teori sastra. Geo harus menyebutkan sifat-sifat buruk Rahwana, misalnya.

Atau pada hari lain, Geo harus menyebutkan silsialah keluarga Rama Dewa. Sementara itu di rumah, Geo menikmati film Herry Potter atau YouTube dongeng-dongeng Nusantara dan Dunia. Terkadang baca buku puisi di perpustakaan bapaknya. Di sini ia tak perlu menghafal dan memojokkan tokoh tokoh cerita mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi hitam dan putih! Belajar sastra dalam pelajaran agama bagi Geo hanyalah teori dan hafalan. Tapi Geo tak dapat tahu, mengapa itu terjadi.

Dalam pelajaran matematika, Geo juga sakit hati. Tapi Geo cuek. Tidak memasalahkan perasaan ini. Geo tidak tahu, untuk apa belajar matematika. Gurunya tidak pernah menjelaskan aspek aksiologisnya. Geo juga tidak mendapat bimbingan dari gurunya.

Pelajaran-pelajaran yang diterima Geo sama sekali tak memberi dirinya kemerdekaan belajar. Guru masih jadi pusat. Tapi Geo tak tahu kalau guru-gurunya adalah bemper baja perubahan dan inovasi pendidikan. Namun apapun itu, Geo hanya harus mempersembahkan dua potong silver queen-nya kepada guru-guru di sekolahnya hari ini. Mereka terlalu jemawa untuk bahagia dan merasa terhormat. Tapi, bagi Geo mungkin, masih ada banyak hal yang diabaikan. Hal-hal kecil, tapi sarat makna dan penting bagi Geo!

Geo tetap saja menerima gaya mengajar dengan pendekatan berpusat pada guru. Ia belum sepenuhnya merdeka karena masih menjadi objek. Guru-gurunya tetap sibuk pada perkara instruksional. Tapi Geo tak paham karena ia siswa belaka. Guru-gurunya mengira bahwa inovasi pembelajaran hanya soal metode. Sejatinya tidak. Inovasi menyangkut banyak hal dan harusnya holistik bukan parsial.

Lantas apa yang bisa disumbangkan atau dibentuk oleh guru-guru; ketika Geo masih harus ikut les di kelompok-kelompok privat yang diselenggarakan oleh gurunya sendiri? Geo masih harus bikin PR di rumah. Kok sepertinya guru-guru Geo hanya bisa kasi tugas tanpa harus membimbing agar dapat melakukan sesuatu sendiri.

Geo sebenarnya ingin sekali minta bimbingan khusus di kelas. Tapi guru-gurunya tak pernah ada waktu. Yang jadi target hanya materi cepat habis. Ini target guru! Tapi penguasaan esensial Geo, bisa dipastikan diabaikan.

Geo memang menikmati pendidikan yang tidak mengasikkan. Namun di rumah ia melakukan banyak hal untuk pengembangan dirinya sesuai dengan dunia anak-anaknya. Ia melukis di kanvas dengan cat poster. Ia menggunakan arang sisa bakar ikan untuk menggabar “grafity” di tembok kamar mandinya.

Ia membeli aneka ikan cupang dan “beternak” dengan mengikuti video-video pemijahan di YouTube. Geo memelihara ibu anjing (Lisa)  dan seekor anaknya (Niko). Geo juga pelihara ayam. Tidak lupa Geo menikmati tiktok atau anime Jepang. Sampai-sampai membeli kostumnya. Di samping itu, sekali waktu juga diajak bapaknya ke kebun kopinya di kaki Gunung Batukaru. Ia menemukan beberapa jenis jamur liar atau sehelai bulu yang lepas dari sayap ketengkek atau tengkek (king fisher atau raja udang), yang berwarna biru toska.

Tentu pengalaman di rumah beda jurngkir balik dengan di sekolah. Setiap pagi tasnya penuh buku harus digendong naik tangga sekolahnya di lantai dua. Kenapa tidak ada rak di sekolah dan siswa aman menyimpan barang-barangnya di kelas?

Geo datang selalu pagi ketika petugas sekolah dan apalagi guru belum tiba. Tak sekalipun Geo disambut dan disapa gurunya. Ketika guru dan petugas sekolah tahu, anak-anak datang sangat pagi, mestinya ada ikhtiar baik sekolah agar ada guru yang datang jauh lebih pagi dari siswa. Tidak mendidik jua kiranya kalau hormat itu datang dari siswa atas nama pembiasaan. Hormat itu juga harus datang dari guru kepada para siswa.

Apapun itu, inilah cokelat dan selembar puisi untuk gurunya! [T]

Nasib Bangsa di Tangan Orang “Nomor Sekian” – Catatan Tercecer dari Hari Guru
Siti Noviali, Ia Muslim, Ia Guru Bahasa Bali, Ia Penulis Kritik Sastra Bali
Adi Gacon dari Mengening: Dulu Dikirim Guru SD Karena Paling Besar, Kini Raih Emas-Perak untuk Buleleng
Tags: guru SDHari GuruHari Guru NasionalPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman

Next Post

Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co