13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geo, Cokelat dan Puisi

I Wayan Artika by I Wayan Artika
November 25, 2022
in Esai
Geo, Cokelat dan Puisi

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

Hari ini, 25 November, adalah momen bahagia para guru. Sebenarnya peringatan PGRI, organisasi guru tertua dan terbesar di Indonesia. Organisasi ini lahir untuk menjalankan amanat UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sejak media sosial semarak, perayaan Hari Guru lebih beragam. Tak cuma upacara, apel di halaman sekolah, sepotong ode “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang mendayu; tetapi dari siswa datang persembahan buket bunga segar, beberapa potongan cokelat, kue ulang tahun, dan puisi.

I Putu Gede Geo Anugerah adalah salah seorang dari jutaan siswa di Indonesia yang menyiapkan tiga potong silver queen dan ia merangkai kata jadi persembahan kepada gurunya, “Puisi untuk Bu Sukma”.

Pada hari ini, secara khusus Geo mengekspresikan rasa hormat kepada gurunya. Lantas, media sosial pasti luber oleh perayaan dan ucapan “tribute to guru”. Wajah-wajah jemawa memenuhi layar HP. Di sana ada kebahagiaan yang mendalam dan juga ruang bagi para guru untuk merenung.

Geo tidak tahu, apakah guru-gurunya sayang pada dirinya? Atau mereka mengajar karena tugas dan honor atau gaji dari yayasan sekolah.

Tapi Geo tahu, salah seorang gurunya galak. Geo sering mengalami kalau gurunya bicara terlalu cepat. Gurunya yang satu ini tidak pernah peduli. Ia mengajar dengan bahasa orang dewasa. Dikiranya Geo sebaya diri gurunya.

Padahal Geo masih butuh dongeng. Tapi tak banyak yang Geo bisa lakukan. Guru ini rupanya berprinsip “The show mast be go on”. Materi habis lebih penting ketimbang Geo paham dan bisa sedikit bicara dalam pelajaran bahasa Inggris.

Begitupun guru lain di sekolahnya, yang mengajar bahasa Bali. Geo dibuat bingung. Kok belajar bahasa Bali bagi Geo jadi pelajaran bahasa asing. Geo diceramahi dengan teori-teori linguistik. Geo sebenarnya ingin dalam pelajaran bahasa Bali bisa berbahasa Bali.

Geo ingin dongeng-dongeng indah yang dituturkan Ni Diah Tantri dalam Canda Pinggala  atau Tanri Kamndaka. Bagi Geo, pelajaran bahasa Bali ini aneh. Guru bahasa Balinya tidak memberinya satua, permainan rakyat, atau gending rare. Sebaliknya Geo jadi bingung, kok diminta menghafal bahasa kasar dan bahasa alus.

Tapi di kelas gurunya hanya cermah teori bahasa, misalnya tentang berapa jumlah konsonan dan vokal dalam sistem abjad atau alfabet Bali. Gurunya juga berteori mengenai jenis-jenis kata. Tapi Geo tak pernah dilatih untuk menggunakan kata-kata itu. Geo juga tidak pernah dapat pengalaman yang penuh petualangan betapa asiknya metode nulis aksara Bali bagi pemula. Bagi Geo, semuanya formal!

Namun demikian, pada Hari Guru ini, I Putu Gede Geo Anugerah, harus melupakan pengalaman buruknya jadi siswa dalam pelajaran. Geo harus tersenyum dan mempersembahkan rasa hormat terbesarnya kepada semua gurunya di sekolah. Tanpa kecuali; termasuk juga guru agamanya dan guru-gurunya yang galak atau biacara bahasa Inggris yang sulit diikutinya.

Tentu masih ada cerita lain dalam pelajaran agama.

Dalam pelajaran agama, Geo dijejali dengan hafalan filsafat Hindu dan nama dewa-dewa yang diimpor. Epos India yang diajarkan di kelas sama sekali tidak menggunakan bahasa dan dunia anak-anak SD. Epos mestinya dicerna dengan riang dan menarik dalam aneka rupa cerita-cerita bikinan guru agama. Eh, malah jadi teori sastra. Geo harus menyebutkan sifat-sifat buruk Rahwana, misalnya.

Atau pada hari lain, Geo harus menyebutkan silsialah keluarga Rama Dewa. Sementara itu di rumah, Geo menikmati film Herry Potter atau YouTube dongeng-dongeng Nusantara dan Dunia. Terkadang baca buku puisi di perpustakaan bapaknya. Di sini ia tak perlu menghafal dan memojokkan tokoh tokoh cerita mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi hitam dan putih! Belajar sastra dalam pelajaran agama bagi Geo hanyalah teori dan hafalan. Tapi Geo tak dapat tahu, mengapa itu terjadi.

Dalam pelajaran matematika, Geo juga sakit hati. Tapi Geo cuek. Tidak memasalahkan perasaan ini. Geo tidak tahu, untuk apa belajar matematika. Gurunya tidak pernah menjelaskan aspek aksiologisnya. Geo juga tidak mendapat bimbingan dari gurunya.

Pelajaran-pelajaran yang diterima Geo sama sekali tak memberi dirinya kemerdekaan belajar. Guru masih jadi pusat. Tapi Geo tak tahu kalau guru-gurunya adalah bemper baja perubahan dan inovasi pendidikan. Namun apapun itu, Geo hanya harus mempersembahkan dua potong silver queen-nya kepada guru-guru di sekolahnya hari ini. Mereka terlalu jemawa untuk bahagia dan merasa terhormat. Tapi, bagi Geo mungkin, masih ada banyak hal yang diabaikan. Hal-hal kecil, tapi sarat makna dan penting bagi Geo!

Geo tetap saja menerima gaya mengajar dengan pendekatan berpusat pada guru. Ia belum sepenuhnya merdeka karena masih menjadi objek. Guru-gurunya tetap sibuk pada perkara instruksional. Tapi Geo tak paham karena ia siswa belaka. Guru-gurunya mengira bahwa inovasi pembelajaran hanya soal metode. Sejatinya tidak. Inovasi menyangkut banyak hal dan harusnya holistik bukan parsial.

Lantas apa yang bisa disumbangkan atau dibentuk oleh guru-guru; ketika Geo masih harus ikut les di kelompok-kelompok privat yang diselenggarakan oleh gurunya sendiri? Geo masih harus bikin PR di rumah. Kok sepertinya guru-guru Geo hanya bisa kasi tugas tanpa harus membimbing agar dapat melakukan sesuatu sendiri.

Geo sebenarnya ingin sekali minta bimbingan khusus di kelas. Tapi guru-gurunya tak pernah ada waktu. Yang jadi target hanya materi cepat habis. Ini target guru! Tapi penguasaan esensial Geo, bisa dipastikan diabaikan.

Geo memang menikmati pendidikan yang tidak mengasikkan. Namun di rumah ia melakukan banyak hal untuk pengembangan dirinya sesuai dengan dunia anak-anaknya. Ia melukis di kanvas dengan cat poster. Ia menggunakan arang sisa bakar ikan untuk menggabar “grafity” di tembok kamar mandinya.

Ia membeli aneka ikan cupang dan “beternak” dengan mengikuti video-video pemijahan di YouTube. Geo memelihara ibu anjing (Lisa)  dan seekor anaknya (Niko). Geo juga pelihara ayam. Tidak lupa Geo menikmati tiktok atau anime Jepang. Sampai-sampai membeli kostumnya. Di samping itu, sekali waktu juga diajak bapaknya ke kebun kopinya di kaki Gunung Batukaru. Ia menemukan beberapa jenis jamur liar atau sehelai bulu yang lepas dari sayap ketengkek atau tengkek (king fisher atau raja udang), yang berwarna biru toska.

Tentu pengalaman di rumah beda jurngkir balik dengan di sekolah. Setiap pagi tasnya penuh buku harus digendong naik tangga sekolahnya di lantai dua. Kenapa tidak ada rak di sekolah dan siswa aman menyimpan barang-barangnya di kelas?

Geo datang selalu pagi ketika petugas sekolah dan apalagi guru belum tiba. Tak sekalipun Geo disambut dan disapa gurunya. Ketika guru dan petugas sekolah tahu, anak-anak datang sangat pagi, mestinya ada ikhtiar baik sekolah agar ada guru yang datang jauh lebih pagi dari siswa. Tidak mendidik jua kiranya kalau hormat itu datang dari siswa atas nama pembiasaan. Hormat itu juga harus datang dari guru kepada para siswa.

Apapun itu, inilah cokelat dan selembar puisi untuk gurunya! [T]

Nasib Bangsa di Tangan Orang “Nomor Sekian” – Catatan Tercecer dari Hari Guru
Siti Noviali, Ia Muslim, Ia Guru Bahasa Bali, Ia Penulis Kritik Sastra Bali
Adi Gacon dari Mengening: Dulu Dikirim Guru SD Karena Paling Besar, Kini Raih Emas-Perak untuk Buleleng
Tags: guru SDHari GuruHari Guru NasionalPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman

Next Post

Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

Cabor Yongmoodo, Buleleng Bukukan 3 Emas dari Aldin, Mei Utami dan Rama Prasetya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co