2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
November 25, 2022
in Esai
Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman

Suasana menonton sepakbola Piala Duia di TV tahun 1970-an hingga 1980-an di desa-desa di Bali | Foto: Dok pribadi dr. Ketut suantara

“Bli, coba diulas sedikit mengapa Piala Dunia kali ini tak semeriah Piala Dunia-Piala Dunia sebelumnya,“ tantang seorang sahabat di sebuah grup percakapan yang beranggotakan teman-teman dokter sesama penggila bola.

Sepertinya ini keheranan dari kita bersama, penggemar bola, khususnya penikmat Piala Dunia yang telah menyaksikan Piala Dunia selama beberapa dekade.

Bagaimana sebuah event sepak bola terbesar, empat tahun sekali, diadakan di negara yang waktunya tak terpaut jauh dengan kita di sini. Dalam waktu seminggu sebelum peluit pertama dibunyikan, masih terkesan adem ayem seperti ini.

Sepak bola adalah sebuah bisnis besar, melibatkan begitu banyak pihak. Pemain dalam satu tim, penonton yang tergabung menjadi pendukung setia. Penyelenggara, sponsor dan yang tak kalah pentingnya adalah jurnalis, yang mengabarkan kejadian penting ini ke seluruh pelosok dunia. Baik melalui tulisan maupun siaran langsung dari lokasi penyelenggaraan.

Sebelum membahas secara mendalam tentang penyebab kesepian ini, saya ingin lebih dulu mengenang kembali Piala Dunia yang telah saya lewati. Setiap Piala Dunia yang saya ikuti seakan mewakili babakan kehidupan yang saya lewati, baik secara sosial, ekonomi, kejiwaan maupun kepribadian.

Piala Dunia 1986 Mexico adalah Piala Dunia pertama yang bisa saya ingat. Umur baru 9 tahun tapi sudah ikut begadang menonton aksi Maradona bersama keluarga dan tetangga.

Partai semi final dan final lengkap saya menonton  Aksi terbaik Maradona mengantarkan Argentina menjadi juara untuk yang kedua kalinya. Yang memprihatinkan, saat itu listrik belum masuk ke desa kami di gunung. Jadi kami menonton bola lewat televisi hitam putih dengan energi dari aki yang bisa bertahan selama beberapa jam dan setelah dayanya habis harus di setrum kembali di tempat penyetruman.

Dan saat situasi kritis, lampu kontrol di TV berwarna merah pertanda strum sudah mulai habis, segera terjadi kanibalisasi. Aki sepeda motor kakak yang kebetulan pulang kampung segera dibuka untuk menyambung hidup siaran Piala Dunia itu. Benar benar heroik.

Italia 90, Piala Dunia berikutnya menyisakan banyak kenangan. Juara Eropa 2 tahun sebelumnya, Belanda, sangat difavoritkan. Langkahnya terhenti oleh Jerman di babak 16 besar, ditandai insiden ludah Frank Rijkaard kepada Rudi Voeller, striker Jerman.

Tim favorit kami, keluarga dan tetangga di Desa Dapdaputih, Buleleng, adalah juara bertahan Argentina. Dikalahkan Kamerun di partai awal, tapi tetap bisa melaju ke babak berikutnya. Brazil dan tuan rumah Italia menjadi korban perjalanan Argentina menuju bababk final.

Juara akhirnya direbut Jerman, setelah mengalahkan Argentina, dengan gol penalti Andreas Brehme. Final ditandai dengan kartu merah untuk 2 pemain Argenitina, Pedro Monzon dan Gustavao Dezoti.

Tahun 1990, listrik belum juga masuk ke desa kami. Jadi untuk bisa menikmati aksi Maradona, Gullit, Lothar Mathaeus, kami setiap malam mesti mengembara ke rumah tetangga yang punya TV sekaligus aki atau jenset sebagai sumber energinya.

Kadang karena dalam semalam bisa ada 2 laga, dari petang sampai keesokan harinya kami menginap di rumah tetangga tersebut. Saat yang bersangkutan balik ke kota, kami mesti mencari tempat lain lagi untuk menonton.

Kadang kalau dikenang rasanya tanpa merasa malu kami menggedor rumah orang untuk ikut menonton, sedangkan si empunya TV tak ikut menonton karena tak menyukai bola. Begitulah kenangan terakhir menonton bola, sebelum listrik mengaliri desa kami tercinta.

Destinasi berikutnya adalah Amerika Serikat, tahun 1994. Piala dunia pertama di Negeri Paman Sam.

Pas liburan sekolah, jadi full bisa menonton. Listrik sudah menyala 24 jam, TV sudah dibelikan Bapak, jadi kami bisa menonton sepuasnya di rumah sendiri.

Saya ingat sebelum Piala Dunia digelar, sudah menyiapkan sumber energi tambahan, susu bubuk dilengkapi  bubuk coklat Milo untuk minum setiap malam, kebiasaaan yang tetap saya lanjutkan sampai Piala Dunia hari ini.

Tak banyak yang saya ingat tentang piala dunia ini. Jagoan saya Inggris tak maju ke putaran final. Jagoan lama saya Argentina tersingkir di babak kedua. Ditandai dengan terciduknya sang mega bintang Maradona yang menggunakan obat terlarang.

Yang bisa diingat penonton mungkin tarian menimang bayi yang dilakukan pemain Brazil, Bebeto, saat berhasil mencetak gol ke gawang lawan. Piala dunia akhirnya dimenangi Brazil dengan mengalahkan Italia di final lewat adu pinalti.

Piala dunia 1998 digelar di Perancis. Saya sudah mulai kuliah. Piala Dunia berlangsung saat masih ada jadwal kuliah. Kebetulan induk semang punya TV dan memperbolehkan kami anak kost untuk nonton. Sangat menyenangkan  Piala Dunia kali ini, TV berwarna tersedia di ruang tamu kost kami, dan boleh dibuka kapan pun kami mau.

Sekali waktu saya dan teman kost menyempatkan diri nonton bareng di kantor koran Nusra di Jalan Hayam Wuruk. Yang saya ingat di tengah keramaian , rasa kantuk tak bisa ditahan. Tak ada aksi pemain yang bisa saya lihat, justru seperti orang linglung pulang ke kost menahankan kantuk.

Yang bisa diingat dari Piala Dunia kali itu, hadirnya Zinedin Zidane, yang dengan dua golnya di final membawa Perancis ke tampuk juara dengan mengalahkan Brazil yang diperkuat oleh Ronaldo.

Inggris dikalahkan Argentina di babak 16 besar. Ditandai oleh insiden dramatikal Diego Simeone yang membuat bintang muda Inggris David Beckham mendapat kartu merah. 10 orang berhati singa dan seorang anak kecil, begitu tajuk koran-koran Inggris keesokan harinya mengomentari kekalahan Inggris malam itu.

Empat tahun berikutnya, untuk pertama kali Piala Dunia mampir ke tanah Asia. Jepang dan Korea Selatan berbagi kota untuk menjadi penyelenggara Piala Dunia kali ini. Gelaran yang sukses untuk kedua tuan rumah. Untuk kedua kalinya negara Asia bisa melewati babak penyisihan.

Yang pertama terjadi saat gelaran Piala Dunia 1966 di Inggris, tim Korea Utara melaju sampai babak perempat final sebelum dihentikan Portugal yang diperkuat Eusebio. Piala Dunia kali itu Jepang sampai ke 16 besar, sedang Korsel selangkah lebih jauh, sampai ke delapan besar.

Saat Piala Dunia itu digelar saya sudah tamat kuliah dan mulai bekerja di Buleleng bagian barat. Tempat yang tak terjangkau siaran TV terrestrial selama bertahun tahun.

Jadi even Piala Dunia maupun Piala Eropa terasa jauh buat mereka yang tinggal di sana. Saya sendiri tak sempat menonton banyak laga, karena mesti bergerilya ke rumah-rumah warga yang bisa menangkap siaran bola lewat parabola, biasanya mencari siaran dari negara lain.

Jadi sering terdengar komentator dalam Bahasa aneh, kadang Cina, kadang Arab mengiringi siaran langsung tersebut. Itu Piala Dunia paling pahit menurut saya. Juara sendiri diraih Brazil yang mengalahkan Jerman di final lewat dua gol yang dicetak Ronaldo.

Mulai edisi Piala Dunia ke-18  yang diadakan di Jerman pada tahun 2006 saya mulai bisa menikmatinya secara penuh. Saya sudah berdomisili di belahan Pulau Bali sisi selatan, bertugas di wilayah Busungbiu, yang walaupun masuk Kabupaten Buleleng tetapi secara geografi berada di sisi selatan pulau Bali.

Jadi tak ada istilah siaran langsung yang diacak (dihilangkan), untuk urusan Piala Dunia. Akhir pekan pun saya lewatkan di kota Negara, yang juga tak terkendala masalah siaran langsung ini, karena semua masih menggunakan siaran terrestrial.

Jadi sepanjang stamina memungkinkan kita dapat menonton full 64 pertandingan yang semuanya disiarkan oleh stasiun televisi nasional. Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang Piala Dunia ini maupun edisi-edisi berikutnya. Karena pasti masih terbayang jelas di ingatan teman teman pecinta bola.

Satu yang pasti, hampir semua laga saya nikmati sendiri, tanpa ada yang menemani. Fitrah saya sebagai makhluk sosial secara bertahap kembali menjelma menjadi makhluk individual.

Dan akhirnya edisi terbaru Piala Dunia tahun 2022 ini, diadakan kembali di wilayah Asia. Memilih tempat jazirah Arab, negara Qatar. Untuk pertama kalinya Piala Dunia tak dilaksanakan pertengahan tahun, justru di akhir tahun, mengantisipasi cuaca panas gurun.

Pelaksanaan Piala Dunia di akhir tahun, berlangsung saat kompetisi di Liga Eropa sedang berlangsung. Praktis para pemain cuma punya waktu istirahat seminggu jelang Piala Dunia dimulai. Barangkali ini berdampak pada kebugaran para pemain yang berkompetisi di liga elite Eropa.

Dan terbukti baru satu laga saja sudah terjadi kejutan. Dua tim langganan Piala Dunia, pemegang gelar Piala Dunia. Jerman dan Argentina, takluk pada tim tim Asia. Yang secara fisiologis mungkin tubuh pemain Asia lebih terbiasa dengan iklim panas di gurun.

Terlihat begitu menariknya sisa pertandingan yang akan tersaji nanti, dan saya tak sabar untuk melewatkannya nanti.

Dan yang sangat berbeda dengan Piala Dunia edisi sebelumnya, untuk Piala Dunia kali ini kita bisa menyaksikannya di HP kita. Dengan fasilitas video on demand, kita bisa berlangganan paket untuk bisa menonton Piala Dunia dari HP kita, kapanpun di manapun kita berada sepanjang ada wifi atau paket data di HP kita.

 Bahkan laga yang tak sempat kita saksikan kemarin, hari ini bisa kita lihat cuplikan bahkan siaran lengkapnya, sesuai keinginan dan waktu senggang kita.

Jadi begitulah pengalaman menonton Piala Dunia di televisi yang saya alami dari zaman ke zaman. Ada kontradiksi yang terjadi. Secara kualitas tayangan, yang semula hitam putih, sampai berwarna, hingga sekarang kualitas HD, benar benar memanjakan mata kita,.

Tersedianya layanan video on demand, membuat kita bisa mengatur waktu menonton kita, cukup memilih laga yang melibatkan tim favorit saja. Jujur, sampai hari kelima ini, saya paling cuma menonton lengkap laga Inggris dan Argentina, serta laga lain yang ditayangkan sore dan malam.

Yang main tengah malam dan dini hari, bisa saya lihat di hp saja keesokan harinya. Dan satu satunya sisi yang mungkin buruk, kita akhirnya lebih sering nonton sendirian. Kegiatan menonton yang sebelumnya menjadi ajang kebersamaan, berkumpul dengan teman, keluarga akhirnya menjadi sebuah kegiatan privat, terutama bagi saya pribadi. Sayang sekali.

 Akhirnya dari kenangan saya ini, dapat sedikit menjawab kerisauan Ngurah, teman saya tadi, tentang sepinya Piala Dunia kali ini. Untuk menjawabnya lebih lengkap saya akan coba menuliskannya nanti. [T]

Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri
Selamat Ulang Tahun ke-40 Gianluigi Buffon, Kau Superman yang Loyal
Sihir Sepakbola dan Fanatisme Mengambang
Tags: olahragaPiala Duniasepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“PR“ Itu Tak Akan Pernah Usai Bagi Guru

Next Post

Geo, Cokelat dan Puisi

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Geo, Cokelat dan Puisi

Geo, Cokelat dan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co