23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
November 25, 2022
in Esai
Nonton Bareng Piala Dunia, Melintas Dari Zaman ke Zaman

Suasana menonton sepakbola Piala Duia di TV tahun 1970-an hingga 1980-an di desa-desa di Bali | Foto: Dok pribadi dr. Ketut suantara

“Bli, coba diulas sedikit mengapa Piala Dunia kali ini tak semeriah Piala Dunia-Piala Dunia sebelumnya,“ tantang seorang sahabat di sebuah grup percakapan yang beranggotakan teman-teman dokter sesama penggila bola.

Sepertinya ini keheranan dari kita bersama, penggemar bola, khususnya penikmat Piala Dunia yang telah menyaksikan Piala Dunia selama beberapa dekade.

Bagaimana sebuah event sepak bola terbesar, empat tahun sekali, diadakan di negara yang waktunya tak terpaut jauh dengan kita di sini. Dalam waktu seminggu sebelum peluit pertama dibunyikan, masih terkesan adem ayem seperti ini.

Sepak bola adalah sebuah bisnis besar, melibatkan begitu banyak pihak. Pemain dalam satu tim, penonton yang tergabung menjadi pendukung setia. Penyelenggara, sponsor dan yang tak kalah pentingnya adalah jurnalis, yang mengabarkan kejadian penting ini ke seluruh pelosok dunia. Baik melalui tulisan maupun siaran langsung dari lokasi penyelenggaraan.

Sebelum membahas secara mendalam tentang penyebab kesepian ini, saya ingin lebih dulu mengenang kembali Piala Dunia yang telah saya lewati. Setiap Piala Dunia yang saya ikuti seakan mewakili babakan kehidupan yang saya lewati, baik secara sosial, ekonomi, kejiwaan maupun kepribadian.

Piala Dunia 1986 Mexico adalah Piala Dunia pertama yang bisa saya ingat. Umur baru 9 tahun tapi sudah ikut begadang menonton aksi Maradona bersama keluarga dan tetangga.

Partai semi final dan final lengkap saya menonton  Aksi terbaik Maradona mengantarkan Argentina menjadi juara untuk yang kedua kalinya. Yang memprihatinkan, saat itu listrik belum masuk ke desa kami di gunung. Jadi kami menonton bola lewat televisi hitam putih dengan energi dari aki yang bisa bertahan selama beberapa jam dan setelah dayanya habis harus di setrum kembali di tempat penyetruman.

Dan saat situasi kritis, lampu kontrol di TV berwarna merah pertanda strum sudah mulai habis, segera terjadi kanibalisasi. Aki sepeda motor kakak yang kebetulan pulang kampung segera dibuka untuk menyambung hidup siaran Piala Dunia itu. Benar benar heroik.

Italia 90, Piala Dunia berikutnya menyisakan banyak kenangan. Juara Eropa 2 tahun sebelumnya, Belanda, sangat difavoritkan. Langkahnya terhenti oleh Jerman di babak 16 besar, ditandai insiden ludah Frank Rijkaard kepada Rudi Voeller, striker Jerman.

Tim favorit kami, keluarga dan tetangga di Desa Dapdaputih, Buleleng, adalah juara bertahan Argentina. Dikalahkan Kamerun di partai awal, tapi tetap bisa melaju ke babak berikutnya. Brazil dan tuan rumah Italia menjadi korban perjalanan Argentina menuju bababk final.

Juara akhirnya direbut Jerman, setelah mengalahkan Argentina, dengan gol penalti Andreas Brehme. Final ditandai dengan kartu merah untuk 2 pemain Argenitina, Pedro Monzon dan Gustavao Dezoti.

Tahun 1990, listrik belum juga masuk ke desa kami. Jadi untuk bisa menikmati aksi Maradona, Gullit, Lothar Mathaeus, kami setiap malam mesti mengembara ke rumah tetangga yang punya TV sekaligus aki atau jenset sebagai sumber energinya.

Kadang karena dalam semalam bisa ada 2 laga, dari petang sampai keesokan harinya kami menginap di rumah tetangga tersebut. Saat yang bersangkutan balik ke kota, kami mesti mencari tempat lain lagi untuk menonton.

Kadang kalau dikenang rasanya tanpa merasa malu kami menggedor rumah orang untuk ikut menonton, sedangkan si empunya TV tak ikut menonton karena tak menyukai bola. Begitulah kenangan terakhir menonton bola, sebelum listrik mengaliri desa kami tercinta.

Destinasi berikutnya adalah Amerika Serikat, tahun 1994. Piala dunia pertama di Negeri Paman Sam.

Pas liburan sekolah, jadi full bisa menonton. Listrik sudah menyala 24 jam, TV sudah dibelikan Bapak, jadi kami bisa menonton sepuasnya di rumah sendiri.

Saya ingat sebelum Piala Dunia digelar, sudah menyiapkan sumber energi tambahan, susu bubuk dilengkapi  bubuk coklat Milo untuk minum setiap malam, kebiasaaan yang tetap saya lanjutkan sampai Piala Dunia hari ini.

Tak banyak yang saya ingat tentang piala dunia ini. Jagoan saya Inggris tak maju ke putaran final. Jagoan lama saya Argentina tersingkir di babak kedua. Ditandai dengan terciduknya sang mega bintang Maradona yang menggunakan obat terlarang.

Yang bisa diingat penonton mungkin tarian menimang bayi yang dilakukan pemain Brazil, Bebeto, saat berhasil mencetak gol ke gawang lawan. Piala dunia akhirnya dimenangi Brazil dengan mengalahkan Italia di final lewat adu pinalti.

Piala dunia 1998 digelar di Perancis. Saya sudah mulai kuliah. Piala Dunia berlangsung saat masih ada jadwal kuliah. Kebetulan induk semang punya TV dan memperbolehkan kami anak kost untuk nonton. Sangat menyenangkan  Piala Dunia kali ini, TV berwarna tersedia di ruang tamu kost kami, dan boleh dibuka kapan pun kami mau.

Sekali waktu saya dan teman kost menyempatkan diri nonton bareng di kantor koran Nusra di Jalan Hayam Wuruk. Yang saya ingat di tengah keramaian , rasa kantuk tak bisa ditahan. Tak ada aksi pemain yang bisa saya lihat, justru seperti orang linglung pulang ke kost menahankan kantuk.

Yang bisa diingat dari Piala Dunia kali itu, hadirnya Zinedin Zidane, yang dengan dua golnya di final membawa Perancis ke tampuk juara dengan mengalahkan Brazil yang diperkuat oleh Ronaldo.

Inggris dikalahkan Argentina di babak 16 besar. Ditandai oleh insiden dramatikal Diego Simeone yang membuat bintang muda Inggris David Beckham mendapat kartu merah. 10 orang berhati singa dan seorang anak kecil, begitu tajuk koran-koran Inggris keesokan harinya mengomentari kekalahan Inggris malam itu.

Empat tahun berikutnya, untuk pertama kali Piala Dunia mampir ke tanah Asia. Jepang dan Korea Selatan berbagi kota untuk menjadi penyelenggara Piala Dunia kali ini. Gelaran yang sukses untuk kedua tuan rumah. Untuk kedua kalinya negara Asia bisa melewati babak penyisihan.

Yang pertama terjadi saat gelaran Piala Dunia 1966 di Inggris, tim Korea Utara melaju sampai babak perempat final sebelum dihentikan Portugal yang diperkuat Eusebio. Piala Dunia kali itu Jepang sampai ke 16 besar, sedang Korsel selangkah lebih jauh, sampai ke delapan besar.

Saat Piala Dunia itu digelar saya sudah tamat kuliah dan mulai bekerja di Buleleng bagian barat. Tempat yang tak terjangkau siaran TV terrestrial selama bertahun tahun.

Jadi even Piala Dunia maupun Piala Eropa terasa jauh buat mereka yang tinggal di sana. Saya sendiri tak sempat menonton banyak laga, karena mesti bergerilya ke rumah-rumah warga yang bisa menangkap siaran bola lewat parabola, biasanya mencari siaran dari negara lain.

Jadi sering terdengar komentator dalam Bahasa aneh, kadang Cina, kadang Arab mengiringi siaran langsung tersebut. Itu Piala Dunia paling pahit menurut saya. Juara sendiri diraih Brazil yang mengalahkan Jerman di final lewat dua gol yang dicetak Ronaldo.

Mulai edisi Piala Dunia ke-18  yang diadakan di Jerman pada tahun 2006 saya mulai bisa menikmatinya secara penuh. Saya sudah berdomisili di belahan Pulau Bali sisi selatan, bertugas di wilayah Busungbiu, yang walaupun masuk Kabupaten Buleleng tetapi secara geografi berada di sisi selatan pulau Bali.

Jadi tak ada istilah siaran langsung yang diacak (dihilangkan), untuk urusan Piala Dunia. Akhir pekan pun saya lewatkan di kota Negara, yang juga tak terkendala masalah siaran langsung ini, karena semua masih menggunakan siaran terrestrial.

Jadi sepanjang stamina memungkinkan kita dapat menonton full 64 pertandingan yang semuanya disiarkan oleh stasiun televisi nasional. Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang Piala Dunia ini maupun edisi-edisi berikutnya. Karena pasti masih terbayang jelas di ingatan teman teman pecinta bola.

Satu yang pasti, hampir semua laga saya nikmati sendiri, tanpa ada yang menemani. Fitrah saya sebagai makhluk sosial secara bertahap kembali menjelma menjadi makhluk individual.

Dan akhirnya edisi terbaru Piala Dunia tahun 2022 ini, diadakan kembali di wilayah Asia. Memilih tempat jazirah Arab, negara Qatar. Untuk pertama kalinya Piala Dunia tak dilaksanakan pertengahan tahun, justru di akhir tahun, mengantisipasi cuaca panas gurun.

Pelaksanaan Piala Dunia di akhir tahun, berlangsung saat kompetisi di Liga Eropa sedang berlangsung. Praktis para pemain cuma punya waktu istirahat seminggu jelang Piala Dunia dimulai. Barangkali ini berdampak pada kebugaran para pemain yang berkompetisi di liga elite Eropa.

Dan terbukti baru satu laga saja sudah terjadi kejutan. Dua tim langganan Piala Dunia, pemegang gelar Piala Dunia. Jerman dan Argentina, takluk pada tim tim Asia. Yang secara fisiologis mungkin tubuh pemain Asia lebih terbiasa dengan iklim panas di gurun.

Terlihat begitu menariknya sisa pertandingan yang akan tersaji nanti, dan saya tak sabar untuk melewatkannya nanti.

Dan yang sangat berbeda dengan Piala Dunia edisi sebelumnya, untuk Piala Dunia kali ini kita bisa menyaksikannya di HP kita. Dengan fasilitas video on demand, kita bisa berlangganan paket untuk bisa menonton Piala Dunia dari HP kita, kapanpun di manapun kita berada sepanjang ada wifi atau paket data di HP kita.

 Bahkan laga yang tak sempat kita saksikan kemarin, hari ini bisa kita lihat cuplikan bahkan siaran lengkapnya, sesuai keinginan dan waktu senggang kita.

Jadi begitulah pengalaman menonton Piala Dunia di televisi yang saya alami dari zaman ke zaman. Ada kontradiksi yang terjadi. Secara kualitas tayangan, yang semula hitam putih, sampai berwarna, hingga sekarang kualitas HD, benar benar memanjakan mata kita,.

Tersedianya layanan video on demand, membuat kita bisa mengatur waktu menonton kita, cukup memilih laga yang melibatkan tim favorit saja. Jujur, sampai hari kelima ini, saya paling cuma menonton lengkap laga Inggris dan Argentina, serta laga lain yang ditayangkan sore dan malam.

Yang main tengah malam dan dini hari, bisa saya lihat di hp saja keesokan harinya. Dan satu satunya sisi yang mungkin buruk, kita akhirnya lebih sering nonton sendirian. Kegiatan menonton yang sebelumnya menjadi ajang kebersamaan, berkumpul dengan teman, keluarga akhirnya menjadi sebuah kegiatan privat, terutama bagi saya pribadi. Sayang sekali.

 Akhirnya dari kenangan saya ini, dapat sedikit menjawab kerisauan Ngurah, teman saya tadi, tentang sepinya Piala Dunia kali ini. Untuk menjawabnya lebih lengkap saya akan coba menuliskannya nanti. [T]

Gli Azzurri dan Jhumpa Lahiri
Selamat Ulang Tahun ke-40 Gianluigi Buffon, Kau Superman yang Loyal
Sihir Sepakbola dan Fanatisme Mengambang
Tags: olahragaPiala Duniasepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“PR“ Itu Tak Akan Pernah Usai Bagi Guru

Next Post

Geo, Cokelat dan Puisi

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Geo, Cokelat dan Puisi

Geo, Cokelat dan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co