2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sihir Sepakbola dan Fanatisme Mengambang

Heyder Affan by Heyder Affan
February 2, 2018
in Esai

Youtube

 

SOROT mata orang-orang itu, kurasakan, tersedot pada kaos warna biru yang kukenakan. Semula aku menganggapnya semacam apresiasi atas atribut yang tertera pada kaosku. Tapi, lama-kelamaan, tatapan itu kurasakan tidak wajar.

Aku akhirnya sadar. Seraya melirik rekan kerjaku, Anton Alifandi, yang ada di sebelahku, saat antri makan siang di kantin milik kantorku (di London), aku bertanya lirih kepadanya, “saya salah kostum ya?”

Saya lupa apa jawaban Anton kala itu. Namun kejadian di atas, yang berlangsung delapan tahun silam, dampaknya kurasakan sampai aku kembali mengunjungi kota London, pada Maret 2008 lalu.

Kaos yang kukenakan itu memang berwarna biru, namun di bagian dada sebelah kanan ada tulisan “Chelsea Football Club” dan di belakangnya tertera tulisan “Zola”…

Rupanya, di sebuah negara yang dikenal masyarakatnya tergila-gila kepada permainan sepakbola, mengenakan kaos beratribut sebuah klub sepakbola (peserta liga utama Inggris) di tempat umum, dalam skala tertentu bisa dikategorikan sebagai sebuah peristiwa sensitif.

“Kalau urusan siapa mendukung klub apa, itu jadi isu sensitif di sini, Fan,” seloroh temanku di London, lima tahun silam.

Ada benarnya juga pendapat temanku itu.

Seperti diketahui, di London, saat itu, sedikitnya ada tiga klub liga utama Inggris, yang bertengger di puncak klasemen.

Selain Chelsea, ada Arsenal dan Tottenham Hotspur. Klub-klub ini, sudah menjadi rahasia umum, punya pendukung yang fanatik. Mereka inilah yang rajin datang ke stadion untuk memberi dukungan kepada klub kesayangannya.

Saya lantas teringat sebuah artikel yang kubaca pada tahun 80-an — saat itu saya sudah tergila-gila pada olahraga ini. Isi artikel itu menyorot tentang sepak-terjang sepakbola di Inggris, berikut kegilaan yang mengiringi para pendukungnya.

Bahkan, demikian isi laporan itu, seorang jurnalis olahraga di kota London mengisi kolom “agama” — pada sebuah dokumen — dengan tulisan “sepakbola”. Saat itu, saat saya masih mengenakan celana pendek, begitu terheran-heran membaca artikel tersebut.

Tapi, pengalamanku di London mengenakan kaos Chelsea, dan kemudian ditatap dengan mata penuh curiga oleh orang-orang di sana, itu tadi, makin membuatku sadar: Inggris memang negeri fanatik sepakbola!

***

“KAU mau kaos Chelsea atau Arsenal?” teman kantorku, sekitar tahun 2002, menawari sebuah pemberian saat dia pulang ke London.

Saya tentu senang luar biasa mendengarnya. Tapi ditanya begitu, aku seperti biasa bilang “terserah kau, apapun aku suka.”

Kawanku itu, Yoko, akhirnya memilih membeli kaos Chelsea, tapi bukan dilatari motivasi fanatisme. “Kebetulan toko yang menjual kaos itu (Chelsea) tak begitu jauh dari rumahku,” jelas Yoko.

Kaos pemberian temanku itu, akhirnya kukenakan, dan awalnya nyaris tanpa fanatisme — saya, misalnya, tak mengetahui semua pemain Chelsea, saat itu.

Tapi, percayalah, aku merawat kaos pemberian itu sepenuh hati, barangkali “karena harganya yang mahal” serta semacam dilatari faktor “gengsi” — di belakang kaos itu tertera Zola, pemain nasional Italia (saat itu) serta ujung tombak The Blues.

Ada semacam kebanggaan pula (dan mudah-mudahan bukan pamer), bisa mengenakan kaos itu kemana-mana. Namun setelah sekian lama mengenakan kaos itu, ada perasaan aneh yang timbul pada diriku — semacam bermantra!

Perasaan ini yang semula cair kemudian mengental, dan menjelma rasa ingin tahu lebih banyak tentang klub Chelsea. Semangat ini tentu tidak berdiri sendiri, seingatku. Penyebabnya, di saat yang sama, klub itu kemudian mendatangkan banyak pemain top, setelah seorang milyuner Rusia (Abramovich) membelinya.

“Banyak bertabur bintang di sana, yang artinya makin membuat saya penasaran untuk selalu menonton mereka bermain,” jawabku, saat seorang teman bertanya, apakah aku pengagum Chelsea.

Tapi, tetap saja tak ada fanatisme di dalam perasaan itu. “Biasa-biasa saja,” kataku lagi.

Namun jujurkah aku? Barangkali fanatisme itu ada, namun takarannya yang berbeda? Menjawab pertanyaan ini, saya biasanya memberikan penjelasan seperti ini: Saya tidak sepenuhnya sedih disaat Chelsea kalah dalam sebuah pertandingan, atau saya bisa menerima alibi seorang kawan yang mengatakan “permainan Chelsea membosankan, lantaran cenderung bertahan”..

***

DI SEBUAH pagi yang bergerimis, dan dingin, pada hari Minggu, 16 Maret 2008 lalu, aku akhirnya mendatangi stadion milik klub Chelsea, Stamford Bridge.

Semula mencoba jalan kaki, namun hanya sampai sekitar stasiun Gloucester Road. Dari sana, aku naik tube ke arah stasiun Fulham Broadway. Berjalan kaki sebentar, akhirnya terlihat stadion yang menurutku “tidak semegah yang kubayangkan semula.”

Gerimis masih mengguyur di sekitar stadion saat jam tanganku menunjuk pukul 10 pagi. Bertemu seorang penggemar Chelsea, yang mengenakan kostim biru, dan sejumlah lelaki. Mereka berteduh di sisi samping stadion yang masih tutup, di dekat toko yang menjual aneka cindera mata terkait klub itu.

Di tembok stadion, ada tertera tulisan yang isinya menjelaskan ada tur jalan-jalan ke dalam stadion. Saya tidak tertarik — lagipula acara itu dibuka tidak setiap hari, dan harus bayar.

(Jadilah saya cuma berjalan-jalan di areal stadion itu. Yang kuingat, ada sejumlah poster pemain top Chelsea — termasuk Zola — dipajang di tembok-tembok luar stadion).

Saya akhirnya meninggalkan stadion, dan tak kurasakan darah adrenalinku naik-turun. Biasa saja…

***

FANATISME pada akhirnya harus luruh pada sikapku yang selalu mengambang. Dan ini tidak hanya bicara klub Chelsea.

Sebagai penggemar sepakbola, dan dibesarkan di kota Malang, wajar saja bila ada yang bertanya “apakah aku penggemar klub Arema, asal kota Malang itu.”

Pertanyaan ini sempat dimunculkan Yusuf Bachtiar, kawanku, yang juga pembuat filem dokumenter tentang suporter sepakbola — dia telah mendokumentasi sepak-terjang suporter Persija Jakarta (dan mendapat penghargaan bergengsi dari sebuah festival di Jerman) serta fanatisme suporter Arema.

Kujawab: Tidak sepenuhnya! “Saat Arema kalah, misalnya, aku tak sepenuhnya meratap,” kataku.

Tapi sejak awal, begitu jawabku menjawab pertanyaan Yusuf, cara pandangku melihat pertandingan sepak bola tak sepenuhnya diwarnai fanatisme.

Saya terkadang datang ke stadion juga, namun tidak ada pemihakan seratus persen.

“Memang ada dag-dig-dug saat tim kita kalah, sementara waktu tinggal 5 menit, misalnya. Tapi tidak lebih dari itu…”

Barangkali, demikian jawabanku, aku lebih tepat disebut sebagai ‘penikmat’ sebuah pertandingan, walaupun kadar pemihakan itu tetap ada — saya justru agak melankoli apabila tim mapan dengan tradisi sepakbolanya yang panjang, kalah dan tersisih.

(Ini pernah kualami ketika Final Piala Eropa 2004, menampilkan laga Portugal V Yunani. Saya akhirnya tak menonton final itu, karena kecewa dengan gaya permainan Yunani yang amat membosankan).

Saya lantas teringat seorang kolumnis Inggris yang selalu mendua saat menonton pertandingan sepakbola yang menghadirkan dua tim dengan tipe menyerang: di satu sisi dia ingin pertandingan itu berjalan terus, namun dia juga ingin pertandingan itu segera berakhir. “Saya mungkin seperti itu,” kataku.

Tentu, aku masih mendukung sebuah kompetisi sepakbola (walau tanpa fanatisme), kendati rusuh antar suporter selalu terulang.

Saya tak memilih sikap ekstrim, misalnya, dengan membubarkan sebuah kompetisi (Ide ‘anti kompetisi’ pernah bergulir sesaat setelah tragedi Heysel, tahun 80-an, yang menewaskan puluhan suporter Juventus dan Liverpool, dalam final Piala Champions).

“Bayangkan, apa jadinya dunia tanpa piala dunia, tanpa final Liga Champions!” (T)

 

Tags: fanatismesepakbola
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Julio Saputra# Puisi: Anak-anak Sekolah Minggu, Senja di Dhammadesa

Next Post

Musik “Hung Siwer”, Memainkan Taksu Gembira Anak-anak Bali

Heyder Affan

Heyder Affan

Penyuka jalan-jalan, penikmat sastra, dan gila bola. Tulisannya bisa dilihat secara lengkap di heyderaffan.blogspot.com

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Musik “Hung Siwer”, Memainkan Taksu Gembira Anak-anak Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co