22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sihir Sepakbola dan Fanatisme Mengambang

Heyder Affan by Heyder Affan
February 2, 2018
in Esai

Youtube

 

SOROT mata orang-orang itu, kurasakan, tersedot pada kaos warna biru yang kukenakan. Semula aku menganggapnya semacam apresiasi atas atribut yang tertera pada kaosku. Tapi, lama-kelamaan, tatapan itu kurasakan tidak wajar.

Aku akhirnya sadar. Seraya melirik rekan kerjaku, Anton Alifandi, yang ada di sebelahku, saat antri makan siang di kantin milik kantorku (di London), aku bertanya lirih kepadanya, “saya salah kostum ya?”

Saya lupa apa jawaban Anton kala itu. Namun kejadian di atas, yang berlangsung delapan tahun silam, dampaknya kurasakan sampai aku kembali mengunjungi kota London, pada Maret 2008 lalu.

Kaos yang kukenakan itu memang berwarna biru, namun di bagian dada sebelah kanan ada tulisan “Chelsea Football Club” dan di belakangnya tertera tulisan “Zola”…

Rupanya, di sebuah negara yang dikenal masyarakatnya tergila-gila kepada permainan sepakbola, mengenakan kaos beratribut sebuah klub sepakbola (peserta liga utama Inggris) di tempat umum, dalam skala tertentu bisa dikategorikan sebagai sebuah peristiwa sensitif.

“Kalau urusan siapa mendukung klub apa, itu jadi isu sensitif di sini, Fan,” seloroh temanku di London, lima tahun silam.

Ada benarnya juga pendapat temanku itu.

Seperti diketahui, di London, saat itu, sedikitnya ada tiga klub liga utama Inggris, yang bertengger di puncak klasemen.

Selain Chelsea, ada Arsenal dan Tottenham Hotspur. Klub-klub ini, sudah menjadi rahasia umum, punya pendukung yang fanatik. Mereka inilah yang rajin datang ke stadion untuk memberi dukungan kepada klub kesayangannya.

Saya lantas teringat sebuah artikel yang kubaca pada tahun 80-an — saat itu saya sudah tergila-gila pada olahraga ini. Isi artikel itu menyorot tentang sepak-terjang sepakbola di Inggris, berikut kegilaan yang mengiringi para pendukungnya.

Bahkan, demikian isi laporan itu, seorang jurnalis olahraga di kota London mengisi kolom “agama” — pada sebuah dokumen — dengan tulisan “sepakbola”. Saat itu, saat saya masih mengenakan celana pendek, begitu terheran-heran membaca artikel tersebut.

Tapi, pengalamanku di London mengenakan kaos Chelsea, dan kemudian ditatap dengan mata penuh curiga oleh orang-orang di sana, itu tadi, makin membuatku sadar: Inggris memang negeri fanatik sepakbola!

***

“KAU mau kaos Chelsea atau Arsenal?” teman kantorku, sekitar tahun 2002, menawari sebuah pemberian saat dia pulang ke London.

Saya tentu senang luar biasa mendengarnya. Tapi ditanya begitu, aku seperti biasa bilang “terserah kau, apapun aku suka.”

Kawanku itu, Yoko, akhirnya memilih membeli kaos Chelsea, tapi bukan dilatari motivasi fanatisme. “Kebetulan toko yang menjual kaos itu (Chelsea) tak begitu jauh dari rumahku,” jelas Yoko.

Kaos pemberian temanku itu, akhirnya kukenakan, dan awalnya nyaris tanpa fanatisme — saya, misalnya, tak mengetahui semua pemain Chelsea, saat itu.

Tapi, percayalah, aku merawat kaos pemberian itu sepenuh hati, barangkali “karena harganya yang mahal” serta semacam dilatari faktor “gengsi” — di belakang kaos itu tertera Zola, pemain nasional Italia (saat itu) serta ujung tombak The Blues.

Ada semacam kebanggaan pula (dan mudah-mudahan bukan pamer), bisa mengenakan kaos itu kemana-mana. Namun setelah sekian lama mengenakan kaos itu, ada perasaan aneh yang timbul pada diriku — semacam bermantra!

Perasaan ini yang semula cair kemudian mengental, dan menjelma rasa ingin tahu lebih banyak tentang klub Chelsea. Semangat ini tentu tidak berdiri sendiri, seingatku. Penyebabnya, di saat yang sama, klub itu kemudian mendatangkan banyak pemain top, setelah seorang milyuner Rusia (Abramovich) membelinya.

“Banyak bertabur bintang di sana, yang artinya makin membuat saya penasaran untuk selalu menonton mereka bermain,” jawabku, saat seorang teman bertanya, apakah aku pengagum Chelsea.

Tapi, tetap saja tak ada fanatisme di dalam perasaan itu. “Biasa-biasa saja,” kataku lagi.

Namun jujurkah aku? Barangkali fanatisme itu ada, namun takarannya yang berbeda? Menjawab pertanyaan ini, saya biasanya memberikan penjelasan seperti ini: Saya tidak sepenuhnya sedih disaat Chelsea kalah dalam sebuah pertandingan, atau saya bisa menerima alibi seorang kawan yang mengatakan “permainan Chelsea membosankan, lantaran cenderung bertahan”..

***

DI SEBUAH pagi yang bergerimis, dan dingin, pada hari Minggu, 16 Maret 2008 lalu, aku akhirnya mendatangi stadion milik klub Chelsea, Stamford Bridge.

Semula mencoba jalan kaki, namun hanya sampai sekitar stasiun Gloucester Road. Dari sana, aku naik tube ke arah stasiun Fulham Broadway. Berjalan kaki sebentar, akhirnya terlihat stadion yang menurutku “tidak semegah yang kubayangkan semula.”

Gerimis masih mengguyur di sekitar stadion saat jam tanganku menunjuk pukul 10 pagi. Bertemu seorang penggemar Chelsea, yang mengenakan kostim biru, dan sejumlah lelaki. Mereka berteduh di sisi samping stadion yang masih tutup, di dekat toko yang menjual aneka cindera mata terkait klub itu.

Di tembok stadion, ada tertera tulisan yang isinya menjelaskan ada tur jalan-jalan ke dalam stadion. Saya tidak tertarik — lagipula acara itu dibuka tidak setiap hari, dan harus bayar.

(Jadilah saya cuma berjalan-jalan di areal stadion itu. Yang kuingat, ada sejumlah poster pemain top Chelsea — termasuk Zola — dipajang di tembok-tembok luar stadion).

Saya akhirnya meninggalkan stadion, dan tak kurasakan darah adrenalinku naik-turun. Biasa saja…

***

FANATISME pada akhirnya harus luruh pada sikapku yang selalu mengambang. Dan ini tidak hanya bicara klub Chelsea.

Sebagai penggemar sepakbola, dan dibesarkan di kota Malang, wajar saja bila ada yang bertanya “apakah aku penggemar klub Arema, asal kota Malang itu.”

Pertanyaan ini sempat dimunculkan Yusuf Bachtiar, kawanku, yang juga pembuat filem dokumenter tentang suporter sepakbola — dia telah mendokumentasi sepak-terjang suporter Persija Jakarta (dan mendapat penghargaan bergengsi dari sebuah festival di Jerman) serta fanatisme suporter Arema.

Kujawab: Tidak sepenuhnya! “Saat Arema kalah, misalnya, aku tak sepenuhnya meratap,” kataku.

Tapi sejak awal, begitu jawabku menjawab pertanyaan Yusuf, cara pandangku melihat pertandingan sepak bola tak sepenuhnya diwarnai fanatisme.

Saya terkadang datang ke stadion juga, namun tidak ada pemihakan seratus persen.

“Memang ada dag-dig-dug saat tim kita kalah, sementara waktu tinggal 5 menit, misalnya. Tapi tidak lebih dari itu…”

Barangkali, demikian jawabanku, aku lebih tepat disebut sebagai ‘penikmat’ sebuah pertandingan, walaupun kadar pemihakan itu tetap ada — saya justru agak melankoli apabila tim mapan dengan tradisi sepakbolanya yang panjang, kalah dan tersisih.

(Ini pernah kualami ketika Final Piala Eropa 2004, menampilkan laga Portugal V Yunani. Saya akhirnya tak menonton final itu, karena kecewa dengan gaya permainan Yunani yang amat membosankan).

Saya lantas teringat seorang kolumnis Inggris yang selalu mendua saat menonton pertandingan sepakbola yang menghadirkan dua tim dengan tipe menyerang: di satu sisi dia ingin pertandingan itu berjalan terus, namun dia juga ingin pertandingan itu segera berakhir. “Saya mungkin seperti itu,” kataku.

Tentu, aku masih mendukung sebuah kompetisi sepakbola (walau tanpa fanatisme), kendati rusuh antar suporter selalu terulang.

Saya tak memilih sikap ekstrim, misalnya, dengan membubarkan sebuah kompetisi (Ide ‘anti kompetisi’ pernah bergulir sesaat setelah tragedi Heysel, tahun 80-an, yang menewaskan puluhan suporter Juventus dan Liverpool, dalam final Piala Champions).

“Bayangkan, apa jadinya dunia tanpa piala dunia, tanpa final Liga Champions!” (T)

 

Tags: fanatismesepakbola
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Julio Saputra# Puisi: Anak-anak Sekolah Minggu, Senja di Dhammadesa

Next Post

Musik “Hung Siwer”, Memainkan Taksu Gembira Anak-anak Bali

Heyder Affan

Heyder Affan

Penyuka jalan-jalan, penikmat sastra, dan gila bola. Tulisannya bisa dilihat secara lengkap di heyderaffan.blogspot.com

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Musik “Hung Siwer”, Memainkan Taksu Gembira Anak-anak Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co