2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siti Noviali, Ia Muslim, Ia Guru Bahasa Bali, Ia Penulis Kritik Sastra Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 20, 2022
in Persona
Siti Noviali, Ia Muslim, Ia Guru Bahasa Bali, Ia Penulis Kritik Sastra Bali

Siti Noviali

Ketika menjadi juri Lomba Esai Timbang Buku Sastra Bali Modern yang diselenggarakan media online/jurnal Suara Saking Bali,  saya tertarik satu peserta. Karyanya berjudul Wangchi Wuhan: Suasana Pandemi dan Luapan Perasaan.

Karya tulisnya memang biasa-biasa saja. Namun, nama penulis dan biodatanya yang membuat saya agak tertegun. Nama: Siti Noviali. Jenis kelamin: Perempuan. Tempat lahir: Denpasar. Agama: Islam.

Mungkin bukan sesuatu yang benar-benar langka seorang muslim punya perhatian yang besar terhadap bahasa Bali, karena agama tak punya hubungan langsung dengan bahasa. Bahasa Bali boleh ditekuni oleh orang yang beragama apa pun, begitu juga bahasa Jawa, Sasak, apalagi bahasa Inggris.

Namun, meski tak begitu langka, saya tetap ingin tahu, perempuan seperti apakah yang begitu lancar menulis kritik tentang sastra berbahasa Bali dalam lomba itu?  Apalagi, untuk menulis kritik Sastra Bali Modern, tentu setidaknya ia suka membaca buku-buku Sastra Bali karya penulis-penulis dari Bali. Seorang Muslim membaca buku sastra Bali dan kemudian menulis kritik terhadap buku itu, bisa dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa di tengah banyaknya muncul kekhawatiran tentang anak-anak muda di Bali yang tak terbiasa berbahasa Bali.

Karyanya Siti Noviali memang tak keluar sebagai juara, dan hanya masuk nominasi 20 besar. Namun, bagi saya, Siti Noviali adalah peserta istimewa, sehingga, setelah pengumuman lomba,  saya  menghubunginya  melalui WhatsAp (WA).  

Dan saya tahu kemudian, Siti Noviali bukanlah orang baru dalam pergaulan di dunia Sastra Bali Modern, dan bukan orang yang asing juga dalam akivitas orang-orang yang menjadi pecinta dan penyayang bahasa Bali. Sejak SD hingga SMA ia sudah tertarik menekuni bahasa Bali. Ia bahkan sering ikut lomba nyurat (menulis) di atas lontar dan lomba-lomba lain yang berhubungan dengan bahasa Bali.

SD  ia selesaikan di SDN 9 Sesetan, lalu masuk SMPN 6 Denpasar, dan kemudian masuk SMAN 5 Denpasar. Setamat SMA ia meneguhkan hati untuk kuliah jurusan Sastra Bali di Universitas Udayana.

“Saya ingin mempelajari lebih dalam tentang bahasa, aksara dan sastra Bali. Oleh karena itu, saya memilih untuk mengambil kuliah jurusan Sastra Bali di Unud,” kata Siti.

Di kampus itulah ia belajar secara serius ilmu dan pengetahuan bahasa Bali, sekaligus juga belajar berbicara bahasa Bali, terutama bahasa Bali alus. Sampai ia tamat, Februari 2021, dan lima bulan kemudian ia menjadi guru pengajar bahasa Bali di SMP Tunas Harapan Jaya, Denpasar di Pemogan.

Bagaimana ia bisa tertarik menulis kritik Sastra Bali modern?

“Saya tertarik menulis ulasan atau kritik sastra Bali Modern itu berawal dari menjadi tukang cacad (narasumber pengkritik) dalam kegiatan Bedah Buku Online yang diadakan oleh Suara Saking Bali,” kata dia.

Dari kegiatan itulah ia jadi senang mengulas lebih mendalam isi dari karya sastra Bali.Ia mencoba menulis sejumlah kritik terhadap sejumlah buku, sampai kemudian ia melihat informasi lomba kritik sastra Bali modern di media sosial.

“Saya tergugah untuk mengirim ulasan, walaupun masih amburadul,” kata Siti.

Buku diulas dalam lomba itu adalah buku Kumpulan Cerpen Wangchi Wuhan karya IBW Widiasa Keniten.

“Setelah saya baca, keseluruhan isi dari buku menggambarkan suasana di awal-awal pandemi. Jadi saya merasa flashback ke masa-masa saat itu. Penggambaran suasana itu sangat menarik menurut saya dan ingin saya bagikan melalui sebuah ulasan,” kata Siti..

Selain menulis kritik tentang buku Kumpulan Cerpen Wangchi Wuhan, sebelumnya ia sudah pernah menulis kritik terhadap Buku Kumpulan Cerpen Ngipiang Jokowi karya I Made Sugianto dan dipublikasikan di tatkala.co.

Kini ia sedang tertarik untuk menulis ulasan atau kritik terhadap Buku Kumpulan Cerpen Event Organizer dan Novel Sentana karya Made Sugianto.

Ia memang suka membaca buku karya Made Sugianto, seorang pengarang yang dikenal sebagai Perbekel Desa Kukuh, Marga, Tabanan, sekaligus pengelola Penerbit Pustaka Ekspresi.

“Saya memang ngefans sama Pak Made Sugianto,” katanya.

Nah, bagaimana cerita awal-mula Siti Noviali tertarik dengan bahasa Bali, kuliah di jurusan bahasa Bali dan kini menjadi guru bahasa Bali?

“Jadi begini, Pak, ibu saya orang Bali (dulunya Hindu). Asalnya dari Batubulan, Gianyar. Bapak saya dari Lombok. Kemudian setelah menikah ibu saya menjadi mualaf, menjadi muslim. Saya lahir dan besar di Bali. Dari kecil sudah terbiasa dengan lingkungan masyarakat Bali. Teman-teman juga dominan orang Bali. Berbicara di rumah juga kadang pakai bahasa Bali. Malah saya tak bisa berbicara pakai bahasa Sasak,” ceritanya.

BACA KARYA SITI NOVIALI:

  • Wangchi Wuhan: Suasana Pandemi dan Luapan Perasaan
  • Catatan Harian Perbekel dalam Kumpulan Cerpen “Ngipiang Jokowi”

Keluarga Siti Noviali sangat mendukung minat Siti menekuni bahasa dan sastra Bali. “Jadi, saya selalu di-support setiap kegiatan yang saya tekuni, terutama yang berkaitan dengan sastra Bali,” katanya.

Dengan siapa Siti Noviali belajar bahasa Bali?

Di kampus, Siti mengaku banyak belajar nyurat aksara Bali dengan Pak Nala Antara.  Di rumah ia belajar banyak dari ibunya. Dan tentu saja ia juga banyak belajar dari teman-temannya yang kebanyakan memang berbahasa Bali.

“Saya biasanya suka dengar orang ngomong pakai bahasa Bali. Biasanya ibu dan temannya suka ngomong pakai bahasa Bali, terus saya ikut dan terbiasa pakai bahasa Bali,” katanya.

Di kampus, kata dia, biasanya dosen mengajar dengan menggunakan bahasa Bali, terutama bahasa Bali alus.

“Pertamanya masih klingang-klingeng tak ngerti bahasanya. Tapi lama-lama jadi nambah kosakata baru terutama bahasa Bali alus,” kata Siti.

BACA jUGA:

  • Karya-karya peserta Lomba Esai Timbang Buku Sastra Bali Modern

Tentang lontar, Siti mengaku belajar secara tidak langsung dengan Sugi Lanus, filolog yang memang banyak menulis tentang lontar. Ia pernah membantu membersihkan lontar-lontar milik Sugi Lanus, dan Sugi Lanus kerap sharing informasi tentang lontar dan usada. “Jadi saya belajar banyak juga tentang sastra Bali sama beliau,” katanya.

Sebagai guru bahasa Bali, apa harapannya ke depan?

“Harapan saya ke depannya bisa lebih fasih berbahasa Bali, terutama bahasa Bali alus. Karena sekarang menjadi guru dan anak-anak aktif bertanya. Jadi harus belajar, belajar, belajar lagi,” katanya.

Harapan lainnya, ia bisa membina siswa-siswa untuk ikut kegiatan dan lomba yang bersinggungan dengan bahasa dan sastra Bali. Ini tentu harapan yang mulia. Dengan pembinaan yang rutin, akan lahir anak-anak yang mencintai bahasa Bali, bukan hanya dalam lomba, melainkan juga dalam kehidupan keseharian mereka. [T]

Tags: aksara baliBahasa Balisastra balisastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bertemu Pak Jam’an dan Keindahan di Taman Sari | Cerita dari Banyuwangi

Next Post

“Nyatua” Bukan Dharma Wacana | Dari Lomba “Mesatua” Krama Istri se-Bali

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
“Nyatua” Bukan Dharma Wacana | Dari Lomba “Mesatua” Krama Istri se-Bali

“Nyatua” Bukan Dharma Wacana | Dari Lomba “Mesatua” Krama Istri se-Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co