LALU-lalang kendaraan di pintu masuk dekat klenteng itu, tampak santer sejak sore. Satu persatu mereka memarkirkan motor atau mobil di areal pelabuhan tua itu. Ombak menyambut mereka, menderu.
Cuaca cukup bagus di penghujung tahun 2024 ini ketika senja perlahan menjadi gelap, Selasa, 31 Desember 2024 di Pelabuhan Tua Buleleng.
Suasana malam tahun baruan di pelabuhan tua itu sungguh ramai. Suasana intim terbangun dari orang-orang, bersama pacar, bersama teman, bersama keluarga. Anak-anak lepas bermain. Seru.

Orang-orang berderet di tepi pantai di areal Pelabuhan Tua Buleleng pada malam Tahun baru 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Di arena permainan, ibu menemani anaknya memancing bebek, bapak menemani anaknya menangkap ikan di air, juga bola-bola yang mengambang dengan pancingan. Sementara yang lain, ada yang setia menunggu sang anak asik bermain odong-odong dan melukis.
Suara petasan sudah dinyalakan kecil-kecil di pelabuhan tua itu, oleh sebagian orang tapi tidak terlalu bising. Mereka tampak gembira menyambut Tahun Baru 2025 dengan segala jenis permainan itu.
Seperti Asep (45). Ia memboyong keluarganya untuk berlibur ke Pelabuhan Tua Buleleng untuk menyenangkan hati dua anaknya yang masih kecil dan tentunya untuk sang istri juga. Bermain dan menantikan kembang api menyala adalah bentuk kesederhanaan bagi Asep.
Di sana, ia menemani sang anak melukis karakter kartun. Dengan sabar, ia mengajari anaknya bagaimana mewarnai gambar agar tidak keluar dari sketsa atau pola. Sebagai seorang bapak, selain romantis ia juga sangat penyabar. Percayalah.


Anak-anak bermaian dan melukis di areal Pelabuhan Tua Buleleng pada perayaan malam Tahun Baru 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
“Saya sering ke sini setiap tahun. Tentu dengan harapan yang sama, ya, berharap baik selalu dan banyak rezeki hehe…,” kata Kang Asep, warga Buleleng.
Sekitar dua puluh meter dari bibir pantai, berjejer jajakan seperti bakso, sosis bakar, kulit ayam digoreng. Kemudian kentang, udang crispy, pop ice, diserbu pengunjung sebagai teman bersantai.

Farid berjualan pada malam perayaan Tahun Baru 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Kemudian seorang perempuan menyedot pop ice nyambi menunggu corndog mozarella disiapkan oleh Farid di sebuah stand. Nama usahanya, belum dinamai, katanya. Tetapi orang-orang tetap datang karena tergiur dengan menu macam-macam yang terhampar terbuka. Mudah untuk dipilih dan sangat menggoyang lidah.
Suara minyak Farid masih beradu dengan desiran ombak. Orang-orang mengantri di sela itu. Farid—atau kerap di sapa Bang Farid itu masih bergelut dengan minyak goreng dan kentang, sosis dan tahu gejrot.
“Lumayan ramai, Bang,” kata Bang Farid sambil melayani pembeli.
Biasanya, lelaki itu berjualan di trotoar depan Puskesmas di Jalan Ahmad Yani Singaraja yang tak jauh dari belokan pasar burung. Menyoal peruntungan, untuk satu hari ini, tentu saja lebih besar.
“Lebih besar dari biasanya karena cukup ramai orang-orang menyambut tahun baru.” kata Bang Farid.
Di area pelabuhan tua itu memang tidak seramai perayaan menyambut Tahun Baru yang ada di Taman Kota Singaraja. Sore. Suasana Taman kota sudah cukup ramai oleh pedagang yang berjejer di areal trotoar yang menunya semua ada, megenep.


Kembang api dinyalakan saat menyambut detik-detik pergantian tahun di Kota Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy
Memasuki malam, orang-orang mulai berdatangan dari segala arah. Jalanan padat. Seperti menjadi sungai manusia. Berdesakan, begitu pun di lapangan utama Taman Kota ketika sudah menjelang malam.
Langit Diteror Warna dan Bunyi, di Tempat Gelap, Cinta Tipis-tipis Bersemi
Mereka ada yang datang bersama teman, keluarga, ada juga yang menggandeng pacarnya sangat erat—barankali biar si pacar tidak sedih. Tapi ada juga yang sendiri—sedang mencari jodohnya barangkali. Pokoknya, ramai sekali. Asik sekali.
Nyambi menenteng es jeruk dan jajanan, mereka duduk dengan gelap malam dihias obrolan yang hangat. Dengan kopi yang hangat. Dengan pelukan yang hangat. Di kursi duduk, di pembatas jalan, di trotoar, mereka berdiri.
Mereka begitu setia menantikan perayaan malam Tahun Baru itu, menanti kembang api jam 00.00. Beberapa orang tengah mencoba petasan kecil main-main sebelum itu.
Sampai pada waktu 15 menit menuju pergantian tahun itu, seperti sebuah percobaan, beberapa petasan besar dinyalakan cukup sengit seperti sebuah rudal saja. Langit seperti sedang diserbu. Dor di sini, dor di sana, seperti saling lempar kebahagiaan.
Semua mata tertuju pada petasan yang meledak—menyala di atas. Warna-warni terpercik di udara dan orang-orang mengucapkan wow. Tapi juga beberapa orang menutup telinganya karena merasa bising, dan beberapa orang lagi mengangkat hape-nya mengabadikan moment pergantian tahun itu untuk dibagi ke teman sejawatnya di media sosial.
Seorang anak kecil bermain gelembung di beranda taman seperti tidak peduli langit diteror cinta. Alamak. Haha. Tapi orang tuanya terus mengawasinya di tengah dirinya menikmati malam pergantian tahun bersama istri. Asik.

Perhelatan musik di Taman Kota Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy
Ketika di jam 00.00 dihitung mundur dari angka 10, petasan semakin ganas menerorkan cinta kepada langit. Seperti sedang perang, tak ada celah burung main malam-malam. Indah langit terlihat seakan banyak bintang.
Orang-orang berteriak “huuuu” “waaaah” macam-macam reaksi terlontar malam itu. Takjub, termasuk saya.
Percikan hijau, merah, kuning, ping, dan beragam warna lainnya menjadi hiasan malam itu yang indah walaupun dengan bunyi yang mengagetkan. DOR!
“Semoga tahun depan lebih baik dari tahun ini. Itu saja, Bli,” kata Nanda (22) di sela menonton bersama pacar. “
Dan juga karir maupun asmara, semoga berjalan dengan lancar, Bli,” timpal pacarnya, Yunita (22) sambil tersenyum.
Nanda juga kemudian tersenyum. Dasar jodoh.
Mereka berdua berharap penuh, tahun 2024 adalah satu tahun pembelajaran yang bisa membawanya kepada hidup yang lebih baik di tahun 2025. Ya, semoga.
Kemudian yang tidak punya petasan malam itu dan hanya punya terompet, mereka meniupnya kencang. Terdengar lucu di tengah ledakan petasan besar-besar. Pertarungan suara di langit semakin gemuruh dan suara terompet nyaris tenggelam tapi masih bertahan.

Kembang api berserakan di langit Tahun Baru 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Ini tahun baru yang meriah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya di Taman Kota. Sejak sore, Taman Kota menggelar karokean alias hiburan rakyat. Para pengunjung semakin betah.
Dan ketika salah satu petasan cukup besar berbunyi lebih keras dan orang-orang mulai menyingkir di malam itu. Dan seperti tidak mau kalah, petasan kecil yang suaranya suiiiit dinyalakan oleh beberapa remaja penuh nyali. Petasannya meluncur ke udara dan meledak dengan suara paling tipis “dak”. Gak apa apa. Kecil-kecil cabe rawit, remaja-remaja gak punya duit. Yang penting nyali, Wiiii.
Pula teriakan terompet masih terdengar. Terus terdenger. Gemuruh orang-orang juga masih terdengar. Perayaan semakin hidup.

Petugas membersihkan sampah usai perayaan malam Tahun Baru 2025 di Taman Kota Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy
Ketika waktu sudah menunjukkan 00.15. kerumunan mulai pecah. Berhamburan ke setiap arah, barangkali pulang ke rumah masing-masing membawa harapan, membawa senyum, tapi sayang, meninggalkan sampah berserak di mana-mana di araal taman. Hmmm…
Tidak lama kemudian, petugas kebersihan datang dan mereka mulai menyapu ketika sudah sepi. Selamat Tahun Baru, bapak petugas. Jangan lupa besok bahagia… [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole





























