22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ilusi Waktu dan Realitas Kemiskinan

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
December 31, 2024
in Esai
Ilusi Waktu dan Realitas Kemiskinan

Ilustrasi tatka;a.co | Rusdy

TAHUN berganti. Dari milenium ke milenium, abad ke abad, hingga detik yang bergulir tanpa henti, manusia sering kali menganggap pergantian waktu sebagai sesuatu yang monumental. Namun, bagi banyak orang, pergantian tahun hanyalah ilusi, penanda yang tidak membawa perubahan berarti dalam hidup mereka. Masalah-masalah yang mereka hadapi tetap sama, tak peduli apa yang tertulis di kalender. Persoalan orang-orang miskin, misalnya, tetap berkutat pada hal-hal elementer: besok makan apa? Bagaimana cara membayar hutang yang menumpuk? Bagaimana bertahan di hunian-hunian kumuh sambil terus membanting tulang agar tetap hidup?

Di sudut-sudut kota, di balik gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan, ada kehidupan lain yang tersembunyi. Hunian-hunian kumuh, penuh sesak dengan mereka yang setiap hari berjuang untuk bertahan hidup. Resolusi mereka tidak seperti kebanyakan orang yang membayangkan tubuh lebih sehat, karir lebih cemerlang, atau perjalanan ke tempat eksotis. Resolusi mereka adalah memastikan hari ini ada makanan di atas meja dan esok tidak perlu menggadaikan barang-barang terakhir yang mereka miliki untuk bertahan hidup. Tahun baru, bagi mereka, hanya sekadar momen lain yang menegaskan perjuangan mereka masih panjang.

Penyair Afrizal Malna pernah menggagas sebuah pameran kemiskinan untuk menyambut milenium 2000. Dalam gagasannya, Afrizal menyampaikan realitas pedih: bagi orang-orang miskin, hidup bukan tentang merencanakan masa depan yang panjang, bukan pula tentang mimpi-mimpi besar atau harapan yang megah. Hidup adalah manajemen darurat, sebuah keberlangsungan informal dalam kegentingan hari ini dan esok. Orang-orang miskin tidak hidup dalam proyeksi masa depan yang cerah, melainkan dalam situasi genting yang terus-menerus menekan.

Sementara itu, mereka yang hidup berkecukupan atau lebih sering kali larut dalam euforia perayaan tahun baru. Dentuman kembang api, gelak tawa, dan sorak-sorai memenuhi udara malam. Mereka membuat resolusi, merancang perjalanan, atau membeli barang-barang mahal sebagai hadiah untuk diri sendiri. Bagi mereka, waktu adalah peluang untuk perencanaan, untuk resolusi. Namun, realitas ini jauh dari kehidupan orang-orang yang setiap harinya dihantui oleh ketidakpastian. Ilusi pembagian waktu yang terstruktur, dengan pergantian tahun sebagai simbol pembaruan, hanya relevan bagi mereka yang sudah melewati persoalan-persoalan elementer seperti makan dan bertahan hidup.

Kemiskinan, seperti yang diungkapkan Afrizal, adalah penjara yang membatasi bukan hanya fisik, tetapi juga pikiran dan imajinasi. Mereka yang terjerat kemiskinan sering kali tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal-hal besar atau bermimpi jauh ke depan. Ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi, bagaimana seseorang bisa memikirkan pendidikan, karir, atau masa depan? Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup, sebuah lingkaran setan yang sulit dipecahkan.

Namun, kita sering kali terjebak dalam narasi yang menyederhanakan kemiskinan. Banyak orang melihatnya sebagai hasil dari kurangnya kerja keras atau kesalahan individu semata. Padahal, kemiskinan adalah masalah sistemik yang jauh lebih kompleks. Orang-orang miskin sering kali “digilas sistem,” seperti yang disebutkan di awal. Mereka bekerja keras, bahkan lebih keras daripada banyak orang yang hidup nyaman, tetapi tetap tidak mampu keluar dari jerat kemiskinan. Sistem ekonomi yang tidak adil, kurangnya akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, serta diskriminasi struktural adalah beberapa faktor yang memperkuat jerat ini.

Penting untuk menyadari bahwa kemiskinan tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Ketika sebagian besar populasi hidup dalam kemiskinan, potensi bangsa menjadi terhambat. Ketimpangan sosial yang mencolok menciptakan ketegangan dan konflik, menghancurkan kohesi sosial yang seharusnya menjadi fondasi sebuah masyarakat.

Apa yang bisa kita lakukan? Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa kemiskinan bukanlah sebuah takdir, melainkan hasil dari pilihan-pilihan kebijakan dan struktur sosial yang ada. Solusinya memerlukan perubahan mendasar, mulai dari kebijakan ekonomi yang lebih adil hingga investasi besar-besaran dalam pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Di sisi lain, solidaritas sosial juga memainkan peran penting. Kita perlu membangun rasa empati dan kepedulian terhadap sesama, tidak hanya dengan memberikan bantuan sementara, tetapi juga dengan mendukung perubahan struktural yang memungkinkan setiap orang untuk hidup layak.

Pergantian tahun sering kali menjadi momen refleksi dan harapan. Namun, mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat akan mereka yang tidak memiliki kemewahan untuk bermimpi panjang. Mereka yang hidup dalam “manajemen darurat” layak mendapatkan lebih dari sekadar belas kasih. Mereka layak mendapatkan sistem yang adil, kesempatan yang setara, dan kehidupan yang layak. Tahun baru, dengan segala ilusi waktu yang menyertainya, seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Afrizal, dengan ide pameran kemiskinannya, mengajak kita untuk melihat realitas yang sering kali kita abaikan. Kita perlu mempertanyakan: apa artinya kemajuan jika sebagian besar masyarakat kita masih hidup dalam ketidakpastian dan penderitaan? Pergantian tahun, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana kita berkontribusi untuk perubahan. Dan perubahan itu tidak akan datang hanya dengan resolusi pribadi, tetapi dengan aksi kolektif untuk menciptakan sistem yang lebih adil bagi semua.

Maka, mari jadikan tahun baru ini sebagai momen untuk berkomitmen, bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada mereka yang suaranya sering kali tidak terdengar. Karena resolusi terbaik adalah yang membawa perubahan nyata, bukan hanya bagi individu, tetapi bagi masyarakat secara keseluruhan. [T[

BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?
Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
Tags: ilusikemiskinantahun baruwaktu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perjalanan di Tahun 2024: Pelajaran Sebagai Pondasi untuk Melangkah di Tahun 2025

Next Post

Politik Pertanahan yang Mementingkan Penanaman Modal — Refleksi Setahun Pemberlakuan UU Cipta Kerja

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Politik Pertanahan yang Mementingkan Penanaman Modal — Refleksi Setahun Pemberlakuan UU Cipta Kerja

Politik Pertanahan yang Mementingkan Penanaman Modal --- Refleksi Setahun Pemberlakuan UU Cipta Kerja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co