2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ilusi Waktu dan Realitas Kemiskinan

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
December 31, 2024
in Esai
Ilusi Waktu dan Realitas Kemiskinan

Ilustrasi tatka;a.co | Rusdy

TAHUN berganti. Dari milenium ke milenium, abad ke abad, hingga detik yang bergulir tanpa henti, manusia sering kali menganggap pergantian waktu sebagai sesuatu yang monumental. Namun, bagi banyak orang, pergantian tahun hanyalah ilusi, penanda yang tidak membawa perubahan berarti dalam hidup mereka. Masalah-masalah yang mereka hadapi tetap sama, tak peduli apa yang tertulis di kalender. Persoalan orang-orang miskin, misalnya, tetap berkutat pada hal-hal elementer: besok makan apa? Bagaimana cara membayar hutang yang menumpuk? Bagaimana bertahan di hunian-hunian kumuh sambil terus membanting tulang agar tetap hidup?

Di sudut-sudut kota, di balik gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan, ada kehidupan lain yang tersembunyi. Hunian-hunian kumuh, penuh sesak dengan mereka yang setiap hari berjuang untuk bertahan hidup. Resolusi mereka tidak seperti kebanyakan orang yang membayangkan tubuh lebih sehat, karir lebih cemerlang, atau perjalanan ke tempat eksotis. Resolusi mereka adalah memastikan hari ini ada makanan di atas meja dan esok tidak perlu menggadaikan barang-barang terakhir yang mereka miliki untuk bertahan hidup. Tahun baru, bagi mereka, hanya sekadar momen lain yang menegaskan perjuangan mereka masih panjang.

Penyair Afrizal Malna pernah menggagas sebuah pameran kemiskinan untuk menyambut milenium 2000. Dalam gagasannya, Afrizal menyampaikan realitas pedih: bagi orang-orang miskin, hidup bukan tentang merencanakan masa depan yang panjang, bukan pula tentang mimpi-mimpi besar atau harapan yang megah. Hidup adalah manajemen darurat, sebuah keberlangsungan informal dalam kegentingan hari ini dan esok. Orang-orang miskin tidak hidup dalam proyeksi masa depan yang cerah, melainkan dalam situasi genting yang terus-menerus menekan.

Sementara itu, mereka yang hidup berkecukupan atau lebih sering kali larut dalam euforia perayaan tahun baru. Dentuman kembang api, gelak tawa, dan sorak-sorai memenuhi udara malam. Mereka membuat resolusi, merancang perjalanan, atau membeli barang-barang mahal sebagai hadiah untuk diri sendiri. Bagi mereka, waktu adalah peluang untuk perencanaan, untuk resolusi. Namun, realitas ini jauh dari kehidupan orang-orang yang setiap harinya dihantui oleh ketidakpastian. Ilusi pembagian waktu yang terstruktur, dengan pergantian tahun sebagai simbol pembaruan, hanya relevan bagi mereka yang sudah melewati persoalan-persoalan elementer seperti makan dan bertahan hidup.

Kemiskinan, seperti yang diungkapkan Afrizal, adalah penjara yang membatasi bukan hanya fisik, tetapi juga pikiran dan imajinasi. Mereka yang terjerat kemiskinan sering kali tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal-hal besar atau bermimpi jauh ke depan. Ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi, bagaimana seseorang bisa memikirkan pendidikan, karir, atau masa depan? Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup, sebuah lingkaran setan yang sulit dipecahkan.

Namun, kita sering kali terjebak dalam narasi yang menyederhanakan kemiskinan. Banyak orang melihatnya sebagai hasil dari kurangnya kerja keras atau kesalahan individu semata. Padahal, kemiskinan adalah masalah sistemik yang jauh lebih kompleks. Orang-orang miskin sering kali “digilas sistem,” seperti yang disebutkan di awal. Mereka bekerja keras, bahkan lebih keras daripada banyak orang yang hidup nyaman, tetapi tetap tidak mampu keluar dari jerat kemiskinan. Sistem ekonomi yang tidak adil, kurangnya akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan, serta diskriminasi struktural adalah beberapa faktor yang memperkuat jerat ini.

Penting untuk menyadari bahwa kemiskinan tidak hanya berdampak pada individu yang mengalaminya, tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Ketika sebagian besar populasi hidup dalam kemiskinan, potensi bangsa menjadi terhambat. Ketimpangan sosial yang mencolok menciptakan ketegangan dan konflik, menghancurkan kohesi sosial yang seharusnya menjadi fondasi sebuah masyarakat.

Apa yang bisa kita lakukan? Pertama-tama, kita harus mengakui bahwa kemiskinan bukanlah sebuah takdir, melainkan hasil dari pilihan-pilihan kebijakan dan struktur sosial yang ada. Solusinya memerlukan perubahan mendasar, mulai dari kebijakan ekonomi yang lebih adil hingga investasi besar-besaran dalam pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Di sisi lain, solidaritas sosial juga memainkan peran penting. Kita perlu membangun rasa empati dan kepedulian terhadap sesama, tidak hanya dengan memberikan bantuan sementara, tetapi juga dengan mendukung perubahan struktural yang memungkinkan setiap orang untuk hidup layak.

Pergantian tahun sering kali menjadi momen refleksi dan harapan. Namun, mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat akan mereka yang tidak memiliki kemewahan untuk bermimpi panjang. Mereka yang hidup dalam “manajemen darurat” layak mendapatkan lebih dari sekadar belas kasih. Mereka layak mendapatkan sistem yang adil, kesempatan yang setara, dan kehidupan yang layak. Tahun baru, dengan segala ilusi waktu yang menyertainya, seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Afrizal, dengan ide pameran kemiskinannya, mengajak kita untuk melihat realitas yang sering kali kita abaikan. Kita perlu mempertanyakan: apa artinya kemajuan jika sebagian besar masyarakat kita masih hidup dalam ketidakpastian dan penderitaan? Pergantian tahun, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana kita berkontribusi untuk perubahan. Dan perubahan itu tidak akan datang hanya dengan resolusi pribadi, tetapi dengan aksi kolektif untuk menciptakan sistem yang lebih adil bagi semua.

Maka, mari jadikan tahun baru ini sebagai momen untuk berkomitmen, bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada mereka yang suaranya sering kali tidak terdengar. Karena resolusi terbaik adalah yang membawa perubahan nyata, bukan hanya bagi individu, tetapi bagi masyarakat secara keseluruhan. [T[

BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?
Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan
Mencermati Tren Pariwisata Indonesia 2025
Tags: ilusikemiskinantahun baruwaktu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perjalanan di Tahun 2024: Pelajaran Sebagai Pondasi untuk Melangkah di Tahun 2025

Next Post

Politik Pertanahan yang Mementingkan Penanaman Modal — Refleksi Setahun Pemberlakuan UU Cipta Kerja

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Politik Pertanahan yang Mementingkan Penanaman Modal — Refleksi Setahun Pemberlakuan UU Cipta Kerja

Politik Pertanahan yang Mementingkan Penanaman Modal --- Refleksi Setahun Pemberlakuan UU Cipta Kerja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co