15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
December 31, 2024
in Esai
Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

Meskipun Bali dianggap cukup sejahtera, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki akses terhadap hunian yang layak

TANTANGAN arsitektur yang kita hadapi hari ini dan di masa yang datang akan semakin kompleks. Jika di berbagai platform sosial media muncul berbagai komentar yang mengarah pada kekhawatiran akan memudarnya identitas lokal, maka persoalan sesungguhnya jauh lebih rumit daripada sekadar wujud fisik arsitektur tersebut.

Spektrum persoalan-persoalan yang kita hadapi hari ini terbentang, mulai dari upaya untuk mengatasi tantangan dari karakter fisik alamiah lokasi dibangunnnya karya arsitektur hingga persoalan sosial yang membutuhkan respons dari para perancang bangunan dan kota. Respons yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan pun mungkin akan sangat beragam.

Ada banyak faktor yang berperan dalam pilihan-pilihan desain yang diambil oleh perancang selain faktor fisik alamiah. Faktor personal arsitek: latar belakang pendidikan, budaya, asal, bahkan gender turut menyertai keputusan-keputusan yang diambil oleh para perancang tersebut. Faktor ekonomi yang akan menjadi penyedia kapital bagi berdirinya sebuah bangunan juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Yang tidak kalah krusial adalah persoalan politik termasuk latar belakang sosial budaya yang menjadi setting bagi terwujudnya karya arsitektur.

Dengan melihat berbagai trend global serta geliat pertumbuhan arsitektur di tingkat lokal, saya mencoba mengurai beberapa tantangan yang sedang dan akan kita hadapi di masa depan. Melalui analisis terhadap trend persoalan global, arah penyelesaian-penyelesaian yang telah diambil oleh arsitek, serta pergerakan ekonomi dan sosial, maka kita bisa melihat bahwa persoalan yang akan kita hadapai tidak melulu soal identitas. Ini bukan berarti bahwa identitas bukan hal penting, tetapi ia me jadi salah satu dari banyak lagi persoalan yang harus kita selesaikan sebagai arsitek.

Secara global, kita sedang mengalami krisis iklim. Bidang konstruksi menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi krisis ini. Industri bahan bangunan terutama semen menyumbang setidaknya 8% emisi karbon global. Ini terjadi karena proses pembuatannya yang memerlukan energi intensif dan melepaskan karbon dioksida selama proses kimia pembakaran batu kapur.

Cuaca semakin ekstrim bisa berpengaruh terhadap cara kita merancang | Foto: Gede Maha Putra

Selain semen, pembuatan bahan-bahan bangunan lain juga membutuhkan proses yang turut menjadi penyumbang emisi. Belum lagi proses konstruksi dan operasional bangunan yang mengonsumsi 40%  energi global. Bahan-bahan bangunan harus diangkut dari tempat-tempat dimana industrinya berasal ke lokasi-lokasi pembangunan. Dalam perjalanannya, banyak energi fosil yang dibakar dan menghasilkan karbondioksida.

Saat bangunan sudah beroperasi, mesin-mesin AC bekerja nonstop setidaknya 8 jam sehari. Lift-lift dan eskalator juga menjadi konsumen energi yang besar dalam bangunan. Penggunaan alat transportasi vertikal ini kian sulit dihindari karena bangunan yang dibuat semakin besar dan tinggi.

Jika kita lihat dalam skala yang lebih lebar lagi, maka industri konstruksi juga menyumbang terhadap alih fungsi lahan termasuk hutan. Kita semua mengetahui jika pohon merupakan penyerap karbon alami. Pengurangan lahan hijau, dengan demikian, secara tidak langsung berperan aktif dalam peningkatan emisi karbon.

Pengetahuan-pengetahuan arsitek terhadap iklim kini perlu ditingkatkan. Pada masa pra-industri, kita mungkin membangun untuk melindungi diri dari panas terik matahari dan hujan. Hal ini membuat atap merupakan elemen yang sangat penting pada masa tradisional. Bangunan-bangunan pada masa itu dibangun dengan mengerjakan atap terlebih dahulu sebelum menciptakan ruang-ruang fungsional di bawahnya.

Kini, kita tidak sekedar berlindung tetapi sudah menjadi penyumbang bagi buruknya kualitas iklim. Sikap positif terhadap hal ini sangat dibutuhkan, jangan sampai kita sekadar membangun tanpa memperhatikan bahwa tindakan kita akan menjadi penyumbang bagi perubahan iklim. 

Tantangan berikutnya adalah urbanisasi yang terjadi akibat ketidakimbangan pembangunan dimana ada wilayah tertentu yang lebih menarik secara ekonomi dibandingkan dengan yang lain. Manusia berpindah ke daerah-daerah yang mampu memberikan taraf hidup yang lebih baik. Urbanisasi menjadi persoalan global dan membentuk tempat-tempat dengan kepadatan yang tinggi di beberapa titik. Fenomena ini bukan hanya terjadi karena masalah ekonomi tetapi juga politik, misalnya perang yang membuat orang harus meninggalkan wilayah konflik. Di daerah tujuan, lahan menjadi semakin langka karena persaingan yang tinggi, harganyapun semakin mahal, sehingga membuat akses terhadapnya semakin terbatas dan luasan yang semakin kecil.

Menciptakan ruang fungsional di lahan-lahan terbatas tanpa mengurangi kualitas hidup akan menjadi tantangan yang sangat nyata di masa mendatang. Banyak arsitek yang mulai tertarik untuk mengeksplorasi penciptaan ruang semacam ini dengan berbagai inovasinya. Karena, bukan hanya ruang hidup, melainkan ruang usaha juga akan turut terpengaruh oleh mengecilnya ruang-ruang di wilayah urban. Restaurant mungil, hotel di lahan terbatas, dan berbagai ruang usaha lain akan turut terdampak oleh fenomena urbanisasi yang tidak bisa dihentikan ini.

Urbanisasi menjadi tantangan bagi arsitek dan perancang kota untuk mewujudkan lingkungan yang berkualitas | Foto: tangkapan layar dari infodenpasar

Urbanisasi membawa dampak lain yaitu meningkatnya heterogenitas. Ini membawa dampak pada identitas yang juga menjadi tidak seragam. Upaya untuk mengedepankan hanya satu identitas akan berjumpa dengan upaya untuk mempertahankan identitas dari kelompok lain. Kesalahan penanganan terhadap hal ini akan berdampak pada menurunnya kualitas ikatan sosial di Masyarakat. Usaha-usaha untuk mencari identitas yang lebih netral sebenarnya sedang terjadi. Masyarakat heterogen terlihat tidak menonjolkan identitas yang bersumber dari latar belakang budaya tetapi latar ekonomi. Ini adalah identitas yang lebih universal tetapi belum tentu juga membawa dampak yang baik.

Penonjolan identitas bebasiskan pada kaya-miskin juga sama berbahayanya dengan upaya pemaksaan identitas satu kelompok terhadap kelompok lain.

Hal lain yang juga menjadi tantangan besar akibat dari urbanisasi adalah penyediaan infrastruktur. Untuk melayani pertambahan penduduk yang terus terjadi, pemerintah dituntut untuk mengambil keputusan yang cepat namun presisi. Kesalahan pengambilan keputusan bisa berdampak pada munculnya bencana seperti banjir, kemacetan, penumpukan sampah, munculnya permukiman kumuh dan berakhir pada persoalan social perkotaan.

Bentuk-bentuk lain yang lahir dari heterogenitas dalam upaya untuk menghidari benturan budaya adalah diterapkannya gaya-gaya arsitektur minimalis. Gaya ini tidak menonjolkan salah satu bentuk budaya tetapi lebih mendorong kepraktisan. Bagi penggemar fanatik budaya sebuah tempat, gaya ini dianggap berbahaya karena dapat menghilangkan ciri khas suatu tempat.

Gaya berikutnya yang juga muncul adalah hibridasi dari berbagai macam latar belakang budaya. Jika dalam karya-karya minimalis tidak mengedepankan koneksi personal atau kelompok, maka dalam karya hybrid yang terjadi justru sebaliknya. Setiap orang bisa memiliki koneksi personal karena di dalam proses hibridasi ini mengandung upaya untuk melihat banyak budaya dan menggabungkannya untuk melahirkan satu gaya yang bisa diterima semua. Interior mall-mall baru di Kota Denpasar nampaknya mengadopsi pendekatan ini dalam karya arsitektur dan interiornya. Wujud yang hadir tidak lagi mencerminkan satu budaya yang dominan.

Tipe-tipe investasi yang, apapun bentuknya, menginginkan pengembalian modal yang cepat akan turut berpengaruh pada arsitektur. Tetapi, pengaruhnya yang paling kentara ada pada material bangunan. Produsen bahan-bahan bangunan kini berupaya menghadirkan produk-produk inovatif. Di antara banyak produk yang hadir adalah yang memiliki klaim: mudah dipasang, tidak memerlukan semen, sangat praktis dan seterusnya.

Selain itu, dalam bidang interior, trend ini sudah lama terjadi dengan inovasi-inovasi furniture yang dibuat oleh produsen besar seperti IKEA. Tren modulasi dalam bidang arsitektur terjadi dalam bentuk hotel kabin, glamping, dan lainnya.

Produk-produk moduler bisa jadi akan membuat bangunan-bangunan menjadi terlihat sama. Di sini, dibutuhkan kreativitas arsitek agar mampu menciptakan karya desain dan bangunan dalam waktu cepat menggunakan modul-modul industri namun tetap menampilkan karakter personal. Karakter personal ini menunjukkan identitas pemilik dan juga arsitek perancang dan tempat di mana bangunan didirikan.

Tantangan lain, yang mungkin lebih berat, adalah penyediaan akses hunian baik lahan maupun pembiayaan untuk masyarakat yang kurang beruntung. Meskipun Bali menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi ekonomi tinggi, masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Penyediaan hunian untuk masyarakat yang kurang beruntung penting untuk dilakukan | Foto: Gede Maha Putra

Dalam empat tahun terakhir, Prodi Arsitektur Universitas Udayana melakukan gerakan sosial dalam bentuk bedah rumah. Bedah rumah dikhususkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan terutama yang disebabkan oleh keterbatasan kondisi fisik. Banyak di antara penerima bantuan adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan yang terpencil sehingga, selain dana, material yang tersediapun cukup terbatas.

Dalam model pembangunan yang kapitalistik, kelompok-kelompok ini tidak berdaya menghadapi pasar. Advokasi dibutuhkan agar mereka memiliki ruang hidup yang berkualitas. Arsitek yang memiliki perhatian terhadap kesetaraan dan bergelut di bidang aktivisme harus membangun ketrampilan lain yaitu membuka akses pendanaan dan akses terhadap lahan bagi masyarakat yang kurang beruntung.

Kegiatan aktivisme dalam bidang arsitektur nampaknya kalah populer dibandingkan dengan gemerlap dunia profesi dalam melayani bangunan-bangunan yang didanai kapital besar. Tidak banyak arsitek yang memperoleh nama besar dari aktivisme arsitektural.

Demikian juga majalah fisik serta media online seperti kurang bersemangat dalam mengangkat isu-isu sosial yang sebetulnya sangat dengan dunia rancang bangun. Bahkan, ada pandangan naif yang mengatakan jika bangunan-bangunan yang dibangun oleh masyarakat secara gotong royong bukanlah arsitektur! Hanya bangunan yang dirancang oleh arsiteklah yang layak disebut sebagai karya arsitektur. Ini salah arah.

Arsitektur harus mampu menjawab kebutuhan dasar manusia terhadap hunian yang layak, tidak peduli siapapun perancang dan pembagunnya.  

Tantangan-tantangan yang tersaji di atas masih bersifat pemenuhan kebutuhan fisik arsitektur. Tentu saja masih ada tantangan lain semisal menciptakan ruang-ruang kehidupan yang bermakna. Di dalam masyarakat yang sudah sangat heterogen dimana cengkeraman pasar yang kapitalistik sudah mendarah daging, pekerjaan untuk menemukan makna membangun, makna berhuni, dan menumbuhkan makna yang membuat kita berfikir lebih baik terhadap kehidupan tampak kian sulit.

Di tengah hiruk-pikuk geliat pembangunan, kita membutuhkan pikiran yang lebih jernih untuk mengatasi tantangan paling penting tentang arti dari keberadaan dan arsitektur yang menjadi latar kehidupan kita. [T]

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Tags: arsitekturarsitektur balipariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” — [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Next Post

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co