15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
December 31, 2024
in Esai
Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

Meskipun Bali dianggap cukup sejahtera, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki akses terhadap hunian yang layak

TANTANGAN arsitektur yang kita hadapi hari ini dan di masa yang datang akan semakin kompleks. Jika di berbagai platform sosial media muncul berbagai komentar yang mengarah pada kekhawatiran akan memudarnya identitas lokal, maka persoalan sesungguhnya jauh lebih rumit daripada sekadar wujud fisik arsitektur tersebut.

Spektrum persoalan-persoalan yang kita hadapi hari ini terbentang, mulai dari upaya untuk mengatasi tantangan dari karakter fisik alamiah lokasi dibangunnnya karya arsitektur hingga persoalan sosial yang membutuhkan respons dari para perancang bangunan dan kota. Respons yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan pun mungkin akan sangat beragam.

Ada banyak faktor yang berperan dalam pilihan-pilihan desain yang diambil oleh perancang selain faktor fisik alamiah. Faktor personal arsitek: latar belakang pendidikan, budaya, asal, bahkan gender turut menyertai keputusan-keputusan yang diambil oleh para perancang tersebut. Faktor ekonomi yang akan menjadi penyedia kapital bagi berdirinya sebuah bangunan juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Yang tidak kalah krusial adalah persoalan politik termasuk latar belakang sosial budaya yang menjadi setting bagi terwujudnya karya arsitektur.

Dengan melihat berbagai trend global serta geliat pertumbuhan arsitektur di tingkat lokal, saya mencoba mengurai beberapa tantangan yang sedang dan akan kita hadapi di masa depan. Melalui analisis terhadap trend persoalan global, arah penyelesaian-penyelesaian yang telah diambil oleh arsitek, serta pergerakan ekonomi dan sosial, maka kita bisa melihat bahwa persoalan yang akan kita hadapai tidak melulu soal identitas. Ini bukan berarti bahwa identitas bukan hal penting, tetapi ia me jadi salah satu dari banyak lagi persoalan yang harus kita selesaikan sebagai arsitek.

Secara global, kita sedang mengalami krisis iklim. Bidang konstruksi menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi krisis ini. Industri bahan bangunan terutama semen menyumbang setidaknya 8% emisi karbon global. Ini terjadi karena proses pembuatannya yang memerlukan energi intensif dan melepaskan karbon dioksida selama proses kimia pembakaran batu kapur.

Cuaca semakin ekstrim bisa berpengaruh terhadap cara kita merancang | Foto: Gede Maha Putra

Selain semen, pembuatan bahan-bahan bangunan lain juga membutuhkan proses yang turut menjadi penyumbang emisi. Belum lagi proses konstruksi dan operasional bangunan yang mengonsumsi 40%  energi global. Bahan-bahan bangunan harus diangkut dari tempat-tempat dimana industrinya berasal ke lokasi-lokasi pembangunan. Dalam perjalanannya, banyak energi fosil yang dibakar dan menghasilkan karbondioksida.

Saat bangunan sudah beroperasi, mesin-mesin AC bekerja nonstop setidaknya 8 jam sehari. Lift-lift dan eskalator juga menjadi konsumen energi yang besar dalam bangunan. Penggunaan alat transportasi vertikal ini kian sulit dihindari karena bangunan yang dibuat semakin besar dan tinggi.

Jika kita lihat dalam skala yang lebih lebar lagi, maka industri konstruksi juga menyumbang terhadap alih fungsi lahan termasuk hutan. Kita semua mengetahui jika pohon merupakan penyerap karbon alami. Pengurangan lahan hijau, dengan demikian, secara tidak langsung berperan aktif dalam peningkatan emisi karbon.

Pengetahuan-pengetahuan arsitek terhadap iklim kini perlu ditingkatkan. Pada masa pra-industri, kita mungkin membangun untuk melindungi diri dari panas terik matahari dan hujan. Hal ini membuat atap merupakan elemen yang sangat penting pada masa tradisional. Bangunan-bangunan pada masa itu dibangun dengan mengerjakan atap terlebih dahulu sebelum menciptakan ruang-ruang fungsional di bawahnya.

Kini, kita tidak sekedar berlindung tetapi sudah menjadi penyumbang bagi buruknya kualitas iklim. Sikap positif terhadap hal ini sangat dibutuhkan, jangan sampai kita sekadar membangun tanpa memperhatikan bahwa tindakan kita akan menjadi penyumbang bagi perubahan iklim. 

Tantangan berikutnya adalah urbanisasi yang terjadi akibat ketidakimbangan pembangunan dimana ada wilayah tertentu yang lebih menarik secara ekonomi dibandingkan dengan yang lain. Manusia berpindah ke daerah-daerah yang mampu memberikan taraf hidup yang lebih baik. Urbanisasi menjadi persoalan global dan membentuk tempat-tempat dengan kepadatan yang tinggi di beberapa titik. Fenomena ini bukan hanya terjadi karena masalah ekonomi tetapi juga politik, misalnya perang yang membuat orang harus meninggalkan wilayah konflik. Di daerah tujuan, lahan menjadi semakin langka karena persaingan yang tinggi, harganyapun semakin mahal, sehingga membuat akses terhadapnya semakin terbatas dan luasan yang semakin kecil.

Menciptakan ruang fungsional di lahan-lahan terbatas tanpa mengurangi kualitas hidup akan menjadi tantangan yang sangat nyata di masa mendatang. Banyak arsitek yang mulai tertarik untuk mengeksplorasi penciptaan ruang semacam ini dengan berbagai inovasinya. Karena, bukan hanya ruang hidup, melainkan ruang usaha juga akan turut terpengaruh oleh mengecilnya ruang-ruang di wilayah urban. Restaurant mungil, hotel di lahan terbatas, dan berbagai ruang usaha lain akan turut terdampak oleh fenomena urbanisasi yang tidak bisa dihentikan ini.

Urbanisasi menjadi tantangan bagi arsitek dan perancang kota untuk mewujudkan lingkungan yang berkualitas | Foto: tangkapan layar dari infodenpasar

Urbanisasi membawa dampak lain yaitu meningkatnya heterogenitas. Ini membawa dampak pada identitas yang juga menjadi tidak seragam. Upaya untuk mengedepankan hanya satu identitas akan berjumpa dengan upaya untuk mempertahankan identitas dari kelompok lain. Kesalahan penanganan terhadap hal ini akan berdampak pada menurunnya kualitas ikatan sosial di Masyarakat. Usaha-usaha untuk mencari identitas yang lebih netral sebenarnya sedang terjadi. Masyarakat heterogen terlihat tidak menonjolkan identitas yang bersumber dari latar belakang budaya tetapi latar ekonomi. Ini adalah identitas yang lebih universal tetapi belum tentu juga membawa dampak yang baik.

Penonjolan identitas bebasiskan pada kaya-miskin juga sama berbahayanya dengan upaya pemaksaan identitas satu kelompok terhadap kelompok lain.

Hal lain yang juga menjadi tantangan besar akibat dari urbanisasi adalah penyediaan infrastruktur. Untuk melayani pertambahan penduduk yang terus terjadi, pemerintah dituntut untuk mengambil keputusan yang cepat namun presisi. Kesalahan pengambilan keputusan bisa berdampak pada munculnya bencana seperti banjir, kemacetan, penumpukan sampah, munculnya permukiman kumuh dan berakhir pada persoalan social perkotaan.

Bentuk-bentuk lain yang lahir dari heterogenitas dalam upaya untuk menghidari benturan budaya adalah diterapkannya gaya-gaya arsitektur minimalis. Gaya ini tidak menonjolkan salah satu bentuk budaya tetapi lebih mendorong kepraktisan. Bagi penggemar fanatik budaya sebuah tempat, gaya ini dianggap berbahaya karena dapat menghilangkan ciri khas suatu tempat.

Gaya berikutnya yang juga muncul adalah hibridasi dari berbagai macam latar belakang budaya. Jika dalam karya-karya minimalis tidak mengedepankan koneksi personal atau kelompok, maka dalam karya hybrid yang terjadi justru sebaliknya. Setiap orang bisa memiliki koneksi personal karena di dalam proses hibridasi ini mengandung upaya untuk melihat banyak budaya dan menggabungkannya untuk melahirkan satu gaya yang bisa diterima semua. Interior mall-mall baru di Kota Denpasar nampaknya mengadopsi pendekatan ini dalam karya arsitektur dan interiornya. Wujud yang hadir tidak lagi mencerminkan satu budaya yang dominan.

Tipe-tipe investasi yang, apapun bentuknya, menginginkan pengembalian modal yang cepat akan turut berpengaruh pada arsitektur. Tetapi, pengaruhnya yang paling kentara ada pada material bangunan. Produsen bahan-bahan bangunan kini berupaya menghadirkan produk-produk inovatif. Di antara banyak produk yang hadir adalah yang memiliki klaim: mudah dipasang, tidak memerlukan semen, sangat praktis dan seterusnya.

Selain itu, dalam bidang interior, trend ini sudah lama terjadi dengan inovasi-inovasi furniture yang dibuat oleh produsen besar seperti IKEA. Tren modulasi dalam bidang arsitektur terjadi dalam bentuk hotel kabin, glamping, dan lainnya.

Produk-produk moduler bisa jadi akan membuat bangunan-bangunan menjadi terlihat sama. Di sini, dibutuhkan kreativitas arsitek agar mampu menciptakan karya desain dan bangunan dalam waktu cepat menggunakan modul-modul industri namun tetap menampilkan karakter personal. Karakter personal ini menunjukkan identitas pemilik dan juga arsitek perancang dan tempat di mana bangunan didirikan.

Tantangan lain, yang mungkin lebih berat, adalah penyediaan akses hunian baik lahan maupun pembiayaan untuk masyarakat yang kurang beruntung. Meskipun Bali menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi ekonomi tinggi, masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Penyediaan hunian untuk masyarakat yang kurang beruntung penting untuk dilakukan | Foto: Gede Maha Putra

Dalam empat tahun terakhir, Prodi Arsitektur Universitas Udayana melakukan gerakan sosial dalam bentuk bedah rumah. Bedah rumah dikhususkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan terutama yang disebabkan oleh keterbatasan kondisi fisik. Banyak di antara penerima bantuan adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan yang terpencil sehingga, selain dana, material yang tersediapun cukup terbatas.

Dalam model pembangunan yang kapitalistik, kelompok-kelompok ini tidak berdaya menghadapi pasar. Advokasi dibutuhkan agar mereka memiliki ruang hidup yang berkualitas. Arsitek yang memiliki perhatian terhadap kesetaraan dan bergelut di bidang aktivisme harus membangun ketrampilan lain yaitu membuka akses pendanaan dan akses terhadap lahan bagi masyarakat yang kurang beruntung.

Kegiatan aktivisme dalam bidang arsitektur nampaknya kalah populer dibandingkan dengan gemerlap dunia profesi dalam melayani bangunan-bangunan yang didanai kapital besar. Tidak banyak arsitek yang memperoleh nama besar dari aktivisme arsitektural.

Demikian juga majalah fisik serta media online seperti kurang bersemangat dalam mengangkat isu-isu sosial yang sebetulnya sangat dengan dunia rancang bangun. Bahkan, ada pandangan naif yang mengatakan jika bangunan-bangunan yang dibangun oleh masyarakat secara gotong royong bukanlah arsitektur! Hanya bangunan yang dirancang oleh arsiteklah yang layak disebut sebagai karya arsitektur. Ini salah arah.

Arsitektur harus mampu menjawab kebutuhan dasar manusia terhadap hunian yang layak, tidak peduli siapapun perancang dan pembagunnya.  

Tantangan-tantangan yang tersaji di atas masih bersifat pemenuhan kebutuhan fisik arsitektur. Tentu saja masih ada tantangan lain semisal menciptakan ruang-ruang kehidupan yang bermakna. Di dalam masyarakat yang sudah sangat heterogen dimana cengkeraman pasar yang kapitalistik sudah mendarah daging, pekerjaan untuk menemukan makna membangun, makna berhuni, dan menumbuhkan makna yang membuat kita berfikir lebih baik terhadap kehidupan tampak kian sulit.

Di tengah hiruk-pikuk geliat pembangunan, kita membutuhkan pikiran yang lebih jernih untuk mengatasi tantangan paling penting tentang arti dari keberadaan dan arsitektur yang menjadi latar kehidupan kita. [T]

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Tags: arsitekturarsitektur balipariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” — [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Next Post

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co