15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
December 31, 2024
in Esai
Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

Meskipun Bali dianggap cukup sejahtera, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki akses terhadap hunian yang layak

TANTANGAN arsitektur yang kita hadapi hari ini dan di masa yang datang akan semakin kompleks. Jika di berbagai platform sosial media muncul berbagai komentar yang mengarah pada kekhawatiran akan memudarnya identitas lokal, maka persoalan sesungguhnya jauh lebih rumit daripada sekadar wujud fisik arsitektur tersebut.

Spektrum persoalan-persoalan yang kita hadapi hari ini terbentang, mulai dari upaya untuk mengatasi tantangan dari karakter fisik alamiah lokasi dibangunnnya karya arsitektur hingga persoalan sosial yang membutuhkan respons dari para perancang bangunan dan kota. Respons yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan pun mungkin akan sangat beragam.

Ada banyak faktor yang berperan dalam pilihan-pilihan desain yang diambil oleh perancang selain faktor fisik alamiah. Faktor personal arsitek: latar belakang pendidikan, budaya, asal, bahkan gender turut menyertai keputusan-keputusan yang diambil oleh para perancang tersebut. Faktor ekonomi yang akan menjadi penyedia kapital bagi berdirinya sebuah bangunan juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Yang tidak kalah krusial adalah persoalan politik termasuk latar belakang sosial budaya yang menjadi setting bagi terwujudnya karya arsitektur.

Dengan melihat berbagai trend global serta geliat pertumbuhan arsitektur di tingkat lokal, saya mencoba mengurai beberapa tantangan yang sedang dan akan kita hadapi di masa depan. Melalui analisis terhadap trend persoalan global, arah penyelesaian-penyelesaian yang telah diambil oleh arsitek, serta pergerakan ekonomi dan sosial, maka kita bisa melihat bahwa persoalan yang akan kita hadapai tidak melulu soal identitas. Ini bukan berarti bahwa identitas bukan hal penting, tetapi ia me jadi salah satu dari banyak lagi persoalan yang harus kita selesaikan sebagai arsitek.

Secara global, kita sedang mengalami krisis iklim. Bidang konstruksi menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi krisis ini. Industri bahan bangunan terutama semen menyumbang setidaknya 8% emisi karbon global. Ini terjadi karena proses pembuatannya yang memerlukan energi intensif dan melepaskan karbon dioksida selama proses kimia pembakaran batu kapur.

Cuaca semakin ekstrim bisa berpengaruh terhadap cara kita merancang | Foto: Gede Maha Putra

Selain semen, pembuatan bahan-bahan bangunan lain juga membutuhkan proses yang turut menjadi penyumbang emisi. Belum lagi proses konstruksi dan operasional bangunan yang mengonsumsi 40%  energi global. Bahan-bahan bangunan harus diangkut dari tempat-tempat dimana industrinya berasal ke lokasi-lokasi pembangunan. Dalam perjalanannya, banyak energi fosil yang dibakar dan menghasilkan karbondioksida.

Saat bangunan sudah beroperasi, mesin-mesin AC bekerja nonstop setidaknya 8 jam sehari. Lift-lift dan eskalator juga menjadi konsumen energi yang besar dalam bangunan. Penggunaan alat transportasi vertikal ini kian sulit dihindari karena bangunan yang dibuat semakin besar dan tinggi.

Jika kita lihat dalam skala yang lebih lebar lagi, maka industri konstruksi juga menyumbang terhadap alih fungsi lahan termasuk hutan. Kita semua mengetahui jika pohon merupakan penyerap karbon alami. Pengurangan lahan hijau, dengan demikian, secara tidak langsung berperan aktif dalam peningkatan emisi karbon.

Pengetahuan-pengetahuan arsitek terhadap iklim kini perlu ditingkatkan. Pada masa pra-industri, kita mungkin membangun untuk melindungi diri dari panas terik matahari dan hujan. Hal ini membuat atap merupakan elemen yang sangat penting pada masa tradisional. Bangunan-bangunan pada masa itu dibangun dengan mengerjakan atap terlebih dahulu sebelum menciptakan ruang-ruang fungsional di bawahnya.

Kini, kita tidak sekedar berlindung tetapi sudah menjadi penyumbang bagi buruknya kualitas iklim. Sikap positif terhadap hal ini sangat dibutuhkan, jangan sampai kita sekadar membangun tanpa memperhatikan bahwa tindakan kita akan menjadi penyumbang bagi perubahan iklim. 

Tantangan berikutnya adalah urbanisasi yang terjadi akibat ketidakimbangan pembangunan dimana ada wilayah tertentu yang lebih menarik secara ekonomi dibandingkan dengan yang lain. Manusia berpindah ke daerah-daerah yang mampu memberikan taraf hidup yang lebih baik. Urbanisasi menjadi persoalan global dan membentuk tempat-tempat dengan kepadatan yang tinggi di beberapa titik. Fenomena ini bukan hanya terjadi karena masalah ekonomi tetapi juga politik, misalnya perang yang membuat orang harus meninggalkan wilayah konflik. Di daerah tujuan, lahan menjadi semakin langka karena persaingan yang tinggi, harganyapun semakin mahal, sehingga membuat akses terhadapnya semakin terbatas dan luasan yang semakin kecil.

Menciptakan ruang fungsional di lahan-lahan terbatas tanpa mengurangi kualitas hidup akan menjadi tantangan yang sangat nyata di masa mendatang. Banyak arsitek yang mulai tertarik untuk mengeksplorasi penciptaan ruang semacam ini dengan berbagai inovasinya. Karena, bukan hanya ruang hidup, melainkan ruang usaha juga akan turut terpengaruh oleh mengecilnya ruang-ruang di wilayah urban. Restaurant mungil, hotel di lahan terbatas, dan berbagai ruang usaha lain akan turut terdampak oleh fenomena urbanisasi yang tidak bisa dihentikan ini.

Urbanisasi menjadi tantangan bagi arsitek dan perancang kota untuk mewujudkan lingkungan yang berkualitas | Foto: tangkapan layar dari infodenpasar

Urbanisasi membawa dampak lain yaitu meningkatnya heterogenitas. Ini membawa dampak pada identitas yang juga menjadi tidak seragam. Upaya untuk mengedepankan hanya satu identitas akan berjumpa dengan upaya untuk mempertahankan identitas dari kelompok lain. Kesalahan penanganan terhadap hal ini akan berdampak pada menurunnya kualitas ikatan sosial di Masyarakat. Usaha-usaha untuk mencari identitas yang lebih netral sebenarnya sedang terjadi. Masyarakat heterogen terlihat tidak menonjolkan identitas yang bersumber dari latar belakang budaya tetapi latar ekonomi. Ini adalah identitas yang lebih universal tetapi belum tentu juga membawa dampak yang baik.

Penonjolan identitas bebasiskan pada kaya-miskin juga sama berbahayanya dengan upaya pemaksaan identitas satu kelompok terhadap kelompok lain.

Hal lain yang juga menjadi tantangan besar akibat dari urbanisasi adalah penyediaan infrastruktur. Untuk melayani pertambahan penduduk yang terus terjadi, pemerintah dituntut untuk mengambil keputusan yang cepat namun presisi. Kesalahan pengambilan keputusan bisa berdampak pada munculnya bencana seperti banjir, kemacetan, penumpukan sampah, munculnya permukiman kumuh dan berakhir pada persoalan social perkotaan.

Bentuk-bentuk lain yang lahir dari heterogenitas dalam upaya untuk menghidari benturan budaya adalah diterapkannya gaya-gaya arsitektur minimalis. Gaya ini tidak menonjolkan salah satu bentuk budaya tetapi lebih mendorong kepraktisan. Bagi penggemar fanatik budaya sebuah tempat, gaya ini dianggap berbahaya karena dapat menghilangkan ciri khas suatu tempat.

Gaya berikutnya yang juga muncul adalah hibridasi dari berbagai macam latar belakang budaya. Jika dalam karya-karya minimalis tidak mengedepankan koneksi personal atau kelompok, maka dalam karya hybrid yang terjadi justru sebaliknya. Setiap orang bisa memiliki koneksi personal karena di dalam proses hibridasi ini mengandung upaya untuk melihat banyak budaya dan menggabungkannya untuk melahirkan satu gaya yang bisa diterima semua. Interior mall-mall baru di Kota Denpasar nampaknya mengadopsi pendekatan ini dalam karya arsitektur dan interiornya. Wujud yang hadir tidak lagi mencerminkan satu budaya yang dominan.

Tipe-tipe investasi yang, apapun bentuknya, menginginkan pengembalian modal yang cepat akan turut berpengaruh pada arsitektur. Tetapi, pengaruhnya yang paling kentara ada pada material bangunan. Produsen bahan-bahan bangunan kini berupaya menghadirkan produk-produk inovatif. Di antara banyak produk yang hadir adalah yang memiliki klaim: mudah dipasang, tidak memerlukan semen, sangat praktis dan seterusnya.

Selain itu, dalam bidang interior, trend ini sudah lama terjadi dengan inovasi-inovasi furniture yang dibuat oleh produsen besar seperti IKEA. Tren modulasi dalam bidang arsitektur terjadi dalam bentuk hotel kabin, glamping, dan lainnya.

Produk-produk moduler bisa jadi akan membuat bangunan-bangunan menjadi terlihat sama. Di sini, dibutuhkan kreativitas arsitek agar mampu menciptakan karya desain dan bangunan dalam waktu cepat menggunakan modul-modul industri namun tetap menampilkan karakter personal. Karakter personal ini menunjukkan identitas pemilik dan juga arsitek perancang dan tempat di mana bangunan didirikan.

Tantangan lain, yang mungkin lebih berat, adalah penyediaan akses hunian baik lahan maupun pembiayaan untuk masyarakat yang kurang beruntung. Meskipun Bali menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi ekonomi tinggi, masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Penyediaan hunian untuk masyarakat yang kurang beruntung penting untuk dilakukan | Foto: Gede Maha Putra

Dalam empat tahun terakhir, Prodi Arsitektur Universitas Udayana melakukan gerakan sosial dalam bentuk bedah rumah. Bedah rumah dikhususkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan terutama yang disebabkan oleh keterbatasan kondisi fisik. Banyak di antara penerima bantuan adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan yang terpencil sehingga, selain dana, material yang tersediapun cukup terbatas.

Dalam model pembangunan yang kapitalistik, kelompok-kelompok ini tidak berdaya menghadapi pasar. Advokasi dibutuhkan agar mereka memiliki ruang hidup yang berkualitas. Arsitek yang memiliki perhatian terhadap kesetaraan dan bergelut di bidang aktivisme harus membangun ketrampilan lain yaitu membuka akses pendanaan dan akses terhadap lahan bagi masyarakat yang kurang beruntung.

Kegiatan aktivisme dalam bidang arsitektur nampaknya kalah populer dibandingkan dengan gemerlap dunia profesi dalam melayani bangunan-bangunan yang didanai kapital besar. Tidak banyak arsitek yang memperoleh nama besar dari aktivisme arsitektural.

Demikian juga majalah fisik serta media online seperti kurang bersemangat dalam mengangkat isu-isu sosial yang sebetulnya sangat dengan dunia rancang bangun. Bahkan, ada pandangan naif yang mengatakan jika bangunan-bangunan yang dibangun oleh masyarakat secara gotong royong bukanlah arsitektur! Hanya bangunan yang dirancang oleh arsiteklah yang layak disebut sebagai karya arsitektur. Ini salah arah.

Arsitektur harus mampu menjawab kebutuhan dasar manusia terhadap hunian yang layak, tidak peduli siapapun perancang dan pembagunnya.  

Tantangan-tantangan yang tersaji di atas masih bersifat pemenuhan kebutuhan fisik arsitektur. Tentu saja masih ada tantangan lain semisal menciptakan ruang-ruang kehidupan yang bermakna. Di dalam masyarakat yang sudah sangat heterogen dimana cengkeraman pasar yang kapitalistik sudah mendarah daging, pekerjaan untuk menemukan makna membangun, makna berhuni, dan menumbuhkan makna yang membuat kita berfikir lebih baik terhadap kehidupan tampak kian sulit.

Di tengah hiruk-pikuk geliat pembangunan, kita membutuhkan pikiran yang lebih jernih untuk mengatasi tantangan paling penting tentang arti dari keberadaan dan arsitektur yang menjadi latar kehidupan kita. [T]

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Tags: arsitekturarsitektur balipariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” — [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Next Post

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co