5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
December 31, 2024
in Esai
Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

Meskipun Bali dianggap cukup sejahtera, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki akses terhadap hunian yang layak

TANTANGAN arsitektur yang kita hadapi hari ini dan di masa yang datang akan semakin kompleks. Jika di berbagai platform sosial media muncul berbagai komentar yang mengarah pada kekhawatiran akan memudarnya identitas lokal, maka persoalan sesungguhnya jauh lebih rumit daripada sekadar wujud fisik arsitektur tersebut.

Spektrum persoalan-persoalan yang kita hadapi hari ini terbentang, mulai dari upaya untuk mengatasi tantangan dari karakter fisik alamiah lokasi dibangunnnya karya arsitektur hingga persoalan sosial yang membutuhkan respons dari para perancang bangunan dan kota. Respons yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan pun mungkin akan sangat beragam.

Ada banyak faktor yang berperan dalam pilihan-pilihan desain yang diambil oleh perancang selain faktor fisik alamiah. Faktor personal arsitek: latar belakang pendidikan, budaya, asal, bahkan gender turut menyertai keputusan-keputusan yang diambil oleh para perancang tersebut. Faktor ekonomi yang akan menjadi penyedia kapital bagi berdirinya sebuah bangunan juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Yang tidak kalah krusial adalah persoalan politik termasuk latar belakang sosial budaya yang menjadi setting bagi terwujudnya karya arsitektur.

Dengan melihat berbagai trend global serta geliat pertumbuhan arsitektur di tingkat lokal, saya mencoba mengurai beberapa tantangan yang sedang dan akan kita hadapi di masa depan. Melalui analisis terhadap trend persoalan global, arah penyelesaian-penyelesaian yang telah diambil oleh arsitek, serta pergerakan ekonomi dan sosial, maka kita bisa melihat bahwa persoalan yang akan kita hadapai tidak melulu soal identitas. Ini bukan berarti bahwa identitas bukan hal penting, tetapi ia me jadi salah satu dari banyak lagi persoalan yang harus kita selesaikan sebagai arsitek.

Secara global, kita sedang mengalami krisis iklim. Bidang konstruksi menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi krisis ini. Industri bahan bangunan terutama semen menyumbang setidaknya 8% emisi karbon global. Ini terjadi karena proses pembuatannya yang memerlukan energi intensif dan melepaskan karbon dioksida selama proses kimia pembakaran batu kapur.

Cuaca semakin ekstrim bisa berpengaruh terhadap cara kita merancang | Foto: Gede Maha Putra

Selain semen, pembuatan bahan-bahan bangunan lain juga membutuhkan proses yang turut menjadi penyumbang emisi. Belum lagi proses konstruksi dan operasional bangunan yang mengonsumsi 40%  energi global. Bahan-bahan bangunan harus diangkut dari tempat-tempat dimana industrinya berasal ke lokasi-lokasi pembangunan. Dalam perjalanannya, banyak energi fosil yang dibakar dan menghasilkan karbondioksida.

Saat bangunan sudah beroperasi, mesin-mesin AC bekerja nonstop setidaknya 8 jam sehari. Lift-lift dan eskalator juga menjadi konsumen energi yang besar dalam bangunan. Penggunaan alat transportasi vertikal ini kian sulit dihindari karena bangunan yang dibuat semakin besar dan tinggi.

Jika kita lihat dalam skala yang lebih lebar lagi, maka industri konstruksi juga menyumbang terhadap alih fungsi lahan termasuk hutan. Kita semua mengetahui jika pohon merupakan penyerap karbon alami. Pengurangan lahan hijau, dengan demikian, secara tidak langsung berperan aktif dalam peningkatan emisi karbon.

Pengetahuan-pengetahuan arsitek terhadap iklim kini perlu ditingkatkan. Pada masa pra-industri, kita mungkin membangun untuk melindungi diri dari panas terik matahari dan hujan. Hal ini membuat atap merupakan elemen yang sangat penting pada masa tradisional. Bangunan-bangunan pada masa itu dibangun dengan mengerjakan atap terlebih dahulu sebelum menciptakan ruang-ruang fungsional di bawahnya.

Kini, kita tidak sekedar berlindung tetapi sudah menjadi penyumbang bagi buruknya kualitas iklim. Sikap positif terhadap hal ini sangat dibutuhkan, jangan sampai kita sekadar membangun tanpa memperhatikan bahwa tindakan kita akan menjadi penyumbang bagi perubahan iklim. 

Tantangan berikutnya adalah urbanisasi yang terjadi akibat ketidakimbangan pembangunan dimana ada wilayah tertentu yang lebih menarik secara ekonomi dibandingkan dengan yang lain. Manusia berpindah ke daerah-daerah yang mampu memberikan taraf hidup yang lebih baik. Urbanisasi menjadi persoalan global dan membentuk tempat-tempat dengan kepadatan yang tinggi di beberapa titik. Fenomena ini bukan hanya terjadi karena masalah ekonomi tetapi juga politik, misalnya perang yang membuat orang harus meninggalkan wilayah konflik. Di daerah tujuan, lahan menjadi semakin langka karena persaingan yang tinggi, harganyapun semakin mahal, sehingga membuat akses terhadapnya semakin terbatas dan luasan yang semakin kecil.

Menciptakan ruang fungsional di lahan-lahan terbatas tanpa mengurangi kualitas hidup akan menjadi tantangan yang sangat nyata di masa mendatang. Banyak arsitek yang mulai tertarik untuk mengeksplorasi penciptaan ruang semacam ini dengan berbagai inovasinya. Karena, bukan hanya ruang hidup, melainkan ruang usaha juga akan turut terpengaruh oleh mengecilnya ruang-ruang di wilayah urban. Restaurant mungil, hotel di lahan terbatas, dan berbagai ruang usaha lain akan turut terdampak oleh fenomena urbanisasi yang tidak bisa dihentikan ini.

Urbanisasi menjadi tantangan bagi arsitek dan perancang kota untuk mewujudkan lingkungan yang berkualitas | Foto: tangkapan layar dari infodenpasar

Urbanisasi membawa dampak lain yaitu meningkatnya heterogenitas. Ini membawa dampak pada identitas yang juga menjadi tidak seragam. Upaya untuk mengedepankan hanya satu identitas akan berjumpa dengan upaya untuk mempertahankan identitas dari kelompok lain. Kesalahan penanganan terhadap hal ini akan berdampak pada menurunnya kualitas ikatan sosial di Masyarakat. Usaha-usaha untuk mencari identitas yang lebih netral sebenarnya sedang terjadi. Masyarakat heterogen terlihat tidak menonjolkan identitas yang bersumber dari latar belakang budaya tetapi latar ekonomi. Ini adalah identitas yang lebih universal tetapi belum tentu juga membawa dampak yang baik.

Penonjolan identitas bebasiskan pada kaya-miskin juga sama berbahayanya dengan upaya pemaksaan identitas satu kelompok terhadap kelompok lain.

Hal lain yang juga menjadi tantangan besar akibat dari urbanisasi adalah penyediaan infrastruktur. Untuk melayani pertambahan penduduk yang terus terjadi, pemerintah dituntut untuk mengambil keputusan yang cepat namun presisi. Kesalahan pengambilan keputusan bisa berdampak pada munculnya bencana seperti banjir, kemacetan, penumpukan sampah, munculnya permukiman kumuh dan berakhir pada persoalan social perkotaan.

Bentuk-bentuk lain yang lahir dari heterogenitas dalam upaya untuk menghidari benturan budaya adalah diterapkannya gaya-gaya arsitektur minimalis. Gaya ini tidak menonjolkan salah satu bentuk budaya tetapi lebih mendorong kepraktisan. Bagi penggemar fanatik budaya sebuah tempat, gaya ini dianggap berbahaya karena dapat menghilangkan ciri khas suatu tempat.

Gaya berikutnya yang juga muncul adalah hibridasi dari berbagai macam latar belakang budaya. Jika dalam karya-karya minimalis tidak mengedepankan koneksi personal atau kelompok, maka dalam karya hybrid yang terjadi justru sebaliknya. Setiap orang bisa memiliki koneksi personal karena di dalam proses hibridasi ini mengandung upaya untuk melihat banyak budaya dan menggabungkannya untuk melahirkan satu gaya yang bisa diterima semua. Interior mall-mall baru di Kota Denpasar nampaknya mengadopsi pendekatan ini dalam karya arsitektur dan interiornya. Wujud yang hadir tidak lagi mencerminkan satu budaya yang dominan.

Tipe-tipe investasi yang, apapun bentuknya, menginginkan pengembalian modal yang cepat akan turut berpengaruh pada arsitektur. Tetapi, pengaruhnya yang paling kentara ada pada material bangunan. Produsen bahan-bahan bangunan kini berupaya menghadirkan produk-produk inovatif. Di antara banyak produk yang hadir adalah yang memiliki klaim: mudah dipasang, tidak memerlukan semen, sangat praktis dan seterusnya.

Selain itu, dalam bidang interior, trend ini sudah lama terjadi dengan inovasi-inovasi furniture yang dibuat oleh produsen besar seperti IKEA. Tren modulasi dalam bidang arsitektur terjadi dalam bentuk hotel kabin, glamping, dan lainnya.

Produk-produk moduler bisa jadi akan membuat bangunan-bangunan menjadi terlihat sama. Di sini, dibutuhkan kreativitas arsitek agar mampu menciptakan karya desain dan bangunan dalam waktu cepat menggunakan modul-modul industri namun tetap menampilkan karakter personal. Karakter personal ini menunjukkan identitas pemilik dan juga arsitek perancang dan tempat di mana bangunan didirikan.

Tantangan lain, yang mungkin lebih berat, adalah penyediaan akses hunian baik lahan maupun pembiayaan untuk masyarakat yang kurang beruntung. Meskipun Bali menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi ekonomi tinggi, masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Penyediaan hunian untuk masyarakat yang kurang beruntung penting untuk dilakukan | Foto: Gede Maha Putra

Dalam empat tahun terakhir, Prodi Arsitektur Universitas Udayana melakukan gerakan sosial dalam bentuk bedah rumah. Bedah rumah dikhususkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan terutama yang disebabkan oleh keterbatasan kondisi fisik. Banyak di antara penerima bantuan adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan yang terpencil sehingga, selain dana, material yang tersediapun cukup terbatas.

Dalam model pembangunan yang kapitalistik, kelompok-kelompok ini tidak berdaya menghadapi pasar. Advokasi dibutuhkan agar mereka memiliki ruang hidup yang berkualitas. Arsitek yang memiliki perhatian terhadap kesetaraan dan bergelut di bidang aktivisme harus membangun ketrampilan lain yaitu membuka akses pendanaan dan akses terhadap lahan bagi masyarakat yang kurang beruntung.

Kegiatan aktivisme dalam bidang arsitektur nampaknya kalah populer dibandingkan dengan gemerlap dunia profesi dalam melayani bangunan-bangunan yang didanai kapital besar. Tidak banyak arsitek yang memperoleh nama besar dari aktivisme arsitektural.

Demikian juga majalah fisik serta media online seperti kurang bersemangat dalam mengangkat isu-isu sosial yang sebetulnya sangat dengan dunia rancang bangun. Bahkan, ada pandangan naif yang mengatakan jika bangunan-bangunan yang dibangun oleh masyarakat secara gotong royong bukanlah arsitektur! Hanya bangunan yang dirancang oleh arsiteklah yang layak disebut sebagai karya arsitektur. Ini salah arah.

Arsitektur harus mampu menjawab kebutuhan dasar manusia terhadap hunian yang layak, tidak peduli siapapun perancang dan pembagunnya.  

Tantangan-tantangan yang tersaji di atas masih bersifat pemenuhan kebutuhan fisik arsitektur. Tentu saja masih ada tantangan lain semisal menciptakan ruang-ruang kehidupan yang bermakna. Di dalam masyarakat yang sudah sangat heterogen dimana cengkeraman pasar yang kapitalistik sudah mendarah daging, pekerjaan untuk menemukan makna membangun, makna berhuni, dan menumbuhkan makna yang membuat kita berfikir lebih baik terhadap kehidupan tampak kian sulit.

Di tengah hiruk-pikuk geliat pembangunan, kita membutuhkan pikiran yang lebih jernih untuk mengatasi tantangan paling penting tentang arti dari keberadaan dan arsitektur yang menjadi latar kehidupan kita. [T]

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Tags: arsitekturarsitektur balipariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” — [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Next Post

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co