4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
December 31, 2024
in Esai
Apa Tantangan Arsitektur di Bali Saat ini dan Masa yang akan Datang?

Meskipun Bali dianggap cukup sejahtera, masih banyak penduduknya yang tidak memiliki akses terhadap hunian yang layak

TANTANGAN arsitektur yang kita hadapi hari ini dan di masa yang datang akan semakin kompleks. Jika di berbagai platform sosial media muncul berbagai komentar yang mengarah pada kekhawatiran akan memudarnya identitas lokal, maka persoalan sesungguhnya jauh lebih rumit daripada sekadar wujud fisik arsitektur tersebut.

Spektrum persoalan-persoalan yang kita hadapi hari ini terbentang, mulai dari upaya untuk mengatasi tantangan dari karakter fisik alamiah lokasi dibangunnnya karya arsitektur hingga persoalan sosial yang membutuhkan respons dari para perancang bangunan dan kota. Respons yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan pun mungkin akan sangat beragam.

Ada banyak faktor yang berperan dalam pilihan-pilihan desain yang diambil oleh perancang selain faktor fisik alamiah. Faktor personal arsitek: latar belakang pendidikan, budaya, asal, bahkan gender turut menyertai keputusan-keputusan yang diambil oleh para perancang tersebut. Faktor ekonomi yang akan menjadi penyedia kapital bagi berdirinya sebuah bangunan juga sangat penting untuk dipertimbangkan. Yang tidak kalah krusial adalah persoalan politik termasuk latar belakang sosial budaya yang menjadi setting bagi terwujudnya karya arsitektur.

Dengan melihat berbagai trend global serta geliat pertumbuhan arsitektur di tingkat lokal, saya mencoba mengurai beberapa tantangan yang sedang dan akan kita hadapi di masa depan. Melalui analisis terhadap trend persoalan global, arah penyelesaian-penyelesaian yang telah diambil oleh arsitek, serta pergerakan ekonomi dan sosial, maka kita bisa melihat bahwa persoalan yang akan kita hadapai tidak melulu soal identitas. Ini bukan berarti bahwa identitas bukan hal penting, tetapi ia me jadi salah satu dari banyak lagi persoalan yang harus kita selesaikan sebagai arsitek.

Secara global, kita sedang mengalami krisis iklim. Bidang konstruksi menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi krisis ini. Industri bahan bangunan terutama semen menyumbang setidaknya 8% emisi karbon global. Ini terjadi karena proses pembuatannya yang memerlukan energi intensif dan melepaskan karbon dioksida selama proses kimia pembakaran batu kapur.

Cuaca semakin ekstrim bisa berpengaruh terhadap cara kita merancang | Foto: Gede Maha Putra

Selain semen, pembuatan bahan-bahan bangunan lain juga membutuhkan proses yang turut menjadi penyumbang emisi. Belum lagi proses konstruksi dan operasional bangunan yang mengonsumsi 40%  energi global. Bahan-bahan bangunan harus diangkut dari tempat-tempat dimana industrinya berasal ke lokasi-lokasi pembangunan. Dalam perjalanannya, banyak energi fosil yang dibakar dan menghasilkan karbondioksida.

Saat bangunan sudah beroperasi, mesin-mesin AC bekerja nonstop setidaknya 8 jam sehari. Lift-lift dan eskalator juga menjadi konsumen energi yang besar dalam bangunan. Penggunaan alat transportasi vertikal ini kian sulit dihindari karena bangunan yang dibuat semakin besar dan tinggi.

Jika kita lihat dalam skala yang lebih lebar lagi, maka industri konstruksi juga menyumbang terhadap alih fungsi lahan termasuk hutan. Kita semua mengetahui jika pohon merupakan penyerap karbon alami. Pengurangan lahan hijau, dengan demikian, secara tidak langsung berperan aktif dalam peningkatan emisi karbon.

Pengetahuan-pengetahuan arsitek terhadap iklim kini perlu ditingkatkan. Pada masa pra-industri, kita mungkin membangun untuk melindungi diri dari panas terik matahari dan hujan. Hal ini membuat atap merupakan elemen yang sangat penting pada masa tradisional. Bangunan-bangunan pada masa itu dibangun dengan mengerjakan atap terlebih dahulu sebelum menciptakan ruang-ruang fungsional di bawahnya.

Kini, kita tidak sekedar berlindung tetapi sudah menjadi penyumbang bagi buruknya kualitas iklim. Sikap positif terhadap hal ini sangat dibutuhkan, jangan sampai kita sekadar membangun tanpa memperhatikan bahwa tindakan kita akan menjadi penyumbang bagi perubahan iklim. 

Tantangan berikutnya adalah urbanisasi yang terjadi akibat ketidakimbangan pembangunan dimana ada wilayah tertentu yang lebih menarik secara ekonomi dibandingkan dengan yang lain. Manusia berpindah ke daerah-daerah yang mampu memberikan taraf hidup yang lebih baik. Urbanisasi menjadi persoalan global dan membentuk tempat-tempat dengan kepadatan yang tinggi di beberapa titik. Fenomena ini bukan hanya terjadi karena masalah ekonomi tetapi juga politik, misalnya perang yang membuat orang harus meninggalkan wilayah konflik. Di daerah tujuan, lahan menjadi semakin langka karena persaingan yang tinggi, harganyapun semakin mahal, sehingga membuat akses terhadapnya semakin terbatas dan luasan yang semakin kecil.

Menciptakan ruang fungsional di lahan-lahan terbatas tanpa mengurangi kualitas hidup akan menjadi tantangan yang sangat nyata di masa mendatang. Banyak arsitek yang mulai tertarik untuk mengeksplorasi penciptaan ruang semacam ini dengan berbagai inovasinya. Karena, bukan hanya ruang hidup, melainkan ruang usaha juga akan turut terpengaruh oleh mengecilnya ruang-ruang di wilayah urban. Restaurant mungil, hotel di lahan terbatas, dan berbagai ruang usaha lain akan turut terdampak oleh fenomena urbanisasi yang tidak bisa dihentikan ini.

Urbanisasi menjadi tantangan bagi arsitek dan perancang kota untuk mewujudkan lingkungan yang berkualitas | Foto: tangkapan layar dari infodenpasar

Urbanisasi membawa dampak lain yaitu meningkatnya heterogenitas. Ini membawa dampak pada identitas yang juga menjadi tidak seragam. Upaya untuk mengedepankan hanya satu identitas akan berjumpa dengan upaya untuk mempertahankan identitas dari kelompok lain. Kesalahan penanganan terhadap hal ini akan berdampak pada menurunnya kualitas ikatan sosial di Masyarakat. Usaha-usaha untuk mencari identitas yang lebih netral sebenarnya sedang terjadi. Masyarakat heterogen terlihat tidak menonjolkan identitas yang bersumber dari latar belakang budaya tetapi latar ekonomi. Ini adalah identitas yang lebih universal tetapi belum tentu juga membawa dampak yang baik.

Penonjolan identitas bebasiskan pada kaya-miskin juga sama berbahayanya dengan upaya pemaksaan identitas satu kelompok terhadap kelompok lain.

Hal lain yang juga menjadi tantangan besar akibat dari urbanisasi adalah penyediaan infrastruktur. Untuk melayani pertambahan penduduk yang terus terjadi, pemerintah dituntut untuk mengambil keputusan yang cepat namun presisi. Kesalahan pengambilan keputusan bisa berdampak pada munculnya bencana seperti banjir, kemacetan, penumpukan sampah, munculnya permukiman kumuh dan berakhir pada persoalan social perkotaan.

Bentuk-bentuk lain yang lahir dari heterogenitas dalam upaya untuk menghidari benturan budaya adalah diterapkannya gaya-gaya arsitektur minimalis. Gaya ini tidak menonjolkan salah satu bentuk budaya tetapi lebih mendorong kepraktisan. Bagi penggemar fanatik budaya sebuah tempat, gaya ini dianggap berbahaya karena dapat menghilangkan ciri khas suatu tempat.

Gaya berikutnya yang juga muncul adalah hibridasi dari berbagai macam latar belakang budaya. Jika dalam karya-karya minimalis tidak mengedepankan koneksi personal atau kelompok, maka dalam karya hybrid yang terjadi justru sebaliknya. Setiap orang bisa memiliki koneksi personal karena di dalam proses hibridasi ini mengandung upaya untuk melihat banyak budaya dan menggabungkannya untuk melahirkan satu gaya yang bisa diterima semua. Interior mall-mall baru di Kota Denpasar nampaknya mengadopsi pendekatan ini dalam karya arsitektur dan interiornya. Wujud yang hadir tidak lagi mencerminkan satu budaya yang dominan.

Tipe-tipe investasi yang, apapun bentuknya, menginginkan pengembalian modal yang cepat akan turut berpengaruh pada arsitektur. Tetapi, pengaruhnya yang paling kentara ada pada material bangunan. Produsen bahan-bahan bangunan kini berupaya menghadirkan produk-produk inovatif. Di antara banyak produk yang hadir adalah yang memiliki klaim: mudah dipasang, tidak memerlukan semen, sangat praktis dan seterusnya.

Selain itu, dalam bidang interior, trend ini sudah lama terjadi dengan inovasi-inovasi furniture yang dibuat oleh produsen besar seperti IKEA. Tren modulasi dalam bidang arsitektur terjadi dalam bentuk hotel kabin, glamping, dan lainnya.

Produk-produk moduler bisa jadi akan membuat bangunan-bangunan menjadi terlihat sama. Di sini, dibutuhkan kreativitas arsitek agar mampu menciptakan karya desain dan bangunan dalam waktu cepat menggunakan modul-modul industri namun tetap menampilkan karakter personal. Karakter personal ini menunjukkan identitas pemilik dan juga arsitek perancang dan tempat di mana bangunan didirikan.

Tantangan lain, yang mungkin lebih berat, adalah penyediaan akses hunian baik lahan maupun pembiayaan untuk masyarakat yang kurang beruntung. Meskipun Bali menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi ekonomi tinggi, masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Penyediaan hunian untuk masyarakat yang kurang beruntung penting untuk dilakukan | Foto: Gede Maha Putra

Dalam empat tahun terakhir, Prodi Arsitektur Universitas Udayana melakukan gerakan sosial dalam bentuk bedah rumah. Bedah rumah dikhususkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan terutama yang disebabkan oleh keterbatasan kondisi fisik. Banyak di antara penerima bantuan adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan yang terpencil sehingga, selain dana, material yang tersediapun cukup terbatas.

Dalam model pembangunan yang kapitalistik, kelompok-kelompok ini tidak berdaya menghadapi pasar. Advokasi dibutuhkan agar mereka memiliki ruang hidup yang berkualitas. Arsitek yang memiliki perhatian terhadap kesetaraan dan bergelut di bidang aktivisme harus membangun ketrampilan lain yaitu membuka akses pendanaan dan akses terhadap lahan bagi masyarakat yang kurang beruntung.

Kegiatan aktivisme dalam bidang arsitektur nampaknya kalah populer dibandingkan dengan gemerlap dunia profesi dalam melayani bangunan-bangunan yang didanai kapital besar. Tidak banyak arsitek yang memperoleh nama besar dari aktivisme arsitektural.

Demikian juga majalah fisik serta media online seperti kurang bersemangat dalam mengangkat isu-isu sosial yang sebetulnya sangat dengan dunia rancang bangun. Bahkan, ada pandangan naif yang mengatakan jika bangunan-bangunan yang dibangun oleh masyarakat secara gotong royong bukanlah arsitektur! Hanya bangunan yang dirancang oleh arsiteklah yang layak disebut sebagai karya arsitektur. Ini salah arah.

Arsitektur harus mampu menjawab kebutuhan dasar manusia terhadap hunian yang layak, tidak peduli siapapun perancang dan pembagunnya.  

Tantangan-tantangan yang tersaji di atas masih bersifat pemenuhan kebutuhan fisik arsitektur. Tentu saja masih ada tantangan lain semisal menciptakan ruang-ruang kehidupan yang bermakna. Di dalam masyarakat yang sudah sangat heterogen dimana cengkeraman pasar yang kapitalistik sudah mendarah daging, pekerjaan untuk menemukan makna membangun, makna berhuni, dan menumbuhkan makna yang membuat kita berfikir lebih baik terhadap kehidupan tampak kian sulit.

Di tengah hiruk-pikuk geliat pembangunan, kita membutuhkan pikiran yang lebih jernih untuk mengatasi tantangan paling penting tentang arti dari keberadaan dan arsitektur yang menjadi latar kehidupan kita. [T]

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Meramal  Wujud Arsitektur di Bali pada Masa yang Akan Datang
Terra Mater, Renungan Tentang Hutan dan Kepemilikan Bersama dari Dusun Menelima, NTT
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Tags: arsitekturarsitektur balipariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” — [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Next Post

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co