24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
December 4, 2024
in Esai
Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

DALAM pergaulan sehari-hari, terutama di kalangan wong embongan, guyon dengan memakai kata-kata kasar sering kali menjadi ekspresi keakraban yang dianggap wajar. Memanggil teman dengan sebutan seperti “blok/goblok,” “asu,” “babi,” “cuk/jancuk,” atau bahkan “setan” (dan sederet nama turunannya) tidak dimaksudkan sebagai penghinaan. Sebaliknya, ia menjadi semacam kode sosial, tanda bahwa hubungan di antara mereka cukup dekat untuk berbagi guyon tanpa memicu sakit hati.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa, dalam konteks tertentu, memiliki fungsi yang fleksibel dan bergantung pada relasi sosial di baliknya. Sebagai contoh, ada seorang teman di tempat kerja yang dipanggil “Dajjal”. Panggilan itu bermula dari kelakar seorang teman yang lain, lalu diadopsi oleh semua orang sehingga nama asli si “Dajjal” terlupakan. Terdengarnya itu panggilan yang sangat kasar, tapi alih-alih sebagai bentuk penghinaan, justru ia menerima panggilan tersebut dengan senang-senang saja dan penuh suasana keakraban.

Namun, keakraban semacam ini memiliki batas yang jelas. Ia bergantung pada kesepahaman di antara pelaku interaksi. Guyon, dengan memakai kata-kata kasar, baik sebagai panggilan ataupun olok-olok di sela perbincangan tertentu, hanya bisa diterima jika semua pihak yang terlibat berada dalam relasi yang setara dan memahami konteksnya. Ketika guyon semacam ini diterapkan di luar lingkup kedekatan atau tanpa adanya kesepahaman, ia kehilangan makna awalnya sebagai ekspresi keakraban dan justru berubah menjadi tindakan ofensif.

Dalam ruang publik atau di hadapan orang asing, gaya guyon ini mustahil diterima tanpa risiko kesalahpahaman. Hal ini menunjukkan bahwa guyon adalah produk budaya yang sangat kontekstual dan tidak universal. Apa yang dianggap lucu di satu komunitas bisa menjadi penghinaan di komunitas lain. Dalam kata lain, guyon tidak hanya soal isi pesan, tetapi juga soal relasi sosial dan dinamika kuasa di antara pelakunya.

Fenomena ini menjadi lebih kompleks ketika dimasukkan ke dalam konteks relasi kuasa. Sebagaimana yang baru saja terjadi, kasus seorang tokoh bernama Miftah memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana guyon yang tidak mempertimbangkan konteks dapat menjadi alat penindasan. Dalam sebuah majelis atau forum terbuka, Miftah melontarkan kata “goblok” kepada seorang penjual es teh keliling. Sementara ia/pembelanya mengklaim bahwa itu adalah candaan, adalah guyon. Tapi di sini jelas memiliki konteks yang berbeda.

Posisi Miftah sebagai seorang pembicara di panggung dengan mikrofon di tangan dan publik-jamaah di depannya memberikan kekuasaan simbolis yang signifikan. Guyon yang seharusnya bersifat egaliter justru berubah menjadi alat untuk mempermalukan seseorang, penghinaan secara terang-terangan pada ia yang secara sosial dan ekonomi berada di posisi lemah.

Kasus ini memberi arti bagaimana relasi kuasa memengaruhi makna tindakan. Dalam lingkup guyon wong embongan, semua pihak memiliki kedudukan yang setara, sehingga lontaran kasar (yang mereka sebut guyon itu) diterima sebagai bagian dari keakraban. Sebaliknya, dalam konteks Miftah, ketimpangan kuasa menciptakan dinamika yang berbeda. Posisi Miftah yang dianggap sebagai tokoh agama sekaligus staf khusus pemerintahan menempatkannya pada posisi dominan, sementara seorang bapak penjual es teh berada pada posisi subordinat. Ketimpangan ini mengubah guyon dari alat keakraban menjadi instrumen dominasi dan penindasan.

Relasi kuasa tidak hanya memengaruhi makna guyon, tetapi juga mencerminkan hierarki sosial yang lebih luas. Dalam konteks masyarakat kita, tindakan mempermalukan seseorang yang berada di posisi ekonomi rendah di ruang publik bukanlah hal yang jarang terjadi. Ini adalah bentuk penguatan hierarki sosial yang mengakar. Bapak penjual es teh keliling dalam kasus Miftah tidak hanya menjadi korban penghinaan verbal, tetapi juga simbol dari ketidakadilan struktural yang dihadapi oleh kelas pekerja informal. Dalam banyak kasus, masyarakat kerap mengabaikan atau bahkan membenarkan tindakan semacam ini, yang menunjukkan minimnya kesadaran akan persoalan kelas dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, kasus ini mengungkap bagaimana ruang publik sering kali menjadi arena di mana kekuasaan bekerja secara eksplisit. Ruang publik yang semestinya menjadi tempat egaliter, tetapi dalam praktiknya, ia sering digunakan untuk mempertontonkan dominasi. Ketika Miftah berbicara di hadapan audiens, ia tidak hanya berbicara sebagai individu, tetapi juga sebagai representasi kelasnya. Penghinaan yang dilontarkan di ruang publik tidak lagi menjadi sekadar candaan pribadi; ia berubah menjadi tindakan simbolis yang mengukuhkan ketimpangan sosial.

Fenomena ini tidak lepas dari persoalan budaya komunikasi kita. Dalam banyak komunitas, guyon kasar sering kali dianggap sebagai hal yang wajar tanpa mempertimbangkan implikasinya terhadap pihak lain. Namun, dalam masyarakat yang semakin beragam dan kompleks, pendekatan semacam ini menjadi problematis. Guyon yang kasar membutuhkan kesadaran penuh akan konteks dan relasi sosial di mana ia dilakukan. Tanpa pemahaman ini, guyon bisa berubah menjadi alat penindasan, terutama jika pelakunya berada dalam posisi kekuasaan.

Lebih lanjut, guyon kasar sering kali mencerminkan norma budaya yang berakar pada hierarki dan relasi kuasa. Sebagai contoh, dalam banyak kasus, guyon semacam ini lebih sering diterima ketika dilakukan oleh orang yang dianggap setara atau lebih tinggi dalam hierarki sosial. Sebaliknya, jika dilakukan oleh orang dari kelas sosial bawah, ia sering dianggap sebagai tindakan tidak sopan, penghinaan, atau bahkan pemberontakan terhadap norma. Ini menunjukkan bahwa guyon bukan hanya soal tawa, tetapi juga soal kekuasaan dan kontrol sosial.

Untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, perlu ada kesadaran kolektif tentang bagaimana guyon digunakan dan diterima. Guyon harus menjadi alat untuk memperkuat hubungan sosial, bukan untuk menegaskan dominasi atau hierarki. Dalam kasus Miftah, tanggung jawab tidak hanya terletak pada individu, tetapi juga pada masyarakat yang sering kali membiarkan relasi kuasa yang tidak adil berlangsung tanpa kritik. Kesadaran ini bisa dimulai dengan memahami bahwa ruang publik adalah milik semua orang, bukan arena eksklusif bagi mereka yang memiliki kekuasaan lebih.

Pada akhirnya, guyon yang sehat adalah guyon yang memperhatikan konteks, relasi kuasa, dan batas-batas empati. Dalam masyarakat yang semakin kompleks, guyon harus digunakan sebagai alat untuk menciptakan kebersamaan, bukan untuk memisahkan atau merendahkan. Dengan memahami hal ini, kita bisa menciptakan ruang sosial yang lebih inklusif, di mana tawa tidak hanya menjadi ekspresi kebahagiaan, tetapi juga penghormatan terhadap martabat setiap individu. [T]

  • BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI
Pantai Losari, Dangdut, dan Janji Setia
Oase di Tengah Hiruk Pikuk Kota Surabaya
Bertemu Kawan Lama: Menemukan Orang Baru
Para Pemburu Kembali ke Rumah
Kota yang Seringkali Disalahpahami…
Tags: Bahasaguyonkekuasaanrelasi kuasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tembang Puitik Ananda Sukarlan: Penerjemahan Intersemiotik

Next Post

Tangani Sampah, di Banjar Tunjung Sari, Denpasar, Bak Sampah Dilengkapi CCTV

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tangani Sampah, di Banjar Tunjung Sari, Denpasar, Bak Sampah Dilengkapi CCTV

Tangani Sampah, di Banjar Tunjung Sari, Denpasar, Bak Sampah Dilengkapi CCTV

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co