3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
December 4, 2024
in Esai
Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

DALAM pergaulan sehari-hari, terutama di kalangan wong embongan, guyon dengan memakai kata-kata kasar sering kali menjadi ekspresi keakraban yang dianggap wajar. Memanggil teman dengan sebutan seperti “blok/goblok,” “asu,” “babi,” “cuk/jancuk,” atau bahkan “setan” (dan sederet nama turunannya) tidak dimaksudkan sebagai penghinaan. Sebaliknya, ia menjadi semacam kode sosial, tanda bahwa hubungan di antara mereka cukup dekat untuk berbagi guyon tanpa memicu sakit hati.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa, dalam konteks tertentu, memiliki fungsi yang fleksibel dan bergantung pada relasi sosial di baliknya. Sebagai contoh, ada seorang teman di tempat kerja yang dipanggil “Dajjal”. Panggilan itu bermula dari kelakar seorang teman yang lain, lalu diadopsi oleh semua orang sehingga nama asli si “Dajjal” terlupakan. Terdengarnya itu panggilan yang sangat kasar, tapi alih-alih sebagai bentuk penghinaan, justru ia menerima panggilan tersebut dengan senang-senang saja dan penuh suasana keakraban.

Namun, keakraban semacam ini memiliki batas yang jelas. Ia bergantung pada kesepahaman di antara pelaku interaksi. Guyon, dengan memakai kata-kata kasar, baik sebagai panggilan ataupun olok-olok di sela perbincangan tertentu, hanya bisa diterima jika semua pihak yang terlibat berada dalam relasi yang setara dan memahami konteksnya. Ketika guyon semacam ini diterapkan di luar lingkup kedekatan atau tanpa adanya kesepahaman, ia kehilangan makna awalnya sebagai ekspresi keakraban dan justru berubah menjadi tindakan ofensif.

Dalam ruang publik atau di hadapan orang asing, gaya guyon ini mustahil diterima tanpa risiko kesalahpahaman. Hal ini menunjukkan bahwa guyon adalah produk budaya yang sangat kontekstual dan tidak universal. Apa yang dianggap lucu di satu komunitas bisa menjadi penghinaan di komunitas lain. Dalam kata lain, guyon tidak hanya soal isi pesan, tetapi juga soal relasi sosial dan dinamika kuasa di antara pelakunya.

Fenomena ini menjadi lebih kompleks ketika dimasukkan ke dalam konteks relasi kuasa. Sebagaimana yang baru saja terjadi, kasus seorang tokoh bernama Miftah memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana guyon yang tidak mempertimbangkan konteks dapat menjadi alat penindasan. Dalam sebuah majelis atau forum terbuka, Miftah melontarkan kata “goblok” kepada seorang penjual es teh keliling. Sementara ia/pembelanya mengklaim bahwa itu adalah candaan, adalah guyon. Tapi di sini jelas memiliki konteks yang berbeda.

Posisi Miftah sebagai seorang pembicara di panggung dengan mikrofon di tangan dan publik-jamaah di depannya memberikan kekuasaan simbolis yang signifikan. Guyon yang seharusnya bersifat egaliter justru berubah menjadi alat untuk mempermalukan seseorang, penghinaan secara terang-terangan pada ia yang secara sosial dan ekonomi berada di posisi lemah.

Kasus ini memberi arti bagaimana relasi kuasa memengaruhi makna tindakan. Dalam lingkup guyon wong embongan, semua pihak memiliki kedudukan yang setara, sehingga lontaran kasar (yang mereka sebut guyon itu) diterima sebagai bagian dari keakraban. Sebaliknya, dalam konteks Miftah, ketimpangan kuasa menciptakan dinamika yang berbeda. Posisi Miftah yang dianggap sebagai tokoh agama sekaligus staf khusus pemerintahan menempatkannya pada posisi dominan, sementara seorang bapak penjual es teh berada pada posisi subordinat. Ketimpangan ini mengubah guyon dari alat keakraban menjadi instrumen dominasi dan penindasan.

Relasi kuasa tidak hanya memengaruhi makna guyon, tetapi juga mencerminkan hierarki sosial yang lebih luas. Dalam konteks masyarakat kita, tindakan mempermalukan seseorang yang berada di posisi ekonomi rendah di ruang publik bukanlah hal yang jarang terjadi. Ini adalah bentuk penguatan hierarki sosial yang mengakar. Bapak penjual es teh keliling dalam kasus Miftah tidak hanya menjadi korban penghinaan verbal, tetapi juga simbol dari ketidakadilan struktural yang dihadapi oleh kelas pekerja informal. Dalam banyak kasus, masyarakat kerap mengabaikan atau bahkan membenarkan tindakan semacam ini, yang menunjukkan minimnya kesadaran akan persoalan kelas dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, kasus ini mengungkap bagaimana ruang publik sering kali menjadi arena di mana kekuasaan bekerja secara eksplisit. Ruang publik yang semestinya menjadi tempat egaliter, tetapi dalam praktiknya, ia sering digunakan untuk mempertontonkan dominasi. Ketika Miftah berbicara di hadapan audiens, ia tidak hanya berbicara sebagai individu, tetapi juga sebagai representasi kelasnya. Penghinaan yang dilontarkan di ruang publik tidak lagi menjadi sekadar candaan pribadi; ia berubah menjadi tindakan simbolis yang mengukuhkan ketimpangan sosial.

Fenomena ini tidak lepas dari persoalan budaya komunikasi kita. Dalam banyak komunitas, guyon kasar sering kali dianggap sebagai hal yang wajar tanpa mempertimbangkan implikasinya terhadap pihak lain. Namun, dalam masyarakat yang semakin beragam dan kompleks, pendekatan semacam ini menjadi problematis. Guyon yang kasar membutuhkan kesadaran penuh akan konteks dan relasi sosial di mana ia dilakukan. Tanpa pemahaman ini, guyon bisa berubah menjadi alat penindasan, terutama jika pelakunya berada dalam posisi kekuasaan.

Lebih lanjut, guyon kasar sering kali mencerminkan norma budaya yang berakar pada hierarki dan relasi kuasa. Sebagai contoh, dalam banyak kasus, guyon semacam ini lebih sering diterima ketika dilakukan oleh orang yang dianggap setara atau lebih tinggi dalam hierarki sosial. Sebaliknya, jika dilakukan oleh orang dari kelas sosial bawah, ia sering dianggap sebagai tindakan tidak sopan, penghinaan, atau bahkan pemberontakan terhadap norma. Ini menunjukkan bahwa guyon bukan hanya soal tawa, tetapi juga soal kekuasaan dan kontrol sosial.

Untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, perlu ada kesadaran kolektif tentang bagaimana guyon digunakan dan diterima. Guyon harus menjadi alat untuk memperkuat hubungan sosial, bukan untuk menegaskan dominasi atau hierarki. Dalam kasus Miftah, tanggung jawab tidak hanya terletak pada individu, tetapi juga pada masyarakat yang sering kali membiarkan relasi kuasa yang tidak adil berlangsung tanpa kritik. Kesadaran ini bisa dimulai dengan memahami bahwa ruang publik adalah milik semua orang, bukan arena eksklusif bagi mereka yang memiliki kekuasaan lebih.

Pada akhirnya, guyon yang sehat adalah guyon yang memperhatikan konteks, relasi kuasa, dan batas-batas empati. Dalam masyarakat yang semakin kompleks, guyon harus digunakan sebagai alat untuk menciptakan kebersamaan, bukan untuk memisahkan atau merendahkan. Dengan memahami hal ini, kita bisa menciptakan ruang sosial yang lebih inklusif, di mana tawa tidak hanya menjadi ekspresi kebahagiaan, tetapi juga penghormatan terhadap martabat setiap individu. [T]

  • BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI
Pantai Losari, Dangdut, dan Janji Setia
Oase di Tengah Hiruk Pikuk Kota Surabaya
Bertemu Kawan Lama: Menemukan Orang Baru
Para Pemburu Kembali ke Rumah
Kota yang Seringkali Disalahpahami…
Tags: Bahasaguyonkekuasaanrelasi kuasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tembang Puitik Ananda Sukarlan: Penerjemahan Intersemiotik

Next Post

Tangani Sampah, di Banjar Tunjung Sari, Denpasar, Bak Sampah Dilengkapi CCTV

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tangani Sampah, di Banjar Tunjung Sari, Denpasar, Bak Sampah Dilengkapi CCTV

Tangani Sampah, di Banjar Tunjung Sari, Denpasar, Bak Sampah Dilengkapi CCTV

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co