22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
June 2, 2019
in Esai
Para Pemburu Kembali ke Rumah

Foto ilustrasi: FB/Polsek Kawasan Laut Gilimanuk

Pada masa pra-agrikultur, manusia mungkin tak mengenal istilah “pulang”, sesuatu yang berlalu sebagai sesuatu yang telah hilang. Tak ada tradisi untuk kembali. Barangkali mereka juga tak benar-benar memiliki masa lalu.

Dan, dengan tak memiliki masa lalu itu, mereka menjadi begitu tangguh. Tak ada tempat yang menyimpan kenangan. Tak ada tempat yang menyisakan romantika untuk diratapi kembali. Tak ada ruang sebagai sesuatu yang lampau dan membayang.

Satu tempat tak lebih sebagai batu loncatan ke tempat yang lain. Atau barangkali yang terjadi adalah sebaliknya, terlalu banyak tempat, terlalu banyak masa lalu, tetapi jiwa petualang mereka enggan untuk berjalan kembali ke belakang, ke sebuah ruang yang bernama “pulang”.

Manusia berpindah dari satu tempat ke lain tempat, sesuai kondisi alam dan ketersediaan bahan pangan. Hidup berburu dan menjadi makhluk nomaden. Apa yang dimilikinya, benda-bendadari alam yang mungkin dianggapnya cukup berharga, sesekali ditinggalkan begitu saja bersamaan dengan ditinggalkannya tempat itu.

Tapi bukan sebagai penanda untuk tempat itu sendiri dan kelak akan dicarinya dan ditempatinya lagi, melainkan sebagai kenang-kenangan untuk yang datang ke tempat itu di hari kemudian. Untuk ditafsirnya akan jejak siapakah kiranya.

Atau, yang secara instingtif mulai sadar estetika, mereka membuat kenang-kenangan melalui susunan batu sehingga menimbulkan keindahan tertentu. Dekorasi alam, penyusunan tulangbelulang, senjata yang begitu sederhana, coretan-coretan di dinding gua berupa gambar mirip binatang atau gambar tangan sebagaimana yang ditinggalkan manusia dari Gua Lascaux. Itulah manusiadari zaman Paleolitikum yang sudah mengenal estetika. Salah satunya dari kebudayaan Abris sous roche. 

Meskipun sudahsadar estetika sebagaimana manusia dari kebudayaan Abris sous rochemereka tetaplah manusia nomaden, manusia yang berpindah-pindah dan tak mengenal pulang. Mereka tinggal di gua-gua untuk sementara waktu, untuk berlindung dari ganasnya musim atau hewan liar yang mungkin sulit ditaklukkan dan punya potensi membahayakan diri mereka.

Mereka tetap pergi, bukan pulang. Tapi dari persinggahan-persinggahan sementara, rumah hasil buatan alam yang dijadikan tempat temporer itu kesadaran manusia pada estetika mulai terbentuk, secara lebih praktis di kemudian waktu dikenal sebagai seni. Mulanya kesadaran itu hadir untuk mengisi waktu senggang dari aktivitas berburu, saat istirahat di gua-gua.

Dan, meskipun sudah sadar estetika—dalam bentuknya yang paling sederhana dan fungsinya sebagai pengisi waktu semata—mereka masih sebagaimana para pendahulunya sesama zaman batu yang belum sadar estetika, yaitu belum sadar “tradisi berumah”. Mereka pergi lagi ke lain tempat, selain meninggalkan kenang-kenangan estetik, juga meninggalkan sampah dapur atau kjokkenmoddingeruntuk yang datang belakangan.

Tapi waktu tak membiarkan semuanya tetap. Kawanan nomaden-pemburu dari era neolitikum, megalitikum,zaman logam, berevolusi menjadi manusia agrikultur setelah melewati waktu ribuan tahun. Seiring perjalanan waktu yang panjang itu pula mereka mulai mengenal peralatan yang lebih baik dari sebelumnya untuk menunjang tradisi dan cara hidup yang lebih baru, yaitu bertani.

Prinsip manusia pun kemudian berubah secara fundamental. Dari kaki-kaki petualang liar menjadi kaki-kaki jinak rumahan. Mereka berdiam di rumah karena ada hal yang mengikat, yaitu ladang dan tumbuhan-tumbuhan yang telah mereka tanam. Ataupun kalau mereka pergi kini mengenal istilah “pulang”. Sejauh bagaimanapun mereka beranjak, ada tempat yang selalu meminta untuk ditengok kembali.

Mereka terikat tempat yang dianggap sebagai masa lalu sekaligus masa depan. Tidak hanya secara fisik, jiwa manusia agrikultur menjadi berbeda dengan pendahulunya. Mereka terkekang dan mereka menjadi melankoli. Mereka bergantung pada musim dan berharap kebaikan alam. Bukan menghindariatau menantang alam, atau mencari alam yang lebih menguntungkan. 

Ketika masyarakat agrikultur semakin mapan—atau mungkin sampai puncaknya—sebagai ‘pencarian’ cara hidup manusia selama berabad-abad, ternyata agrikultur bukanlah pencarian terakhir manusia terhadap cara hidup itu sendiri. Usai melewati revolusi kognitif yang dimulai ribuan tahun sebelumnya, sampailah manusia pada revolusi industri sebagai imbas dari minat besar manusia pada sains yang terus mengalami perkembangan dan kemajuan dari abad ke abad.

Cara hidup pun ikut berubah. Lebih kompleks dan lebih menggelisahkan ketimbang manusia pemburu yang cara hidupnya begitu sederhana dan tingkat kegelisahannya hanya datang saat-saat mendengarkan auman harimau atau melihat tanda-tanda badai besar akan terjadi.

Era agrikultur posisinya mulai berada di belakang. Industri yang terus tumbuh semakin hari semakin pesat membutuhkan banyak tenaga. Begitu banyak tenaga manusia yang diperlukan. Manusia berubah orientasi dari sektor pertanian ke industri—dalam masa yang tak terlalu jauh juga ke sektor jasa. Manusia menjual tenaga mereka, jasa mereka, menjadi buruh, menjadi kuli, menjadi pekerja.

Mereka berduyun-duyun dari kampung ke kota, dari satu kota ke kota lainnya. Mereka terpanggil oleh “cara hidup” zamannya. Mereka meninggalkan rumah, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan pertanian mereka, menjual kota-kota pertanian mereka ke mahkluk raksasa yang bernama industri. Mereka mengembara ke wilayah-wilayah lain. Menetap dan tidak lagi nomaden seperti leluhurnya di zaman megalitikum, karena ada satu mangsa yang diburu dan tak ada habis-habisnya.

Hal ini berbeda berbeda dengan para nomaden-pemburu di zaman batu yang mangsa-buruannya lebih bersifat dinamis. Di satu tempat kijang bisa saja semakin mengecil populasinya atau tingkat bahaya suatu daerah begitu tinggi, mereka harus mencari tempat lain yang lebih memungkinkan.

Sedangkan model perburuan masyarakat industri tidak lagi demikian. Mereka tidak lagi memburu binatang yang melata dan berjalan di bumi, atau berenang di air dan terbang di udara—yang seiringnya waktu bisa saja punah karena terus dibunuh—melainkan memburu “cara hidup” itu sendiri.

Meskipun sama-sama pemburu, manusia zaman industri sama sekali berbeda dengan manusia zaman batu. Tapi tak benar-benar berbeda dengan manusia zaman agrikultur. Kota, desa, kampung halaman, rumah, yang sudah mereka tinggalkan demi sebuah “panggilan” cara hidup, ternyata tak benar-benar mereka tinggalkan.

Ritme kerja para pemburu di zaman industri yang begitu tinggi, kompleksitas hidup yang terus bertambah, perubahan-perubahan yang bersifat artifisial dan fundamental terjadi hampir setiap hari membuat mereka jengah karena watak mereka yang masih agrikultur, watak manusia rumahan yang begitu ramah.Mereka seperti tercerabut dari akarnya, dari sifat fundamentalnya manusia rumahan sebagaimana para leluhurnya yang masih murni berada di tradisi agrikultur.

Klimaksnya mereka mengalami alienasi dengan “cara hidup” yang ditemukan oleh zamannya. Seperti para leluhurnya di zaman agrikultur murni, mereka begitu melankoli dan romantik atas suatu tempat yang mereka sebut “tempat pertama.” Mereka selalu merasa terpanggil untuk kembali ke sana, untuk pulang, meski suara yang memanggilnya tak lebih berasal dari sesuatu yang ilusif sebagai efek dari alienasi itu sendiri.

Mereka masih mewarisi gen manusia agrikultur, yang selanjutnya tetap selalu merasa tak bersahabat dengan kehidupan yang dijalaninya beserta cara hidup itu sendiri. Lalu timbulpemberontakan terhadap realitas. Mereka membesar-besarkan masa lalu, kenangan dan tempat pertama. Lantas mereka melanjutkan tradisi pulang. Meski kepulangannya (sebagaimana kepergiannya) hanya demi menjalanisatu perasaan asing ke perasaan asing lainnya dalam dirinya.

Mereka merasa diri mereka berada di persimpangan “cara hidup” antara sebagai pemburu yang berpindah tempat dan menetap sementara di satu tempat sebagaimana leluhurnya di era Batu, dengan sebagai orang rumah yang selalu mengenal istilah pulang sebagaimana leluhurnya di era agrikultur. Mereka pulang dan pergi, antara berburu dan kembali ke tempat pertama, meskipun pada akhirnya dua aktivitas itu menjadi sesuatu yang sama-sama asing.

Selamat Mudik. Kembali ke udik, ke sisa reruntuhan eraagrikultur. [T]

Tags: desaIndustriLebaranmasyarakatmudik
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Next Post

Mbah

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Mbah

Mbah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co