3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
June 2, 2019
in Esai
Para Pemburu Kembali ke Rumah

Foto ilustrasi: FB/Polsek Kawasan Laut Gilimanuk

Pada masa pra-agrikultur, manusia mungkin tak mengenal istilah “pulang”, sesuatu yang berlalu sebagai sesuatu yang telah hilang. Tak ada tradisi untuk kembali. Barangkali mereka juga tak benar-benar memiliki masa lalu.

Dan, dengan tak memiliki masa lalu itu, mereka menjadi begitu tangguh. Tak ada tempat yang menyimpan kenangan. Tak ada tempat yang menyisakan romantika untuk diratapi kembali. Tak ada ruang sebagai sesuatu yang lampau dan membayang.

Satu tempat tak lebih sebagai batu loncatan ke tempat yang lain. Atau barangkali yang terjadi adalah sebaliknya, terlalu banyak tempat, terlalu banyak masa lalu, tetapi jiwa petualang mereka enggan untuk berjalan kembali ke belakang, ke sebuah ruang yang bernama “pulang”.

Manusia berpindah dari satu tempat ke lain tempat, sesuai kondisi alam dan ketersediaan bahan pangan. Hidup berburu dan menjadi makhluk nomaden. Apa yang dimilikinya, benda-bendadari alam yang mungkin dianggapnya cukup berharga, sesekali ditinggalkan begitu saja bersamaan dengan ditinggalkannya tempat itu.

Tapi bukan sebagai penanda untuk tempat itu sendiri dan kelak akan dicarinya dan ditempatinya lagi, melainkan sebagai kenang-kenangan untuk yang datang ke tempat itu di hari kemudian. Untuk ditafsirnya akan jejak siapakah kiranya.

Atau, yang secara instingtif mulai sadar estetika, mereka membuat kenang-kenangan melalui susunan batu sehingga menimbulkan keindahan tertentu. Dekorasi alam, penyusunan tulangbelulang, senjata yang begitu sederhana, coretan-coretan di dinding gua berupa gambar mirip binatang atau gambar tangan sebagaimana yang ditinggalkan manusia dari Gua Lascaux. Itulah manusiadari zaman Paleolitikum yang sudah mengenal estetika. Salah satunya dari kebudayaan Abris sous roche. 

Meskipun sudahsadar estetika sebagaimana manusia dari kebudayaan Abris sous rochemereka tetaplah manusia nomaden, manusia yang berpindah-pindah dan tak mengenal pulang. Mereka tinggal di gua-gua untuk sementara waktu, untuk berlindung dari ganasnya musim atau hewan liar yang mungkin sulit ditaklukkan dan punya potensi membahayakan diri mereka.

Mereka tetap pergi, bukan pulang. Tapi dari persinggahan-persinggahan sementara, rumah hasil buatan alam yang dijadikan tempat temporer itu kesadaran manusia pada estetika mulai terbentuk, secara lebih praktis di kemudian waktu dikenal sebagai seni. Mulanya kesadaran itu hadir untuk mengisi waktu senggang dari aktivitas berburu, saat istirahat di gua-gua.

Dan, meskipun sudah sadar estetika—dalam bentuknya yang paling sederhana dan fungsinya sebagai pengisi waktu semata—mereka masih sebagaimana para pendahulunya sesama zaman batu yang belum sadar estetika, yaitu belum sadar “tradisi berumah”. Mereka pergi lagi ke lain tempat, selain meninggalkan kenang-kenangan estetik, juga meninggalkan sampah dapur atau kjokkenmoddingeruntuk yang datang belakangan.

Tapi waktu tak membiarkan semuanya tetap. Kawanan nomaden-pemburu dari era neolitikum, megalitikum,zaman logam, berevolusi menjadi manusia agrikultur setelah melewati waktu ribuan tahun. Seiring perjalanan waktu yang panjang itu pula mereka mulai mengenal peralatan yang lebih baik dari sebelumnya untuk menunjang tradisi dan cara hidup yang lebih baru, yaitu bertani.

Prinsip manusia pun kemudian berubah secara fundamental. Dari kaki-kaki petualang liar menjadi kaki-kaki jinak rumahan. Mereka berdiam di rumah karena ada hal yang mengikat, yaitu ladang dan tumbuhan-tumbuhan yang telah mereka tanam. Ataupun kalau mereka pergi kini mengenal istilah “pulang”. Sejauh bagaimanapun mereka beranjak, ada tempat yang selalu meminta untuk ditengok kembali.

Mereka terikat tempat yang dianggap sebagai masa lalu sekaligus masa depan. Tidak hanya secara fisik, jiwa manusia agrikultur menjadi berbeda dengan pendahulunya. Mereka terkekang dan mereka menjadi melankoli. Mereka bergantung pada musim dan berharap kebaikan alam. Bukan menghindariatau menantang alam, atau mencari alam yang lebih menguntungkan. 

Ketika masyarakat agrikultur semakin mapan—atau mungkin sampai puncaknya—sebagai ‘pencarian’ cara hidup manusia selama berabad-abad, ternyata agrikultur bukanlah pencarian terakhir manusia terhadap cara hidup itu sendiri. Usai melewati revolusi kognitif yang dimulai ribuan tahun sebelumnya, sampailah manusia pada revolusi industri sebagai imbas dari minat besar manusia pada sains yang terus mengalami perkembangan dan kemajuan dari abad ke abad.

Cara hidup pun ikut berubah. Lebih kompleks dan lebih menggelisahkan ketimbang manusia pemburu yang cara hidupnya begitu sederhana dan tingkat kegelisahannya hanya datang saat-saat mendengarkan auman harimau atau melihat tanda-tanda badai besar akan terjadi.

Era agrikultur posisinya mulai berada di belakang. Industri yang terus tumbuh semakin hari semakin pesat membutuhkan banyak tenaga. Begitu banyak tenaga manusia yang diperlukan. Manusia berubah orientasi dari sektor pertanian ke industri—dalam masa yang tak terlalu jauh juga ke sektor jasa. Manusia menjual tenaga mereka, jasa mereka, menjadi buruh, menjadi kuli, menjadi pekerja.

Mereka berduyun-duyun dari kampung ke kota, dari satu kota ke kota lainnya. Mereka terpanggil oleh “cara hidup” zamannya. Mereka meninggalkan rumah, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan pertanian mereka, menjual kota-kota pertanian mereka ke mahkluk raksasa yang bernama industri. Mereka mengembara ke wilayah-wilayah lain. Menetap dan tidak lagi nomaden seperti leluhurnya di zaman megalitikum, karena ada satu mangsa yang diburu dan tak ada habis-habisnya.

Hal ini berbeda berbeda dengan para nomaden-pemburu di zaman batu yang mangsa-buruannya lebih bersifat dinamis. Di satu tempat kijang bisa saja semakin mengecil populasinya atau tingkat bahaya suatu daerah begitu tinggi, mereka harus mencari tempat lain yang lebih memungkinkan.

Sedangkan model perburuan masyarakat industri tidak lagi demikian. Mereka tidak lagi memburu binatang yang melata dan berjalan di bumi, atau berenang di air dan terbang di udara—yang seiringnya waktu bisa saja punah karena terus dibunuh—melainkan memburu “cara hidup” itu sendiri.

Meskipun sama-sama pemburu, manusia zaman industri sama sekali berbeda dengan manusia zaman batu. Tapi tak benar-benar berbeda dengan manusia zaman agrikultur. Kota, desa, kampung halaman, rumah, yang sudah mereka tinggalkan demi sebuah “panggilan” cara hidup, ternyata tak benar-benar mereka tinggalkan.

Ritme kerja para pemburu di zaman industri yang begitu tinggi, kompleksitas hidup yang terus bertambah, perubahan-perubahan yang bersifat artifisial dan fundamental terjadi hampir setiap hari membuat mereka jengah karena watak mereka yang masih agrikultur, watak manusia rumahan yang begitu ramah.Mereka seperti tercerabut dari akarnya, dari sifat fundamentalnya manusia rumahan sebagaimana para leluhurnya yang masih murni berada di tradisi agrikultur.

Klimaksnya mereka mengalami alienasi dengan “cara hidup” yang ditemukan oleh zamannya. Seperti para leluhurnya di zaman agrikultur murni, mereka begitu melankoli dan romantik atas suatu tempat yang mereka sebut “tempat pertama.” Mereka selalu merasa terpanggil untuk kembali ke sana, untuk pulang, meski suara yang memanggilnya tak lebih berasal dari sesuatu yang ilusif sebagai efek dari alienasi itu sendiri.

Mereka masih mewarisi gen manusia agrikultur, yang selanjutnya tetap selalu merasa tak bersahabat dengan kehidupan yang dijalaninya beserta cara hidup itu sendiri. Lalu timbulpemberontakan terhadap realitas. Mereka membesar-besarkan masa lalu, kenangan dan tempat pertama. Lantas mereka melanjutkan tradisi pulang. Meski kepulangannya (sebagaimana kepergiannya) hanya demi menjalanisatu perasaan asing ke perasaan asing lainnya dalam dirinya.

Mereka merasa diri mereka berada di persimpangan “cara hidup” antara sebagai pemburu yang berpindah tempat dan menetap sementara di satu tempat sebagaimana leluhurnya di era Batu, dengan sebagai orang rumah yang selalu mengenal istilah pulang sebagaimana leluhurnya di era agrikultur. Mereka pulang dan pergi, antara berburu dan kembali ke tempat pertama, meskipun pada akhirnya dua aktivitas itu menjadi sesuatu yang sama-sama asing.

Selamat Mudik. Kembali ke udik, ke sisa reruntuhan eraagrikultur. [T]

Tags: desaIndustriLebaranmasyarakatmudik
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Next Post

Mbah

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Mbah

Mbah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co