24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbah

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
June 2, 2019
in Cerpen
Mbah

Lukisan figur: Wayan Redika (wayanredika.com)

Cerpen: Arya Lawa Manuaba

Sejak divonis tuli total dua tahun silam, mbah selalu mengaku mendengar suara genderang setiap hari. Padahal dokter sudah menyerah. Pendengarannya tidak mungkin kembali. Usianya sudah hampir sembilan puluh.

Mbah bahkan tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Kadang-kadang jika aku pulang kerja larut malam, mbah yang girang campur cemas suka keceplosan volume. Panggilan kangennya padaku bisa terdengar sampai ujung blok, membangunkan herder-herder sangar bertaring di deret rumah seberang.

Menurut mbah, suara genderang itu datang dari balik tembok. Kadang-kadang, kalau suasana hatinya sedang kacau dirundung kesunyian kronis dalam hidupnya, dia mengaku suara itu datang dari kolong tempat tidur. Aku hanya percaya satu hal: perempuan uzur itu sedang berhalusinasi. Kadang-kadang dia terbangun tengah malam, menggedor pintu kamarku dan mengaku mendengar suara genderang itu lagi,—di dalam lemari.

Jadi cucu kesayangan memang dilematis. Waktu kecil, mbah membawakanku kue-kue lezat dari emper pasar, atau bubur sagu manis yang kujilati sampai daun pisangnya mengkilap. Saat mbah menua dan berhenti jualan, aku yang merawatnya setiap hari. Hal sekecil apa pun, aku yang dipanggil. Baik atau buruk, aku yang kena. Pernah mbah menuduhku mencuri kebayanya yang tiba-tiba hilang di jemuran. Di hari lain, dia menyalahkanku karena hujan turun tidak sesuai keinginannya. Buat apa, coba, aku mencuri kebaya sepuh? Aku ini laki-laki, masih SMA. Pacar pun tak punya.

Namanya orang tua, lama-lama tabiatnya makin mirip bocah. Kasihan juga mbah. Dunianya pasti sepi,—bagaikan menonon drama pantomim panjang dari hari ke hari. Tak ada suara, tak ada musik, tak ada senandung gending bali di kamar mandi lagi. Dulu dia suka mendengar gema suara merdunya sendiri tatkala dia mandi. Tapi sejak dia tuli, nyanyiannya lebih bisa kudengar seperti ratapan yang bertalu-talu.

Ceritanya, dulu mbah demam tinggi dan pendengarannya langsung mati total. Semua suara tiba-tiba lenyap dari kehidupannya. Mbah syok berat waktu itu, tetapi di akhir tahun dia sudah bisa memahami jalan cerita sinetron kaleng di TV hanya dengan menerka gerakan bibir pemainnya.

“Coba kamu tutup telinga, Gilang,” demikian pinta mbah suatu hari. Dia bersikeras kalau suara genderang itu terus terdengar.

Aku menuruti permintaan remehnya, hanya sebagai tanda bahwa aku menghormati perintah orang tua, manut pada tradisi timur yang adiluhur. Kututup kedua lubang telingaku dengan telunjuk sampai tak setitik suara pun masuk.

Mbah memastikan aku benar-benar tak berisik dengan cara menaruh telunjuknya vertikal di bibir.

“Eh?” aku kaget setengah mati. Mataku terbuka lebar-lebar. Tiba-tiba saja aku mendengar suara genderang. Tun-tung-tung. Jelas sekali. Seolah-olah dengungannya tepat ada di samping kupingku.

Mbah tercengir lebar melihat lagakku yang kebingungan setengah mati. “Tuh ‘kan, tiga ketuk,” katanya sembari mengacungkan tiga jemari kanan. “Mbah tidak pernah bohong sama cucu.”

Aku mengangguk. Heran sejadi-jadinya. Kalau ada geledek meledak di samping perempuan uzur mantan pedagang jajan itu pun, dia tak akan dengar. Aneh betul. Apa yang menyebabkannya bisa mendengar suara genderang itu menjadi pertanyaan yang sontak mengganggu batinku.

Tung-tung-tung. Tung-tung-tung.

Irama tiga ketuk. Terdengar dari balik tembok. Penasaran, aku beranjak ke jendela, memeriksa ke balik tembok rumah. Tak ada siapa pun. Kututup lagi telinga. Suara genderang itu terdengar lagi. Tiga ketuk. Dari arah pintu. Jelas sekali. Aku jadi berangasan bercampur takjub. Kutengok pintu, tak ada seorang pun.

Mbah mengulum tawa melihat tingkahku. Bibirnya yang cokelat longgar melebar.

Tung-tung-tung. Lagi. Kali itu di arah halaman. Berpindah begitu cepat. Suaranya menggiringku kesana kemari, membangkitkan semua endapan rasa jengahku.

Demikianlah hari itu aku dibuat penasaran oleh irama genderang yang lenyap-timbul itu, seperti bersahut-sahutan di satu pojok ke pojok lain, satu arah ke arah lain. Tak bisa kuramalkan dari mana sumbernya akan muncul. Ajaib, sekaligus menakutkan.

Hari berikutnya, kembali mbah heboh sendiri. Dia menyeretku dengan lengannya yang kurus nan keriput, memaksaku duduk di tepi ranjangnya yang hangat. Kemudian, mbah menempelkan telunjuknya di bibir, pertanda aku harus diam dan dengar.

“Suaranya sekarang dua ketuk saja,” bisiknya. “Sudah sejak pagi tadi. Mbah ikuti suaranya sampai ke pasar, tapi tidak ketemu.”

Waduh. Bahaya kalau mbah sampai ke pasar sendirian. Beberapa kali dia memang nekad pergi ke pasar dengan hanya mengandalkan pengelihatannya yang setajam elang dan senyum polosnya yang membuat semua pedagang iba. Kakinya masih lumayan kuat berjalan sampai perempatan desa, menelisik berbagai jenis pedagang rempah, lalu pulang membawa seikat serai dan sebuntal rerempah wangi yang dibungkus daun jati. Baginya, itu semua harta karun. Dia akan menghabiskan berjam-jam untuk melumat semua bahan itu dan dijadikannya lulur hangat.

“Mbah,” aku melebarkan gerakan mulutku agar bisa dibaca mbah. “Jangan pergi ke pasar sendirian. Bahaya.”

Mbah cuma geleng-geleng. Entah dia sadar atau tidak bahwa kendaraan jenis apa pun bisa menyerempetnya tatkala menyeberang. Klakson segarang apa pun tak akan pernah mampu mengejutkannya.

Aku berdecak kesal, apalagi ketika mbah malah meraih kedua tanganku dan memaksaku menyumbat lubang telinga dengan ujung telunjuk.

“Tutup telinga,” rengeknya dengan suara parau. “Baru kedengaran.”

Aku menutup telinga. Benar terdengar. Dua ketuk. Dari balik pintu, dari belakang tembok. Sahut-menyahut.

Tung-tung.

Bulu tengkukku berdiri. Masa iya suara jantungku sebesar dan semerdu itu? Dan bagaimana mungkin mbah mendengar sesuatu dengan saraf pendengaran yang sudah keropos dan putus?

Tung-tung.

Aku menatap mbah yang malah terkekeh memperhatikan raut mukaku yang seperti lutung ketakutan. Betapa bangganya nenekku itu. Walaupun tuli, dia masih bisa membuatku kaget dan kebingungan.

Tak sampai seminggu kemudian, di sebuah senja yang hangat, mbah kembali memanggilku dan berkata lirih setelah aku duduk di sebelahnya, “Gilang, sini,” panggilnya separuh berbisik. “Kali ini ketukannya cuma satu.”

Kututup telingaku, berkonsentrasi.

Tung-tung.

Aku menunjukkan dua jari padanya. Dua ketukan. Sama seperti hari sebelumnya. Dari balik tembok, dari belakang pintu.

Mbah menggeleng cepat. Dia menunjukkan satu jari. Dia hanya mendengar satu ketukan. Kami berdebat singkat dengan mengacung-acungkan satu dan dua jari, sampai akhirnya aku menyudahinya dengan seuntai senyum dan kecupan hangat di keningnya.

Malam itu juga, sedikit lebih daripada separuh tengah malam, mbah menggedor pintu kamarku sambil berseru lantang memanggil namaku. Seperti biasa, volumenya sangat kencang, laksana mengusir burung-burung pipit di sawah.

Wajar buat anak SMA, aku nyaris tak pernah tidur pakai baju. Buru-buru kukenakan pakaian seadanya, dan kubuka kunci pintu.

“Tidak kedengaran lagi,” semprotnya, bahkan sebelum aku bertanya. “Suaranya hilang.”

Aku mendesah. Mungkin saraf pendengaran mbah sedang menggeliat-geliat sehingga terjadi halusinasi pendengaran selama beberapa hari. Namun bagaimana aku harus menjelaskannya kepada mbah adalah sebuah perkara pelik, serumit misteri suara genderang yang juga kudengar sendiri.

Aku pun menutup telinga, “Masih dua ketukan,” ujarku sembari memberi tanda jari.

Mbah menggeleng kecewa. Kali itu pasti dia sudah sangat frustrasi karena pendengarannya benar-benar sudah binasa. Harapannya untuk bebas dari dunia pantomim itu pastinya sudah lenyap. Aku kemudian memeluknya erat, mencoba menyerap sebagian rasa gundahnya.

Esok paginya aku dibangunkan Pak Eko, si tukang parkir pasar yang berkaok-kaok memanggilku sampai menggedor pintu.

“Gilang! Gilang!”

Pintu kubuka.

“Mbahmu!”

Beberapa orang datang tak lama kemudian. Menurut penuturan mereka, mbah diserempet motor. Pengendaranya pemuda uring-uringan dengan isi kepala hanyut sebelah dilulur miras. Jenazahnya kulihat tertutup kain, diangkat empat orang, dikerubungi orang-orang yang syok.

“Mbahmu bilang, katanya mau cari tukang genderang,” tutur Bu Jami si dagang bubur. “Tiba-tiba saja motor itu mengebut dan menyerempetnya.”

Aku lunglai. Sudah kularang ratusan kali dia pergi ke pasar.

Lalu kututup telinga, menghayati resah yang bercelincak, dan aku tertegun.

Tung!

Satu ketuk suara genderang. Di belakang pintu, di balik tembok. Hanya sekali, lalu sekali lagi. Aku terus mendengarnya berdentung hingga detik ini tiap kali aku menutup telinga. Tatkala suara-suara lain lenyap, aku bisa mendengar suara genderang itu. Hanya sekali, lalu sekali lagi.

Jika kamu tak percaya, mungkin boleh kamu coba tutup telinga. Biasanya, bila semua suara di luar sudah tidak kamu dengar lagi, kamu akan mendengar suara genderang. mungkin sampai tiga ketukan. Kalau masih ada dua ketukan, kamu boleh lega. Jika hanya tinggal satu ketukan, sebaiknya kamu mulai waspada. Orang-orang yang pernah kamu caci maki, fitnah, hina dan sebagainya,—sebaiknya minta maaflah pada mereka.

Tetapi jika tak ada suara genderang lagi yang kamu dengar, bersiap-siaplah dijemput kapan saja. Kamu selama ini memang benar-benar tuli! [T]

Mangupura, 7 Mei 2019

Tags: Cerpen
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Next Post

Drama Gong Raudal, Jengki, & Yoki #Seri Nostalgia Sastrawan Sanggar Minum Kopi

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Drama Gong Raudal, Jengki, & Yoki  #Seri Nostalgia Sastrawan Sanggar Minum Kopi

Drama Gong Raudal, Jengki, & Yoki #Seri Nostalgia Sastrawan Sanggar Minum Kopi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co