13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mbah

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
June 2, 2019
in Cerpen
Mbah

Lukisan figur: Wayan Redika (wayanredika.com)

Cerpen: Arya Lawa Manuaba

Sejak divonis tuli total dua tahun silam, mbah selalu mengaku mendengar suara genderang setiap hari. Padahal dokter sudah menyerah. Pendengarannya tidak mungkin kembali. Usianya sudah hampir sembilan puluh.

Mbah bahkan tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Kadang-kadang jika aku pulang kerja larut malam, mbah yang girang campur cemas suka keceplosan volume. Panggilan kangennya padaku bisa terdengar sampai ujung blok, membangunkan herder-herder sangar bertaring di deret rumah seberang.

Menurut mbah, suara genderang itu datang dari balik tembok. Kadang-kadang, kalau suasana hatinya sedang kacau dirundung kesunyian kronis dalam hidupnya, dia mengaku suara itu datang dari kolong tempat tidur. Aku hanya percaya satu hal: perempuan uzur itu sedang berhalusinasi. Kadang-kadang dia terbangun tengah malam, menggedor pintu kamarku dan mengaku mendengar suara genderang itu lagi,—di dalam lemari.

Jadi cucu kesayangan memang dilematis. Waktu kecil, mbah membawakanku kue-kue lezat dari emper pasar, atau bubur sagu manis yang kujilati sampai daun pisangnya mengkilap. Saat mbah menua dan berhenti jualan, aku yang merawatnya setiap hari. Hal sekecil apa pun, aku yang dipanggil. Baik atau buruk, aku yang kena. Pernah mbah menuduhku mencuri kebayanya yang tiba-tiba hilang di jemuran. Di hari lain, dia menyalahkanku karena hujan turun tidak sesuai keinginannya. Buat apa, coba, aku mencuri kebaya sepuh? Aku ini laki-laki, masih SMA. Pacar pun tak punya.

Namanya orang tua, lama-lama tabiatnya makin mirip bocah. Kasihan juga mbah. Dunianya pasti sepi,—bagaikan menonon drama pantomim panjang dari hari ke hari. Tak ada suara, tak ada musik, tak ada senandung gending bali di kamar mandi lagi. Dulu dia suka mendengar gema suara merdunya sendiri tatkala dia mandi. Tapi sejak dia tuli, nyanyiannya lebih bisa kudengar seperti ratapan yang bertalu-talu.

Ceritanya, dulu mbah demam tinggi dan pendengarannya langsung mati total. Semua suara tiba-tiba lenyap dari kehidupannya. Mbah syok berat waktu itu, tetapi di akhir tahun dia sudah bisa memahami jalan cerita sinetron kaleng di TV hanya dengan menerka gerakan bibir pemainnya.

“Coba kamu tutup telinga, Gilang,” demikian pinta mbah suatu hari. Dia bersikeras kalau suara genderang itu terus terdengar.

Aku menuruti permintaan remehnya, hanya sebagai tanda bahwa aku menghormati perintah orang tua, manut pada tradisi timur yang adiluhur. Kututup kedua lubang telingaku dengan telunjuk sampai tak setitik suara pun masuk.

Mbah memastikan aku benar-benar tak berisik dengan cara menaruh telunjuknya vertikal di bibir.

“Eh?” aku kaget setengah mati. Mataku terbuka lebar-lebar. Tiba-tiba saja aku mendengar suara genderang. Tun-tung-tung. Jelas sekali. Seolah-olah dengungannya tepat ada di samping kupingku.

Mbah tercengir lebar melihat lagakku yang kebingungan setengah mati. “Tuh ‘kan, tiga ketuk,” katanya sembari mengacungkan tiga jemari kanan. “Mbah tidak pernah bohong sama cucu.”

Aku mengangguk. Heran sejadi-jadinya. Kalau ada geledek meledak di samping perempuan uzur mantan pedagang jajan itu pun, dia tak akan dengar. Aneh betul. Apa yang menyebabkannya bisa mendengar suara genderang itu menjadi pertanyaan yang sontak mengganggu batinku.

Tung-tung-tung. Tung-tung-tung.

Irama tiga ketuk. Terdengar dari balik tembok. Penasaran, aku beranjak ke jendela, memeriksa ke balik tembok rumah. Tak ada siapa pun. Kututup lagi telinga. Suara genderang itu terdengar lagi. Tiga ketuk. Dari arah pintu. Jelas sekali. Aku jadi berangasan bercampur takjub. Kutengok pintu, tak ada seorang pun.

Mbah mengulum tawa melihat tingkahku. Bibirnya yang cokelat longgar melebar.

Tung-tung-tung. Lagi. Kali itu di arah halaman. Berpindah begitu cepat. Suaranya menggiringku kesana kemari, membangkitkan semua endapan rasa jengahku.

Demikianlah hari itu aku dibuat penasaran oleh irama genderang yang lenyap-timbul itu, seperti bersahut-sahutan di satu pojok ke pojok lain, satu arah ke arah lain. Tak bisa kuramalkan dari mana sumbernya akan muncul. Ajaib, sekaligus menakutkan.

Hari berikutnya, kembali mbah heboh sendiri. Dia menyeretku dengan lengannya yang kurus nan keriput, memaksaku duduk di tepi ranjangnya yang hangat. Kemudian, mbah menempelkan telunjuknya di bibir, pertanda aku harus diam dan dengar.

“Suaranya sekarang dua ketuk saja,” bisiknya. “Sudah sejak pagi tadi. Mbah ikuti suaranya sampai ke pasar, tapi tidak ketemu.”

Waduh. Bahaya kalau mbah sampai ke pasar sendirian. Beberapa kali dia memang nekad pergi ke pasar dengan hanya mengandalkan pengelihatannya yang setajam elang dan senyum polosnya yang membuat semua pedagang iba. Kakinya masih lumayan kuat berjalan sampai perempatan desa, menelisik berbagai jenis pedagang rempah, lalu pulang membawa seikat serai dan sebuntal rerempah wangi yang dibungkus daun jati. Baginya, itu semua harta karun. Dia akan menghabiskan berjam-jam untuk melumat semua bahan itu dan dijadikannya lulur hangat.

“Mbah,” aku melebarkan gerakan mulutku agar bisa dibaca mbah. “Jangan pergi ke pasar sendirian. Bahaya.”

Mbah cuma geleng-geleng. Entah dia sadar atau tidak bahwa kendaraan jenis apa pun bisa menyerempetnya tatkala menyeberang. Klakson segarang apa pun tak akan pernah mampu mengejutkannya.

Aku berdecak kesal, apalagi ketika mbah malah meraih kedua tanganku dan memaksaku menyumbat lubang telinga dengan ujung telunjuk.

“Tutup telinga,” rengeknya dengan suara parau. “Baru kedengaran.”

Aku menutup telinga. Benar terdengar. Dua ketuk. Dari balik pintu, dari belakang tembok. Sahut-menyahut.

Tung-tung.

Bulu tengkukku berdiri. Masa iya suara jantungku sebesar dan semerdu itu? Dan bagaimana mungkin mbah mendengar sesuatu dengan saraf pendengaran yang sudah keropos dan putus?

Tung-tung.

Aku menatap mbah yang malah terkekeh memperhatikan raut mukaku yang seperti lutung ketakutan. Betapa bangganya nenekku itu. Walaupun tuli, dia masih bisa membuatku kaget dan kebingungan.

Tak sampai seminggu kemudian, di sebuah senja yang hangat, mbah kembali memanggilku dan berkata lirih setelah aku duduk di sebelahnya, “Gilang, sini,” panggilnya separuh berbisik. “Kali ini ketukannya cuma satu.”

Kututup telingaku, berkonsentrasi.

Tung-tung.

Aku menunjukkan dua jari padanya. Dua ketukan. Sama seperti hari sebelumnya. Dari balik tembok, dari belakang pintu.

Mbah menggeleng cepat. Dia menunjukkan satu jari. Dia hanya mendengar satu ketukan. Kami berdebat singkat dengan mengacung-acungkan satu dan dua jari, sampai akhirnya aku menyudahinya dengan seuntai senyum dan kecupan hangat di keningnya.

Malam itu juga, sedikit lebih daripada separuh tengah malam, mbah menggedor pintu kamarku sambil berseru lantang memanggil namaku. Seperti biasa, volumenya sangat kencang, laksana mengusir burung-burung pipit di sawah.

Wajar buat anak SMA, aku nyaris tak pernah tidur pakai baju. Buru-buru kukenakan pakaian seadanya, dan kubuka kunci pintu.

“Tidak kedengaran lagi,” semprotnya, bahkan sebelum aku bertanya. “Suaranya hilang.”

Aku mendesah. Mungkin saraf pendengaran mbah sedang menggeliat-geliat sehingga terjadi halusinasi pendengaran selama beberapa hari. Namun bagaimana aku harus menjelaskannya kepada mbah adalah sebuah perkara pelik, serumit misteri suara genderang yang juga kudengar sendiri.

Aku pun menutup telinga, “Masih dua ketukan,” ujarku sembari memberi tanda jari.

Mbah menggeleng kecewa. Kali itu pasti dia sudah sangat frustrasi karena pendengarannya benar-benar sudah binasa. Harapannya untuk bebas dari dunia pantomim itu pastinya sudah lenyap. Aku kemudian memeluknya erat, mencoba menyerap sebagian rasa gundahnya.

Esok paginya aku dibangunkan Pak Eko, si tukang parkir pasar yang berkaok-kaok memanggilku sampai menggedor pintu.

“Gilang! Gilang!”

Pintu kubuka.

“Mbahmu!”

Beberapa orang datang tak lama kemudian. Menurut penuturan mereka, mbah diserempet motor. Pengendaranya pemuda uring-uringan dengan isi kepala hanyut sebelah dilulur miras. Jenazahnya kulihat tertutup kain, diangkat empat orang, dikerubungi orang-orang yang syok.

“Mbahmu bilang, katanya mau cari tukang genderang,” tutur Bu Jami si dagang bubur. “Tiba-tiba saja motor itu mengebut dan menyerempetnya.”

Aku lunglai. Sudah kularang ratusan kali dia pergi ke pasar.

Lalu kututup telinga, menghayati resah yang bercelincak, dan aku tertegun.

Tung!

Satu ketuk suara genderang. Di belakang pintu, di balik tembok. Hanya sekali, lalu sekali lagi. Aku terus mendengarnya berdentung hingga detik ini tiap kali aku menutup telinga. Tatkala suara-suara lain lenyap, aku bisa mendengar suara genderang itu. Hanya sekali, lalu sekali lagi.

Jika kamu tak percaya, mungkin boleh kamu coba tutup telinga. Biasanya, bila semua suara di luar sudah tidak kamu dengar lagi, kamu akan mendengar suara genderang. mungkin sampai tiga ketukan. Kalau masih ada dua ketukan, kamu boleh lega. Jika hanya tinggal satu ketukan, sebaiknya kamu mulai waspada. Orang-orang yang pernah kamu caci maki, fitnah, hina dan sebagainya,—sebaiknya minta maaflah pada mereka.

Tetapi jika tak ada suara genderang lagi yang kamu dengar, bersiap-siaplah dijemput kapan saja. Kamu selama ini memang benar-benar tuli! [T]

Mangupura, 7 Mei 2019

Tags: Cerpen
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Next Post

Drama Gong Raudal, Jengki, & Yoki #Seri Nostalgia Sastrawan Sanggar Minum Kopi

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Drama Gong Raudal, Jengki, & Yoki  #Seri Nostalgia Sastrawan Sanggar Minum Kopi

Drama Gong Raudal, Jengki, & Yoki #Seri Nostalgia Sastrawan Sanggar Minum Kopi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co