3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

GM Sukawidana by GM Sukawidana
June 2, 2019
in Puisi
Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Karya Nyoman Erawan


UPACARA MUARA TELUK BENOA

(karena kau telah minum, putu satria kusuma)


putu, apakah kau minum tuak, arak, atau …?

mari minum saja di sini, putu!

ini lapak tuak pan sondri

kau belum tahu itu!

tuak yang disadap dari darah dan air mata nenek moyangku

perih terasa memang

tapi mari dan mari bersulang di sini

tenggak habis seberapa kau bisa

sambil bernyanyi – nyanyi mengingat masa lalu

yang penuh gairah menggelandang

(kau dan aku sudah tahu telah banyak kehilangan)


lihat!

perempuan – perempuan malam

satu persatu menanggalkan pakaiannya

menari telanjang dalam buih

dalam bumbung – bumbung tuak

sihirnya silaukan mata

tanganku tanganmu

gemetar menjamah setiap liukan tubuhnya

bulan terkapar di tempayan

anak – anak pesisir teluk benoa

dengan bara api di tangan

mencari – cari jejak moyangnya

ke celah – celah bakau di pasang air payau


“bulanku! bulanku! berlabuh di manakah malam ini?

sunyi malam sedari tadi selalu sunyi!”


jika nanti teluk benoa ditimbun

sungai – sungai kehilangan muara

ke mana sampan mesti menepi

(kau dan aku kehilangan sumber mata air nenek moyang

di tanah sendiri)


malam biarkan semakin larut dan mengental

biarkan perempuan – perempuan menari sampai lupa diri

biarkan semuanya!


ayo, putu! mari minum ini tuak di sudut gelap

biar tahu rasa bagaimana sakitnya moyang

menjaga tanah warisan ini

untuk kau dan aku, untuk anak cucu kelak


ayo minum, putu!

biar lupa semua!

kau dan aku berenang dalam  gelisah ombak pesisir

tak berdaya melawan bahasa kuasa

mari bersulang!

mari bersenang-senang!

mari minum!

untuk kemudian

kau dan aku tidak tahu ada di mana

dan bagaimana matahari esok!


(pesisir serangan 2016 – 2017)


UPACARA TERAKHIR


(“lata mahosadhi,

kau harus tahu

tanah moyangmu adalah tanah tembunimu sendiri

tanah yang diupacarai!”)


(1)

dari balik kabut

siapa memainkan bayangku

serupa anak lanang yang menenggak bergantang tuak

berselancar menunggang birahi ombak

terhempas di pasir –  pasir pesisir serangan

kerut wajah nelayan di sini

nampak semakin kusut dan keruh

tergusur setapak demi setapak

dari tanah moyang yang disengketakan


(2)

ini hari

jangan ada yang mengirim seteru

buat anak cucu

di atas kulit biawak

kutulis mantra purba dengan huruf purba

kau membacanya berulang ulang

luruh tenung sakti balian kiwa

para peri menampakkan pasang air payau

akar bakau menyusup ke sumsum –  sumsum senja

matahari begitu kelam menggantung di langit jingga

para nelayan pesisir teluk benoa

tak tahu mesti di mana menambatkan sampan

jalan pulang di tepi muara tak nampak lagi

setelah kabut kegelapan menutup kaki langit


(3)

duh!

bape rembang! bape rembang!

sesaat setelah bumbang ditabuh di bale banjar

ke mana made teruna menabuh gambelan?

ke mana ni nyoman bajang menari rejang?

pratima para dewa telah kembali ke bale agung

dengan upacara masegeh

bulan teronggok di padang –  padang senyap

bulakan tak lagi menampung mata air

asap pedupaan menjadi redup

dan aku kehilangan rona langit

perang pandan orang – orang pedalaman bali

tak mengucurkan darah

buat membasuh luka tanah moyang


(4)

duh! anak lanangku!

saat gerhana di puncak meru

tabuhlah lesung di pekarangan

rajah lidahmu

rajah ubun – ubunmu

panggillah bulan!

panggillah matahari!

rapal mantra – mantra purba

dengan suara paraumu

halau semua seteru

jimatmu benang tridatu

dan tapak silang di ulu hati

jika malam semakin berkabut

dan mantra para seteru semakin mengental

sulut api sorot matamu

nyalakan perapian leluhur

jadikan padang kuru

karena ini pertaruhan terakhir

antara kau dan seterumu

menjaga tanah yang memeram tembunimu


duh made teruna! duh ni nyoman bajang!

akankah kau menyerahkan begitu saja

apa yang masih tersisa dari sisa yang terampas?


(4)

di wajah tuaku

tergurat kegetiran hidup anak cucu

tanpa tanah moyangnya


(pesisir serangan, 2014

denpasar, maret 2018)


DI BULELENG AKU TERDAMPAR DI PANTAI LINGGA


siapa menyalakan matahari senja

cahayanya memantul di bening mataku

teriak sayup menyelinap di antara puluhan batu nisan

dan padang ilalang

ada batu karang kokoh diterjang ombak

seperti memahatkan wajah perjakaku

untuk kemudian hilang begitu saja

terserap dinginnya angin laut


wahai, pantai yang senyap!

deburan ombak semakin menghilang

langit merah berubah kelam

ada bayang menampakkan diri

meninggalkan jejak di pasir – pasir hitam

aku melacak jauh


wahai, pantai yang senyap!

kau tabuhkan bara di degup jantungku

laknat yang kusembunyikan

membuncah pecah di sela – sela kecipak  buih

yang menjilati birahi purba


wahai, pantai yang senyap

panggung tarian perempuan bergigi emas

gincunya merah tebal

penuh senyum

mimpi apa yang kau tawarkan malam ini?


(buleleng 2016)


DI PESISIR PELABUHAN  BULELENG

                        aku tak lagi menyapamu


setelah melaut jauh

sampan purba nenek moyang yang kukayuh

menepi digiring angin utara

jangan ada yang tanya

ke sarang mana burung – burung senja pulang?!

laut begitu bening dan tenang

tak keruh dan meronta seperti degup di jantungku

ini membuatku tak betah menantimu

sampan yang kukayuh semenjak kanak – kanak

dengan tali-temali yang usang

kutambatkan pada tiang – tiang dermaga yang rapuh

tanpa jimat tanpa upacara penghormatan

biarkan saja riak air menembang akhir perjalanan ini

mengiringi tarian jiwa yang berlabuh di lidah api

aku mau pulang

ke rumah yang tak kutahu tempatnya

seperti pasir dihempas kecipak air

selalu menepi entah ke sisi mana


di pesisir pelabuhan buleleng

aku menunggu matahari tenggelam

bersama kelam

kulepas bayang sendiri di air

untuk kemudian hanyut dibawa arus pasang

menuju muara yang tak kutahu namanya

saat itu

aku tak lagi menyapamu


(buleleng 2016)

Tags: Puisi
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Leukemia, Yang Belum Kalah

Next Post

Para Pemburu Kembali ke Rumah

GM Sukawidana

GM Sukawidana

Penyair, tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails
Next Post
Para Pemburu Kembali ke Rumah

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co