2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

GM Sukawidana by GM Sukawidana
June 2, 2019
in Puisi
Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Karya Nyoman Erawan


UPACARA MUARA TELUK BENOA

(karena kau telah minum, putu satria kusuma)


putu, apakah kau minum tuak, arak, atau …?

mari minum saja di sini, putu!

ini lapak tuak pan sondri

kau belum tahu itu!

tuak yang disadap dari darah dan air mata nenek moyangku

perih terasa memang

tapi mari dan mari bersulang di sini

tenggak habis seberapa kau bisa

sambil bernyanyi – nyanyi mengingat masa lalu

yang penuh gairah menggelandang

(kau dan aku sudah tahu telah banyak kehilangan)


lihat!

perempuan – perempuan malam

satu persatu menanggalkan pakaiannya

menari telanjang dalam buih

dalam bumbung – bumbung tuak

sihirnya silaukan mata

tanganku tanganmu

gemetar menjamah setiap liukan tubuhnya

bulan terkapar di tempayan

anak – anak pesisir teluk benoa

dengan bara api di tangan

mencari – cari jejak moyangnya

ke celah – celah bakau di pasang air payau


“bulanku! bulanku! berlabuh di manakah malam ini?

sunyi malam sedari tadi selalu sunyi!”


jika nanti teluk benoa ditimbun

sungai – sungai kehilangan muara

ke mana sampan mesti menepi

(kau dan aku kehilangan sumber mata air nenek moyang

di tanah sendiri)


malam biarkan semakin larut dan mengental

biarkan perempuan – perempuan menari sampai lupa diri

biarkan semuanya!


ayo, putu! mari minum ini tuak di sudut gelap

biar tahu rasa bagaimana sakitnya moyang

menjaga tanah warisan ini

untuk kau dan aku, untuk anak cucu kelak


ayo minum, putu!

biar lupa semua!

kau dan aku berenang dalam  gelisah ombak pesisir

tak berdaya melawan bahasa kuasa

mari bersulang!

mari bersenang-senang!

mari minum!

untuk kemudian

kau dan aku tidak tahu ada di mana

dan bagaimana matahari esok!


(pesisir serangan 2016 – 2017)


UPACARA TERAKHIR


(“lata mahosadhi,

kau harus tahu

tanah moyangmu adalah tanah tembunimu sendiri

tanah yang diupacarai!”)


(1)

dari balik kabut

siapa memainkan bayangku

serupa anak lanang yang menenggak bergantang tuak

berselancar menunggang birahi ombak

terhempas di pasir –  pasir pesisir serangan

kerut wajah nelayan di sini

nampak semakin kusut dan keruh

tergusur setapak demi setapak

dari tanah moyang yang disengketakan


(2)

ini hari

jangan ada yang mengirim seteru

buat anak cucu

di atas kulit biawak

kutulis mantra purba dengan huruf purba

kau membacanya berulang ulang

luruh tenung sakti balian kiwa

para peri menampakkan pasang air payau

akar bakau menyusup ke sumsum –  sumsum senja

matahari begitu kelam menggantung di langit jingga

para nelayan pesisir teluk benoa

tak tahu mesti di mana menambatkan sampan

jalan pulang di tepi muara tak nampak lagi

setelah kabut kegelapan menutup kaki langit


(3)

duh!

bape rembang! bape rembang!

sesaat setelah bumbang ditabuh di bale banjar

ke mana made teruna menabuh gambelan?

ke mana ni nyoman bajang menari rejang?

pratima para dewa telah kembali ke bale agung

dengan upacara masegeh

bulan teronggok di padang –  padang senyap

bulakan tak lagi menampung mata air

asap pedupaan menjadi redup

dan aku kehilangan rona langit

perang pandan orang – orang pedalaman bali

tak mengucurkan darah

buat membasuh luka tanah moyang


(4)

duh! anak lanangku!

saat gerhana di puncak meru

tabuhlah lesung di pekarangan

rajah lidahmu

rajah ubun – ubunmu

panggillah bulan!

panggillah matahari!

rapal mantra – mantra purba

dengan suara paraumu

halau semua seteru

jimatmu benang tridatu

dan tapak silang di ulu hati

jika malam semakin berkabut

dan mantra para seteru semakin mengental

sulut api sorot matamu

nyalakan perapian leluhur

jadikan padang kuru

karena ini pertaruhan terakhir

antara kau dan seterumu

menjaga tanah yang memeram tembunimu


duh made teruna! duh ni nyoman bajang!

akankah kau menyerahkan begitu saja

apa yang masih tersisa dari sisa yang terampas?


(4)

di wajah tuaku

tergurat kegetiran hidup anak cucu

tanpa tanah moyangnya


(pesisir serangan, 2014

denpasar, maret 2018)


DI BULELENG AKU TERDAMPAR DI PANTAI LINGGA


siapa menyalakan matahari senja

cahayanya memantul di bening mataku

teriak sayup menyelinap di antara puluhan batu nisan

dan padang ilalang

ada batu karang kokoh diterjang ombak

seperti memahatkan wajah perjakaku

untuk kemudian hilang begitu saja

terserap dinginnya angin laut


wahai, pantai yang senyap!

deburan ombak semakin menghilang

langit merah berubah kelam

ada bayang menampakkan diri

meninggalkan jejak di pasir – pasir hitam

aku melacak jauh


wahai, pantai yang senyap!

kau tabuhkan bara di degup jantungku

laknat yang kusembunyikan

membuncah pecah di sela – sela kecipak  buih

yang menjilati birahi purba


wahai, pantai yang senyap

panggung tarian perempuan bergigi emas

gincunya merah tebal

penuh senyum

mimpi apa yang kau tawarkan malam ini?


(buleleng 2016)


DI PESISIR PELABUHAN  BULELENG

                        aku tak lagi menyapamu


setelah melaut jauh

sampan purba nenek moyang yang kukayuh

menepi digiring angin utara

jangan ada yang tanya

ke sarang mana burung – burung senja pulang?!

laut begitu bening dan tenang

tak keruh dan meronta seperti degup di jantungku

ini membuatku tak betah menantimu

sampan yang kukayuh semenjak kanak – kanak

dengan tali-temali yang usang

kutambatkan pada tiang – tiang dermaga yang rapuh

tanpa jimat tanpa upacara penghormatan

biarkan saja riak air menembang akhir perjalanan ini

mengiringi tarian jiwa yang berlabuh di lidah api

aku mau pulang

ke rumah yang tak kutahu tempatnya

seperti pasir dihempas kecipak air

selalu menepi entah ke sisi mana


di pesisir pelabuhan buleleng

aku menunggu matahari tenggelam

bersama kelam

kulepas bayang sendiri di air

untuk kemudian hanyut dibawa arus pasang

menuju muara yang tak kutahu namanya

saat itu

aku tak lagi menyapamu


(buleleng 2016)

Tags: Puisi
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Leukemia, Yang Belum Kalah

Next Post

Para Pemburu Kembali ke Rumah

GM Sukawidana

GM Sukawidana

Penyair, tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Para Pemburu Kembali ke Rumah

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co