14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

GM Sukawidana by GM Sukawidana
June 2, 2019
in Puisi
Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Karya Nyoman Erawan


UPACARA MUARA TELUK BENOA

(karena kau telah minum, putu satria kusuma)


putu, apakah kau minum tuak, arak, atau …?

mari minum saja di sini, putu!

ini lapak tuak pan sondri

kau belum tahu itu!

tuak yang disadap dari darah dan air mata nenek moyangku

perih terasa memang

tapi mari dan mari bersulang di sini

tenggak habis seberapa kau bisa

sambil bernyanyi – nyanyi mengingat masa lalu

yang penuh gairah menggelandang

(kau dan aku sudah tahu telah banyak kehilangan)


lihat!

perempuan – perempuan malam

satu persatu menanggalkan pakaiannya

menari telanjang dalam buih

dalam bumbung – bumbung tuak

sihirnya silaukan mata

tanganku tanganmu

gemetar menjamah setiap liukan tubuhnya

bulan terkapar di tempayan

anak – anak pesisir teluk benoa

dengan bara api di tangan

mencari – cari jejak moyangnya

ke celah – celah bakau di pasang air payau


“bulanku! bulanku! berlabuh di manakah malam ini?

sunyi malam sedari tadi selalu sunyi!”


jika nanti teluk benoa ditimbun

sungai – sungai kehilangan muara

ke mana sampan mesti menepi

(kau dan aku kehilangan sumber mata air nenek moyang

di tanah sendiri)


malam biarkan semakin larut dan mengental

biarkan perempuan – perempuan menari sampai lupa diri

biarkan semuanya!


ayo, putu! mari minum ini tuak di sudut gelap

biar tahu rasa bagaimana sakitnya moyang

menjaga tanah warisan ini

untuk kau dan aku, untuk anak cucu kelak


ayo minum, putu!

biar lupa semua!

kau dan aku berenang dalam  gelisah ombak pesisir

tak berdaya melawan bahasa kuasa

mari bersulang!

mari bersenang-senang!

mari minum!

untuk kemudian

kau dan aku tidak tahu ada di mana

dan bagaimana matahari esok!


(pesisir serangan 2016 – 2017)


UPACARA TERAKHIR


(“lata mahosadhi,

kau harus tahu

tanah moyangmu adalah tanah tembunimu sendiri

tanah yang diupacarai!”)


(1)

dari balik kabut

siapa memainkan bayangku

serupa anak lanang yang menenggak bergantang tuak

berselancar menunggang birahi ombak

terhempas di pasir –  pasir pesisir serangan

kerut wajah nelayan di sini

nampak semakin kusut dan keruh

tergusur setapak demi setapak

dari tanah moyang yang disengketakan


(2)

ini hari

jangan ada yang mengirim seteru

buat anak cucu

di atas kulit biawak

kutulis mantra purba dengan huruf purba

kau membacanya berulang ulang

luruh tenung sakti balian kiwa

para peri menampakkan pasang air payau

akar bakau menyusup ke sumsum –  sumsum senja

matahari begitu kelam menggantung di langit jingga

para nelayan pesisir teluk benoa

tak tahu mesti di mana menambatkan sampan

jalan pulang di tepi muara tak nampak lagi

setelah kabut kegelapan menutup kaki langit


(3)

duh!

bape rembang! bape rembang!

sesaat setelah bumbang ditabuh di bale banjar

ke mana made teruna menabuh gambelan?

ke mana ni nyoman bajang menari rejang?

pratima para dewa telah kembali ke bale agung

dengan upacara masegeh

bulan teronggok di padang –  padang senyap

bulakan tak lagi menampung mata air

asap pedupaan menjadi redup

dan aku kehilangan rona langit

perang pandan orang – orang pedalaman bali

tak mengucurkan darah

buat membasuh luka tanah moyang


(4)

duh! anak lanangku!

saat gerhana di puncak meru

tabuhlah lesung di pekarangan

rajah lidahmu

rajah ubun – ubunmu

panggillah bulan!

panggillah matahari!

rapal mantra – mantra purba

dengan suara paraumu

halau semua seteru

jimatmu benang tridatu

dan tapak silang di ulu hati

jika malam semakin berkabut

dan mantra para seteru semakin mengental

sulut api sorot matamu

nyalakan perapian leluhur

jadikan padang kuru

karena ini pertaruhan terakhir

antara kau dan seterumu

menjaga tanah yang memeram tembunimu


duh made teruna! duh ni nyoman bajang!

akankah kau menyerahkan begitu saja

apa yang masih tersisa dari sisa yang terampas?


(4)

di wajah tuaku

tergurat kegetiran hidup anak cucu

tanpa tanah moyangnya


(pesisir serangan, 2014

denpasar, maret 2018)


DI BULELENG AKU TERDAMPAR DI PANTAI LINGGA


siapa menyalakan matahari senja

cahayanya memantul di bening mataku

teriak sayup menyelinap di antara puluhan batu nisan

dan padang ilalang

ada batu karang kokoh diterjang ombak

seperti memahatkan wajah perjakaku

untuk kemudian hilang begitu saja

terserap dinginnya angin laut


wahai, pantai yang senyap!

deburan ombak semakin menghilang

langit merah berubah kelam

ada bayang menampakkan diri

meninggalkan jejak di pasir – pasir hitam

aku melacak jauh


wahai, pantai yang senyap!

kau tabuhkan bara di degup jantungku

laknat yang kusembunyikan

membuncah pecah di sela – sela kecipak  buih

yang menjilati birahi purba


wahai, pantai yang senyap

panggung tarian perempuan bergigi emas

gincunya merah tebal

penuh senyum

mimpi apa yang kau tawarkan malam ini?


(buleleng 2016)


DI PESISIR PELABUHAN  BULELENG

                        aku tak lagi menyapamu


setelah melaut jauh

sampan purba nenek moyang yang kukayuh

menepi digiring angin utara

jangan ada yang tanya

ke sarang mana burung – burung senja pulang?!

laut begitu bening dan tenang

tak keruh dan meronta seperti degup di jantungku

ini membuatku tak betah menantimu

sampan yang kukayuh semenjak kanak – kanak

dengan tali-temali yang usang

kutambatkan pada tiang – tiang dermaga yang rapuh

tanpa jimat tanpa upacara penghormatan

biarkan saja riak air menembang akhir perjalanan ini

mengiringi tarian jiwa yang berlabuh di lidah api

aku mau pulang

ke rumah yang tak kutahu tempatnya

seperti pasir dihempas kecipak air

selalu menepi entah ke sisi mana


di pesisir pelabuhan buleleng

aku menunggu matahari tenggelam

bersama kelam

kulepas bayang sendiri di air

untuk kemudian hanyut dibawa arus pasang

menuju muara yang tak kutahu namanya

saat itu

aku tak lagi menyapamu


(buleleng 2016)

Tags: Puisi
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Leukemia, Yang Belum Kalah

Next Post

Para Pemburu Kembali ke Rumah

GM Sukawidana

GM Sukawidana

Penyair, tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails
Next Post
Para Pemburu Kembali ke Rumah

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co