13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

GM Sukawidana by GM Sukawidana
June 2, 2019
in Puisi
Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Karya Nyoman Erawan


UPACARA MUARA TELUK BENOA

(karena kau telah minum, putu satria kusuma)


putu, apakah kau minum tuak, arak, atau …?

mari minum saja di sini, putu!

ini lapak tuak pan sondri

kau belum tahu itu!

tuak yang disadap dari darah dan air mata nenek moyangku

perih terasa memang

tapi mari dan mari bersulang di sini

tenggak habis seberapa kau bisa

sambil bernyanyi – nyanyi mengingat masa lalu

yang penuh gairah menggelandang

(kau dan aku sudah tahu telah banyak kehilangan)


lihat!

perempuan – perempuan malam

satu persatu menanggalkan pakaiannya

menari telanjang dalam buih

dalam bumbung – bumbung tuak

sihirnya silaukan mata

tanganku tanganmu

gemetar menjamah setiap liukan tubuhnya

bulan terkapar di tempayan

anak – anak pesisir teluk benoa

dengan bara api di tangan

mencari – cari jejak moyangnya

ke celah – celah bakau di pasang air payau


“bulanku! bulanku! berlabuh di manakah malam ini?

sunyi malam sedari tadi selalu sunyi!”


jika nanti teluk benoa ditimbun

sungai – sungai kehilangan muara

ke mana sampan mesti menepi

(kau dan aku kehilangan sumber mata air nenek moyang

di tanah sendiri)


malam biarkan semakin larut dan mengental

biarkan perempuan – perempuan menari sampai lupa diri

biarkan semuanya!


ayo, putu! mari minum ini tuak di sudut gelap

biar tahu rasa bagaimana sakitnya moyang

menjaga tanah warisan ini

untuk kau dan aku, untuk anak cucu kelak


ayo minum, putu!

biar lupa semua!

kau dan aku berenang dalam  gelisah ombak pesisir

tak berdaya melawan bahasa kuasa

mari bersulang!

mari bersenang-senang!

mari minum!

untuk kemudian

kau dan aku tidak tahu ada di mana

dan bagaimana matahari esok!


(pesisir serangan 2016 – 2017)


UPACARA TERAKHIR


(“lata mahosadhi,

kau harus tahu

tanah moyangmu adalah tanah tembunimu sendiri

tanah yang diupacarai!”)


(1)

dari balik kabut

siapa memainkan bayangku

serupa anak lanang yang menenggak bergantang tuak

berselancar menunggang birahi ombak

terhempas di pasir –  pasir pesisir serangan

kerut wajah nelayan di sini

nampak semakin kusut dan keruh

tergusur setapak demi setapak

dari tanah moyang yang disengketakan


(2)

ini hari

jangan ada yang mengirim seteru

buat anak cucu

di atas kulit biawak

kutulis mantra purba dengan huruf purba

kau membacanya berulang ulang

luruh tenung sakti balian kiwa

para peri menampakkan pasang air payau

akar bakau menyusup ke sumsum –  sumsum senja

matahari begitu kelam menggantung di langit jingga

para nelayan pesisir teluk benoa

tak tahu mesti di mana menambatkan sampan

jalan pulang di tepi muara tak nampak lagi

setelah kabut kegelapan menutup kaki langit


(3)

duh!

bape rembang! bape rembang!

sesaat setelah bumbang ditabuh di bale banjar

ke mana made teruna menabuh gambelan?

ke mana ni nyoman bajang menari rejang?

pratima para dewa telah kembali ke bale agung

dengan upacara masegeh

bulan teronggok di padang –  padang senyap

bulakan tak lagi menampung mata air

asap pedupaan menjadi redup

dan aku kehilangan rona langit

perang pandan orang – orang pedalaman bali

tak mengucurkan darah

buat membasuh luka tanah moyang


(4)

duh! anak lanangku!

saat gerhana di puncak meru

tabuhlah lesung di pekarangan

rajah lidahmu

rajah ubun – ubunmu

panggillah bulan!

panggillah matahari!

rapal mantra – mantra purba

dengan suara paraumu

halau semua seteru

jimatmu benang tridatu

dan tapak silang di ulu hati

jika malam semakin berkabut

dan mantra para seteru semakin mengental

sulut api sorot matamu

nyalakan perapian leluhur

jadikan padang kuru

karena ini pertaruhan terakhir

antara kau dan seterumu

menjaga tanah yang memeram tembunimu


duh made teruna! duh ni nyoman bajang!

akankah kau menyerahkan begitu saja

apa yang masih tersisa dari sisa yang terampas?


(4)

di wajah tuaku

tergurat kegetiran hidup anak cucu

tanpa tanah moyangnya


(pesisir serangan, 2014

denpasar, maret 2018)


DI BULELENG AKU TERDAMPAR DI PANTAI LINGGA


siapa menyalakan matahari senja

cahayanya memantul di bening mataku

teriak sayup menyelinap di antara puluhan batu nisan

dan padang ilalang

ada batu karang kokoh diterjang ombak

seperti memahatkan wajah perjakaku

untuk kemudian hilang begitu saja

terserap dinginnya angin laut


wahai, pantai yang senyap!

deburan ombak semakin menghilang

langit merah berubah kelam

ada bayang menampakkan diri

meninggalkan jejak di pasir – pasir hitam

aku melacak jauh


wahai, pantai yang senyap!

kau tabuhkan bara di degup jantungku

laknat yang kusembunyikan

membuncah pecah di sela – sela kecipak  buih

yang menjilati birahi purba


wahai, pantai yang senyap

panggung tarian perempuan bergigi emas

gincunya merah tebal

penuh senyum

mimpi apa yang kau tawarkan malam ini?


(buleleng 2016)


DI PESISIR PELABUHAN  BULELENG

                        aku tak lagi menyapamu


setelah melaut jauh

sampan purba nenek moyang yang kukayuh

menepi digiring angin utara

jangan ada yang tanya

ke sarang mana burung – burung senja pulang?!

laut begitu bening dan tenang

tak keruh dan meronta seperti degup di jantungku

ini membuatku tak betah menantimu

sampan yang kukayuh semenjak kanak – kanak

dengan tali-temali yang usang

kutambatkan pada tiang – tiang dermaga yang rapuh

tanpa jimat tanpa upacara penghormatan

biarkan saja riak air menembang akhir perjalanan ini

mengiringi tarian jiwa yang berlabuh di lidah api

aku mau pulang

ke rumah yang tak kutahu tempatnya

seperti pasir dihempas kecipak air

selalu menepi entah ke sisi mana


di pesisir pelabuhan buleleng

aku menunggu matahari tenggelam

bersama kelam

kulepas bayang sendiri di air

untuk kemudian hanyut dibawa arus pasang

menuju muara yang tak kutahu namanya

saat itu

aku tak lagi menyapamu


(buleleng 2016)

Tags: Puisi
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Leukemia, Yang Belum Kalah

Next Post

Para Pemburu Kembali ke Rumah

GM Sukawidana

GM Sukawidana

Penyair, tinggal di Denpasar

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Para Pemburu Kembali ke Rumah

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co