23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
November 6, 2018
in Esai
Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Ilustrasi diolah dari Google

KOTA ini terletak 100 KM tenggara Surabaya. Daerahnya cukup strategis karena selain dilintasi jalur Pantura yang menjadi ‘urat’ pulau Jawa juga memiliki pelabuhan cargo yang kini sedang disulap sebagai pelabuhan pembantu Tanjung Perak. Selain itu juga memiliki pariwisata yang menjadi ikon pariwisata nasional: Gunung Bromo.

Ya meski tentu saja gunung yang sohor dengan lautan pasirnya itu oleh kebanyakan orang lebih dikenal sebagai milik Kabupaten Malang. Padahal sudah jelas-jelas kalau kita naik ke Gunung Bromo di dekat tangganya itu ada patok wilayah Probolinggo—kota/kabupaten yang akan saya perbincangkan dalam tulisan ini. Yang milik Malang (juga milik Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang) tentu adalah taman nasionalnya, yang dikenal dengan sebutan “Bromo-Tengger-Semeru. Tapi mana mereka mau tahu?

Selain cukup strategis, di masa kolonial kota ini dianggap sebagai kota yang cukup penting dan menjanjikan, sehingga akhirnya pemerintah kolonial mengangkat statusnya menjadi gementee (kotapraja)—untuk dibedakannya dengan kabupaten—setelah dipertimbangkan atas tiga faktor: faktor keuangan, faktor penduduk dan faktor keadaan setempat.

Selain tanahnya yang subur, tercatat ada dua belas pabrik gula di sana, dari seratus satu pabrik gula yang ada di Jawa Timur saat itu. Maka, karena keberadaan pabrik yang banyak itu—yang saat itu gula sebagai komoditas penting dalam perekonomian dunia—tak heran jika akhirnya banyak warga Eropa (terutama para pejabat kolonial) mukim di kota yang setiap tahunnya dilalui angin gending ini. Sehingga imbasnya banyak berdiri sekolah-sekolah kolonial, bahkan sekolah guru pun berdiri di sana. Salah satu alumni sekolah guru itu adalah Sukemi, ayah dari Sukarno. Probolinggo sempat dikenal sebagai kota pelajar. Meski kini bekas sebagai kota pelajar itu sudah tak tersisa dan julukan itu kemudian disandang Kota Malang.

Sekarang apa arti semua itu? Barangkali tak ada, kecuali sebagai kajian sejarah dan bahan romantisme semata. Karena selain ikon pariwisatanya yang oleh sebagian orang selalu diidentikkan dengan Malang, kota yang dikenal sebagai kota penghasil anggur dan mangga ini oleh beberapa orang dikira terletak di Jawa Tengah.

Loh kok?

Ini tidak mengada-ngada, Saudara. Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi maupun kawan-kawan saya yang berasal dari sana. Biasanya hal itu terjadi ketika bertemu dengan orang-orang yang berasal dari jauh. Orang-orang menyangka Probolinggo itu sama dengan Purbalingga yang berada di Jawa Tengah sono. Bahkan dalam biografi saya di salah satu buku antologi puisi yang saya ikuti, oleh editornya ditulis: Probolinggo – Jawa Tengah. Padahal jelas-jelas ada perbedaan O dengan A. Tapi mana mereka mau mengerti? Atau, kalaupun dalam ejaan Jawa sama-sama dibaca O, tentu kata “Purba/Purbo” jelas berbeda dengan “Probo”—yang memiliki makna “prabu; Probo+linggo, artinya “prabu singgah”, nama ini berkaitan dengan sejarah plesirnya Prabu Hayam Waruk dari Majapahit yang terabadikan dalam kitab Negarakretaga, karangan penyair Mpu Prapanca, dan kemudian menjadi asal-usul nama kota itu.

Sampai di sini sudah paham?

Kalaupun tidak paham ya tak apa-apa. Toh, saya masih sikap khusnudzon kok, bahwa orang yang tak tahu letak Probolinggo itu mungkin orang yang tak pernah melihat peta atau Google Map. Tapi saya haqqul yaqin setelah kasus Dimas Kanjeng jadi pemberitaan nasional selama beberapa pekan itu, maupun kasus teranyar yaitu anak-anak TK yang mengenakan cadar dan menjadi berita internasional, orang-orang yang tidak tahu letak Probolinggo atau menyangka kota itu sama dengan Purbalingga pasti menjadi mengecek lagi di Google Map atau membaca Wikipedia dan menyadari bahwa keduanya adalah dua kota yang berbeda.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Probolinggo tapi selalu disangka Probolinggo adalah Purbalingga tentu saya merasa resah nan gelisah. Dan tidak rela jika kota saya disalahpahami. Sekalipun saya sudah lama tidak tinggal di sana, toh primordialisme saya masih belum pudar.

Tapi, meskipun seringkali disalahpahami tentu saya tetap merasa bangga dengan kota saya. Sebab, rata-rata penduduknya bisa menggunakan tiga bahasa sekaligus dalam sekali percakapan. Kalau Malang punya bahasa walikan, Surabaya punya bahasa arek, Jaksel punya bahasa gado-gado, begitu pun dengan Probolinggo punya bahasa khas yang disebut bahasa “Bolinggoan”.

Jangan heran jika ada orang Probolinggo ketika berbicara, dalam satu kalimat pembicaraannya terdapat tiga bahasa, yaitu bahasa Madura, Jawa dan Indonesia. Ini tentu lebih khas ketimbang bahasa Jaksel dan lebih ramah produk lokal. Jangan heran pula, jika Anda bisa bahasa Madura dan Jawa lalu ketemu dengan orang Probolinggo, lalu mengajak berbincang dengan bahasa Madura tapi ditanggapi dengan bahasa Jawa. Atau mengajak berbincang dengan Bahasa Jawa tapi ditanggapi dengan bahasa Madura atau bahasa Indonesia. Mohon maklum. Kami memang biasa demikian. Selain sering disalahpahami, kami memang suka menyalahpahami.

Namun yang paling membanggakan dari sekadar bahasa yang campur aduk itu adalah, soal sepak bolanya. Bukan klubnya yang saya banggakan—karena klubnya sendiri tak pernah masuk devisi utama dalam liga Indonesia—melainkan supporternya. Ya supporternya.

Mengapa demikian? Karena klub sepak bola kota kami yang disebut Persipro itu memiliki supporter dengan nama “Jinggo Mania” atau “Laskar Minak Jinggo”, mengambil nama dari Prabu Minak Jinggo. Lha, padahal Prabu Minak Jinggo ini pahlawannya—atau setidaknya tokoh sejarah/legenda yang dibanggakan—orang Banyuwangi, karena ia sendiri konon adalah raja Blambangan. Tapi orang Probolinggo berani menyerobotnya dan memakai nama itu!

Meski, benar memang Probolinggo pada zaman dahulu adalah bagian dari kerajaan Blambangan dan menurut cerita raja yang selalu digambarkan antagonis oleh orang-orang non Blambangan itu konon mati di Probolinggo ketika melawan Damar Wulan, tapi toh daerah ini kan cuma pedukuhan kecil di tengah-tengah hutan dekat perbatasan bagian barat. Tentu bagi saya ini pencapaian luar biasa karena tak ada rasa ewuh-pakewuh terhadap warga pusat kerajaan. [T]

Tags: Jawa TimurKotaNamaProbolinggo
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Next Post

“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita #Kolom Made Metera

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita  #Kolom Made Metera

“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita #Kolom Made Metera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co