12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
November 6, 2018
in Esai
Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Ilustrasi diolah dari Google

KOTA ini terletak 100 KM tenggara Surabaya. Daerahnya cukup strategis karena selain dilintasi jalur Pantura yang menjadi ‘urat’ pulau Jawa juga memiliki pelabuhan cargo yang kini sedang disulap sebagai pelabuhan pembantu Tanjung Perak. Selain itu juga memiliki pariwisata yang menjadi ikon pariwisata nasional: Gunung Bromo.

Ya meski tentu saja gunung yang sohor dengan lautan pasirnya itu oleh kebanyakan orang lebih dikenal sebagai milik Kabupaten Malang. Padahal sudah jelas-jelas kalau kita naik ke Gunung Bromo di dekat tangganya itu ada patok wilayah Probolinggo—kota/kabupaten yang akan saya perbincangkan dalam tulisan ini. Yang milik Malang (juga milik Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang) tentu adalah taman nasionalnya, yang dikenal dengan sebutan “Bromo-Tengger-Semeru. Tapi mana mereka mau tahu?

Selain cukup strategis, di masa kolonial kota ini dianggap sebagai kota yang cukup penting dan menjanjikan, sehingga akhirnya pemerintah kolonial mengangkat statusnya menjadi gementee (kotapraja)—untuk dibedakannya dengan kabupaten—setelah dipertimbangkan atas tiga faktor: faktor keuangan, faktor penduduk dan faktor keadaan setempat.

Selain tanahnya yang subur, tercatat ada dua belas pabrik gula di sana, dari seratus satu pabrik gula yang ada di Jawa Timur saat itu. Maka, karena keberadaan pabrik yang banyak itu—yang saat itu gula sebagai komoditas penting dalam perekonomian dunia—tak heran jika akhirnya banyak warga Eropa (terutama para pejabat kolonial) mukim di kota yang setiap tahunnya dilalui angin gending ini. Sehingga imbasnya banyak berdiri sekolah-sekolah kolonial, bahkan sekolah guru pun berdiri di sana. Salah satu alumni sekolah guru itu adalah Sukemi, ayah dari Sukarno. Probolinggo sempat dikenal sebagai kota pelajar. Meski kini bekas sebagai kota pelajar itu sudah tak tersisa dan julukan itu kemudian disandang Kota Malang.

Sekarang apa arti semua itu? Barangkali tak ada, kecuali sebagai kajian sejarah dan bahan romantisme semata. Karena selain ikon pariwisatanya yang oleh sebagian orang selalu diidentikkan dengan Malang, kota yang dikenal sebagai kota penghasil anggur dan mangga ini oleh beberapa orang dikira terletak di Jawa Tengah.

Loh kok?

Ini tidak mengada-ngada, Saudara. Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi maupun kawan-kawan saya yang berasal dari sana. Biasanya hal itu terjadi ketika bertemu dengan orang-orang yang berasal dari jauh. Orang-orang menyangka Probolinggo itu sama dengan Purbalingga yang berada di Jawa Tengah sono. Bahkan dalam biografi saya di salah satu buku antologi puisi yang saya ikuti, oleh editornya ditulis: Probolinggo – Jawa Tengah. Padahal jelas-jelas ada perbedaan O dengan A. Tapi mana mereka mau mengerti? Atau, kalaupun dalam ejaan Jawa sama-sama dibaca O, tentu kata “Purba/Purbo” jelas berbeda dengan “Probo”—yang memiliki makna “prabu; Probo+linggo, artinya “prabu singgah”, nama ini berkaitan dengan sejarah plesirnya Prabu Hayam Waruk dari Majapahit yang terabadikan dalam kitab Negarakretaga, karangan penyair Mpu Prapanca, dan kemudian menjadi asal-usul nama kota itu.

Sampai di sini sudah paham?

Kalaupun tidak paham ya tak apa-apa. Toh, saya masih sikap khusnudzon kok, bahwa orang yang tak tahu letak Probolinggo itu mungkin orang yang tak pernah melihat peta atau Google Map. Tapi saya haqqul yaqin setelah kasus Dimas Kanjeng jadi pemberitaan nasional selama beberapa pekan itu, maupun kasus teranyar yaitu anak-anak TK yang mengenakan cadar dan menjadi berita internasional, orang-orang yang tidak tahu letak Probolinggo atau menyangka kota itu sama dengan Purbalingga pasti menjadi mengecek lagi di Google Map atau membaca Wikipedia dan menyadari bahwa keduanya adalah dua kota yang berbeda.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Probolinggo tapi selalu disangka Probolinggo adalah Purbalingga tentu saya merasa resah nan gelisah. Dan tidak rela jika kota saya disalahpahami. Sekalipun saya sudah lama tidak tinggal di sana, toh primordialisme saya masih belum pudar.

Tapi, meskipun seringkali disalahpahami tentu saya tetap merasa bangga dengan kota saya. Sebab, rata-rata penduduknya bisa menggunakan tiga bahasa sekaligus dalam sekali percakapan. Kalau Malang punya bahasa walikan, Surabaya punya bahasa arek, Jaksel punya bahasa gado-gado, begitu pun dengan Probolinggo punya bahasa khas yang disebut bahasa “Bolinggoan”.

Jangan heran jika ada orang Probolinggo ketika berbicara, dalam satu kalimat pembicaraannya terdapat tiga bahasa, yaitu bahasa Madura, Jawa dan Indonesia. Ini tentu lebih khas ketimbang bahasa Jaksel dan lebih ramah produk lokal. Jangan heran pula, jika Anda bisa bahasa Madura dan Jawa lalu ketemu dengan orang Probolinggo, lalu mengajak berbincang dengan bahasa Madura tapi ditanggapi dengan bahasa Jawa. Atau mengajak berbincang dengan Bahasa Jawa tapi ditanggapi dengan bahasa Madura atau bahasa Indonesia. Mohon maklum. Kami memang biasa demikian. Selain sering disalahpahami, kami memang suka menyalahpahami.

Namun yang paling membanggakan dari sekadar bahasa yang campur aduk itu adalah, soal sepak bolanya. Bukan klubnya yang saya banggakan—karena klubnya sendiri tak pernah masuk devisi utama dalam liga Indonesia—melainkan supporternya. Ya supporternya.

Mengapa demikian? Karena klub sepak bola kota kami yang disebut Persipro itu memiliki supporter dengan nama “Jinggo Mania” atau “Laskar Minak Jinggo”, mengambil nama dari Prabu Minak Jinggo. Lha, padahal Prabu Minak Jinggo ini pahlawannya—atau setidaknya tokoh sejarah/legenda yang dibanggakan—orang Banyuwangi, karena ia sendiri konon adalah raja Blambangan. Tapi orang Probolinggo berani menyerobotnya dan memakai nama itu!

Meski, benar memang Probolinggo pada zaman dahulu adalah bagian dari kerajaan Blambangan dan menurut cerita raja yang selalu digambarkan antagonis oleh orang-orang non Blambangan itu konon mati di Probolinggo ketika melawan Damar Wulan, tapi toh daerah ini kan cuma pedukuhan kecil di tengah-tengah hutan dekat perbatasan bagian barat. Tentu bagi saya ini pencapaian luar biasa karena tak ada rasa ewuh-pakewuh terhadap warga pusat kerajaan. [T]

Tags: Jawa TimurKotaNamaProbolinggo
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Next Post

“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita #Kolom Made Metera

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita  #Kolom Made Metera

“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita #Kolom Made Metera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co