2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
November 6, 2018
in Esai
Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Ilustrasi diolah dari Google

KOTA ini terletak 100 KM tenggara Surabaya. Daerahnya cukup strategis karena selain dilintasi jalur Pantura yang menjadi ‘urat’ pulau Jawa juga memiliki pelabuhan cargo yang kini sedang disulap sebagai pelabuhan pembantu Tanjung Perak. Selain itu juga memiliki pariwisata yang menjadi ikon pariwisata nasional: Gunung Bromo.

Ya meski tentu saja gunung yang sohor dengan lautan pasirnya itu oleh kebanyakan orang lebih dikenal sebagai milik Kabupaten Malang. Padahal sudah jelas-jelas kalau kita naik ke Gunung Bromo di dekat tangganya itu ada patok wilayah Probolinggo—kota/kabupaten yang akan saya perbincangkan dalam tulisan ini. Yang milik Malang (juga milik Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang) tentu adalah taman nasionalnya, yang dikenal dengan sebutan “Bromo-Tengger-Semeru. Tapi mana mereka mau tahu?

Selain cukup strategis, di masa kolonial kota ini dianggap sebagai kota yang cukup penting dan menjanjikan, sehingga akhirnya pemerintah kolonial mengangkat statusnya menjadi gementee (kotapraja)—untuk dibedakannya dengan kabupaten—setelah dipertimbangkan atas tiga faktor: faktor keuangan, faktor penduduk dan faktor keadaan setempat.

Selain tanahnya yang subur, tercatat ada dua belas pabrik gula di sana, dari seratus satu pabrik gula yang ada di Jawa Timur saat itu. Maka, karena keberadaan pabrik yang banyak itu—yang saat itu gula sebagai komoditas penting dalam perekonomian dunia—tak heran jika akhirnya banyak warga Eropa (terutama para pejabat kolonial) mukim di kota yang setiap tahunnya dilalui angin gending ini. Sehingga imbasnya banyak berdiri sekolah-sekolah kolonial, bahkan sekolah guru pun berdiri di sana. Salah satu alumni sekolah guru itu adalah Sukemi, ayah dari Sukarno. Probolinggo sempat dikenal sebagai kota pelajar. Meski kini bekas sebagai kota pelajar itu sudah tak tersisa dan julukan itu kemudian disandang Kota Malang.

Sekarang apa arti semua itu? Barangkali tak ada, kecuali sebagai kajian sejarah dan bahan romantisme semata. Karena selain ikon pariwisatanya yang oleh sebagian orang selalu diidentikkan dengan Malang, kota yang dikenal sebagai kota penghasil anggur dan mangga ini oleh beberapa orang dikira terletak di Jawa Tengah.

Loh kok?

Ini tidak mengada-ngada, Saudara. Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi maupun kawan-kawan saya yang berasal dari sana. Biasanya hal itu terjadi ketika bertemu dengan orang-orang yang berasal dari jauh. Orang-orang menyangka Probolinggo itu sama dengan Purbalingga yang berada di Jawa Tengah sono. Bahkan dalam biografi saya di salah satu buku antologi puisi yang saya ikuti, oleh editornya ditulis: Probolinggo – Jawa Tengah. Padahal jelas-jelas ada perbedaan O dengan A. Tapi mana mereka mau mengerti? Atau, kalaupun dalam ejaan Jawa sama-sama dibaca O, tentu kata “Purba/Purbo” jelas berbeda dengan “Probo”—yang memiliki makna “prabu; Probo+linggo, artinya “prabu singgah”, nama ini berkaitan dengan sejarah plesirnya Prabu Hayam Waruk dari Majapahit yang terabadikan dalam kitab Negarakretaga, karangan penyair Mpu Prapanca, dan kemudian menjadi asal-usul nama kota itu.

Sampai di sini sudah paham?

Kalaupun tidak paham ya tak apa-apa. Toh, saya masih sikap khusnudzon kok, bahwa orang yang tak tahu letak Probolinggo itu mungkin orang yang tak pernah melihat peta atau Google Map. Tapi saya haqqul yaqin setelah kasus Dimas Kanjeng jadi pemberitaan nasional selama beberapa pekan itu, maupun kasus teranyar yaitu anak-anak TK yang mengenakan cadar dan menjadi berita internasional, orang-orang yang tidak tahu letak Probolinggo atau menyangka kota itu sama dengan Purbalingga pasti menjadi mengecek lagi di Google Map atau membaca Wikipedia dan menyadari bahwa keduanya adalah dua kota yang berbeda.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Probolinggo tapi selalu disangka Probolinggo adalah Purbalingga tentu saya merasa resah nan gelisah. Dan tidak rela jika kota saya disalahpahami. Sekalipun saya sudah lama tidak tinggal di sana, toh primordialisme saya masih belum pudar.

Tapi, meskipun seringkali disalahpahami tentu saya tetap merasa bangga dengan kota saya. Sebab, rata-rata penduduknya bisa menggunakan tiga bahasa sekaligus dalam sekali percakapan. Kalau Malang punya bahasa walikan, Surabaya punya bahasa arek, Jaksel punya bahasa gado-gado, begitu pun dengan Probolinggo punya bahasa khas yang disebut bahasa “Bolinggoan”.

Jangan heran jika ada orang Probolinggo ketika berbicara, dalam satu kalimat pembicaraannya terdapat tiga bahasa, yaitu bahasa Madura, Jawa dan Indonesia. Ini tentu lebih khas ketimbang bahasa Jaksel dan lebih ramah produk lokal. Jangan heran pula, jika Anda bisa bahasa Madura dan Jawa lalu ketemu dengan orang Probolinggo, lalu mengajak berbincang dengan bahasa Madura tapi ditanggapi dengan bahasa Jawa. Atau mengajak berbincang dengan Bahasa Jawa tapi ditanggapi dengan bahasa Madura atau bahasa Indonesia. Mohon maklum. Kami memang biasa demikian. Selain sering disalahpahami, kami memang suka menyalahpahami.

Namun yang paling membanggakan dari sekadar bahasa yang campur aduk itu adalah, soal sepak bolanya. Bukan klubnya yang saya banggakan—karena klubnya sendiri tak pernah masuk devisi utama dalam liga Indonesia—melainkan supporternya. Ya supporternya.

Mengapa demikian? Karena klub sepak bola kota kami yang disebut Persipro itu memiliki supporter dengan nama “Jinggo Mania” atau “Laskar Minak Jinggo”, mengambil nama dari Prabu Minak Jinggo. Lha, padahal Prabu Minak Jinggo ini pahlawannya—atau setidaknya tokoh sejarah/legenda yang dibanggakan—orang Banyuwangi, karena ia sendiri konon adalah raja Blambangan. Tapi orang Probolinggo berani menyerobotnya dan memakai nama itu!

Meski, benar memang Probolinggo pada zaman dahulu adalah bagian dari kerajaan Blambangan dan menurut cerita raja yang selalu digambarkan antagonis oleh orang-orang non Blambangan itu konon mati di Probolinggo ketika melawan Damar Wulan, tapi toh daerah ini kan cuma pedukuhan kecil di tengah-tengah hutan dekat perbatasan bagian barat. Tentu bagi saya ini pencapaian luar biasa karena tak ada rasa ewuh-pakewuh terhadap warga pusat kerajaan. [T]

Tags: Jawa TimurKotaNamaProbolinggo
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Next Post

“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita #Kolom Made Metera

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita  #Kolom Made Metera

“Raja Muda” dan “Raja Buduh” dalam Budaya Politik Kita #Kolom Made Metera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co