24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 4, 2018
in Khas
Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Penyair Warih Wisatsana orasi budaya dan membaca puisi dalam Parade Teater Canasta 2018

JUMAT, 2 November 2018, usai pentas teater dalam Parade Teater Canasta 2018, diskusi memanas ketika Hendra Utay-pembina Teater Sangsaka SMKN 1 Denpasar unjuk pendapat, ia mengatakan Parade Teater Canasta 2018 tidak bertanggung jawab dan mengeksploitasi anak-anak peserta. Mata merah, muka merah, omogannya seperti ngelantur. Utay keberatan adanya diskusi usai pentas seolah hanya untuk memojokkan peserta, berdalih anak-anak binaannya tidak tahu teater dan ini adalah pentas pertama kali mereka.

Kemudian dari pihak Canasta tidak menyiapkan pendampingan terhadap masing-masing peserta, naskahnya pun dipilih oleh pihak  Canasta tanpa diskusi bersama. Ia tetap melanjutkan protesnya dengan nada pelan, sesekali menyuruh peserta untuk menjaga ketenangan saat diskusi. Walaupun moderator-Agus Wiratama, dengan nada sopan meminta Hendra Utay berhenti dan memberikan kesempatan pada yang lain.

Saya sendiri pasang badan ketika pernyataan-pernyataan itu dilontarkan.

Memang benar setiap usai kedua pentas, kami berdiskusi dan sharing pendapat. Itu pun dilaksakan oleh beberapa kawan yang tertarik dan masih tetap bertahan. Budaya diskusi usai pentas merupakan analisis kritis penonton apa yang ditontonnya, baik kepada kedua peserta, bisa saling menanyakan kebingungan mereka saat menonton. Bukan sekedar pentas langsung pulang, sehingga tidak adanya gesekan-gesekan kritis, malah yang akan terjadi suatu pengotakan identitas kelompok. Jika demikian guyub tidak akan terjadi.

I Wayan Sumahardika sutradara Teater Kalangan juga menambahkan bahwa ruang diskusi usai pentas ini, merupakan hal luput selama belasan tahun, terutama di Denpasar. Pentas hanya dipandang sebagai ajang kompetisi, mencari juara, dan terbaik. Tanpa pernah mempertanyakan kenapa itu terjadi, jika budaya kompetisi ini dipelihara, polanya sangat berbahaya pada kelompok-kelompok teater sekolah. Setiap teater sekolah hanya mementingkan dirinya sendiri, tanpa tahu menahu bagaimana proses kelompok lain, sebab acuannya bukan kebersamaan, tapi bersaing menjadi nomor 1. Bukan capaian di luar teater yang di perjuangkan. Akhrinya teater sekolah hanya sebagai teater regenerasi. Tidak ada harapan untuk membangun kultur teater secara lebih luas.

Sumahardika menambahkan, setiap kelompok memiliki penonton loyalis sekolahnya masing-masing, tapi mereka hadir hanya untuk menonton teater sekolahnya. Bukan untuk menonton yang lain. Padahal pementasan yang lain memiliki suatu wacana yang bisa di diskusikan bersama. Maka dari itu Parade Teater Canasta hadir sebagai wadah untuk menjawab hal tersebut, bahwa diskusi bukan untuk memojokkan, tapi seberapa jauh kawan-kawan pelaku pentas dapat memahaminya.

“Selama ini kan tidak ada diskusi aktor, paling yang ada hanya ada diskusi pembina, benar nggak?” ucap Sumahardika, sejurus kemudian dijawab iya serempak oleh kawan-kawan diskusi.

Nampaknya hal esensi seperti  ini dilupakan oleh Dramawan Hendra Utay, yang mengatakan bahwa dirinya telah membina banyak sekolah di Bali. Seberapa jauh pembinaan yang ia lakukan, itu dapat kita lacak dari bagaimana anak didiknya mencapai suatu pemahaman atas apa yang mereka lakukan di teater. Dan seberapa jauh regenerasi ini berkembang menyikapi dunia teater.

Kemarin malam saya emosi ketika Teater Sangsaka membentuk lingkaran besar usai pentas, hendak melakukan evaluasi. Sementara pertunjukan Teater Enter dari SMA Muhammadyah sedang berlangsung. Apa yang terjadi ini? Bagaimana sikap mereka terhadap pertunjukan lain, sementara ketika mereka pentas semua penonton disuruh diam, saya yang mengarahkan penonton untuk duduk, dapat  teguran oleh salah seorang anggotanya. Di mana sikap saling menghargai tersebut?

Bagi saya pribadi yang sempat melatih di beberapa sekolah, inilah tugas pembina teater, selain melatih teater, secara kritis harus mengintervensi dan meluruskan jalan teater sebagai hal yang berguna dalam kehidupan. Tidak habis-habisnya sebelum atau sesudah latihan saya melakukan diskusi, tentang naskah, tentang kehidupan, tentang refrensi pementasan, atau tentang masalah pribadi sekalipun.

Hendra Utay yang dikenal sebagai dewa monolog pada masanya, nampaknya tidak peduli terhadap kondisi-kondisi kultural teater ini. Mengulang masa yang terlewat merupakan kebuntuan psikologis yang harus  disikapi secara sadar, jika tidak, bisa dilihat apa yang akan terjadi. Bagaimana guru begitulah muridnya bersikap. Malah lebih jauh ia bercita-cita pada yang muda-muda untuk membangun teater Bali, tanpa individu yang mengibarkan bendera masing-masing.

Saya rasa dramawan tersohor kita satu ini tidak membaca Parade Teater Canasta, sebagai ruang kolektif untuk tumbuh, embrio membangun dikemudian hari. Perlu dicatat selama 7 hari, ada 12 kelompok yang pentas dan 7 sharing session yang kami undang dari lintas multidispliner, tapi ia hanya datang ketika anak didiknya pentas. Bahkan anak didiknya pun tidak hadir mengikuti rangkaian acara. Bagaimana membangun teater Bali, jika demikian?.

Sementara itu hadir pula Jonas Sestakresna, menyampaikan bahwa teater SMA berfungsi sebagai ekstrakulikuler di sekolah, tapi biasanya jadwal latihannya kurang disiplin. Untuk itu fungsi teater di SMA untuk belajar organisasi yang baik, dan displin terhadap segala hal produksi. Sementara teater kampus, semestinya lebih liar dan ada pesan yang ingin disampaikan. Pemahaman dan berfikirnya lebih dari pada adik-adik SMA

“Jika ada kakak pembina, memang harus ada kakak penghina, harus diakui” ujarnya sembari tertawa.

Diskusi selesai, saya menawarkan kopi untuk Hendra Utay dan Mas Jonas. kemudian saya ingat perbincangan ringan dengan Bli Jun, beberapa waktu lalu. Bahwa seniman-seniman yang bersudah-untuk tidak mengatakan tua, belilah skrop bangunan, untuk perlahan membuat liang lahannya sendiri. Saya dan Bli Jun tertawa sembari menyeruput kopi, sementara  waktu itu di ruang tengah Canasta,  Bli Marlowe Bandem tengah asik berbincang dengan  anak anak muda SMA terkait project 1928-nya. (T)

Tags: Parade Teater CanastasekolahTeater
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Rindu yang Memeluk Benci – Rekonsiliasi Tragedi Nasional ’65

Next Post

Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Kota yang Seringkali Disalahpahami...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co