13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 4, 2018
in Khas
Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Penyair Warih Wisatsana orasi budaya dan membaca puisi dalam Parade Teater Canasta 2018

JUMAT, 2 November 2018, usai pentas teater dalam Parade Teater Canasta 2018, diskusi memanas ketika Hendra Utay-pembina Teater Sangsaka SMKN 1 Denpasar unjuk pendapat, ia mengatakan Parade Teater Canasta 2018 tidak bertanggung jawab dan mengeksploitasi anak-anak peserta. Mata merah, muka merah, omogannya seperti ngelantur. Utay keberatan adanya diskusi usai pentas seolah hanya untuk memojokkan peserta, berdalih anak-anak binaannya tidak tahu teater dan ini adalah pentas pertama kali mereka.

Kemudian dari pihak Canasta tidak menyiapkan pendampingan terhadap masing-masing peserta, naskahnya pun dipilih oleh pihak  Canasta tanpa diskusi bersama. Ia tetap melanjutkan protesnya dengan nada pelan, sesekali menyuruh peserta untuk menjaga ketenangan saat diskusi. Walaupun moderator-Agus Wiratama, dengan nada sopan meminta Hendra Utay berhenti dan memberikan kesempatan pada yang lain.

Saya sendiri pasang badan ketika pernyataan-pernyataan itu dilontarkan.

Memang benar setiap usai kedua pentas, kami berdiskusi dan sharing pendapat. Itu pun dilaksakan oleh beberapa kawan yang tertarik dan masih tetap bertahan. Budaya diskusi usai pentas merupakan analisis kritis penonton apa yang ditontonnya, baik kepada kedua peserta, bisa saling menanyakan kebingungan mereka saat menonton. Bukan sekedar pentas langsung pulang, sehingga tidak adanya gesekan-gesekan kritis, malah yang akan terjadi suatu pengotakan identitas kelompok. Jika demikian guyub tidak akan terjadi.

I Wayan Sumahardika sutradara Teater Kalangan juga menambahkan bahwa ruang diskusi usai pentas ini, merupakan hal luput selama belasan tahun, terutama di Denpasar. Pentas hanya dipandang sebagai ajang kompetisi, mencari juara, dan terbaik. Tanpa pernah mempertanyakan kenapa itu terjadi, jika budaya kompetisi ini dipelihara, polanya sangat berbahaya pada kelompok-kelompok teater sekolah. Setiap teater sekolah hanya mementingkan dirinya sendiri, tanpa tahu menahu bagaimana proses kelompok lain, sebab acuannya bukan kebersamaan, tapi bersaing menjadi nomor 1. Bukan capaian di luar teater yang di perjuangkan. Akhrinya teater sekolah hanya sebagai teater regenerasi. Tidak ada harapan untuk membangun kultur teater secara lebih luas.

Sumahardika menambahkan, setiap kelompok memiliki penonton loyalis sekolahnya masing-masing, tapi mereka hadir hanya untuk menonton teater sekolahnya. Bukan untuk menonton yang lain. Padahal pementasan yang lain memiliki suatu wacana yang bisa di diskusikan bersama. Maka dari itu Parade Teater Canasta hadir sebagai wadah untuk menjawab hal tersebut, bahwa diskusi bukan untuk memojokkan, tapi seberapa jauh kawan-kawan pelaku pentas dapat memahaminya.

“Selama ini kan tidak ada diskusi aktor, paling yang ada hanya ada diskusi pembina, benar nggak?” ucap Sumahardika, sejurus kemudian dijawab iya serempak oleh kawan-kawan diskusi.

Nampaknya hal esensi seperti  ini dilupakan oleh Dramawan Hendra Utay, yang mengatakan bahwa dirinya telah membina banyak sekolah di Bali. Seberapa jauh pembinaan yang ia lakukan, itu dapat kita lacak dari bagaimana anak didiknya mencapai suatu pemahaman atas apa yang mereka lakukan di teater. Dan seberapa jauh regenerasi ini berkembang menyikapi dunia teater.

Kemarin malam saya emosi ketika Teater Sangsaka membentuk lingkaran besar usai pentas, hendak melakukan evaluasi. Sementara pertunjukan Teater Enter dari SMA Muhammadyah sedang berlangsung. Apa yang terjadi ini? Bagaimana sikap mereka terhadap pertunjukan lain, sementara ketika mereka pentas semua penonton disuruh diam, saya yang mengarahkan penonton untuk duduk, dapat  teguran oleh salah seorang anggotanya. Di mana sikap saling menghargai tersebut?

Bagi saya pribadi yang sempat melatih di beberapa sekolah, inilah tugas pembina teater, selain melatih teater, secara kritis harus mengintervensi dan meluruskan jalan teater sebagai hal yang berguna dalam kehidupan. Tidak habis-habisnya sebelum atau sesudah latihan saya melakukan diskusi, tentang naskah, tentang kehidupan, tentang refrensi pementasan, atau tentang masalah pribadi sekalipun.

Hendra Utay yang dikenal sebagai dewa monolog pada masanya, nampaknya tidak peduli terhadap kondisi-kondisi kultural teater ini. Mengulang masa yang terlewat merupakan kebuntuan psikologis yang harus  disikapi secara sadar, jika tidak, bisa dilihat apa yang akan terjadi. Bagaimana guru begitulah muridnya bersikap. Malah lebih jauh ia bercita-cita pada yang muda-muda untuk membangun teater Bali, tanpa individu yang mengibarkan bendera masing-masing.

Saya rasa dramawan tersohor kita satu ini tidak membaca Parade Teater Canasta, sebagai ruang kolektif untuk tumbuh, embrio membangun dikemudian hari. Perlu dicatat selama 7 hari, ada 12 kelompok yang pentas dan 7 sharing session yang kami undang dari lintas multidispliner, tapi ia hanya datang ketika anak didiknya pentas. Bahkan anak didiknya pun tidak hadir mengikuti rangkaian acara. Bagaimana membangun teater Bali, jika demikian?.

Sementara itu hadir pula Jonas Sestakresna, menyampaikan bahwa teater SMA berfungsi sebagai ekstrakulikuler di sekolah, tapi biasanya jadwal latihannya kurang disiplin. Untuk itu fungsi teater di SMA untuk belajar organisasi yang baik, dan displin terhadap segala hal produksi. Sementara teater kampus, semestinya lebih liar dan ada pesan yang ingin disampaikan. Pemahaman dan berfikirnya lebih dari pada adik-adik SMA

“Jika ada kakak pembina, memang harus ada kakak penghina, harus diakui” ujarnya sembari tertawa.

Diskusi selesai, saya menawarkan kopi untuk Hendra Utay dan Mas Jonas. kemudian saya ingat perbincangan ringan dengan Bli Jun, beberapa waktu lalu. Bahwa seniman-seniman yang bersudah-untuk tidak mengatakan tua, belilah skrop bangunan, untuk perlahan membuat liang lahannya sendiri. Saya dan Bli Jun tertawa sembari menyeruput kopi, sementara  waktu itu di ruang tengah Canasta,  Bli Marlowe Bandem tengah asik berbincang dengan  anak anak muda SMA terkait project 1928-nya. (T)

Tags: Parade Teater CanastasekolahTeater
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Rindu yang Memeluk Benci – Rekonsiliasi Tragedi Nasional ’65

Next Post

Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Kota yang Seringkali Disalahpahami…

Kota yang Seringkali Disalahpahami...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co