24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rindu yang Memeluk Benci – Rekonsiliasi Tragedi Nasional ’65

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
November 4, 2018
in Opini
Rindu yang Memeluk Benci – Rekonsiliasi Tragedi Nasional ’65

Poster film Pengkhianatan G 30 S PKI

“Kita perlu mengingat masa lalu agar bisa bertahan hidup dan bahkan bisa merancang masa depan dengan lebih baik (geschichtlicht). Kita juga perlu memiliki kemampuan melupakan masa lalu agar luka-luka batin tersembuhkan. Terkadang memori itu mendukakan ketimbang mensukakan (ungeschichtlicht).       

— Nietzsche, On The Genealogy of Morals (1887)

TULISAN ini sebenarnya agak terlambat untuk diterbitkan, sebab spiritnya tentu saja akan lebih kuat jika muncul bersamaan atau minimal mendekati 30 September. Keterlambatan ini disebabkan beberapa minggu belakangan saya agak “mager” menulis karena disibukkan dengan berbagai aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran, tentu saja juga uang. Meski kemudian tulisan yang hadir di hadapan pembaca tatkala ini sudah berbentuk draft, tinggal dipermak dan dihaluskan sesuai segmentasi pembaca yang dituju, namun toh setiap kali berusaha mengedit, mata ini lelah dan lalu terpejam tak sadarkan diri menuju “pulau kapoek” yang termashyur itu.

Bagi saya pribadi, peringatan tragedi ‘65 cenderung menjadi “ritus” atau praktik “retjeh” jelang angka keramat 30 September atau 1 Oktober. Alih-alih menghasilkan kesadaran tentang masa depan, bak jamur di musim hujan, agenda rutin yang diwariskan dari generasi ke generasi itu tidak lebih dari usaha untuk mengkapitalisasi dendam dan beban masa lalu. Namun melihat beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, tangan saya kembali “gatal” untuk menyuarakan isi hati yang sempat mandeg. Berbekal doa “man jada wajada”, saya kembali bergairah melanjutkan tulisan ini. LoL.

Tulisan ini dikembangkan dari sebuah makalah yang sempat saya seminarkan pada 30 September 2017 lalu dalam sebuah acara yang bertajuk Tragedi Nasional 1965 di Kementerian Agama Kabupaten Buleleng. Ada dua alasan kenapa ide pokok tulisan ini ingin saya bagikan kepada pembaca tatkala.

Pertama, pada hari Minggu, 1 Oktober, bertempat di Ruang FHIS 1, mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Undiksha menggelar acara Clio Club, yakni sebuah acara diskusi bulanan mendiskusikan isu kontemporer. Tema yang diangkat berkenaaan dengan menguatnya sentimen etnis dan agama pasca Orde Baru. Oleh sebab itu perlu dicarikan solusi mengingat dampak sistemik yang ditimbulkannnya telah mengarah kepada disintegrasi bangsa. Dalam proses diskusi itu, beberapa pertanyaan mahasiswa mengarahkan fokusnya pada tragedi 1965.

Kedua, di saat yang bersamaan, Mahasiswa Jurusan PKN mengadakan Nonton Bareng Film G 30 S PKI yang sempat menjadi “konsumsi” wajib era Orde Baru. Suara teriakan para jenderal yang diberondong peluru, tarian bunga Gerwani dan dialog para aktor seakan menyediakan ruang nostalgia indoktrinasi Orde Baru. Bahkan, ketika PKI sebagai sebuah institusi telah hancur, roh nya yang telah memfosil tetap bergentayangan, menghantui generasi hari ini melalui kapitalisasi “politik praktis” dalam dinamika sosial Indonesia kontemporer.

Historiografi Indonesia sejauh ini masih mewarisi jejak mentalitas oposisi biner. Maksudnya bahwa ia dipahami secara dikotomis, melibatkan pertarungan wacana antara golongan baik melawan golongan jahat, golongan hitam melawan golongan putih. Khususnya pada peristiwa masa lalu yang dianggap “noktah”, narasi 1965 adalah contoh yang bisa diketengahkan sebagai proto tipe dari kegagalan metodologi Indonesia sentris yang dipancangkan sejak Seminar Sejarah I tahun 1957 di Yogyakarta dalam memberikan pencerahan terhadap gejolak sosial politik dan kebudayaan.

Cara pandang normatif seperti itu pada akhirnya hanya akan melahirkan kebencian antara generasi-generasi yang dilahirkan para “korban” dengan keturunan dari para “pelaku”. Pelaku atau dengan kata lain kelompok pemenang akan menggunakan instrumen masa lalu untuk melegitimasi kedudukannya seraya mengkerdilkan eksistensi “korban”. Di sisi lain, kelompok pecundang selalu mencari celah untuk mencuri perhatian sambil menunggu momen yang tepat untuk meng “coup” kelompok pemenang.

Saya pribadi cukup jenuh dengan reproduksi tulisan atau diskusi seputar ’65, sebab meskipun telah lepas dari rezim despotis Orde Baru yang segera direspon dengan menghasilkan counter narasi, ulasannya masih seputaran siapa pelaku dan siapa korban. Nampaknya belum ada usaha yang serius dari para akademisi Indonesia untuk menghasilkan historiografi yang berimbang tentang 1965 sehingga mampu mencairkan ketegangan-ketegangan di masyarakat.

Daripada sibuk mengurusi perkara siapa dalang peristiwa ’65, saya cenderung melihat konstelasi politik nasional pasca Orde Baru sudah seharusnya mewujudkan rekonsiliasi, yakni  usaha mempertemukan masa lalu pihak pemenang dengan masa lalu pihak pecundang.

Hal tersebut sangat mendesak dilakukan karena pihak pemenang maupun pecundang biasanya cenderung hanya mengingat perlakukan buruk lawan politik di masa lalu. Jika PKI atau yang di-PKI-kan serta para eksil dikategorikan sebagai pecundang dan kelompok militer adalah pemenang, maka sesuai analogi di atas, yang terjadi adalah PKI memiliki kecenderungan mengingat perlakukan buruk golongan militer pasca 1965, sedangkan mereka merasa tidak memiliki tanggung jawab moral menceritakan perlakuan terhadap lawan-lawan politiknya sebelum 1965.

Begitu juga sebaliknya, kelompok militer cenderung membatinkan perlakuan PKI sebelum 1965 tanpa ada niatan mengungkap apa yang telah mereka lakukan kepada PKI setelah 1965.

Dalam bahasa Gen Z,  rekonsiliasi antara pihak pemenang dan pecundang di atas bisa dianggap  CLBK, “Cinta Lama Belum Kelar”. Dua sejoli yang terlibat cekcok masa lalu dan berpisah. Pada suatu kesempatan di masa depan, mereka dipertemukan. Hasilnya, mereka “balikan” karena merasa masih saling mencintai. Semua borok, luka dan perlakuan negatif satu sama lain di masa lalu dinegosiasikan dan dikompromikan, lalu dimaafkan tetapi tidak untuk dilupakan. Ia tetap menjadi kenangan dan arsip masa lalu yang kekal.

Rekonsiliasi sebagai alternatif atas dendam masa lalu yag membatin didasarkan pada alasan bahwa sentimen anti komunis masih hidup meskipun Orde Baru telah ambruk. Hal tersebut nampak dalam realitas politik nasional Indonesia kontemporer dimana tagline “bahaya laten komunis” yang sempat populer di era Orde Baru seringkali digunakan sebagai berita tendesius dengan tujuan membunuh karakter moral lawan politik.

Dia hadir bukan sebagai kenyataan masa lalu, namun sekedar “hoaks” yang disebarkan berulang-ulang sehingga dianggap sebagai kebenaran. Langgengnya sentimen anti-komunis ini secara tidak langsung telah menghalangi gagasan menangani kejahatan kemanusiaan di masa lalu, khususnya pembunuhan massal terhadap PKI atau orang yang di-PKI-kan.

Terhambatnya ide ini sesungguhnya mempersulit proses demokratisasi masyarakat Indonesia di era reformasi, sebab kepedulian terhadap kejahatan kemanusiaan di masa lalu dan rekonsiliasi antara para pelaku dan korban pelanggaran hak asasi manusia masa lalu dalam banyak hal merupakan bagian yang diperlukan. Hal ini untuk meyakinkan bahwa masa lalu tidak lagi merupakan beban, dalam arti tidak lagi menghantui masa kini. Selain itu, diharapkan tak ada lagi kelompok sosial yang diperlakukan secara diskriminatif karena tuduhan kesalahan masa lalunya itu. (T)

 

Tags: PendidikanPKIsejarah
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Kenang Berulang Masa SMP – Menonton Sanggar Seni Kelakar di Parade Teater Canasta 2018

Next Post

Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Tentang Teater Sekolah - Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co