2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rindu yang Memeluk Benci – Rekonsiliasi Tragedi Nasional ’65

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
November 4, 2018
in Opini
Rindu yang Memeluk Benci – Rekonsiliasi Tragedi Nasional ’65

Poster film Pengkhianatan G 30 S PKI

“Kita perlu mengingat masa lalu agar bisa bertahan hidup dan bahkan bisa merancang masa depan dengan lebih baik (geschichtlicht). Kita juga perlu memiliki kemampuan melupakan masa lalu agar luka-luka batin tersembuhkan. Terkadang memori itu mendukakan ketimbang mensukakan (ungeschichtlicht).       

— Nietzsche, On The Genealogy of Morals (1887)

TULISAN ini sebenarnya agak terlambat untuk diterbitkan, sebab spiritnya tentu saja akan lebih kuat jika muncul bersamaan atau minimal mendekati 30 September. Keterlambatan ini disebabkan beberapa minggu belakangan saya agak “mager” menulis karena disibukkan dengan berbagai aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran, tentu saja juga uang. Meski kemudian tulisan yang hadir di hadapan pembaca tatkala ini sudah berbentuk draft, tinggal dipermak dan dihaluskan sesuai segmentasi pembaca yang dituju, namun toh setiap kali berusaha mengedit, mata ini lelah dan lalu terpejam tak sadarkan diri menuju “pulau kapoek” yang termashyur itu.

Bagi saya pribadi, peringatan tragedi ‘65 cenderung menjadi “ritus” atau praktik “retjeh” jelang angka keramat 30 September atau 1 Oktober. Alih-alih menghasilkan kesadaran tentang masa depan, bak jamur di musim hujan, agenda rutin yang diwariskan dari generasi ke generasi itu tidak lebih dari usaha untuk mengkapitalisasi dendam dan beban masa lalu. Namun melihat beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, tangan saya kembali “gatal” untuk menyuarakan isi hati yang sempat mandeg. Berbekal doa “man jada wajada”, saya kembali bergairah melanjutkan tulisan ini. LoL.

Tulisan ini dikembangkan dari sebuah makalah yang sempat saya seminarkan pada 30 September 2017 lalu dalam sebuah acara yang bertajuk Tragedi Nasional 1965 di Kementerian Agama Kabupaten Buleleng. Ada dua alasan kenapa ide pokok tulisan ini ingin saya bagikan kepada pembaca tatkala.

Pertama, pada hari Minggu, 1 Oktober, bertempat di Ruang FHIS 1, mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah Undiksha menggelar acara Clio Club, yakni sebuah acara diskusi bulanan mendiskusikan isu kontemporer. Tema yang diangkat berkenaaan dengan menguatnya sentimen etnis dan agama pasca Orde Baru. Oleh sebab itu perlu dicarikan solusi mengingat dampak sistemik yang ditimbulkannnya telah mengarah kepada disintegrasi bangsa. Dalam proses diskusi itu, beberapa pertanyaan mahasiswa mengarahkan fokusnya pada tragedi 1965.

Kedua, di saat yang bersamaan, Mahasiswa Jurusan PKN mengadakan Nonton Bareng Film G 30 S PKI yang sempat menjadi “konsumsi” wajib era Orde Baru. Suara teriakan para jenderal yang diberondong peluru, tarian bunga Gerwani dan dialog para aktor seakan menyediakan ruang nostalgia indoktrinasi Orde Baru. Bahkan, ketika PKI sebagai sebuah institusi telah hancur, roh nya yang telah memfosil tetap bergentayangan, menghantui generasi hari ini melalui kapitalisasi “politik praktis” dalam dinamika sosial Indonesia kontemporer.

Historiografi Indonesia sejauh ini masih mewarisi jejak mentalitas oposisi biner. Maksudnya bahwa ia dipahami secara dikotomis, melibatkan pertarungan wacana antara golongan baik melawan golongan jahat, golongan hitam melawan golongan putih. Khususnya pada peristiwa masa lalu yang dianggap “noktah”, narasi 1965 adalah contoh yang bisa diketengahkan sebagai proto tipe dari kegagalan metodologi Indonesia sentris yang dipancangkan sejak Seminar Sejarah I tahun 1957 di Yogyakarta dalam memberikan pencerahan terhadap gejolak sosial politik dan kebudayaan.

Cara pandang normatif seperti itu pada akhirnya hanya akan melahirkan kebencian antara generasi-generasi yang dilahirkan para “korban” dengan keturunan dari para “pelaku”. Pelaku atau dengan kata lain kelompok pemenang akan menggunakan instrumen masa lalu untuk melegitimasi kedudukannya seraya mengkerdilkan eksistensi “korban”. Di sisi lain, kelompok pecundang selalu mencari celah untuk mencuri perhatian sambil menunggu momen yang tepat untuk meng “coup” kelompok pemenang.

Saya pribadi cukup jenuh dengan reproduksi tulisan atau diskusi seputar ’65, sebab meskipun telah lepas dari rezim despotis Orde Baru yang segera direspon dengan menghasilkan counter narasi, ulasannya masih seputaran siapa pelaku dan siapa korban. Nampaknya belum ada usaha yang serius dari para akademisi Indonesia untuk menghasilkan historiografi yang berimbang tentang 1965 sehingga mampu mencairkan ketegangan-ketegangan di masyarakat.

Daripada sibuk mengurusi perkara siapa dalang peristiwa ’65, saya cenderung melihat konstelasi politik nasional pasca Orde Baru sudah seharusnya mewujudkan rekonsiliasi, yakni  usaha mempertemukan masa lalu pihak pemenang dengan masa lalu pihak pecundang.

Hal tersebut sangat mendesak dilakukan karena pihak pemenang maupun pecundang biasanya cenderung hanya mengingat perlakukan buruk lawan politik di masa lalu. Jika PKI atau yang di-PKI-kan serta para eksil dikategorikan sebagai pecundang dan kelompok militer adalah pemenang, maka sesuai analogi di atas, yang terjadi adalah PKI memiliki kecenderungan mengingat perlakukan buruk golongan militer pasca 1965, sedangkan mereka merasa tidak memiliki tanggung jawab moral menceritakan perlakuan terhadap lawan-lawan politiknya sebelum 1965.

Begitu juga sebaliknya, kelompok militer cenderung membatinkan perlakuan PKI sebelum 1965 tanpa ada niatan mengungkap apa yang telah mereka lakukan kepada PKI setelah 1965.

Dalam bahasa Gen Z,  rekonsiliasi antara pihak pemenang dan pecundang di atas bisa dianggap  CLBK, “Cinta Lama Belum Kelar”. Dua sejoli yang terlibat cekcok masa lalu dan berpisah. Pada suatu kesempatan di masa depan, mereka dipertemukan. Hasilnya, mereka “balikan” karena merasa masih saling mencintai. Semua borok, luka dan perlakuan negatif satu sama lain di masa lalu dinegosiasikan dan dikompromikan, lalu dimaafkan tetapi tidak untuk dilupakan. Ia tetap menjadi kenangan dan arsip masa lalu yang kekal.

Rekonsiliasi sebagai alternatif atas dendam masa lalu yag membatin didasarkan pada alasan bahwa sentimen anti komunis masih hidup meskipun Orde Baru telah ambruk. Hal tersebut nampak dalam realitas politik nasional Indonesia kontemporer dimana tagline “bahaya laten komunis” yang sempat populer di era Orde Baru seringkali digunakan sebagai berita tendesius dengan tujuan membunuh karakter moral lawan politik.

Dia hadir bukan sebagai kenyataan masa lalu, namun sekedar “hoaks” yang disebarkan berulang-ulang sehingga dianggap sebagai kebenaran. Langgengnya sentimen anti-komunis ini secara tidak langsung telah menghalangi gagasan menangani kejahatan kemanusiaan di masa lalu, khususnya pembunuhan massal terhadap PKI atau orang yang di-PKI-kan.

Terhambatnya ide ini sesungguhnya mempersulit proses demokratisasi masyarakat Indonesia di era reformasi, sebab kepedulian terhadap kejahatan kemanusiaan di masa lalu dan rekonsiliasi antara para pelaku dan korban pelanggaran hak asasi manusia masa lalu dalam banyak hal merupakan bagian yang diperlukan. Hal ini untuk meyakinkan bahwa masa lalu tidak lagi merupakan beban, dalam arti tidak lagi menghantui masa kini. Selain itu, diharapkan tak ada lagi kelompok sosial yang diperlakukan secara diskriminatif karena tuduhan kesalahan masa lalunya itu. (T)

 

Tags: PendidikanPKIsejarah
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Kenang Berulang Masa SMP – Menonton Sanggar Seni Kelakar di Parade Teater Canasta 2018

Next Post

Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Tentang Teater Sekolah – Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Tentang Teater Sekolah - Diskusi Panas Usai Pentas di Parade Teater Canasta 2018

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co