17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serba-serbi Piala Citra FFI 2024: Dari Dominasi “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” Hingga “Politik Dinasti” Garin Nugroho

Jaswanto by Jaswanto
November 21, 2024
in Khas
Serba-serbi Piala Citra FFI 2024: Dari Dominasi “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” Hingga “Politik Dinasti” Garin Nugroho

Adegan dalam film " Jatuh Cinta Seperti di Film-film" | Foto: tangkap layar youtube/akun CINEMA 21

MALAM Anugerah Piala Citra ke-44 Festival Film Indonesia (FFI) 2024 telah berlalu dengan warna-warna baru. Penyerahan piala penghargaan bagi insan film yang prestisius di Tanah Air itu digelar di Nusantara Hall ICE BSD City, Tangerang, Rabu (20/11/2024) malam.

Dalam festival yang mengusung tema “Merandai Cakrawala Sinema Indonesia” ini, ada enam film dengan enam kategori yang menyandang gelar terbaik, yakni Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) karya Ernest Prakasa dan Suryana Paramita untuk kategori Film Cerita Panjang Terbaik, Suintrah (2024) karya Ayesha Alma Almera kategori Film Pendek Terbaik, sedangkan Film Dokumenter Pendek Terbaik diraih oleh My Therapist Said, I Am Full of Sadness (2024) karya Monica Vanesa Tedja.

Dan untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik diberikan kepada Under the Moonlight (Nur) (2023) karya Tonny Trimarsanto. Selanjutnya, Cangkir Profesor karya Yudhatama dinobatkan sebagai Film Animasi Pendek Terbaik. Sementara Si Juki the Movie: Harta Pulau Monyet (2024) garapan Faza Meonk sebagai Film Animasi Panjang Terbaik.

Tak hanya film, sebagaimana tahun-tahun yang lalu, FFI 2024 juga terdapat beberapa kategori lainnya, seperti Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Perempuan Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penata Efek Visual Terbaik, hingga Penghargaan Seumur Hidup.

Tahun ini, Ringgo Agus Rahman dinobatkan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Sedangkan Pemeran Utama Perempuan Terbaik jatuh kepda Nirina Zubir dalam film yang sama. Untuk Pemeran Pendukung Pria Terbaik dimenangkan oleh Alex Abbad masih di film yang sama. Dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik diberikan kepada Sheila Dara Aisha, sekali lagi, dalam film yang sama—Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.

Namun, meski demikian, Ernest Prakasa dan Suryana Paramita—sutradara Jatuh Cinta Seperti di Film-Film—belum mampu mencatatkan diri mereka sebagai Sutradara Terbaik. Sebab, kategori ini diberikan kepada Garin Nugroho untuk film Samsara (2024). Tapi Penulis Skenario Asli Terbaik diraih oleh Yandy Laurens untuk penulisan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.

Sementara itu, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik diberikan kepada empat sosok kawakan dalam sinema Indonesia, Jujur Prananto, Mira Lesmana, Riri Riza, dan Virania Munaf untuk film Petualangan Sherina 2 (2023).

Dalam hal-hal teknis, Pengarah Sinematografi Terbaik jatuh kepada Batara Goempar, I.C.S. (Samsara), Penyunting Gambar Terbaik: Wawan I. Wibowo (Ipar Adalah Maut), Penata Efek Visual Terbaik: Lumine Studio (Kabut Berduri), Penata Suara Terbaik: Mohamad Ikhsan dan Anhar Moha (Siksa Kubur), dan Penata Musik Terbaik: Wayan Sudirana dan Kasimyn (Samsara).

Sedangkan Pencipta Lagu Tema Terbaik diraih oleh Donne Maulana (“Bercinta Lewat Kata” untuk film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film), Pengarah Artistik Terbaik: Menfo Tantono dan Guntur Mupak (Kabut Berduri), Penata Busana Terbaik: Retno Ratih Damayanti (Samsara), dan Penata Rias Terbaik: Cherry Wirawan (Kabut Berduri).

Untuk Karya Kritik Film Terbaik tahun ini, jatuh kepada Reza Mardian dengan karya yang berjudul “Jagat Yang Sempit dan Determinasi Diri dalam Film Yuni (2021)” yang dipublikasikan di akun TikTok @kelitikfilm.

Dan Film Pilihan Penonton (Piala Nya’ Abbas Akup) jatuh kepada Siksa Kubur (2024) garapan Joko Anwar. Untuk Aktor Pilihan Penonton (Piala Rachmat Hidajat) diberikan Afrian Arisandy dalam film Siksa Kubur. Sedangkan Aktris Pilihan Penonton (Piala Mieke Widjaja) diraih oleh Prilly Latuconsina dalam film Puspa Indah Taman Hati. Sementara itu, Piala Antemas atau penghargaan khusus untuk film Indonesia terlaris diberikan kepada Agak Laen (2024) yang disutradarai dan ditulis oleh Muhadkly Acho yang mendulang 9,1 jutaan penonton.

Selanjutnya, Penghargaan Seumur Hidup atau Lifetime Achievement—penghargaan khusus bagi insan film yang mengabdikan sepanjang hidupnya untuk kemajuan sinema Tanah Air—diberikan kepada kedua sosok legenda dalam dunia perfilman Indonesia, Imam Tantowi dan Gope T. Samtani. Mereka berdua merupakan sosok dengan dedikasi tinggi kepada sinema Tanah Air dan telah turut merajut benang merah penting sebelum akhirnya film Indonesia sampai pada posisinya saat ini.

Gope T Samtani adalah pemilik rumah produksi Rapi Films yang banyak merilis judul-judul blockbuster, seperti Sang Kiai (2013), Pengabdi Setan (2017), sampai Ratu Ilmu Hitam (2019). Pada 1970, produksi Rapi Film yang pertama langsung sukses di pasaran dengan judul Air Mata Kekasih. Setelahnya adalah sejarah. Rapi Films rata-rata memproduksi tiga film per tahun setelah karya pertamanya sukses. Dengan demikian, sampai awal 1985 saja, filmnya yang sudah dihasilkan mencapai 45-an judul.

Sementara itu, Imam Tantowi adalah sutradara dengan banyak judul Hit, seperti 7 Manusia Harimau (1986), Carok (1958), Saur Sepuh (1980-an), sampai Lebak Membara (1983). Film-film yang disutradarai sineas asal Tegal ini pada umumnya bergenre laga. Pada masanya, Imam pernah berhasil menyabet Piala Citra untuk penulis cerita asli terbaik dalam film Si Badung dalam ajang FFI di Jakarta tahun 1989.

Pada medio 1990-an, Imam mulai merambah ke sinetron. Karyanya yang berjudul Bang Jagur dan Maha Kasih, dengan sebuah episodenya yang fenomenal, yaitu Tukang Bubur Naik Haji, langsung menduduki rating pertama pada tayangan perdananya. Saking fenomenalnya, pada 2012, tayangan tersebut dibuat berseri dengan judul Tukang Bubur Naik Haji The Series.

Dominasi JESEDEF

Sebagaimana telah disinggung di atas, film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (JESEDEF), katakanlah, memborong penghargaan FFI 2024. Film tersebut mendominasi raihan Piala Citra tahun ini dengan tujuh penghargaan dari total 11 nominasi, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik. Sutradara Yandy Laurens turut dianugerahi Penulis Skenario Asli Terbaik, sementara Donne Maula membawa pulang Pencipta Lagu Terbaik.

Di kategori akting, dengan gagah film ini meraih beberapa penghargaan utama, di antaranya: Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Ringgo Agus Rahman, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Nirina Zubir, Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Sheila Dara Aisha, dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Alex Abbad.

“Kami banyak sekali berdoa untuk membuat film ini terjadi,” kata Suryana Paramita, selaku produser film tersebut—sebagaimana banyak dikutip media pada 20 November 2024.

Menurut Suryana, proses film ini membuatnya belajar bahwa yang paling mahal di dunia ini adalah dipercaya dan diberi kesempatan. Sementara itu, Ernest Prakasa, selaku sutadara sekaligus berperan sebagai produser dalam proyek ini, mempersembahkan piala tersebut kepada semua kru film di Indonesia.

Ia menekankan pentingnya kesejahteraan kru film. “Semua piala dan jumlah penonton yang glamor ini nggak ada gunanya kalau kita nggak bisa memberikannya kembali kepada denyut jantung perfilman kita, yaitu semua kru perfilman Indonesia,” kata Ernest, yang juga komika kenamaan di Indonesia.

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film bercerita tentang Bagus (Ringgo Agus Rahman), seorang penulis skenario yang diam-diam menulis kisah cintanya dengan Hana (Nirina Zubir), teman SMA-nya, dulu, yang baru saja menjanda. Format hitam putih yang mendominasi 80 persen film ini memberikan nuansa klasik yang memperkuat konflik emosional antara dua tokoh utama.

Chemistry antara Nirina dan Ringgo—yang sebelumnya pernah beradu akting di beberapa film, seperti Kamulah Satu-Satunya (2007), Get Married (2007), Keluarga Cemara 1 (2018), Keluarga Cemara 2 (2022), dan Sepuluh Meter (2020)—berhasil menciptakan hubungan emosional yang autentik. Sebelum meraih sukses besar di Piala Citra, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film sudah mencuri perhatian sejak gala premiere di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2023.

Sambutan luar biasa, termasuk standing ovation dari para penonton, mengiringi penayangannya di bioskop pada 30 November 2023 yang lalu. Hingga resmi pamit dari layar lebar, film ini telah ditonton oleh 651.074 penonton dalam dua bulan penayangan.

Aktris Nirina Zubir, setelah sekian lama bertungkus lumus di sinema Indonesia, akhirnya kembali berhasil meraih Piala Citra 2024 untuk kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik dalam film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Ini Piala Citra keduanya untuk kategori yang sama. Pada 2006, Nirina juga mendapatkan penghargaan tersebut untuk film Heart (2006) garapan Hanny R. Saputra.

“Tapi ini semua berkat kolaborasi yang luar biasa. Thank you,” ungkap Nirina sambil menahan tangis. Ia juga mengapresiasi sutradara Yandy Laurens atas kepercayaan besar yang diberikan kepadanya dan lawan mainnya, aktor Ringgo Agus Rahman.

Dalam pidatonya, aktris kelahiran 1980 itu melanjutkan, “Kenapa Nirina nangis? Karena Nirina tahu banget film ini perjuangannya luar biasa.” Ia menilai, film ini membutuhkan pendewasaan dalam setiap adegan, dan pendalaman karakternya yang penuh perjuangan.

Nirina kemudian mengajak para pembuat film Tanah Air untuk lebih berani mengeksplorasi genre baru. “Ayo pembuat film Indonesia, bikinlah film dengan genre yang berbeda-beda. Keluarkan imajinasi Anda,” tuturnya.

Nirina Zubir berhasil unggul dari aktris hebat lain di kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik. Ia mengalahakan Aghniny Haque di film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa (2023). Pun unggul dari Faradina Mufti di film Siksa Kubur. Lalu ada pula Laura Basuki untuk film Heartbreak Motel (2024), serta Marissa Anita  dalam film Crocodile Tears (2024).

Garin dan “Politik Dinasti”

Sedangkan, melalui film Samsara-nya, Garin Nugroho berhasil meraih penghargaan Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2024. “Saya takut dikira [ini sebagai] politik dinasti,” katanya dalam pidato penghargaan yang dia terima pada 21 November 2024.

Ungkapan Garin tampaknya hanya gurauan semata. Tapi bisa saja itu adalah pengakuannya secara terang-terangan. Malam itu, orang yang membacakan pengumuman kemenangannya di panggung FFI 2024 adalah Ifa Ifansyah, menantunya sendiri. Dan anaknya, Kamila Andini, istri Ifa, sekarang jadi Duta FFI 2024.

Sedangkan kita tahu bahwa Ario Bayu—yang notabene aktor sekaligus produser eksekutif film Samsara—merupakan Ketua Komite FFI saat ini (periode 2024-2026), yang menggantikan Reza Rahadian sejak 30 Maret 2024.

Tak pelak, perkataan Garin membuat para hadirin ajang tahunan itu tertawa. Kemudian ia mengklaim bahwa penghargaannya itu tidak ada hubunganya dengan Undang-Undang Negara, atau Keputusan Hukum serta politik lainnya. “Jadi, ini bukan politik dinasti ya,” katanya tersenyum. Belakangan, politik dinasti atau dinasti politik menjadi salah satu ungkapan yang populer di dunia politik di Indonesia, memang.

Garin Nugroho berhasil unggul dari 4 sutradara lain di nominasi yang sama. Mereka adalah Edwin dengan film Kabut Berduri, Joko Anwar dengan karya Siksa Kubur, Tumpal Tampubolon dengan film Crocodile Tears, dan Yandy Laurens dalam film Jatuh Cinta Seperti di Film-film.

Samsara, yang mengantarkan Garin meraih anugerah Sutradara Terbaik, merupakan film bisu yang dirilis pada 2024. Film ini bergenre drama dan musik dan dibintangi oleh Ario Bayu, Juliet Burnett, I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, dan Valentine Payen-Wicaksono.

Film tersebut mengisahkan seorang laki-laki bernama Darta (Ario Bayu) yang berasal dari keluarga miskin di Bali pada era 1930-an. Darta jatuh cinta dengan seorang perempuan bernama Sinta. Setelah menjalin kasih, Darta berusaha melamar kekasihnya itu. Namun, lamarannya ditolak oleh orang tua kekasihnya yang berasal dari keluarga kaya raya.

Ia kemudian mencari jalan pintas agar bisa mendapatkan restu dari orang tua Sinta. Darta melakukan perjanjian gelap dengan Raja Monyet dan melakukan ritual gelap agar diberi kekayaan dan pada akhirnya diterima oleh keluarga Sinta. Namun, seperti yang sudah pasaran dalam film-film lainnya, perjanjian dan ritual itu memiliki konsekuensi yang bakal berpengaruh pada nasib istri dan anaknya, menyebabkan penderitaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Samsara begitu eksotis. Ia menempelkan kekayaan elemen kebudayaan Bali, seperti orkestra gamelan yang dibawakan oleh Wayan Sudirana, seorang komposer musik dan etnomusikologi lulusan University of British Columbia, Kanada; tarian klasik tradisional; pertunjukan topeng dan wayang; dipadukan dengan musik elektronik digital yang dibawakan oleh grup musik Gabber Modus Operandi. Oleh sebab dinilai bernuansa kebudayaan, membuat film ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Tak banyak kritikus film yang menanggapi Samsara. Tapi dalam banyak puja-puji, film ini disebut  bukan sekadar film, tetapi juga sebuah pengalaman budaya yang mendalam dan menyentuh. Apakah benar demikian? Silakan Anda nilai sendiri.[T]

Sumber: Berbagai media
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tertawa Bersama Phone Call Man Woman
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle
In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
Tags: Festival Film IndonesiafilmFilm Jatuh Cinta Seperti di Film-filmFilm SamsaraGarin Nugroho
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dalang Dalam Sekat Gaya dan Style: Kreativitas yang Terkungkung atau Tradisi yang Dimuliakan?

Next Post

Bahasa Isyarat yang Humanis dan Bahasa Ekspresif yang Di-off-kan dalam Debat Final Paslon Pilkada Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Isyarat yang Humanis dan Bahasa Ekspresif yang Di-off-kan dalam Debat Final Paslon Pilkada Buleleng

Bahasa Isyarat yang Humanis dan Bahasa Ekspresif yang Di-off-kan dalam Debat Final Paslon Pilkada Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co