26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
in Khas
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

Prof. Made Bandem (tengah) dan Prof. Wayan Dibia (kanan)

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama hampir lima dekade, PKB berkembang melalui berbagai fase yang dipengaruhi karakter kepemimpinan gubernur di setiap periode, sekaligus menjadi ruang pelestarian, pengembangan, dan regenerasi seni budaya Bali.

Menjelang perayaan emas 50 tahun pada 2028, sejumlah budayawan menilai PKB perlu melangkah lebih jauh. Selain menjaga tradisi yang telah mengakar, festival ini juga diharapkan menghadirkan pembaruan melalui rekonstruksi karya-karya legendaris, penciptaan atraksi baru, penguatan dokumentasi, serta peningkatan dukungan pendanaan bagi para seniman.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya bertajuk “Perjalanan Panjang PKB Menuju 50 Tahun” yang diselenggarakan Kawiya Bali bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali sebagai bagian dari rangkaian PKB XLVIII Tahun 2026 di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (3/7).

Diskusi menghadirkan Kurator PKB XLVIII, Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem, dengan Nyoman Winata sebagai moderator.

PKB Lahir sebagai Wahana Pembinaan

Prof. Dibia menjelaskan, sejak pertama kali digagas Gubernur Bali saat itu, almarhum Ida Bagus Mantra, pada 1979, PKB tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi panggung hiburan. Festival ini dirancang sebagai strategi membangun kecintaan generasi muda terhadap seni budaya Bali melalui tiga pilar utama, yakni rekonstruksi kesenian yang mulai hilang, penggalian potensi budaya yang hidup di masyarakat, serta pengembangan karya-karya baru.

“Memang sejak awal Pesta Kesenian Bali dimaksudkan untuk melakukan pembinaan generasi muda terhadap budaya mereka. Dijadikan wahana untuk membuat mereka sadar, cinta, dan bangga terhadap warisan seni budaya melalui program rekonstruksi, penggalian, dan pengembangan,” ujarnya.

Budayawan kelahiran Singapadu, Gianyar, itu menilai tujuan tersebut kini mulai memperlihatkan hasil. Ia mengenang, ketika masih muda di desanya hanya terdapat dua penari Barong. Kini jumlahnya telah berkembang menjadi puluhan. Begitu pula seni bapang yang dahulu didominasi orang dewasa, kini telah dipelajari anak-anak sejak usia dini.

“Kondisi ini menunjukkan orang tua maupun anak-anak sudah memiliki rasa bangga terhadap budayanya sendiri. Harapan kita ke depan, generasi muda tidak perlu lagi dikhawatirkan akan meninggalkan budaya Bali,” katanya.

Berawal dari Beragam Tradisi Seni

Menurut Prof. Dibia, kelahiran PKB tidak terjadi secara tiba-tiba. Meski resmi dimulai pada 1979, festival ini merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa seni dan budaya yang telah berkembang sebelumnya.

Ia menyebut tradisi mepeed, lahirnya Gong Kebyar di Bali Utara pada 1915, Festival Gong Kebyar Gianyar tahun 1938, hingga Merdangga Utsawa yang digagas Listibiya sebagai ajang lomba Gong Kebyar se-Bali menjadi inspirasi penting lahirnya PKB.

Selain itu, tradisi arak-arakan pada masa Presiden Soekarno setiap menerima tamu negara juga menjadi bagian dari inspirasi tersebut.

“Setiap Presiden Soekarno menerima tamu dari luar negeri selalu diadakan arak-arakan. Saya beberapa kali berjalan dari Singapadu ke Denpasar untuk melihatnya,” kenangnya.

Festival Ramayana Nasional 1970 dan Festival Ramayana Internasional 1971 turut memberi pengaruh terhadap konsep PKB yang kemudian diramu secara visioner oleh Ida Bagus Mantra menjadi festival yang mampu mewadahi seluruh potensi seni budaya Bali.

Peresmian Taman Budaya (Art Center) Denpasar juga menjadi tonggak penting karena sejak saat itu kawasan tersebut menjadi pusat penyelenggaraan PKB. Prof. Dibia mengaku masih mengingat dirinya tampil membawakan Kecak Subali-Sugriwa saat peresmian Art Center.

Dari Belasan Pertunjukan Menjadi Ratusan Agenda

Pada penyelenggaraan perdana, PKB hanya menampilkan sekitar 15 pertunjukan yang berlangsung setiap Sabtu, Minggu, dan Rabu. Saat itu Sendratari Ramayana menjadi sajian utama sebelum berkembang menghadirkan kisah Mahabharata, Babad, Tantri, dan cerita klasik lainnya.

Dalam satu dekade pertama, penyelenggaraan PKB tidak hanya terpusat di Denpasar, tetapi juga berlangsung bergilir di sejumlah kabupaten. Festival Gong Kebyar menjadi agenda paling bergengsi dengan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi.

“Euforia Festival Gong Kebyar luar biasa. Masyarakat merasa menjadi bagian dari PKB dan memiliki kebanggaan terhadap daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Memasuki 1985, PKB mulai membuka diri ke panggung internasional dengan tampilnya kelompok gamelan Sekar Jaya dari California, Amerika Serikat.

“Kedatangan Sekar Jaya menjadi titik awal PKB memasuki dunia internasional. Mereka menampilkan kesenian Bali dengan kualitas yang benar-benar di luar ekspektasi kita,” kata Prof. Dibia.

Kini, PKB berkembang menjadi festival yang menghadirkan lebih dari 200 kegiatan selama hampir sebulan penuh.

Tantangan Menuju PKB Emas

Meski berkembang pesat, Prof. Dibia menilai masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah menjelang usia emas PKB.

Persoalan utama yang disorot adalah belum adanya komitmen peningkatan anggaran secara berkelanjutan. Menurutnya, biaya produksi kesenian terus meningkat, sementara dukungan dana tidak selalu bertambah sehingga cukup membebani daerah dengan kemampuan fiskal terbatas.

“Kalau kita membanggakan PKB sebagai ajang pembinaan generasi muda, maka harus didukung dengan dana yang memadai. Jangan sampai harga-harga naik tetapi dana PKB justru turun,” tegasnya.

Ia mengusulkan adanya kesepakatan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menaikkan anggaran PKB setiap tahun sekitar 10 hingga 20 persen.

Selain pendanaan, Prof. Dibia juga menyoroti pentingnya dokumentasi. Menurutnya, banyak naskah, notasi gamelan, foto, maupun arsip sejarah PKB masih tersimpan secara pribadi sehingga perlu dihimpun menjadi pusat dokumentasi resmi.

Khusus menyambut PKB ke-50, ia mengusulkan rekonstruksi karya-karya terbaik yang pernah lahir dalam sejarah PKB sekaligus mendorong penciptaan ikon-ikon baru, seperti pengembangan Barong Macan dan Barong Bangkal.

Ia juga berharap perayaan emas PKB mampu menghadirkan kelompok seni dari berbagai negara sehingga semakin memperkuat posisi PKB sebagai festival seni budaya bertaraf dunia.

Lima Babak Perjalanan PKB

Sementara itu, Prof. I Made Bandem membagi perjalanan PKB selama hampir 48 tahun ke dalam lima periode berdasarkan masa kepemimpinan gubernur Bali.

Menurutnya, pembagian tersebut membantu memahami bagaimana arah kebijakan kebudayaan terus berkembang dari masa ke masa.

Periode pertama (1979–1989) pada era Gubernur Ida Bagus Mantra disebut sebagai masa perintisan dan revitalisasi tradisi, ketika pemerintah fokus menghidupkan kembali berbagai potensi seni tradisional melalui pembinaan, penggalian, dan pengembangan.

Periode kedua (1989–1998) pada masa Gubernur Ida Bagus Oka disebut sebagai masa konsolidasi dan penguatan identitas Bali, dengan penekanan pada penguatan fondasi budaya yang telah dibangun sebelumnya.

Periode ketiga (1999–2008) di bawah Gubernur Dewa Made Beratha merupakan masa reformasi dan pelibatan publik. Semangat demokratisasi membuat keterlibatan masyarakat semakin luas, tidak lagi didominasi lembaga pendidikan seni, tetapi juga sanggar, sekaa, yayasan, dan komunitas budaya.

“Zaman reformasi membawa semangat demokratisasi sehingga pelibatan publik menjadi jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Periode keempat (2009–2018) pada era Gubernur Made Mangku Pastika ditandai sebagai fase diplomasi budaya dan diversifikasi festival seni, ditandai lahirnya berbagai festival baru yang memperluas ruang kreativitas seniman.

Sementara periode kelima yang dimulai sejak 2019 di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster disebut sebagai fase menuju kemapanan dan penguatan ekosistem budaya.

Menurut Prof. Bandem, berbagai regulasi kebudayaan yang lahir pada periode ini, termasuk Perda Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem budaya yang lebih kuat.

“Periode ini ditandai dengan lahirnya berbagai perda kebudayaan dan penguatan ekosistem budaya. PKB menjadi bagian dari upaya yang lebih besar dalam pemajuan kebudayaan Bali,” ujarnya.

Profesionalisme dan Kesakralan

Ke depan, Prof. Bandem menilai tantangan terbesar PKB adalah membangun tata kelola yang semakin profesional seiring semakin besarnya skala penyelenggaraan.

“Tata kelola akan menjadi tantangan terbesar ke depan. PKB membutuhkan manajemen yang profesional karena skala penyelenggaraannya terus berkembang,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara seni sakral dan seni pertunjukan agar seni wali maupun bebali tidak kehilangan nilai kesakralannya.

“Seni wali dan bebali adalah sumber lahirnya berbagai kreativitas seni Bali. Kalau itu tidak dijaga, kita akan kehilangan sumber penciptaan kesenian kita sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, ia berharap seni klasik seperti wayang kulit serta permainan tradisional anak mendapat ruang yang lebih besar dalam penyelenggaraan PKB.

Prof. Bandem juga mengungkapkan rencana pemindahan pusat penyelenggaraan PKB ke kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung pada perayaan emas tahun 2028. Kawasan tersebut dirancang memiliki panggung terbuka berkapasitas sekitar 15 ribu penonton, sejumlah wantilan, gedung pertunjukan tertutup, museum, serta berbagai fasilitas penunjang lainnya.

Menutup pemaparannya, Prof. Bandem menegaskan bahwa selama hampir lima dekade PKB telah menjadi monumen hidup pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang terus bertumbuh berkat kolaborasi masyarakat, seniman, pemerintah, akademisi, dan media massa.

Memasuki usia emas, tantangan PKB bukan lagi sekadar menjaga tradisi tetap hidup, melainkan memastikan warisan budaya Bali terus berkembang secara kreatif, terdokumentasi dengan baik, serta didukung tata kelola dan pendanaan yang mampu menjadikannya salah satu festival seni budaya terbaik di dunia. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

Next Post

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co