6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
in Khas
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

Prof. Made Bandem (tengah) dan Prof. Wayan Dibia (kanan)

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama hampir lima dekade, PKB berkembang melalui berbagai fase yang dipengaruhi karakter kepemimpinan gubernur di setiap periode, sekaligus menjadi ruang pelestarian, pengembangan, dan regenerasi seni budaya Bali.

Menjelang perayaan emas 50 tahun pada 2028, sejumlah budayawan menilai PKB perlu melangkah lebih jauh. Selain menjaga tradisi yang telah mengakar, festival ini juga diharapkan menghadirkan pembaruan melalui rekonstruksi karya-karya legendaris, penciptaan atraksi baru, penguatan dokumentasi, serta peningkatan dukungan pendanaan bagi para seniman.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya bertajuk “Perjalanan Panjang PKB Menuju 50 Tahun” yang diselenggarakan Kawiya Bali bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali sebagai bagian dari rangkaian PKB XLVIII Tahun 2026 di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Art Center Denpasar, Jumat (3/7).

Diskusi menghadirkan Kurator PKB XLVIII, Prof. Dr. I Wayan Dibia dan Prof. Dr. I Made Bandem, dengan Nyoman Winata sebagai moderator.

PKB Lahir sebagai Wahana Pembinaan

Prof. Dibia menjelaskan, sejak pertama kali digagas Gubernur Bali saat itu, almarhum Ida Bagus Mantra, pada 1979, PKB tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi panggung hiburan. Festival ini dirancang sebagai strategi membangun kecintaan generasi muda terhadap seni budaya Bali melalui tiga pilar utama, yakni rekonstruksi kesenian yang mulai hilang, penggalian potensi budaya yang hidup di masyarakat, serta pengembangan karya-karya baru.

“Memang sejak awal Pesta Kesenian Bali dimaksudkan untuk melakukan pembinaan generasi muda terhadap budaya mereka. Dijadikan wahana untuk membuat mereka sadar, cinta, dan bangga terhadap warisan seni budaya melalui program rekonstruksi, penggalian, dan pengembangan,” ujarnya.

Budayawan kelahiran Singapadu, Gianyar, itu menilai tujuan tersebut kini mulai memperlihatkan hasil. Ia mengenang, ketika masih muda di desanya hanya terdapat dua penari Barong. Kini jumlahnya telah berkembang menjadi puluhan. Begitu pula seni bapang yang dahulu didominasi orang dewasa, kini telah dipelajari anak-anak sejak usia dini.

“Kondisi ini menunjukkan orang tua maupun anak-anak sudah memiliki rasa bangga terhadap budayanya sendiri. Harapan kita ke depan, generasi muda tidak perlu lagi dikhawatirkan akan meninggalkan budaya Bali,” katanya.

Berawal dari Beragam Tradisi Seni

Menurut Prof. Dibia, kelahiran PKB tidak terjadi secara tiba-tiba. Meski resmi dimulai pada 1979, festival ini merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa seni dan budaya yang telah berkembang sebelumnya.

Ia menyebut tradisi mepeed, lahirnya Gong Kebyar di Bali Utara pada 1915, Festival Gong Kebyar Gianyar tahun 1938, hingga Merdangga Utsawa yang digagas Listibiya sebagai ajang lomba Gong Kebyar se-Bali menjadi inspirasi penting lahirnya PKB.

Selain itu, tradisi arak-arakan pada masa Presiden Soekarno setiap menerima tamu negara juga menjadi bagian dari inspirasi tersebut.

“Setiap Presiden Soekarno menerima tamu dari luar negeri selalu diadakan arak-arakan. Saya beberapa kali berjalan dari Singapadu ke Denpasar untuk melihatnya,” kenangnya.

Festival Ramayana Nasional 1970 dan Festival Ramayana Internasional 1971 turut memberi pengaruh terhadap konsep PKB yang kemudian diramu secara visioner oleh Ida Bagus Mantra menjadi festival yang mampu mewadahi seluruh potensi seni budaya Bali.

Peresmian Taman Budaya (Art Center) Denpasar juga menjadi tonggak penting karena sejak saat itu kawasan tersebut menjadi pusat penyelenggaraan PKB. Prof. Dibia mengaku masih mengingat dirinya tampil membawakan Kecak Subali-Sugriwa saat peresmian Art Center.

Dari Belasan Pertunjukan Menjadi Ratusan Agenda

Pada penyelenggaraan perdana, PKB hanya menampilkan sekitar 15 pertunjukan yang berlangsung setiap Sabtu, Minggu, dan Rabu. Saat itu Sendratari Ramayana menjadi sajian utama sebelum berkembang menghadirkan kisah Mahabharata, Babad, Tantri, dan cerita klasik lainnya.

Dalam satu dekade pertama, penyelenggaraan PKB tidak hanya terpusat di Denpasar, tetapi juga berlangsung bergilir di sejumlah kabupaten. Festival Gong Kebyar menjadi agenda paling bergengsi dengan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi.

“Euforia Festival Gong Kebyar luar biasa. Masyarakat merasa menjadi bagian dari PKB dan memiliki kebanggaan terhadap daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Memasuki 1985, PKB mulai membuka diri ke panggung internasional dengan tampilnya kelompok gamelan Sekar Jaya dari California, Amerika Serikat.

“Kedatangan Sekar Jaya menjadi titik awal PKB memasuki dunia internasional. Mereka menampilkan kesenian Bali dengan kualitas yang benar-benar di luar ekspektasi kita,” kata Prof. Dibia.

Kini, PKB berkembang menjadi festival yang menghadirkan lebih dari 200 kegiatan selama hampir sebulan penuh.

Tantangan Menuju PKB Emas

Meski berkembang pesat, Prof. Dibia menilai masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah menjelang usia emas PKB.

Persoalan utama yang disorot adalah belum adanya komitmen peningkatan anggaran secara berkelanjutan. Menurutnya, biaya produksi kesenian terus meningkat, sementara dukungan dana tidak selalu bertambah sehingga cukup membebani daerah dengan kemampuan fiskal terbatas.

“Kalau kita membanggakan PKB sebagai ajang pembinaan generasi muda, maka harus didukung dengan dana yang memadai. Jangan sampai harga-harga naik tetapi dana PKB justru turun,” tegasnya.

Ia mengusulkan adanya kesepakatan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menaikkan anggaran PKB setiap tahun sekitar 10 hingga 20 persen.

Selain pendanaan, Prof. Dibia juga menyoroti pentingnya dokumentasi. Menurutnya, banyak naskah, notasi gamelan, foto, maupun arsip sejarah PKB masih tersimpan secara pribadi sehingga perlu dihimpun menjadi pusat dokumentasi resmi.

Khusus menyambut PKB ke-50, ia mengusulkan rekonstruksi karya-karya terbaik yang pernah lahir dalam sejarah PKB sekaligus mendorong penciptaan ikon-ikon baru, seperti pengembangan Barong Macan dan Barong Bangkal.

Ia juga berharap perayaan emas PKB mampu menghadirkan kelompok seni dari berbagai negara sehingga semakin memperkuat posisi PKB sebagai festival seni budaya bertaraf dunia.

Lima Babak Perjalanan PKB

Sementara itu, Prof. I Made Bandem membagi perjalanan PKB selama hampir 48 tahun ke dalam lima periode berdasarkan masa kepemimpinan gubernur Bali.

Menurutnya, pembagian tersebut membantu memahami bagaimana arah kebijakan kebudayaan terus berkembang dari masa ke masa.

Periode pertama (1979–1989) pada era Gubernur Ida Bagus Mantra disebut sebagai masa perintisan dan revitalisasi tradisi, ketika pemerintah fokus menghidupkan kembali berbagai potensi seni tradisional melalui pembinaan, penggalian, dan pengembangan.

Periode kedua (1989–1998) pada masa Gubernur Ida Bagus Oka disebut sebagai masa konsolidasi dan penguatan identitas Bali, dengan penekanan pada penguatan fondasi budaya yang telah dibangun sebelumnya.

Periode ketiga (1999–2008) di bawah Gubernur Dewa Made Beratha merupakan masa reformasi dan pelibatan publik. Semangat demokratisasi membuat keterlibatan masyarakat semakin luas, tidak lagi didominasi lembaga pendidikan seni, tetapi juga sanggar, sekaa, yayasan, dan komunitas budaya.

“Zaman reformasi membawa semangat demokratisasi sehingga pelibatan publik menjadi jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Periode keempat (2009–2018) pada era Gubernur Made Mangku Pastika ditandai sebagai fase diplomasi budaya dan diversifikasi festival seni, ditandai lahirnya berbagai festival baru yang memperluas ruang kreativitas seniman.

Sementara periode kelima yang dimulai sejak 2019 di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster disebut sebagai fase menuju kemapanan dan penguatan ekosistem budaya.

Menurut Prof. Bandem, berbagai regulasi kebudayaan yang lahir pada periode ini, termasuk Perda Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem budaya yang lebih kuat.

“Periode ini ditandai dengan lahirnya berbagai perda kebudayaan dan penguatan ekosistem budaya. PKB menjadi bagian dari upaya yang lebih besar dalam pemajuan kebudayaan Bali,” ujarnya.

Profesionalisme dan Kesakralan

Ke depan, Prof. Bandem menilai tantangan terbesar PKB adalah membangun tata kelola yang semakin profesional seiring semakin besarnya skala penyelenggaraan.

“Tata kelola akan menjadi tantangan terbesar ke depan. PKB membutuhkan manajemen yang profesional karena skala penyelenggaraannya terus berkembang,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara seni sakral dan seni pertunjukan agar seni wali maupun bebali tidak kehilangan nilai kesakralannya.

“Seni wali dan bebali adalah sumber lahirnya berbagai kreativitas seni Bali. Kalau itu tidak dijaga, kita akan kehilangan sumber penciptaan kesenian kita sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, ia berharap seni klasik seperti wayang kulit serta permainan tradisional anak mendapat ruang yang lebih besar dalam penyelenggaraan PKB.

Prof. Bandem juga mengungkapkan rencana pemindahan pusat penyelenggaraan PKB ke kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Klungkung pada perayaan emas tahun 2028. Kawasan tersebut dirancang memiliki panggung terbuka berkapasitas sekitar 15 ribu penonton, sejumlah wantilan, gedung pertunjukan tertutup, museum, serta berbagai fasilitas penunjang lainnya.

Menutup pemaparannya, Prof. Bandem menegaskan bahwa selama hampir lima dekade PKB telah menjadi monumen hidup pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang terus bertumbuh berkat kolaborasi masyarakat, seniman, pemerintah, akademisi, dan media massa.

Memasuki usia emas, tantangan PKB bukan lagi sekadar menjaga tradisi tetap hidup, melainkan memastikan warisan budaya Bali terus berkembang secara kreatif, terdokumentasi dengan baik, serta didukung tata kelola dan pendanaan yang mampu menjadikannya salah satu festival seni budaya terbaik di dunia. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

Next Post

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co