KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Tiga kelompok teater yang tampil di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (16/7/2026), memperlihatkan pertunjukan yang matang, mulai dari kemampuan akting, penguasaan karakter, pelafalan dialog, hingga teknik penguasaan panggung.
Mayoritas pemain merupakan generasi muda. Namun, usia tidak menjadi penghalang untuk menghadirkan pertunjukan yang kuat. Melalui perpaduan akting, tata artistik, pencahayaan, musik, dan pengolahan properti, mereka menyajikan pengalaman visual sekaligus emosional yang menyentuh penonton, lengkap dengan berbagai refleksi sosial.
Kreativitas para peserta juga tampak dalam pemanfaatan properti panggung. Benda-benda sederhana tidak sekadar menjadi dekorasi, tetapi bertransformasi menjadi elemen dramatik yang memperkuat gerak, suasana, sekaligus simbol-simbol yang menghidupkan cerita.
Pementasan dibuka oleh Teater Galang Kangin melalui lakon Panen Anak karya Manik Sukadana. Naskah ini mengangkat konflik antargenerasi lewat kisah Artha, seorang petani cabai yang menolak memiliki anak akibat trauma terhadap pola asuh otoriter ibunya, Rahayu.

Di sisi lain, sang istri, Marna, setiap hari menyaksikan anak-anak menjadi korban ambisi orang tua mereka. Keinginan Rahayu agar Artha segera memiliki keturunan memicu konflik keluarga yang terus membesar hingga membuka kembali luka lama, egoisme, dan trauma yang selama ini terpendam.
Selanjutnya, Teater Jungut Sari dari Sukawati, Gianyar, membawakan naskah Keok. Lakon ini mengajak penonton menyelami kehidupan masyarakat di balik hiruk-pikuk pertajenan melalui kisah Made Surya dan Luh Sandat, pasangan suami istri yang menggantungkan hidup sebagai pedagang di kawasan tajen.
Terdesak biaya upacara ngaben sang ayah, Made Surya nekat mengikuti tajen. Kekalahannya kemudian dimanfaatkan Mang Kober, sosok licik yang mengincar Luh Sandat. Berbagai tipu daya, pengkhianatan, perebutan kepentingan, hingga konspirasi di balik perputaran uang tajen menggiring cerita menuju tragedi.
Garapan Teater Jungut Sari tampil menonjol melalui pendekatan musikal. Sejak awal, suasana kalangan tajen dibangun melalui koreografi, permainan musik tradisional Bali yang dipadukan dengan aransemen kontemporer, serta tata artistik yang terus berubah mengikuti perkembangan adegan.
Bambu-bambu di atas panggung disulap menjadi pagar, tempat duduk, hingga arena tajen. Sementara guungan atau keranjang ayam tidak hanya berfungsi sebagai properti, tetapi juga menjadi simbol perjalanan hidup dan gejolak emosi para tokoh.

“Kelompok kami sengaja menghadirkan pendekatan baru karena pertunjukan ini berada dalam kategori drama modern. Kami mencoba menawarkan pengalaman baru melalui musikalitas. Pada bagian pembuka kami memperkenalkan dunia tajen lewat koreografi musikal. Elemen-elemen panggung kami susun sedemikian rupa sehingga bambu yang sederhana bisa berubah menjadi tempat duduk, pagar, bahkan kalangan tajen,” ujar penggarap Teater Jungut Sari, I Kadek Aria Dwi Diana Putra Wigunaha atau Andi.
Menurut Andi, naskah Keok dipilih karena dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Bali. Di balik kontroversi tajen yang kerap dipandang sebagai perjudian, tersimpan berbagai persoalan sosial, mulai dari denyut ekonomi masyarakat, keberadaan pedagang dan UMKM, hingga dinamika sosial yang mengiringinya.
“Tajen memiliki banyak sisi yang bisa diangkat. Ada yang memandangnya negatif, tetapi ada pula sisi bagaimana aktivitas itu menggerakkan ekonomi masyarakat. Itulah yang ingin kami jadikan bahan refleksi bersama,” katanya.
Instrumen tradisional seperti reyong, gong, kajar, dan suling tetap dipertahankan, tetapi diolah dalam aransemen yang lebih kontemporer sehingga menghadirkan nuansa musikal yang segar. Seluruh properti panggung pun dirancang memiliki fungsi dramatik sehingga setiap elemen visual ikut membangun emosi dan makna cerita.

Sementara itu, Teater Masa Kini menghadirkan tafsir berbeda terhadap naskah Keok. Kelompok ini mengemas cerita dalam konsep teater modern bernuansa Bali dengan memperkuat unsur hiburan, simbolisme, dan interaksi dengan penonton.
Selain mempertahankan alur utama, mereka menambahkan permainan dialog, humor, atraksi kecak, koreografi, hingga eksplorasi adegan pertajenan yang membuat pertunjukan terasa lebih dinamis tanpa mengubah struktur utama cerita.
Asisten Sutradara Teater Masa Kini, I Komang Artana Anugrah, mengatakan seluruh peserta memperoleh naskah yang sama dari panitia. Karena itu, tantangan utamanya bukan pada cerita, melainkan bagaimana setiap kelompok menerjemahkannya menjadi pertunjukan yang memiliki karakter dan identitas sendiri.
“Konsepnya hampir sama, hanya bungkusannya yang berbeda. Pembeda itu ada pada dialog, permainan adegan, jokes kepada penonton, hingga tambahan unsur seperti kecak maupun eksplorasi pertunjukan lainnya yang tetap tidak keluar dari cerita,” ujarnya.
Seluruh properti diproduksi sendiri oleh tim. Menurutnya, setiap elemen artistik memiliki fungsi dramatik, bukan sekadar memperindah tampilan visual.
“Properti sangat penting dalam suatu pertunjukan teater karena mendukung performa aktor. Bahkan kostum dan warna juga menjadi simbol karakter. Misalnya tokoh Mang Kober dibentuk sebagai sosok antagonis sehingga menggunakan nuansa merah agar karakternya langsung terbaca oleh penonton,” jelasnya.
Pada pementasan tersebut, Teater Masa Kini melibatkan sekitar 25 orang yang terdiri atas tujuh aktor utama, enam penari, serta tim produksi dan pendukung.
“Semua elemen di atas panggung kami usahakan punya makna. Jadi bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi ikut membantu menyampaikan karakter dan cerita kepada penonton,” tambahnya.
Salah seorang dewan juri, I Wayan Sumahardika, menjelaskan penggunaan naskah yang sama merupakan strategi untuk mengukur kemampuan peserta dalam membaca, memahami, dan menerjemahkan teks drama ke dalam bentuk pertunjukan.
Karena itu, penilaian tidak hanya berfokus pada cerita yang dipentaskan, tetapi juga pada kreativitas penyutradaraan, pengolahan artistik, permainan aktor, serta kemampuan masing-masing kelompok menghadirkan interpretasi baru terhadap naskah yang sama.
Ia menambahkan, panitia sengaja memilih karya penulis Bali sebagai upaya memperkenalkan sekaligus memperluas akses generasi muda terhadap drama lokal.

“Panitia menyodorkan naskah drama agar karya-karya penulis Bali semakin terakses oleh generasi muda. Jadi peserta tidak hanya mementaskan, tetapi juga benar-benar memahami teks yang mereka bawakan,” ujarnya.
Menurut Sumahardika, seluruh kelompok pada hari pertama berhasil menghadirkan pertunjukan dengan karakter penyutradaraan, tata artistik, dan gaya bertutur yang berbeda. Meskipun menggunakan naskah yang sama, masing-masing mampu menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda.
Namun demikian, ia mengingatkan agar peserta berhati-hati ketika melakukan perubahan terhadap naskah.
“Peserta mesti mempertimbangkan apakah sebuah bagian memang perlu dipotong atau ditambahkan. Jangan sampai penambahan dialog yang bertujuan memperkuat pertunjukan justru melemahkan struktur dramatiknya. Teks itu sebenarnya sudah memiliki dramaturginya sendiri,” katanya.
Selain kemampuan memahami naskah, kreativitas mengolah unsur artistik juga menjadi perhatian dewan juri. Sejumlah peserta dinilai berhasil mengeksplorasi properti panggung sehingga tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi menjadi bagian hidup dari permainan aktor dan perkembangan cerita.
“Beberapa peserta menggunakan properti dengan sangat menarik karena tidak hanya menjadi dekorasi, tetapi juga alat permainan. Namun yang paling penting tetap bagaimana pemain melisankan naskahnya. Teks itu tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus dikunyah sehingga pemain benar-benar mengalami cerita yang dimainkan,” pungkas Sumahardika.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























