25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Fatris dari Pinggir

Pranita Dewi by Pranita Dewi
November 3, 2024
in Persona
Melihat Fatris dari Pinggir

Fatris MF di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

SIANG itu, saya dan Sonia (Kadek Sonia Piscayanti, penulis) datang ke Indus dengan terburu-buru. Udara Ubud yang biasanya tenang, rasanya malah seperti ikut mengejar kami. Mungkin karena acara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun 2024 ini punya magnet tersendiri, atau mungkin juga karena kami sedang mengejar sesuatu yang kami nanti-nantikan sendiri.

Tapi begitulah kami, suka tersesat dan terkadang terlambat, tapi selalu terkekeh menyaksikan apa yang membentang di hadapan kami.

Itu Sabtu, 26 Oktober 2024. UWRF sedang ramai-ramainya. Di depan kami, tangga putih menjulang, seperti jalur khusus untuk kami yang ingin mencicipi kejutan apa yang menanti di dalam. Itu adalah jalur menuju Indus Restaurant, salah satu tempat penyelenggaraan diskusi yang cukup istimewa di UWRF 2024.

Di ruang transit, ada deretan buku yang mengundang kami untuk berhenti sejenak. Buku-buku ini mengalihkan pandangan kami. Tapi misi kami sudah jelas: panel diskusi. Setelah puas melirik-lirik koleksi di rak, kami segera turun lagi menuju ruang panel.

Saat kami masuk, di panggung, ada sosok yang dari dulu namanya sering terdengar dan ceritanya sering kami baca, tapi baru kali ini wajahnya terpampang jelas di depan kami—Fatris MF. Ia duduk di tengah, wajahnya tampak segar.

Di sampingnya, duduk Juli Sastrawan (penulis) sebagai moderator, dan di sisi lain duduk Chriswan, si penerjemah legendaris UWRF, yang terkenal dengan gaya santainya: kaos putih, celana pendek cokelat, dan sandal jepit.

Chriswan adalah penerjemah yang cekatan dengan kata-katanya, lincah dan cepat, tanpa basa-basi.

Dari kiri: Juli Sastrawan, Fatris MF dan Chriswan dalam sesi diskusi Indonesia from The Edge | Foto: tatkala.co/Pranita Dewi

Dalam diskusi bertajuk “Fatris MF: Indonesia from The Edge” itu Fatris membuka cerita tentang petualangannya melintasi Indonesia yang jarang disorot media. Dari pulau-pulau yang hanya dikenal oleh mereka yang tinggal di sana, hingga desa-desa di mana tradisi terasa begitu kuat meski dunia semakin modern.

Kami—saya dan Sonia—berusahan duduk serius agak di pinggir, mendengar dan mencoba membaca sepenuh hati apa-apa yang dikatakan Fatris.

Salah satu cerita yang mencuri perhatian adalah tentang Lamalera, sebuah wilayah yang masih mempraktikkan tradisi berburu paus. “Lemafa,” katanya.

Dan saya mulai memperhatikan, mungkin saja ini nama yang hanya akan kita dengar di acara seperti ini. Lemafa bukan sekadar tokoh atau kisah, tapi sebuah simbol dari ketangguhan. Ia adalah sebutan bagi seorang ahli bidik paus di Larantuka—pemberani yang mampu menaklukkan ikan besar di laut dalam.

Tapi ini bukan soal pamer kekuatan, melainkan sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun. Bagi Lemafa, berburu paus adalah soal hidup bersama alam, tentang keseimbangan yang sulit dipahami orang kota.

Dalam tulisan Fatris pun, ia menuliskan bahwa pertarungan ini adalah pertarungan hidup dan mati, sehingga tidak susah menemukan Lamafa yang pulang dengan satu kaki, satu tangan, atau tubuh dengan luka sayatan.

Ini ang menarik. Di tengah cerita Fatris, ada yang bertanya tentang genre bukunya.

“Kalau buku ini masuk perpustakaan, rak mana yang cocok?”

Fatris sempat terdiam sejenak, tapi kemudian ia tersenyum dan menjawab, “Ini bukan buku ‘Travel How To’ yang cocok menghiasi ruang tamu Anda. Letakkan saja di mana pun, yang penting ada. Buku saya ini untuk mereka yang ingin tahu lebih dari sekadar pemandangan cantik.”

Ruangan langsung penuh dengan tawa ketika ia melanjutkan, “Indonesia ini bukan hanya Jakarta. Banyak sekali yang tak terlihat di luar sana, tapi hidupnya jauh lebih kaya dari yang kita kira.”

Fatris MF pada sesi diskusi yang berbeda di Rumah Kayu, UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Di sesi selanjutnya, Fatris menceritakan pertemuannya dengan seorang ibu di salah satu desa kecil. Ini salah satu cerita yang ia ingat betul dan tak pernah ia lupakan.

“Dulu, air bersih ada di mana-mana. Suamiku menjala ikan sebentar saja, dan itu cukup buat makan dua hari. Tapi sekarang? Ikan dibeli, air pun dibeli. Uang ada, tapi yang dulu gratis sekarang harus bayar,” ujar Fatris, menirukan keluhan si ibu dengan mimik serius, tapi penuh kesadaran.

Kata-kata itu terngiang di kepala saya. Ada ibu-ibu di luar sana yang mendadak harus beradaptasi dengan perubahan, bukan karena keinginan, tapi karena lingkungan yang tak lagi sama.

Mendengar cerita itu, saya bisa membayangkan bagaimana wajah ibu tersebut; matanya yang letih, mungkin sedikit kecewa, tapi tetap tangguh menghadapi realitas.

Tak lama kemudian, dalam diskusi itu, seorang bule mengangkat tangan dan bertanya tentang buku apa yang sebaiknya dibaca oleh pemerintah.

Pertanyaan itu membuat Fatris tertawa lepas. Dengan nada yang agak bercanda tapi tegas, dia menjawab, “Saya nggak tahu harus rekomendasi buku apa buat pemerintah. Saya nggak terbiasa ‘menjilat-jilat’ mereka,” ucapnya lantang, dan kami pun tertawa.

Chriswan dengan sigap menerjemahkan, “I do not want to ‘lick the ass’ of the government.”

Lagi-lagi ruangan penuh tawa.

Sesi diskusi Fatris yang selalu ramai di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Menyaksikan Fatris berbicara, rasanya seperti mendengar suara Indonesia yang mungkin tak pernah kita dengar sehari-hari—suara dari pinggir yang jarang sekali mendapat tempat.

Ia berbicara tentang realitas, tentang tanah air yang kaya akan budaya dan kisah, tapi sering kali hanya dilihat dari sudut yang sempit. Fatris bukan sekadar seorang penulis perjalanan, dia adalah penggali kisah, pendengar yang sabar, dan penyampai pesan yang jujur.

Melalui ceritanya, kami tidak hanya melihat pemandangan, tapi juga mendengar napas, melihat wajah, dan merasakan hidup mereka yang berada di pinggir-pinggir negeri ini. [T]

Reporter/Penulis: Pranita Dewi
Editor: Adnyana Ole

Saya Emerging Writer UWRF 2024, Namun Hidup Harus Tetap Berjalan: Sebuah Refleksi
Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Berawal dari Musik, Puisi, Lalu Puisi-Musik: Perjumpaan Pertama dengan Tan Lioe Ie
Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Tags: Fatris MfUbudUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masima Krama Toska: Membangun Kebersamaan

Next Post

Menikmati Musik dan Merayakan Motor Antik di Bali Rockin Blues Festival 2024

Pranita Dewi

Pranita Dewi

Penyair. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Musik dan Merayakan Motor Antik di Bali Rockin Blues Festival 2024

Menikmati Musik dan Merayakan Motor Antik di Bali Rockin Blues Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co