2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saya Emerging Writer UWRF 2024, Namun Hidup Harus Tetap Berjalan: Sebuah Refleksi

Kurnia Gusti Sawiji by Kurnia Gusti Sawiji
November 1, 2024
in Esai
Saya Emerging Writer UWRF 2024, Namun Hidup Harus Tetap Berjalan: Sebuah Refleksi

Penulis (Kurnia Gusti Sawiji), di tengah bersama Dicky Senda (kiri) dan Mega Anindyawati (kanan).

PUKUL setengah dua, Waktu Indonesia Barat; saya baru saja selesai makan siang, dan sebuah nomor tak dikenal memanggil. Waktu itu April, 2024, dan panggilan penipuan pinjol sedang marak di Tangerang. Lantas, nomor itu pun saya abaikan. Sekali, dua kali. Hening. Tiba-tiba, WhatsApp berbunyi. Untuk ukuran penipuan pinjol, si pelaku pasti terlampau yakin dengan kemampuannya sampai begitu ngototnya menghubungi saya, atau bisa saja terlampau bebal lantaran berpikir saya pasti bisa tertipu.

Hebatnya lagi, melalui pesan WhatsApp si pelaku lantas memperkenalkan diri sebagai Gustra Adnyana, mewakili manajemen Ubud Writers and Readers Festival, sembari mengesahkan orisinalitas salah satu cerpen saya yang dikirimkan ke seleksi emerging writer UWRF 2024, seleksi yang selalu ditunggu-tunggu kabarnya oleh banyak penulis muda itu. Dalam kulit kacang, kira-kira begitulah awal mula cerita bagaimana saya bangun pagi setiap hari sebagai seorang emerging writer UWRF 2024.

Bagi saya menulis adalah sebuah hobi. Dari dulu begitu; bahkan setelah menerbitkan novel perdana di tahun 2018, dan kumpulan cerpen perdana di tahun 2022. Saya adalah contoh buruk seorang penulis muda masa kini: tidak konsisten mengirim cerpen medioker ke media massa, jarang memperbarui media sosial, hanya memiliki kawan terbatas di lingkar kepenulisan, dan teladan-teladan buruk lainnya.

Secara kualitas, jelas saya tidak ada seujung kuku senior-senior emerging writer lain seperti Faisal Oddang, Juli Sastrawan, Andina Dwifatma, atau lainnya. Sehingga sampai ke saat saya menulis refleksi ini, saya masih separuh yakin dengan predikit bergengsi itu.

Tentu saya tidak perlu menjabarkan lagi makna predikat emerging writer UWRF bagi penulis muda. Dalam tahun ke-21 penyelenggaraan salah satu festival sastra terbesar di Asia Tenggara itu, daya tarik program emerging writer masih luar biasa besar; kesempatan bertemu penulis dan sastrawan kawakan, menghadiri sesi panel, pementasan, dan pameran dalam kemeriahan, merupakan sebagian kecil dari privilese bagi para emerging writer.

Bagi saya pribadi, momen ini merupakan kesempatan saya merasakan bagaimana menjadi “penulis betulan”, alih-alih “penulis partikelir” seperti sekarang.

Pada tanggal 22 Oktober, saya dan Ade Mulyono, salah satu emerging writer yang kebetulan berangkat sama-sama dari Bandara Soekarno Hatta ke Denpasar pukul setengah empat sore—harusnya pukul setengah dua belas, tetapi ada insiden yang saya pikir tidak perlu diceritakan. Sampai di Bali pukul setengah tujuh, dan sampai di penginapan pukul setengah sembilan malam.

Kami beristirahat dan bercengkerama bersama emerging writer lainnya yang satu penginapan dengan kami: Nanda Winar Sagita, Arif P. Putra, dan Arif Kurniawan keesokan harinya, sampai ke acara pembukaan dan makan malam di Casa Luna. Kegiatan mulai memadat di hari selanjutnya.

Pembukaan acara Ubud Writers and Readers Festival 2024 | Foto: Dok pribadi

Sesi foto bersama dengan kepala BSKAP Kemendikbud Anindito Aditomo (depan, keenam dari kanan) | Foto: Dok. pribadi

Di siang hari, kami menghadiri acara makan siang bersama perwakilan dewan kurator dan manajemen: Kak Juli dan Kak Gustra, penerjemah Ibu Pamela Allen, dan patron emerging writer Jonathan Rachman. Malamnya, kami dijamu oleh kepala BSKAP Kemendikbud, Bapak Anindito Aditomo dan istri, Ibu Ade Kumala Sari.

Dalam pertemuan itu, saya yang kebetulan seorang guru berkesempatan “membombardir” pertanyaan: tentang pendidikan, sastra, dan peran kami penulis muda di dalam keduanya. Jawaban dari beliau, sebagaimana pejabat pada umumnya, penuh wacana dan janji, dan tidak banyak yang bisa saya lakukan selain membiarkan waktu membuktikannya.

Oh, setelah makan siang bersama pemangku kepentingan yayasan penyelenggara UWRF, saya dan salah satu emerging writer, Fitriya Ningrum, berpetualang ke Taman Baca guna bertemu dengan Sal Priadi, yang sedang memberikan panel tentang albumnya, Markers and Such Pens Flashdisks. Beruntung, kami bisa bertemu beliau setelah panel selesai.

Sal Priadi berbicara kepada kami dengan begitu santai, seolah kami tidak sedang bicara dengan seorang selebritas. Dia turut menyatakan bahwa para pengkarya muda harus berani menemukan identitasnya sendiri untuk eksis—sebuah nasihat yang akan muncul di dalam pikiran saya di kemudian hari.

Tanggal 25 dan 26 Oktober, saya tidak ada agenda khusus dan memilih berkeliling di Taman Baca, mengunjungi panel-panel. Saya mendapatkan kesempatan emas menghadiri sesi oleh Pak Seno Gumira Ajidarma di tanggal 25 (dan berfoto bersama beliau plus kumcer saya), dan Kak Andina Dwifatma di tanggal 26. Sejak awal pertemuan saya dan Kak Andina di Casa Luna dalam jamuan bersama Pak Anindito, beliau menyampaikan dukungannya yang kuat terhadap koeksistensi sastra dan pendidikan.

Tanggal 27, yang merupakan hari terakhir festival, merupakan jadwal sesi panel saya. Bersama rekan emerging writer Mega Anindyawati, penulis Racun Puan Bu Ni Nyoman Ayu Suciartini, Dicky Senda, dan moderator Bu Desi Nurani, saya berdiskusi dan berbagi tentang apa yang mendasari keinginan saya menulis, dan apa yang saya coba ekspresikan dalam dunia kepenulisan.

Sorenya, seluruh emerging writer menghadiri program anthology launching, peluncuran buku antologi dwibahasa (Inggris dan Indonesia) cerpen-cerpen kami. Pada waktu itulah, pertanyaan itu muncul begitu saja dalam pikiran saya: besok, ketika saya pulang, apa yang akan saya lakukan?

Bagi saya menulis adalah sebuah hobi. Dari dulu begitu; bahkan setelah menerbitkan novel perdana di tahun 2018, dan kumpulan cerpen perdana di tahun 2022. Saya adalah contoh buruk seorang penulis muda masa kini. Arus hidup begitu kencang, dan kenangan begitu mudah terseret dan hanyut sebagai remah.

Dalam 5 hari ini saya merasakan apa yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Tetapi hidup harus tetap berjalan. Saya pulang, tidur, dan kembali menjadi seorang guru keesokan harinya: menjadi diri saya sebelum menjadi emerging writer.

Sesi foto bersama dengan kepala BSKAP Kemendikbud Anindito Aditomo (depan, keenam dari kanan). | Foto: Dok. pribadi

Foto bersama dalam sesi festival anthology launching, peluncuran buku antologi dwibahasa 10 emerging writers UWRF 2024 | Foto: Dok. pribadi

Program emerging writer sudah banyak menghasilkan banyak penulis berjaya; namun tidak sedikit pula yang ditelan oleh arus hidup, dan akhirnya berhenti menulis. Tidak semua emerging writer berhasil menjadi Faisal Oddang, atau Norman Erikson Pasaribu, atau Dea Anugrah. Dalam derasnya arus hidup dan batu-batuan bernama takdir dan nasib, tidak menutup kemungkinan apa yang saya rasakan dalam 5 hari ini hanya akan menjadi sebuah kenangan manis, dan saya tidak berubah.

Dan saya pikir di sinilah perkataan Sal Priadi menjadi bermakna: untuk menentukan identitas, dan pentingnya itu bagi mereka yang berkarya. Sebuah obrolan dengan Faisal Oddang di malam hari juga membuka pemahaman baru buat saya tentang emerging writers: bahwa esensi dalam festival sastra sebesar UWRF boleh jadi tidak terletak pada sesi panel, pementasan, atau pameran-pamerannya, melainkan dalam relasi yang kita buat. Memberikan kesan yang baik, berkenalan dengan orang-orang yang tepat dalam dunia kepenulisan, atau sekadar obrolan yang menimbulkan gagasan-gagasan.

Satu hal saya pasti: tentu saya akan tetap menulis. Bisa jadi tetap sebagai hobi, atau lebih serius dari sekadar hobi, atau apalah. Mengutip Pak Seno: kebetulan, untuk berekspresi, mungkin hanya menulislah yang bisa saya lakukan. Dan itulah yang akan saya lakukan. Terus-menerus. [T]

Tangerang, Oktober 2024

Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Berawal dari Musik, Puisi, Lalu Puisi-Musik: Perjumpaan Pertama dengan Tan Lioe Ie
Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Tags: apresiasi sastraUbudUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Seni Rupa di Tengah Sawah: “Creating New Climate Resilent and Inclusive Cities”

Next Post

Tukik Kehujanan di Pantai Penimbangan: Atap Penangkaran Diterbangkan Angin yang Kencang Sekali

Kurnia Gusti Sawiji

Kurnia Gusti Sawiji

Guru dan penulis kelahiran Tangerang. Sebagai salah satu dari 10 emerging writer dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2024, Kurnia berkontribusi dalam proyek pameran daring Emerging Writers Festival (EWF) Australia 2024 dengan monolog berjudul A Dust’s Soliloquy (Nyanyian Sunyi Sebutir Debu). Karya solonya yang sudah terbit adalah novel Tanah Seberang (Buku Mojok, 2018) dan kumpulan cerpen Dongeng Pengantar Kiamat (Unsa Press, 2022). Selain itu, cerpen dan esainya telah dimuat di beberapa media seperti Mojok, Suara Merdeka, dan Kompas. Dapat diikuti di media sosial Instagram: @kurnigs.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tukik Kehujanan di Pantai Penimbangan: Atap Penangkaran Diterbangkan Angin yang Kencang Sekali

Tukik Kehujanan di Pantai Penimbangan: Atap Penangkaran Diterbangkan Angin yang Kencang Sekali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co