24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berawal dari Musik, Puisi, Lalu Puisi-Musik: Perjumpaan Pertama dengan Tan Lioe Ie

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 30, 2024
in Persona
Berawal dari Musik, Puisi, Lalu Puisi-Musik: Perjumpaan Pertama dengan Tan Lioe Ie

Tan Lioe Ie saat menyajikan puisi-musik “Exorcism” di UWRF 2024. Foto: tatkala.co/Dede

SORE itu, Tan Lioe Ie tampak menjinjing gitarnya dari pintu masuk Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) menuju stage Taman Puisi, ia juga sempat menyapa beberapa kawan-kawannya saat melewati Rumah Kayu. Sesampainya di stage Taman Puisi, ia langsung menyiapkan segala piranti pertunjukannya.

Sayup-sayup suara musik slow blues mulai terdengar, saya pun segera menuju stage Taman Puisi, karena saya sudah berencana akan menyaksikan pertunjukan Tan Lioe hari itu. Saya sempat mengira show sudah dimulai, ternyata Tan Lioe baru melakukan sound check.

Kala itu, Tan Lioe tampil untuk kesekian kalinya di UWRF, ia sudah terlibat di festival itu sejak perhelatan pertama. Pertunjukannya di stage Taman Puisi petang itu bertajuk “What Fuels Your Anger?” atau sederhananya bertema tentang kemarahan. Acara tersebut diisi dengan gelar wicara, penampilan puisi-musik oleh Tan Lioe Ie, serta open mic dari beberapa kawan-kawan komunitas JKP (Jatijagat Kehidupan Puisi).

Tan Lioe Ie kerap disapa Yoki oleh kawan-kawannya, ia merupakan penyair Indonesia asal Bali yang lahir pada 1 Juni 1958. Wikipedia menulis, Tan Lioe Ie merupakan penyair pertama Indonesia yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa dalam puisi bahasa Indonesia. Walaupun bernuansa etnik kental, puisi-puisinya tetap mempunyai daya pikat bagi kalangan luas.

Pada mulanya, Tan Lioe Ie adalah seorang pemusik, namun kini ia lebih dikenal sebagai seorang penyair. Awal ia mulai menulis puisi adalah semenjak bertemu dengan sejumlah penyair di Sanggar Minum Kopi (SMK), saat itu ia berusia 31 tahun.

Kalau saya menjulukinya sebagai satria bergitar yang tidak bernyanyi, tetapi berpuisi. Musik dan puisi tampaknya tidak dapat dipisahkan dari dirinya. Sampai saat ini ia dikenal sebagai penekun puisi-musik.

Tepat pukul 6 sore, acara yang dilaksanakan pada 26 Oktober 2024 di Taman Baca Ubud itu pun dimulai dengan sesi gelar wicara yang dipandu oleh Bagus Ari Saputra. Saat itu Bagus bertanya berbagai hal seputar kiprah Tan Lioe Ie di dunia seni puisi-musik, proses kreatif dalam berkarya, serta pandangan-pandangannya seputar seni puisi.

Tan Lioe Ie dan Bagus Ari Saputra saat sesi gelar wicara di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Kala itu, Bagus juga membawa buku terbaru dari Tan Lioe, yaitu Ekphrasis, ia juga membacakan sepucuk puisi yang terdapat dalam buku tersebut. Tan Lioe Ie mengatakan, “Ekphrasis ini adalah karya puisi yang berbasiskan karya rupa atau karya seni lain. Dalam buku ini, karya rupanya juga disertakan.”

Setelah gelar wicara berlangsung sekian menit, Bagus menjeda sejenak sesi gelar wicara tersebut, ia kemudian mempersilakan Tan Lioe untuk tampil. Pada penampilan pertamanya, Tan Lioe menampilkan puisi-musik yang berjudul “Abad yang Luka”. Tan Lioe menyebutkan, puisi-musik “Abad yang Luka” ini semacam kritik terhadap antroposentrisme dan hipokrisi kaum agama, puisi-musik ini juga pernah memenangkan nominasi di Taraju Award.

Tan Lioe berpuisi sembari bermain gitar, ia memainkan gitar klasik dengan begitu lihai, senar-senar gitarnya dipetik dan digenjreng secara dinamis, kemudian disahuti dengan syair-syair tajamnya. Cara berpuisi yang ditunjukkan oleh Tan Lioe ternyata ampuh memikat berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa bisa menikmati puisi yang disajikan dalam bentuk puisi-musik tersebut.

Penonton mengabadikan Tan Lioe Ie saat tampil di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Tan Lioe Ie saat menyajikan puisi-musik “Abad yang Luka” di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Seusai Tan Lioe menampilkan puisi-musik “Abad yang Luka”, sesi gelar wicara pun dilanjutkan kembali. Kala itu hari mulai dirundung gelap, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 Wita. Semakin malam, pengunjung tampak semakin ramai menyaksikan show Tan Lioe di stage Taman Puisi.

Perbincangan dalam gelar wicara itu, menjadi semakin intim saat Tan Lioe menyatakan tidak sepakat dengan istilah musikalisasi puisi. Baginya, puisi itu sudah musikal, jadi tidak perlu dimusikalkan lagi.

“Saya tidak pernah menemukan satu rumusan yang mengatakan puisi itu tidak musikal. Puisi pada dasarnya sudah musikal, bahkan Newton yang ahli fisika mengatakan puisi itu adalah nada yang teratur. Jadi saya lebih setuju istilah puisi-musik atau musik-puisi, dua kata yang dihubungkan menjadi satu, mencerminkan sinergi, tidak yang satu subkoordinat yang lain. Kalau toh akan melakukan musikalisasi, itu adalah transformasi dari puisi berubah menjadi musik total,” jelasnya dengan nada jengkel.

Tan Lioe mampu mengemas show selama 1 jam itu menjadi acara yang mengesankan, tak hanya sekadar pertunjukkan puisi semata, tetapi juga membuka pikiran terhadap cara kita memandang puisi. Acara semakin seru saat kawan-kawan dari komunitas JKP turut menyajikan puisinya masing-masing. Tetapi sebelum mereka tampil, sesi gelar wicara ditutup terlebih dahulu dengan penampilan Tan Lioe Ie yang menyajikan puisi-musik berjudul “Exorcism”.

Tan Lioe Ie saat menyajikan puisi-musik “Exorcism” di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

“Ini agak sarkastik sebenarnya. Saya menyindir penguasa yang suka menindas orang lemah,” ujar Tan Lioe sebelum memulai penampilan pamungkasnya. Kemudian, musik slow blues yang saya dengar di awal ketika Tan Lioe sedang sound check, mulai diputarkan kembali. Kali ini ia tampil tanpa gitar, Tan Lioe hanya berpuisi, diiringi musik blues, dan disertai dengan berbagai gerakan-gerakan uniknya.

Barang kali, ini adalah kesempatan pertama saya bisa menyaksikan langsung Tan Lioe Ie tampil dengan gayanya yang berkarakter, caranya menyampaikan puisi berbeda dengan cara penyair-penyair lain yang cenderung konvensional.

Tan Lioe Ie mengajak semua audience untuk bergerak bersama saat show-nya berakhir | Foto: tatkala.co/Dede

Para pengunjung dari depan sampai belakang berjoget sembari mengikuti instruksi dari Tan Lioe Ie | Foto: tatkala.co/Dede

Setelah semua rangkaian pertunjukan berakhir, saya menghampiri Tan Lioe Ie dan sedikit berbincang-bincang. Saat itu, di depan stage Taman Puisi, tepatnya di Alang-Alang stage sedang berlangsung pemutaran film. Jadi, perbincangan kami diiringi musik dari film itu. Obrolan yang ringan jadi terkesan dramatis.

Sembari menggendong gitar di bahu kanannya, Tan Lioe Ie waktu itu bercerita tentang banyak hal. Mulai dari pengalamannya dalam berkarya, proses kreatif dalam berpuisi, pandangannya terhadap dunia, hingga berbagai teori konspirasi yang juga saya percayai. Ia juga memberikan saya satu trik sederhana dalam meramu puisi.

“Begini De, ada sebuah ungkapan dari Rilke (penyair Jerman), ‘ketika anda mengalami kesulitan bayangkan keluguan anda ketika kanak-kanak, tetapi tuliskan dengan anda masa kini’. Dengan menerapkan prinsip sederhana itu, karya kita akan menjadi sesuatu yang lain dan personal, sekaligus memberikan ciri dalam karya kita. Ingatlah masa-masa itu dan bahasakan dengan kekinian,” tandas Tan Lioe mengakhiri perbincangan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Pentas Intim Maestro Kentrung Pati Mbah Djaswadi: Fase Rawat Pekan Kebudayaan Nasional
Bali Jani Nugraha 2022 | Tan Lioe Ie Pada Pusaran Puisi dan Musik
Tags: Bali Puisi Musikmusikmusikalisasi puisiPuisipuisi musikTan Lioe IeUbudUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyemai Harmoni Gambelan Tradisi di Jantung Budaya Bali: Pembinaan dan Pementasan Iringan Batel Wayang Wong di Banjar Pesalakan, Gianyar

Next Post

Bincang Buku Karya Siswa Toska : Menulis Untuk Keabadian    

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails
Next Post
Bincang Buku Karya Siswa Toska : Menulis Untuk Keabadian    

Bincang Buku Karya Siswa Toska : Menulis Untuk Keabadian    

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co