24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Jani Nugraha 2022 | Tan Lioe Ie Pada Pusaran Puisi dan Musik

tatkala by tatkala
October 31, 2022
in Persona
Bali Jani Nugraha 2022 | Tan Lioe Ie Pada Pusaran Puisi dan Musik

Tan Lioe Ie, dokumentasi sinofest 2.0, prodi sastra Cina, FIB, UI. | Foto Ai/diambil dari facebook Tan Lioe Ie

Tan Lioe Ie pada mulanya adalah pemusik. Ia menjadi gitaris pertama pada grup band sekolah saat ia menempuh pendidikan di SLUA1 Saraswati Denpasar. Sempat juga ia menjadi gitaris Group Band Ariesta, Denpasar. Saat kuliah di jurusan arsitektur di Universitas Jakarta, ia masuk band Goudeamus.

Namun kini ia dikenal sebagai penyair. Puisi-puisinya dimuat di sejumlah media dan diterbitkan dalam buku antologi tunggal dan antologi bersama, dan puisi-puisi itu dibicarakan di mana-mana, bukan hanya di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri.

Tampaknya musik dan puisi adalah bagian dari hidupnya yang tak bisa diceraikan. Maka, saat ini ia dikenal sebagai penekun puisi-musik, atau istilahnya bisa disebut musikalisasi puisi. Ia menggubah puisi-puisi untuk bisa dinyanyikan dengan iringan alat musik, semacam gitar dan alat musik lain.

Bagaimana ceritanya Tan Lioe Ie bergerak dari musik, lalu puisi, lalu puisi musik?

“Saya sebenarnya mulai menulis puisi bukan sejak kecil,” kata Tam Lioe Ie memulai ceritanya.

Tan Lioe Ie biasa dipanggil Yoki oleh teman-temannya. Ia lahir di Denpasar, Bali, 1 Juni 1958, Keluarganya sebagian besar menjadi pengusaha, dan ia sendiri melenggang sangat serius berada pada pusaran dunia seni, dunia sastra dan dunia musik.

Sarah seninya mengalir dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang guru, pemain biola dan dan pemain piano. Ayahnya juga atlit basket, badminton, dan voli. Adik-adik perempuannya jadi pengusaha, karena “ikut” suaminya. Adik laki-lakinya, biasa dipanggil Yung, mulanya diajak omnya, Amir Syamsuddin, mengelola tambak, lalu kerja di kelompok usaha ipar, belakangan menggeluti usaha pie susu.

Tan Lioe Ie mulai menulis puisi pada usia 31 tahun ketika ia bertemu dengan sejumlah penyair dari Sanggar Minum Kopi (SMK). Saat itu, tahun 1989, SMK menggelar lomba baca puisi, dan ia diminta menjadi juri pembanding dari bidang lain.

“Pada akhir tahun itu juga, saya mulai menulis puisi,” kata Tan Lioe ie.

Puisi memang mempesona kemduian di mata Tan Lioe Ie. Semakin hari ia semakin akrab dengan puisi, yang mendorongnya menulis puisi.

Tan Lioe Ie saat beraksi dalam pentas puisi-musik | Foto diambil dari laman facebook Tan Lioe Ie

Pada periode awalnya dia dibimbing Penyair Frans Nadjira, dengan metode yang disebut Frans sebagai “Sparing Partner”, metode yang juga diterapkan di SMK dan dibawa ke Jogja oleh Raudal Tanjung Banua dalam Komunitas Rumah Lebah yang didirikannya.

Puisi-puisinya dimuat, dalam lebih dari 30 antologi bersama, juga di berbagai media dalam dan luar negeri, seperti Bali Post, Berita Buana, Kompas, Suara Merdeka, Media Indonesia, Horison, Jurnal CAK serta di majalah dwi bahasa (Indonesia Inggris, yang dirintis Heather Curnow dan Nurhidayat Poso) Coast Line, lalu Paradox yang dirintis Heather Curnow, di Lebanian, Perancis, Orientirungen Jerman.

Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Bulgaria, Mandarin, Belanda, Jerman, Perancis. Tan Lioe Ie pernah diundang ke berbagai acara sastra di berbagai daerah di Indonesia dan ke luar negeri, seperti Tasmania, Suriname, Afirka Selatan, Belanda, Perancis, Jerman, dan Belgia.

Buku Puisi tunggal pertamanya, “Kita Bersaudara”, versi Inggrisnya “We Are All One”, terjemahan Dr Thomas Hunter. Buku puisi kedua yaitu “Malam Cahaya Lampion” yang diterbitkan Bentang Pustaka, Yogyakarta, 2005, dengan versi Belanda “Nacht Van De Lampionnen” diterbitkan Uitgeverij Conserve, The Netherlands, 2008, terjemahan Linde Voute.

Buku tunggalnya yang ketiga adalah “Ciam Si, Puisi-puisi Ramalan” yang diterbitkan Buku Arti, 2015, dan versi Perancis berjudul Poemes divinatoires terbitan Pustaka Ekspresi, Bali, 2017 yang terjemahan Elizabeth  D Inandiak.

Dengan buku Ciam Si, ia bahkan disebut-sebut sebagai penyair pertama Indonesia yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa dalam puisi bahasa Indonesia. Itu menurut Sutardji Calzoum Bachri dalam sebuah wawancara di harian Kompas. Meski kental dengan nuansa etnik, puisi-puisinya tetap mempunyai daya pikat untuk berbagai kalangan.

Selain media-media umum dan buku antologi tunggal, puisi Tan Lioe Ie juga dimuat dalam antologi bersama di Bali The Morning After, Antologi Menagierie 4, Perjalanan, Mimbar Penyair Abad 21, Bonsai’s Morning, “Living Together”, Tafsir dalam permainan, Utan Kayu International Literary Biennale, dan banyak lagi yang lainnya.

Puisi Tan Lioe Ie juga pernah dibacakan dalam program Poetica radio ABC, Australia. Menurut Mike Ladd dari radio ABC, saat itu Tan Lioe Ie adalah orang ketiga setelah Rendra dan Goenawan Mohammad dari Indonesia yang disiarkan di program Poetica Radio ABC.

Buku Malam Cahaya Lampion masuk ke dalam “long list” Katulistiwa Literary Award, buku Ciam Si masuk 10 besar dalam penghargaan buku Hari Puisi. Sementara puisinya Tangis Musim Semi Azerbaijan memenangkan Lomba Cipta Puisi Nasional, Sanggar Minum Kopi, dan puisi Abad yang Luka memenangkan Taraju Award, dalam lomba nasional yang diadakan Yayasan Taraju, Sumatera Barat.

[][][]

Tentang gubahan puisi-musik, Tan Lioe Ie awalnya menggubah puisi-puisi Umbu Landu Paranggi. Ia awalnya biasa tampil sendiri dengan hanya menggunakan gitar akustik. Pengalamannya belajar gitar klasik dari Sodiq dan Arthur Sahelangi, memberi sentuhan yang berbeda pada permainan gitarnya.

Tan Lioe Ie awalnya menggubah puisi Umbu Landu Paranggi ke musik sebagai apresiasi atas kesetiaan Umbu terhadap Puisi.

Gubahannya  sempat direkam TVRI Denpasar dalam rangka membuat feature tentang Umbu Landu Paranggi. Saat direkam, ia tak tampil sendirian, melainkan ditemani pemain musik lain dan penyanyi sebagai backing vocal.

“Saat itu, saya berada di Singaraja, dan berkat jasa Pak Sunaryono Basuki Ks, saya dikenalkan dengan seorang giraris pria dan dua backing vokal perempuan, ditambah Alit Jatendra asal Denpasar, pada biola,” ceritanya.

Menurut Tan Lioe Ie, puisi-musik bisa menjadi cara lain untuk mencapai segmen penikmat selain penikmat puisi yang “konvensional”.  Dan terbukti berbagai kalangan serta lintas usia dari anak-anak hingga dewasa, bisa menikmati puisi yang dihadirkan dalam bentuk puisi-musik.

Tan Lioe Ie dengan gaya panggungnya yang khas, baik dalam membaca puisi maupun dalam memainkan puisi-musik | Foto diambil dari facebook laman Tan Lioe Ie

Cara Tan Lioe Ie membawakan puisi tidak hanya diapresiasi di dalam negeri, juga di luar negeri. Pada saat ia berada dalam acara Tasmnia Writers’ & Readers’ Festival, oleh Direktur Tasmania Writers Center, sesi tampilnya ditambahkan dengan persetujuan Tan Lioe Ie.

Saat tampil juga pernah terjadi permintaan tambahan dari penonton, sehingga MC – nya mengatakan: “The first on call in the festival” atau “permintaan tambahan pertama dalam festival”.

Selain diundang sebagai peserta festival, Tan Lioe Ie juga sempat memenangkan tiket untuk menjadi “Writer in Residence” bersama Novelis Perancis Merrie Gaullis dan beberapa penulis Australia. Menurut Heather Curnow saat itu, mungkin Tan yang pertama dari Asia yang menjadi Writer in Residence di Tasmania. Sebagai Writer in Residence, ada sesi Tan Lioe Ie memberikan workshop menulis puisi di Tasmania.

Tan Lioe Ie juga pernah terlibat dalam pembuatan “buku dengar” atas cerpen-cerpen Belanda yang disiarkan radio Belanda seksi Indonesia. Selain menulis karya asli, Tan Lioe Ie juga melakukan terjemahan ke bahasa Indonesia atas puisi penyair dari beberapa negara, dari versi Inggris-nya.

[][][]

Tan Lioe Ie tak berasal dari Fakultas Sastra. Setelah lulus pendidikan SD hingga SMA di Kota Denpasar, ia pernah kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Jakarta, namun tidak tamat. Ia kemudian kuliah hingga tamat di Fakultas Ekonomi jurusan Managemen, Universitas Udayana, Bali. Yang menarik, di Fakultas Ekonomi ia justru terkenal sebagai pemain basket.

Tan Lioe Ie bersama teman-temannya di Sanggar Minum Kopi yang dilanjutkan Yayasan CAK, sempat menerbitkan jurnal CAK, di mana dia juga menjadi salah seorang editornya. Keistimewaan jurnal CAK, kata Tan Lioe Ie,  adalah, pada setiap edisi menghadirkan local genius, antara lain I Gusti Nyoman Lempad, Geruh, hingga yang muda Wayan Gde Yudane.

“Ini memberi warna bagi Indonesia yang kerap mengabaikan “tokoh daerah” dalam liputan di masa itu,” kata Tan Lioe Ie.

Tan Lioe Ie juga pernah menjadi editor tamu dan editor majalah dwi bahasa Coast Line dan Paradox, Kurator UWRF dan Toya Bungkah Literary Festival. Ia juga pernah diwawancarai dan direkam baca puisinya oleh Radio ABC, Australia bekerjasama dengan radio BBC London untuk disiarkan di negara-negara berbahasa Inggris di luar kedua negara asal radio tersebut.

Saat di Suriname, Tan Lioe Ie juga diwawancarai radio setempat dan menyanyikan puisi Umbu Landu Paranggi yang digubahnya menjadi puisi-musik, sambil bermain gitar.

Tan Lioe Ie dan kawan-kawannya juga melahirkan album puisi-musik, yaitu album puisi-musik Kuda Putih versi kustik yang terdiri dari 8 puisi karya Umbu Landu Paranggi dan 2 puisi karya Tan Lioe Ie.

Puisi-musik hasil gubahannya itu biasa dibawakan Tan Lioe Ie baik secara tunggal atau bersama kawan-kawannya dalam acara sastra serta acara-acara lainnya. Album puisi-musik kedua, yaitu EXORCISM yang khusus menggubah puisi-puisi Tan Lioe Ie yang dibawakan bersama kawan-kawannya dalam band Bali Puisi-Musik.

Sedangkan album puisi-musik Kuda Putih Remastered terdiri dari 3 puisi Umbu Landu Paranggi dan 3 puisi Tan Lioe Ie dibawakan juga oleh Bali PuisiMusik.

Bersama kawan-kawan kelompok akustiknya (personalnya bisa berubah jumlah dan orangnya saat “Live”), Tan Lioe Ie pernah pentas di Yogyakarta, Cirebon, Tasikmalaya (dalam rangka peluncuran album Kuda Putih versi akustik), dan di Badan Bahasa (Dulu Pusat Bahasa) Jakarta.

Bersama band Bali PuisiMusik, juga pernah pentas di Jakarta Convention Center, Panggung Kedai Lalang, Jakarta, Festival Seni Surabaya, Pekan Seni dan Budaya Aceh, Temu Sastrawan Indonesia (TSI) di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, TSI di Ternate, dan Maluku Utara.

Tan Lioe Ie ternasuk satu dari sekian seniman Indonesia yang cukup banyak diliput media luar negeri. Bahkan sebuah tulisan di Media Suriname tentangnya, berjudul De Leeuw Van Bali (Singa dari Bali), “julukan” yang membawa nama Bali ini juga disertakan pada cover buku Malam Cahaya Lampion versi Belanda Nach Van De Lampionnen. Tentu saja, pengantarnya atas permintaan penerbitnya serta disetujui Tan Lioe Ie.

Tulisan itu dibuat oleh Cynthia Mc Leod, Sastrawan asal Suriname, putri presiden pertama Suriname. Selain pernah jumpa langsung dengan Tan Lioe Ie di Suriname, ia juga ikut dalam program penulisan cerita yang melibatkan penulis Afrika Selatan, Belanda, Curacao. Tulisan ini dimuat bersambung.

Untuk segala pencapaiannya itulah Tan Lioe Ie diberikan penghargaan Bali Jani Nugraha di bidang sastra, sebagai penyair, oleh Pemerintah Provinsi Bali serangkaian dengan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV, Tahun 2022. [T][Ole/*]

Bali Jani Nugraha 2022 | Mas Ruscitadewi Dalam Dunia Cerita Anak-anak
Bali Jani Nugraha 2022 | Prof. I Nyoman Darma Putra, Juru Kunci Sastra Indonesia di Bali
Bali Jani Nugraha 2022 | Dhenok Kristianti dan Hembusan Napas Bali dalam Puisi-puisinya
Bali Puisi Musik: Yang Kecil di Bumi Dibesarkan di Langit
Tags: Bali Jani NugrahaFestival Seni Bali JaniFestival Seni Bali Jani 2022musik puisimusikalisasi puisiPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bukan Hanya Hindu (di) Bali: Hindu (di) India Lebih Awal Terbelah Gerakan Sai Baba & Hare Krishna

Next Post

Awata Festival, Membangkitkan Gairah Seni ala Sanggar Seni Suara Mustika

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Awata Festival, Membangkitkan Gairah Seni ala Sanggar Seni Suara Mustika

Awata Festival, Membangkitkan Gairah Seni ala Sanggar Seni Suara Mustika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co