25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masima Krama Toska: Membangun Kebersamaan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 2, 2024
in Esai
Masima Krama Toska: Membangun Kebersamaan

Siswa-siswi SMAN 2 Kuta Selatan sedang makan bersama | Foto: Dok. Penulis

SEJAK menempati gedung baru,SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska: Two South Kuta) pada Januari 2020 telah memiliki Program Makan Siang Bersama. Program itu berlangsung selama 2,5 bulan sebelum Pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, yang berakibat pada pembelajaran daring selama hampir 3 tahun. Sebelum menempati gedung baru, SMA Negeri 2 Kuta Selatan meminjam ruang belajar selama 6 bulan di SMA Negeri 1 Kuta Selatan.

Ide saya menginisiasi Program Makan Siang Bersama kala itu adalah untuk membangun kebersamaan. Apa yang saya gagas lima tahun silam, ternyata kini menjadi Program Nasional. Makan Siang Bersama di SMA Negeri 2 Kuta Selatan, kini memasuki babak baru dengan nama Program Masima Krama Toska (Makan Siang Bersama Keluarga Besar SMA Negeri 2 Kuta Selatan).

Program Masima Krama Toska kental dengan kearifan lokal Bali tanpa bermaksud untuk berpikir sempit kedaerahan. Namun, sebaliknya, memperkenalkan kearifan lokal Bali untuk menasional bahkan semakin mengglobal. Secara semantik, masima krama berarti melakukan silaturahmi.

Dalam konteks politik kekinian, seorang politikus masima krama untuk mendapatkan dukungan, biasanya dengan umpan yang menjanjikan walaupun terkesan provokatif bin instan. Ulah aluh, ulah elah.  Singkatnya pragmatis gelis.

Namun, tidak demikian halnya Program Masima Krama Toska di SMA Negeri 2 Kuta Selatan. Pertama, Program Masima Krama untuk menyukseskan program pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dengan program makan siang bergizi. Sekolah di bawah naungan Kemendikdasmen wajib hukumnya menyukseskan program ini dalam rangka mendidik dan membangun kebiasaan positif di kalangan generasi muda. Ini adalah bagian dari bakti kepada guru wisesa.

Kedua, Program Masima Krama bertujuan mewujudkan sinergi Program Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) dan Gerakan Sekolah Sehat (GSS) yang getol dikampanyekan ke sekolah-sekolah.

Di Bali, Program PJAS diinisiasi oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) diniatkan untuk memastikan makanan yang dijual di kantin sekolah aman dan bergizi tidak mengandung bahan berbahaya, misalnya borax.

Sementara itu, GSS diinisiasi oleh Direktorat SMA sebagai gerakan bersama diniatkan untuk melaksanakan kampanye Program 5 Sehat: Sehat bergizi, sehat fisik, sehat imunisasi, sehat jiwa, dan sehat lingkungan.

Ketiga, mewujudkan kebersamaan dan kesetaraan dalam pilihan menu makanan. Menu tidak mesti mahal asalkan diperlukan oleh tubuh untuk menjaga imun meningkatkan iman. Dengan demikian, belajar menjadi tenang untuk meraih prestasi sesuai dengan semangat Merdeka Belajar.

Keempat, mendidik para siswa agar tertib waktu untuk makan mulai dari sarapan, makan siang, dan makan malam. Selama ini, ditengarai banyak siswa yang tidak sarapan sebelum pergi ke sekolah. Alasannya, bermacam-macam: tidak terbiasa, tidak sempat, belum siap makanan di rumah. Dengan adanya Program Masima Krama di Toska, semua alasan itu terjawab.

Kelima, Masima Krama mencakup sarapan pagi (breakfast) dan makan siang (lunch) karena secara umum waktu dari pagi hingga sore disebut siang dan sisanya disebut malam. Ini sesuai dengan hukum Rotasi Bumi yang menyebabkan adanya siang dan malam. Hukum Rwabineda dalam konteks ini terang gelap yang sama temponya.

Dalam konteks Bali, dalam Program Masima Krama Toska terdapat nilai-nilai yang patut dikembangkan dan dilembagakan sebagai habitus. Mulai dari cara memperoleh makanan yang disarankan menurut Pustaka Hindu, adalah makanan yang satwika, yaitu makanan yang diperoleh dengan cara yang baik dan benar.

Makanan yang baik adalah makanan bergizi yang diperlukan tubuh dan tidak mesti mahal. Makanan yang benar adalah makanan yang diperoleh dengan semangat karma yoga (hasil kerja sebagai sarin pagaen, sarin pakaryan, sari kerja, kerja masari).

Dengan demikian, bukan saja makanan itu masuk ke mulut, melainkan juga mengalirkan vibrasi positif ke seluruh bagian tubuh melalui darah. Aliran darah ke seluruh organ tubuh berasal dari saripati makanan yang kita konsumsi yang memengaruhi vibrasi buana alit dan pancarannya terbaca ke luar.

Selain itu, perlu pula diperhatikan etika dengan belajar makan. Tetua sering menasihati untuk “malajah madaar”. Jangan sampai disindir dengan “madaar dogen sing bisa, apa buin magae”, kepada orang makan dan minum berlebihan sampai mabuk, tetapi kerjanya malas.

Etika lain yang perlu diperhatikan dalam Program Masima Krama dan makan pada umumnya dapat dibaca dalam Gaguritan Pati Jlamit (Pupuh Sinom) karya Ida Ketut Sudiasa (Ida Pedanda Gede Ketut Sidemen) dari Gria Kelodan Taman Sari Sanur. Dalam geguritan itu, terdapat etika makan dari mulai, makan, sampai selesai makan.  

Etika mulai makan diawali dengan berdoa yang dalam tradisi Bali dimulai dengan  mengaturkan banten saiban. “…rikala madahar, pang masari amretane, negak masila apang luhung, ada sesapan abedik, Ong maha mrta sapala nama swaha…” (Ketika makan agar bertuah, duduklah bersila dengan baik, ucapkan mantra “Ong maha mrta sapala nama swaha…”).

Kalau tidak didoakan makanan yang kita makan, kita disebut maling. “…yening tusing buka keto, awake kaucap maling” (kalau tidak didoakan, kita dicap maling).

Selanjutnya, posisi saat makan juga perlu diperhatikan. Secara implisit terbaca, saat makan yang utama menghadap ke utara atau ke timur. Ini sesuai dengan kiblat sembahyang umat Hindu pada umumnya. Makan pada hakikatnya adalah memuja dan berterima kasih kepada Dewa Amrtha.

Di dalam Gaguritan Patijlamit juga disebutkan beberapa istilah: makan sambil berdiri disebut nyeret—“…de pesan majalan, jele ento kahadanin, madan nyeret ane keto”. Makan sambil jongkok disebut ngaloglong. Bila makan berdiri disebut nglaler.

Selain itu, disebutkan pula kiblat saat makan. Bila menghadap selatan nidik disebut. Bila menghadap ke barat disebut mamantet. Bila makan mengambil dengan mulut disebut mlokpok, bila makan sambil tidur disebut ngamah. Nasihat tentang makan dalam geguritan ini juga disebut sebagai ritual dengan ungkapan “anggo ngupakara idup”.

Begitu pula selesai makan pun ada etikanya.“Suba suud madaar nasi, buin ingetang, da masehin lima di piringe lad  anggon cening, plih yani buka keto, nundung amrta kahadaning, yan suba suwud madahar, limane sasadang malu, di tlapakan batise dadua. Ento memah, lautang mabaseh jani, to pangancingan amrtha”.

Artinya, setelah selesai makan nasi, harap diingat, jangan mencuci tangan di piring yang dipakai makan, salah kalau itu dilakukan, menolak amrtha disebut, jika sudah selesai makan, tangan dikeringkan di kedua telapak kaki. Setelah itu barulah mencuci tangan di air mengalir, itulah pengunci amrtha.

Dalam konteks Program Masima Krama Toska, etika dalam makanjuga perlu ditanamkan. Sebab makanan yang mengalir ke dalam tubuh akan menjadi sari pikiran (manacika) yang menjadi dasar wacana dalam perkataan (wacika) dan selanjutnya menjadi dasar berbuat (kayika). Ketiganya itu disebut Trikaya Parisudha, sebagai landasan etika paling mendasar dalam ajaran Hindhu.

Selain mengembangkan etika, Program Masima Krama Toska adalah ajang membangun kebersamaan dan saling menyemangati. Nilai sebuah kebersamaan itu sangatlah mahal dalam komunitas belajar di sekolah.[T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Canang Sari : Budaya Positif Dari Toska     
Bincang Buku Karya Siswa Toska : Menulis Untuk Keabadian    
Maju Bersama Indonesia Raya | Catatan Bulan Bahasa di SMAN 2 Kuta Selatan
Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Tags: Masima Krama ToskaPendidikanProgram makan siang gratisSMAN 2 Kuta Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi 2 November: Mencari Makna di Balik Perubahan Teknologi

Next Post

Melihat Fatris dari Pinggir

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Fatris dari Pinggir

Melihat Fatris dari Pinggir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co