23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ni Ketut Cita, Alam Memberkatinya Sebagai Pelari dan Hidup Memberinya Medali Emas

Son Lomri by Son Lomri
October 6, 2024
in Persona
Ni Ketut Cita, Alam Memberkatinya Sebagai Pelari dan Hidup Memberinya Medali Emas

Ni Ketut Cita | Foto: tatkala.co/Son

SEKITAR tahun 2007, Ni Ketut Cita masih kecil. Ia diguncang kebingungan yang hebat, karena setahun lagi ia akan tamat sekolah SD, dan kedua orang tuanya angkat tangan sebab keuangan keluarga—tak mencukupinya agar dirinya juga bisa tamat di SMP.

Hidup benar-benar meliuk, menanjak—di depannya. Ia tak berhenti di tanjakan pertama sebagaimana rumahnya di atas bukit, di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Tapi setahun lagi hidup membuka tabir rahasianya sendiri yang lebih dalam dan menukik barangkali. Tapi sebelum itu akan tiba, ia menjemputnya lebih dulu dengan menjadi buruh kecil yang aktif.

Dari mulai menjadi buruh pengangkut jagung, dan buruh-buruh lainnya yang ia anggap mampu ia kerjakan kala panen raya atau tidak sedang panen raya. Uang ia terima setelah bekerja, dan kerja keras membawanya sebagai penabung yang baik agar bisa melanjutkan sekolah.

 “Setelah tamat itu, ternyata (uang hasil kerja) itutak terpakai. Saya disuruh saja masuk SMP oleh guru di sana secara gratis, tanpa bayar, hanya karena saya pernah kerja (menjadi buruh) di tempat pak gurunya itu. Ia merasa kasian kepada saya,” cerita Ni Ketut Cita.

Siapa Ni Ketut Cita sehingga kisah hidupnya layak untuk kita dengar dan kita baca?

Ni Ketut Cita—atau mari kita panggil ia dengan nama Cita—adalah peraih medali emas pada ajang Pekan Olah Raga (PON) tahun 2024 di Sumatra Utara-Aceh. Medali emas itu ia raih bukan secara kebetulan. Ia melewati proses cukup panjang.

Saya menemuinya di Kedai kopi Dekakiang, 27/September 2024. Dan ia bercerita panjang tentang masa kecilnya hingga ia menjadi atlet dan meraih medali emas di PON.

Ni Ketut Cita saat ngobrol di Kedai Dekakiang Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Cita adalah atlet atletik dibawah naungan KONI Buleleng. Pada PON 2024 di Sumut-Aceh, Cita menyabet medali emas, dan mengingat masa kecilnya, dimana hidup menempanya—melatihnya sebelum menjadi sang juara sekarang.

Mengingat itu semua, ia menepati “kaul” dengan berjalan dari Bedugul-Singaraja sepulang dari PON di Sumatra Utara, sebagaimana jalan itu, katanya, adalah saksi bisu dirinya sampai di posisi kemenangan ini. Dan kaul adalah caranya merayakan dengan suka cita.

Cita adalah representasi perempuan yang tangguh. Berangkat dari latar belakang orang tua yang tidak mampu secara ekonomi, tak ada kemalasan yang hinggap sejengkal pun di kepadanya.

“Orang tua saya buruh tani. Dan bahkan, saya juga ikut menemai orang tua saya bekerja. Dari SD, saya ikut. Bahkan ketika pulang sekolah, ketika teman-teman sudah di jalan, saya sudah balik—membawa cangkul. Mau ikut kerja kaya begitu. Jadi karena latar belakang yang susah banget dulu,” kata Cita dengan wajah melankolis mengingat masa kecilnya.

“Rumah saya, barangkali bisa dikatakan kubuk. Atap rumahnya tuh terpal, lho. Bahkan 2014 masih kaya begitu. Gak ada listrik. Terus dindingnya itu papan, lantainya tanah. Terus itu tanah orang lagi,jadi kita tinggal di tanah orang (di Pancasari),” katanya memberi jeda.

“Makanya, kenapa jalan di situ (memenuhi kaul) itu sebenarnya, karena sejarahnya di sana gtiu. Sedih banget,” lanjutnya.

Alam Memberkatinya sebagai Pelari, dan Hidup Memberinya Bonus 15 juta dan lain-lain

Selain seorang pejuang, penakluk hidup, Cita juga ternyata seorang pengingat yang baik soal jasa—siapa saja yang menolongnya di fase susah. Dan tentu, ini adalah kelebihan dari sesosok Cita selain terampil berlari sangat cepat dengan jarak beratus-ratus meter. ”Guru SMP!” sebut Cita, mengingat sesosok itu.

“Dulu guru SMP memperhatikan saya. Kalau seandainya guru itu gak terlalu peduli, ungkin nggak sampai di titik ini saya sebagai pelari,” katanya.

Di waktu sekolah SMP, Cita—diarahkan oleh guru SMP untuk ikut lomba atletik, bagian lari—karena ia dipandang sangat terampil, gesit dan ulet juga sebagai seorang siswi. Ia dinilai memiliki semangat yang tinggi di bidang olahraga di antara teman-temannya yang lain.

Ini bukan tanpa sebab, naik turun bukit—membentuknya mejadi pelari yang cepat. Setiap hari, demi mendapatkan uang saku dan uang tambahan untuk keluarga, ia mesti membantu tetangga. Menggarap ladang, membawa pupuk, mengambil air dan apa saja. Ia selalu mengiyakan permintaan dari orang-orang yang membutuhkan jasanya.

Ni Ketut Cita bersama atlet lain dalam acara pemberian bonus oleh Pemkab Buleleng | Foto: tatkala.co/Son

Sepulang sekolah sekitar pukul 01.00 wita kala itu, ia tidak langsung pulang. Cita justru bekerja terlebih dahulu, atau mengambil air minum ke tengah hutan. Setelah menyelesaikan tugasnya itu, barulah ia pulang. Ia akan sampai di rumahnya sekitar pukul 15.00 wita.

“Berangkat sekolah pagi-pagi bawa jirigen. Nanti jirigennya disangkutkan dulu di pagar tegalan. Pulangnya baru diambil, langsung cari air. Itu untuk air minum,” cerita Cita.

Cita melakukan itu dengan senang. Setiap hari, bertahun-tahun, hingga terbiasa. Suatu hari, Guru olahraganya meminta Cita berkeliling sebanyak 2 kali putaran dengan waktu beberapa menit. Cita menurut. Ia melakukannya dengan baik. Tiba-tiba didaftarkan untuk ikut lomba lari.

Tapi, walaupun—secara tiba-tiba itu, putri terbaik dari I Ketut Sumatera dan Ni Wayan Widiasih langsung menang. Sejak saat itulah Cita dilatih dengan serius oleh sang guru. Dan juga berkat kesehariannya yang keluar masuk hutan, naik turun bukit—menambah Cita memiliki kekuatan kaki yang, selain kuat juga gesit. Tentu, secara tidak langsung ia telah dilatih oleh alam sebelum akhirnya bertemu dengan pelatih professional sekarang.

Kini Ni Ketut Cita, yang lahir 31 Desember 1991 itu telah menjadi atlet atletik, spesialis pelari jarak 800 meter setelah menyabet kejuaraan di PON 2024 mewakili Bali. Dari sabetan Medali Emas, ia mendapat 15 Juta dari Pemerintah Buleleng, dan tentu, belum lagi yang di Provinsi. Asik.

Selamat Ka Cita. Lari, terbang—merdeka! Jangan lupa klaim bonusnya dan tetaplah bersahaja. Saya siap masuk kedaftar Cita Lovers dan mengacungkan jempol sepanjang Kak Cita lari. Hehe.. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Meisya Tiarani, Siswa SMAN 1 Singaraja, Juara Pencak Silat Porjar Bali 2024: Hasil Perjuangan Bertahap  
Di Selasar Pensiun Rezza Kancil, Pembalap Road Race Legendaris Asal Buleleng
Barraq Lanang Budiman, Pemanah Cilik dengan Segudang Prestasi
Lovely Shira Aurelia, Gadis Penembak dari Kampung Kajanan
Kadek Adi Asih, “Kartini Desa” yang Menaklukkan Tebing dengan Bonus 121 Juta
Tags: atletikbulelengKONI Bulelengolahragaolahraga atletik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Shopping Puisi di Malioboro 

Next Post

Setelah 76 Tahun, Cabor Tenis Meja Bali Akhirnya Meraih Emas di PON 2024

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Setelah 76 Tahun, Cabor Tenis Meja Bali Akhirnya Meraih Emas di PON 2024

Setelah 76 Tahun, Cabor Tenis Meja Bali Akhirnya Meraih Emas di PON 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co