23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kedai Bambu Eng, Tempat Makan dan Nongkrong Murah Meriah Sekitar Kampus Tengah Undiksha: Gorengan 500 Rupiah, Kopi 2.000 Rupiah

Hizkia Adi Wicaksnono by Hizkia Adi Wicaksnono
July 17, 2024
in Khas
Kedai Bambu Eng, Tempat Makan dan Nongkrong Murah Meriah Sekitar Kampus Tengah Undiksha: Gorengan 500 Rupiah, Kopi 2.000 Rupiah

Kedai Bambu Eng | Foto: Sonhaji

MODAL Rp.5000 sudah bisa nongkrong sambil ngopi dan makan gorengan nikmat di Singaraja. “Ah, memangnya ada tempat nongkrong semurah itu?” Pertanyaan itu yang muncul di kepala saya ketika Sonhaji, teman saya, memberitahu bahwa di Singaraja ada warung yang menjual segelas kopi dengan harga 2000 rupiah dan gorengan dengan harga 500 perak.

“Serius? Lima ratus rupiah sudah dapat gorengan, Son?” tanya saya masih tak percaya.

“Iya, Bang. Ayo ke sana kalau gak percaya!” sahut Sonhaji meyakinkan saya.

“Wah, cocok itu Son. Pagi-pagi begini, enaknya ngopi sambil ngudud dan makan gorengan hangat.”

Pagi itu kami meluncur dari Jl. Pantai Indah Singaraja menuju warung murah meriah di Jl. Bisma—warung yang Sonhaji maksud—dengan mengendarai El Cobra, motor bebek tua kendaraan dinas kebanggaan anak-anak tatkala.co.

Tak lama kami pun tiba di Jl. Bisma Barat Nomor 10 Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, warung tujuan kami. Saat itu tepat pukul 10.00 WITA. Warung itu terletak persis di ujung tikungan Jl. Bisma Barat, di depannya terdapat papan nama bertuliskan “Kedai Bambu Eng”.

Bangunan itu berlantai acian semen dengan dinding dari kombinasi susunan batako dan batang bambu. Luas bangunan kedai kurang lebih 4×5 meter persegi. Sederhana sekali, namun cukup mudah untuk dikenali.

Kami turun dari motor. Dan saat melepas helm, hidung saya dibelai oleh aroma sedap adonan gorengan yang bersentuhan dengan minyak panas. Kami masuk ke dalam kedai. Sementara Sonhaji duduk di kursi bundar bersandar di pojokan kedai, saya menghampiri pemilik warung (sang penjual). Namanya Ketut Miardi. Saat itu ia sedang menggoreng perkedel sayur di dapur kedai yang hanya dipisahkan etalase stainlees.

Bermaksud memesan 2 gelas kopi dan beberapa gorengan, melihat Ketut Miardi sedang sibuk menggoreng saya bertanya, “Gorengannya sudah ada yang matang, Bu?”

“Belum, Dik,” jawab Bu Ketut.

“Kalau begitu saya pesan kopi 2 sambil nunggu gorengannya Bu.”

Sembari menunggu kopi pesanan kami, saya menyalakan sebantang rokok sambil melihat-lihat sekeliling kedai itu. Saya terperangah melihat papan menu yang menempel di dinding bambu tepat di atas kepala Sonhaji. Dalam hati saya terheran. “Gokil nih warung.” Bayangkan saja, makanan paling mahal di sini dijual seharga Rp.10.000, dan minuman paling mahal dijual seharga Rp.4000.

Menu Kedai Bambu Eng | Foto: Sonhaji

Masih dalam keadaan mangap, terperangah dengan menu kedai yang extremely cheap itu, Bu Ketut menghampiri kami dengan membawa nampan plastik persegi panjang, dua gelas kopi hitam panas di atasnya.

“Ini Dik, kopinya.”

“Terima kasih, Bu. Sudah lama buka kedai ini, Bu?” sekadar basa-basi saya bertanya.

“Wah, sudah dari sebelum Covid saya buka, Dik, 2018-an. Tapi pas Covid sempat tutup, soalnya sepi,” jawabnya ramah.

Tanpa berharap banyak, mengingat harganya yang sangat murah meriah, notok njedug (istilah yang acap kali saya gunakan di kampung halaman saya, Mojokerto, Jawa Timur; untuk mengibaratkan hal-hal yang sudah mentok untuk dipikirkan), kopi dua ribuan itu saya sruput bergantian dengan mengisap sebatang rokok. Benar saja, rasanya tak jauh beda dengan kopi pinggir jalan yang sering saya jumpai di jalanan Kota Singaraja.

Kendati demikian, menurut saya, ini lebih baik daripada kopi instan kemasan sachet. Harganya pun cukup bersaing kalau dibandingkan dengan kopi pinggir jalan yang rata-rata dijual dengan harga Rp.3000 sampai Rp.4000-an. Justru ini hampir setengah harga lebih murah dari kopi pinggir jalan namun dengan rasa yang sama.

Sedang enak-enaknya saya menyeruput kopi dan mengisap rokok sambil scrolling YouTube, tiba-tiba Sonhaji menawarkan sesuatu yang tak pernah saya pikirkan. “Gak mau nyambung Wi-Fi,Bang?”

“Memangnya ada Wi-Fi di sini, Son?” tanya saya seakan tidak percaya kedai kecil ini punya koneksi Wi-Fi.

“Ada, Bang. Ini password-nya kalau mau nyambung,” ujar Sonhaji serius.

Saya hubungkan jaringan ponsel saya ke Wi-Fi kedai itu. Vidio YouTube dengan resolusi tinggi (1080P) terasa lancar tanpa buffering sama sekali. Selain menyediakan fasilitas Wi-Fi, kedai murah meriah notok njedug ini juga menyediakan 2 buah kipas angin untuk pelanggan, dan televisi berukuran kurang lebih 27 inch yang terletak di dapur kedai namun masih dapat terlihat dan terdengar jelas dari kursi pelanggan.

Sembari saya menonton video YouTube dan menikmati kopi, terdengar suara Bu Ketut dari dapur. “Nih, Dik, gorengannya sudah ada yang matang.” Saya beranjak dari tempat duduk menuju etalase kedai itu dan mengambil 8 buah perkedel sayur yang baru saja diangkat dari penggorengan.

“Sebiji berapa nih, Bu?” tanya saya memastikan.

“Lima ratus,” jawab Bu Ketut Miardi entang saja.

“Widih, berarti 8 biji ini empat ribu dong, Bu. Kalau saya beli sepuluh ribu aja, bisa-bisa mabuk gorengan saya ini,” ujar saya sambil bercanda. Mendengar candaan saya, Bu Ketut tertawa singkat sembari lanjut menggoreng sisa adonan perkedel sayurnya.

Jika dibandingkan dengan gorengan pada umumnya, perkedel sayur lima ratusan ini memang berukuran lebih kecil, meski tidak kecil-kecil amat. Kira-kira ukurannya sebesar 2 bola bekel.

Penasaran dengan rasanya, saya gasak gorengan lima ratusan itu satu persatu. Saya tidak begitu memperhatikan isian sayurnya, tapi menurut saya tidak seperti perkedel sayur yang biasa saya makan yang rasanya gurih asin. Ini ada sedikit rasa manis dari biji jagung yang pecah saat dikunyah.

Perkedel sayur Kedai Bambu Eng | Foto: Son Haji

Di luaran sana, kerap saya menyantap perkedel sayur yang terasa lebih banyak tepungnya daripada sayurnya. Namun perkedel sayur lima ratusan ini, selain lebih murah, isian sayurnya juga cukup banyak untuk ukurannya yang mungil itu. Hangat, nikmat, empuk, manis, gurih, dan asin dengan harga Rp.500 itu sangat istimewa bagi saya.

Sembari menyantap perkedel sayur dan meminum kopi yang tinggal setengah gelas itu, saya bertanya kepada Bu Ketut Miardi dari pukul berapa kedai ini buka dan sampai pukul berapa kedai ditutup. Ini penting saya tanyakan, setidaknya sebagai patokan waktu jika suatu saat saya ingin berkunjung lagi.

“Kalau bukanya gak nentu, Dik. Yang jelas pagi-pagi sekali saya belanja ke pasar dulu. Nah, kalau tutupnya, paling malam itu jam 9 saya sudah tutup,” ucap Bu Ketut Miardi.

Sambil menikmati gorengan saya mendengar Ketut Miardi bercerita. Sebelum membuka kedai sederhana ini, ia mengaku pernah berjualan di kantin kampus kebidanan di Jl. Bisma Barat Nomor 25, tak jauh dari kedainya saat ini.

Namun, semenjak asrama kampus kebidanan dipindahkan, kantin tempatnya berjualan sepi pelanggan. Lalu, sekitar tahun 2018-an, ia membuka kedai yang dinamainya “Kedai Bambu Eng” ini—saya tak bertanya lebih dalam soal apa alasan di balik nama kedai tersebut.

Saat itu kedai Bu Ketut terasa sepi. Selama saya dan Sonhaji asyik ngopi sambil menyantap gorengan, saya baru menjumpai 2 pelanggan yang membeli makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang. Di situ rasa ingin tahu saya terpancing untuk mengetahui siapa saja, atau dari kalangan mana saja pelanggan Kedai Bambu Eng.

“Dulu banyak anak PGSD yang belanja di sini, Dik. Ada juga beberapa mahasiswa dari Jawa yang dulu sempat ngekos sekitar sini. Kalau sekarang sih biasanya anak-anak Medan yang sering belanja di sini,” ujar Bu Ketut sembari memasak di dapur kedainya.

Sampai di sini, sebagai mahasiswa saya merasa perlu untuk tahu tempat-tempat seperti ini. Tempat seperti ini, tempat nongkrong untuk melepas penat dengan harga menu yang bersahabat. Tempat mengobati rasa lapar dengan budget ekonomis.

Oh, sekadar informasi, Kedai Bambu Eng sudah tercatat di Google Maps. Alamatnya di Jl. Bisma Barat Nomor 10 Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng. Lokasinya cukup dekat dari kampus tengah Undiksha. Selamat berkunjung.[T]

Reporter: Hizkia Adi Wicaksono
Penulis: Hizkia Adi Wicaksono
Editor: Jaswanto

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja
Menengok Jalan Ahmad Yani Singaraja Pukul Sepuluh Malam
Tags: Kedai Bambu Engkedai kopikulinerSingarajaUndikshawarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Desa Wisata dari Bali

Next Post

Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Hizkia Adi Wicaksnono

Hizkia Adi Wicaksnono

Fotografer/Videografer tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co