2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kedai Bambu Eng, Tempat Makan dan Nongkrong Murah Meriah Sekitar Kampus Tengah Undiksha: Gorengan 500 Rupiah, Kopi 2.000 Rupiah

Hizkia Adi Wicaksnono by Hizkia Adi Wicaksnono
July 17, 2024
in Khas
Kedai Bambu Eng, Tempat Makan dan Nongkrong Murah Meriah Sekitar Kampus Tengah Undiksha: Gorengan 500 Rupiah, Kopi 2.000 Rupiah

Kedai Bambu Eng | Foto: Sonhaji

MODAL Rp.5000 sudah bisa nongkrong sambil ngopi dan makan gorengan nikmat di Singaraja. “Ah, memangnya ada tempat nongkrong semurah itu?” Pertanyaan itu yang muncul di kepala saya ketika Sonhaji, teman saya, memberitahu bahwa di Singaraja ada warung yang menjual segelas kopi dengan harga 2000 rupiah dan gorengan dengan harga 500 perak.

“Serius? Lima ratus rupiah sudah dapat gorengan, Son?” tanya saya masih tak percaya.

“Iya, Bang. Ayo ke sana kalau gak percaya!” sahut Sonhaji meyakinkan saya.

“Wah, cocok itu Son. Pagi-pagi begini, enaknya ngopi sambil ngudud dan makan gorengan hangat.”

Pagi itu kami meluncur dari Jl. Pantai Indah Singaraja menuju warung murah meriah di Jl. Bisma—warung yang Sonhaji maksud—dengan mengendarai El Cobra, motor bebek tua kendaraan dinas kebanggaan anak-anak tatkala.co.

Tak lama kami pun tiba di Jl. Bisma Barat Nomor 10 Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, warung tujuan kami. Saat itu tepat pukul 10.00 WITA. Warung itu terletak persis di ujung tikungan Jl. Bisma Barat, di depannya terdapat papan nama bertuliskan “Kedai Bambu Eng”.

Bangunan itu berlantai acian semen dengan dinding dari kombinasi susunan batako dan batang bambu. Luas bangunan kedai kurang lebih 4×5 meter persegi. Sederhana sekali, namun cukup mudah untuk dikenali.

Kami turun dari motor. Dan saat melepas helm, hidung saya dibelai oleh aroma sedap adonan gorengan yang bersentuhan dengan minyak panas. Kami masuk ke dalam kedai. Sementara Sonhaji duduk di kursi bundar bersandar di pojokan kedai, saya menghampiri pemilik warung (sang penjual). Namanya Ketut Miardi. Saat itu ia sedang menggoreng perkedel sayur di dapur kedai yang hanya dipisahkan etalase stainlees.

Bermaksud memesan 2 gelas kopi dan beberapa gorengan, melihat Ketut Miardi sedang sibuk menggoreng saya bertanya, “Gorengannya sudah ada yang matang, Bu?”

“Belum, Dik,” jawab Bu Ketut.

“Kalau begitu saya pesan kopi 2 sambil nunggu gorengannya Bu.”

Sembari menunggu kopi pesanan kami, saya menyalakan sebantang rokok sambil melihat-lihat sekeliling kedai itu. Saya terperangah melihat papan menu yang menempel di dinding bambu tepat di atas kepala Sonhaji. Dalam hati saya terheran. “Gokil nih warung.” Bayangkan saja, makanan paling mahal di sini dijual seharga Rp.10.000, dan minuman paling mahal dijual seharga Rp.4000.

Menu Kedai Bambu Eng | Foto: Sonhaji

Masih dalam keadaan mangap, terperangah dengan menu kedai yang extremely cheap itu, Bu Ketut menghampiri kami dengan membawa nampan plastik persegi panjang, dua gelas kopi hitam panas di atasnya.

“Ini Dik, kopinya.”

“Terima kasih, Bu. Sudah lama buka kedai ini, Bu?” sekadar basa-basi saya bertanya.

“Wah, sudah dari sebelum Covid saya buka, Dik, 2018-an. Tapi pas Covid sempat tutup, soalnya sepi,” jawabnya ramah.

Tanpa berharap banyak, mengingat harganya yang sangat murah meriah, notok njedug (istilah yang acap kali saya gunakan di kampung halaman saya, Mojokerto, Jawa Timur; untuk mengibaratkan hal-hal yang sudah mentok untuk dipikirkan), kopi dua ribuan itu saya sruput bergantian dengan mengisap sebatang rokok. Benar saja, rasanya tak jauh beda dengan kopi pinggir jalan yang sering saya jumpai di jalanan Kota Singaraja.

Kendati demikian, menurut saya, ini lebih baik daripada kopi instan kemasan sachet. Harganya pun cukup bersaing kalau dibandingkan dengan kopi pinggir jalan yang rata-rata dijual dengan harga Rp.3000 sampai Rp.4000-an. Justru ini hampir setengah harga lebih murah dari kopi pinggir jalan namun dengan rasa yang sama.

Sedang enak-enaknya saya menyeruput kopi dan mengisap rokok sambil scrolling YouTube, tiba-tiba Sonhaji menawarkan sesuatu yang tak pernah saya pikirkan. “Gak mau nyambung Wi-Fi,Bang?”

“Memangnya ada Wi-Fi di sini, Son?” tanya saya seakan tidak percaya kedai kecil ini punya koneksi Wi-Fi.

“Ada, Bang. Ini password-nya kalau mau nyambung,” ujar Sonhaji serius.

Saya hubungkan jaringan ponsel saya ke Wi-Fi kedai itu. Vidio YouTube dengan resolusi tinggi (1080P) terasa lancar tanpa buffering sama sekali. Selain menyediakan fasilitas Wi-Fi, kedai murah meriah notok njedug ini juga menyediakan 2 buah kipas angin untuk pelanggan, dan televisi berukuran kurang lebih 27 inch yang terletak di dapur kedai namun masih dapat terlihat dan terdengar jelas dari kursi pelanggan.

Sembari saya menonton video YouTube dan menikmati kopi, terdengar suara Bu Ketut dari dapur. “Nih, Dik, gorengannya sudah ada yang matang.” Saya beranjak dari tempat duduk menuju etalase kedai itu dan mengambil 8 buah perkedel sayur yang baru saja diangkat dari penggorengan.

“Sebiji berapa nih, Bu?” tanya saya memastikan.

“Lima ratus,” jawab Bu Ketut Miardi entang saja.

“Widih, berarti 8 biji ini empat ribu dong, Bu. Kalau saya beli sepuluh ribu aja, bisa-bisa mabuk gorengan saya ini,” ujar saya sambil bercanda. Mendengar candaan saya, Bu Ketut tertawa singkat sembari lanjut menggoreng sisa adonan perkedel sayurnya.

Jika dibandingkan dengan gorengan pada umumnya, perkedel sayur lima ratusan ini memang berukuran lebih kecil, meski tidak kecil-kecil amat. Kira-kira ukurannya sebesar 2 bola bekel.

Penasaran dengan rasanya, saya gasak gorengan lima ratusan itu satu persatu. Saya tidak begitu memperhatikan isian sayurnya, tapi menurut saya tidak seperti perkedel sayur yang biasa saya makan yang rasanya gurih asin. Ini ada sedikit rasa manis dari biji jagung yang pecah saat dikunyah.

Perkedel sayur Kedai Bambu Eng | Foto: Son Haji

Di luaran sana, kerap saya menyantap perkedel sayur yang terasa lebih banyak tepungnya daripada sayurnya. Namun perkedel sayur lima ratusan ini, selain lebih murah, isian sayurnya juga cukup banyak untuk ukurannya yang mungil itu. Hangat, nikmat, empuk, manis, gurih, dan asin dengan harga Rp.500 itu sangat istimewa bagi saya.

Sembari menyantap perkedel sayur dan meminum kopi yang tinggal setengah gelas itu, saya bertanya kepada Bu Ketut Miardi dari pukul berapa kedai ini buka dan sampai pukul berapa kedai ditutup. Ini penting saya tanyakan, setidaknya sebagai patokan waktu jika suatu saat saya ingin berkunjung lagi.

“Kalau bukanya gak nentu, Dik. Yang jelas pagi-pagi sekali saya belanja ke pasar dulu. Nah, kalau tutupnya, paling malam itu jam 9 saya sudah tutup,” ucap Bu Ketut Miardi.

Sambil menikmati gorengan saya mendengar Ketut Miardi bercerita. Sebelum membuka kedai sederhana ini, ia mengaku pernah berjualan di kantin kampus kebidanan di Jl. Bisma Barat Nomor 25, tak jauh dari kedainya saat ini.

Namun, semenjak asrama kampus kebidanan dipindahkan, kantin tempatnya berjualan sepi pelanggan. Lalu, sekitar tahun 2018-an, ia membuka kedai yang dinamainya “Kedai Bambu Eng” ini—saya tak bertanya lebih dalam soal apa alasan di balik nama kedai tersebut.

Saat itu kedai Bu Ketut terasa sepi. Selama saya dan Sonhaji asyik ngopi sambil menyantap gorengan, saya baru menjumpai 2 pelanggan yang membeli makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang. Di situ rasa ingin tahu saya terpancing untuk mengetahui siapa saja, atau dari kalangan mana saja pelanggan Kedai Bambu Eng.

“Dulu banyak anak PGSD yang belanja di sini, Dik. Ada juga beberapa mahasiswa dari Jawa yang dulu sempat ngekos sekitar sini. Kalau sekarang sih biasanya anak-anak Medan yang sering belanja di sini,” ujar Bu Ketut sembari memasak di dapur kedainya.

Sampai di sini, sebagai mahasiswa saya merasa perlu untuk tahu tempat-tempat seperti ini. Tempat seperti ini, tempat nongkrong untuk melepas penat dengan harga menu yang bersahabat. Tempat mengobati rasa lapar dengan budget ekonomis.

Oh, sekadar informasi, Kedai Bambu Eng sudah tercatat di Google Maps. Alamatnya di Jl. Bisma Barat Nomor 10 Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng. Lokasinya cukup dekat dari kampus tengah Undiksha. Selamat berkunjung.[T]

Reporter: Hizkia Adi Wicaksono
Penulis: Hizkia Adi Wicaksono
Editor: Jaswanto

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja
Menengok Jalan Ahmad Yani Singaraja Pukul Sepuluh Malam
Tags: Kedai Bambu Engkedai kopikulinerSingarajaUndikshawarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Desa Wisata dari Bali

Next Post

Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Hizkia Adi Wicaksnono

Hizkia Adi Wicaksnono

Fotografer/Videografer tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co