12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kedai Bambu Eng, Tempat Makan dan Nongkrong Murah Meriah Sekitar Kampus Tengah Undiksha: Gorengan 500 Rupiah, Kopi 2.000 Rupiah

Hizkia Adi Wicaksnono by Hizkia Adi Wicaksnono
July 17, 2024
in Khas
Kedai Bambu Eng, Tempat Makan dan Nongkrong Murah Meriah Sekitar Kampus Tengah Undiksha: Gorengan 500 Rupiah, Kopi 2.000 Rupiah

Kedai Bambu Eng | Foto: Sonhaji

MODAL Rp.5000 sudah bisa nongkrong sambil ngopi dan makan gorengan nikmat di Singaraja. “Ah, memangnya ada tempat nongkrong semurah itu?” Pertanyaan itu yang muncul di kepala saya ketika Sonhaji, teman saya, memberitahu bahwa di Singaraja ada warung yang menjual segelas kopi dengan harga 2000 rupiah dan gorengan dengan harga 500 perak.

“Serius? Lima ratus rupiah sudah dapat gorengan, Son?” tanya saya masih tak percaya.

“Iya, Bang. Ayo ke sana kalau gak percaya!” sahut Sonhaji meyakinkan saya.

“Wah, cocok itu Son. Pagi-pagi begini, enaknya ngopi sambil ngudud dan makan gorengan hangat.”

Pagi itu kami meluncur dari Jl. Pantai Indah Singaraja menuju warung murah meriah di Jl. Bisma—warung yang Sonhaji maksud—dengan mengendarai El Cobra, motor bebek tua kendaraan dinas kebanggaan anak-anak tatkala.co.

Tak lama kami pun tiba di Jl. Bisma Barat Nomor 10 Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, warung tujuan kami. Saat itu tepat pukul 10.00 WITA. Warung itu terletak persis di ujung tikungan Jl. Bisma Barat, di depannya terdapat papan nama bertuliskan “Kedai Bambu Eng”.

Bangunan itu berlantai acian semen dengan dinding dari kombinasi susunan batako dan batang bambu. Luas bangunan kedai kurang lebih 4×5 meter persegi. Sederhana sekali, namun cukup mudah untuk dikenali.

Kami turun dari motor. Dan saat melepas helm, hidung saya dibelai oleh aroma sedap adonan gorengan yang bersentuhan dengan minyak panas. Kami masuk ke dalam kedai. Sementara Sonhaji duduk di kursi bundar bersandar di pojokan kedai, saya menghampiri pemilik warung (sang penjual). Namanya Ketut Miardi. Saat itu ia sedang menggoreng perkedel sayur di dapur kedai yang hanya dipisahkan etalase stainlees.

Bermaksud memesan 2 gelas kopi dan beberapa gorengan, melihat Ketut Miardi sedang sibuk menggoreng saya bertanya, “Gorengannya sudah ada yang matang, Bu?”

“Belum, Dik,” jawab Bu Ketut.

“Kalau begitu saya pesan kopi 2 sambil nunggu gorengannya Bu.”

Sembari menunggu kopi pesanan kami, saya menyalakan sebantang rokok sambil melihat-lihat sekeliling kedai itu. Saya terperangah melihat papan menu yang menempel di dinding bambu tepat di atas kepala Sonhaji. Dalam hati saya terheran. “Gokil nih warung.” Bayangkan saja, makanan paling mahal di sini dijual seharga Rp.10.000, dan minuman paling mahal dijual seharga Rp.4000.

Menu Kedai Bambu Eng | Foto: Sonhaji

Masih dalam keadaan mangap, terperangah dengan menu kedai yang extremely cheap itu, Bu Ketut menghampiri kami dengan membawa nampan plastik persegi panjang, dua gelas kopi hitam panas di atasnya.

“Ini Dik, kopinya.”

“Terima kasih, Bu. Sudah lama buka kedai ini, Bu?” sekadar basa-basi saya bertanya.

“Wah, sudah dari sebelum Covid saya buka, Dik, 2018-an. Tapi pas Covid sempat tutup, soalnya sepi,” jawabnya ramah.

Tanpa berharap banyak, mengingat harganya yang sangat murah meriah, notok njedug (istilah yang acap kali saya gunakan di kampung halaman saya, Mojokerto, Jawa Timur; untuk mengibaratkan hal-hal yang sudah mentok untuk dipikirkan), kopi dua ribuan itu saya sruput bergantian dengan mengisap sebatang rokok. Benar saja, rasanya tak jauh beda dengan kopi pinggir jalan yang sering saya jumpai di jalanan Kota Singaraja.

Kendati demikian, menurut saya, ini lebih baik daripada kopi instan kemasan sachet. Harganya pun cukup bersaing kalau dibandingkan dengan kopi pinggir jalan yang rata-rata dijual dengan harga Rp.3000 sampai Rp.4000-an. Justru ini hampir setengah harga lebih murah dari kopi pinggir jalan namun dengan rasa yang sama.

Sedang enak-enaknya saya menyeruput kopi dan mengisap rokok sambil scrolling YouTube, tiba-tiba Sonhaji menawarkan sesuatu yang tak pernah saya pikirkan. “Gak mau nyambung Wi-Fi,Bang?”

“Memangnya ada Wi-Fi di sini, Son?” tanya saya seakan tidak percaya kedai kecil ini punya koneksi Wi-Fi.

“Ada, Bang. Ini password-nya kalau mau nyambung,” ujar Sonhaji serius.

Saya hubungkan jaringan ponsel saya ke Wi-Fi kedai itu. Vidio YouTube dengan resolusi tinggi (1080P) terasa lancar tanpa buffering sama sekali. Selain menyediakan fasilitas Wi-Fi, kedai murah meriah notok njedug ini juga menyediakan 2 buah kipas angin untuk pelanggan, dan televisi berukuran kurang lebih 27 inch yang terletak di dapur kedai namun masih dapat terlihat dan terdengar jelas dari kursi pelanggan.

Sembari saya menonton video YouTube dan menikmati kopi, terdengar suara Bu Ketut dari dapur. “Nih, Dik, gorengannya sudah ada yang matang.” Saya beranjak dari tempat duduk menuju etalase kedai itu dan mengambil 8 buah perkedel sayur yang baru saja diangkat dari penggorengan.

“Sebiji berapa nih, Bu?” tanya saya memastikan.

“Lima ratus,” jawab Bu Ketut Miardi entang saja.

“Widih, berarti 8 biji ini empat ribu dong, Bu. Kalau saya beli sepuluh ribu aja, bisa-bisa mabuk gorengan saya ini,” ujar saya sambil bercanda. Mendengar candaan saya, Bu Ketut tertawa singkat sembari lanjut menggoreng sisa adonan perkedel sayurnya.

Jika dibandingkan dengan gorengan pada umumnya, perkedel sayur lima ratusan ini memang berukuran lebih kecil, meski tidak kecil-kecil amat. Kira-kira ukurannya sebesar 2 bola bekel.

Penasaran dengan rasanya, saya gasak gorengan lima ratusan itu satu persatu. Saya tidak begitu memperhatikan isian sayurnya, tapi menurut saya tidak seperti perkedel sayur yang biasa saya makan yang rasanya gurih asin. Ini ada sedikit rasa manis dari biji jagung yang pecah saat dikunyah.

Perkedel sayur Kedai Bambu Eng | Foto: Son Haji

Di luaran sana, kerap saya menyantap perkedel sayur yang terasa lebih banyak tepungnya daripada sayurnya. Namun perkedel sayur lima ratusan ini, selain lebih murah, isian sayurnya juga cukup banyak untuk ukurannya yang mungil itu. Hangat, nikmat, empuk, manis, gurih, dan asin dengan harga Rp.500 itu sangat istimewa bagi saya.

Sembari menyantap perkedel sayur dan meminum kopi yang tinggal setengah gelas itu, saya bertanya kepada Bu Ketut Miardi dari pukul berapa kedai ini buka dan sampai pukul berapa kedai ditutup. Ini penting saya tanyakan, setidaknya sebagai patokan waktu jika suatu saat saya ingin berkunjung lagi.

“Kalau bukanya gak nentu, Dik. Yang jelas pagi-pagi sekali saya belanja ke pasar dulu. Nah, kalau tutupnya, paling malam itu jam 9 saya sudah tutup,” ucap Bu Ketut Miardi.

Sambil menikmati gorengan saya mendengar Ketut Miardi bercerita. Sebelum membuka kedai sederhana ini, ia mengaku pernah berjualan di kantin kampus kebidanan di Jl. Bisma Barat Nomor 25, tak jauh dari kedainya saat ini.

Namun, semenjak asrama kampus kebidanan dipindahkan, kantin tempatnya berjualan sepi pelanggan. Lalu, sekitar tahun 2018-an, ia membuka kedai yang dinamainya “Kedai Bambu Eng” ini—saya tak bertanya lebih dalam soal apa alasan di balik nama kedai tersebut.

Saat itu kedai Bu Ketut terasa sepi. Selama saya dan Sonhaji asyik ngopi sambil menyantap gorengan, saya baru menjumpai 2 pelanggan yang membeli makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang. Di situ rasa ingin tahu saya terpancing untuk mengetahui siapa saja, atau dari kalangan mana saja pelanggan Kedai Bambu Eng.

“Dulu banyak anak PGSD yang belanja di sini, Dik. Ada juga beberapa mahasiswa dari Jawa yang dulu sempat ngekos sekitar sini. Kalau sekarang sih biasanya anak-anak Medan yang sering belanja di sini,” ujar Bu Ketut sembari memasak di dapur kedainya.

Sampai di sini, sebagai mahasiswa saya merasa perlu untuk tahu tempat-tempat seperti ini. Tempat seperti ini, tempat nongkrong untuk melepas penat dengan harga menu yang bersahabat. Tempat mengobati rasa lapar dengan budget ekonomis.

Oh, sekadar informasi, Kedai Bambu Eng sudah tercatat di Google Maps. Alamatnya di Jl. Bisma Barat Nomor 10 Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng. Lokasinya cukup dekat dari kampus tengah Undiksha. Selamat berkunjung.[T]

Reporter: Hizkia Adi Wicaksono
Penulis: Hizkia Adi Wicaksono
Editor: Jaswanto

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja
Menengok Jalan Ahmad Yani Singaraja Pukul Sepuluh Malam
Tags: Kedai Bambu Engkedai kopikulinerSingarajaUndikshawarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Desa Wisata dari Bali

Next Post

Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Hizkia Adi Wicaksnono

Hizkia Adi Wicaksnono

Fotografer/Videografer tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co