3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kedai Bambu Eng, Tempat Makan dan Nongkrong Murah Meriah Sekitar Kampus Tengah Undiksha: Gorengan 500 Rupiah, Kopi 2.000 Rupiah

Hizkia Adi Wicaksnono by Hizkia Adi Wicaksnono
July 17, 2024
in Khas
Kedai Bambu Eng, Tempat Makan dan Nongkrong Murah Meriah Sekitar Kampus Tengah Undiksha: Gorengan 500 Rupiah, Kopi 2.000 Rupiah

Kedai Bambu Eng | Foto: Sonhaji

MODAL Rp.5000 sudah bisa nongkrong sambil ngopi dan makan gorengan nikmat di Singaraja. “Ah, memangnya ada tempat nongkrong semurah itu?” Pertanyaan itu yang muncul di kepala saya ketika Sonhaji, teman saya, memberitahu bahwa di Singaraja ada warung yang menjual segelas kopi dengan harga 2000 rupiah dan gorengan dengan harga 500 perak.

“Serius? Lima ratus rupiah sudah dapat gorengan, Son?” tanya saya masih tak percaya.

“Iya, Bang. Ayo ke sana kalau gak percaya!” sahut Sonhaji meyakinkan saya.

“Wah, cocok itu Son. Pagi-pagi begini, enaknya ngopi sambil ngudud dan makan gorengan hangat.”

Pagi itu kami meluncur dari Jl. Pantai Indah Singaraja menuju warung murah meriah di Jl. Bisma—warung yang Sonhaji maksud—dengan mengendarai El Cobra, motor bebek tua kendaraan dinas kebanggaan anak-anak tatkala.co.

Tak lama kami pun tiba di Jl. Bisma Barat Nomor 10 Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, warung tujuan kami. Saat itu tepat pukul 10.00 WITA. Warung itu terletak persis di ujung tikungan Jl. Bisma Barat, di depannya terdapat papan nama bertuliskan “Kedai Bambu Eng”.

Bangunan itu berlantai acian semen dengan dinding dari kombinasi susunan batako dan batang bambu. Luas bangunan kedai kurang lebih 4×5 meter persegi. Sederhana sekali, namun cukup mudah untuk dikenali.

Kami turun dari motor. Dan saat melepas helm, hidung saya dibelai oleh aroma sedap adonan gorengan yang bersentuhan dengan minyak panas. Kami masuk ke dalam kedai. Sementara Sonhaji duduk di kursi bundar bersandar di pojokan kedai, saya menghampiri pemilik warung (sang penjual). Namanya Ketut Miardi. Saat itu ia sedang menggoreng perkedel sayur di dapur kedai yang hanya dipisahkan etalase stainlees.

Bermaksud memesan 2 gelas kopi dan beberapa gorengan, melihat Ketut Miardi sedang sibuk menggoreng saya bertanya, “Gorengannya sudah ada yang matang, Bu?”

“Belum, Dik,” jawab Bu Ketut.

“Kalau begitu saya pesan kopi 2 sambil nunggu gorengannya Bu.”

Sembari menunggu kopi pesanan kami, saya menyalakan sebantang rokok sambil melihat-lihat sekeliling kedai itu. Saya terperangah melihat papan menu yang menempel di dinding bambu tepat di atas kepala Sonhaji. Dalam hati saya terheran. “Gokil nih warung.” Bayangkan saja, makanan paling mahal di sini dijual seharga Rp.10.000, dan minuman paling mahal dijual seharga Rp.4000.

Menu Kedai Bambu Eng | Foto: Sonhaji

Masih dalam keadaan mangap, terperangah dengan menu kedai yang extremely cheap itu, Bu Ketut menghampiri kami dengan membawa nampan plastik persegi panjang, dua gelas kopi hitam panas di atasnya.

“Ini Dik, kopinya.”

“Terima kasih, Bu. Sudah lama buka kedai ini, Bu?” sekadar basa-basi saya bertanya.

“Wah, sudah dari sebelum Covid saya buka, Dik, 2018-an. Tapi pas Covid sempat tutup, soalnya sepi,” jawabnya ramah.

Tanpa berharap banyak, mengingat harganya yang sangat murah meriah, notok njedug (istilah yang acap kali saya gunakan di kampung halaman saya, Mojokerto, Jawa Timur; untuk mengibaratkan hal-hal yang sudah mentok untuk dipikirkan), kopi dua ribuan itu saya sruput bergantian dengan mengisap sebatang rokok. Benar saja, rasanya tak jauh beda dengan kopi pinggir jalan yang sering saya jumpai di jalanan Kota Singaraja.

Kendati demikian, menurut saya, ini lebih baik daripada kopi instan kemasan sachet. Harganya pun cukup bersaing kalau dibandingkan dengan kopi pinggir jalan yang rata-rata dijual dengan harga Rp.3000 sampai Rp.4000-an. Justru ini hampir setengah harga lebih murah dari kopi pinggir jalan namun dengan rasa yang sama.

Sedang enak-enaknya saya menyeruput kopi dan mengisap rokok sambil scrolling YouTube, tiba-tiba Sonhaji menawarkan sesuatu yang tak pernah saya pikirkan. “Gak mau nyambung Wi-Fi,Bang?”

“Memangnya ada Wi-Fi di sini, Son?” tanya saya seakan tidak percaya kedai kecil ini punya koneksi Wi-Fi.

“Ada, Bang. Ini password-nya kalau mau nyambung,” ujar Sonhaji serius.

Saya hubungkan jaringan ponsel saya ke Wi-Fi kedai itu. Vidio YouTube dengan resolusi tinggi (1080P) terasa lancar tanpa buffering sama sekali. Selain menyediakan fasilitas Wi-Fi, kedai murah meriah notok njedug ini juga menyediakan 2 buah kipas angin untuk pelanggan, dan televisi berukuran kurang lebih 27 inch yang terletak di dapur kedai namun masih dapat terlihat dan terdengar jelas dari kursi pelanggan.

Sembari saya menonton video YouTube dan menikmati kopi, terdengar suara Bu Ketut dari dapur. “Nih, Dik, gorengannya sudah ada yang matang.” Saya beranjak dari tempat duduk menuju etalase kedai itu dan mengambil 8 buah perkedel sayur yang baru saja diangkat dari penggorengan.

“Sebiji berapa nih, Bu?” tanya saya memastikan.

“Lima ratus,” jawab Bu Ketut Miardi entang saja.

“Widih, berarti 8 biji ini empat ribu dong, Bu. Kalau saya beli sepuluh ribu aja, bisa-bisa mabuk gorengan saya ini,” ujar saya sambil bercanda. Mendengar candaan saya, Bu Ketut tertawa singkat sembari lanjut menggoreng sisa adonan perkedel sayurnya.

Jika dibandingkan dengan gorengan pada umumnya, perkedel sayur lima ratusan ini memang berukuran lebih kecil, meski tidak kecil-kecil amat. Kira-kira ukurannya sebesar 2 bola bekel.

Penasaran dengan rasanya, saya gasak gorengan lima ratusan itu satu persatu. Saya tidak begitu memperhatikan isian sayurnya, tapi menurut saya tidak seperti perkedel sayur yang biasa saya makan yang rasanya gurih asin. Ini ada sedikit rasa manis dari biji jagung yang pecah saat dikunyah.

Perkedel sayur Kedai Bambu Eng | Foto: Son Haji

Di luaran sana, kerap saya menyantap perkedel sayur yang terasa lebih banyak tepungnya daripada sayurnya. Namun perkedel sayur lima ratusan ini, selain lebih murah, isian sayurnya juga cukup banyak untuk ukurannya yang mungil itu. Hangat, nikmat, empuk, manis, gurih, dan asin dengan harga Rp.500 itu sangat istimewa bagi saya.

Sembari menyantap perkedel sayur dan meminum kopi yang tinggal setengah gelas itu, saya bertanya kepada Bu Ketut Miardi dari pukul berapa kedai ini buka dan sampai pukul berapa kedai ditutup. Ini penting saya tanyakan, setidaknya sebagai patokan waktu jika suatu saat saya ingin berkunjung lagi.

“Kalau bukanya gak nentu, Dik. Yang jelas pagi-pagi sekali saya belanja ke pasar dulu. Nah, kalau tutupnya, paling malam itu jam 9 saya sudah tutup,” ucap Bu Ketut Miardi.

Sambil menikmati gorengan saya mendengar Ketut Miardi bercerita. Sebelum membuka kedai sederhana ini, ia mengaku pernah berjualan di kantin kampus kebidanan di Jl. Bisma Barat Nomor 25, tak jauh dari kedainya saat ini.

Namun, semenjak asrama kampus kebidanan dipindahkan, kantin tempatnya berjualan sepi pelanggan. Lalu, sekitar tahun 2018-an, ia membuka kedai yang dinamainya “Kedai Bambu Eng” ini—saya tak bertanya lebih dalam soal apa alasan di balik nama kedai tersebut.

Saat itu kedai Bu Ketut terasa sepi. Selama saya dan Sonhaji asyik ngopi sambil menyantap gorengan, saya baru menjumpai 2 pelanggan yang membeli makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang. Di situ rasa ingin tahu saya terpancing untuk mengetahui siapa saja, atau dari kalangan mana saja pelanggan Kedai Bambu Eng.

“Dulu banyak anak PGSD yang belanja di sini, Dik. Ada juga beberapa mahasiswa dari Jawa yang dulu sempat ngekos sekitar sini. Kalau sekarang sih biasanya anak-anak Medan yang sering belanja di sini,” ujar Bu Ketut sembari memasak di dapur kedainya.

Sampai di sini, sebagai mahasiswa saya merasa perlu untuk tahu tempat-tempat seperti ini. Tempat seperti ini, tempat nongkrong untuk melepas penat dengan harga menu yang bersahabat. Tempat mengobati rasa lapar dengan budget ekonomis.

Oh, sekadar informasi, Kedai Bambu Eng sudah tercatat di Google Maps. Alamatnya di Jl. Bisma Barat Nomor 10 Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng. Lokasinya cukup dekat dari kampus tengah Undiksha. Selamat berkunjung.[T]

Reporter: Hizkia Adi Wicaksono
Penulis: Hizkia Adi Wicaksono
Editor: Jaswanto

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja
Menengok Jalan Ahmad Yani Singaraja Pukul Sepuluh Malam
Tags: Kedai Bambu Engkedai kopikulinerSingarajaUndikshawarung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Desa Wisata dari Bali

Next Post

Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Hizkia Adi Wicaksnono

Hizkia Adi Wicaksnono

Fotografer/Videografer tatkala.co

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Memuja Kesempurnaan Jati: Konseptualisasi Bapang Barong Kabupaten Badung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co