2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Son Lomri by Son Lomri
July 5, 2024
in Pameran
Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Pameran Makanan di Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha | Foto: Dian

SECARA minimalis, Pameran Kewirausahaan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, menampilkan beberapa makanan berdasarkan resep dari leluhur di ruang kelas B.1.05 gedung Fakultas Bahasa dan Seni. Pameran tersebut diselenggarakan pada Kamis, 4 Juli 2024.

Pameran sederhana itu dilakukan oleh mahasiswa semester 4 (empat) program studi Bahasa Bali, dan siapa saja yang datang ke pameran tersebut boleh makan sepuasanya dengan sistem bayar seikhlasnya (ngajeng sajang kapnyane naur saka ledang). Sungguh sistem yang mengenyangkan.

Mereka menampilkan beberapa produk makanan yang diolah berdasarkan ajaran atau resep dari lontar Dharma Caruban—secara sederhana dapat dikatakan: lontar resep makanan—sebagaimana mereka ditugaskan untuk itu. Masing-masing dari mereka dibagi menjadi lima tampekan (kelompok). Terdiri dari tampekan jaje, tampekan be, tampekan jukut, tampekan ajengan, dan tampekan minuman.

Seperti prasmanan atau sebuah kantin yang menyediakan makanan berat, di meja ruang pameran itu tersedia menu makanan yang sudah siap disantap, dengan berbagai macam menu makanan lokal.

Setiap tahun, Prodi Pendidikan Bahasa Bali memang rutin menggelar pameran dengan skala kecil. Pameran itu sebagai implementasi tugas akhir dari mata kuliah kewirausahaan berbasis kearifan lokal berdasarkan literatur Bali yang dipilih pada semester IV.

Dalam hal ini, mereka juga memiliki moto yang diambil dari paribasa (pribahasa) Bali dengan filosofi “Be Cotek” (ikan cotek). Cotek sambung layur, cenik lantang, lais tileh. Artinya, ketika ikan kecil disambung, dalam kuantitas, maka akan sama saja ukurannya dengan ikan layur.

Suasana Pameran Makanan di Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha | Foto: Dian

Dengan kata lain, meski mendapat keuntungan sedikit, tapi bila terus berlanjut maka akan sama saja hasilnya, seperti usaha yang untungnya besar. Begitu juga dengan informasi keluar, meski dilakukan dari mulut ke mulut, maka akan sampai juga kepada target.

Ayam suir sambal matah, ayam suir sambal serai, sayur nangka, dan pisang goreng, serta daluman (cincau), menjadi menu masakan yang dihidangkan. Makanan tersebut tentu tak kalah menggodanya dengan makanan di etalase restoran modern.

Kemudian, ada olahan sate, lawar, sayur, jajanan, serta ada pula yang disebut dengan Tri Rasa, atau tiga bahan yang dimasak menjadi satu-kesatuan. Konsep tri rasa dalam lontar Dharma Caruban itu diadaptasi dan disederhanakan melalui olahan yang dekat dengan keseharian masayarakat sekarang.

“Jika mengikuti resep yang tercatat dalam lontar, mungkin akan rumit karena itu resep kuno. Maka kami adaptasi dan sederhanakan dengan menu ini, agar mahasiswa juga memiliki gambaran mengenai Tri Rasa seperti dalam lontar,” ungkap Ida Bagus Putra Manik Aryana, Dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan, Bahasa Bali, Undiksha Singaraja, Kamis (4/7/2024) pagi.

Menariknya, mereka memasak tanpa bahan pengawet dan bahan penyedap rasa (msg). Tetapi, apakah bisa jika makanan yang diolah berdasarkan Lontar Dharma Caruban yang kuno itu, bersaing dengan makanan kekinian yang lebih dominan mengandalkan rayuan penyedap rasa sekarang?

Bagus Putra menanggapi pertanyaan tersebut dengan sangat cermat. “Melalui pameran ini, tujuannya memang untuk itu—memantik jiwa berwirausaha mahasiswa. Ini implementasi ilmu yang telah mereka pelajari dari lontar Dharma Caruban di kampus,” ujar Bagus Putra. Karena, kata Bagus Putra lagi, lontar itu adalah lontar kuliner, yang mencatat resep-resep tradisional masyarakat Bali.

Dalam lontar terserbut, ada beberapa rempah yang berperan sebagai pencipta rasa. Dalam perbumbuan Bali berdasarkan lontar Dharma Caruban, rempah-rempah itu memiliki formula. Ada formula Meme, Bapa, Wayan, Made, Nyoman, Ketut. Meme adalah bawang merah yang diibaratkan sebagai ibu atau pertiwi dengan simbolisasinya berwarna merah serupa dengan warna tanah. Bapa adalah kesuna atau bawang putih yang diibaratkan sebagai bapak/ayah atau akasa atau awan dengan simbolisasinya berwarna putih.

Meme dan Bapa ini memiliki 4 anak dengan formulanya sendiri. Wayan adalah Isen, Made adalah jahe, Nyoman adalah cekuh dan Ketut adalah kunyit. Jika makanan itu bersumber dari laut, maka Wayan atau isen (lengkuas) mengambil peran yang lebih dominan. Dan jika bahannya daging, maka jahe yang lebih dominan.

“Jika makanan itu bersumber dari laut, misalnya, maka isen atau lengkuas mengambil peran lebih dominan sebagai bumbu. Sementara jika bahannya dari daging, maka jahe yang lebih dominan,” ucap Bagus Putra.

Dengan pola yang seperti itu, maka makanan ini menyebabkan tubuh sehat. Secara tidak langsung ada obat herbal berupa rempah yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Rempah manfaatnya juga untuk menghancurkan kolestrol. “Ada virus dan bakteri yang bisa dihancurkan juga oleh rempah itu,” tutur Bagus Putra.

Lontar Dharma Caruban juga memiliki resep-resep makanan yang disajikan kepada raja-raja dan dewa-dewa. “Dan ini biasanya diperuntukan untuk upcara-upacara. Yang kemudian kami adaptasi untuk bisa dinikmati (bersama),” lanjutnya.

Menurut Bagus Putra, lontar Dharma Caruban juga berkaitan dengan lontar Ajengan Pawetonan. Pada lontar itu diatur mengenai resep-resep kuliner yang dapat dinikmati oleh seseorang dengan karakter tertentu.

“Dasarnya adalah Dharma Caruban tetapi dimuatnya dalam Ajengan Pawetonan, yang bertujuan  untuk meredam karakter tertentu dalam diri manusia. Jadi itu mengkhusus, dan hanya orang-orang dengan karakter khusus yang boleh mengonsumsinya,” imbuhnya.

Sampai di sini, di balik makanan yang dihasilkan, ternyata mengandung kisah yang menarik—bernilai sejarah. Apalagi sangat menyehatkan. Tiada yang tahu, suatu saat, manusia akan kembali pada naluri hidupnya dalam memilih makanan, selain sehat juga pada yang lebih sederhana. Siapa yang tahu?[T]

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Menghimpun Arsip, Memburu Masa Lalu — Dari Pameran Arsip Nahdlatul Ulama dan Benda-benda Sejarah Muslim Bali Utara
Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928
Apa yang Dikatakan Mata-Mata Itu? –Catatan Pameran Fotografi di Gutuhaus, Tulungagung
Pameran Seni Instalasi Kuratorial Sedekah Bumi dan Temujalar: Membaca Ulang Tradisi Desa dan Ekspresi Kota yang Semrawut
Tags: lontar Dharma CarubanPameranProdi Pendidikan Bahasa BaliUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nama-nama Pangkung  di Desa Pucaksari, Busungbiu : Sebuah Kajian Toponimi

Next Post

Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co