22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Son Lomri by Son Lomri
July 5, 2024
in Pameran
Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Pameran Makanan di Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha | Foto: Dian

SECARA minimalis, Pameran Kewirausahaan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, menampilkan beberapa makanan berdasarkan resep dari leluhur di ruang kelas B.1.05 gedung Fakultas Bahasa dan Seni. Pameran tersebut diselenggarakan pada Kamis, 4 Juli 2024.

Pameran sederhana itu dilakukan oleh mahasiswa semester 4 (empat) program studi Bahasa Bali, dan siapa saja yang datang ke pameran tersebut boleh makan sepuasanya dengan sistem bayar seikhlasnya (ngajeng sajang kapnyane naur saka ledang). Sungguh sistem yang mengenyangkan.

Mereka menampilkan beberapa produk makanan yang diolah berdasarkan ajaran atau resep dari lontar Dharma Caruban—secara sederhana dapat dikatakan: lontar resep makanan—sebagaimana mereka ditugaskan untuk itu. Masing-masing dari mereka dibagi menjadi lima tampekan (kelompok). Terdiri dari tampekan jaje, tampekan be, tampekan jukut, tampekan ajengan, dan tampekan minuman.

Seperti prasmanan atau sebuah kantin yang menyediakan makanan berat, di meja ruang pameran itu tersedia menu makanan yang sudah siap disantap, dengan berbagai macam menu makanan lokal.

Setiap tahun, Prodi Pendidikan Bahasa Bali memang rutin menggelar pameran dengan skala kecil. Pameran itu sebagai implementasi tugas akhir dari mata kuliah kewirausahaan berbasis kearifan lokal berdasarkan literatur Bali yang dipilih pada semester IV.

Dalam hal ini, mereka juga memiliki moto yang diambil dari paribasa (pribahasa) Bali dengan filosofi “Be Cotek” (ikan cotek). Cotek sambung layur, cenik lantang, lais tileh. Artinya, ketika ikan kecil disambung, dalam kuantitas, maka akan sama saja ukurannya dengan ikan layur.

Suasana Pameran Makanan di Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha | Foto: Dian

Dengan kata lain, meski mendapat keuntungan sedikit, tapi bila terus berlanjut maka akan sama saja hasilnya, seperti usaha yang untungnya besar. Begitu juga dengan informasi keluar, meski dilakukan dari mulut ke mulut, maka akan sampai juga kepada target.

Ayam suir sambal matah, ayam suir sambal serai, sayur nangka, dan pisang goreng, serta daluman (cincau), menjadi menu masakan yang dihidangkan. Makanan tersebut tentu tak kalah menggodanya dengan makanan di etalase restoran modern.

Kemudian, ada olahan sate, lawar, sayur, jajanan, serta ada pula yang disebut dengan Tri Rasa, atau tiga bahan yang dimasak menjadi satu-kesatuan. Konsep tri rasa dalam lontar Dharma Caruban itu diadaptasi dan disederhanakan melalui olahan yang dekat dengan keseharian masayarakat sekarang.

“Jika mengikuti resep yang tercatat dalam lontar, mungkin akan rumit karena itu resep kuno. Maka kami adaptasi dan sederhanakan dengan menu ini, agar mahasiswa juga memiliki gambaran mengenai Tri Rasa seperti dalam lontar,” ungkap Ida Bagus Putra Manik Aryana, Dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan, Bahasa Bali, Undiksha Singaraja, Kamis (4/7/2024) pagi.

Menariknya, mereka memasak tanpa bahan pengawet dan bahan penyedap rasa (msg). Tetapi, apakah bisa jika makanan yang diolah berdasarkan Lontar Dharma Caruban yang kuno itu, bersaing dengan makanan kekinian yang lebih dominan mengandalkan rayuan penyedap rasa sekarang?

Bagus Putra menanggapi pertanyaan tersebut dengan sangat cermat. “Melalui pameran ini, tujuannya memang untuk itu—memantik jiwa berwirausaha mahasiswa. Ini implementasi ilmu yang telah mereka pelajari dari lontar Dharma Caruban di kampus,” ujar Bagus Putra. Karena, kata Bagus Putra lagi, lontar itu adalah lontar kuliner, yang mencatat resep-resep tradisional masyarakat Bali.

Dalam lontar terserbut, ada beberapa rempah yang berperan sebagai pencipta rasa. Dalam perbumbuan Bali berdasarkan lontar Dharma Caruban, rempah-rempah itu memiliki formula. Ada formula Meme, Bapa, Wayan, Made, Nyoman, Ketut. Meme adalah bawang merah yang diibaratkan sebagai ibu atau pertiwi dengan simbolisasinya berwarna merah serupa dengan warna tanah. Bapa adalah kesuna atau bawang putih yang diibaratkan sebagai bapak/ayah atau akasa atau awan dengan simbolisasinya berwarna putih.

Meme dan Bapa ini memiliki 4 anak dengan formulanya sendiri. Wayan adalah Isen, Made adalah jahe, Nyoman adalah cekuh dan Ketut adalah kunyit. Jika makanan itu bersumber dari laut, maka Wayan atau isen (lengkuas) mengambil peran yang lebih dominan. Dan jika bahannya daging, maka jahe yang lebih dominan.

“Jika makanan itu bersumber dari laut, misalnya, maka isen atau lengkuas mengambil peran lebih dominan sebagai bumbu. Sementara jika bahannya dari daging, maka jahe yang lebih dominan,” ucap Bagus Putra.

Dengan pola yang seperti itu, maka makanan ini menyebabkan tubuh sehat. Secara tidak langsung ada obat herbal berupa rempah yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Rempah manfaatnya juga untuk menghancurkan kolestrol. “Ada virus dan bakteri yang bisa dihancurkan juga oleh rempah itu,” tutur Bagus Putra.

Lontar Dharma Caruban juga memiliki resep-resep makanan yang disajikan kepada raja-raja dan dewa-dewa. “Dan ini biasanya diperuntukan untuk upcara-upacara. Yang kemudian kami adaptasi untuk bisa dinikmati (bersama),” lanjutnya.

Menurut Bagus Putra, lontar Dharma Caruban juga berkaitan dengan lontar Ajengan Pawetonan. Pada lontar itu diatur mengenai resep-resep kuliner yang dapat dinikmati oleh seseorang dengan karakter tertentu.

“Dasarnya adalah Dharma Caruban tetapi dimuatnya dalam Ajengan Pawetonan, yang bertujuan  untuk meredam karakter tertentu dalam diri manusia. Jadi itu mengkhusus, dan hanya orang-orang dengan karakter khusus yang boleh mengonsumsinya,” imbuhnya.

Sampai di sini, di balik makanan yang dihasilkan, ternyata mengandung kisah yang menarik—bernilai sejarah. Apalagi sangat menyehatkan. Tiada yang tahu, suatu saat, manusia akan kembali pada naluri hidupnya dalam memilih makanan, selain sehat juga pada yang lebih sederhana. Siapa yang tahu?[T]

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Menghimpun Arsip, Memburu Masa Lalu — Dari Pameran Arsip Nahdlatul Ulama dan Benda-benda Sejarah Muslim Bali Utara
Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928
Apa yang Dikatakan Mata-Mata Itu? –Catatan Pameran Fotografi di Gutuhaus, Tulungagung
Pameran Seni Instalasi Kuratorial Sedekah Bumi dan Temujalar: Membaca Ulang Tradisi Desa dan Ekspresi Kota yang Semrawut
Tags: lontar Dharma CarubanPameranProdi Pendidikan Bahasa BaliUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nama-nama Pangkung  di Desa Pucaksari, Busungbiu : Sebuah Kajian Toponimi

Next Post

Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co