14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Son Lomri by Son Lomri
July 5, 2024
in Pameran
Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Pameran Makanan di Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha | Foto: Dian

SECARA minimalis, Pameran Kewirausahaan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, menampilkan beberapa makanan berdasarkan resep dari leluhur di ruang kelas B.1.05 gedung Fakultas Bahasa dan Seni. Pameran tersebut diselenggarakan pada Kamis, 4 Juli 2024.

Pameran sederhana itu dilakukan oleh mahasiswa semester 4 (empat) program studi Bahasa Bali, dan siapa saja yang datang ke pameran tersebut boleh makan sepuasanya dengan sistem bayar seikhlasnya (ngajeng sajang kapnyane naur saka ledang). Sungguh sistem yang mengenyangkan.

Mereka menampilkan beberapa produk makanan yang diolah berdasarkan ajaran atau resep dari lontar Dharma Caruban—secara sederhana dapat dikatakan: lontar resep makanan—sebagaimana mereka ditugaskan untuk itu. Masing-masing dari mereka dibagi menjadi lima tampekan (kelompok). Terdiri dari tampekan jaje, tampekan be, tampekan jukut, tampekan ajengan, dan tampekan minuman.

Seperti prasmanan atau sebuah kantin yang menyediakan makanan berat, di meja ruang pameran itu tersedia menu makanan yang sudah siap disantap, dengan berbagai macam menu makanan lokal.

Setiap tahun, Prodi Pendidikan Bahasa Bali memang rutin menggelar pameran dengan skala kecil. Pameran itu sebagai implementasi tugas akhir dari mata kuliah kewirausahaan berbasis kearifan lokal berdasarkan literatur Bali yang dipilih pada semester IV.

Dalam hal ini, mereka juga memiliki moto yang diambil dari paribasa (pribahasa) Bali dengan filosofi “Be Cotek” (ikan cotek). Cotek sambung layur, cenik lantang, lais tileh. Artinya, ketika ikan kecil disambung, dalam kuantitas, maka akan sama saja ukurannya dengan ikan layur.

Suasana Pameran Makanan di Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha | Foto: Dian

Dengan kata lain, meski mendapat keuntungan sedikit, tapi bila terus berlanjut maka akan sama saja hasilnya, seperti usaha yang untungnya besar. Begitu juga dengan informasi keluar, meski dilakukan dari mulut ke mulut, maka akan sampai juga kepada target.

Ayam suir sambal matah, ayam suir sambal serai, sayur nangka, dan pisang goreng, serta daluman (cincau), menjadi menu masakan yang dihidangkan. Makanan tersebut tentu tak kalah menggodanya dengan makanan di etalase restoran modern.

Kemudian, ada olahan sate, lawar, sayur, jajanan, serta ada pula yang disebut dengan Tri Rasa, atau tiga bahan yang dimasak menjadi satu-kesatuan. Konsep tri rasa dalam lontar Dharma Caruban itu diadaptasi dan disederhanakan melalui olahan yang dekat dengan keseharian masayarakat sekarang.

“Jika mengikuti resep yang tercatat dalam lontar, mungkin akan rumit karena itu resep kuno. Maka kami adaptasi dan sederhanakan dengan menu ini, agar mahasiswa juga memiliki gambaran mengenai Tri Rasa seperti dalam lontar,” ungkap Ida Bagus Putra Manik Aryana, Dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan, Bahasa Bali, Undiksha Singaraja, Kamis (4/7/2024) pagi.

Menariknya, mereka memasak tanpa bahan pengawet dan bahan penyedap rasa (msg). Tetapi, apakah bisa jika makanan yang diolah berdasarkan Lontar Dharma Caruban yang kuno itu, bersaing dengan makanan kekinian yang lebih dominan mengandalkan rayuan penyedap rasa sekarang?

Bagus Putra menanggapi pertanyaan tersebut dengan sangat cermat. “Melalui pameran ini, tujuannya memang untuk itu—memantik jiwa berwirausaha mahasiswa. Ini implementasi ilmu yang telah mereka pelajari dari lontar Dharma Caruban di kampus,” ujar Bagus Putra. Karena, kata Bagus Putra lagi, lontar itu adalah lontar kuliner, yang mencatat resep-resep tradisional masyarakat Bali.

Dalam lontar terserbut, ada beberapa rempah yang berperan sebagai pencipta rasa. Dalam perbumbuan Bali berdasarkan lontar Dharma Caruban, rempah-rempah itu memiliki formula. Ada formula Meme, Bapa, Wayan, Made, Nyoman, Ketut. Meme adalah bawang merah yang diibaratkan sebagai ibu atau pertiwi dengan simbolisasinya berwarna merah serupa dengan warna tanah. Bapa adalah kesuna atau bawang putih yang diibaratkan sebagai bapak/ayah atau akasa atau awan dengan simbolisasinya berwarna putih.

Meme dan Bapa ini memiliki 4 anak dengan formulanya sendiri. Wayan adalah Isen, Made adalah jahe, Nyoman adalah cekuh dan Ketut adalah kunyit. Jika makanan itu bersumber dari laut, maka Wayan atau isen (lengkuas) mengambil peran yang lebih dominan. Dan jika bahannya daging, maka jahe yang lebih dominan.

“Jika makanan itu bersumber dari laut, misalnya, maka isen atau lengkuas mengambil peran lebih dominan sebagai bumbu. Sementara jika bahannya dari daging, maka jahe yang lebih dominan,” ucap Bagus Putra.

Dengan pola yang seperti itu, maka makanan ini menyebabkan tubuh sehat. Secara tidak langsung ada obat herbal berupa rempah yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Rempah manfaatnya juga untuk menghancurkan kolestrol. “Ada virus dan bakteri yang bisa dihancurkan juga oleh rempah itu,” tutur Bagus Putra.

Lontar Dharma Caruban juga memiliki resep-resep makanan yang disajikan kepada raja-raja dan dewa-dewa. “Dan ini biasanya diperuntukan untuk upcara-upacara. Yang kemudian kami adaptasi untuk bisa dinikmati (bersama),” lanjutnya.

Menurut Bagus Putra, lontar Dharma Caruban juga berkaitan dengan lontar Ajengan Pawetonan. Pada lontar itu diatur mengenai resep-resep kuliner yang dapat dinikmati oleh seseorang dengan karakter tertentu.

“Dasarnya adalah Dharma Caruban tetapi dimuatnya dalam Ajengan Pawetonan, yang bertujuan  untuk meredam karakter tertentu dalam diri manusia. Jadi itu mengkhusus, dan hanya orang-orang dengan karakter khusus yang boleh mengonsumsinya,” imbuhnya.

Sampai di sini, di balik makanan yang dihasilkan, ternyata mengandung kisah yang menarik—bernilai sejarah. Apalagi sangat menyehatkan. Tiada yang tahu, suatu saat, manusia akan kembali pada naluri hidupnya dalam memilih makanan, selain sehat juga pada yang lebih sederhana. Siapa yang tahu?[T]

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Menghimpun Arsip, Memburu Masa Lalu — Dari Pameran Arsip Nahdlatul Ulama dan Benda-benda Sejarah Muslim Bali Utara
Pameran “Telu”: Melihat Ragam Ekspresi Budaya di Jalur Rempah Pulau Bali
Ziarah ke “Marya dan Kebyar” di Pameran Arsip 1928
Apa yang Dikatakan Mata-Mata Itu? –Catatan Pameran Fotografi di Gutuhaus, Tulungagung
Pameran Seni Instalasi Kuratorial Sedekah Bumi dan Temujalar: Membaca Ulang Tradisi Desa dan Ekspresi Kota yang Semrawut
Tags: lontar Dharma CarubanPameranProdi Pendidikan Bahasa BaliUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nama-nama Pangkung  di Desa Pucaksari, Busungbiu : Sebuah Kajian Toponimi

Next Post

Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

Read moreDetails

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

Read moreDetails

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
0
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

Read moreDetails

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

by Nyoman Budarsana
March 9, 2026
0
Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Enam perupa dari berbagai wilayah di Indonesia menggelar pameran bertajuk “Togetherness” di Artspace, ARTOTEL Sanur Bali. Pameran lukisan dan patung...

Read moreDetails

Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

by tatkala
February 19, 2026
0
Pameran Foto “Magic in the Waves” Menjadi Pengingat Perlunya Menjaga Pantai di Bali

Foto-foto karya yang dipertunjukkan Bagus Made Irawan alias Piping dalam pameran Magic in the Waves di Warung Kubukopi, Denpasar, 18-28...

Read moreDetails

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

by I Gede Made Surya Darma
January 25, 2026
0
“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Pameran “Wianta & Legacy” resmi dibuka pada tanggal 23 Januari 2026 di Gallery of Art, The Apurva Kempinski Bali, menghadirkan...

Read moreDetails

Merespon Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

by tatkala
January 18, 2026
0
Merespon Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keragaman Manusia pada Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city)

RIUH ramai terdengar berbeda di salah satu venue Berbagi Ruang & Kopi, Denpasar, Sabtu 17 Januari 2026. Jika biasanya ia...

Read moreDetails

Menengok Lukisan Bercorak ‘Young Artist Style’ di The 1O1 Bali Oasis Sanur

by Nyoman Budarsana
January 17, 2026
0
Menengok Lukisan Bercorak ‘Young Artist Style’ di The 1O1 Bali Oasis Sanur

Wisatawan yang sedang melakukan check in ataupun check out di The 1O1 Bali Oasis Sanur tiba-tiba terhenti sejenak. Mereka bukan...

Read moreDetails

Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

by tatkala
January 5, 2026
0
Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

DI Kencu Ruang Seni di Kuta, Bali, pameran "Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif", sebuah rekonstruksi perjalanan kreatif...

Read moreDetails

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

by Made Chandra
January 4, 2026
0
Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

---Sebuah catatan reflektif tentang pameran yang meleburkan batas-batas kelokalan MENJELANG satu purnama, sejak kami—para peraba mimpi—dipertemukan oleh sebuah perhelatan kebudayaan...

Read moreDetails
Next Post
Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Jegog Tingklik, Suara Bambu Nan Renyah dari Bali Barat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co