2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Seni Instalasi Kuratorial Sedekah Bumi dan Temujalar: Membaca Ulang Tradisi Desa dan Ekspresi Kota yang Semrawut

Jaswanto by Jaswanto
October 29, 2023
in Ulas Rupa
Pameran Seni Instalasi Kuratorial Sedekah Bumi dan Temujalar: Membaca Ulang Tradisi Desa dan Ekspresi Kota yang Semrawut

Seni instalasi "Input Output" karya Duta Adipati | Foto: Jaswan

DARI beberapa gedung yang menjadi tempat penyelenggara program Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 di kawasan Produksi Film Negara (PFN), Jakarta Timur, tampaknya Ex-Lab Studio PFN menjadi tempat yang paling sedikit dikunjungi—tentu saja jika dibandingkan dengan IMXR (Black Box Studi 1) atau tempat Dapur Bangsa diselenggarakan. Padahal, di gedung yang terletak tepat di sebelah tenda Dapur Bangsa itu, terdapat beberapa seni instalasi—yang menarik—yang dipamerkan.

Pameran seni instalasi tersebut diselenggarakan dari tanggal 20-29 Oktober 2023.

Saat memasuki ruangan Ex-Lab dari pintu samping, saya hanya mendapati beberapa volunteer yang sedang bertugas di sana. Tak ada satu pun pengunjung yang mampir atau sekadar menengok-nengok. Tetapi, anggapan itu ternyata salah, saat saya masuk ke ruang pameran, meski hanya lebih sedikit dari jumlah jari tangan, ternyata ada juga pengunjung di ruang tersebut. Beberapa dari mereka sedang terpaku mengamati seni instalasi yang dipajang di dekat pintu, lainnya asyik berfoto, dan sedikit yang menonton video di layar yang dipasang di beberapa sudut ruangan.

Saya mengedarkan pandangan, dan ikut terpaku pada seni instalasi yang terbuat dari besi—berbentuk seperti tower air—dan kain dengan berbagai macam gambar: tumbuhan, wayang, manusia, transportasi, dan hewan. Saya mendekat. Membaca narasi yang tertera di sebelahnya, dan mengetahui bahwa seni instalasi tersebut bertajuk “Mata Tenggelam” karya Gegerboyo dari Yogyakarta.

Seni instalasi “Mata Tenggelam” karya Gegerboyo / Foto: Jaswan

Di sebuah kertas panjang, mirip struk belanja, tertulis keterangan bahwa seni instalasi yang menjadi bagian dari kuratorial Sedekah Bumi Project PKN 2023 ini, terdiri dari instalasi dari besi, toren air, umpak temuan dari Rembang, batik, dan video. Karya ini hadir untuk merespon situasi “embung”—suatu cekungan yang berfungsi sebagai tampungan air hujan yang digunakan untuk pengairan, mencegah banjir, dan menjaga kualitas air tanah—yang semakin terpuruk di era modern ini. Dalam kertas keterangan tersebut, keterpurukan yang dimaksud meliputi kekeringan, penyalahgunaan fungsi, sampai terkikisnya kepercayaan lokal dalam merawat embung.

Setidaknya ada tiga hal yang dinilai menyebabkan situasi embung menjadi terpuruk: (1) pemilihan jenis tanaman oleh petani lokal yang menyebabkan cepat surutnya sumber air tanah; (2) hilangnya kepercayaan lokal terhadap mitos dan makhluk gaib penjaga embung; dan (3) program pemerintah yang tidak tepat sasaran, seperti embung-isasi. Ketiga hal tersebut tergambarkan dengan apik di atas kain yang dipasang di samping—kanan, kiri, belakang—tower besi, tempat sebuah toren air ukuran 300-an L diletakkan.

Seni instalasi “Mata Tenggelam” karya Gegerboyo / Foto: Jaswan

Karya Gegerboyo berisi rekaman data yang didapatkan saat ia berkunjung ke Rembang, Jawa Tengah, dan bertemu narasumber sekaligus melihat langsung situasi embung di sana. Data dan hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan menjadi seni instalasi yang terinspirasi dari tower air dan dikombinasikan dengan karya batik dan video. Sampai di sini, sebenarnya, karya instalasi Mata Tenggelam merupakan representasi dari sebuah punden, yang dalam pengertian umum, sering disebut sebagai tempat yang dihormati dan dikeramatkan. Tempat tersebut bisa berupa makam dan tempat pemujaan. Namun, di tengah zaman modern seperti sekarang, di beberapa tempat, punden tak lagi dianggap penting—bahkan, pelan-pelan, semakin dilupakan.

Selain Mata Tenggelam, tepat di sampingnya, instalasi tenda kanvas dan stensil cahaya, berdiri, seolah menarik kaki saya untuk mendekati dan mengamatinya. Instalasi itu bertajuk “Jalan Selamat”, karya Hananingsih Widhiasri, seniman dari Semarang, Jawa Tengah.

Jalan Selamat adalah instalasi berbentuk tabung dengan berbagai gambar dan warna yang mencolok. Ada beberapa petani yang sedang memikul hasil bumi sebagai persembahan. Ada anak muda yang sedang bermain bola. Ada pula dua perempuan yang bernyanyi dan menari. Semua itu adalah ekspresi kegembiraan warga desa saat melakukan tradisi sedekah bumi.

Seni instalasi “Jalan Selamat” karya Hananingsih Widhiasri / Foto: Jaswan

Bagi Hananingsih, berdasarkan pada praktik sedekah bumi di Desa Sekararum, Rembang, dan Desa Lalang, Belitung, identifikasi sumber daya kebudayaan bergantung pada kesepakatan warga yang dipengaruhi oleh tradisi turun-temurun dan sesuatu yang sakral.

Menurut Hana, sakralitas tersebut kemudian membawa turunan bentuk profan yang lebih fleksibel dan multiplayer, juga memberi dampak baik pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial desa. Secara mengakar, sesuatu yang sakral dan profan dalam tradisi sedekah bumi ini mengarahkan pada jalan keselamatan—selamat dari ancaman rohani, aman dari ancaman duniawi. Jalan Selamat merupakan bagian dari kuratorial Sedekah Bumi Project PKN 2023.

Mata Tenggelam dan Jalan Selamat merupakan tanggapan kritis atas pembacaan ulang fenomena tradisi—khususnya sedekah bumi—di desa hari ini. Hasil pembacaan ulang fenomena sedekah bumi di beberapa daerah itu pada akhirnya diolah menjadi karya artistik yang menggambarkan kemungkinan untuk mengunggah ulang tradisi dalam balut kekinian.

Jika kita membayangkan suatu kebudayaan yang disokong banyak hal, desa, dalam beberapa hal, masih menjadi PR besar yang butuh partisipasi banyak pihak pula. Desa, tak boleh ditinggalkan!

Ekspresi Kota yang Semrawut

Naik ke lantai dua, terdapat beberapa instalasi yang menampilkan ekspresi kota urban. Keramaian ruang pameran memang bersumber dari beberapa karya instalasi di lantai ini. Ada musik disko, ada musik dj. Semua saling bertabrakan, seperti pasar malam—ramai dan penuh cahaya lampu.

Dari sekian banyak seni instalasi yang dipamerkan di lantai dua, entah kenapa, saya memilih karya bertajuk “Input Output” dan “Kabel Kusut”. Mungkin karena letaknya di dekat tangga, di satu sisi, mungkin juga karena tampilannya yang mudah dibaca, di sisi lainnya.

Input Output merupakan seni instalasi karya Duta Adipati (Jakarta). Karya ini terdiri dari besi, manekin, layar LED, pengeras suara, kabel, lampu LED, dan seni video. Instalasi ini termasuk bagian dari kuratorial Temujalar PKN 2023 sub program TARKAM. A.K.AP.

Di tangan Duta, manekin itu tampak ganjil. Bagian badan, tangan, dan kaki tak menyatu, terpisah seperti habis dimutilasi. Kabel lampu LED dililitkan di tubuh manekin, sedangkan di kanan kirinya, terdapat pengeras suara. Yang menarik, tepat di dada manekin, diletakkan dua buah telepon genggam yang menyala menampilkan seorang remaja lelaki yang sedang live TikTok. Tubuh manekin tampak ramai dengan kerlap-kerlip lampu LED, seperti warung-warung di pinggiran Jalan Pantura.

Seni instalasi “Input Output” karya Duta Adipati / Foto: Jaswan

Projek ini seolah hendak menyampaikan bahwa interaksi sosial dalam ruang publik, khususnya di kota urban, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh manusia. Ia lekat, menyatu, dan bahkan mempengaruhi. Duta, sebagai seniman, seolah mengajak kita untuk merenungkan dampak teknologi dan isolasi sosial yang diakibatkannya. Dan, saya rasa, ia juga memperlihatkan bagaimana hiburan masyarakat Jakarta yang didominasi oleh teknologi audiovisual.

Selain Input Output, Kabel Kusut juga mencoba merekam bagaimana Jakarta telah dijerat, dililit, diteror oleh kabel-kabel fiber optik yang menjuntai kusut dan tiang listrik yang miring ke jalananan. Kedua hal yang semrawut itu, ditampilkan secara artistik, apa adanya, oleh Reinaldy Firza dan Rama Hilal S (Jakarta). Sebagai seniman, mereka berdua menggambar sosok manusia tersengat listrik dan seorang lelaki yang berteriak, berekspresi ketakutan. Tak hanya itu, visual kabel-kabel semrawut dan tiang listri berwarna merah juga dihadirkan.

Seni instalasi “Kabel Kusut” karya Reinaldy Firza dan Rama Hilal S / Foto: Jaswan

Kabel Kusut mencoba menampilkan ekspresi visual dari isu-isu tersebut. Kedua seniman menggambarkan secara artistik kondisi yang membahayakan masyarakat di jalanan. Dan sama seperti Input Output, Kabel Kusut juga bagian dari sub program TARKAM A.K.AP kuratorial Temujalar PKN 2023.

Setelah melihat-lihat pameran seni instalasi Sedekah Bumi dan Temujalar, kita menjadi sadar bahwa desa dan kota sama-sama memiliki persoalannya masing-masing. Persoalan itu begitu kompleks, seperti sulit untuk dihindari, ditangani, dan dipecahkan. Solusi seperti ngumpet, terselip, di antara tumpukan persoalan kolektif manusia yang makin hari makin sulit diselesaikan.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

BACA artikel lain terkait PEKAN KEBUDAYAAN NASIONAL 2023 atau artikel lain yang ditulis JASWANTO

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur
“Dapur Bangsa”: Eksplorasi Kekayaan Kuliner Nusantara
“Nge-GLITCH?”: Pertempuran antara Tubuh Digital dan Tubuh Manusia
“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
Tags: apresiasi seniPameranPameran Seni Rupapekan kebudayaan nasionalSeni Instalasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Kiat Menulis dan Menerbitkan Buku” Bersama Gde Aryantha Soethama

Next Post

Puisi-puisi Rusdy Ulu | Keruh, Gelisah, Propaganda

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rusdy Ulu | Keruh, Gelisah, Propaganda

Puisi-puisi Rusdy Ulu | Keruh, Gelisah, Propaganda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co