24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nama-nama Pangkung  di Desa Pucaksari, Busungbiu : Sebuah Kajian Toponimi

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
July 5, 2024
in Esai
Nama-nama Pangkung  di Desa Pucaksari, Busungbiu : Sebuah Kajian Toponimi

Pangkung | IIl;ustrasi: Suar Adnyana

PANGKUNG merupakan tempat  aliran air diapit oleh dua buah tebing yang tinggi dan curam (Muliyadi, dkk., 2018). Definisi tersebut kurang pas untuk menggambarkan pangkung di  Desa Pucaksari.

Pangkung yang ada di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali, tidak selalu diapit oleh tebing  curam dan tinggi. Ada beberapa pangkung   diapit  dataran yang ketinggiannya landai.

Dahulu, pangkung yang ada di Desa Pucaksari masih ada aliran airnya tetapi sekarang beberapa pangkung sudah menjadi pangkung mati dan dialiri air ketika musim penghujan.

Adapun nama-nama pangkung yang ada di Desa Pucaksari adalah Pangkung Biu, Pangkung Sampi, Pangkung Bebek, Pangkung Kelantan,  Pangkung Kua, Pangkung Kejimas, dan Pangkung Lutung.

Nama-nama pangkung tersebut dapat ditelusuri dan dikaji dengan menggunakan kajian toponimi.

Toponimi adalah studi tentang nama-nama tempat, termasuk asal-usul, arti, penggunaan, dan perubahan nama-nama tersebut. Bidang ini merupakan cabang dari onomastik, yang merupakan studi umum tentang nama-nama.

Toponimi mencakup analisis etimologi, sejarah, dan geografi nama tempat, serta bagaimana nama-nama ini mencerminkan budaya, bahasa, dan sejarah daerah tersebut.

Beberapa aspek yang dipelajari dalam toponimi meliputi:

Etimologi: Meneliti asal-usul dan arti nama tempat. Ini sering kali melibatkan analisis linguistik untuk memahami kata-kata atau frasa asli yang digunakan.

Sejarah: Mempelajari perubahan nama tempat dari waktu ke waktu dan bagaimana faktor sejarah, politik, dan sosial mempengaruhi nama-nama tersebut.

Geografi: Mengeksplorasi hubungan antara nama tempat dan fitur geografis, seperti sungai, gunung, dan kota

Budaya dan Bahasa: Memahami bagaimana nama tempat mencerminkan budaya dan bahasa masyarakat yang digunakan oleh masyarakat. Ini bisa mencakup nama yang berasal dari bahasa asli, kolonial, atau campuran keduanya.

Penamaan pangkung di Desa Pucaksari lebih tepat dikaji secara etimologi dengan mengkaji asal-usul penamaan tempat tersebut.  

Nama pangkung yang ada di Desa Pucaksari diberikan berdasarkan pada fungsi dan binatang serta tumbuhan yang terdapat pada pangkung tersebut. Nama -nama pangkung tersebut

Pangkung Biu

Biu artinya pisang. Daerah ini terletak di Timur Banjar Adat Kutul, Desa Pucaksari. Untuk mencapai daerah ini menuruni perkebunan kopi yang kemiringannya cukup terjal.

Di sisi kiri dan kanan pangkung ini dahulunya banyak tumbuh pohon pisang (biu). Pohon pisang yang tumbuh kebanyakan pohon pisang lokal. Oleh karena itu, pangkung ini dinamakan “Pangkung Biu.”   

Pangkung Sampi

Sampi sama dengan sapi.  Letak daerah ini cukup terjal jika ditelusuri dari Banjar Adat Kutul, Desa Pucaksari.

Pangkung ini diapit oleh dua dataran tinggi. Berdasarkan informasi dari penduduk  Desa Pucaksari, dahulu beberapa penduduk Desa Pucaksari memelihara  sapi (dalam bahasa Bali disebut sampi).

Sapi dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membajak sawah. Sapi yang telah digunakan untuk membajak sawah, sebelum dibawa ke kandang dimandikan di aliran pangkung. Masyarakat menyebut pangkung tersebut “Pangkung Sampi”.

Pangkung Bebek

Asal-usul nama  Pangkung Bebek dapat ditelusuri dari fungsi pangkung tersebut. Pangkung Bebek dahulu difungsikan untuk mengandangkan bebek.

Masyarakat di sekitaran pangkung tersebut menempatkan bebeknya di aliran pangkung tersebut dengan memberi pembatas dengan anyaman bambu.

Anyaman bambu diletakkan di bagian atas dan bawah aliran pangkung sehingga bebeknya tidak bisa ke luar dari batas anyaman bambu. Masyarakat Desa Pucaksari menamai pangkung tersebut “Pangkung Bebek.”

Masyarakat di sekitaran Pangkung Bebek tidak mengetahui mengapa para orang tua dulu mengandangkan bebeknya di aliran Pangkung Bebek.

Pangkung Kua

Kua artina kura-kura. Pangkung Kua terletak di Dusun Tegalasih, Desa Pucaksari. Di pangkung ini ada banyak kekua [kƏkuƏ], ‘kura-kura’.

Kekua tersebut hidup di sepanjang aliran Pangkung Kua. Dengan banyaknya kekua yang ada di pangkung tersebut, masyarakat Desa Pucaksari memberi nama pangkung tersebut “Pangkung Kua.”

Ilustrasi Pangkung Kua | Ilustrasi oleh Suar Adnyana

Sampai saat ini, masyarakat di sekitaran Pangkung Kua sering menemukan kekua. Saat ini debit air yang ada di pangkung tersebut sangat kecil karena tidak ada lagi pohon besar yang tumbuh di sekitaran Pangkung Kua.

Pangkung Klantan.

Pangkung Klantan adalah nama pangkung yang berujung di Dusun Tegalasih, Desa Pucaksari. Pada ujung aliran pangkung ini, dibuat permandian umum oleh masyarakat Dusun Tegalasih.

Asal-usul nama pangkung ini berdasarkan informasi dari Putu Mekarjaya, aliran air  pangkung ini   dahulu cukup deras ‘nelantan’.

Nelantan artinya airnya mengalir deras tanpa hambatan. Karena aliran airnya yang cukup deras, masyarakat Desa Pucaksari menamai pangkung tersebut “Pangkung Kelantan.”

Pangkung ini saat ini dialiri air hanya ketika musim penghujan.

Pangkung Kejimas

Pangkung ini terletak di Dusun Beteng, Desa Pucaksari. Dahulu,  di sekitaran pangkung ini banyak pohon kejimas (bahasa Latinnya adalah  duabanga mollucana).

Kejimas termasuk  Famili Sonneratia. Kayu Kejimas  adalah jenis kayu yang dapat menyimpan air. Dengan banyaknya kayu kejimas yang tumbuh di sekitaran pangkung, masyarakat menamakan pangkung tersebut “Pangkung Kejimas.”

Pangkung Lutung

Pangkung ini melintasi Dusun Batu Megaang, Desa Pucaksari. Hulu dari pangkung ini adalah di dataran tinggi yang berada di atas Dusun Batu Megaang.

Air Pangkung Lutung tetap mengalir walaupun pada musim kemarau. Masyarakat Dusun  Batu Megaang, Desa Pucaksari memanfaatkan aliran air Pangkung Lutung untuk mengairi persawahan.

Di sekitaran aliran pangkung banyak ditemukan monyet (bahasa Balinya lutung ‘ monyet jantan’) sehingga masyarakat Desa Pucaksari menamai pangkung tersebut ‘Pangkung Lutung.” [T]

Baca artikel lain dari penulis SUAR ADNYANA

Subatah, Makanan Unik: Di Desa Pucaksari Subatah Biasa Digoreng, juga Bisa Di-nyatnyat
Gorengan Ores, Makanan Khas Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng
Patus: The Chef ala Masyarakat Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les
Tags: BusungbiuDesa Pucaksarilingkunganpangkungtopnimi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Bulan Kerinduan

Next Post

Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Pameran Makanan dari Lontar Dharma Caruban | Catatan Pameran Olahan Makanan Prodi Pendidikan Bahasa Bali Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co