14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
July 3, 2024
in Khas
Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Mistaji menyelam ditengah keruhnya air | Dok. PDAM Buleleng 2020

TUTURNYA tumpah ketika lelaki paruh baya itu duduk beristirahat di depan gedung teknik kantor Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng—dulu disebut dengan nama PDAM Buleleng. Lelaki yang berusia setengah abad itu kembali mengingat masa-masa mudanya yang penuh dengan usaha serta keringat yang tiada habisnya.

Benar. Usianya kini menginjak 57 tahun, setengah abad perjalanan hidupnya telah menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di negeri ini, salah satunya krisis moneter di tahun 1998. Kerutan di wajahnya, rambut putih menutup rambut hitamnya, semua hal itu tidak bisa ditutupi lagi keberadaannya.

“Nama saya Mistaji, tapi di sini lebih akrab disapa Mas Taji,” begitu ia memperkenalkan diri. Berawal dari tahun 1988 akhir, Mistaji muda memulai tekatnya merantau hingga berlabuh ke Pulau Dewata. “Di rumah (Jawa) saya tidak punya apa-apa, jadi harus merantau,” katanya mengingat salah satu kenangan penting dalam hidupnya.

Ia kembali bercerita. Pendidikan terakhinya hanya SMA. “Kebetulan, tetangga yang punya kerjaan pemborong, buka jasa gali, jadi saya ikut di sana.” Bisa dibilang, peristiwa tersebut yang menjadikan Taji muda memulai bekerja sebagai seorang tukang gali.

Mistaji mengerjakan pipa di Jalan Pulau Timor | Foto: Pande

Taji tidak memiliki teknik khusus dalam hal gali-menggali. Ia hanya memiliki tekat dan modal keberanian saja—juga kepercayaan diri yang lumayan. Dengan semua itu, ia mampu menunjukkan jika ia bisa mengerjakan hal tersebut. “Saya tidak punya teknik apa-apa, modal pendidikan SMA jadi analisa sendiri saja,” katanya dengan tegas.

Selanjutnya, proyek Ground Water Tank di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali menjadi proyek  awal yang cukup besar baginya. Dari pengalaman tersebut, ia mendapat pekerjaan di Gianyar, tepatnya di Desa Blahbatuh, dengan proyek pemasangan pipa sambungan baru ke rumah-rumah.

Berbekal alat-alat seadanya, Taji menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dari Desa Blahbatuh menuju Desa Bona. Perjalanan itu, tuturnya, memakan waktu yang cukup lama, berangkat di pagi hari, tengah hari pukul 12.00 siang baru sampai.

“Nah, ini lucu, orang-orang bilang desa itu dekat, makanya saya jalan kaki. Di setiap tikungan saya tanya ke warga, jawabanya selalu sama, dekat itu. Eh, padahal, kenyatannya itu jauh, saya berjalan sampai tengah hari,” katanya sembari menertawakan diri sendiri.

Meski hanya diberi imbalan Rp. 15.000, Taji tetap melanjutkan pekerjaannya, itu bukan masalah. Baginya, beberapa pengalaman tersebut akan ia jadikan sebagai ilmu di kemudian hari.

Di Desa Tihingan, Klungkung, ia kembali menambah dan mengasah keahliannya. Hanya saja, selama 3 bulan itu, ia menjadi tukang gali, bukan penyambung pipa. Harap maklum, dulu, seorang pemasang sambungan pipa baru memang perlu pengalaman yang banyak, di sisi lain persaingan juga bisa dibilang begitu sulit. Karena itulah, Taji bahkan sempat kembali ke kampung halamannya dengan harapan mendapat kesempatan lebih, namun ternyata lebih sulit bersaing di rumah sendiri.

Dan pada akhir tahun 1989, salah seorang sahabatnya dari Yogyakarta, mengajak Taji kembali berlabuh di Pulau Dewata. Pendaratannya kala itu jatuh pada proyek pertama provinsi dalam pemasangan pipa induk 3 dim di Kecamatan Gerokgak. Ketika itu, sebagai tukang gali, Taji mendapat upah Rp. 75.000. Tahun itu, uang segitu sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dulu, Taji bercerita, sebelum proyek pipa 3 dim tersebut dikerjakan, proses penggalian sudah dilakukan jauh-jauh hari terlebih dahulu. Kata Taji, penggalian tersebut dilakukan pada saat petani baru mulai menanam jagung. Tapi sampai jagung itu panen dan petani kembali lagi menanam jagung, pipa-pipa tersebut belum juga diturunkan.

Bagi Taji, pekerjaan menggali itu tidak lah seberapa, barang tiga sampai empat hari sudah selesai, tergantung panjang proyek. Ia mengaku, bekerja menjadi tukang gali itu uangnya lebih banyak daripada bekerja menjadi tukang becak, misalnya.

Mistaji berjuang memperbaiki kebocoran pipa | Dok. PDAM Buleleng 2020

Menjadi tukang gali, menurut Taji, merupakan kesenangan tersendiri. “Senangnya itu ada artinya, dengan memperhatikan setiap orang bekerja, saya bisa mendapat ilmu secara cuma-cuma, belajarnya bisa gratis,” katanya.

Taji kembali menceritakan masa lalunya. Di benak dan pikirannya, CV. Prana Indah dan sosok bernama Sugiono masih begitu melekat—dan tak akan pernah ia lupakan. Kata Taji, dulu, meski banyak saingan, CV. Prana Indah menjadi tempat usaha pemasangan pipa yang laris dan terkenal. Pekerjaan CV tersebut dinilai lebih bagus dari yang lain dan tepat waktu dalam hal proyek pemasangan pipa.

“CV itu paling eksis pokoknya, kenyataan seperti itu. Saya termasuk tenaganya,” tuturnya dengan penuh percaya diri. Namun, pada tahun 1992, Taji mengalami hal yang tidak mengenakkan saat bekerja di CV. Prana Indah.

Taji bercerita, ketika itu ia sedang mengerjakan perbaikan pipa di Banyuning tepat di bulan Maret, berbarengan dengan HUT Kota Singaraja. Kondisi jalan utama di Banyuning—kini tepat di depan Toko Bangunan Adisika—telah dipenuhi kerukan lubang yang cukup dalam.

Waktu itu, Camat Buleleng ingin lewat, namun karena pekerjaan pemasangan pipa tersebut, perjalanannya menjadi terhambat. Dasar apes, camat itu melapor ke kantor tempat Taji bekerja. Karena itu, Taji harus dimarahi atasannya dan pada akhirnya dipecat dari pekerjaan yang ia banggakan tersebut. Meski usianya tergolong renta, tapi ingatan Taji tentang hal tersebut seperti masih sangat segar.

Pada saat dipecat, Taji merasa kalang kabut. Ia mencoba berkeliling dan mulai bertanya-bertanya ke beberapa CV yang ada untuk melamar pekerjaan, namun sayangnya tidak ada yang mau menerimanya karena beberapa CV sudah memiliki tenaga masing-masing.

Kepanikannya mencari pekerjaan membuatnya nyaris menyerah. Dengan sisa upah yang ia dapat, Taji mencoba membeli sepeda dan rombong untuk berjualan bakso. Namun hal itu ternyata tak bertahan lama.

Taji mencoba berbagai macam pekerjaan, tapi hasilnya nihil. Satu hal yang sering ditanyakan bos-bos itu kepada Taji saat melamar pekerjaan adalah “Kamu punya sepeda motor tidak?” Pada akhirnya, keterpurukan itu membawanya kembali pulang ke tanah kelahiran.

Ia pulang untuk meminta uang kepada keluarganya di kampung. Uang itu ia belikan sepeda motor “GL” yang sampai sekarang masih menemani hari-harinya bekerja. Tak berselang lama, sosok bernama Ketut Rana, bosnya dulu, membawa Taji kembali ke Singaraja, meski perusahaan miliki Rana mulai banyak macetnya.

***

Dulu, proyek pemasangan pipa memang banyak sekali, bahkan lokasinya hampir di seluruh Kabupaten Buleleng. Waktu itu, menurut Taji, belum begitu banyak tenaga kerja, sangat jauh berbeda dengan zaman sekarang. Taji masih menjadi sosok paling dominan dalam mengerjakan beberapa pekerjaan penting terkait pemasangan maupun memperbaiki kebocoran.

“Dari kantor pusat di Singaraja, Seririt, Kubutambahan, Gerokgak, Busungbiu, bahkan Pancasari, bukan sombong ya, itu lebih banyak saya yang mengerjakan,” tuturnya dengan bangga.

Di Singaraja, jaringan pipa telah menjadi kawannya sedari dulu. Jika disuruh mengingat atau ditanya mengenai jaringan pipa di tengah Kota Singaraja, Taji memvalidasi dirinya dengan kata lumayan hafal. “Kalau 100% tahu posisinya, tentu mustahil, sudah lumayan lupa, apalagi perbaikan itu tidak hanya saya yang mengerjakan,” katanya.

Mistaji memperbaiki kebocoran pipa | Foto: Pande

Jalan Ahmad Yani, seingat Taji, ketika untuk pertama kali Taji menginjakkan kaki di Singaraja, pipa itu masih berdampingan dengan got, namun sekarang ini pipanya sudah mulai dipindahkan minimal 3-4 meter dari jarak trotoar. Kini, keberadaanya justru berada di tengah jalan raya, kedalamannya pun hingga 1,3 sampai 1,4 meter ke bawah.

Di balik penatnya, Taji ternyata juga memiliki jiwa solutif. Tak hanya memikirkan bongkar pasang pipa saja, kerap kali ia juga memikirkan tantangan besar ke depan, utamanya saat ia memikirkan sambungan pipa di Jalan Dewi Sartika, Kartini, Teleng, Merak, Imam bonjol, dan Patimura.

Di jalan-jalan yang disebutkan, beberapa pipa besi dan pipa pvc baru masih begitu semrawut dan tak kunjung selesai untuk dirapikan. Bagi Taji, solusi sementara, ketika ada pemasangan sambungan baru, jika pengambilannya dari pipa besi, langsung saja dipindahkan ke pipa pvc. Secara tidak langsung, sedikit demi sedikit itu akan dapat teratasi.

“Saya anggap, Jalan Dewi Sartika itu paling ribet, paling susah. Kalau ada kebocoran di sana, airnya susah untuk dimatikan. Kadang, sudah dimatikan masih ada saja air yang mengalir, susah, entah dari mana datangnya,” tutur Taji begitu serius.

Tantangan terbesar bagi seorang pekerja sambung pipa, menurut Taji, harus mau bergulat dengan air bercampur tanah yang semakin cepat mengisi lubang galian perbaikan pipa. Dulu, alat tidak ada yang canggih seperti sekarang, tidak ada pompa sedot yang membuat air sangat sulit untuk dikuras.

“Menyelam, ya cuma itu cara satu-satunya, modalnya cuma meraba-raba pipa, gergaji, dan pasang pipa. Cuma pakai perasaan saja, kalau habis napasnya, naik lagi ngambil napas,” tuturnya sembari memperagakan gaya turunnya menyelami air bercampur tanah.

Taji menganggap zaman sekarang sudah sangat enak. Para pekerja tidak perlu menyelam lagi karena sudah dimudahkan dengan pompa sedot. Dulu hanya bermodalkan hammer (palu besar) dan betel. Tetapi, meski demikian, menurut Taji, sangat perlu menggunakan pompa tersebut, apalagi jika terbentur kondisi waktu, tuntutan konsumen agar tidak terlalu lama.

“Di Kampung Tinggi, di dekat Eks Pelabuhan itu, kalau tidak salah, dalam galiannya sampai 2 meter. Nah, saya nyilem untuk memperbaiki pipa 10 dim. Pasang pipa dan memotongnya ya sambil nyilem. Di sana airnya tidak mau mati, dikuras dateng lagi, dikuras dateng lagi,” tutur Taji dengan begitu serius.

Pernah suatu kali ia negen (memikul) pipa sendirian, pipa pvc 6 dim, 6 meter panjangnya, di sebuah jembatan di daerah Bangkiang Sidem. “Kalau toleh kiri-kanan ngeri itu,” terangnya. Menurut Taji, sebelah timur dari tempat itu ada sebuah tebing tinggi.

Di jembatan Bangkiang Sidem Taji mencoba memperbaiki pipa trasmisi yang lama. Awalnya jembatan tersebut baik-baik saja, namun setelah pipa yang ia kerjakan rampung, sejam setelahnya jembatan tersebut jebol.

“Ketika itu ada orang Surabaya yang badannya gede dan heran sama saya. Katanya, Pak Taji itu orangnya kecil, tapi berani, kuat, dan cerdik. Itu semua dia yang mengatakan, bukan saya sombong atau gimana, kebetulan dia sudah sering ketemu pekerja dan tumben baru sekali ini ketemu orang seperti saya,” tuturnya dengan bangga.

Mistaji sedang menyelam memperbaiki pipa kebocoran | Dok. PDAM Buleleng 2020

Meski cukup lama menjadi tukang sambung pipa, Taji tetap merasa penat. Selama ini Taji telah memperbaiki pipa dari ujung barat Buleleng di Gerokgak sampai ujung timur Buleleng di Sambirenteng.

Taji manusia biasa, tidak bisa terbang dari satu wilayah ke wilayah lainnya dalam sekejap, hingga ia menyarankan Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng untuk menambah tenaga bantu untuk ditaruh di setiap cabang. “Kebocoran semakin banyak, perlu menambah pekerja. Penambahan tenaga kerja itu membuat saya lebih fokus untuk menangani permasalahan di kota saja—itu pun sudah kewalahan sekali,” ujar Taji.

Kegigihan Taji membanting tulang selama ini semata untuk menafkahi istri dan ketiga anaknya. Istri tercintanya ikut mencari pundi-pundi rupiah dengan bekerja sebagai tukang jahit rumahan.

Di usianya saat ini, Taji sering memberi bekal ilmu kepada para pekerja baru, atau mereka yang meminta bagaimana caranya menyambung pipa dengan benar. “Saya tidak akan pernah rakus masalah pekerjaan. Kalau ilmu itu cocok, saya silakan gunakan,” tuturnya.

Pekerja-pekerja muda ingin sekali diberi tahu Taji tentang bagaimana teori-teori bekerja. Mendapati hal tersebut, Taji menjadi senang. Ia memiliki pikiran, jika seandainya nanti ia tidak ada, beberapa pekerjaan bisa lebih dikondisikan.

Taji berharap, setiap orang yang melihatnya bekerja tidak sekadar datang hanya untuk melihat saja, tapi juga memperhatikannya. Tenaga kerja saat ini benar-benar butuh pendorong untuk lebih inisiatif, kebanyakan pekerja sekarang tidak punya gagasannya sendiri.

“Saya menganggap itu sebagai konsultasi gratis. Saya senang berbagi ilmu, saya sangat beruntung jika ada yang mau meminta ilmu, saya akan bangga menjadi orang yang berguna,” katanya dengan bangga. Taji berkata, nasibnya sebagai tukang sambung pipa mungkin tersisa 5 tahun ke depan, sebelum ia memilih untuk mengistirahatkan diri di masa purna tugasnya.[T]

Reporter: Pande Putu Jana Wijnyana
Penulis: Pande Putu Jana Wijnyana
Editor: Jaswanto

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja
Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah
Suka Duka Pembaca Water Meter PDAM: Diprotes Pelanggan, Digigit Anjing, sampai Bertemu Ular pun Sudah Biasa
Tags: PDAM BulelengPerumda Air Minum Tirta Hita Bulelengtukang sambung pipa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asmaraloka: Antologi Cinta yang Tak Biasa

Next Post

Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co