24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Pande Putu Jana Wijnyana by Pande Putu Jana Wijnyana
July 3, 2024
in Khas
Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Mistaji menyelam ditengah keruhnya air | Dok. PDAM Buleleng 2020

TUTURNYA tumpah ketika lelaki paruh baya itu duduk beristirahat di depan gedung teknik kantor Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng—dulu disebut dengan nama PDAM Buleleng. Lelaki yang berusia setengah abad itu kembali mengingat masa-masa mudanya yang penuh dengan usaha serta keringat yang tiada habisnya.

Benar. Usianya kini menginjak 57 tahun, setengah abad perjalanan hidupnya telah menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di negeri ini, salah satunya krisis moneter di tahun 1998. Kerutan di wajahnya, rambut putih menutup rambut hitamnya, semua hal itu tidak bisa ditutupi lagi keberadaannya.

“Nama saya Mistaji, tapi di sini lebih akrab disapa Mas Taji,” begitu ia memperkenalkan diri. Berawal dari tahun 1988 akhir, Mistaji muda memulai tekatnya merantau hingga berlabuh ke Pulau Dewata. “Di rumah (Jawa) saya tidak punya apa-apa, jadi harus merantau,” katanya mengingat salah satu kenangan penting dalam hidupnya.

Ia kembali bercerita. Pendidikan terakhinya hanya SMA. “Kebetulan, tetangga yang punya kerjaan pemborong, buka jasa gali, jadi saya ikut di sana.” Bisa dibilang, peristiwa tersebut yang menjadikan Taji muda memulai bekerja sebagai seorang tukang gali.

Mistaji mengerjakan pipa di Jalan Pulau Timor | Foto: Pande

Taji tidak memiliki teknik khusus dalam hal gali-menggali. Ia hanya memiliki tekat dan modal keberanian saja—juga kepercayaan diri yang lumayan. Dengan semua itu, ia mampu menunjukkan jika ia bisa mengerjakan hal tersebut. “Saya tidak punya teknik apa-apa, modal pendidikan SMA jadi analisa sendiri saja,” katanya dengan tegas.

Selanjutnya, proyek Ground Water Tank di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali menjadi proyek  awal yang cukup besar baginya. Dari pengalaman tersebut, ia mendapat pekerjaan di Gianyar, tepatnya di Desa Blahbatuh, dengan proyek pemasangan pipa sambungan baru ke rumah-rumah.

Berbekal alat-alat seadanya, Taji menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dari Desa Blahbatuh menuju Desa Bona. Perjalanan itu, tuturnya, memakan waktu yang cukup lama, berangkat di pagi hari, tengah hari pukul 12.00 siang baru sampai.

“Nah, ini lucu, orang-orang bilang desa itu dekat, makanya saya jalan kaki. Di setiap tikungan saya tanya ke warga, jawabanya selalu sama, dekat itu. Eh, padahal, kenyatannya itu jauh, saya berjalan sampai tengah hari,” katanya sembari menertawakan diri sendiri.

Meski hanya diberi imbalan Rp. 15.000, Taji tetap melanjutkan pekerjaannya, itu bukan masalah. Baginya, beberapa pengalaman tersebut akan ia jadikan sebagai ilmu di kemudian hari.

Di Desa Tihingan, Klungkung, ia kembali menambah dan mengasah keahliannya. Hanya saja, selama 3 bulan itu, ia menjadi tukang gali, bukan penyambung pipa. Harap maklum, dulu, seorang pemasang sambungan pipa baru memang perlu pengalaman yang banyak, di sisi lain persaingan juga bisa dibilang begitu sulit. Karena itulah, Taji bahkan sempat kembali ke kampung halamannya dengan harapan mendapat kesempatan lebih, namun ternyata lebih sulit bersaing di rumah sendiri.

Dan pada akhir tahun 1989, salah seorang sahabatnya dari Yogyakarta, mengajak Taji kembali berlabuh di Pulau Dewata. Pendaratannya kala itu jatuh pada proyek pertama provinsi dalam pemasangan pipa induk 3 dim di Kecamatan Gerokgak. Ketika itu, sebagai tukang gali, Taji mendapat upah Rp. 75.000. Tahun itu, uang segitu sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dulu, Taji bercerita, sebelum proyek pipa 3 dim tersebut dikerjakan, proses penggalian sudah dilakukan jauh-jauh hari terlebih dahulu. Kata Taji, penggalian tersebut dilakukan pada saat petani baru mulai menanam jagung. Tapi sampai jagung itu panen dan petani kembali lagi menanam jagung, pipa-pipa tersebut belum juga diturunkan.

Bagi Taji, pekerjaan menggali itu tidak lah seberapa, barang tiga sampai empat hari sudah selesai, tergantung panjang proyek. Ia mengaku, bekerja menjadi tukang gali itu uangnya lebih banyak daripada bekerja menjadi tukang becak, misalnya.

Mistaji berjuang memperbaiki kebocoran pipa | Dok. PDAM Buleleng 2020

Menjadi tukang gali, menurut Taji, merupakan kesenangan tersendiri. “Senangnya itu ada artinya, dengan memperhatikan setiap orang bekerja, saya bisa mendapat ilmu secara cuma-cuma, belajarnya bisa gratis,” katanya.

Taji kembali menceritakan masa lalunya. Di benak dan pikirannya, CV. Prana Indah dan sosok bernama Sugiono masih begitu melekat—dan tak akan pernah ia lupakan. Kata Taji, dulu, meski banyak saingan, CV. Prana Indah menjadi tempat usaha pemasangan pipa yang laris dan terkenal. Pekerjaan CV tersebut dinilai lebih bagus dari yang lain dan tepat waktu dalam hal proyek pemasangan pipa.

“CV itu paling eksis pokoknya, kenyataan seperti itu. Saya termasuk tenaganya,” tuturnya dengan penuh percaya diri. Namun, pada tahun 1992, Taji mengalami hal yang tidak mengenakkan saat bekerja di CV. Prana Indah.

Taji bercerita, ketika itu ia sedang mengerjakan perbaikan pipa di Banyuning tepat di bulan Maret, berbarengan dengan HUT Kota Singaraja. Kondisi jalan utama di Banyuning—kini tepat di depan Toko Bangunan Adisika—telah dipenuhi kerukan lubang yang cukup dalam.

Waktu itu, Camat Buleleng ingin lewat, namun karena pekerjaan pemasangan pipa tersebut, perjalanannya menjadi terhambat. Dasar apes, camat itu melapor ke kantor tempat Taji bekerja. Karena itu, Taji harus dimarahi atasannya dan pada akhirnya dipecat dari pekerjaan yang ia banggakan tersebut. Meski usianya tergolong renta, tapi ingatan Taji tentang hal tersebut seperti masih sangat segar.

Pada saat dipecat, Taji merasa kalang kabut. Ia mencoba berkeliling dan mulai bertanya-bertanya ke beberapa CV yang ada untuk melamar pekerjaan, namun sayangnya tidak ada yang mau menerimanya karena beberapa CV sudah memiliki tenaga masing-masing.

Kepanikannya mencari pekerjaan membuatnya nyaris menyerah. Dengan sisa upah yang ia dapat, Taji mencoba membeli sepeda dan rombong untuk berjualan bakso. Namun hal itu ternyata tak bertahan lama.

Taji mencoba berbagai macam pekerjaan, tapi hasilnya nihil. Satu hal yang sering ditanyakan bos-bos itu kepada Taji saat melamar pekerjaan adalah “Kamu punya sepeda motor tidak?” Pada akhirnya, keterpurukan itu membawanya kembali pulang ke tanah kelahiran.

Ia pulang untuk meminta uang kepada keluarganya di kampung. Uang itu ia belikan sepeda motor “GL” yang sampai sekarang masih menemani hari-harinya bekerja. Tak berselang lama, sosok bernama Ketut Rana, bosnya dulu, membawa Taji kembali ke Singaraja, meski perusahaan miliki Rana mulai banyak macetnya.

***

Dulu, proyek pemasangan pipa memang banyak sekali, bahkan lokasinya hampir di seluruh Kabupaten Buleleng. Waktu itu, menurut Taji, belum begitu banyak tenaga kerja, sangat jauh berbeda dengan zaman sekarang. Taji masih menjadi sosok paling dominan dalam mengerjakan beberapa pekerjaan penting terkait pemasangan maupun memperbaiki kebocoran.

“Dari kantor pusat di Singaraja, Seririt, Kubutambahan, Gerokgak, Busungbiu, bahkan Pancasari, bukan sombong ya, itu lebih banyak saya yang mengerjakan,” tuturnya dengan bangga.

Di Singaraja, jaringan pipa telah menjadi kawannya sedari dulu. Jika disuruh mengingat atau ditanya mengenai jaringan pipa di tengah Kota Singaraja, Taji memvalidasi dirinya dengan kata lumayan hafal. “Kalau 100% tahu posisinya, tentu mustahil, sudah lumayan lupa, apalagi perbaikan itu tidak hanya saya yang mengerjakan,” katanya.

Mistaji memperbaiki kebocoran pipa | Foto: Pande

Jalan Ahmad Yani, seingat Taji, ketika untuk pertama kali Taji menginjakkan kaki di Singaraja, pipa itu masih berdampingan dengan got, namun sekarang ini pipanya sudah mulai dipindahkan minimal 3-4 meter dari jarak trotoar. Kini, keberadaanya justru berada di tengah jalan raya, kedalamannya pun hingga 1,3 sampai 1,4 meter ke bawah.

Di balik penatnya, Taji ternyata juga memiliki jiwa solutif. Tak hanya memikirkan bongkar pasang pipa saja, kerap kali ia juga memikirkan tantangan besar ke depan, utamanya saat ia memikirkan sambungan pipa di Jalan Dewi Sartika, Kartini, Teleng, Merak, Imam bonjol, dan Patimura.

Di jalan-jalan yang disebutkan, beberapa pipa besi dan pipa pvc baru masih begitu semrawut dan tak kunjung selesai untuk dirapikan. Bagi Taji, solusi sementara, ketika ada pemasangan sambungan baru, jika pengambilannya dari pipa besi, langsung saja dipindahkan ke pipa pvc. Secara tidak langsung, sedikit demi sedikit itu akan dapat teratasi.

“Saya anggap, Jalan Dewi Sartika itu paling ribet, paling susah. Kalau ada kebocoran di sana, airnya susah untuk dimatikan. Kadang, sudah dimatikan masih ada saja air yang mengalir, susah, entah dari mana datangnya,” tutur Taji begitu serius.

Tantangan terbesar bagi seorang pekerja sambung pipa, menurut Taji, harus mau bergulat dengan air bercampur tanah yang semakin cepat mengisi lubang galian perbaikan pipa. Dulu, alat tidak ada yang canggih seperti sekarang, tidak ada pompa sedot yang membuat air sangat sulit untuk dikuras.

“Menyelam, ya cuma itu cara satu-satunya, modalnya cuma meraba-raba pipa, gergaji, dan pasang pipa. Cuma pakai perasaan saja, kalau habis napasnya, naik lagi ngambil napas,” tuturnya sembari memperagakan gaya turunnya menyelami air bercampur tanah.

Taji menganggap zaman sekarang sudah sangat enak. Para pekerja tidak perlu menyelam lagi karena sudah dimudahkan dengan pompa sedot. Dulu hanya bermodalkan hammer (palu besar) dan betel. Tetapi, meski demikian, menurut Taji, sangat perlu menggunakan pompa tersebut, apalagi jika terbentur kondisi waktu, tuntutan konsumen agar tidak terlalu lama.

“Di Kampung Tinggi, di dekat Eks Pelabuhan itu, kalau tidak salah, dalam galiannya sampai 2 meter. Nah, saya nyilem untuk memperbaiki pipa 10 dim. Pasang pipa dan memotongnya ya sambil nyilem. Di sana airnya tidak mau mati, dikuras dateng lagi, dikuras dateng lagi,” tutur Taji dengan begitu serius.

Pernah suatu kali ia negen (memikul) pipa sendirian, pipa pvc 6 dim, 6 meter panjangnya, di sebuah jembatan di daerah Bangkiang Sidem. “Kalau toleh kiri-kanan ngeri itu,” terangnya. Menurut Taji, sebelah timur dari tempat itu ada sebuah tebing tinggi.

Di jembatan Bangkiang Sidem Taji mencoba memperbaiki pipa trasmisi yang lama. Awalnya jembatan tersebut baik-baik saja, namun setelah pipa yang ia kerjakan rampung, sejam setelahnya jembatan tersebut jebol.

“Ketika itu ada orang Surabaya yang badannya gede dan heran sama saya. Katanya, Pak Taji itu orangnya kecil, tapi berani, kuat, dan cerdik. Itu semua dia yang mengatakan, bukan saya sombong atau gimana, kebetulan dia sudah sering ketemu pekerja dan tumben baru sekali ini ketemu orang seperti saya,” tuturnya dengan bangga.

Mistaji sedang menyelam memperbaiki pipa kebocoran | Dok. PDAM Buleleng 2020

Meski cukup lama menjadi tukang sambung pipa, Taji tetap merasa penat. Selama ini Taji telah memperbaiki pipa dari ujung barat Buleleng di Gerokgak sampai ujung timur Buleleng di Sambirenteng.

Taji manusia biasa, tidak bisa terbang dari satu wilayah ke wilayah lainnya dalam sekejap, hingga ia menyarankan Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng untuk menambah tenaga bantu untuk ditaruh di setiap cabang. “Kebocoran semakin banyak, perlu menambah pekerja. Penambahan tenaga kerja itu membuat saya lebih fokus untuk menangani permasalahan di kota saja—itu pun sudah kewalahan sekali,” ujar Taji.

Kegigihan Taji membanting tulang selama ini semata untuk menafkahi istri dan ketiga anaknya. Istri tercintanya ikut mencari pundi-pundi rupiah dengan bekerja sebagai tukang jahit rumahan.

Di usianya saat ini, Taji sering memberi bekal ilmu kepada para pekerja baru, atau mereka yang meminta bagaimana caranya menyambung pipa dengan benar. “Saya tidak akan pernah rakus masalah pekerjaan. Kalau ilmu itu cocok, saya silakan gunakan,” tuturnya.

Pekerja-pekerja muda ingin sekali diberi tahu Taji tentang bagaimana teori-teori bekerja. Mendapati hal tersebut, Taji menjadi senang. Ia memiliki pikiran, jika seandainya nanti ia tidak ada, beberapa pekerjaan bisa lebih dikondisikan.

Taji berharap, setiap orang yang melihatnya bekerja tidak sekadar datang hanya untuk melihat saja, tapi juga memperhatikannya. Tenaga kerja saat ini benar-benar butuh pendorong untuk lebih inisiatif, kebanyakan pekerja sekarang tidak punya gagasannya sendiri.

“Saya menganggap itu sebagai konsultasi gratis. Saya senang berbagi ilmu, saya sangat beruntung jika ada yang mau meminta ilmu, saya akan bangga menjadi orang yang berguna,” katanya dengan bangga. Taji berkata, nasibnya sebagai tukang sambung pipa mungkin tersisa 5 tahun ke depan, sebelum ia memilih untuk mengistirahatkan diri di masa purna tugasnya.[T]

Reporter: Pande Putu Jana Wijnyana
Penulis: Pande Putu Jana Wijnyana
Editor: Jaswanto

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Kadek Merta, Tentang Jukut Rambanan, Cinta, dan Gerobak Silver di Jalan A Yani Singaraja
Belajar dari Natalia, Perempuan yang Hobi Donor Darah
Suka Duka Pembaca Water Meter PDAM: Diprotes Pelanggan, Digigit Anjing, sampai Bertemu Ular pun Sudah Biasa
Tags: PDAM BulelengPerumda Air Minum Tirta Hita Bulelengtukang sambung pipa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Asmaraloka: Antologi Cinta yang Tak Biasa

Next Post

Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Pande Putu Jana Wijnyana

Pande Putu Jana Wijnyana

Mahasiswa STAH Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co