12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
July 3, 2024
in Ulas Pentas
Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Arja Sewagati dari Jembrana | Foto: Ist

DALAM dunia teater modern, di Yogyakarta, sejak beberapa tahun terakhir ini, para dramawan gandrung melakukan kegiatan seni yang diberi nama dramatic reading.

Dramatic reading secara sederhana adalah pembacaan dramatik. Aktor membaca naskah drama secara dramatik, kadang diiringi musik, dan ditonton, sehingga pembacaan dramatik bisa disebut sebagai varian baru seni pertunjukan.

Di Bali, dalam dunia teater modern, dramatic reading tampaknya belum begitu populer. Istilah itu masih asing. Namun pada praktiknya, sesungguhnya, dramatic reading dilakukan  sejak lama, dan justru biasa dilakukan dalam dunia sastra klasik dan dunia pertunjukan teater tradisional semacam arja.

Jika sempat menonton Arja Sewagati di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Selasa, 2 Juli 2024, maka akan ditemukan sejumlah kemiripan antara dramatic reading yang dikenal belakangan ini dengan permainan Arja Sewagati itu.

Arja Sewagati dimainkan Sanggar Seni Arja Kerthi Winangun, Kecamatan Negara, Duta Kabupaten Jembrana, Bali bagian barat, dalam program Rekasadana (pergelaran) serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2024.

Para pemain dalam arja itu tidak bermain sebagaimana arja atau sebagaiaman teater klasik Bali  pada umumnya. Para pemain Arja Siwagati duduk di atas panggung. Mereka duduk bersama dengan pemain gamelan atau musik. Duduk dalam bahasa Bali disebut negak. Maka arja itu biasa juga disebut arja negak atau arja duduk.

Arja sewagati, arja negak dari Jembrana | Foto: Ist

Dalam posisi duduk, para pemain itu melantunkan tembang Sewagati khas Kabupaten Jembrana. Mereka hanya menggerakan badan sesekali dan menggerakkan tangan. Ekspresi wajah tetap dimainkan sesusi peran yang dimainkan. Pemain arja itu tetap mengenakan busana tari seperti kostum dramatari arja biasanya.

Arja ini bisa dikatakan sedang mempertunjukkan dramatic reading sebagaimana dilakukan para aktor dalam teater modern.  Dalam dunia teater modern, secara sederhana dramatic reading bertujuan untuk melisankan naskah-naskah teater, dengan harapan aktor bisa belajar memahami naskah, dan penulis naskah bisa belajar dari proses pelisanan oleh para aktor.

Penulis menjadi tahu, di mana kelemahan naskahnya jika sudah dilisankan. Dan hingga kini, di Yogyakarta, proses pembelajaran seperti itu terus berlangsung bahkan pembacaan dramatik sudah bisa dianggap sebagai pementasan yang bisa ditonton, dikritik, dan disukai.

Dalam arja negak, barangkali ada hal-hal yang berbeda, namun prosesnya bisa disebut mirip. Pemain pada arja negak tidak membaca naskah dalam bentuk lembaran kertas atau lontar, melainkan menghapalkannya. Hal ini dilakukan barangkali karena kesadaran mereka berada di atas panggung untuk ditinton. Namun, praktik yang mirip, arja negak dalam kelompok pesantian (kelompok apresiasi sastra klasik)—ketika mereka hadir dalam hajatan upacara agama misalnya—mereka biasanya membaca naskah dalam bentuk buku atau ada yang sekalian membawa lontar.  

Dramatic reading pada teater modern biasanya membaca naskah teater yang baru ditulis, atau kadang belum pernah dipentaskan di atas panggung. Namun pada arja negak, mereka memainkan naskah sastra klasik yang ditulis dalam lontar atau sudah disalin dalam buku dari kertas.

Dramatic reading di kalangan teater modern dilakukan dengan membaca naskah secara dramatik sesuai dengan sifat-sifat drama pada teater modern, maka arja negak juga memainkan naskah secara dramatik sesuai sifat-sifat drama pada arja. Mereka berdialog dan bernyanyi.  

Arja Sewagati bersumber dari lontar Sewagati yang berisi sastra geguritan dengan tembang sinom siwagati khas Jembrana.  Lakon dari lontar Sewagati itu adalah “Satya Semaya”. Dalam percakapannya, baik dalam keadaan sedih dan gembira, para pemain menggunakan tembang Sinom Sewagati. Agar bisa sampai kepada penonton, Punta dan Kartala kemudian menerjemahkan tembang sinom yang lebih banyak berbahasa Jawa Kuno atau Bali Kuno itu ke dalam bahasa Bali. Proses ini mirip dengan kegiatan mesanti atau pembacaan karya-karya sastra klasik saat upacara keagamaan di Bali.

Cerita Klasik

Cerita yang dimainkan Arja Sewagati ini memang cerita klasik. Menampilkan lima tokoh Ni Ketut Sewagati, I Nyoman Ratna Samara, I Gede Muda Lara serta dua punakawan bernama Punta dan Kartala.

Kartala dalam Arja Sewagati, Jembrana | Foto: Ist

Diceritakan, suami-istri petani memiliki seorang putri nernama Ni Ketut Sewagati. Kecantikan dan kebaikan hati Sewagati begitu terkenal. Ia memiliki kekasih tampan dengan budi pekerti yang juga luhur. Namanya I Nyoman Ratna Samara. Mereka mesatya wacana (berjanji) untuk tidak mengkhianati satu sama lain.

Di sisi lain, banyak lelaki yang tertarik pada Sewagati. Salah satunya lelaki kaya raya dan arogan dari desa tetangga bernama I Gede Muda Lara. Walau usia terpaut jauh, namun I Gede Muda Lara tetap berusaha mendekati Sewagati. Terjadilah cinta segitiga lengkap dengan konfiknya.

Meski dimainkan dengan hanya duduk, arja negak dari Jembrana ini tetap tampil apik dan menarik. Mungkin, karena didukung beberapa penari asli, penari saat kesenian ini dibentuk pada 1995 silam.

I Gusti Komang Arsudi yang berperan sebagai Kartala dalam arja negak itu mengatakan, meski dilakukan secara duduk, bermain dalam arja negak ini sesungguh lebih sulit ketimbang bermain dalam pementasan yang dilakukan secara berdiri dengan komposisi dan blocking yang lebih atraktif.

Menari dalam posisi duduk tidak akan besa dilakukan secara maksimal. Walau demikian, gerak tari itu tetap ada, sehinga sajian ini menjadi lebih menarik. “Kalau jalan adegan berjalan, kami hanya membayangkan berjalan, namun untuk tanjek da aksen-aksen tari itu tetap ada, sehingga penabuh bisa mengiringinya dengan baik dan tepat,” kata Arsudi.

Arja sewagati, arja negak dari Jembrana | Foto: Ist

Ketua Sanggar Seni Arja Kerthi Winangun I Gusti Ketut Sugiardana mengatakan, kesenian Arja Sewagati ini merupakan kesenian khas Kabuapaten Jembaran yang berdiri sekitar tahun 1985. Arja ini sempat mengalami masa kejayaan di tahun 1990-an.

“Sejak berdiri kesenian Arja Sewagati ini dilakukan dengan negak (duduk) lalu melantunkan tembang sewagati khas Kabupaten Jembaran,” katanya.

Seiring perjalan waktu, kesenian ini sejak 2000 tidak pernah dipentaskan. “Ajang PKB ke-46 ini kembali mendapat kesempatan pentas. Ini inisiasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bidang Kesenian merekonstruksi kembali dengan harapoan kesenian ini dapat dilestarikan dan dipelajari anak-anak muda,” ujarnya. [T]

Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa
In Memoriam Ni Wayan Murdi | Arja dan Pengabdian Tiada Henti
Ni Wayan Latri, Legenda Mantri Manis Arja Keramas
Klasik Arja Citta Usadhi Badung vs Dingin Gedung Ksirarnawa
Diasuh Ninik Tjandri, Arja Remaja Komunitas Napak Tuju, Ubud, Tampil Klasik dan Segar
Pentas Arja Cupak Kerobokan Badung – Peliknya Seni Klasik
Tags: arjaarja dudukarja negakdramatari arjadramatic readingjembranaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Next Post

Tari Barong Ket Kunti Sraya di Denpasar: Yang Sakral, Profan, dan Seragam

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tari Barong Ket Kunti Sraya di Denpasar: Yang Sakral, Profan, dan Seragam

Tari Barong Ket Kunti Sraya di Denpasar: Yang Sakral, Profan, dan Seragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co