3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
July 3, 2024
in Ulas Pentas
Arja Sewagati dari Jembrana: Arja Negak, “Dramatic Reading” ala Bali

Arja Sewagati dari Jembrana | Foto: Ist

DALAM dunia teater modern, di Yogyakarta, sejak beberapa tahun terakhir ini, para dramawan gandrung melakukan kegiatan seni yang diberi nama dramatic reading.

Dramatic reading secara sederhana adalah pembacaan dramatik. Aktor membaca naskah drama secara dramatik, kadang diiringi musik, dan ditonton, sehingga pembacaan dramatik bisa disebut sebagai varian baru seni pertunjukan.

Di Bali, dalam dunia teater modern, dramatic reading tampaknya belum begitu populer. Istilah itu masih asing. Namun pada praktiknya, sesungguhnya, dramatic reading dilakukan  sejak lama, dan justru biasa dilakukan dalam dunia sastra klasik dan dunia pertunjukan teater tradisional semacam arja.

Jika sempat menonton Arja Sewagati di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Selasa, 2 Juli 2024, maka akan ditemukan sejumlah kemiripan antara dramatic reading yang dikenal belakangan ini dengan permainan Arja Sewagati itu.

Arja Sewagati dimainkan Sanggar Seni Arja Kerthi Winangun, Kecamatan Negara, Duta Kabupaten Jembrana, Bali bagian barat, dalam program Rekasadana (pergelaran) serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2024.

Para pemain dalam arja itu tidak bermain sebagaimana arja atau sebagaiaman teater klasik Bali  pada umumnya. Para pemain Arja Siwagati duduk di atas panggung. Mereka duduk bersama dengan pemain gamelan atau musik. Duduk dalam bahasa Bali disebut negak. Maka arja itu biasa juga disebut arja negak atau arja duduk.

Arja sewagati, arja negak dari Jembrana | Foto: Ist

Dalam posisi duduk, para pemain itu melantunkan tembang Sewagati khas Kabupaten Jembrana. Mereka hanya menggerakan badan sesekali dan menggerakkan tangan. Ekspresi wajah tetap dimainkan sesusi peran yang dimainkan. Pemain arja itu tetap mengenakan busana tari seperti kostum dramatari arja biasanya.

Arja ini bisa dikatakan sedang mempertunjukkan dramatic reading sebagaimana dilakukan para aktor dalam teater modern.  Dalam dunia teater modern, secara sederhana dramatic reading bertujuan untuk melisankan naskah-naskah teater, dengan harapan aktor bisa belajar memahami naskah, dan penulis naskah bisa belajar dari proses pelisanan oleh para aktor.

Penulis menjadi tahu, di mana kelemahan naskahnya jika sudah dilisankan. Dan hingga kini, di Yogyakarta, proses pembelajaran seperti itu terus berlangsung bahkan pembacaan dramatik sudah bisa dianggap sebagai pementasan yang bisa ditonton, dikritik, dan disukai.

Dalam arja negak, barangkali ada hal-hal yang berbeda, namun prosesnya bisa disebut mirip. Pemain pada arja negak tidak membaca naskah dalam bentuk lembaran kertas atau lontar, melainkan menghapalkannya. Hal ini dilakukan barangkali karena kesadaran mereka berada di atas panggung untuk ditinton. Namun, praktik yang mirip, arja negak dalam kelompok pesantian (kelompok apresiasi sastra klasik)—ketika mereka hadir dalam hajatan upacara agama misalnya—mereka biasanya membaca naskah dalam bentuk buku atau ada yang sekalian membawa lontar.  

Dramatic reading pada teater modern biasanya membaca naskah teater yang baru ditulis, atau kadang belum pernah dipentaskan di atas panggung. Namun pada arja negak, mereka memainkan naskah sastra klasik yang ditulis dalam lontar atau sudah disalin dalam buku dari kertas.

Dramatic reading di kalangan teater modern dilakukan dengan membaca naskah secara dramatik sesuai dengan sifat-sifat drama pada teater modern, maka arja negak juga memainkan naskah secara dramatik sesuai sifat-sifat drama pada arja. Mereka berdialog dan bernyanyi.  

Arja Sewagati bersumber dari lontar Sewagati yang berisi sastra geguritan dengan tembang sinom siwagati khas Jembrana.  Lakon dari lontar Sewagati itu adalah “Satya Semaya”. Dalam percakapannya, baik dalam keadaan sedih dan gembira, para pemain menggunakan tembang Sinom Sewagati. Agar bisa sampai kepada penonton, Punta dan Kartala kemudian menerjemahkan tembang sinom yang lebih banyak berbahasa Jawa Kuno atau Bali Kuno itu ke dalam bahasa Bali. Proses ini mirip dengan kegiatan mesanti atau pembacaan karya-karya sastra klasik saat upacara keagamaan di Bali.

Cerita Klasik

Cerita yang dimainkan Arja Sewagati ini memang cerita klasik. Menampilkan lima tokoh Ni Ketut Sewagati, I Nyoman Ratna Samara, I Gede Muda Lara serta dua punakawan bernama Punta dan Kartala.

Kartala dalam Arja Sewagati, Jembrana | Foto: Ist

Diceritakan, suami-istri petani memiliki seorang putri nernama Ni Ketut Sewagati. Kecantikan dan kebaikan hati Sewagati begitu terkenal. Ia memiliki kekasih tampan dengan budi pekerti yang juga luhur. Namanya I Nyoman Ratna Samara. Mereka mesatya wacana (berjanji) untuk tidak mengkhianati satu sama lain.

Di sisi lain, banyak lelaki yang tertarik pada Sewagati. Salah satunya lelaki kaya raya dan arogan dari desa tetangga bernama I Gede Muda Lara. Walau usia terpaut jauh, namun I Gede Muda Lara tetap berusaha mendekati Sewagati. Terjadilah cinta segitiga lengkap dengan konfiknya.

Meski dimainkan dengan hanya duduk, arja negak dari Jembrana ini tetap tampil apik dan menarik. Mungkin, karena didukung beberapa penari asli, penari saat kesenian ini dibentuk pada 1995 silam.

I Gusti Komang Arsudi yang berperan sebagai Kartala dalam arja negak itu mengatakan, meski dilakukan secara duduk, bermain dalam arja negak ini sesungguh lebih sulit ketimbang bermain dalam pementasan yang dilakukan secara berdiri dengan komposisi dan blocking yang lebih atraktif.

Menari dalam posisi duduk tidak akan besa dilakukan secara maksimal. Walau demikian, gerak tari itu tetap ada, sehinga sajian ini menjadi lebih menarik. “Kalau jalan adegan berjalan, kami hanya membayangkan berjalan, namun untuk tanjek da aksen-aksen tari itu tetap ada, sehingga penabuh bisa mengiringinya dengan baik dan tepat,” kata Arsudi.

Arja sewagati, arja negak dari Jembrana | Foto: Ist

Ketua Sanggar Seni Arja Kerthi Winangun I Gusti Ketut Sugiardana mengatakan, kesenian Arja Sewagati ini merupakan kesenian khas Kabuapaten Jembaran yang berdiri sekitar tahun 1985. Arja ini sempat mengalami masa kejayaan di tahun 1990-an.

“Sejak berdiri kesenian Arja Sewagati ini dilakukan dengan negak (duduk) lalu melantunkan tembang sewagati khas Kabupaten Jembaran,” katanya.

Seiring perjalan waktu, kesenian ini sejak 2000 tidak pernah dipentaskan. “Ajang PKB ke-46 ini kembali mendapat kesempatan pentas. Ini inisiasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bidang Kesenian merekonstruksi kembali dengan harapoan kesenian ini dapat dilestarikan dan dipelajari anak-anak muda,” ujarnya. [T]

Arja “Candradewi” Kokar Bali, Arja Remaja yang Sungguh Dewasa
In Memoriam Ni Wayan Murdi | Arja dan Pengabdian Tiada Henti
Ni Wayan Latri, Legenda Mantri Manis Arja Keramas
Klasik Arja Citta Usadhi Badung vs Dingin Gedung Ksirarnawa
Diasuh Ninik Tjandri, Arja Remaja Komunitas Napak Tuju, Ubud, Tampil Klasik dan Segar
Pentas Arja Cupak Kerobokan Badung – Peliknya Seni Klasik
Tags: arjaarja dudukarja negakdramatari arjadramatic readingjembranaTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Next Post

Tari Barong Ket Kunti Sraya di Denpasar: Yang Sakral, Profan, dan Seragam

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

by Asmaran Dani
September 4, 2026
0
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

Read moreDetails

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

by Yanik Parta
August 24, 2026
0
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

Read moreDetails

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
0
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

Read moreDetails

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
0
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

Read moreDetails

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
0
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

Read moreDetails

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

Read moreDetails

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
0
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

Read moreDetails

Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

by Chandra Manikan
July 22, 2026
0
Murka Durpadi Mengutuk Dunia Lelaki, Tetapi Dengan Bahasa Siapa?  —Catatan dari Monolog Durpadi di Singaraja Literary Festival 2026

Asap mengepul perlahan hingga menutupi sebagian panggung, sementara cahaya merah merambat dan menerangi Ocha Diartini yang saat itu berperan sebagai...

Read moreDetails

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

by Satria Aditya
July 20, 2026
0
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

Read moreDetails

Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

by Putu Intan Juliantika
July 19, 2026
0
Setiap Gerakan Punya Cerita  —Ulas Pentas Tari di Undiksha dan Terima Kasih Dua Hari Pengalamannya

 “Teng! Tong! Teng! Tong! Teng! Tung! Pagi tiba alarm berbunyi...” Itu adalah suara dering alarm saya pukul tiga pagi yang...

Read moreDetails
Next Post
Tari Barong Ket Kunti Sraya di Denpasar: Yang Sakral, Profan, dan Seragam

Tari Barong Ket Kunti Sraya di Denpasar: Yang Sakral, Profan, dan Seragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co