2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Klasik Arja Citta Usadhi Badung vs Dingin Gedung Ksirarnawa

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
June 24, 2022
in Ulasan
Klasik Arja Citta Usadhi Badung vs Dingin Gedung Ksirarnawa

Sanggar Seni Citta Usadhi sebagai duta Kabupaten Badung dalam Utsawa (parade) Arja Klasik di PKB 2022

Sanggar Seni Citta Usadhi, Banjar Gunung Sari, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi,  sebagai duta Kabupaten Badung, dalam Utsawa (parade) Arja Klasik pada Pesta Kesenian Bali XLI , Kamis 16 Juni 2022 ini, tampak tampil memukau penonton. Ini terlihat dari antusiasme masyarakat yang hadir di Gedung Ksirarnawa, tempat arja itu bermain.

Penonton datang, entah hanya sekedar berkunjung ke Art Center lalu sekadar meluangkan waktu melihat utsawa (parade) arja, atau memang merupakan penonton/penikmat fanatik kesenian arja, sebuah kesenian yang tergolong klasik dan kadang dianggap kuno ini.

Tampak juga Ibu Gubernur Bali, Putri Koster, hadir menyaksikan penampilan arja klasik ini dan Ibu Gubernur setia menonton hingga akhir pementasan. Sungguh sebuah penghormatan.

Kita ketahui bersama bahwa arja merupakan drama tari opera tradisional Bali yang membawakan cerita-cerita sebagai wahana untuk menyampaikan nilai-nilai tradisional Bali. Arja selalu mengarah pada hal-hal didaktis atau yang mengacu pada hukum karma dan perbuatan. Dramatari Arja sering menampilkan kisah roman yang selalu dengan jelas membedakan dharma dengan adharma (Soedarsono, 2011:201).

Sebagai sebuah Dramatari opera, arja lebih menonjolkan nyanyian atau tembang yang merupakan unsur penting yang dilantunkan oleh para pemeran sambil menari (ngigelang gending/ngendingang igel). Tembang yang digunakan adalah tembang macepat yang terdiri dari pupuh pangkur, pupuh dandang, pupuh durma, pupuh sinom, pupuh ginanti, pupuh semarandana, pupuh ginada.

Foto: Sanggar Seni Citta Usadhi sebagai duta Kabupaten Badung dalam Utsawa (parade) Arja Klasik.

Dalam pementasan di Gedung Ksirarnawa itu, arja klasik Duta Kabupaten Badung membawakan cerita Dukuh Siladri yang mengisahkan romansa I Mudita dan Ni Kusumasari dengan lika liku konflik kecemburuan Wayan Buyar yang melakukan segala upaya untuk membuat perhitungan dengan I Mudita dan Ni Kusumasari. Dayu Datu sang penguasa ilmu hitam dan Ni Klinyar sebagai tokoh antagonis berusaha untuk memisahkan I Mudita dan Ni Kusumasari atas permintaan Wayan Buyar.

Walaupun tergolong dalam kesenian klasik dengan memiliki tingkat kerumitan yang tinggi seperti penguasaan vokal baik tembang maupun dialog, penguasaan tari, penguasaan karakter, penguasaan panggung dan lainnya, para penari yang rata rata merupakan anak remaja ini mampu memainkannya dengan baik dan hal tersebut menjadi daya tarik dari pagelaran arja duta Kabupaten Badung yang berdurasi kurang lebih 4 jam pementasan.

Pemilihan topik bahasan dalam setiap adegan disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, hal tersebut mencerminkan fleksibelitas kesenian Bali yang mampu mengikuti jaman melalui klasifikasi fungsi yang sudah diformulasikan salah satunya berfungsi sebagai hiburan atau balih-balihan sehingga apa yang disampaikan para pemain mudah dimengerti oleh masyarakat penonton masa kini.

Salah satu yang menarik adalah penggunaan lagu Pop Bali yang sedang viral saat ini sebagai bumbu pemanis dalam adegan roman (percintaan) antara Klinyar merayu Mudita dan Buyar merayu Kusumasari.

Foto: Aksi Sanggar Seni Citta Usadhi sebagai duta Kabupaten Badung

Selain itu, setiap adegan selalu diselipkan pesan tentang pemuliaan air sebagai tema besar dalam Pesta Kesenian Bali tahun ini. Maka lengkap isian dari sajian arja ini mulai dari tontonan hinggan tuntunan.

Semua yang terjadi di atas panggung pada saat itu tidak terlepas dari arahan para pembina seperti Dr. Desak Made Suarti Laksmi dan Dr. I Nyoman Catra sehingga arja klasik duta Kabupaten Badung mampu tampil secara maksimal.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian penulis untuk pengulas pagelaran saat itu, antara lain:

Pemilihan waktu

Penulis mempercayai tentang pentingnya memperhitungkan “waktu mulai” dalam sebuah pagelaran seni pertunjukan dalam hal ini dramatari arja. Beberapa penari senior pernah mengatakan “yen peteng maan ngigel jeg len seh bayu ne bandingin teken ngigel lemah” yang artinya kalau menari pada malam hari maka akan merasakan hal yang berbeda.

Mungkin yang dimaksud peteng/malam adalah diatas pukul 18.00 wita atau lewat sandikala entah ada mitos apa dibalik itu namun disini penulis tidak mengatakan dan mengarahkan pembahasan dalam konteks benar/salah atau bagus kurang bagusnya jika bermain pada malam hari atau sebelum malam hari.

Hanya saja jika pagelaran arja duta Kabupaten Badung yang tampil pada hari Kamis, 16 Juni 2022 pukul 5 sore menjadi pukul 7 malam mungkin aura dan suasana pertunjukan akan sedikit berbeda.

Selain itu pertimbangan penulis terhadap waktu pukul 5 sore juga terkait keberadaan penonton yang banyak memperkirakan pagelaran arja dimulai pukul 7 malam seperti pagelaran arja pada tahun-tahun sebelumnya.

Pemilihan tempat

Arja klasik Duta Kabupaten Badung tampil di Gedung Tertutup Ksirarnawa dengan kondisi gedung yang luar biasa dengan dilengkapi pendingin ruangan serta kursi yang empuk berwarna merah. Namun pemilihan tempat ini sebagai panggung pagelaran arja penulis rasa kurang tepat.

Jarak antara pemain dan penonton lumayan cukup jauh sehingga sang aktor yang sangat membutuhkan respon dari penonton agar sajiannya komunikatif sedikit mengalami kendala, ekspresi pemain sebagai wahana penyampaian materi juga susah ditangkap oleh penonton apalagi yang berada di bagian belakang yang penulis rasa tidak begitu jelas dalam melihat ekspresi pemain.

Gedung Ksirarnawa saat itu sedikit susah dijangkau karena akses masuk pada bagian tengah gedung ditutup sehingga pengunjung yang ingin menonton harus melewati akses diluar gedung untuk naik melalui kori disebelah selatan dengan patung naga pada bagian sampingnya.

Hal ini sedikit menyusahkan penonton yang akan menuju Gedung Ksirarnawa terdengar dari beberapa pengunjung yang berada diatas Gedung Ksirarnawa berbincang dengan temannya membahas akses masuk yang ditutup dari dalam gedung/tempat pameran di ksirarnawa. Hal tersebut juga berimbas pada pagelaran arja ini terlihat dari kursi penonton masih ada yang kosong.

Suasana yang begitu dingin mempengaruhi sajian dan penikmatan pagelaran ini. Penulis melihat beberapa penari melakukan pemanasan yang ekstra sebelum tampil salah satunya untuk menghilangkan rasa dingin dari pendingin ruangan tersebut.

Suasana yang begitu dingin dimanfaatkan oleh penasar buduh dalam monolognya yang mengatakan, “Sing cocok dadi nak sugih, lima menit ngoyong di AC  jeg pang dasa ngenceh”. Artinya ,tidak cocok menjadi orang kaya karena baru lima menit berada di ruangan ber-AC namun sudah sepuluh kali kencing, sontak monolog tersebut memecah dinginnya ruangan dengan respon penonton yang tertawa mendengar keluh kesah penasar buduh yang bergerak seperi sakit pilek. Penulis juga melihat beberapa penonton yang bolak balik toliet akibat tidak tahan dengan rasa dingin tersebut.

Foto: Monolog penasar buduh merespon dinginnya ruang pementasan.

Selain itu, Penulis melihat salah satu penari sedikit agak terganggu dengan alat bantu pengeras suara yang pada saat itu menggunakan clip on, karena jumlah penari melebihi alat yang ada maka salah satu penari menggunakan mic yang dipegang sehingga penari tersebut agak sedikit susah untuk menari ataupun berdialog.

Salah satu adegan saat mantri manis, penasar dan wijil diikat oleh mantri buduh besertanya antek anteknya, penasar buduh kembali berulah dengan mengambil stand mic dari MC untuk dibawa ke atas panggung dan diberikan ke salah satu penari yang yang masih memegang mic , adegan tersebut membuat penonton dan juga penari lainnya terkejut dan tertawa karena adegan tersebut tidak ada direncanakan sebelumnya.

Penulis teringat pada tahun-tahun sebelumnya arja duta Kabupaten Badung yang selalu tampil di kalangan ayodya menggunakan mic yang digantung dengan komposisi yang sudah diatur sebelumnya sehingga para pemain tidak terganggu dengan clip on yang digunakan atau mic yang dipegang.

Menurut penulis jika arja ini dipentaskan di Kalangan Ayodya pasti akan mampu menarik penonton lebih banyak.

Tapi, tunggu dulu. Saat pementasan itu kebetulan Taman Budaya dilanda hujan. Lalu, terdengar perbincangan antara penari. “Aget pentas di Kesir, sing ujanan!” Artinya, untung pentas di Gedung Ksirarnawa, tidak hujanan. Saat itu hujan mengguyur Denpasar dan sekitarnya tepat pukul 5 sore dan tepat saat arja dimulai. [T]

KLIK UNTUK BACA ARTIKEL PESTA KESENIAN BALI 2022 YANG LAIN

Upaya Terus-Menerus Kuatkan Pakem Tradisi Joged Bumbung
Tags: arjaPesta Kesenian Bali 2022seni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ultah ke-28, Band RIF Gelar Konser “rifVersay” di Bali | Ayo Bernostagia dengan Lagu-lagu Hits

Next Post

Kadisbud Bali Arya Sugiartha: Alumni Kokar itu Lengkap, Dari Pelaku Hingga Pemikir Kesenian

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kadisbud Bali Arya Sugiartha:  Alumni Kokar itu Lengkap, Dari Pelaku Hingga Pemikir Kesenian

Kadisbud Bali Arya Sugiartha: Alumni Kokar itu Lengkap, Dari Pelaku Hingga Pemikir Kesenian

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co